
Sekotor Itukah Aku Part 18
"Mas Alif, turunin Fira!" Teriak Fira ketakutan dengan kedua tangannya yang masih sibuk memukul-mukul punggung tegap Alif. Ia ingin mengganggu Alif agar ia segera diturunkan.
Alif yang sama sekali tidak terpengaruh dengan kemarahan Fira semakin mempercepat langkahnya. Baginya Fira itu ringan, bahkan mungkin lebih ringan dari sebelumnya. Mungkinkah berat badan Fira turun setelah seminggu mereka melakukan perang dingin?
Ah, tidak-tidak! Sebenarnya yang merasa ini perang dingin adalah Fira seorang saja. Alif tidak menganggap mereka sedang perang dingin karena itulah ia selama seminggu ini terus mencari Fira entah itu di sekolah atau di asrama. Alif sudah berusaha namun Fira selalu acuh terhadap perjuangannya.
Kadang Alif tidak mengerti mengapa perempuan sesulit ini untuk dimengerti?
"Mas, Fira malu tahu diliatin sama orang-orang. Fira bisa jalan sendiri jadi turunin Fira sekarang!" Sedari tadi mereka terus saja diliatin orang-orang pondok. Ini bukan berarti Fira tidak senang tapi karena ia malu diangkat seperti ini. Jika digendong ala pengantin atau di punggung sih gak apa-apa, malah Fira senang. Tapi ini di atas pundak, seakan-akan Fira adalah karung beras bukan manusia!
"Jangan gerak-gerak." Protes Alif tidak senang. Fira terus saja bergerak di atas pundaknya, takutnya Alif tidak bisa menyeimbangkan tubuh dan berakhir membuat mereka berdua jatuh.
Yah, sebagai seorang laki-laki Alif sama sekali tidak malu untuk jatuh karena itu wajar saja. Lagipula ia juga sedang membawa Fira yang tidak bisa diam jadi Alif sama sekali tidak takut. Akan tetapi ini berbeda untuk Fira, bagi Alif perempuan itu sulit dimengerti. Dibawa seperti ini saja mereka malu apalagi sampai jatuh?
Tentu saja Alif tidak membiarkan hal itu terjadi oleh sebab itu ia memperingatkan Fira untuk tidak banyak bergerak.
Mendengar nada tidak senang Alif, Fira tidak lagi melakukan apa-apa. Ia diam dengan patuh melihat Alif membawanya seperti ini. Ia tidak ingin memancing kemarahan Alif lagi seperti satu minggu yang lalu jadi ia akan tetap diam. Masalah Annisa, Alif tentu saja tidak membiarkan hal itu lewat begitu saja jadi Fira yakin Alif akan segera meminta penjelasannya. Jika Alif membutuhkan penjelasannya maka Fira akan memutuskan untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Alif bahwa ia sedang sakit, ia menyukai Kakaknya sendiri dan harus segera dilarikan ke rumah sakit jiwa.
Entahlah, Fira benar-benar putus asa sekarang.
"Mas Alif," Panggil Fira berbisik, karena ia ada di atas pundak Alif maka Fira yakin Alif bisa mendengar suaranya.
"Hem." Jawab Alif singkat, meskipun terlihat fokus ia masih bisa merespon panggilan lembut Fira.
Fira tidak segera mengatakan apa yang sedang berputar di kepalanya. Sejenak, ia terdiam memikirkan bagaimana respon Alif ketika mendengar pertanyaannya.
Memegang erat baju Alif, setelah berpikir sebentar Fira akhirnya memutuskan untuk mengatakan sesuatu kepada Alif. "Mas Alif bilang jawaban dari sholat istikharah Mas Alif sudah terlihat jelas. Jadi, apakah gadis itu adalah Mbak Annisa?" Itu pasti Annisa, Fira tidak ragu dengan jawaban ini--
Mendengar pertanyaan Fira, Alif menyunggingkan sebuah senyuman yang samar dari bibirnya dan secara perlahan menghentikan langkahnya. "Bukan, gadis itu bukanlah Annisa." Jawab Alif dengan suaranya yang mantap dan tenang. Yakin jika Fira bisa mendengarnya dengan jelas, Alif kembali mempercepat langkahnya segera pulang ke rumah. Ia ingin sekali mengeksekusi Fira nanti agar ia tidak bisa berpikir yang macam-macam!
