
Zahra P. O. V
Hari ini sedikit berbeda dengan hari-hari yang lain. Tak ada kegiatan yang biasa kami lakukan seperti sekolah dan membaca Al Qur'an. Yang ku dengar dari Marwah dan Dira hari ini adalah hari khusus yang disisipkan pondok pesantren untuk bersih-bersih masal. Ini hanya terjadi satu kali dalam satu bulan, maka dari itu acara bersih-bersih nya dilakukan semaksimal mungkin. Seperti itu lah yang ku lihat dan rasakan.
Aku merasa nyaman.
Kurang lebih hampir satu bulan aku ditempat ini, aku sedikit bisa bergaul dengan mereka. Tak ada yang spesial, hanya sekedar konteks teman kenal bagiku. Istilahnya basa-basi.
Mereka bersikap sewajarnya, mengobrol dan bercanda dengan ku. Terkadang yang menjadi bahan pembicaraan mereka adalah diriku. Aneh bukan? Menggosipkan sang tokoh utama didepan nya sendiri. Iya, mereka membicarakan tentang ku didepan mata ku.
Oh, mungkin ini yang membedakan para penggosip kota dengan di sini. Dan yah ku beritahu, mereka membicarakan hal yang sangat ambigu. Menurut ku.
Why?
Ini nih, mereka setiap bertemu dengan ku pasti mengatakan bahwa,
"Zahra kamu teh gelis pisan, aku teh jadi iri. "
"Zahra di kota pasti sering ke salon yah, keliatan banget kulit Zahra mulus pisan."
"Zahra di kota sering dipingit yah?"
"Zahra perawatan nya pasti mahal?"
Dan bla bla bla.
Perawatan?
Hell, perawatan apaan, lagian pakek handbody aja jarang. Kalo pun nih kulit dikasih bedak atau apa, itu hanya aku lakukan saat pemotretan produk endors. Yah, kalian tau sendiri lah aku tak selalu meminta uang saku kepada umi dan abi. Sehingga aku memutuskan untuk mandiri dan betapa beruntung nya aku, aku mendapatkan tawaran untuk promosi produk endors. Aku tak serakah, karena aku tak terlalu membutuhkan uang secara khusus. Hanya keseharian. Dan ya, aku tak melakukan pekerjaan itu secara serius atau menyeluruh. Itu ku lakukan disaat aku benar-benar bosan, sehingga waktu ku sedikit bermanfaat.
Sering kali, para bos endors dan pihak permodelan meminta ku untuk menjadi orang tetap mereka karena berbagai alasan. Tapi aku dengan tegas menolak, selain tak terlalu tertarik aku juga tidak terlalu berambisi menghasilkan uang.
Salon?
Walaupun secara garis besar aku sudah mandiri dan bisa menghasilkan uang, tapi yang namanya pergi ke salon mah ogah. Ngapain?
Poles-poles wajah?
Gosok-gosok kulit pakek bahan-bahan herbal?
Et dah, gitu doang aku juga bisa kali. Kagak usah kesalon juga. Mau poles poles muka, lebih baik pakek bedak bayi aja lebih aman. Gosok-gosok kulit sampai kinclong aku juga bisa kali, tinggal blender kunyit atau dedaunan muda terus dilumerin dibadan, digosok-gosok, dipijit-pijit dan diurut-urut dengan lemah lembut nan gemulai serta yang terakhir dibilas atau mandi. Udah deh, kan kinclong. The teori of Zahra. Abaikan.
Dipingit?
Kalo ini sih kebalik. Aku bukan nya dipingit, dijaga dan dilayani. Tapi aku justru tak dilihat, diabaikan dan dibuang. Yang terakhir paling ngenes. Aku benar-benar gak dibutuhkan ternyata, tapi ya udahlah. Masa lalu juga, kagak usah dikenang.
"Mbak Zahra, mbak? " Panggil Marwah dengan suara meninggi, bukan bermaksud membentak.
"Ah-ya? " Suara ku gelagapan.
Dira menatapku perihatin, menurut ku.
"Mbak Zahra dari tadi melamun terus, mbak ada masalah? " Tanya Marwah terdengar khawatir terhadap ku.
Aku menggeleng pelan dan mengusap wajah ku dengan gerakan lembut-jangan kasar-kasar ini muka yah bukan pantat panci. Abaikan.
