
Pondok pesantren As-Sauqi tiba-tiba menjadi heboh karena kedatangan keluarga besar yang sudah bukan orang asing lagi bagi santri dan santriwati di sana. Tak biasanya keluarga itu datang secara rombongan begini, kecuali jika pondok pesantren sedang merayakan atau membuat acara-acara hari besar islam. Namun, kali ini tidak ada perayaan atau acara yang akan mereka rayakan karena belum waktunya.
Kedatangan rombongan keluarga besar itu menjadi pusat perhatian bagi santri dan santriwati bukan karena bukan biasanya mereka datang seperti ini, akan tetapi karena di dalam rombongan keluarga besar itu terdapat seorang gadis yang sangat berbeda dari mereka semua.
Keluarga itu terkenal dengan menganut islam secara kaffah atau dengan kata lain mereka sangat menjalan kan nilai-nilai islami itu di dalam keluarga mereka. Akan tetapi, sangat mengheran kan jika salah satu anggota keluarga mereka berbeda.
Dia, gadis yang selalu berjalan dengan wajah tertunduk dan berpenampilan sangat aneh bagi santri dan santriwati yang memperhatikannya.
Menggunakan baju seragam SMA putih abu-abu yang sangat minim. Rok abu sepaha yang memperlihat kan kulit mulus putih bersih seperti susu di mata laki-laki dan dengan baju seragam putih selengan yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sangat menggoda.
Gadis itu hanya menunduk, sangat terlihat jika ia sangat tak bersemangat berada di tempat baru ini. Itu sangat terlihat jelas dari sikapnya yang hanya menunduk dan tak pernah mengangkat wajahnya.
Ketika rombongan telah sampai di kediaman sang pemilik pondok pesantren, rombongan keluarga itu langsung di sambut baik oleh pemilik rumah. Tanpa menunggu lama, sang pemilik rumah pun langsung mempersilahkan rombongan keluarga besar itu masuk tidak terkecuali gadis itu.
Selama di dalam, gadis itu tetap bersikukuh dengan sikap nya. Yaitu tetap menundukan wajah dan tak mau perduli dengan lingkungan sekitarnya.
Yang lain mengobrol asik dan tertawa bahagia, akan tetapi gadis itu malah acuh tak acuh dengan sekeliling nya. Ia lebih baik diam dan bungkam dari pada berbicara namun slalu tak di dengarkan. Itu pikirnya putus asa.
"Jadi, ini toh yang bernama Zahra?." Tanya ustad Kholik sang empu rumah sekaligus pemilik pondok pesantren As-Sauqi.
Yah, gadis itu adalah Zahra. Wajar saja jika sikapnya seperti itu, karena Ia memang tidak pernah menyukai tempat ia berada saat ini. Yah, lingkungan baru Zahra.
Zahra hanya diam, tak merespon. Ia lebih menyukai diam untuk saat ini.
"Iya, Kholik ini Zahra anak ku yang terakhir." Jawab Abi semangat.
Ustad Kholik menatap takjub Zahra yang kini sedang tertunduk mengacuhkan sekelilingnya. "Ma shaa Allah, ini toh Zahra, cantik pisan, Arul. Lebih cantik dari yang aku bayangkan.." Puji ustad Kholik terpesona dengan kecantikan Zahra.
Abi tersenyum hangat, mengalihkan pandangannya menatap sang putri yang masih bersikap dingin. "Alhamdulillah, itu adalah kuasa Allah yang telah memberikan kami amanah seindah ini." Syukur abi tulus dari dalam hatinya.
"Ma shaa Allah, sungguh besar kuasa Allah. Eh tapi, ngomong-ngomong Fatimah dulu kamu ngidam apa yah kok keluarnya secantik ini.." Goda ustad Kholik kepada Umi yang kini sedang duduk di samping putri terakhir nya, Zahra.
Semua yang mendengar langsung tertawa, pertanyaan polos ustad Kholik membuat mareka berpikir sangat jauh.
"Ah ustad, ngidam nya kayak ibu-ibu biasa aja..mau nya yang asem-asem.." Jawab umi malu-malu yang langsung di sambut gelak tawa oleh mereka semua.
"Ih, abi genit pisan..kok nanyak nya begitu sih? kayak umi gak pernah ngidam aja.." Tiba-tiba istri Ustad Kholik datang dengan wajah cemberutnya.
"Astagafirullah, umi, abi kan cuma bercanda..jangan di tanggepin serius atuh.." Jelas ustad Kholik sambil merayu istrinya.
