Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Sendiri


__ADS_3

*Luka ini, luka Ini akhirnya hidup kembali setelah sekian lama ku pendam. Aku takut dan aku tau pada akhirnya semua ini akan terjadi."


Zahra Affianisha*.


\*\*\*


Hingar bingar musik yang keras di tempat itu sangat mengundang dan menarik perhatian para remaja yang berkeliaran di sana. Bagi mereka suara musik yang keras membawa perhatian dan magnet tersendiri untuk mereka.


Tidak terkecuali Zahra, baginya tempat ini adalah tempat terbaik yang ia bisa datangi walaupun ia tidak mengkonsumsi apa-pun yang tempat itu sediakan.


Namun, tempat itu selalu setia dan bersedia menerima Zahra kapan pun ia datang.


Zahra memandangi tempat itu dengan tersenyum sinis. Ia sadar dan tau langkah apa yang telah di ambilnya malam ini.


Entah keberuntungan atau sebuah kemalangan yang akan ia dapatkan, akan tetapi ia sudah yakin apapun yang terjadi adalah yang terbaik untuknya. Walaupun mungkin sakit atau terluka, pada akhirnya Zahra akan menyadari semua kecerobohannya.


"Astagafirullah, Zahra kenapa kita pergi ke sini? bukankah kita mau ke toko buku?" Tanya seorang gadis bercadar yang ternyata adalah Annisa, kakak Zahra.


Sedari tadi Annisa sudah tak dapat menahan perasaan takut dan khawatirnya berada di tempat ini. Tempat asing yang penuh dengan perbuatan maksiat. Annisa semakin mengeratkan genggamannya karena tak mendapatkan respon dari Zahra.


Zahra masih saja mengabaikan


Keberadaan Annisa dan lebih fokus pada pemandangan yang ada di depannya.


"Zahra, kakak takut. Ayo kita pulang Zah-"


"Berisik!. Kakak gak bisa yah gak usah manja sehari aja atau gini dah, kalo gak bisa sehari aku mohon kakak gak usah manja untuk beberapa jam ke depan, muak tau gak!" Potong Zahra tajam berhasil membuat Annisa terdiam.


Mendengar ucapan Zahra yang tajam, hati Annisa langsung menciut dan seketika bibir manisnya yang tertutup cadar langsung pucat pasi. Dalam hatinya, Annisa sedang mencoba menerka-nerka apa yang akan dilakukan Zahra terhadap dirinya.


Zahra masih saja mengedarkan pandangannya, mencari orang yang sangat ia tunggu-tunggu sedari tadi. Namun belum juga ia temukan.


"Fia, kamu dimana sih?. Apa kamu gak penasaran dengan apa yang akan aku lakukan sekarang?, aku mau kamu lihat hasil perjuangan aku yang sudah lama aku tunggu." Gumam Zahra seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Mendengar gumaman Zahra, Annisa hanya mengerutkan dahinya pertanda ia tak mengerti sama sekali dengan apa yang dimaksud oleh Zahra.


Perjuangan apa yang kamu maksud, dek?. Jangan katakan jika ini adalah sesuatu yang buruk.


Ketakutan dan keresahan yang di rasakan Annisa saat ini ia tahan dengan sekuat tenaga, ia tak ingin mengeluarkan rasa sesak nya di depan Zahra.


Karena hari ini sikap Zahra sangat berubah, bahkan 100% jauh lebih dingin dari biasanya.


Zahra yang kini berada di hadapannya bukanlah Zahra biasanya yang menampakkan wajah datar tanpa ekspresi, namun kali ini Zahra bukan hanya menampilkan wajah datar tanpa ekspresi nya akan tetapi juga menampilkan wajah dengan tatapan kemarahannya.


Ini lain dari biasanya, ia tak seperti Zahra yang kemarin-kemarin. Zahra yang sok tegar, Zahra yang sok kuat dan Zahra yang pura-pura bahagia akan punah setelah hari ini.


Yang akan ada adalah Zahra yang bahagia karena telah membuat seseorang yang ia benci akan merasakan indahnya dunianya. Itu adalah pikiran minim Zahra, ia tak pernah berpikir jauh sebelum melakukan hal bodoh ini. Bahkan hari ini tekadnya sudah benar-benar bulat untuk menuntaskan ide gilanya ini.


"Fi, kamu dimana sih?, ini aku udah lumutan banget lho nungguin kamu..!" Gumam Zahra tak sabaran menunggu kehadiran Fia.


Mata Zahra terus saja menjalankan aktivitasnya untuk mencari keberadaan sahabat majikannya yang tanda-tanda kemunculannya pun belum terlihat sama sekali. Sesekali Zahra menggigit bibirnya dengan gelisah karena Fia yang masih belum ada kabar sama sekali dengan kemunculannya. Lama Zahra berpikir, hingga akhirnya Zahra memutuskan bahwa ia tak perlu menunggu Fia lebih lama lagi. Melihat tempat hingar bingar itu sudah mulai di padati manusia-manusia yang haus akan kebahagian dan ketenangan. Serta tempat itu yang terus memanggil Zahra dengan tak sabaran agar Zahra sesegera mungkin memasukinya.


