
Razi P. O. V
Ini sudah hampir dua minggu sejak kejadian malam itu. Malam dimana Zahra bersikap aneh dan tidur dikamar ku. Dan sejak malam itu pula aku berjanji pada diriku sendiri agar tidak terhanyut dengan sikap aneh dan manja Zahra yang selalu muncul bersamaan. Aku memilih untuk menjauhi dan menjaga jarak dengan Zahra.
Aku tidak bermaksud lain, hanya saja aku menyadari satu hal, bahwa Zahra sudah diikat oleh orang lain. Dan ikatan itu akan semakin jelas beberapa hari lagi.
Ya, kalian benar.
Satu minggu lagi, Zahra akan resmi dimiliki orang lain. Zahra akan menikah. Dan satu minggu lagi, aku akan benar-benar pergi dari kehidupan Zahra.
Bernegosiasi dengan waktu dan hati, agar mau bekerja sama melepaskan perasaan yang terhitung sudah 12 tahun ku simpan dan sembunyikan dibalik topeng figur seorang kakak baginya.
12 tahun?
Bagaimana menurut kalian?
Apakah itu adalah waktu yang cukup lama atau sebaliknya, tidak seberapa?
Aku?
Jika pertanyaan itu ditujukan kepada ku, maka jawaban nya adalah "Aku tidak tau."
Kenapa?
Karena 12 tahun yang ku lalui tidak begitu ku pikirkan. Semuanya mengalir begitu saja, karena yang aku tau, jika Zahra adalah jodoh ku maka kemana pun dan dimana pun kami berpisah pasti ujung dan akhirnya akan bersatu.
Itu pikiran sederhana ku, semuanya sudah ku serahkan kepada sang maha kuasa. Sang maha cinta. Sang maha romantis.
Lelah?
Tentu saja, itu wajar bukan.
Tidak, bukan berarti aku bosan atau sudah jenuh untuk terus mencintai dan mengharapkan nya.
Tidak seperti itu.
Hanya saja perasaan lelah akan datang menyerang ku dengan sendirinya saat aku mendapati kenyataan bahwa dia memang bukan untuk ku.
Tidak, tidak ada yang salah.
Allah?
Ini bukan salah Allah yang menciptakan cinta untuk ku, akan tetapi ini memang sepenuhnya salah ku. Salah ku yang tidak bisa mengolah rasa ini sesuai aturannya.
Zahra?
Tidak, bukan lagi. Zahra sama sekali tidak bersalah di sini. Ia adalah manusia biasa dan juga ia hanya menganggap ku sebagai seorang kakak, karena ia hanya tau itu, bukan kebenaran yang lain. Dan sudah jelas di sini memang salah ku. Salah ku yang tidak bisa mengontrol rasa ini. Membiarkan nya tumbuh dengan harapan semu. Seharusnya aku menyadari nya sedari dulu, bahwa Zahra tak akan pernah menganggap kehadiran ku lebih dari seorang kakak. Seharusnya seperti itu.
Alif?
Jangan sampai kalian berpikiran seperti itu. Ia tak bersalah, sudah ku katakan bukan jika semua ini adalah keputusan dan rencana Allah. Bukan kehendak Alif dan bukan pula kemauan Alif.
Jadi, semua ini memang kesalahan ku yang ceroboh membiarkan rasa ini tumbuh dan juga semuanya memang sudah di atur oleh Allah. Sang maha kuasa.
Apakah sakit?
Bohong bila ku katakan jika setelah semua ini aku masih baik-baik saja. Sekuat apa pun manusia itu, namun jika ia disangkut pautkan dengan urusan hati atau mempunyai masalah dengan hatinya, maka ia pasti akan lemah. Merasakan sesak yang sungguh sangat menyakitkan. Rasa sakitnya tak seperti rasa sakit jika fisik terluka. Itu jauh.
Bila fisik terluka kadang tak sampai membuat kita menetes kan air mata, terutama laki-laki yang memang mempunyai kekebalan tubuh yang cukup tinggi dibandingkan dengan perempuan. Akan tetapi jika itu hati, mau perempuan atau pun laki-laki, mau sekuat apapun, mau se'kebal apapun, sakitnya pasti berujung meneteskan air mata. Dan aku, aku melalui dan merasakan semua itu.
Sebuah perasaan sesak yang amat perih dan mengikat, kadang aku tak sadar jika air mata ku sampai menetes. Kadang aku tak sadar jika hanya karena urusan hati aku bisa jatuh selemah ini, menangis meraung-raung meratapi takdir hidup persis 14 tahun yang lalu. Ketika satu-satunya tumpuan ku hidup dipanggil pulang oleh sang maha kuasa.
Rasa sakitnya persis seperti itu. Bahkan mungkin lebih sakit karena aku harus rela melihat dan mendengar kisah hidup Zahra bersama orang lain selama sisa hidup ku.
Tapi itu bukan masalah, asalkan ia bahagia dengan pilihan nya. Itu tidak masalah asalkan ia tidak menyesal dengan pilihan nya. Dan sekali lagi itu bukanlah masalah selama ia bisa tersenyum dan tetap menjadi Zahra kecil ku yang ceria dan manja. Itu tidak masalah.
Aku mengusap air mata yang sempat menetes dari mata ku. Kemudian aku beranjak dari duduk ku dan berjalan ke arah balkon kamar ku. Memandang ke bawah dan menemukan Zahra yang sedang tertawa lepas bersama sahabat-sahabat anehnya.
Bahagia rasanya melihat Zahra seperti ini, dan setidaknya ini lah yang terbaik untuk ku.