"Bercanda kok gitu, bi?"
"Maaf atuh umi, soalnya si Zahra anak terakhir Arul cantik pisan.."
"Zahra, maksud abi teh calon kita?" Tanya umi spontan tanpa memperhatikan lingkungan sekitar.
"Calon kita?" Tanya Zahra mulai bersuara.
"Iya, si Zahra calon is-"
"Calon santriwati di pondok pesantren ini, Kholik." Sergap abi memotong ucapan ustad Kholik.
Ustad Kholik dan istrinya langsung saling pandang, kemudian akhirnya tertawa cekikikan menyadari sesuatu.
"Oh, jadi ini teh calon kita abi. Eh, maksudnya teh calon santriwati di sini..ma shaa Allah..gelis pisan.." Puji istri Ustad Kholik tulus dari dalam hati.
"Abi juga bilang apa, mi, si neng Zahra teh gelis pisan seperti kakaknya Annisa.." Puji ustad Kholik sekali lagi.
Zahra langsung mendengus kesal ketika mendengar nama Annisa di sebut. Ia merasa kesal karena kecantikan wajahnya di sangkut pautkan dengan Annisa. Ia tak sudi.
"Iya atuh abi, Annisa kan kakaknya jadi menurun atuh kecantikannya ke Zahra.."
"Iya umi, abi tau." Jawab abi senang.
"Zahra, kamu teh sudah siap belum menuntut ilmu di sini?" Tanya ustad Kholik lembut kepada Zahra.
Zahra mengangkat kepalanya enggan, menatap sang pemilik empu suara. Setelah sekian detik ia menatap wajah ustad Kholik, Zahra pun langsung tersenyum sinis seraya membuang muka.
Melihat situasi itu, abi pun langsung melemparkan ustad Kholik dan istrinya kode bahwa Zahra sedang dalam kondisi yang tidak baik atau marah.
Mengerti akan hal itu, ustad Kholik pun mulai mengambil langkah lain.
"Ehem, Marwah...Marwah..." Panggil ustad Kholik kepada gadis yang bernama Marwah.
Tiba-tiba dari arah belakang, muncullah seorang gadis yang seumuran dengan Zahra.
"Iya ustad, ada yang bisa Marwah bantu?" Tanya Marwah sopan kepada ustad Kholik.
"Ada, tolong bawa Zahra ke kamar Firdaus. Zahra pasti lelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, jadi Marwah tolong bawa Zahra ke kamarnya yah." Ustad meminta dengan tulus.
"Baik, ustad." Jawab Marwah singkat namun sarat akan sopan.
Marwah pun mulai bergerak mendekati Zahra.
"Ayo mbak Zahra, Marwah antarkan ke kamar mbak." Ajak Marwah sopan seraya menyentuh pundak Zahra bermaksud membantu Zahra berdiri dari tempat duduknya.
Zahra menepis tangan Marwah kasar, tidak menyukai sikap Marwah yang terlihat sok akrab kepada Zahra.
Melirik sinis, Zahra mengabaikan ekspresi terkejut gadis itu. "Mbak mbak, emang gue pelayan toko apa lo panggil mbak!," Marah Zahra merasa tersinggung.
Marwah membeku, terlihat sangat shock setelah mendapatkan sikap tidak bersahabat dari Zahra.
Menepuk bajunya, "Dan ya, lo gak usah sentuh gue lagi kayak tadi. Jangan sok akrab sama gue." Peringat Zahra tidak ingin mengulangi hal yang sama. Bukankah itu sudah jelas bahwa Zahra tidak menyukai orang asing apalagi seseorang yang tiba-tiba bersikap baik padanya, hell ia masih tidak melupakan bagaimana rasanya dikhianati.
Berdiri, ia menatap lurus wajah pucat Marwah yang masih belum bisa mengatakan apa-apa. "Tunjukin gue jalannya." Intruksi Zahra terdengar dingin.
Mendengar itu, Marwah hanya mengangguk paham seraya melaksanakan tugasnya sebagai penunjuk jalan untuk Zahra.
Zahra berjalan dengan malas-malasan saat akan menuju kamarnya. Di perjalanan menuju kamarnya, Zahra menjadi pusat perhatian para santri dan santriwati.