Setelah mendengar jawaban Alif, tiba-tiba perasaan gelisah dan cemburunya langsung tersapu bersih. Perasangka akan hubungan Annisa dan Alif tidak lagi mengganggunya karena orang yang akan bersanding dengan Alif bukanlah Annisa.
Lalu, gadis mana itu?
"Jika bukan Mbak Annisa, lalu siapa gadis itu?" Tanya Fira ragu-ragu. Ia berharap bahwa gadis itu juga bukan Aisha, atau sebenarnya Fira sangat mengharapkan bahwa gadis itu adalah dirinya?
Ah, itu terlalu mustahil juga terdengar lucu. Bagaimana mungkin itu Fira karena faktanya mereka adalah saudara kandung yang besar bersama-sama dari kecil. Fira sangat sedih dengan pemikiran tidak berdasarkannya ini.
Sekali lagi, Alif menghentikan langkahnya untuk menjawab pertanyaan Fira. Dari pertanyaan ini Alif tahu bahwa perjuangannya selama ini tidaklah sia-sia, orang yang ia perjuangkan untuk jatuh cinta kepadanya akhirnya jatuh juga. Masuk ke dalam perangkapnya yang sudah lama ia harapkan. Untungnya rencana ini berjalan lancar karena jika tidak, Alif tidak tahu bagaimana menghadapi masa depannya yang berbatu.
Tersenyum puas sarat akan kebahagiaan, Alif kemudian mengeratkan pegangannya pada pinggang Fira. Ia melakukan itu agar Fira tetap aman di dekatnya.
"Gadis itu adalah orang yang paling dekat denganku." Jawabnya terdengar ambigu, membuat Fira semakin bertanya-tanya siapa gadis itu. Tidak bisakah Alif mengatakannya secara langsung saja?
Fira sangat kesal dibuatnya!
"Aku tidak akan menjawab pertanyaan apapun lagi yang berbau istriku, jadi kamu dilarang bertanya." Ucap Alif terkekeh sambil melanjutkan langkahnya, kali ini langkah kakinya yang mantap dan panjang menjadi lebih santai. Memberikan Fira waktu untuk menikmati kebersamaan mereka berdua dengan cara yang aneh.
🦕🦕🦕
Sepulang mereka ke rumah Alif tidak bisa melaksanakan rencananya karena Abi tiba-tiba mendesaknya untuk segera datang ke kantor. Abi mengatakan jika ada masalah serius yang akan mereka lakukan di sana jadi Alif harus segera datang tanpa penundaan.
Mendapatkan urusan mendadak seperti ini memang sudah biasa untuk Alif dan biasanya ia tidak akan mengeluh. Akan tetapi hari ini berbeda, karena ia harus menyelesaikan urusannya dengan Fira maka Alif sedikit enggan untuk menyelesaikan urusan kantornya. Ia takut ketika ia pergi ke kantor Fira akan kabur lagi dan mengurung diri di dalam asrama seperti satu minggu yang lalu.
"Mas akan segera pergi ke kantor karena ada urusan penting dengan Abi. Nanti setelah pulang dari kantor Mas tidak menemukan mu di rumah, maka jangan pernah protes jika asrama kalian Mas geledah." Pesan Alif memperingatkan Fira agar tidak bertindak kekanak-kanakan lagi dengan bersembunyi di dalam asrama putri. Karena jika Fira sampai mengulanginya maka jalan satu-satunya adalah Alif akan memakai cara terakhir. Menggeledah asrama putri untuk mendapatkan buronan!
