
Sekotor Itukah Aku Part 15
"Fia, apa Fira ada di sini?" Begitu masuk ke dalam asrama Dira langsung mendekati Fia yang terlihat tenggelam di dalam pikirannya.
"Ya, dia sedang tidur di atas ranjang ku." Jawab Fia sambil menunjuk ranjangnya yang sedang ditiduri Fira. Ia tidak hanya menguasai ranjang Fia namun selimut hangatnya juga ia monopoli. Membuat Fia yang sedari tadi hanya diam menonton merasakan sakit kepala.
Melihat Fira di tempat yang aman, lantas Dira mendudukkan dirinya di atas ranjang seraya mengatur nafasnya yang memburu. Ia tidak tahu apakah Fira ke sini dengan cara berlari atau melangkah cepat karena sekuat apapun ia mengejarnya Dira masih belum bisa dapat mengejarnya.
"Apakah ia baik-baik saja?" Tanya Fia khawatir karena terakhir kali Fira bertindak seperti ini adalah ketika ia bertengkar dengan Alif. Membuat Fira mengungsi ke asrama dan bertindak manja tidak ingin makan apapun.
Dira dengan jujur menggelengkan kepalanya, tidak ada yang bisa disembunyikan kepada Fia karena mereka berdua satu keluarga. Lagipula ada baiknya Fia tahu karena dengan begitu Fia juga bisa membantu Fira untuk lebih tenang lagi.
"Aku sebenarnya tidak terlalu jelas dengan situasinya karena Fira tadi sangat marah dan langsung meninggalkan kami di meja makan. Namun yang pasti masalah ini ada kaitannya dengan Annisa dan Alif jadi untuk jelasnya lagi lebih baik kita menunggu Fira yang mengatakannya." Dira tidak tahu apakah yang dikatakan Annisa benar atau tidak mengenai Fira yang memasukkan cabai ke dalam masakan mereka. Karena Dira yakin jika secemburu apapun Fira, ia tidak berani melakukan hal seburuk ini. Apalagi sampai harus menyinggung perasaan Annisa yang semua orang tahu ia sangat menyukainya.
"Jadi ini tentang Annisa." Gumam Fia pada dirinya sendiri. Jujur, ia memang menyukai Annisa akan tetapi tidak sedalam ia menyukai Zahra. Ia juga tidak tahu mengapa ia tidak terlalu antusias dengan Annisa, bahkan saat tahu Annisa menyukai Alif dari dulu Fia tidak pernah menunjukkan ketertarikannya.
"Aku rasa aku harus berbicara dengannya." Ucap Fia seraya bangun dari duduknya bermaksud mendekati Fira. Namun sebelum ia bisa melakukannya tiba-tiba tangannya di tarik oleh Dira, memberikannya sebuah gelengan agar ia kembali mendudukkan dirinya di tempat semula.
"Kita harus segera sholat tarawih, tunda dulu sampai kita turun dari masjid." Ucap Fira mengingatkan Fia. Lagipula Fira juga butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya, ditanya sekarang mungkin akan sangat mengganggu kenyamanannya.
"Yah, kau benar." Beberapa menit lagi akan masuk waktu sholat isya jadi untuk itu mereka harus segera bersiap-siap. Menyampingkan dulu urusan Fira untuk beberapa waktu guna memberikannya waktu untuk menenangkan diri.
Melirik Fira yang masih menutup diri, Fia dan Dira lalu mengambil mukena masing-masing serta perlengkapannya selama di masjid nanti.
🍃🍃🍃
Sepulang mereka dari masjid, Fia dan Dira langsung bergegas menghampiri Fira yang masih betah dengan posisinya saat terakhir kali mereka meninggalkannya. Berpikir apakah Fira sudah tidur atau belum, Fia dan Dira merasa enggan untuk memanggilnya. Takutnya, mereka mengganggu waktu istirahat Fira jika ia memang sudah tidur. Karena faktanya orang yang sedang galau atau bersedih sangat mudah menghibur diri dengan tidur, perasaan yang melelahkan dan menyedihkan membuat mereka membutuhkan waktu sejenak untuk menutup mata dan mengistirahatkan hati.