Menanggapi hal itu Zahra seakan tidak menganggap mereka sebagai mahluk hidup, benda mati, itulah yang Zahra pikirkan tentang mereka semua. Zahra tak perduli dengan perkataan dan pendapat orang tentang dirinya saat ini. Baginya seperti ini adalah hal yang biasa karena ia tau rasanya.
"Mbak Zahra teh gelis pisan, kulit mbak Zahra juga putih mulus seperti susu. Pasti perawatannya mahal ya mbak?" Tiba-tiba suara polos Marwah yang menatap takjub kulit bersihnya membuat Zahra mengintrupsi kegiatannya.
Namun, Zahra diam tidak merespon, ia lebih suka diam saat ini.
Marwah masih belum mau menyerah, ia terus mencoba untuk menarik perhatian Zahra. "Di kota mbak Zahra pasti sering ke salon perawatan kulit, yah? di kota kan semuanya serba mahal pasti mbak Zahra ngeluarin banyak biaya untuk perawatan kulit ya?" Tanya Marwah sekali lagi memulai obrolan dengan Zahra.
Seperti biasa, Zahra hanya menanggapinya dengan diam. Tak ada yang lain.
__ADS_1
Kemudian, Marwah menatap rambut hitam panjang Zahra yang kini sedang tergerai lepas, kemudian ada wangi yang manis menguar dari rambutnya. "Ma shaa Allah, rambut mbak bagus pisan dan harum lagi. Mbak pasti pakai shampoo mah-"
"Berisik!." Potong Zahra kesal mendengar ocehan Marwah yang sedari tadi terus mengganggu nya. Bukankah sudah terlihat jelas dari ekspresinya bahwa ia sedang dalam keadaan baik.
Melirik kesal, "Lo bisa gak sih diam?, jadi orang kok cerewet banget. " Kesal Zahra tidak ingin diganggu lagi.
Marwah sekali lagi membeku, marah Zahra sekali lagi membuatnya takut. "Maaf mbak, Marwah salah dan Marwah janji gak bakal nanya-nanya lagi ke mbak Zahra." Marwah meminta maaf dengan tulus, menyadari bahwa Zahra memang tidak bisa diajak bicara jika dalam suasana hati yang buruk.
Mengabaikan permintaan maaf Marwah, "Setelah ini kita jalan lewat mana?, panas nih, jangan lelet dong!" Tanya Zahra mengalihkan pembicaraan.
"Lewat sini mbak, kalo kita belok ke kiri itu adalah asrama santri laki-laki dan perempuan sangat di larang masuk ke sana." Ujar Marwah memberikan info kepada Zahra.
Zahra menatap gedung tempat santri laki-laki berada, lumayan besar bagi Zahra.
"Kenapa cewek gak boleh masuk?" Tanya Zahra ragu, pasalnya mereka semua adalah siswa di sini. Lalu mengapa pergerakan mereka harus dibatasi mengingat mereka juga adalah teman, teman sekelas mungkin.
Marwah sedikit terkejut, "Itu karena kita bukan muhrim, mbak." Jelas Marwah bingung.
"Oh." Respon Zahra singkat.
Bukan muhrim itu maksudnya apa?
"Nah, kalo ini mbak gedung sekolah. Sama seperti sekolah mbak, kita juga belajar akan tetapi pelajaran kita dengan sekolah biasa sedikit berbeda.." Ujar Marwah menjelaskan gedung sekolah yang Zahra perhatikan.
Aku harap juga begitu, tapi sedikit versi kalian adalah terlalu banyak untuk versi ku.
"Masuk seperti biasa?" Tanya Zahra malas.
"Iya mbak, kita masuk seperti biasa Jam 07.00 pagi." Jawab Marwah antusias.
"Oh, seperti yang diharapkan. Ini memang menyebalkan. " Gumam Zahra kesal.
Marwah gumaman Zahra samar, "Kenapa mbak?" Tanya Marwah cepat.
"Gak. Gak ada." Jawab Zahra malas.
Dari kejauhan Zahra sudah bisa melihat bangunan masjid yang sangat besar dan luas.
Melihat itu, Marwah pun mulai bersemangat memperkenalkan Zahra tempat baru ini. Mengingat keingin tahuan Zahra semakin muncul dan keluar secara spontan.
"Itu masjid As-Sauqi mbak, indah yah." Jelas Marwah.
Tanpa Marwah sadari, ada senyum tipis yang terukir dibibir tipis Zahra yang ranum. Entah di sengaja atau tidak, akan tetapi ini membuat Zahra terlihat berbeda dari biasanya.