Tiba-tiba pundak kanan ku di tepuk seseorang, membuat aktivitas ku langsung terhenti. Aku memutuskan berbalik dan mendapati Abi yang sedang tersenyum hangat kepada ku. Aku menghela nafas lega dan memberikan senyuman terbaik yang pernah ku miliki, untuknya.
"Razi. " Panggilnya berwibawa. Ia memberikan gestur agar aku mengikuti langkahnya dan berakhir duduk dipinggir ranjang ku.
Aku mengikutinya dan ikut duduk ditepi ranjang ku.
"Pernikahan Zahra tinggal menghitung hari lagi." Suara Abi memulai obrolan. Aku diam dan menunggu kelanjutan dari ucapan Abi.
"Dan tinggal menghitung hari pula kamu akan pergi, nak. " Sambung Abi.
"Apakah kau tak ingin membicarakan mengenai keberangkatan mu kepada Zahra?, Abi rasa Zahra berhak tau semua ini. "
Aku menganggukkan kepala ku tanda mengerti dan paham akan maksud dari pembicaraan Abi.
"Zahra memang berhak tau, Abi. Tapi tidak sekarang, belum waktunya. " Jawab ku setenang mungkin.
"Seperti yang kalian keluhkan beberapa hari ini, Zahra terus saja bertanya dan bersikap manja mengenai diri ku. Aku takut jika ku beritahu sekarang Zahra tak mau menerima keputusan ku. Aku tak ingin membuat nya kehilangan sosok seorang kakak yang sudah 10 tahun lebih ia rindukan. Aku tak mau, Abi. " Jawab ku jujur.
Ku lihat Abi terdiam, namun tak lama kemudian ia kembali bersuara.
"Jika kau berpikir seperti itu, lalu apa bedanya sekarang dengan hari itu? Bukankah memberitahu nya di saat terakhir jauh lebih sakit dibanding kan memberitahu nya sekarang?" Tanya Abi terdengar serius.
"Jangan sakiti hati putri ku, nak. Cukup kemarin ia terluka, tapi untuk saat ini dan seterusnya, jangan. Jangan buat putri ku menangis lagi Razi. " Sambung Abi sarat akan kekhawatiran.
Benar, ia adalah seorang Ayah.
Pelindung untuk keluarganya, terutama putrinya. Aku paham kemana arah pembicaraan Abi. Sebagai seorang Ayah, ia pasti takut jika suatu hal sampai melukai putrinya. Ia pasti akan sangat kecewa pada dirinya sendiri jika ada hal yang menyakiti putrinya.
Sebelum menjawabnya, aku menghela nafas dan berusaha menetralkan detak jantung dan rasa gugup.
"Abi, jauh dari lubuk hati ku yang paling dalam, aku tak ingin menyakiti nya. Seperti yang Abi tau, rasa itu masih sama. Dan semakin kuat dalam diri ku. Ia tetap yang pertama dan akan selalu begitu. " Jawab ku mantap.
"Akan tetapi Zahra hanya menganggap ku sebagai sebatas seorang kakak, tidak lebih. Jika pun aku memberitahu kepergian ku sekarang, aku takut jika raut wajah sedih dan tangisan nya membuat ku lemah akan keputusan ku. Dan jika pun ku beritahu sekarang dan memilih tetap pergi, aku takut ia menutup diri lagi dan tak mempunyai sandaran. Akan tetapi jika itu esok, setelah semua rencana berjalan lancar, maka seberapa pun sedihnya, ja akan tetap tersenyum sebagai seorang Zahra karena pada saat ia sudah punya sandaran. Ia punya Alif, Abi. Abi tak perlu khawatir. " Jelas ku.
Abi terdiam, mungkin masih merenungi atau memikirkan penjelasan ku. Ku lihat jelas ekspresi wajah nya yang menampilkan ekspresi kebingungan.
Apa yang dibingungkan Abi?
Apa yang membuat Abi jadi bingung seperti ini?
"Zahra.." Suara Abi seraya menatap ku.
"Abi yakin mempunyai perasaan yang lebih kepada mu, nak. Ia menganggap mu lebih dari seorang kakak. " Sambung Abi berhasil membuat ku terdiam.
Ternyata ini yang membuat Abi seperti ini.
Jujur aku tak tau harus berkata apa. Aku ingin bahagia, tapi ini menyakiti ku. Ucapan singkat Zahra saat menerima lamaran Alif telah memperjelas semuanya. Memperjelas bahwa apa yang dikatakan Abi dan Dira tidaklah benar. Apa yang mereka simpulkan adalah sebuah kekeliruan. Itu tidak benar dan itu membuat ku harus sadar akan posisi ku saat ini. Ya, aku bukanlah siapa-siapa.
"Abi salah, Zahra bukanlah orang yang seperti itu. Ia tak mungkin berpikir sampai sejauh itu, karena yang ia tau aku adalah seorang kakak baginya. " Elak ku pahit. Ini sakit, sejujurnya.
Ah, aku tau kenapa Abi mempertahankan argumennya kepada ku. Aku tau jika ia takut jika Zahra tak bahagia bersama Alif. Ia ragu, mungkin.
"Alif orang yang baik, abi. Abi sangat mengenalnya bukan?, ia pria yang bertanggung jawab. " Suara ku menebak keraguan Abi.
Abi mengangguk samar.
"Abi tau, nak. Akan tetapi rasanya abi lebih tenang jika Zahra hidup bersama mu, nak. Abi lebih percaya jika Zahra akan selalu baik-baik saja jika berada di samping mu. " Sanggah Abi.