"Apa kalian tidak pergi tadarusan?" Suara sangau Fira mengalihkan perhatian Dira dan Fia, langsung saja mereka berdua mendekati Fira yang perlahan keluar dari persembunyiannya. Menarik selimut yang menutupi kepalanya secara perlahan, lalu mata persiknya yang merah dan sembab mengintip malu-malu dari dalam.
"Tidak ada siapapun di sini jadi kamu bisa keluar sekarang." Ucap Dira memberitahu. Ia yakin jika Fira takut orang-orang di kamar ini melihat penampilannya yang memalukan.
"Apa kamu ingin minum?" Tanya Fia perhatian seraya membantu Fira mendudukkan dirinya di atas ranjang. Perhatian ini mengapa Fira merasa ia seakan diperlakukan selayaknya pasien rumah sakit?
"Jika aku mau apakah kamu akan bersedia mengambilkan ku?" Tidak ada apa-apa di sini jadi otomatis Fia harus pergi ke langsung ke dapur umum untuk meminta segelas air.
Mendengar pertanyaan polos Fira, sontak Fia mengedarkan pandangannya menatap meja yang biasanya menyediakan air galon untuk para santriwati yang ada di kamar ini. Semua kamar di pondok pesantren punya ini karena terkadang para santri pasti kehausan di malam hari sehingga untuk keluar ke dapur tidak memungkinkan. Maka jadilah setiap kamar diberikan layanan ini untuk membuat mereka lebih nyaman.
"Aku sungguh-sungguh tidak bermaksud mengatakan itu." Bantah Fia menolak. Hell, ia tidak mau pergi ke dapur umum karena jaraknya dari asrama mereka tidak main-main. Setidaknya, menurut Fia yang tembem ia harus rela membakar lemaknya seberat 1 atau 2 kg.
__ADS_1
Fira tersenyum tipis, merasa terhibur dengan kekonyolan Fia saat ini. "Sekarang aku mengerti mengapa Zahra dulu sangat mudah dekat dengan mu ketimbang dekat dengan ku." Ucapnya mengenang perbuatan gila yang mereka berdua lakukan di kota. Dengan embel-embel mencari pengalaman bersekolah di kota, mereka memberanikan diri berpakaian selayaknya orang kota pada umumnya yang tidak terlalu tertutup. Awalnya rencana mereka baik-baik saja karena Razi dan Annisa pun tidak terlalu tahu kelakuan mereka di sekolah. Akan tetapi ketika Alif masuk menjadi guru agama magang maka lain lagi ceritanya, mereka berdua tidak menyangka jika Alif akan magang di sana. Otomatis kelakuan mereka terlihat jelas di depan Alif dan langsung mendapatkan segala macam ceramah atau khotbah yang sudah menjadi makanan sehari-hari mereka di pondok pesantren.
Setelah mendapatkan ceramah yang panjang dari Alif, Fira tidak lagi bertindak gegabah dan segera mengubah penampilannya di sekolah. Tapi itu berbeda dengan Fia yang bergaul setiap hari dengan Zahra. Fia harus hati-hati mengubah penampilannya agar Zahra terbiasa dengan pakaiannya.
"Mengenang masa lalu lagi, aku akan selalu teringat dengan semua drama yang kita lakukan. Hem, aku jadi merindukan teman-teman ku yang ada di kota." Ia rindu ingin bertemu Dewi, Andrini dan Latifa. Ia ingin seperti mereka yang masih sekolah di kota dulu, bercanda dan melakukan hal konyol yang pasti membangkitkan tawa ketika mengingatnya. Hah...saat itu mereka benar-benar konyol.