Sungguh sebuah kerinduan yang semu.


Zahra mengalihkan pandangannya dari tempat hingar bingar dan beralih memandangi wajah Annisa, wanita bercadar yang sedari tadi selalu di samping Zahra dengan bayangan rasa resah dan ketakutan di dalam hatinya.


Annisa membalas tatapan Zahra dengan mata polosnya. Seakan-akan annisa ingin menyampaikan sebuah ungkapan ketakutannya kepada Zahra, namun sekali lagi bukannya menyadari pesan kakaknya Zahra justru menatap kosong wajah Annisa.


"Zahra?" Panggil Annisa.


"Dek, kamu gak apa-apa kan Zah-"


"Lo emang cantik kak..." Ungkap Zahra jujur memotong ucapan Annisa.


Annisa diam terpaku mendengar kejujuran Zahra. Ia tak menyahuti atau pun merespon ucapan Zahra, karena Annisa penasaran bahwa Zahra biasanya tak pernah berbicara seperti ini.


Apalagi kepadanya, Annisa.


"Lo cantik, meskipun lo nutupin wajah lo dengan cadar tapi lo tetap terlihat cantik di mata siapa-pun." Jujur Zahra seakan ingin mengungkapkan rasa cemburu nya terhadap Annisa.


Sekali lagi, Annisa hanya diam dan tak merespon apa yang Zahra ucapkan. Ia tetap pada posisi awalnya, diam dan dengan setia mendengarkan Zahra mengoceh semau nya.


"Bukan hanya cantik, tapi lo juga hebat kak. Lo benar-benar hebat dalam merebut hati semua orang. Lo bukan hanya merebut hati abi dan umi, tapi lo juga merebut hati kakak dari gue kak. Lo..lo benar-benar serakah, kak..." Ungkap Zahra dengan suara yang mulai serak seperti ingin menangis.


Mendengar tuduhan Zahra, Annisa sangat terkejut hingga ia spontan mundur kebelakang karena keterkejutan nya.


"Zahra itu gak seper-"


"Lo kenapa kak?, lo baik-baik aja, kan?" Tanya Zahra pura-pura ketika menyadari Annisa yang mulai menyadari rencananya.


"Kamu salah paham, dek, semua itu gak seperti yang kamu pikirkan, Zahra kamu harus perca-"


"Hahah, lo kak cepet banget ke makan omongan gue..gimana kalo kakak kena tipu omongan cowok, kan bisa berabe..." Tawa Zahra meledak seketika karena mendapati respon Annisa yang terdengar gugup dan ketakutan.


"Dek, maksud kakak-"


"Udah, ah kak. Jangan dimasukan ke hati, gue cuma bercanda kali!." Ucap Zahra masih dalam keadaan tertawa terbahak-bahak.


Setelah cukup lama tertawa, Zahra akhirnya bisa mengendalikan ekspresi nya seperti biasa.


Zahra kembali memandangi wajah kakak nya seperti awal, namun kali ini tatapan nya begitu dalam dan kosong.


Aku sakit, kak. Aku benar-benar lelah menahan rasa sakit ini kak, sangat lelah. Dan malam ini adalah kesempatan terbaik yang di berikan Tuhan untuk aku, kak.


Agar kamu bisa merasakan bagaimana rasanya di anggap asing dan sendiri. kemarin, aku adalah orang asing untuk mereka semua yang ada di rumah. Bahkan, orang tua ku yang melahirkan ku berlaku tak adil kepada ku. Asing dan sendiri, itulah yang aku rasakan di rumah itu. Namun, kali ini aku ingin kau sebagai anak kesayangan merasakan rasa asing dan sepi ini. Di tempat ini, kau akan benar-benar merasakan nya kak. Batin Zahra berbicara kepada dirinya sendiri.


"Dek, kamu gak apa-apa kan?" Tanya Annisa yang berhasil membuyarkan lamunan Zahra. Zahra kembali tersadar ke dunia alam sadarnya.


"Maaf in kakak, dek. Sejujurnya apa yang kamu ucapkan tadi adalah sebuah kesalah pahaman, Zahra. Umi, abi dan kakak bukanlah orang yang seperti itu. Mereka semua itu gak-"


"Mereka adalah orang yang baik.." Ucap Zahra cepat memotong ucapan Annisa.


Di balik cadarnya, Annisa tersenyum manis karena menerima jawaban dari Zahra atas penjelasannya.


"Benar, dek, mereka adalah orang tua dan kakak yang baik untuk kita. "


Yah, memang benar mereka adalah orang tua dan kakak yang baik. Tapi sekali lagi itu hanyalah untuk kamu, kak dan tidak berlaku sama sekali untuk aku. Batin Zahra.


"Mereka itu benar-benar karunia Allah terbaik untuk kita berdua dek."


"Iyah, mereka memang karunia terbaik,"


Dan yah, kata ini lebih cocok hanya untuk kamu dan tidak untuk ku.


Menatap jam mini di pergelangan tangannya, "Udah, ah dek bentar lagi mau masuk azan magrib lebih baik kita pulang aja, nanti kita di marah sama umi lagi." Ajak Annisa pulang kepada Zahra begitu menyadari bahwa waktu sudah banyak berlalu.


