
Annisa P. O. V
Dia masih saja keras kepala, bahkan sampai saat ini dia masih enggan untuk mengatakan masalah nya. 2 hari lagi menjelang hari pernikahan nya, namun wajahnya tak menggambarkan sebuah keceriaan atau ekspresi gugup bercampur tak sabar. Ia justru menjadi lebih diam dan murung?
Setiap diajak untuk melakukan persiapan mulai dari fitting baju pernikahan hingga pembelian perabotan rumah tangga, ia sama sekali tak berulah seperti biasanya. Ia lebih menurut atau sangat menurut dan tak banyak tingkah. Ini seperti dia yang tidak mempunyai semangat hidup atau sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi.
Setiap kali diajak berbicara ia memang selalu menyahuti, akan tetapi ia hanya akan sebatas percakapan itu. Tak ingin ikut larut dalam obrolan yang lebih panjang lagi.
"Zahra? " Panggil ku seraya ikut duduk disampingnya. Ia terlihat pucat dan tak bersemangat.
"Iya kak, ada apa? " Jawabnya dengan suara yang lemah. Aku tersenyum pahit, ah, walaupun aku mengajaknya untuk berbicara dan lebih terbuka pasti ia tidak akan mau. Aku takut jika ia akan kembali menjadi Zahra yang dulu, penuh akan keasingan.
"Ini. " Aku memberikan nya sebuah handphone, tepatnya itu punya ku.
"Lho?" Bingungnya seraya mengambil alih handphone tersebut dari tangan ku.
"Itu Dira, dia kangen katanya. " Jawab ku membuatnya tersenyum tipis, ia mengangguk lalu membawa handphone ku ke samping telinga nya.
"Hallo, Assalamualaikum? "
"Waalaikumussalam.. Zahra, kamu apa kabar? Cie yang bentar lagi nikah, keduluan aj-"
"Dira, siniin dong! aku juga mau ngomong sama mbak Zahra, ih.. Di-"
"Sabar Marwah, aku juga mau ngomong sama -"
"Dir-"
"Astaga, kalian ini sangat berisik! Kenapa jadi ribut begini sih hanya karena ingin berbicara dengan ku.?"
Zahra memijit kepala nya lelah, ia terlihat sedikit bersemangat dibanding kan hari kemarin-kemarin. Ah, syukurlah setidaknya ia bisa berekspresi hari ini.
"Jika ingin berbicara, berbicara lah satu-satu. Jangan berebutan." Perintah nya.
Dan yah, selama mereka berbicara aku hanya diam menonton dan mendengar kan apa yang mereka bicarakan. Dalam beberapa menit saja aku bisa melihat berbagai ekspresi yang Zahra perlihatkan.
Ia akan tertawa jika mereka bernostalgia dengan kenangan mereka bertiga di pondok pesantren. Zahra akan terlihat jengkel jika diceritakan tentang Nabila, ketua kedisiplinan pondok pesantren saat ini. Zahra akan mengulum senyum jika membicarakan tentang Razi, namun secara bersamaan wajahnya berubah menjadi sendu. Ia seperti mengatakan bahwa saat ini ia sedang tidak baik-baik saja. Dan yah, aku tak bodoh jika tidak mengetahui permasalahan apa yang ia hadapi. Ia telah mengetahui semua rahasia Razi dan tentu saja itu tak berdampak baik bagi Zahra karena ujungnya Razi lah yang memilih pergi ke pondok pesantren. Bahkan saat pergi beberapa waktu yang lalu Razi tak menemui Zahra sama sekali untuk sekedar berpamitan. Ia langsung pergi ke pondok pesantren untuk menyelesaikan sesuatu yang harus diurus. Ia akan datang 2 hari lagi, atau tepatnya dihari pernikahan Zahra.
Zahra memberikan kembali handphone ku setelah pembicaraan nya selesai. Ia tersenyum kecil kepada ku.