Lagi-lagi aku tersenyum getir mendengar betapa abi sangat mempercayai dan mengharapkan ku. Akan tetapi itu semua hanya sekedar harapan karena Allah sudah punya jalan tersendiri untuk ku dan untuk Zahra. Kami tak bisa berjalan dijalan yang sama.
"Abi hanya sudah terbiasa bersama Razi, sehingga abi tak pernah memikirkan yang lain. Akan tetapi percayalah abi, siapapun yang bersama Zahra adalah orang yang Allah pilihkan untuk nya. Yang terbaik." Suara ku tulus.
Abi terdiam mungkin masih dilanda keraguan.
Abi hanya terlalu takut melepas Zahra kepada yang lain. Ia masih ragu. Aku tak bisa menyalahkan abi karena ia adalah seorang ayah. Tentu itu sangat mengganggu pikiran nya.
"Abi telah gagal Razi, Papah mu pernah berpesan kepada Abi agar menikahkan mu dengan salah satu putri Abi. Dan kau memilih Zahra saat itu." Suara abi terdengar kecewa.
Aku menggeleng tak terima, tidak itu bukan kesalahan abi. Ini memang sudah jalan ku dan tak ada yang salah di sini. Abi keliru.
"Abi, sudah berapa kali Razi katakan jika ini bukan salah siapa-siapa. Bukankah Razi sendiri yang memilih Zahra untuk di cintai?, dan ini sudah memang rencana Allah bukan kemauan siapapun. " Sanggah ku menolak pemikiran abi.
Abi menghela nafasnya berat.
"Lalu bagaimana dengan janji abi kepada kedua orang tua mu, nak?. Pasti mereka kecewa dengan semua ini. "
"Kenapa abi berkata seperti itu?, itu tidak mungkin karena dengan merasakan ujian ini aku bisa belajar menjadi seseorang yang kuat dan sabar. Kedua orang tua Razi pasti bahagia karena melihat Razi bisa melewati semua ini. Razi yakin mereka pasti bangga. "
Aku tersenyum membayangkan jika papah dan mama di atas sana tersenyum bahagia melihat ku bisa melewati semua ini. Menjadi seseorang yang kuat seperti pesan Papah beberapa hari sebelum ia dipanggil pulang oleh Allah.
"Percayalah, Abi. Mereka pasti bangga melihat ku seperti ini."
"Bagaimana.. " Suara abi bimbang.
Aku diam menunggu kelanjutan dari ucapan abi.
"Bagaimana jika kau menikah dengan Annisa?"
Aku terkejut. Tentu saja karena aku tak pernah berpikir sampai sejauh itu. Menikahi Annisa adalah pikiran yang tak pernah terlintas dalam benak ku.
"Annisa adalah adik ku. Aku tak pernah berpikir sejauh itu tentang Annisa karena ia sudah ku anggap sebagai adik bagi ku." Tolak ku jujur.
Abi terdiam dan aku pun sama. Aku tau apa yang dipikirkan abi saat mengatakan itu. Ia tak ingin membuat ku kecewa. Ia tak ingin mengingkari janjinya terhadap papah dan mama ku. Ia ingin aku mendapatkan apa yang ia janjikan. Aku mengerti.
"Kita bicarakan masalah ini nanti malam dan juga abi mohon nak, jangan jauhi Zahra untuk beberapa hari ini. Ia terlihat sangat tidak bersemangat dan selalu menanyakan keberadaan mu. Abi mohon sebelum kamu benar-benar pergi." Suara abi seraya berjalan kearah pintu keluar.
Aku hanya mengangguk ragu. Tak yakin rasanya menatap wajah Zahra untuk saat-saat ini. Jika bisa aku ingin menghilang dari kehidupan Zahra. Kehadiran ku cukup membuat semua orang dirumah ini kesusahan menghadapi sikap manja Zahra.
***
Zahra P. O. V
"Zahra, jika kau ingin berniat memotong tangan mu di sini silahkan, aku tak akan melarang mu. Akan tetapi untuk saat ini acara galau menggalau, melamun mu atau semacam nya ditunda dulu setelah kamu selesai memasak. " Sindir Fia kepada ku. Ia tak melirik ku sama sekali. Sibuk dengan acara masaknya.
Aku mendengus tak suka dan mempercepat acara memotong ku secara asal-asalan. Mood ku benar-benar sedang tidak baik-baik minggu ini. Sangat menjengkelkan.
Hari-hari ku harus dilalui dengan acara memasak, belajar rapi-rapi dan membersihkan sesuatu. Begitu saja setiap hari hingga saat ini. Aku tak boleh beraktifitas diluar rumah, jangan kan beraktifitas diluar rumah keluar saja tidak diperbolehkan. Padahal aku keluar bukan untuk bermain, akan tetapi hanya sekedar membeli keperluan rumah atau snack di super market depan rumah tak diizinkan.
Dan lagi setiap hari aku harus mendengar kan semua macam nasihat, saran, petuah dan omelan yang terkadang berakhir membuat ku jengkel.
"Eh, Ra, kok gue gak pernah liat kak Razi sih?. Kakak lo mana?" Tanya An membuat kejengkelan ku bertambah gondok.
Jangan kan kamu, An. Aku aja yang sebagai adiknya, keluarga nya dan satu rumah dengannya tak pernah melihat batang hidungnya beberapa hari ini.
Entah apa yang dia lakukan dan kemana ia pergi aku tak tau. Akan tetapi yang pasti, setiap aku mempertanyakan keberadaannya mereka selalu menjawab bahwa dia sedang sibuk.
Sibuk apa?
Sibuk kenapa?
Urusan pekerjaan.
Urusan kantor.
Urusan pondok pesantren.