Fira tidak tahu ingin tertawa atau menangis ketika mendengarnya, ia tidak pernah tahu Alif akan punya ambisi sebesar itu untuk menghukumnya!
"Mas gak bisa seenaknya masuk asrama putri." Fira menunjukkan kelemahan Alif. Lagipula, sebesar apapun ancaman Alif saat ini Fira yakin Alif tidak akan senekat itu masuk ke asrama putri. Di dalam penuh dengan lautan para santriwati yang sudah pasti masih gadis dan lajang, ah!
Jika Alif nekat menerobos masuk maka para gadis itu akan melihat Alif sepenuhnya, memanjakan indera penglihatan mereka dengan leluasa dan Fira tidak akan pernah suka itu!
Alif mengangkat bahunya acuh, "Kenapa tidak, lagipula ini adalah pondok pesantren ku jadi aku bebas melakukan apapun." Bantah Alif tidak perduli. Karena ia akan segera menggantikan Abi maka ia bisa melakukan apapun yang ia ingin. Apalagi jika itu untuk Fira, ia tidak akan segan-segan menerobos masuk ke dalam asrama putri untuk menyeret istrinya yang durhaka pulang!
__ADS_1
Ah, Fira seketika tidak bisa mengatakan apa-apa! Ia bertanya-tanya sejak kapan Kakaknya bertingkah angkuh seperti ini? Oh, tidak! Apakah selama ini Fira yang tidak tahu apa-apa tentang sifat sombong Kakaknya ini?
Mengapa ia tidak tahu jika Kakaknya juga punya sisi gelap?
"Aku tidak yakin Kakak akan senekat itu." Ia tidak akan berani bukan masuk ke sana?
Di sana terlalu banyak gadis lajang, ah!
Tersenyum simpul, Alif mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh puncak kepala Fira yang tertutupi jilbab panjang. "Untuk kamu apapun akan aku lakukan." Ucap Alif tulus, untuk Fira, ia tidak akan ragu melakukan apapun asalkan Fira tetap berada di sampingnya. Akan tetapi satu hal yang pasti, apapun itu harus dalam batas wajar atau dalam radar kebaikan. Jangan karena cinta semuanya disamakan, entah itu jahat atau baik tidak ada bedanya. Tapi bersikaplah selayaknya cinta yang murni, melihat hanya pada kebaikan saja.
Dug
Dug
Dug
Ini adalah suara detak jantung Fira yang kini sedang berdebar kencang. Fira bisa merasakan jika wajahnya saat ini tiba-tiba menjadi panas, tapi anehnya itu sama sekali tidak mengganggunya. Malah ia merasa perasaan yang nyaman karenanya. Ia juga tahu bahwa tidak seharusnya memikirkan yang tidak-tidak namun ia tidak bisa menampik bahwa apa yang Alif katakan saat ini adalah bentuk romantis dari pasangan kekasih dan bukan hubungan adik-kakak.
Ia ingin meneriaki dirinya bahwa itu tidak mungkin tapi hatinya menolak untuk mengatakan itu.
Melihat wajah tersipu malu-malu Fira, Alif tidak bisa menahan perasaan euforianya. Menguatkan hatinya, ia lalu mengucapkan salam kepada Fira dan juga memperingatkannya untuk yang terakhir kali agar tidak mencoba untuk melarikan diri lagi karena konsekuensinya akan sangat berbahaya.
Alif pergi meninggalkan Fira yang masih dirasuki perasaan manis sendirian di dalam kamar. Terdiam lama, Fira akhirnya tersadar dari lamunan manisnya. Ia mengangkat kedua tangannya untuk menepuk-nepuk kedua pipinya yang masih terasa panas!
"Mas Alif sadar apa kalau apa yang dia omongin itu berlebihan?" Gumamnya senyum-senyum seraya menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya. Ia sudah lama tidak menempati kamar ini jadi ketika ia kembali hari ini ia merasakan ada wangi Alif dimana-mana. Hem, apa jatuh cinta akan sekonyol ini?