"Pulang, yah?" Tanya Zahra sambil berpikir.


"Iya Zahra, kita pulang." Jawab Annisa mengangguk kan kepala nya tanpa keraguan.


"Kita mau sholat.?" Tanya Zahra lagi.


"Iya, dek, alhamdulillah kakak udah bersih dan bisa sholat lagi. Tapi kalo kamu kan masih halangan jadi gak sholat, hehehe.." Annisa tertawa malu dengan ucapannya sendiri.


"Kakak takut di marah sama umi, yah?"


"Iya, dek, kan kita ini perempuan dan perempuan itu tempat yang paling baik baginya adalah tetap di dalam rumah. Apalagi nanti kita telat pulangnya."


Itu karena kakak terlalu berharga untuk mereka, jika benar saja apa yang katakan ini akan tetapi nyatanya umi tidak pernah berlaku seperti ini kepada ku. Annisa, apakah kau tidak bisa melihat perbedaan ini?


"Malam ini kan kak Razi juga mau pulang, dek, bukan kah sebelumnya Zahra udah janji kalo kita pulangnya sebelum magrib. Jadi, ayo dek kita pulang." Ajak Annisa sekali lagi kepada Zahra yang masih belum menyadari perubahan ekspresi Zahra.


"Kak Razi?" Tanya Zahra dengan tatapan menerawang nya. Laki-laki itu adalah kakaknya, tapi setiap kali mengingat nya hatinya terasa sakit dan tidak nyaman. Ini berbeda dengan rasa sakit yang ada ketika mengingat Annisa, umi atau abi.


"Iya, dek. Udah, ah Zahra dari tadi nanya terus. Kan keburu azan kalo kita di sini terus.." Putus Annisa seraya menarik tangan Zahra dengan lembut, namun bukannya bergerak Zahra justru menahan langkah Annisa.


Annisa bingung dengan sikap Zahra hari ini, penuh dengan teka teki.


"Zahra, ayo dek-"


Zahra menatap tangan Annisa yang sedang ditanganya. "Kita mau pulang, yah" Tanya Zahra lagi.


Annisa mengangguk mantap menjawab pertanyaan Zahra yang terdengar polos untuk nya.


Tersenyum tipis, "Tapi sayangnya gue gak mau pulang, kak." Ucap Zahra mengalihkan matanya menatap tajam mata Annisa dengan tatapan dingin.


"Hah.?" Respon Annisa spontan.


"Sholat? lo pulang hanya untuk mau sholat?, lo pulang hanya karena lo takut di marah sama, umi?" Tanya Zahra dingin.


Tertawa dingin, "LO EMANG BENAR-BENAR MUNAFIK!" Zahra terdengar marah, yakinlah ada keputus asaan di sana.


Annisa benar-benar terkejut dengan yang Zahra ucapkan. Hari ini, sungguh Annisa benar-benar tak mengerti dengan Zahra. Sikap Zahra ibarat bunglon bagi Annisa, beberapa menit yang lalu ia dingin, menit berikutnya lagi ia menjadi ramah dan suka bercanda. Lalu, kali ini Zahra benar-benar dingin. Lebih dingin dari yang pertama.


" Astagafirullah...Zahra nyebut Zahra..." Nasihat Annisa seraya memukul pundak Zahra pelan.


Zahra mengalihkan pandangannya melihat tangan lembut Zahra yang sedang memukul pundaknya. Melihat itu, Zahra pun tersenyum meremehkan dan mengangkat tangannya untuk menjauhkan tangan Annisa dari pundaknya.


"Gue gak butuh belas kasihan, lo!" Ucap Zahra tajam.


"Gue gak mau pulang dan gue mau lo harus nemenin gue di sini sampai gue benar-benar bosan di tempat ini."


"Astagafirullah..dek, sadar dek kalo umi sama abi bakal ma-"


"Bakal marah'in kita berdua kalo kita sampai masuk kesana?,"


"Iya?" Tanya Zahra menggertak Annisa.


"Iya, gak?."


Mata Annisa mulai memerah dan bibir manis nya pun menjadi pucat pasi karena mendapat gertakan dari Zahra.


"Iya..umi dan abi akan marah sama,kita-"


"Kita?" Potong Zahra cepat.


Tertawa dingin, "Hahaha..hello, yang di marah sama umi dan abi ya loel doang, gue mah enggak," Menatap Annisa dengan tatapan lucu.


"Lo kan anak mami di sana, gak boleh kesana kemari. HARUS DALAM PENGAWASAN YANG KETAT." Ejek Zahra.


"Kalo gue?, gue beda ama lo! gak pulang-pulang aja gak bakal di cari. Karena apa?,"


Tersenyum miris, " Karena gue hanya sampah di sana." Zahra berucap miris. Zahra juga manusia dan juga punya hati. Se'acuh apa-pun dirinya tetap saja ia juga akan merasakan perasaan sakit jika seperti ini terus. Bohong jika ia tidak dan mengatakan bahwa hal-hal tersebut tidak mempengaruhinya, karena nyatanya walaupun ia selalu bersikap tidak perduli rasa sakit itu terus menghujaninya.


"Gak..gak itu gak seperti yang kamu duga-"


"Oh."