Dan selalu berakhir dengan jawaban yang itu itu saja. Apakah urusan pekerjaan sangatlah penting sehingga membuat ia jarang dirumah dan selalu terlihat menghilang?
Ketika malam, ia pulang larut. Aku tak bisa berbicara ataupun sekedar bertanya tentang rutinitas kegiatan nya. Bahkan saat pagi pun ia sudah tak ada saat aku bangun tidur, hell ini seakan-akan dia sedang menghindari ku.
Tapi apa benar?
"Iya, Ra. Gue gak pernah liat kakak lo deh dari kemarin. " Suara Dewi membuyarkan lamunan ku.
Aku mengangkat bahu acuh.
"Gue gak tau. " Jawab ku jujur.
Mereka berdua mengernyit bingung.
"Kok lo gak tau sih, kan lo adeknya, satu atap lagi ama dia." Heran Latifa ikutan kepo dan bergabung dengan kami.
"Gue emang adeknya tapi bukan berarti gue harus tau apapun tentang dia. Dan lagi dia punya kehidupan dan privasi sendiri. " Jawab ku jengkel.
Apa ku bilang, mereka pasti heran mendengar ketidaktahuanku terhadap keberadaan Razi. Aku kan adiknya satu atap lagi.
"Kok lo jadi bijak gini sih, lo sakit? " Kok kesel yah? Punya teman kok gini amat perasaan. Ngomong ini salah, ngomong itu salah. Merasa dinistain sama ini curut.
__ADS_1
"Serah deh lo pada ngomong apa, gue gak perduli. Bodo amatlah. " Putus ku lelah.
Mereka cekikan gak jelas. Tuhkan apa aku bilang, emang gak ada yang beres sama otak-otak mereka. Ampun dah.
"Gue tau! " Tawa mereka semua berhenti, tiba-tiba si Fia ikutan gabung dengan kami. Mungkin acara masak nya udah kelar makanya dia ikutan nibrung.
"Kak Razi mungkin sedang pdkt dengan calon kakak ipar Zahra. "
Deg
Kok sakit yah?. Dada aku kok tiba-tiba kerasa sesak denger omongan Fia. Apa aku cemburu?
Tapi apa iya?
Bukankah kak Razi adalah kakak ku?
Tapi kenapa rasanya aneh?. Kenapa aku merasa bahwa kak Razi adalah seseorang yang lebih untuk ku. Kenapa aku merasa aku benci ketika mengetahui bahwa kak Razi sedang dekat dengan wanita lain.
Ini bukan yang pertama kalinya, saat di pondok pesantren juga. Ketika aku mendengar pembicaraan Nabila mengenai kak Razi. Aku juga saat itu merasakan sesak yang amat sakit.
Aku tak rela tapi bukankah ini salah?
Aku tak pernah merasakan perasaan ini jika itu Alif. Aku tak pernah seperduli ini tentang hati jika itu selain kak Razi.
Apakah ini wajar?
Aku menyimpan rasa kepada kakak ku sendiri. Tapi bukankah perasaan ini sudah ada sejak aku kecil?, sejak aku selalu bermimpi dan membayangkan suatu hari nanti aku akan menikah dengan kak Razi. Aku..mencintai kak Razi?
"Pdkt, pendekatan maksud lo?" Suara Dewi terdengar tak sabaran. Aku tersadar dari lamunan ku, ah hari ini benar-benar menguras emosi ku.
"Iyalah, ****. Lo kira apaan?" Jawab Fia dengan wajah jengkelnya.
Aku diam dan memilih mendengar obrolan rempong mereka.
"Lha, lo tau dari mana Fi kalo kak Razi lagi pdkt sama calon kakak iparnya, Zahra?" Tuntut Latifa tak percaya.
Fia memutar bola matanya malas, dia terlihat sangat lucu jika seperti ini.
"Ih, lo pada kenapa pada jadi polos dadakan begini?, heran gue. Ini yah gue jelasin, kenapa kak Razi nyari kakak ipar buat Zahra soalnya kan Zahra bentar lagi mau nikah, jadi sebagai seorang kakak dia gak mau kalah sama adiknya. Paham kan lo pada?"
Mereka mengangguk sok paham.
Aku?
Aku masih sibuk dengan pikiran-pikiran gila ku tentang kak Razi. Bagaimana bisa aku bertindak seperti ini, mencintai kakak ku sendiri? Ini sangat menyakitkan.
Aku mencintai kak Razi.
Lalu apa yang harus aku lakukan dengan perasaan ini? Apakah aku harus mengungkapkan nya kepada kak Razi?. Setelah aku ungkapkan akankah kak Razi merasa jijik dan membenci ku?
Akankah ia akan menjauhi ku?
Tidak! Aku tidak akan sanggup. Tidak bertemu dengan nya satu minggu saja membuatku sangat kacau seperti ini. Aku tak akan sanggup.
"Lalu.. " Suara ku ragu-ragu.
Semua terdiam, mereka memandang ku penasaran.
"Siapa yang kak Razi dekati saat ini, gadis yang beruntung itu siapa? " Tanya ku takut-takut.
"Nabila. " Jawab Fia terdengar yakin.
"Kemungkinan besar dia adalah Nabila. "
Tik
"Zahra, lo kenapa nangis?" Kaget Dewi.
"Hah? " Suara ku shock.
Tidak, ini tak boleh terjadi.
Aku tak rela.
"Lo nangis, Ra. Kenapa? " Tanya Fia lembut.
Ku usap wajah ku dengan terburu-buru dan benar, aku menangis. Aku menangisi jalan kehidupan ku yang tak biasa. Mencintai kakak ku sendiri dan berakhir harus merelakan nya bersama yang lain, aku tidak bisa.