"Aku oke, seperti yang kamu lihat. " Balas ku mencoba menghilangkan rasa khawatir nya.
Dira mengangguk setuju dan membuang arah pandang nya ke sembarang arah, terkesan sedang berpikir menurutku.
"Lebih baik kita bersiap-siap untuk pergi ke masjid daripada duduk tidak jelas seperti ini terus. " Intruksi Dira mengambil keputusan setelah kami terdiam cukup lama. Marwah mengangguk antusias dan bergegas mengambil sesuatu dari bawah ranjang nya.
"Ke masjid ngapain?. Inikan baru masuk jam 10?" Tanya ku bingung.
Dira menggeser duduknya lebih dekat dengan ku.
"Memang, ini baru jam 10. Justru karena ini baru memasuki jam 10 waktu kita untuk membersihkan masjid lebih banyak. Jadi gak bisa kelabakan." Jawab nya santai.
Aku mengangguk mengerti.
"Apakah santri laki-laki juga ikut? " Tanya ku penasaran.
Oh, jangan berpikir aku ini gadis itu yah.
No.
No way!
Aku gak bermaksud sama sekali untuk mencuci mata dengan mendapatkan bonus kegiatan secara bersamaan dengan mereka. Yah, walaupun di sini anak cowok nya lumayan tampan-tampan tapi hanya lumayan lho.. Garis bawahi
L. U. M. A. Y. A. N
Gak ada lah yang bisa mengalahkan ketampanan Alif, di jamin gak ada.
Hmm.. Ketampanan kak Razi juga, masih belum ada yang bisa.
"Iya, tapi mereka kebagian di area yang menggunakan tenaga semua. Wajarlah, mereka kan laki-laki. " Jawab Dira.
Aku mengangguk, paham.
Jadi tugas kami sebagai perempuan membersihkan area yang tidak terlalu menggunakan tenaga, atau dengan kata lain kami hanya melakukan pekerjaan ringan.
Oh, oke.
Ini seperti nya tidak sulit.
"Gus Fansyah juga hadir lho, mbak. Pasti di masjid langsung dibanjiri kaum hawa. " Ucap Marwah terkekeh yang tiba-tiba muncul dengan beberapa lembar kain.
Aku tersenyum, spontan.
Ah, betapa polosnya gadis ini.
Akan tetapi berbeda dengan Marwah, Dira justru menampilkan ekspresi khawatir nya kepada ku. Mata yang biasa nya terbuka lebar dan terkesan ceria berubah menjadi tatapan sayu, ia menatap ku sendu.
Aku tau apa arti tatapan itu, Abi sering melempari ku tatapan itu setiap kali aku berulah.
Itu tatapan belas kasihan. Dan aku sangat membenci tatapan itu.
Lama aku menatap Dira, ia pun tersenyum. Miris.
"Ayo, lebih cepat lebih baik bukan. " Ajaknya seraya bangkit dari duduk nya dan berjalan keluar lebih dulu.
"Mungkin, ini hanya perasaan ku saja." Gumam ku menyemangati.
Aku berjalan dibelakang nya bersama Marwah. Oh, gadis yang lain juga ikut berkumpul bersama kami.
Sepanjang perjalanan menuju masjid, Dira terlihat lebih banyak menunduk. Benar bukan, ini bukan hanya sekedar perasaan ku saja jika Dira memang bersikap aneh hari ini. Yah, walaupun sikapnya yang kemarin-kemarin juga aneh. Tapi ini sangat memancing rasa penasaran ku.
"Put, propsal kamu sudah diterima belum sama gus Fansyah? "
Ku dengar sebuah percakapan dari arah belakang ku.
"Iya, Fit. Proposal aku udah diterima kok sama gus Fansyah."
Proposal?
Hem, mungkin ini menyangkut tugas mereka di sekolah. Jangan lupa, walaupun di sini secara notabene adalah tempat khusus untuk mendidik ahlak dan agama, akan tetapi di sini juga ada sekolah. Yah, walaupun ku akui pelajaran nya agak aneh-aneh gimana gitu. Tapi tetap saja itu pelajaran.
"Serius?. Proposal kamu diterima? " Ucap suara lain yang ikut tertarik kedalam percakapan tersebut.