🦕🦕🦕
"Alif, Umi ingin membicarakan sesuatu dengan mu." Ketika melihat Alif keluar dari kamar Fira, Umi segera mendekatinya untuk membicarakan perihal perjodohan Alif dan Annisa.
"Maaf Umi, Alif tidak bisa bicara sekarang karena Abi sedang membutuhkan Alif di kantor." Alif menolak Uminya dengan halus lantaran saat ini Abi sedang membutuhkannya di kantor.
Umi mengernyit tidak puas, ingin menahan Alif untuk diam di rumah namun ia tidak yakin karena ekspresi Alif mengatakan bahwa Abinya saat ini benar-benar membutuhkannya di sana.
Mengangguk enggan, "Nanti setelah sholat tarawih, ada yang ingin Umi dan Abi katakan kepadamu." Meraih lengan Alif, "Jadi kamu harus pulang ke rumah dan jangan kemana-mana setelah turun dari masjid." Pesan Umi yang langsung diangguki cepat oleh Alif.
Akan tetapi sayangnya, Alif juga ingin membicarakan hal yang penting kepada kedua orang tuanya. Ia ingin memberikan mereka berdua kejutan yang tidak pernah disangka-sangka.
"Kebetulan Umi, nanti malam juga Alif ingin mengatakan sesuatu kepada kalian jadi Alif harap kalian meluangkan waktu untuk mengobrol dengan Alif." Senyumnya lembut, menyiratkan betapa hormatnya ia kepada Umi.
Umi merasa lega karena akhirnya ia bisa melihat senyuman Alif setelah beberapa hari ini terlihat murung. Mengangguk puas, Umi dengar jika Alif baru saja bertemu dengan Annisa dan Aisha di kebun. Kata anak pondok yang ia tugasnya menjadi mata-mata, mereka melihat Alif, Annisa dan Aisha pergi memetik sayuran bersama. Mendengar ini tentu saja Umi menjadi senang, ia semakin bertambah senang melihat senyuman bahagia Alif akhirnya kembali lagi.
"Baiklah, segera temui Abi untuk menyelesaikan urusan kalian dan pastikan nanti malam kamu di rumah."
Alif mengangguk ringan, "In shaa Allah, Umi." Ucapnya berjanji. Alif tidak menunda pekerjaannya lagi dan segera mencium tangan kanan Umi untuk pamit.
Sejujurnya, ia sangat bersemangat untuk nanti malam. Kejutan yang sudah lama ia siapkan akhirnya malam ini ia berikan juga kepada kedua orang tuanya, Hem, betapa senangnya ia memikirkan ini. Namun, dia masih punya satu kekhawatiran yaitu Fira. Meskipun yakin jika Fira juga menyukainya namun Alif tidak bisa menampik ketakutannya jika tiba-tiba Fira menolak untuk bersamanya!
Ia sudah berjuang keras dan ia tidak mau apa yang sudah ia perjuangkan terbuang sia-sia.
🦕🦕🦕
Begitu masuk ke dalam rumah masih belum ada tanda-tanda keberadaan Umi dan Abi di ruang tamu. Justru yang Alif temukan hanya Fira yang terlihat sedang asik menonton TV. Menggelengkan kepalanya pelan, Alif kemudian langsung mendudukkan dirinya di samping Fira. Meraih remot tv, ia tanpa mengatakan apapun mengecilkan volume suaranya sampai angka nol. Menyisakan kesunyian untuk mereka berdua.
"Mas Alif kok pulang-pulang gak pakai salam, sih?" Protes Fira tidak senang begitu mendapati Alif sudah duduk di sampingnya. Sejak kapan Alif masuk?
Dan mengapa Fira tidak menyadari kedatangannya tadi?
"Mas ucap salam juga kamu gak bakal dengar, suara tv-nya kebesaran, gak baik buat orang-orang di luar."