"Mereka juga pasti merindukan kamu dan Zahra, jika saja mereka tidak terjebak di dalam embel-embel kelas XII mungkin mereka akan datang mengunjungi kalian." Sekilas melihat mereka, Dira langsung bisa menebak kepribadian mereka bertiga. Konyol dan urakan, namun itulah yang membuat orang-orang tertawa ketika melihat interaksi aneh mereka. Tidak heran jika Fia akan betah di kota juga tidak heran Zahra dengan mudah memaafkan kejahatan mereka karena kenangan yang mereka buat bersama adalah yang terpenting terlepas sebesar apapun kesalahan mereka kepada Zahra.
"Jika libur mereka akan datang berkunjung ke sini." Menghela nafas lega, Fia kemudian teringat kembali dengan Fira yang masih terjerat dalam kesedihannya.
"Fira, aku dengar kamu ada masalah dengan Mbak Annisa dan Mas Alif. Itu...apa kamu bisa menceritakannya kepada kami?"
Yah, Fira tidak terlalu keberatan menceritakan masalah ini kepada Fia juga karena mereka adalah keluarga yang dekat. Dari kecil sampai besar mereka sudah terbiasa untuk tumbuh bersama jadi ia tidak terlalu khawatir untuk reaksinya.
"Aku mengakuinya jika semua itu adalah salahku. Aku salah karena memasukkan banyak cabai ke dalam masakan mereka karena aku sangat kesal dengan mereka. Umi mengundang mereka memasak di dapur untuk membuat kompetisi agar Umi bisa terkesan dengan masakan yang mereka buat. Yah bisa dibilang jika apa yang mereka masak sebagian besar untuk menyenangkan Umi. Akan tetapi ketika aku memperhatikan mereka di dapur saat memasak, mereka lebih banyak memasak untuk menarik perhatian Mas Alif. Bahkan mereka secara terang-terangan menanyakan apa yang Mas suka dan tidak suka kepada ku. Ini membuat ku marah dan bertindak impulsif, memasukkan banyak cabai ke dalam masakan ketika mereka bertindak lalai." Meremat kedua tangannya gelisah, ia sangat terkejut dan kecewa ketika Alif membentaknya tadi di meja makan. Sebelumnya sebesar apapun kesalahan Fira, Alif pasti akan bertanya-tanya dengan lembut dan hati-hati untuk tidak menyinggung perasaan Fira. Akan tetapi malam ini semuanya tidak lagi berlaku hanya karena Annisa, yah...ia sangat sakit dan juga kecewa dengan Alif.
"Tindakan impulsif ku ternyata dapat dilihat oleh Mbak Annisa dan langsung mengatakan jika aku tidak boleh mengulanginya lagi nanti. Aku juga sebenarnya cukup terkejut mendengar pernyataan langsung Mbak Annisa dan tidak tahu harus mengatakan apa untuk meresponnya sampai Mas Alif tiba-tiba muncul lagi. Mas Alif mendengar keluhan Mbak Annisa yang membuatnya cukup marah, ia langsung membentak ku di meja makan dihadapan Mbak Annisa langsung. Aku sangat malu juga marah karena Mas Alif tidak bertindak selembut biasanya oleh karena itu aku langsung melarikan diri ke sini." Karena marah maka langsung saja ia melarikan diri dari semua orang dan memutuskan untuk sementara waktu tinggal di asrama. Ia tidak ingin bertemu Alif lagi jadi jalan satu-satunya untuk bersembunyi dari Alif adalah tinggal di sini.
"Sebentar-sebentar...!" Fia bangun dari duduknya dan melangkah mondar-mandir seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu. "Mengapa...mengapa aku merasa jika kamu menyukai Mas Alif?" Tanyanya dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan.
Fira tidak mengelak dan langsung menjawabnya dengan jujur, "Aku memang menyukai Mas Alif." Jawabnya jujur.
Fia menggelengkan kepalanya panik seraya duduk kembali di tempatnya semula. "Ini bukan suka yang kamu maksud." Meraih salah satu tangan Fira untuk digenggam.