"Masjid ini sengaja di bangun lebih besar dan luas agar mampu menampung semua santri dan santriwati saat sholat atau mengaji. Di dalam masjid itu terd-"
"Apakah masih jauh?" Potong Zahra cepat.
"Ah?" Marwah menjawab spontan.
" Iya, gak kok mbak, bentar lagi kita sampai." Jawab Marwah gelagapan.
Zahra hanya mengangguk bosan, yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah ia ingin cepat-cepat berbaring di atas kasur empuk dan dengan balutan selimut tebalnya yang hangat. Ia ingin tertidur sejenak, menghilangkan semua kekacauan hari ini yang terus saja berputar-putar di kepalanya.
"Alhamdulillah mbak, akhirnya kita sampai juga." Ucap Marwah bersyukur.
Zahra memandangi gedung asrama wanita yang ada di depan nya ini.
"Kamar gue di mana?" Tanya Zahra dingin karena tak bisa menahan kantuk dan lelah yang terus saja menggerogoti matanya sedari tadi.
"Ini kamar mbak ada di depan mbak sendiri, tuh di depan pintu kamar mbak tertulis 'Kamar Firdaus'." Jelas Marwah menunjuk salah satu kamar yang lebih mirip dengan ruang kelas.
Zahra membelalakan matanya karena terkejut melihat tempat yang Marwah sebut sebagai kamar justru lebih cocok di sebut gudang.
kamar itu persis seperti yang ada di dalam mimpinya.
Ruangan dengan ukuran sedang yang berisikan sekitar dua puluhan kasur biasa berjejeran rapi. Di samping kasur-kasur tersebut atau tepatnya di dinding ruangan tersebut berdiri kurang lebih sekitar 20 lemari berukuran sedang yang tersusun dengan rapi dan apik.
Tempat itu memang terlihat seperti gudang, namun di dalamnya barang-barang sangat tersusun dengan rapi. Walaupun sangat banyak penghuninya akan tetapi kebersihan dan kerapian kamar ini cukup terjaga.
"Seharusnya aku tak terkejut dengan semua ini. Semuanya seperti dugaan ku, aku dibuang di tempat seperti ini adalah hal yang wajar. Karena memang tak ada yang benar-benar perduli dengan ku di sana. Di tempat yang ku sebut sebagai 'Rumah.' " Gumam Zahra pada dirinya sendiri.
Zahra menundukan wajahnya dalam, ia merasa sedih dan kacau saat mengingat kejadian demi kejadian yang bertubi-tubi menghampirinya dan karena itulah ia terluka.
Zahra menarik nafas dengan berat, seraya menatap dinginnya lantai yang sedang ia pijaki saat ini. Ia tersenyum pahit menyadari betapa hina dirinya di mata semua orang sehingga tak ada tempat kembali sama sekali untuk dirinya. Dan ini semakin membuat Zahra terhempas ke jurang luka hatinya yang semakin lama semakin membesar saja. Dan itu sangat menyiksa bagi Zahra.
"Mbak Zahra ayo kita masuk, Marwah akan memperkenalkan mbak kepada semua penghuni kamar ini. Dengan kata lain adalah keluarga kita semua." Ajak Marwah terdengar sangat senang.
Zahra diam, ia tak merespon ajakan Marwah sama sekali. Namun, anehnya Zahra melangkah dengan sendirinya masuk ke ruangan yang di sebut kamar oleh mereka. Zahra memasuki kamar tersebut dengan wajah yang masih diam tertunduk.
"Mbak Zah-"
"Gue tidur dimana?" Tanya Zahra dingin memotong ucapan Marwah dengan cepat.
Marwah diam, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Bukan hanya Marwah yang termenung dengan sikap Zahra, akan tetapi semua penghuni kamar pun terdiam dan menjadi heran mengapa gadis kota tersebut bersikap dingin di hari pertamanya bertemu mereka semua.
"Gue lelah.." Ucap Zahra lirih terdengar sangat dalam.
"Gue butuh istirahat, please."
Semua diam tak ada yang menjawab, hingga tiba-tiba datang seorang gadis sebaya Zahra yang menggunakan pakaian syar'i tertutup nya mendekati Zahra.
"sangat boleh, jika kau ingin beristirahat maka beristirahatlah. Silahkan, tidurlah di ranjang ini." Jawab gadis itu seraya membawa Zahra ke salah satu ranjang dan menduduk kannya dengan lembut.