"Habisnya yang lain pada pergi ninggalin Fira sendirian di rumah. Kalau di asrama Fira bisa punya teman ngobrol satu dua makanya gak terlalu kesepian kalau orang pada pergi terawih." Karena ia sendirian di sini maka waktunya terasa sangat membosankan. Ia memutuskan menonton tv rapi tidak ada yang menarik perhatiannya jadi selama acara menonton tv ia hanya melamun tidak jelas tentang masa depannya yang penuh akan kata rahasia.
Bagaimana ia tidak sedih karena sebentar lagi akan masuk bulan Syawal, ia akan segera menikah dan hidup bersama laki-laki lain. Begitu pun dengan Alif yang akan menikah di bulan yang sama dengannya. Mereka akan hidup dengan pasangan masing-masing yang tentu saja bagi Fira itu akan sulit merasakan kebahagiaan. Tapi bagi Alif itu mungkin berbeda karena Fira perhatikan Kakaknya sangat memperhatikan pernikahan itu.
"Sekarang sudah ada Kakak jadi kamu tidak akan kesepian lagi." Meraih tangan Fira secara tiba-tiba, Alif bisa merasakan jika tangan Fira sempat tegang karena gerakannya yang tiba-tiba.
__ADS_1
Tersenyum samar, Alif menggabungkan jari-jari mereka seperti pasangan kekasih pada umumnya. Ia bertindak polos dan bersikap jika ini sudah biasa mereka berdua lakukan.
"Mas mau dengar penjelasan kamu tentang hari dimana kamu masukin banyak cabai ke masakan Annisa dan Aisha. Jelaskan Mas mengapa kamu melakukan itu kepada mereka?" Karena mereka saat ini hanya berdua saja di rumah dan punya waktu luang untuk berbicara, Alif tidak ingin menunda waktu mereka lagi untuk membicarakan masalah ini. Alif ingin tahu mengapa Fira berani melakukan hal ceroboh itu?
Fira tahu cepat atau lambat Alif akan bertanya tentang ini kepadanya tapi ia tidak pernah tahu jika ditanya langsung seperti ini sangat tidak menyenangkan. Ia sebenarnya tidak menyukai pembicaraan ini.
Menundukkan kepalanya, "Aku tidak senang dengan keterus terangan mereka. Saat itu mereka seharusnya lebih serius untuk memasakkan Umi tapi mereka tidak melakukannya karena apa yang ada dipikiran mereka hanya tentang bisa menyenangkan Mas Alif. Ini seperti mereka sangat mengharapkan mendapatkan Mas Alif secara terang-terangan." Fira dulu memaklumi Zahra yang tidak tahu apa-apa saat mengejar Alif, akan tetapi Annisa dan Aisha berbeda. Mereka sudah mengetahui bahwa perempuan umumnya pemalu jadi melihat keinginan mereka yang tinggi waktu itu Fira sangat kesal.
"Karena itulah Fira memasukkan cabai ke dalam makanan mereka agar mereka kecewa melihat Mas Alif tidak memakan makanan yang mereka sudah buat. Ia juga tidak berharap jika saking takutnya Alif pada makanan pedas Alif hanya makan masakan putus asa buatannya. Bahkan Mas Alif sampai menghabiskannya langsung tanpa melirik makanan apapun.
"Dek," Alif menghela nafas panjang. Ia tidak tahu harus senang atau menangis melihat Fira yang cemburuan seperti ini. Yah, setidaknya itu tandanya Fira menyukainya. Tapi Alif tidak suka jika cemburu itu membuat Fira melakukan perbuatan buruk.
"Sebenarnya saat itu Mas tidak tahu jika dimasakkan mereka ada banyak cabai."
Tertegun, Fira segera menatap Alif tidak mengerti. "Maksud Mas Alif?"
Tersenyum simpul, ia menarik genggaman tangan Fira agar lebih dekat dengannya. Tangan kirinya yang kosong terangkat untuk mengelus lembut kulit halus punggung tangan Fira secara hati-hati.