Ya, ini aneh dan Fia mengakuinya. Akan tetapi ia tidak bisa tidak berpikir seaneh ini jika cara Fira menceritakan betapa kecewanya ia pada Alif seakan-akan Alif sedang berselingkuh dengan perempuan lain. Lagipula sedekat apapun Fira terhadap Alif jika memang normal maka ia tidak akan bertindak seceroboh ini. Alif memilih memihak Annisa yang seharusnya membuat Fira senang karena idolanya akhirnya semakin dekat dengan Kakaknya. Akan tetapi mendengar cerita Fira tadi bukan itu yang Fia dapatkan, Fira justru tidak suka melihat Annisa dan Alif dekat. Jadi mau tidak mau ia akan berpikiran yang macam-macam.
"Ya, rasa suka itulah yang aku maksud. Aku menyukai Kakak ku bukan sebagai hubungan Kakak beradik namun sebagai seorang kekasih." Jawab Fira yakin namun suaranya agak mengecil. Meskipun ia tidak mempermasalahkannya, ia tidak tahu bagaimana dengan pendapat Fia tentang dirinya. Mungkinkah ia suka atau tidak Fira tidak bisa menebaknya, pasalnya sirkuit otak Fia jauh lebih kecil dari Dira. atau mungkin bisa dikatakan jika sirkuit otak Dira terlaku ekstrim untuk Fia yang normal.
"Tapi.. bukankah kalian saudara?" Fia benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa Fira menyukai Kakaknya sendiri. Padahal itu tidak akan pernah mungkin untuk diterima di manapun, entah itu secara agama, hukum maupun keluarga tidak ada yang mau menoleransinya. Baik jika ada jalan keluarnya tapi bagaimana dengan perasaan Alif?
Mungkinkah ia mau menerima Fira atau justru sebaliknya, Alif menolak pengakuan Fira?
Menundukkan kepalanya sedih, "Aku tahu dan aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa jatuh sedalam ini." Jawabnya mulai terdengar sangau.
Kenapa sekalinya jatuh cinta harus menjadi Kakaknya sendiri? Kenapa bukan laki-laki lain yang ia sukai? Kenapa harus Kakaknya?
Fira sungguh tidak bisa mengerti ini.
"Jika Mas Alif tahu ia pasti tidak akan pernah mau memaafkan mu-"
__ADS_1
"Sudah hentikan Fia, jangan memperburuk suasana hatinya lagi." Potong Dira tidak tahan. Ia tahu jika Fia terkejut dan tidak bisa menerima hal ini namun bukan berarti ia bisa menghakimi Fira. Perasaan ini tumbuh karena memang sudah seharusnya jadi mereka tidak bisa mempertanyakannya.
"Dia benar Dira, jika Mas Alif tahu ia pasti akan sangat membenciku." Tentu saja Alif akan terkejut dan berakhir membencinya. Lagipula saudara mana yang tidak ketakutan melihat adiknya menyukainya secara romantis? Itu pasti akan sangat menakutkan!
Jika dia tahu kamu menyukainya dia pasti akan sangat senang. Batin Dira tidak berdaya. Kenapa ia seperti merasa kembali lagi di tengah-tengah hubungan Zahra dan Razi?
"Yah, mungkin ini juga sulit untuk mu jadi bagaimana jika kamu mencoba melihat laki-laki yang lain di sini. Siapa tahu dengan begitu kamu bisa melupakan tentang perasaan mu kepada Mas Alif." Fia memberikan saran untuk Fira agar ia bisa melupakan Alif. Lagipula, kedekatan Annisa dan Alif adalah sebuah tanda jika mereka saling menyukai. Jadi, Fira tidak punya jalan lain selain melupakan Alif.
Fira terdiam, sejenak ia menimbang konsekuensi apa yang akan ia dapatkan untuk tetap mempertahankan perasaannya. Lalu, ia juga menimbang apakah mungkin baginya untuk terus berjuang dengan perasaan yang sia-sia ini?