Aku tidak rela.
Aku tidak akan sanggup.
"Iya, Ra, lo kenapa?. Lo sedih karena kak Razi nikahnya sama Nabila? Jangan kan lo, Ra, kita semua juga sedih ngeliat kak Razi nikahnya sama Nabila besok. Cewek kasar dan gak tau malu itu gak cocok dapetin kak Razi. Kak Razi lebih cocok sama lo, Ra." Suara An.
"Hah, sama gue? " Kaget ku.
"Sama lo?,ya enggak lah, masa lo mau nikah sama kakak lo sendiri kan gak lucu, Ra. "
Nusuk banget omongan ini anak. Kalo ngomong emang suka bener, aku aja juga mikirnya gitu. Gak lucu kalo aku nikah sama kakak aku sendiri , tapi bagaimana dengan perasaan ku?
"Asstagafirullah..kalian kenapa pada ngerumpi gini?. Bukannya bantuin kakak beres-beres dapur eh malah pada asyik gibahin orang. " Tuhkan, jiwa emak-emak kak Annisa keluar ngerecokin acara rumpi dadakan kami.
Kita semua langsung bubar gak mau denger jiwa emak-emak kak Annisa yang keluar tambah akut lagi.
Mereka semua langsung bantuin kak Annisa mindahin semua masakan ke atas meja makan, sementara aku lebih memilih keluar dari dapur. Mau menenangkan hati.
"Zahra. " Baru aja beberapa langkah kaki ku keluar dari dapur udah dicegat aja sama kak Annisa.
"Iya, kak. " Suara ku lesu.
"Tolong panggilkan Abi dan Umi agar bergabung bersama kita dimeja makan. " Pintanya.
Aku mengangguk mengerti dan langsung berjalan ke arah ruang keluarga. Biasanya dijam seperti ini Abi dan Umi menghabiskan waktu mereka bersama diruang keluarga. Berbincang masalah keluarga ataupun bisnis mereka pasti berada diruang keluarga.
"Abi, Um-" Aku terkejut.
"Zahra? " Kaget mereka semua. Iya, di sana bukan hanya ada abi dan umi, akan tetapi ada kak Razi juga yang terlihat sangat shock melihat kehadiran ku.
"Dek, sejak kapan kamu ada di situ?" Tanya nya panik. Mereka seakan-akan menyembunyikan sesuatu dari ku. Itu terlihat jelas dari ekspresi wajah mereka yang ketakutan.
"Baru saja. " Jawab ku seadanya.
Aku menatap kak Razi yang juga sedang menatap ku, aku merindukan nya. Jika bisa saat ini aku ingin berlari dan memeluk nya.
Aku sedikit kecewa.
"Kenapa, sayang? " Ulang Umi bertanya kepada ku. Umi mengelus kepala ku lembut.
"Waktunya makan siang. " Jawab ku.
"Dan kalian harus segera ke meja makan sebelum makanannya dingin." Sambung ku.
Umi tersenyum hangat dan mengangguk mengiyakan ucapan ku.
"Ayo, bi. " Ajak umi seraya menuntun abi keluar dari ruang tamu.
Kak Razi berjalan mengikuti abi dan umi, namun sebelum ia melewati ku, ku tahan lengan kirinya agar berhenti.
Ku rasakan jika tubuh kak Razi menegang, entah karena apa aku tidak tau. Akan tetapi yang pasti saat ini aku ingin meluruskan semuanya.
"Kak, kita perlu bicara. " Suara ku menuntut.
Kak Razi terlihat gelisah, ada yang disembunyikan.
"Tentu, tapi tidak sekarang. Kakak laper, mau makan. " Jawabnya lembut.
Aku mengangguk mengerti dan melepaskan lengannya. Aku sedang berpikir jika saat ini kak Razi tidak berniat menjauhi ku.
"Kita akan bicara setelah semua urusan kakak beres hari ini, ok?" Tanya nya terdengar seperti biasa.
Aku mengangguk lemah.
"Kapan?" Tuntut ku.
Aku ingin meminta penjelasan untuk semua yang Fia katakan. Tentang wanita yang ia pilih untuk dinikahi.
"Setelah urusan kakak selesai. " Jawabnya. Aku menggigit bibir gelisah, tak puas dengan jawaban nya yang sangat menggantung.
"Kapan? " Ulang ku.
"Zahra kakak serius jika kakak akan membicarakan semuanya, tapi tidak sekarang, kakak harus menyelesaikan urusan kakak terlebih dahulu. " Suaranya terdengar frustasi. Bahkan saat berbicara pun ia enggan menatap mata ku. Jangan kan menatap ku, untuk sekedar melihat wajah ku saja ia tak mau.
"Aku tau, tapi kapan?. Ingat, kakak pernah mengingkari janji kakak beberapa minggu yang lalu? " Ucapku terluka.
Ya, aku masih mengingat nya. Malam dimana aku menerima lamaran Alif, lamaran yang aku terima tanpa memikirkan nya dengan matang-matang. Malam itu yang aku tau aku harus segera menyelesaikan semua prosesi acara dan berbicara dengan kak Razi. Ya, itu lah alasan kenapa aku bertindak ceroboh dengan menerima lamaran itu.
Aku sakit.
"Kakak minta maaf untuk hari itu. " Suara nya lirih, ku lihat tatapan matanya yang meredup. Sendu.
"Kita akan bicara malam ini, kakak akan menemui mu jika kamu masih bangun. " Putusnya.
"Ayo, kita ke meja makan. Semua orang pasti sudah menunggu kita. " Ajak kak Razi seraya berjalan mendahului ku.