"Teman-teman, biarkan Zahra beristirahat dulu. Karena menempuh perjalanan jauh dari kota ke pondok pesantren kita, Zahra mengalami kelelahan, maka biarkanlah ia menenangkan dirinya sementara kita pergi sholat magrib di masjid. Setelah Zahra sudah baikan, barulah kita akan mendengarkan lebih jauh lagi tentangnya." Ucap gadis itu ramah.
Mereka semua pun mengangguk paham seraya bergerak mengambil muknah masing-masing dan berjalan keluar menuju masjid.
Marwah berjalan mendekati gadis itu dengan wajah leganya.
"Terimakasih banyak Dira, kare-"
"Kau tak perlu berterimakasih kepada ku , Marwah. Lagi pula ia bukanlah orang lain bagi ku, ia adalah orang yang sangat spesial dan aku sudah menunggu lama momen ini, bertemu langsung dengannya." Potong Dira senang seraya berjalan keluar menjauhi kamar tempat Zahra tertidur.
"Benarkah?" Tanya marwah tak percaya.
Tidak sabar, Marwah menanyakan hal yang lain lagi. "Bagaimana mungkin mbak Zahra menjadi orang yang spesial untuk mu?" Tanya Marwah penasaran.
Dira mengalihkan pandangannya menatap wajah Marwah dalam, selang beberapa menit ia pun menyunggingkan senyumnya seraya berdelik manja.
__ADS_1
"Entahlah, aku pun tak tau." Jawabnya singkat seraya menarik tangan Marwah berjalan menuju arah masjid yang terlihat sudah ramai santri dan santriwati di dalam nya.
\*
Zahra menggeliatkan tubuh nya di atas kasur kapuk yang sangat terasa tidak nyaman di badannya. Gerakan ini sudah sekian kali ia lakukan dalam beberapa menit saja.
Ia berbalik ke kanan, kemudian ke kiri , menelungkupkan badannya dan berbagai macam posisi ia coba namun tetap saja ia masih terasa tak nyaman dengan posisi tersebut.
Karena terlalu bosan dan lelah berganti-ganti posisi, Zahra akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya dan beralih mencari barang barang yang keluarganya bawa ke tempat ini.
Zahra mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari posisi kopernya, dan ternyata koper Zahra berdiri dengan kokoh di samping pintu bersama dengan beberapa bungkusan kantong plastik berwarna putih berukuran besar.
Zahra menatap pemandangan tersebut dengan tatapan sinisnya.
"Oh, shit!" Umpat Zahra kesal merasa putus asa karena mendapati bungkusan tersebut berisi makan ringan atau snack-snack sampingan.
"Kalian tak perlu bersusah payah memberikan ku makanan murahan seperti ini, aku masih bisa membelinya dengan uang ku sendiri." Gerutu Zahra kepada dirinya sendiri.
Tiba-tiba dari luar terdengar suara langkah berat orang-orang yang sedang berlari-lari di hiasi dengan gelak tawa bahagia yang suaranya terdengar sampai ke dalam.
Zahra mendesah kesal, dalam hatinya ia tak habis pikir mengapa semua gadis ini terlihat bahagia dibuang di tempat seperti ini.
"Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh.." Salam mereka beramai-ramai sambil berlarian memasuki kamar.
Zahra tak menjawab salam dari gadis-gadis tersebut, justru Zahra terlihat menggelengkan kepalanya seraya berusaha mengabaikan keributan yang disebabkan oleh perbincangan mereka.
"Assalamualaikum mbak Zahra." Salam Marwah sopan seraya duduk di samping Zahra.
"Hem.." Respon Zahra singkat.
Marwah menelan ludah pahit, menyadari bahwa Zahra bukanlah orang yang mudah bargaul untuk kedua kalinya.
"Gimana mbak, badan mbak sekarang udah bisa enakan gak?" Tanya Marwah hati-hati.
Zahra terlihat menarik nafas berat, terkesan tidak menyukai pertanyaan Marwah.
"Lo katarak, yah?, lo kira ini kasur baik apa untuk badan gue!. Kasur bekas gini ditidurin bukannya bikin pegel gue baikan, eh justru malah lebih parah.." Jawab Zahra kesal.
Marwah kembali menelan ludah pahit, seperti dugaannya. Ini sangat sulit.
Ya Allah, apakah Marwah bisa menjalan tugas ini? Batin Marwah ragu.