Aku memilih tak terlalu tertarik dengan percakapan mereka, akan tetapi jarak kami yang sangat berdekatan seperti ini membuat ku mau tak mau harus mendengar kan percakapan tak penting seperti ini. Apakah tugas proposal itu sangat penting sehingga meski dalam rutinitas seperti ini pun masih di khawatirkan?.
__ADS_1
Author P. O. V
"Iya, aku liat sendiri kok ustad Ahmad dan ustadzah Nurrul langsung memberikan proposal ku kepada gus Fansyah. " Jawab gadis itu polos.
Dua gadis yang sedari tadi melayani pembicaraan itu langsung memasang wajah datarnya, ternyata apa yang mereka pikirkan tidak sama. Dan justru mereka malah tersenyum lega. Mereka masih punya harapan.
"Terserah kamu lah. " Putus gadis yang satu lagi tak perduli.
"Mbak Zahra gak tertarik membuat proposal?" Tanya Marwah yang berada disamping Zahra.
Zahra mengernyitkan dahinya. Memperlihatkan ekspresi kebingungan nya yang terlihat menggemaskan.
"Proposal?"
"Iya, proposal."
"Buat apa?"
"Yah, buat gus Fansyah."
Zahra semakin bingung.
"Iya, tapi buat apa Marwah?" Tanya Zahra gemas.
"Buat gus Fansyah, mbak. Ya buat siapa lagi. " Jawab Marwah masih kekeh dengan jawaban nya.
"Aku nanya buat apa Marwah, bukan buat siapa." Jelas Zahra gondok.
"Iya, itu untuk gus Fansyah. Mbak kok gak ngerti-ngerti sih. " Keluh Marwah prustasi.
Zahra semakin gondok mendengar jawaban Marwah yang berputar-putar pada satu jawaban.
"Oke, buat gus Fansyah. " Akhirnya Zahra mengalah.
Sontak Marwah langsung menampilkan senyum kemenangan nya.
"Tapi kan gus Fansyah gak pernah masuk ke kelas kita, gimana bisa dia nyuruh aku buat proposal?." Tanya ku tak terima.
"Ih, mbak ini gimana sih! Kenapa gus Fansyah harus masuk ke kelas kita? " Tanya Marwah tak mengerti.
Bukan hanya Marwah, Zahra pun semakin bingung dengan arah pembicaraan mereka. Tak ada ujung-ujungnya.
"Yah, buat dia ngasih kita tugas bikin proposal lah. Masa dugem." Jawab Zahra kesal.
"Mbak, gak harus di suruh. Kan proposal itu individu dan rahasia. Aib mbak. " Jawab Marwah berbisik.
Zahra kicep, ini hanya sebuah tugas biasa. Bahkan sering ia lakukan saat di smp dulu. Apa nya yang aib?
"Aib?. Kok bisa, ini kan cuma tugas biasa, aku juga udah sering buat kok di smp dulu. "
Marwah melongo.
"Astagafirullah.. Jadi, mbak sudah sering membuat proposal?" Tanya Marwah polos.
Zahra hanya mengangguk apa adanya.
"Sejak smp? " Tanya Marwah tak percaya.
"Mbak Zahra kuat juga, yah. Marwah salut deh sama mbak."
"Lho, buat proposal apa susahnya sih. Gak butuh banyak tenaga juga. "
"Iya, itu tenaga. Tapi bagaimana dengan hati mbak?. Masa iya sih gak sakit? " Tanya Marwah terdengar ambigu.
Zahra diam, mencermati kata-kata aneh yang terlontar dari mulut polos Marwah.
"Gak sakit kok, malah biasa. " Balas Zahra tenang.
"Ya aku kan manusia, sama kayak kamu. Ya pastilah dibuat dari bahan yang sama. "
"Tapi mbak kuat banget, sudah ditolak oleh banyak ikhwan tapi mbak tetap terus berjuang. "
" Ikhwan? "
"Iya, laki-laki. "
"Kok.. bisa? "
"Ya bisalah mbak, buktinya mbak udah sering buat proposal. "
"Lha, iya. Aku emang sering buat proposal tapi apa hubungannya sama laki-laki?. Udah gitu di tolak lagi. "
"Ya ada lah, mbak. Mbak kan udah sering banget buat proposal, itu tandanya mbak sering ditolak. "
"Lha, iya. Tapi apa hubungannya Marwah. " Tanya Zahra gondok.