"Zahra-"


Mengabaikan panggilan Annisa, Zahra mendekati Annisa. "Tapi biar bagaimana pun lo, lo itu tetap cantik.." Ucap Zahra jujur seraya membawa tangan kananya menyentuh wajah Annisa, menelusuri cadar yang kini sedang melindungi wajah cantik kakak tercintanya.


"Apa lagi jika cadar ini di buka, lo bakal lebih can-"


"Cukup, ZAHRA!" Teriak Annisa geram sambil menepis tangan Zahra kasar. Kali ini Zahra benar-benar keterlaluan bagi Annisa. Rasa marah dan emosinya membuat Annisa mau tak mau harus bertindak jika Zahra terlau jauh melangkah.


Menatap tajam kedua mata Zahra, "Kakak mohon hentikan semua KEBODOHAN INI!" Mohon Annisa tajam. Jika tidak dihentikan, Annisa takut jika hal yang ia takutkan terjadi.


Melihat kemarahan Annisa untuk yang pertama kalinya, Zahra hanya bisa tertawa dingin. Melihatnya lepas kendali seperti ini adalah sebuah hiburan tersendiri untuk Zahra.


"Hh, permainan bodoh?,"


Menepuk lengannya seakan membersihkan debu, "Lo bilang ini permainan bodoh?" Tanya Zahra mengejek.


"Zahra, kakak mohon hentikan semua ini.."


"Hahaha..."


"Lo nyuruh gue untuk menghentikan semua ini?,"

__ADS_1


"Kenapa lo gak suruh aja Tuhan lo yang menghentikan semua ini?" Tanya Zahra menantang, jika ia begitu mempercayai Tuhan yang ia kagumkan itu maka biarkanlah Tuhan yang ia cinta itu menolongnya.


Annisa tersentak, menggeleng takut. "Astagafirullah.."


"Ah ya, siapa tuh nama Tuhan lo Al-Allah? yah, Allah."


"Kenapa lo gak suruh Allah aja yang menghentikan semua ini, kenapa harus gue?"


"Astagafirullah...Zahra istighfar Zahra, istighfar.."


Seakan tidak mendengar, "Padahal tiap tengah malam kan lo bangun hanya untuk bertemu dia, ya udah kalo gitu lo suruh aja dia menghentikan semua ini.."


"Zahra, sadar Zahra, kakak mohon sadar lah, hentikan semua ini dan kembalilah kepadanya." Annisa merayu lembut. Mencoba membuat Zahra tersadar.


"Gak!,"


"Gue gak mau!"


"Tapi, Zahra-"


"Udah ah, capek ngomong sama lo daripada ngabis-ngabisin tenaga ngomong sama lo, mending kita masuk aja yuk. Di sana gue jamin lo bakal happy." Ajak Zahra sambil menarik tangan Annisa mengikut langkahnya.


"Jangan..jangan..jangan Zahra.." Teriak Annisa meronta-ronta.


Namun, tetap saja apalah daya Annisa yang hanya mempunyai tubuh lemah dan tidak sekuat adiknya, Zahra.


Semakin Annisa meronta, maka semakin kasar pula tarikan yang Zahra lakukan kepada Annisa. Hingga seringkali Annisa hampir terjatuh karena tarikan Zahra yang kasar.


Ya Allah, apalagi ini?. Apalagi yang akan zahra lakukan ya Allah, hamba takut ya Rabb. Hamba sangat takut, tolong bantu hamba ya Rabb..


\*\*\*


Semua mata langsung tertuju pada satu sosok saat baru memasuki ruangan diskotik tersebut. Yah, dia adalah Annisa, seorang gadis bercadar dengan pakaian serba tertutup apalagi ia menggunakan sebuah cadar yang membuatnya semakin menjadi pusat perhatian di sini. Ya, siapa yang tidak terkejut jika melihat kehadiran seorang gadis berpakaian nan tertutup yang seharusnya pergi ke pengajian atau ke masjid justru pergi ke diskotik. Sebuah keheranan, bukan?


Annisa tak henti-hentinya mengucapkan nama Allah dari bibir nya yang sudah pucat pasi karena menahan ketakutan, apalagi semua gerak-gerik sangat di perhatikan di tempat ini.


"Suit..suit..suit.." Goda kumpulan laki-laki yang sedang bersenang-senang bersama gadis-gadis seksi.


"Ehem, ada orang nyasar nih.."


"Eh, mbak mau pergi pengajian,ya? mbak lupa tempat pengajian nya dimana?, mau saya temenin?" Tanya seorang cowok yang langsung di sambut gelak tawa yang lain.


Annisa hanya menundukkan kepalanya dan tidak ingin merespon ucapan pria tersebut sama sekali.


"Cie, mbak ke sini mau hijrah?. Gak apa-apa mbak, gak usah malu. Kita juga awalnya dulu pas kayak mbak malu-malu hijrah nya, tapi karena di sini orangnya baik-baik dan ramah-ramah jadi saya cepat adaptasi nya mbak." Ucap salah satu gadis yang menggunakan pakaian mini dan ketat. Memperlihatkan belahan dadanya tanpa rasa malu dan berani.