"Oo..em.., mbak Zahra lagi beres-beres yah, sini Marwah bantu." Ucap Marwah berusaha mengalihkan pembicaraan .
Marwah bergerak menarik koper yang ada di depan Zahra dan berniat akan membukanya.
"Gak perlu, gue bisa sendiri. Daripada gue ngerepotin lo, mending lo buang aja deh bungkusan yang ada di depan gue ini." Ucap Zahra seraya pergi membawa kopernya meninggalkan Marwah.
Marwah beralih melihat bungkusan yang di maksud Zahra dan bergerak mendekatinya.
Marwah memperhatikan 3 bungkusan besar ini dengan ekspresi wajah heran. Ia tak habis pikir dengan bungkusan-bungkusan yang ada di depannya ini, jika tak di butuhkan mengapa Zahra harus membawanya ke pondok.
Karena penasaran, Marwah pun bergerak membuka salah satu bungkusan tersebut.
"Ma shaa Allah." Teriak Marwah terkejut dengan isi bungkusan tersebut.
Semua gadis yang baru sampai di kamar itu pun menjadi panik dan berhamburan mendekati Marwah.
"Asstagafirullah, Marwah kamu teh kenapa?" Tanya seorang gadis dengan nafas ngos-ngosan.
"Aku?, aku gak apa-apa kok, Tia." Jawab Marwah seraya menatap Tia si empu yang bertanya dengan tatapan bingung.
"Lha, kalo kamu baik-baik saja terus kenapa teh kamu berteriak? mana suara kamu teh keras pisan..kalo di denger sama mbak Nabila pasti kita semua teh bakal di hukum karena di anggap telah membuat keributan.."
"Asstagafirullah, maaf ya teman-teman. Aku telah membuat kalian semua khawatir. Hm, sebenarnya aku cuma kaget aja melihat semua bungkusan-bungkusan besar ini." Perjelas Marwah seraya meminta maaf kepada teman-teman sekamarnya.
"Emang bungkusan ini ken-"
"Ma shaa Allah, makanan ini teh banyak banget. Kamu beli dimana Marwah? semua makanan ini terlihat mahal-mahal, dapet uang dari mana kamu, Marwah?" Celoteh gadis lainnya yang membuka bungkusan yang lain.
Mendengar itu semua gadis itu pun bergerak membuka bungkusan yang satunya lagi sambil terkagum karena tak pernah melihat makanan sebanyak ini.
"Aduh, ini teh bukan punya aku tapi semua makanan ini punya mbak Zahra.." Jawab Marwah mengklarifikasi kesalah pahaman teman-teman nya.
"Zahra? anak baru itu?" Tanya Siti.
"Iya, siapa lagi kalo bukan dia."
Jawab Tia singkat.
"Iya sih, dari penampilannya saja kita sudah tau kalo Zahra anak orang kaya.." Ucap Siti sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Alhamdulillah..ada maka-"
"Ini bukan punya kita, Ifa." Potong Kaila cepat, ketua kamar Firdaus.
"Tapi Ifa laper kak, kalo nunggu makan malam masih satu jam lagi, sedangkan perut Ifa sudah terasa seperti di remas-remas.." Jawab Ifa dengan wajah pucatnya seperti sedang menahan rasa sakit.
"Fa, tahan sedikit gak ap-"
"Daripada gue buang, lebih baik semua makanan ini kalian makan aja. Kan sayang kalo di buang." Ucap Zahra menengahi perdebatan mereka.
"Mbak Zahra serius?" Tanya Marwah hati-hati sekaligus tidak percaya.
Zahra mengangguk mantap seraya berjalan mendekati ranjang yang ia tiduri tadi.
Menatap langit-langit kamarnya, "Temen lo keliatan pucat, sepertinya ia mengalami gangguan pencernaan. Mungkin saja ia mengidap penyakit asam lambung." Tutur Zahra seraya merebahkan tubuhnya santai bersiap memejamkan mata.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak Zahra. Kami semua beruntung satu kamar sama kamu.." Ucap Kaila berterimakasih dengan tulus.
"Hem." Respon Zahra santai.
"Temen-temen, berhubung makanan ini cukup banyak, bagaimana jika kita membagi rata semua makanan ini ke kamar yang lain.." Kaila, si ketua kamar menyuarakan pendapatnya yang langsung di setujui yang lain.
Zahra mengernyitkan keningnya mendenagar intruksi dari kaila.
__ADS_1
Kenapa mereka-aneh!.
Bersambung...