"Aku laper kak. " Adu nya kepada ku. Aku tersenyum dan mengangguk antusias, bagaimana tidak? Karena jika beberapa hari ini ia tak akan mau makan jika tidak dipaksa. Maka dari itu aku sangat senang mendengar nya meminta makan langsung kepada ku.
"Ya, udah kita turun yuk, ke dapur. " Ajak ku seraya menggenggam tangannya yang halus. Ia menggeleng tak ingin bergerak atau pun beranjak dari tempat tidur nya.
"Kamu mau kakak yang ambilin?" Aku mencoba menebak keinginan nya.
Namun lagi-lagi Zahra menggeleng, aku bingung dibuatnya. Ia mengatakan bahwa ia lapar akan tetapi ketika ditawari makan ia menolak.
Lalu, apa yang ia inginkan sebenarnya jika makan saja ia tolak?
"Ada apa, hem? " Tanya ku menyerah seraya membawa tangannya ke dalam genggaman kedua tangan ku.
Ia menghela nafas dan menggeser duduknya lebih dekat lagi dengan ku. Aku tau semua ini pasti sangat sulit ia hadapi. Tapi bagaimana pun juga semua nya telah diputuskan dan ditentukan. Terlambat untuk menghentikan nya.
"Aku lelah." Adunya terdengar lemah. Aku meresponnya dengan menganggukkan kepala tanda bahwa aku mengerti apa maksud dari ucapan nya.
"Aku ingin berhenti, tapi aku tak bisa. Seperti yang ia katakan bahwa aku harus menerima semua ini dan memulai semuanya dari awal bersama yang lain tapi aku tak sanggup. "
Ku rasakan tangannya bergetar dan berkeringat dingin. Apa benar sesulit itu?
"Aku takut dengan kenyataan yang akan aku hadapi, aku masih belum bisa menerima semua ini. Ini seperti mimpi bagi ku. "
Aku tak ingin bersuara kali ini, biarkan Zahra menumpahkan perasaan nya pada ku. Biarkan Zahra menumpahkan bebannya pada ku. Biarkan Zahra menumpahkan rasa takut dan gelisahnya pada ku. Yah, biarkan seperti ini dulu.
Lama ku menunggu ia meneruskan ucapannya yang tadi, namun hanya suara dengkuran halus yang ku dapatkan di samping kanan ku. Ia tertidur di atas pundak kanan ku, ia terlihat lelah.
Aku menggeleng heran, karena di saat serius nya diriku berniat mendengar kan keluh kesahnya ternyata ia lebih dulu tertidur. Dengan perlahan ku lepas genggaman tangan Zahra dan memiringkan Zahra diranjangnya. Setelah posisi nya nyaman ku selimuti ia sampai setengah badan. Ku pandangi wajah cantik nya yang terlihat sedikit pucat.
"Istirahat lah. " Ucap ku seraya mengelus puncak kepalanya dan langsung beranjak keluar dari kamar Zahra.
***
"Bagaimana keadaan Zahra? " Khawatir umi, aku mendudukkan diriku disalah satu sofa.
"Ia masih tak terlalu banyak bicara, seperti biasa. " Jawab ku seadanya. Yah, dilihat dari pengamatan ku beberapa hari ini Zahra memang tidak banyak bicara dan terkesan murung. Ia akan mengerjakan apa yang umi perintah kan dengan patuh dan cepat. Tak ada keluhan sama sekali yang meluncur dari bibirnya. Tak biasanya.
"Tak apa, selama Zahra dalam pengawasan kita. Dia tak akan berbuat aneh-aneh. " Suara abi mencoba memberikan ketenangan ke umi. Umi mengangguk mengerti seraya mengambil sebuah undangan persegi panjang yang di desain cantik dan elegan. Umi menatap bahagia undangan tersebut seraya mengelus ukiran nama sang calon pengantin dengan lembut.
"Abi benar-benar tak menyangka jika semua ini akan terjadi, ini benar-benar kuasa Allah. " Kagum abi dengan wajah berbinar mereka. Aku pun juga tak bisa menyembunyikan rasa bahagia ku, tinggal menunggu hitungan hari maka semuanya akan selesai. Sesuai harapan kami.