"Shit, lo!" Umpat Zahra kesalm


"Masuk sini aja lo harus pake hijrah-hijrahan, muna lo."


"Yah Zahra, habisnya kita semua penasaran tau gak sama cewek bercadar yang ada di samping lo, kok bisa masuk kesini yah?, apalagi coba namanya kalo bukan niat hijrah.."


"Makanya lo itu kalo sekolah yang benar, dong. Jangan hanya lo bisanya gadai'in dan promosiin badan lo doang ke anak sekolah. Orang ke sekolah pergi belajar, eh lo malah jual diri..." Sindir Zahra tajam.


"Ya, elah Ra, habisnya bukan hanya uang aja yang lo dapatin tapi nikmat nya surga dunia juga lo bakal rasain. Sumpah, gue saranin lo harus coba deh." Ucap gadis itu vulgar, mengabaikan tatapan iritasi yang zahra layangkan kepadanya.


"Anjing lo!" Maki Zahra emosi.


"Gue emang , tapi sebangsat- nya gue yang namanya jual diri hanya untuk uang, hahaha..sorry yah, gue bukan kayak lo yang begok dan tolol. Demi uang?, dasar gak punya otak!" Benar, seburuk apa-pun Zahra akan tetapi ia tidak akan pernah membuang dirinya ke hal yang merugikannya. Ia tidak sebodoh itu.


"Zahra lo ke-"


"Stop!!!"


"Bella, lo harusnya tau diri dengan siapa lo ngomong dan Zahra, udah lupain aja masalah ini, lebih baik kita mulai aja party nya temen-temen."


Sementara Bella mendengus tidak terima, Zahra hanya mengangguk pelan menerima usulan tersebut, karena rencananya lebih penting daripada ribut gak jelas di tempat ini.


"Eh, tapi Zahra yang di samping lo itu siapa, sih?. Dari tadi gue perhatiin dia nunduk terus, dia siapa, sih?" Tanya salah satu pengunjung yang kebetulan mengenal Zahra. Beberapa dari mereka pun menyuarakan hal yang sama, siapa dibalik sosok bercadar itu dan kenapa ia bisa datang ke tempat seperti ini?


Zahra melirik gadis bercadar atau tepatnya Annisa, kakak perempuannya. Ia mulai tersenyum sinis, akhirnya saat yang ia tunggu akhirnya tiba juga.


"Oh dia.."


Mengembalikan pandangan nya, "Kenalin dia Annisa, kakak perempuan gue satu'satunya." Suara Zahra santai memperkenalkan Annisa yang langsung disambut heboh pengunjung yang lain. Mereka berbisik-bisik dan menatap tidak percaya terhadap apa yang dikatakan Zahra.


"Mengapa Zahra sangat berbeda dengan kakaknya?"


"Wah, hebat. Mereka kompak, yang satu ahli surga yang satu ahli neraka."


"Kok mereka bisa berbeda, yah?bertolak belakang banget tau gak.."


"Orang tua mereka ngidam apa, yah?, kok bisa beda gini?"


"Adiknya aja cantik banget apa lagi kakaknya, pasti lebih cantik."


Mendengar komentar-komentar mereka yang terkesan jujur, Zahra pun merasa telinganya iritasi.


"Ekhem.." Zahra angkat suara.


"Gue ngajak kakak gue ke sini karena gue ingin memperkenalkan dunia kita yang sangat menyenangkan ini kepada dia, kakak gue.." Zahra bersuara lantang, membuat mereka semua langsung terdiam.


Annisa begitu terkejut mendengar ucapan Zahra, bohong jika ia tidak takut. Ia sangat takut sekarang, bahkan ia melupakan alasan mengapa Zahra beberapa yang lalu ingin hijrah. Ia ketakutan.


Ya Allah, Annisa takut. Tolong Annisa ya Allah.


"Kalian masih penasaran gak sama wajah kakak, gue?" Tanya Zahra bersemangat, ia yakin pasti mereka semua penasaran dengan wajah cantik kakaknya dibalik cadar ini.


Tidak perlu menunggu waktu lebih lama lagi karena secepat kilat mereka semua langsung menjawab tanpa keraguan.


"Ya udah, nih gue serahin kakak gue buat lo semua.." Zahra mendorong tubuh Annisa yang sedang gemetar ketakutan.


Sontak semua langsung mendekat.


"Eits, tapi ingat kakak gue jangan di apa-apa'in, gue mau kalian hanya mengajaknya bermain-main dan jangan melewati batas.." Peringat Zahra membatasi pergerakan mereka.


Semua langsung mengiyakan dan bergerak semakin mendekat.


Zahra bersikap tidak perduli dengan ketakutan dan permohonan Annisa yang dipikirnya terlalu kekanak-kanakan.


Ketika pelukan Annisa mulai renggang karena tarikan para pengunjung yang menarik Annisa, Zahra tiba-tiba merasakan sakit yang mengiris hatinya. Zahra merasa jika ia telah melakukan kesalahan besar dengan menyakiti kakaknya. Di lihat nya detik-detik pegangan tangan Annisa mulai terlepas, Zahra langsung beralih menatap mata Annisa. Mata itu, mata itu menatapnya seakan berbicara kepada Zahra bahwa betapa takutnya ia saat ini. Melihatnya seperti ini, Zahra merasa bahwa seharusnya ia tidak melakukan hal ini, ia merasa berdosa dan sakit.