"Mas tidak tahu apa yang mereka masak hari itu karena yang ada dipikiran Mas pada saat itu adalah bagaimana rasa masakan yang Fira buat. Justru Mas tahunya ada cabai di dalam masakan mereka setelah mendengar Annisa protes kepadamu." Itu artinya saat itu Alif sama sekali tidak melirik masakan lain dan hanya memikirkan masakannya. Memikirkan pikiran konyol itu wajah Fira tiba-tiba memerah terang, apa maksud Mas Alif hanya dengan memikirkan masakannya yang tidak enak?
"Jangan bercanda Mas, semua orang jelas tahu bahwa masakan Fira jauh dari kata enak dan tidak layak untuk dimakan." Fira ingin menarik tangannya namun Alif tidak membiarkan itu terjadi. Ia memegangnya dengan kuat akan tetapi memastikan kekuatan tangannya tidak mencederai tangan Fira yang tipis.
"Sebenarnya masih bisa dimakan kok, buktinya Mas bisa habiskan satu piring itu dalam satu kali makan." Tersenyum simpul, "Tidak ada yang lebih jelas dari Mas bahwa masakan kamu lebih baik dari waktu pertama memasak. Mas senang karena akhirnya kamu berubah sedikit demi sedikit." Masakan pertama memang rasanya agak aneh meskipun ia sudah membantu Fira menentukan bumbu-bumbunya. Tapi untuk masakan kedua yang tidak mendapatkan bimbingan siapapun, jelas rasanya lebih baik dari yang pertama jadi ketika memakannya Alif memutuskan untuk langsung menghabiskannya saat itu juga.
"Aku...aku tidak percaya." Gumam Fira malu-malu seraya menundukkan kepalanya, menghalangi penglihatan Alif agar jangan sampai melihat wajahnya yang sudah pasti sangat merah sekarang.
"Kamu mung-"
"Jadi semua orang sudah berkumpul, syukurlah karena kita juga bisa langsung membicarakannya di sini." Suara terkejut Umi sontak membuat Fira panik, tanpa sadar ia menarik cepat tangannya dari lingkupan besar kedua tangan Alif.
Melihat kedua tangannya yang sudah kosong tanpa adanya suhu kehangatan dari Fira, diam-diam Alif menatap tidak puas pada kedatangan Uminya yang tiba-tiba.
"Umi, Abi." Sapa Fira sopan ketika melihat mereka akhirnya pulang juga. Meskipun sedikit enggan karena tidak bisa lagi berduaan dengan Alif namun Fira tetap memasang senyumannya yang manis.
"Aku pikir ini bukan waktu yang tepat membicarakan masalah ini." Abi duduk dengan wajah lelahnya, cukup bosan menghadapi tingkah laku istrinya yang baru-baru ini menjadi lebih keras kepala.
Umi tidak mendengar dan langsung pada inti pembicaraannya. "Tidak perlu ditunda lagi karena Alif harus segera melakukan persiapan untuk mengkhitbah Annisa, lebih cepat lebih baik." Ucap Uminya memperjelas pembicaraan mereka.
Deg
Tertegun, tiba-tiba senyuman tipis Fira tercetak di bibirnya. Ia merasakan jika hatinya tiba-tiba merasa lelah untuk menghadapi emosi yang sama secara berulang-ulang. Rasanya sangat lelah sekali ketika apa yang ia harapkan pergi dan hilang semudah membalikkan telapak tangan. Ini membuatnya sangat tidak berdaya.
Sebelum pembicaraan ini terus menyakitinya, Fira memutuskan untuk segera bangun dari duduknya. Ia beralasan merasa sangat tidak nyaman sehingga ia harus beristirahat di kamar. Umi dan Abi tidak merasa ada sesuatu yang aneh jadi mereka membiarkannya pergi begitu saja ke kamarnya.