"Umi pun sama, bi. Dua hari lagi kedua permata kita akan menikah. Walaupun.. " Umi menjeda ucapannya. Memberikan tatapan sendunya kepada abi yang juga sama kehilangan senyum nya.
"Apa aku harus memberi tahu Zahra semua ini? " Tanya ku takut-takut.
Umi menatap ku khawatir lalu menggeleng tak setuju.
__ADS_1
"Biarkan Razi sendiri yang mengatakan nya jika Razi memutuskan menikah dihari yang sama dengan Zahra. " Aku tersenyum pahit dan mengangguk kan kepala ku setuju. Benar, dihari yang sama Razi pun akan menikah. Tentunya Zahra tidak tau karena masalah ini begitu mendadak dan merupakan masalah yang sensitif bagi Zahra.
"Tidak, kali ini tolong libatkan Zahra untuk masalah Razi. Bagaimana pun ini adalah masalah yang penting bagi mereka berdua. " Tolak abi seraya mengambil alih surat undangan tersebut dari genggaman tangan umi. Kemudian abi beralih menatap ku, terasa sekali aura dominan yang ia keluarkan. Sangat terlihat bahwa kali ini ia tak mau dibantah.
Aku mengangguk mengerti.
"Akan Annisa coba bicarakan dengan Zahra, abi. "
Kami semua kembali terdiam hingga suara pesan masuk ke handphone ku membuat ku harus membacanya yang dimana pesan tersebut berasal dari Dira, adik sepupu dari Razi.
Menikmati permainan nya, hem?
Aku tersenyum kecil, tak membalasnya dan memilih untuk kembali mengobrol bersama abi dan umi.
"Undangan sudah tersebar, alhamdulillah. " Suara ku kembali membuka obrolan.
"Alhamdulillah, lalu bagaimana dengan catering? " Syukur umi.
"Sudah rampung umi, tinggal menunggu hari H nya saja. Jika masalah dekorasi itu akan mulai dikerjakan besok, satu hari menjelang pernikahan. " Umi dan abi mengangguk semangat.
"Jadi semuanya telah siap secara keseluruhan, hanya butuh permainan drama sedikit untuk hari esok. Annisa harap kalian benar-benar melaksanakannya dengan baik, sesuai harapan. " Jelas ku.
Kami kembali mengobrol dan membicarakan masalah persiapan pernikahan Zahra dan Razi. Di samping itu juga kami sesekali menghubungi Alif dan keluarga nya mengenai persiapan mereka untuk pernikahan besok. Dan kami sangat bersyukur betapa hari bahagia ini sangat di mudahkan oleh Allah walaupun dari pihak Alif terdapat beberapa kendala yang terjadi namun kami sekali lagi kembali bersyukur karena kendala tersebut tak berdampak besar bagi pernikahan ini. Yah, Allah akan selalu memberikan jalan selama jalan itu benar dan di ridhoinya.
***
Author P. O. V
Zahra duduk termenung di kursi depan meja riasnya. Ia tatap kosong pantulan wajah cantik nya yang sedikit memucat. Masih teringat jelas percakapan nya beberapa waktu yang lalu bersama Dira dan Marwah. Masih sangat jelas di dalam pendengaran nya mengenai sebuah kabar baik sekaligus buruk bagi Zahra. Malam itu setelah pembicaraan nya dengan Razi, Zahra tak pernah lagi melihat keberadaan Razi di rumah ini. Ia menghilang begitu saja. Itu membuat Zahra sedih sekaligus kecewa, tentu saja. Namun kabar dari Dira membuat nya merasa lega karena ternyata Razi berada dipondok pesantren. Zahra tak bisa menampik bahwa ya, ia lega bercampur kecewa saat ini. Ia lega karena Razi berada di tempat yang baik dan ia kecewa jika Razi meninggal kan nya begitu saja. Ah, Zahra lupa. Bukan kah Razi telah menyampaikan salam pamitnya-ah tidak, lebih tepatnya sebuah kecupan sayang sebagai salam pamitnya kepada Zahra.