Zahra P. O. V


Mata itu, mata itu mengapa seperti ingin menyampaikan sebuah rasa sakit dan perih ke padaku. Ku pandangi tangan Annisa yang benar-benar terlepas dari ku dan matanya, mata merah itu menjatuhkan bulir air mata ketakutan.


Deg


Seperti ada pukulan keras yang menghantam hatiku saat melihat Annisa menangis tak berdaya seperti ini.


Salah!


Ini sangat salah!


Mengapa aku sebodoh ini?


Zahra apa yang telah kamu pikirkan?


Ini salah, sangat salah.


Oh, tidak tidak tidak!


Kamu selalu benar!


Apa yang kamu lakukan ini adalah sebuah kebenaran, sudah saatnya dia merasakan semua itu Zahra.


BENAR!


Aku seharusnya tidak usah mengkhawatirkan dia, toh dia kan masih hidup dan tidak mati.


"Buka..buka..buka.." Teriak para pengunjung meminta Annisa membuka cadarnya, benar sudah saatnya dunia melihat kecantikan kakak ku.


Kakak ku tetap bersikukuh mempertahankan cadarnya. Hingga seorang pria mungkin karena kesal menanti langsung bertindak ingin membuka cadar kakak ku secara paksa.


Ya, pemandangan yang menarik


Dan


Yah, talinya terlepas namun tangan Annisa tetap kokoh mempertahankan cadarnya.


Lalu,


"HENTIKAN....!!!"


Teriak seorang pria dengan suara menggelegar.


Shit!


Author P. O. V


"HENTIKAN....!!!"


Teriak seorang pria dengan suara menggelegar dan berhasil membuat semua orang yang ada di sana menghentikan aktivitas nya.


"Shit!" Umpat Zahra kesal spontan.


"Siapa sih yang berani-berani ganggu pertunjukan ku?" Tanya Zahra kesal.


Karena Zahra tak dapat menahan rasa penasarannya, Zahra langsung mengalihkan pandangannya ke arah si empu pemilik suara-


"Alif?" Kaget Zahra saat mendapati si empu pemilik suara adalah Alif.


"Serius itu beneran Alif?" Zahra bertanya terkejut karena kedatangan tiba-tiba Alif di sini. Berpikir, bagaimana bisa Alif datang ke tempat seperti ini.


"Kak Razi." Teriak Annisa histeris di tengah-tengah kerumunan para lelaki dan perempuan.


Deg


"Kak Razi, tolong Annisa kak. Annisa takut di sini, tolong bawa Annisa pulang.." Panggil Annisa lagi dengan suara parau.


Tak ingin membiarkan tubuh lemah Annisa lebih lama lagi di sana, Razi langsung bergerak cepat membelah kerumunan dengan wajah memerah menahan amarah dan dengan tatapan tajam yang membuat para pengunjung menjadi was-was akibat dari aura yang Razi keluarkan. Di dekati nya Annisa, di gapai nya tubuh lemah Annisa ke dalam pelukan nya lebih lama untuk memberikan kehangatan bahwa semuanya akan baik-baik saja selama ia di sana. Setelah cukup lama akhirnya Razi pun langsung membopong tubuh lemah Annisa dengan ekspresi yang masih sama dan pergi berlalu dari kerumunan tersebut dengan lancar tanpa ada gangguan.


"Kak Razi.." Gumam Zahra seperti berbisik pada dirinya sendiri.


CEMBURU?


Zahra tidak tau apakah ini perasaan cemburu akan tetapi setiap kali ia bernafas rasa sakit dan perih itu akan semakin kuat, apalagi saat menarik Annisa dalam pelukan sehangat itu Zahra pun tidak bisa menampik bahwa ia juga menginginkan nya. Ia juga ingin seperti Annisa yang dengan mudah mendapatkan simpati nya, sedangkan Zahra tidak mudah. Bahkan Zahra harus bersusah payah untuk manarik simpatinya, akan tetapi perhatian yang ia dapatkan berbeda dengan Annisa. Jika Annisa diberikan perasaan menghangat kan maka ia hanya mendapatkan sisi dinginnya saja. Walaupun itu terdengar tidak adil, tetap saja Zahra merasa bersyukur karena dengan begitu Zahra tau bahwa sosok nya ada dalam pandangan laki-laki ini.


Itu tidak mengapa bukan sekalipun itu adalah sebuah keburukan?


"Zahra.." Panggil kak Razi yang langsung membuyarkan lamunan Zahra kembali ke alam sadar nya.


"Heh?" Respon Zahra spontan, tanpa sadar ia menatap Razi dengan tatapan terluka.


"Kita selesaikan semua ini di rumah.." Ucap Razi dingin tanpa berniat menatap wajah Zahra.


Zahra P. O. V


"Zahra.." Panggil kak Razi yang langsung membuyarkan lamunan ku kembali ke alam sadar nya.


"Heh?" Respon ku gugup dan sedikit linglung. Namun sayangnya, ia sama sekali tidak menatap ku.