Aku menatap punggung tegap kak Razi yang terlihat sangat teduh.
"Aku tau kau sedang mencoba menjauhiku. "
***
Razi P. O. V
Aku menatap semua dokumen-dokumen kepindahan ku dari Indonesia ke Mesir. Aku tidak sedang mengurusi kepindahan kewarganegaraan ku akan tetapi ini hanya dokumen ijin tinggal ku di Mesir selama kurang lebih 3 tahun untuk menyelesaikan kuliah ku di sana.
Semua dokumen telah lengkap dan beberapa koper yang sudah diisi rapi dengan pakaian dan barang-barang pribadi ku pun telah siap.
Aku tersenyum puas dan bernafas lega, betapa hari ini begitu sangat melelahkan. Menguras pikiran dan emosi secara bersamaan.
Ku lirik jam tangan yang sudah melekat dengan manis di pergelangan tangan kiri ku. Sudah menunjukkan pukul 11.18 malam. Zahra pasti sudah tidur saat ini.
Ya, seperti yang kalian tau bahwa aku berjanji akan menemui nya setelah semua urusan ku beres. Akan tetapi melihat jam yang sudah menunjukkan waktu tengah malam, aku urungkan niat ku untuk menemuinya.
Aku melirik sekali lagi semua dokumen kepindahan ku yang berserakan diatas ranjang sebelum menutup pintu kamar ku.
Seperti rencana ku dengan Umi dan Abi bahwa kami akan menyelesaikan pembicaraan kami yang sempat tertunda karena kehadiran Zahra yang tiba-tiba siang tadi.
"Assalamualaikum.. " Salam ku kepada Umi dan Abi diruang tamu.
"Waalaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh.. " Jawab mereka.
"Bagaimana Razi, apakah Zahra sudah tertidur?" Suara Umi bertanya lembut.
Aku mengangguk mengiyakan, seperti yang ku lihat tadi bahwa tak ada tanda;tanda Zahra masih bangun.
"Razi yakin jika Zahra sudah tertidur." Suara ku tenang.
Umi mengangguk mengerti.
"Razi, apakah semua urusan kepindahan mu sudah kau selesaikan? " Tanya abi to the point.
"Sudah abi, baru saja Razi selesaikan." Jawab ku jujur.
"Bagaimana dengan tempat tinggal mu? "
"Alhamdulillah..tempat tinggal Razi juga sudah Razi dapatkan. Sangat dekat dengan kampus Razi, bahkan apartemen yang akan Razi tempati mempunyai fasilitas yang lengkap. " Jawab ku.
"Alhamdulillah.." Syukur Umi.
Kami semua terdiam.
"Sifat dan sikap papah mu menurun dengan baik kepada mu." Suara abi memulai percakapan.
"Benar, papah mu dulu sama seperti mu. Jika sudah memutuskan sesuatu maka akan sangat teguh mempertahankan keputusan nya. Dia sangat keras kepala. " Sambung umi terkekeh mengenang masa lalu.
Aku tersenyum simpul, ini bukan pertama kalinya mereka menceritakan ku tentang kedua orangtua ku.
"Tapi.. " Suara abi menggantung.
"Apakah keputusan mu ini tak akan kau sesali suatu hari nanti?" Raut abi khawatir.
__ADS_1
Aku menggeleng yakin.
"In shaa Allah tidak akan, abi. " Jawab ku yakin.
"Abi harap. "
"Kau tau?, dulu saat kedua orang tua mu masih hidup, kami pernah mengikat sebuah janji. Bahwa kau akan kami nikahkan dengan salah satu putri Abi dan Umi. Dan lucunya ternyata janji terus saja diungkit oleh mereka hingga hari itu tiba. Mereka benar-benar meminta umi dan abi untuk menjaga serta membesarkan mu. Kami tak menolak bahkan saat detik-detik itupun kami tetap menjalankan janji kami untuk menjodohkan mu bersama salah satu putri kami. Dan seperti yang terjadi saat ini, kau memilih Zahra untuk itu." Ucap Umi mengakhiri cerita nya.
"Razi, maafkan kami yang tidak bisa menjaga Zahra untuk mu, nak. Maafkan kami. " Sesal Abi.
Aku tersenyum simpul, tidak. Sudah ku katakan tidak ada yang salah bukan di sini.
"Abi, tak ada yang perlu dimaafkan. Kalian sudah sangat menjaga nya seperti ini saja membuat ku sangat bahagia. Dan juga Abi, sudah kita bicarakan bukan jika Zahra juga butuh kebahagiaan atas dirinya sendiri. Ia memilih seseorang yang memang mampu masuk kedalam hatinya. Tentunya itu semua adalah rencana Allah, jadi tak ada yang salah dan kalian tak perlu khawatir tentang hal apapun."
"Nikahilah Annisa, nak. " Pinta umi dengan tatapan hangat dan tulusnya.
"Maka dengan begitu kami bisa menepati janji kami terhadap kedua orang tua mu. "
Aku menggeleng tegas.