Mengingatnya Zahra jadi terkekeh kecil, ia miris melihat betapa ia sangat tak beruntung dalam hal apa pun.
"Haha..mengapa semua ini terlihat lucu?. Bukan kah aku sendiri sang sutradara yang mengatur semua ini? Mengaturnya hingga aku terjebak dalam labirin permainan yang aku buat sendiri.. " Tidak, Zahra tak menyalahkan sang maha cinta sama sekali. Ia tak pernah berpikir seperti itu, justru ia tau betul jika semua ini terjadi karena kecerobohan nya sendiri. Kecerobohan nya yang berujung membuat nya kehilangan satu-satunya alasan ia membuat labirin itu.
"Jadi semua nya benar-benar telah berakhir? " Tanya Zahra kepada pantulan dirinya di cermin, berbisik lebih tepatnya.
Sekali lagi Zahra dibuat terkekeh tanpa alasan yang jelas, ia putus asa.
"Tidak, semua nya masih belum berakhir. Masih ada kesempatan untuk ku bukan?. Yah, masih ada." Yakin Zahra kepada dirinya. Ia tersenyum semangat kepada dirinya yang dipantulkan cermin. Terlihat menyedihkan memang, tapi Zahra yakin pasti ada keajaiban. Bisa saja Razi datang tepat dihari pernikahan, pergi membawa Zahra pergi bersama nya. Layaknya sebuah novel romansa, Zahra yakin hari itu ada walaupun semua pemikiran ini hanya pemikiran putus asa Zahra. Ya, dia yakin akan kuasa sang maha romantis.
"Asik melamun, hem? " Suara Annisa berhasil menarik Zahra dari acara melamunnya. Zahra gelagapan dan tersenyum kikuk sebagai jawaban nya. Annisa menggeleng maklum seraya ikut mengambil tempat di samping Zahra. Zahra sedikit menggeser tempat duduknya, menyediakan sebagian tempat duduknya untuk Annisa.
"Kalo mau cerita, cerita aja. Jangan di pendam yang bawaannya pasti ngelamun seperti tadi, kakak gak suka. " Nasihat Annisa lembut membuat Zahra merasa bersalah karena telah membuat satu-satunya kakak untuk nya di dunia merasa tidak nyaman.
"Maafin Zahra, kak. Zahra sama sekali tidak bermaksud begitu, hanya saja masalah ini lebih baik Zahra selesai kan sendiri. Zahra tak ingin menyusahkan siapa-pun. Apalagi itu kalian, Zahra tak ingin. " Jawab Zahra menyesal yang membuat Annisa menghela nafas kesal.
Zahra tersenyum hangat seraya menganggukkan kepala nya mengerti.
"Karena itu Zahra tak ingin menyusahkan kalian, sudah cukup Zahra menyakiti kalian semua. Zahra masih sangat bersalah hingga saat ini jika kakak ingin tau dan itu sangat membuat Zahra tak nyaman jika mengingat nya. " Jelas Zahra dengan ekspresi menyesal nya. Ah, rasanya Annisa benar benar mengerti maksud hati Zahra selama ini. Betapa hangat dan manisnya.
Annisa mengangguk mengalah, ia pikir memang benar maksud tujuan hati Zahra. Bisa ia lihat juga jika Zahra bukan lah orang yang mau dipaksa melakukan sesuatu jika ia tak ingin, keras kepala.
Mereka berdua kembali terdiam dan rasa canggung pun tak liput meliputi suasana mereka berdua saat ini, sibuk dengan pikiran masing masing.
Lama terdiam akhirnya Annisa kembali teringat akan tujuan awalnya ke sini. Ada sesuatu yang penting yang akan Annisa sampaikan. Yah, sudah saatnya Zahra tau pikirnya. Dan juga ini adalah masalah yang besar lagi penting mengingat satu hari lagi acaranya akan di gelar.