"Kita selesaikan semua ini di rumah.." Ucap kak Razi dingin tanpa berniat menatap wajah ku bahkan saat ia berbicara.


Bahkan ia sama sekali tidak melirik ku, apa aku benar-benar telah hilang dari memori mu atau memang sebenarnya aku tidak pernah ada dalam pikiran mu?


Ah, benar.


Untuk apa dia melihat ku?

__ADS_1


Bukankah aku ini memang kotor?


Yah, aku berbeda dengan mereka.


Bagi mereka aku adalah sebuah kotoran.


Shit!


Tapi mengapa ini sangat sakit?


"Astagafirullah...seharusnya kalian malu dengan apa yang telah kalian lakukan!"


"Memaksa seorang wanita baik-baik mengikuti jejak setan dan memaksakan ia membuka cadarnya di tempat maksiat?"


"Innalillahiroji'un.. "


"Semoga hidayah segera menyapa kalian semua.." Teriak Alif lantang, lalu ia membawa tatapannya ke seorang gadis yang jika ku perhatikan ia seumuran ku. Alif seperti memberikannya perintah dan gadis itu pun berjalan mendekati ku.


Tapi, tunggu dulu.


Bukan kah itu Fia?


FIA?


Yah, itu memang benar Fia!


Bagaimana semua ini bisa terjadi?


Dan ah, mengapa Fia menggunakan baju persis sama seperti kak Annisa?


Ada apa ini?


Semua ini seperti terasa janggal bagiku!!!


Dan apa hubungan mereka semua?


Kak Razi?


Alif?


Annisa?


Dan sekarang Fia?


Apa hubungan mereka semua?


Mengapa kak Razi dan Alif bisa datang bersamaan dan juga Fia dengan pakaian dan jilbab syar'i nya yang aneh!.


APA INI!!!


"Zahra..." Panggil gadis tersebut yang ternyata adalah benar-benar Fia.


"Fi?" Aku bertanya terkejut dengan sosoknya yang kini terlihat aneh.


"Ayo, kita pulang Zahra..kak Razi dan pak Alif sudah menunggu kita." Ajak nya lembut sambil meraih tangan ku.


Aku pun mengelak, menepis tangan Fia yang berniat menyentuh tanganku.


"Maaf Zahra, tapi ini bukan saatnya kita berdebat, ada hal penting yang harus kita selesaikan dan untuk menyelesaikan masalah tersebut tempat nya bukanlah di sini." Ucap Fia lembut namun terdengar tegas bagiku.


Ini aneh!


Cara bicara dan sopan santun nya seketika berubah malam ini, dan aku membenci sikapnya yang seperti ini.


Aku diam dan tidak membalas ucapannya, bahkan aku pergi berjalan seorang diri dari tempat itu tanpa berniat memandangi wajah Fia lagi. Aku tau, ada sesuatu yang aneh di sini.


Ku dengar langkah kaki Fia yang mengekor di belakang ku, namun Fia tidak hanya sendiri di belakang. Akan tetapi ia ditemani oleh Alif yang ber'ekspresi datar dan dingin.


Langkah ku terhenti saat ada pergerakan cepat dari belakang yang mencekal tangan ku kuat.


"Tunggu, Zahra." Cekal Fia cepat.


Aku mendengus kesal karena Fia malam ini selalu membuat ku naik darah.


Tunggu, dulu!


Bukankah ini adalah kesempatan yang baik untuk ku meminta penjelasan atas semua keganjilan yang terjadi malam ini?


"Zahra, kamu harus dengar in-"


"Kira, saya masuk ke dalam mobil dulu. Saya ingin menemani Razi di dalam, nanti kalo sudah selesai kalian bisa masuk ke dalam mobil assalamualaikum..." Salam Alif ke pada Fia.


Ho..ho...ho...


Ada apa ini?


Alif dengan Fia, apakah mereka berpacaran?


Dia mengkhianati ku?


Oh, tidak!


Gak!


Itu gak mungkin!


Bukankah dia adalah sahabat, ku?


Yah benar, mana mungkin Fia mengkhianati ku. Masa iya sih ia tega mengkhianati ku.?


This is IMPOSSIBLE


"Kemana aja lo?"


"Heh?"


"Kenapa lo baru datang sekarang?, udah ingkar janji lo datang nya pakai baju aneh lagi!"


"Zahra, maaf'in aku udah ingkar janji sama kamu, tapi ini semua aku lakukan demi kamu Zahra."


"Fi, lo kalo ngomong yang jelas dong! bingung gue."


"Aku minta maaf untuk semua yang terjadi malam ini dan ceroboh nya aku, seharusnya dari dulu aku sudah memberitahu mu semua rahasia ku dan jika itu sudah aku lakukan maka semua yang terjadi malam ini tidak akan pernah terjadi.."


Rahasia?


Rahasia apa?


"Udah ah, lo gak bisa apa to the point langsung. Gak usah bertele-tele."


"Zahra ak-"


"Kenapa lo bisa barengan datang sama mereka berdua dan kenapa lo tiba-tiba menjadi aneh dengan menggunakan baju ini!"


"Zahra itu soal bela-"


"Jawab Fia!"