"Mbak buat proposal itukan untuk masa depan, mbak. Jadi jika proposal mbak sering buat berati mbak sering ditolak. " Ucap Marwah menjelaskan.
Zahra memejam kan matanya, ia mengurut pelipisnya yang tidak pusing. Oh, tidak. Tapi kepala Zahra benar-benar gondok, bukan leher lagi.
Jangan ditanya, melayani Marwah berbicara, catat berbicara. Seperti melawan seseorang untuk berkelahi. Bahkan ini lebih dari itu. Selain pikiran nya terkuras habis, ia juga harus mati-matian menahan kesal pada hatinya.
"Marwah, tolong ralat ucapan kamu mengenai saya yang terus-terusan ditolak."
"Lho, kok bisa mbak? " Tanya Marwah polos.
"Ya bisa lah Marwah, walaupun aku sering buat proposal tapi semuanya gak sampai ditolak kok. Bahkan lebih banyak diterima daripada ditolak. " Jelas Zahra.
"Asstagafirullah.. Jadi selama ini mbak Zahra udah nikah? " Teriak Marwah spontan. Bukan hanya Zahra yang melongo, akan tetapi semua rombongan nya terdiam.
Zahra tak tau harus berbicara apa, memang sedari awal percakapan mereka terdengar ambigu dan aneh. Bukan hanya aneh, akan tetapi justru tidak jelas.
"Kenapa mbak Zahra ada di sini? Suami mbak gimana? " Cerocos Marwah penasaran.
"Ah, shit!. " Umpat Zahra dengan emosi tertahan.
"Siapa bilang aku udah nikah? " Tanya Zahra tak terima.
"Itu mbak tadi yang bilang. " Jawab Marwah enteng.
Mereka berdua benar-benar menjadi tontonan gratis hari ini.
"Oh, ****! Ingin ku berkata kasar. " Maki Zahra kesal.
"Dari tadi juga kamu udah ngomong kasar, Ra. Biasakan untuk membuang kebiasaan mu." Zahra terdiam. Panggilan Dira membuat nya teringat akan sesuatu.
Tidak, bahkan lebih kepada marah. Diwajahnya tergambar jelas ada marah dan luka. Bahkan tatapannya terang terangan menjadi sendu.
"Jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu, panggil aku seperti biasa nya. " Tegur Zahra dingin.
Dira sempat terkejut, namun ia langsung bisa mengontrol dirinya bersikap seperti semula. Dira tau betul apa yang dipikirkan Zahra saat ini. Panggilan itu pernah Zahra dengar dari orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai sahabat dan keluarga.
Bahkan panggilan ini hanya Zahra berikan kepada satu orang yang ia sayangi, namun bagi Zahra orang tersebut telah melupakan panggilan itu.
"Ia lupa atau sengaja melupakan nya. Benar, 10 tahun bukanlah waktu yang sedikit. Pasti mudah baginya untuk melupakan nya. " Batin Zahra terluka.
"Maaf. " Pinta Dira memohon maaf.
Zahra hanya mengangguk seadanya.
"Jadi, apa masalah kalian? " Tanya Dira setelah menyuruh yang lain untuk meneruskan perjalanan mereka.
__ADS_1
"Zahra udah nikah, Dir. " Sahut Marwah cepat.
"Aku gak pernah nikah Marwah, masih kecil juga. " Bela Zahra tak terima.
"Tapi mbak udah sering buat proposal terus proposal nya udah ada yang nerima. " Jelas Marwah kekeh.
"Kalo proposal aku diterima emang apa masalah nya? Gak ada kan?. Lagi pula apa hubungannya proposal aku diterima dengan nikah? " Zahra kesal.
"Ad-"
"Kalian ini salah paham." Potong Dira cepat.
"Lho ko-"
"Dengerin aku dulu Marwah. " Intruksi Dira.
"Proposal yang kalian maksud ini berbeda. "
"Bagi Zahra proposal yang sering ia buat adalah proposal sekolah, bukan proposal profil. "
"Hah? " Bingung Zahra.