"Zahra.. " Panggil Annisa berniat memulai pembicaraan. Zahra tak menjawab namun ekspresi wajah yang dilemparkan kepada Annisa seakan memberikan gestur 'ada-apa'.
"Kakak ingin bicara serius, ada hal penting yang ingin kakak sampai kan kepada mu. " Suara Annisa serius. Melihat ekspresi kakak nya yang meyakinkan, Zahra pun mau tak mau harus mendengar kan kakak nya.
Annisa terdiam lagi, memikirkan kata kata yang tepat untuk kabar gembira ini kepada Zahra. Sementara Annisa yang sedang kebingungan, Zahra justru sedang asik menebak-nebak gerangan apa yang menyebabkan Annisa ingin berbicara serius dengan nya.
Apakah pernikahan nya dibatalkan?
Benarkah?
Ah, jika benar maka Zahra akan sangat bahagia mendengar nya. Yah, ini bisa jadi tentang soal pernikahan nya yang akan dibatalkan. Dan yah, seperti yang kalian tahu bahwa semua pemikiran diatas hanya dimiliki oleh seorang Zahra Affianisha.
"Kak Razi.. " Suara Annisa dengan mata berbinar nya.
Deg
Mendengar nama Razi disebut kan tiba-tiba dada Zahra berdetak kencang tak terkendali. Ada gemuruh rasa ingin tahu yang besar di dadanya. Tentu, sudah pasti ini mengenai Razi, pangeran tampan nya.
"Ada apa dengan kak Razi? " Tanya Zahra tak bisa menahan rasa ingin tahunya lagi. Ah, semoga ini adalah kabar yang menyenangkan harap Zahra.
"Hahaha.. Dek, kau pasti akan sangat terkejut jika mendengar ini. " Tawa Annisa tak bisa menyembunyikan kebahagiaan nya.
"Mendengar apa? " Desak Zahra semakin tak sabaran. Bagaimana tidak? Annisa seakan mengejeknya saat ini. Dan jujur bagi Zahra ini bukan lah hal yang menyenangkan.
Ah, betapa menyebalkan nya Anni-
"Dia akan menikah. " Jawab Annisa berhasil membuat Zahra membeku.
Zahra P. O. V
__ADS_1
"Dia akan menikah. "
Deg
Aku terdiam, tiba-tiba lidah ku terasa kelu. Sangat sulit untuk bersuara.
Ah, mungkin aku salah dengar.
Iya, sudah pasti aku salah dengar karena terlalu memikirkan Razi. Tak mungkin Razi menikah, bukankah ia mengatakan nya sendiri bahwa ia hanya mencintai ku? Dan satu-satunya orang yang ada dihatinya hanya aku, yah dia mengatakan nya sendiri. Jadi tak mungkin ia menikah secepat itu. Ah, telinga ku ini pasti bermasalah.
"Zahra, apa kau mendengar ku?" Panggil Annisa membuat ku kembali tertarik dari alam bawah sadar ku.
Aku mengangguk ragu.
"Siapa yang akan menikah? " Tanya ku takut-takut. Annisa memutar bola matanya malas, mungkin ia kesal jika aku berbohong mengenai mendengar kan nya.
"Aku tau bahwa kau tak mendengar kan ku, uh menyebalkan sekali. " Gerutu nya terdengar manja.
"Razi akan menikah Zahra ku tersayang. " Jawabnya terdengar bahagia.
Ah, sialan! Aku benci perasaan ini. Rasanya sangat sakit, bagaimana ini?
Ya Allah, dadaku mengapa berdenyut nyeri? Ini sangat menyakitkan!
Omong kosong apa yang dikatakan oleh kakak ku?. Itu bohong bukan? Ya, Allah itu bohong bukan?
Razi tak mungkin bukan menikah? Bukankah Razi sendiri yang mengatakan bahwa aku lah ratu dihatinya. Aku lah pemilik hatinya hanya aku!
Tapi kenapa?