Fira pikir itu tidak akan mungkin.
"Aku...akan mencobanya." Gumamnya ragu, ia ragu jika perasaan ini bisa ia lepaskan.
🍃🍃🍃
"Jadi, sebenarnya Mas Alif punya saudara laki-laki dari istri kedua Papa?"
Zahra cukup terkejut mengetahui jika mertuanya ternyata punya dua istri dengan masing-masing istri punya satu anak. Ini terlalu mengejutkannya.
Razi tersenyum geli melihat ekspresi istrinya yang lucu, sambil menyisir rambutnya yang panjang dan halus Razi kembali menceritakan tentang keluarganya.
"Itu benar sayang, Mas punya satu adik laki-laki yang keberadaannya masih dirahasiakan. Tapi kita akan segera tahu karena adik Mas ternyata dijodohkan dengan Annisa. Ingat, Umi dan Abi dulu merahasiakan perjodohan kita darimu. Tidak, sebenarnya Mas yang ingin merahasiakannya darimu, takutnya orang yang Mas sukai tidak ingin menikah dengan Mas." Dulu ketika ia diberitahu Zahra adalah jodohnya, Razi langsung mengatakan kepada Umi dan Abi bahwa mereka tidak bisa memberi tahu Zahra. Abi juga saat itu menyarankan agar mereka hidup terpisah guna menghindari hal-hal yang tidak dapat dihindari.
"Ya, dan karena keputusan Mas ini aku hampir saja menikah dengan laki-laki lain!" Kesal Zahra ketika mengingat tingkah impulsifnya yang langsung menerima lamaran Alif begitu saja tanpa mempertimbangkan perasaannya.
Razi tertawa terbahak-bahak, menarik istrinya ke dalam pelukannya yang hangat ia sesekali mencium puncak kepala istrinya dengan sayang.
"Ya, Mas mengaku bersalah." Karena tindakannya ini ia hampir saja kehilangan Zahra, ia banyak menuai rasa sakit waktu itu dan hanya menghadapinya dengan sikap diam.
"Tapi Mas, jika ternyata Mas tidak ada hubungannya dengan pondok pesantren lalu mengapa Mas punya rumah di sini?" Tanya Zahra penasaran, menurut penjelasan Razi sebelumnya ia tidak ada hubungan darah dengan keluarga di pondok. Jadi, jika tidak ada hubungannya lalu mengapa Razi memanggil Dira, Fia, Fira, dan Alif sebagai sepupunya?
"Kami memang tidak mempunyai hubungan darah. Kedua orang tuaku bisa tinggal di sini karena Papa dulu pernah menjadi anak angkat di sini. Karena menjadi anak angkat ia juga diberikan hak untuk membangun rumah di sini, rumah ini.. rumah yang sedang kita tempati sekarang adalah rumah kedua orang tuaku. Ketika mereka berdua meninggal dunia rumah ini langsung diwariskan kepada ku."
"Lalu, bagaimana dengan Ibu dari adik Mas Razi?" Tanya Zahra penasaran.
"Istri kedua Papa kata Umi meninggal saat adikku berusia 5 tahun. Karena tidak ingin mengganggu kenyamanan istri pertama dan Papa, istri kedua Papa berpesan sebelum meninggal jika adikku dibesarkan oleh orang yang ia percayai. Istri kedua Papa juga sempat membuat perjanjian dengan Umi dan Abi, yaitu jika adikku besar nanti akan dinikahkan dengan Annisa. Jadi, hanya perlu menunggu beberapa waktu lagi sebelum kita bisa bertemu dengannya."
"Zahra harap adik Mas adalah sosok yang luar biasa seperti Kakaknya." Harap Zahra tulus.
__ADS_1
Razi tersenyum, mencubit pipi lembut Zahra dengan sayang. "Yakinlah, anak-anak Papa adalah orang yang baik dan luar biasa."
Bersambung...