"Kenapa Alif bisa kenal dengan kak Razi?," Tanya ku tak sabaran.


"Dan lo kenapa bisa kenal dan deket sama Alif, lo ada hubungan kan?"


"Zahra itu gak seperti-"


"Oh, jadi benar lo pacaran sama Alif?. Oh, jadi lo berubah begini karena Alif, tepatnya karena lo udah jadi pacarnya dia!" Emosi ku meluap.


Aku memang tidak benar-benar menyukai Alif, tapi rasa sakit dikhianati itu sesuatu yang tidak bisa aku pungkiri. Jika dari awal ia mengatakan nya bahwa ia menyukai Alif, maka aku akan memberikan nya jalan.


"HENTIKAN ZAHRA!!!"


Author P. O. V


"HENTIKAN ZAHRA!!!" Teriak Fia tidak tahan karena terus di tuduh oleh Zahra.


"APA?" Sulut Zahra tak kalah emosi.


"Aku gak seperti yang kamu pikirkan!" Elak Fia mematahkan tuduhan Zahra.


"Terus?"


"Gak..gak..Zahra kamu harus dengerin aku, aku berpakaian begini karena aku memang seperti ini! ini adalah rahasia ku Zahra, aku memang berpakaian seperti ini jika tidak bersama mu.." Jelas Fia membuka rahasia nya.


Mendengar itu Zahra memperlihatkan tatapan tidak sukanya dengan sambil tertawa garing.


"Hahahahaha..."


"Terus gue percaya?"


"ENGGAK!"


"Enggak sama sekali!, ternyata baru gue sadari kalo lo itu temen palsu !!"


Fia menggeleng kan kepalanya cepat meminta Zahra menghilangkan pikiran bodoh tentang dirinya dari pikiran Zahra.


"Zahra, enggak..itu salah..kamu salah paham Zahra! itu gak seperti yang kamu pikirkan.."


"Lo MUNAFIK!!!"


"Lo ternyata adalah temen palsu.."


"DAN GUE BENCI SAMA LO, FI!"


"GUE BENCI!" Maki Zahra dengan suara seraknya.


Menangis?


Tentu saja Zahra menangis, siapa yang tidak terluka melihat sahabat terbaiknya menghianati persahabatan? sakit bukan melihat sang sahabat menusuk kita dari belakang.


Begitu pun dengan Zahra, persahabatan yang ia jalin dengan Fia kandas begitu saja hanya karena masalah cinta. Tidak, biarlah ia bersama Alif karena ia memang tidak mempunyai rasa akan tetapi bagaimana dengan rasa kepercayaan nya terhadap Fia?


Fia adalah sahabatnya dan satu-satunya yang ia percaya, akan tetapi rasa percaya nya kini telah hancur dan hilang. Lantas, apakah Zahra akan kembali sendiri lagi?


"Zahra, dengerin aku dulu.." Pinta Fia dengan berlinang air mata.


"Oh, sekarang gue paham," Ucap Zahra dengan air mata yang sudah bisa ia kendalikan.


"Kenapa gue gak menyadari semua ini dari awal kalo ternyata lo sama kak Razi dan Annisa bekerja sama untuk mata-mata'in gue! iya, kan?"


"Astagafirullah..Zahra, buang pikiran kamu jauh-jauh.."


"Dan setelah itu lo mulai menyiapkan rencana untuk mendekati Alif, oh..sekarang gue tau muka asli lo kayak apa..."


"Astagafirullah, Zahra.."


"Gue benar-benar muak melihat muka lo!. Mulai dari sekarang, anggap aja kalo kita gak pernah saling kenal.."


"Heh, temen palsu.." Ucap Zahra datar dan pergi meninggalkan Fia yang masih menangis.


Zahra langsung menaiki taksi dengan pikiran yang menerawang jauh ke depan.


"Sendiri? benar, aku memang sendiri. Sedari awal aku memang sendiri hanya saja aku baru menyadari bahwa aku memang di permainkan oleh mereka semua. Aku tidak mempunyai teman dan orang-orang terkasih. Jangankan teman, tempat untuk ku kembali saja tidak ada jadi bagaimana aku bisa berpikir jauh tentang teman. Heh, kamu memang serakah, Zahra.


Sigh, lalu bagaimana ini Tuhan?


aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa untuk ku percaya. Semua orang yang ku sayang dan percayai sekarang pergi menjauh meninggalkan ku. Ini sakit Tuhan, sangat sakit. Aku sudah sangat lelah menahan semua rasa sakit ini, kenapa kau tak ambil saja aku jika kau ciptakan aku hanya untuk sebagai hiburan, kenapa kau tidak lenyap kan saja aku Tuhan?, sungguh ini sangat melelahkan. Bantu aku Tuhan, ku mohon. " Bergumam pelan, ia meratapi kehidupan nya yang seakan-akan dipermainkan Tuhan.


Ah, ternyata aku salah. Aku salah jika selama ini aku berpikir bahwa masih ada orang yang mengerti aku, tapi nyatanya..selama ini aku hanya bermimpi. Menyedihkan.


Tidak ada yang namanya sahabat ataupun teman, mereka semua sama saja. Berlapis topeng.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2