Apakah karena kesalahan ku?. Apakah ini semua karena semua kekacauan yang ku buat?
Kak Razi, kau mencintai ku bukan? Kau akan membawa ku pergi kan? Tapi kenapa kau memilih lari?menikah?
Ini-
"Zahra, kau menangis dek? "
Aku terkejut dan dengan spontan kedua tangan ku meraba pipi ku. Dan yah, tanpa ku sadari aku menangis. Aku menangisi jalan hidup ku hancur dalam rencana yang ku buat sendiri.
"Aku.. "
"Kau bahagia bukan? Aku tau-"
Bahagia?
Omong kosong apa ini? Aku bukan nya bahagia, justru aku merasa sakit setelah mendengar semua ini. Ini sangat sakit kau tau?
"-apalagi Nabila juga mengatakan bahwa -"
"CUKUP!!!! " Marah ku terluka. Jadi gadis yang akan menjadi pendamping nya nanti adalah Nabila, yang benar saja?
"Zahra kamu ke-"
"Kapan? " Potong ku sakit, bahkan ia membalas ku dengan kejam.
"Satu hari lagi, tepatnya-"
"Aku mengerti! "
Aku tersenyum kecut, mengangguk mengerti walau bagaimana pun aku tak mengerti dan tak mau mengerti. Ini adalah yang paling menyakiti ku di dunia ini. Ah, ini sangat mustahil.
"Aku ingin beristirahat. Bisakah kakak keluar, aku lelah. " Bohong ku berniat mengusirnya. Namun aku tak berbohong mengenai rasa lelah ku, aku butuh sendiri untuk saat ini. Aku butuh sandaran, namun siapa? Tak ada. Dan kalian bisa tebak sendiri dengan cara apa aku melampiaskan semua ini, benar aku menangis. Jangan menganggap ku cengeng karena jika kalian jadi aku maka kalian akan melakukan hal yang sama, menangis atau mengakhiri hidup.
Mengakhiri hidup?
Itu bukanlah hal yang konyol dan tidak buruk karena bagaimana pun aku memendam rasa kepadanya sejak kecil atau dari 10 tahun yang lalu, dan ku rasa mengakhiri hidup bukan lah yang buruk.
Annisa memandang ku bingung, namun karena tidak ingin mengganggu ku akhirnya ia mengangguk kan kepala nya paham seraya berjalan keluar dari kamar ku setelah mengucapkan salam. Setelah pintu kamar ku benar-benar tertutup rapat, ku langkah kan kaki ku menuju sisi pintu dan berakhir menguncinya rapat.
Aku terduduk di lantai, ucapan Annisa masih saja berputar-putar di kepala ku. Razi akan menikah dengan Nabila bahkan tepat di hari pernikahan ku.
Ah, ternyata Allah benar-benar menghukum ku.
Tapi aku mencintai nya? Aku tak mungkin rela melihatnya bahagia bersama yang lain, bohong bila orang orang mengatakan bahwa ia akan bahagia melihat orang yang di cintai bahagia bersama yang lain. Itu hanya omong kosong! Itu tidak benar!. Mereka yang mengatakan itu adalah orang-orang yang munafik dan naif!. Mereka pembual.
Mengapa aku bisa mengatakan hal ini?
Tentu saja karena aku sedang berada di posisi ini. Aku merasakan nya bahwa orang yang ku cintai akan dimiliki oleh orang lain dan aku tak rela melihatnya bersama yang lain apalagi jika mereka sampai bahagia. Aku tak bisa dan aku tak akan sanggup, rasanya sakit sekali. Sangat sakit.
Bahkan bernafas saja rasanya sulit. Karena begitu tubuh ini bernafas maka dengan sendirinya rasa denyut yang menyesakkan menjalar ke bagian tubuh ku yang lain.
Apakah ada yang ingin memberi tahu ku bagaimana cara menghilangkan semua rasa sakit ini?
Jika kalian tahu tolong beritahu aku, ku mohon..
__ADS_1
Bersambung..