"Maksud Marwah yang tadi itu, dia pikir kamu buat proposal untuk mengajukan diri kepada seorang laki-laki. Yah dengan kata lain mengajak nikah. " Jelas Dira menjawab kebingungan Zahra.
"Anjir, jadi dari tadi obrolan aku dan Marwah yang muter muter gak jelas sedari tadi ini membicarakan hal ini?" Tanya Zahra polos.
Marwah dengan wajah dan ekspresi polos nya mengangguk antusias. Zahra melihatnya kesal, karena yang membuat percakapan tak bermanfaat ini adalah Marwah. Akan tetapi Marwah tidak merasa bersalah sedikit pun kepada Zahra.
"Marwah, kepolosan mu sudah melewati fase akut. Bahkan sekarang menjadi fase gondok." Putus Zahra seraya pergi berjalan meninggalkan Dira dan Marwah yang masih berusaha mencerna ucapan Zahra.
Sementara itu, Zahra sudah pergi ke arah masjid dengan misuh-misuh. Masih diselimuti kesal.
***
"Alhamdulillah.. Akhirnya semua bisa selesai dengan cepat. " Syukur Marwah.
"Hem. " Gumam Zahra lega.
"Mbak Zahra marah ya sama Marwah? " Tanya Marwah polos.
Zahra mengedikkan bahunya acuh, ia lebih memilih untuk sibuk dengan dunianya.
"Tuh kan mbak Zahra beneran marah sama Marwah. " Tuduh Marwah merasa bersalah karena menyadari sikap Zahra yang tidak biasanya.
Zahra masih tak menggubris Marwah dan tetap kukuh pada aksi ambekan nya. Ia mendiam kan Marwah cukup lama hingga beberapa saat kemudian terdengar isakan kecil dari sampingnya. Bisa ditebak, Marwah menangis. Oh, tidak. Bahkan Marwah benar-benar menangis.
"Hei, are you oke? " Tanya Zahra lembut seraya mengubah posisi duduknya menyamping, menghadap Marwah.
"Marwah takut mbak Zahra pergi ninggalin Marwah. " Jawab Marwah polos.
Zahra terhenyak, sedetik kemudian ia tersenyum lembut.
"Kenapa kamu memikirkan hal seperti itu? " Tanya Zahra masih dalam mood lembut nya.
Marwah mengusap-ngusap sisa air matanya dan beralih menatap wajah Zahra.
"Karena mbak Zahra sedang marah dan itu disebabkan oleh Marwah. " Jelas Marwah sendu.
Zahra tersenyum lembut, ia terenyuh. Baru kali ini ia merasakan perasaan sehangat ini. Ia merasa dibutuhkan. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelum nya, kecuali rasa terabaikan.
"Aku gak marah Marwah, apalagi sama kamu. Oke, aku hanya capek. Seharian kerja seperti ini itu gak biasa buat aku, makanya badan aku serasa pegal banget." Jelas Zahra menjelaskan masalah nya, yah walaupun pada awalnya niat Zahra ingin mengerjai Marwah karena rasa kesalnya yang masih belum hilang. Akan tetapi melihat kepolosan Marwah seperti ini berhasil membuat hati Zahra luluh dan ya, rencananya pun ia lupakan.
"Mbak Zahra beneran capek?" Tanya Zahra memperjelas pendengarannya.
"Hem." Respon singkat seraya memijit pelan lengannya sendiri.
"Nanti malam Marwah pijitin yah, kayaknya badan mbak belum terbiasa dengan pekerjaan seperti ini. "
Zahra mengangguk antusias mendengar tawaran Zahra, siapa yang tidak mau coba diberikan jasa pijit gratis. Apalagi saat ini badannya sangat membutuhkan hal tersebut.
"Kalian bisa bantu aku enggak?" Tanya Dira yang tiba-tiba muncul dan sudah berdiri dibelakang Zahra dan Marwah.
"Bantu apa, Dir?" Jawab Marwah.
"Tolong gantung pewangi ini dong ke semua sudut masjid, aku mau urus yang lain di atas." Jelas Dira.
Bukan nya langsung disetujui, Marwah justru membuang pandangannya kearah Zahra. Meminta persetujuan. Mengingat beberapa waktu yang lalu Zahra sempat mengeluh kan kondisi tubuh nya yang terasa pegal-pegal.