"Annisa sudah ku anggap sebagai adikku sendiri dan aku tak akan gila ingin menikahi adikku sendiri. Dan juga kalian tak perlu seperti ini mengenai janji kalian terhadap kedua orang tua ku. Kalian sudah menepati janji itu dengan baik, aku berdiri di sini dengan keadaan yang baik-baik saja sudah membuat orang tuaku bangga. Jadi jangan pikirkan yang lain. "
Menghela nafas, "Ini yang membuat kami ragu melepaskan kepergian mu, nak. Kami sudah menganggap mu seperti anak kandung kami sendiri. " Jujur umi seraya membawa ku kedalam pelukannya. Pelukan yang hangat dan tak jauh berbeda dengan pelukan mama. Tidak, mereka adalah orang yang sama. Orang tua ku. Yang membesarkan dan menyayangi ku sepenuh hati. Dua malaikat terbaik yang pernah ada di dunia ini. Dan aku bersyukur bisa berada di samping mereka walaupun diriku bukanlah anak kandung mereka, tapi percayalah mereka bersikap selayaknya orang tua bagiku. Dan aku bahagia akan itu. Entah kapan Allah akan berikan ku kesempatan untuk membalas kebaikan mereka. Semoga saja waktu ku sampai dihari itu.
"Sejujurnya Razi pun demikian, Umi. Ini berat karena bagi Razi kalian adalah orang tua Razi. Akan tetapi untuk sebuah ilmu itu harus dikorbankan, tidak apa-apa bukan abi? "
Abi tersenyum hangat. Dan mengangguk pelan menyetujui ucapan ku.
"Tentu, anakku. " Suaranya.
Aku tersenyum simpul betapa bahagia nya diri ini berada di samping mereka.
Mah, pah, terima kasih karena telah mempercayai ku ditangan mereka. Terima kasih karena telah memiliki orang hebat seperti mereka menjadi sahabat kalian, Razi yakin Allah ridho akan persahabatan kalian.
***
Zahra P. O. V
beberapa menit setelah Razi keluar dari kamarnya dan menemui Abi dan Umi diruang keluarga.
Ini sudah menunjukan pukul 11 malam, tapi tanda-tanda kedatangan kak Razi belum juga terlihat. Ingat bukan bahwa tadi siang ia pernah berjanji akan menemui ku?, ku harap kalian ingat.
Dan untuk saat ini aku benar-benar takut jika kak Razi mengingkari janjinya lagi. Walaupun ini adalah hal sepele bagi kalian tapi jangan lupa bahwa aku mempunyai perasaan yang lebih terhadap kak Razi. Jadi wajar saja aku akan menganggap ini adalah hal yang melukai ku.
Aku melirik jam sekali lagi dan memutuskan untuk keluar menemui kak Razi.
Entah urusan apa yang sedang ia kerjakan sehingga menyita banyak waktu seperti ini. Jika aku adalah istrinya sudah ku pastikan ia tak akan pernah bisa menyentuh seluruh dokumen-dokumen kantor yang sialnya adalah masalah terbesar bagiku.
Sebagian lampu dirumah ini sudah dimatikan. Seperti nya yang lain sedang beristirahat. Apakah kak Razi juga sedang beristirahat melihat keadaan rumah yang sangat sunyi seperti ini.
Aku melangkahkan kaki ku ke arah kamar kak Razi, setelah sampai ku coba ketuk pintunya pelan. Takut jika ia terganggu.
Tok.. Tok.. Tok..
"Kak? " Panggil ku.
"Kak Razi? " Panggil ku lagi namun masih tak ada sahutan dari dalam.
Ku tempel kan telinga ku disisi pintu namun tetap tak ada suara apapun didalam. Karena penasaran ku beranikan diriku untuk membuka pintu kamar kak Razi.
Cklek
Tidak dikunci.
Ku buka pelan-pelan dan masuk secara perlahan. Kosong.
Tak ada siapa pun didalam kamar ini. Aku berjalan kearah dapur untuk mengecek kak Razi namun nihil, juga kosong.
Ku edarkan pandangan ku ke semua penjuru kamarnya. Sangat rapi untuk ukuran anak laki-laki.
"Koper? " Heran ku ketika pandangan ku tertuju pada dua koper yang berdiri kokoh disisi lemari.
"Kenapa? " Bingung ku seraya memeriksa segel koper yang terlihat masih baru, bahkan wangi tokonya saja masih.
"Gembok? " Heran ku kian bertambah saat melihat kedua koper sudah ditutup dan digembok dengan rapi.
Karena penasaran aku langsung membuka semua lemari dan mendapati tempat itu telah kosong.
"Kak Razi mau pergi kemana?" Takut ku. Aku sangat terkejut dengan semua ini hingga pandangan ku pun jatuh pada beberapa dokumen yang berserakan di atas kasur.
"Paspor? " Aku tak percaya melihat semua ini.
Di sini ada paspor, kartu izin tinggal dan dokumen surat kepindahan dari Indonesia ke Mesir.
Apa ini?
Apa ini yang selama ini ia sebut dengan kesibukan, selalu menghilang setiap hari hanya untuk mengurusi ini.
Aku tak percaya!
Apa kak Razi berniat untuk pergi ke Mesir?
Kapan?
Dan kenapa?
Kenapa ia tak pernah membicarakan mengenai hal ini kepada ku?. Kenapa ia tak pernah memberitahu ku semua ini?
Apa dia berniat menjauhiku?
Tapi untuk apa?
Hiks..
Aku ingin menyangkal bahwa ini nyata akan tetapi jelas-jelas aku berada ditempat ini. Dengan sejumlah dokumen yang beratas namakan Muhammad Affianka Razi.
Ini nyata.
Hiks.. Bahkan semuanya sudah ia siapkan dengan apiknya tanpa sepengetahuan ku. Apa ini adil?
Tidak.
Tentu saja ini tidak adil.
Aku butuh penjelasan, aku butuh penjelasan untuk semua ini.
Ku langkahkan kaki ku ke arah luar dan turun melewati tangga dengan tergesa-gesa. Hampir saja aku jatuh terpeleset karena kecerobohan ku.