Melihat wajah redup Fira, Alif tahu bahwa saat ini ia pasti sangat kecewa mendengar rencana Umi. Begitupula Alif, ia juga sama kecewanya dengan Fira. Ia bertanya-tanya di dalam hatinya bahwa apakah Umi dan Abi tidak bisa melihatnya jika kedua putra dan putri yang sudah mereka besarkan saling menyukai?
"Umi," Sebelum Umi melanjutkan pembicaraan ini Alif lebih dulu mengambil alih.
"Apakah kalian tahu jika saat aku memutuskan untuk membatalkan pernikahan ku dengan Zahra 3 malam sebelumnya aku sudah melakukan sholat istikharah. Jawaban dari sholat istikharah ku adalah selalu gadis yang sama dan itu terjadi selama 3 malam berturut-turut." Ucapnya menjelaskan, bangun dari duduknya ia segera mengeluarkan amplop khas rumah sakit yang hampir satu bulan ia simpan. Lalu, ia menaruhnya di atas meja agar bisa dilihat oleh kedua orang tuanya.
"Aku bersyukur karena jawaban sholat istikharah ku sudah membimbing ku untuk menemukan sebuah rahasia bahwa selama ini aku hanyalah orang asing di sini."
Bung
Seketika, Umi dan Abi tidak bisa mengatakan apa-apa setelah mendengar suara tajam nan santai Alif seperti biasanya. Ia bertindak seolah kata-kata itu hanya kata-kata biasa yang sering diucapkan setiap hari.
Tersenyum simpul, "Umi, gadis yang selama ini aku sukai adalah putrimu dan bukan yang lain. Gadis yang ingin aku nikahi adalah putrimu dan bukan orang lain. Dan gadis yang menjadi jawaban dari sholat istikharah ku adalah putrimu dan bukan orang lain." Ucapnya lembut, selembut mungkin. Ia ingin mengatakan secara sungguh-sungguh dan meyakinkan mereka berdua bahwa ia sangat yakin dengan apa yang keluar dari bibirnya. Ia sangat serius ingin menghalalkan Fira, membuat segalanya jauh lebih mudah agar ia bisa melindungi Fira, menjaganya agar ia selalu ada di sampingnya dalam keadaan apapun. Jika bisa, ia ingin membawa Fira ke tempat dimana hanya mereka berdua saja yang menempatinya.
"Jadi, aku sangat berharap jika Umi dan Abi mau merestui kami berdua untuk hidup bersama. Suka dan duka, kami akan hidup harmonis seperti kalian berdua menjalani hidup. Yakinlah, putri kalian akan baik-baik saja ketika hidup bersama dengan ku nanti." Alif sangat berharap bahwa kedua orang tua angkatnya mau merestui hubungannya dengan Fira. Memberikan mereka sebuah senyuman lega seperti yang ia lihat saat menatap Abi Zahra ketika melihat Razi. Itu adalah jenis kelegaan yang sangat ia harapkan.
Setelah menyerahkan kejutannya, lantas Alif tidak menunggu waktu lama lagi untuk tinggal bersama mereka di ruang tamu. Ia mengucapkan salam dan berniat menyusul Fira yang ia yakini sedang bersedih di dalam kamarnya.
Selepas Alif pergi, Umi dan Abi masih belum bisa mengatakan apa-apa setelah melihat kejutan yang terpampang jelas di atas meja. Itu memang hanya sebuah kertas yang ringan dan sangat mudah tertiup angin, namun entah mengapa bagi Umi dan Abi itu adalah hal yang paling berat di dalam hidup mereka.
"Meskipun cukup terkejut tapi sejujurnya jauh dari dalam hati aku sangat lega jika putriku akan hidup bersama putra yang sudah aku besarkan dan didik sendiri." Gumam Abi merasa lega yang tentu saja didengar oleh Umi.
__ADS_1
Umi mendengarnya tentu saja tapi ia masih belum bisa mengatakan apa-apa untuk saat ini.
🐛🐛🐛