Melihat tatapan Marwah, Zahra hanya mengangguk lemah. Mau bagaimana lagi, ia tidak ingin membiarkan Marwah melakukan nya sendirian. Apalagi besarnya masjid ini tak tanggung-tanggung, sangat kewalahan jika mengurus nya sendirian.
"Yakin mbak Zahra masih kuat? " Tanya Marwah khawatir.
Zahra tersenyum tipis dan menggangguk mantap.
"Kamu kenapa, Ra?. Sakit?, Kalo sakit mendi-"
"Ini yang terakhir kalinya kamu memanggil aku seperti itu." Potong Zahra dingin.
"Lain kali kan ku pastikan bahwa aku benar-benar tak mengenal mu. " Sambung Zahra tajam.
Dira diam, ia jelas tau apa yang dimaksud Zahra. Sebuah kesalah pahaman antara orang itu dan Zahra.
"Ayo Marwah, lebih cepat lebih baik. Bukan kah waktu kita untuk beristirahat lebih banyak?" Ajak Zahra seraya mengambil alih pewangi tersebut dari tangan Dira dan berlalu meninggalkan Dira.
Dira menatap punggung Zahra yang telah menghilang dari balik pintu masjid. Ia menghela nafasnya berat.
"Kau salah, Ra. Kak Razi tidak pernah melupakan panggilan sayangnya ini kepada mu, jangan kan melupakan berpikir untuk melupakan nya pun tidak. Ia masih tetap sama, pangeran tampan mu. " Monolog Dira sendu.
Dira masih mengingatnya betapa Razi sangat menyangi Zahra, putri kecilnya. Razi bahkan tak pernah tak sehari pun menceritakan tentang Zahra kepada mereka. Bahkan 10 tahun yang lalu, tepat saat Razi hampir satu tahun menginjak kan kakinya di pondok pesantren ini. Razi pulang kerumah orang tua nya untuk mengurus beberapa dokumen penting dan juga untuk menyampaikan rasa ridunya kepada sang putri kecil. Saat sampai dirumah nya, ia begitu terkejut mendapati Zahra yang tengah menangis didalam kamar nya. Melihat itu sontak membuat Razi panik dan berjalan mendekati Zahra, ia memeluknya sayang.
Akan tetapi bukan balasan pelukan hangat seperti biasanya yang Razi terima, melainkan sebuah penolakan dan tatapan dingin. Dan sejak itulah semuanya berubah, putri kecilnya kini tak lagi seperti dulu. Ia beku.
"Cepat lah kembali, ia sangat merindukan putri kecilnya. " Mohon Dira sendu.
***
Zahra dan Marwah hampir menyelesaikan tugas mereka ,mereka berdua melakukan nya dengan cepat dan telaten-hanya menggantung pewangi Author juga bisa. Abaikan.
"Tinggal di atas mbak. " Ucap Marwah begitu menyelesaikan tugas mereka di bawah.
Zahra mengangguk paham dan langsung berjalan ke lantai dua bersama Marwah.
Namun baru beberapa kali mereka menaiki anak tangga , langkah Zahra langsung berhenti.
Dada Zahra terasa sesak, ada malu yang ia sudah tahan sejak lama bergerak menggrogoti hatinya. Jantungnya berdetak menjadi lebih cepat dan tak terkontrol. Seketika kejadian-kejadian disekolah berputar-putar dalam ingatan nya bak kaset yang menayangkan sebuah film.
Mulut Zahra bungkam, ia terkejut.
Sosok yang terus-terusan mengikuti nya hampir satu bulan ini terus terngiang di ingatan nya. Menjawab semua rasa penasaran dan kegelisahan Zahra dan terdampar pada satu kesimpulan.
"Alif? " Panggil Zahra hampir tak terdengar.
Sementara itu sosok yang dipanggil Alif pun mengalami hal yang sama, ia tak menduga jika pertemuan mereka akan terjadi secepat ini.
"Zahra? " Panggil Alif pelan seraya menuruni tangga bermaksud mendekati Zahra, sampai satu suara menghentikan langkah Alif.
"Gus Fansyah teh ngapain disini?" Tanya Marwah.
Zahra tertegun, ia tersenyum kecut.
"Jadi dia adalah Alif."
__ADS_1
BERSAMBUNG...