Aku membawa langkah terburu-buru ku ke dapur, namun tak ada siapa pun. Ke ruang tamu, tak ada siapa pun hingga ku dengar sayup-sayup pembicaraan seseorang dari arah ruang keluarga.
"Razi, maafkan kami yang tidak bisa menjaga Zahra untuk mu, nak. Maafkan kami. " Itu suara Abi.
Kenapa abi meminta maaf kepada kak Razi?. Lalu, kenapa mereka harus membawa nama ku dalam hal ini?
Ada apa ini?
"Abi, tak ada yang perlu dimaafkan. Kalian sudah sangat menjaga nya seperti ini saja membuat ku sangat bahagia. Dan juga Abi, sudah kita bicarakan bukan jika Zahra juga butuh kebahagiaan atas dirinya sendiri. Ia memilih seseorang yang memang mampu masuk kedalam hatinya. Tentunya itu semua adalah rencana Allah, jadi tak ada yang salah dan kalian tak perlu khawatir tentang hal apapun."
Itu suara kak Razi, suara yang tegas namun sarat akan kelembutan. Pilihan ku?
Apakah yang kak Razi maksud adalah Alif?. Ada apa dengan pilihan ku?
Kak Razi berpikir aku bahagia? Tidak!
Kau salah kak, aku sama sekali tidak bahagia. Aku tidak bahagia, aku hanya bahagia jika berada di sisi mu.
"Nikahilah Annisa, nak. " Pinta umi.
Menikahi kak Annisa?
Apa ini?
kenapa umi bisa mengatakan permintaan yang sangat aneh? Bukankah kak Razi adalah kakak kami, lalu kenapa umi bisa dengan mudahnya meminta kak Razi menikahi Annisa yang jelas-jelas adalah adiknya.
"Maka dengan begitu kami bisa menepati janji kami terhadap kedua orang tua mu. "
Kedua orang tua kak Razi?. Apakah maksud umi jika kak Razi bukanlah kakak kandung kami?. Jadi kami tidak sedarah?
Kami... Bukanlah saudara?
"Annisa sudah ku anggap sebagai adikku sendiri dan aku tak akan gila ingin menikahi adikku sendiri. Dan juga kalian tak perlu seperti ini mengenai janji kalian terhadap kedua orang tua ku. Kalian sudah menepati janji itu dengan baik, aku berdiri di sini dengan keadaan yang baik baik saja sudah membuat orang tuaku bangga. Jadi jangan pikirkan yang lain. "
"Jadi, benar? Jadi dia bukanlah kakak kandung ku.. Hiks.. " Ku bungkam mulutku dengan kedua tangan ku agar suara tangis ku tidak didengar oleh mereka.
"Ini yang membuat kami ragu melepaskan kepergian mu, nak. Kami sudah menganggap mu seperti anak kandung kami sendiri. "
Ini gila!
Mengapa aku merasa jika ini adalah sebuah permainan?
Aku memendam rasa kepada orang yang ku kira adalah kakak kandung ku, dan bodohnya lagi aku menjadi satu-satunya orang yang terlihat bodoh dengan perasaan yang ku pendam ini.
Mereka menyembunyikan sebuah fakta bahwa kak Razi bukanlah kakak kandung ku dengan kejamnya.
Aku tak habis pikir kenapa mereka melakukan ini semua akan tetapi mengapa diriku yang menjadi alasan umi dan abi meminta maaf kepada kak Razi?
Menjaga ku?
Apa maksud mereka bahwa kak Razi memendam perasaan yang sama dengan diriku?
Benarkah?
Jadi ia bersikap seperti ini kepada ku selama ini adalah untuk menghindari ku, menjauhi ku dengan memilih pergi ke Mesir?
Tak akan ku biarkan!
Ku langkah kan kaki ku perlahan menjauhi ruang keluarga agar tak menimbulkan suara.
Dan langsung berjalan ke arah kamar kak Razi, masuk dan mematikan lampu kamarnya.
Author P. O. V
Zahra membenamkan wajah sembabnya dalam pelukan lututnya. Sayup-sayup terdengar suara isakan tangis Zahra yang mengisyaratkan sebuah kekecewaan.
Yah, malam ini ia mendapati sebuah kejutan yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Sebuah fakta dimana ia akhirnya tau bahwa Razi bukanlah kakak kandungnya, melainkan kakak angkatnya.
Dalam gelapnya dan dinginnya malam ia menumpahkan semua perasaan pilunya didalam kamar Razi.
Hingga suara pintu dibuka mengintrupsinya.
Ia diam tak berkutik. Bahkan membuka suara saja ia enggan walaupun suara isakan masih bisa terdengar meskipun ia coba tahan.
Pip
Suara saklar lampu.
"Zahra? " Kaget Razi.
Zahra tak bergeming dan masih enggan mengangkat kepala nya.
"Dek, kamu kenapa?" Panik Razi.
"Dek kamu kenapa nangis, hem?"
Tanya Razi semakin khawatir karena tidak mendapatkan respon apapun dari Zahra.
"Kak.. " Suara Zahra terdengar serak.
Razi diam menunggu lanjutan ucapan dari Zahra.
Perlahan Zahra mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajah cantik sembabnya yang memerah karena kelelahan menangis.
"Bukankah kau berniat menjauhi ku?" Tanya Zahra pilu.
"Ap..pa maksud kamu dek? " Panik Razi.
Zahra tersenyum kecut, mengusap wajahnya kasar dengan tangan bergetarnya.
__ADS_1
"Kau puas bukan, setelah membuat ku terlihat bodoh seperti ini, kau memutuskan untuk pergi meninggalkan ku.. Hiks.. "
Bersambung...