
"Ayo, mbak kita ke sana." Begitu mendengar salam Alif, Fira langsung menarik tangan Annisa agar berbalik arah menuju ke ruang tamu yang baru beberapa menit mereka tinggalkan.
"Kita mau kemana, dek?" Annisa sebenarnya tahu kemana ia akan dibawa namun tetap saja ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.
"Kita mau ke Mas Alif, mbak, dia kan udah pulang tuh."
Fira tahu betapa pemalunya Annisa, apalagi jika bersangkutan dengan Kakaknya. Maka dari itu ia akan membantunya untuk terus dekat dengan Alif, ah- lebih tepatnya Fira akan membantu semua gadis yang menyukai Kakaknya untuk lebih dekat lagi dengan Alif. Asalkan gadis itu adalah gadis yang baik maka Fira akan dengan senang hati menerima mereka.
Ia akan menduga-duga gadis yang mana berhasil masuk ke dalam hati Alif, entah itu Annisa, Marwah, Nabila, ataupun Aisha. Fira tidak akan menghalangi mereka bersama.
"Kenapa tidak nanti malam saja?" Tanya Annisa malu-malu.
Untungnya ia bercadar atau kalau tidak Fira pasti bisa melihat wajahnya yang sudah memerah malu. Ia menunduk tersipu menahan luapan rasa senangnya karena akhirnya ia bisa bertemu dengan Alif, laki-laki yang selama ini ia sukai.
"Mbak, ih, kalau nanti malam itu konteksnya lain. Tapi kalau sekarang anggap aja Mbak sedang temu reuni dengan Mas Alif." Fira tidak ingin mendengar sanggahan Annisa lagi, oleh karena itu ia langsung menarik cepat langkah Annisa agar mau mengikutinya dengan patuh masuk ke dalam ruang tamu lagi.
"Mas Alif, lihat deh siapa yang Fira bawa." Suara menggoda Fira masuk ke pendengaran Umi dan Alif.
Sontak membawa pandangan mereka jatuh kepada Annisa yang tertunduk malu di samping Fira. Melihat Annisa di sana, Alif lalu dengan sopan menganggukkan kepalanya kepada Annisa. Ini adalah respon ia menyambut kedatangan Annisa.
Lalu, pandangannya kemudian jatuh pada wajah cantik Fira yang masih jahil menggodanya.
"Sini Mbak." Ia mendudukkan dirinya di samping Umi yang terlihat sedikit berbeda dari terakhir mereka berbicara tadi.
"Bukankah seharusnya Annisa beristirahat di kamar, mu?" Beberapa menit yang lalu Annisa seharusnya sudah beristirahat di kamar putrinya. Namun mengapa tiba-tiba sekarang ada di sini.
Mendengar pertanyaan Uminya tentu saja tidak ingin ini merusak rencananya, ia lalu memeluk lengan Uminya manja seraya memberikan kedipan mata sepintas namun bisa dilihat dengan jelas oleh Umi.
"Mbak Annisa gak nyaman di kamar, katanya gak apa-apa duduk di sini. Lagipula di sini juga ada Mas Alif, mereka bisa mengobrol sepatah dua patah mengenai program kerja yang akan mereka laksanakan selama Mbak Annisa mengabdi di sini. Gak apa-apa kan, Umi?" Suara Fira memelas, berharap Uminya mau mendukung rencananya.
Mengerti tujuan sang putri, suasana hati Umi kembali menjadi santai. Jarang-jarang putrinya bertingkah seperti ini, mungkin ia ingin segera melihat Kakaknya menikah.
"Kalau Annisa tidak merasa keberatan Umi tidak akan khawatir lagi, bagaimana Annisa?" Tetap saja kenyamanan Annisa harus diutamakan di sini.
Tersenyum manis, sudut matanya menunjukkan betapa manisnya senyuman itu.
"In shaa Allah, Annisa gak apa-apa Umi." Ucap Annisa sopan, mengenyahkan kekhawatiran Umi kepadanya.
"Tuh kan, Fira juga bilang apa." Ucap Fira senang seraya semakin bergelayut manja pada lengan Uminya.
Kemudian di ruangan itu menjadi hening.
Mereka semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Umi sibuk dengan ekspresi Alif yang terlihat serius ingin membicarakan sesuatu, namun karena ada Fira dan Annisa maka gagallah pembicaraan mereka. Lalu, Annisa sibuk dengan debaran jantungnya yang semakin berdebar hebat. Memenuhi hatinya dengan suasana hati yang manis juga menyenangkan. Dan Alif yang sibuk dengan pikiran misteriusnya.
Berbeda dengan semua orang, Dea justru merasa ada sesuatu yang salah di sini. Pasalnya, Alif sedari tadi terus saja menatapnya. Entah ia masih belum bisa menebak apakah Kakaknya ini sedang melamun atau sadar karena saat diberikan senyuman, Alif justru tidak merespon apapun dan dengan teguh menatapnya.
Berpikir lagi, mungkin Alif terganggu dengan keberadaannya. Ah, benar mereka bertiga harus diberikan kesempatan untuk dekat bersama agar Umi terbiasa dengan Alif dan Annisa.
Jadi, mungkin ia harus segera pergi dari sini sebelum rencananya hancur.
"Em Umi, Fira baru ingat kalau ada sesuatu yang harus Fira kerjakan di asrama. Jadi, Fira pamit dulu-" Mencium lembut tangan Uminya.
"Mas Alif, Mbak Annisa, Fira pergi dulu assalamualaikum." Lanjutnya tanpa menunggu jawaban dari mereka berdua ia langsung berlari keluar.
Berjalan keluar, ia tidak tahu harus kemana karena itu hanya alasannya saja tadi. Jika ia kembali ke asrama pasti ia bertemu dengan Zahra yang sedang temu kangen dengan Fia, Marwah dan Dira. Fira masih belum sanggup bertemu Zahra.
Ada rasa malu juga kecewa jika menyangkut namanya. Ia malu karena pernah menyakiti dan ia kecewa karena ia bingung mengapa dulu Zahra mengejar-ngejar cinta Alif jika ujungnya orang yang Zahra cintai sebenarnya adalah Razi.
Ini..masih belum bisa Fira terima.
__ADS_1
"Ah, Kak Aisha!" Ia baru ingat jika ada Aisha di sini.
Daripada berdiam diri seperti orang bodoh lebih baik ia pergi saja menemui Aisha. Apalagi Fira bisa menebak jika Aisha pasti bosan sendirian di dalam kamar. Nah, berhubung sama-sama bosan kenapa tidak mengobrol bersama.
"Assalamualaikum, Mbak Aisha?" Salamnya sambil masuk ke dalam kamar tamu. Di sana ia lihat Aisha sedang asik memandangi jendela kamarnya.
"Waalaikumussalam," Tersenyum hangat.
"Ternyata itu kamu, dek." Ia bersyukur karena setelah sekian lama ia akhirnya mendapatkan teman bicara. Berdiam diri di dalam kamar ini membuatnya bosan. Ia tidak bisa kemana-mana karena ia juga takut keluar, ini bukan rumahnya dan ia tidak bisa sembarangan dalam melangkah.
"Mbak Aisha, apa kabar hari ini?" Tanyanya santai sambil mendudukkan dirinya di atas ranjang.
"Alhamdulillah, jauh lebih baik dari hari kemarin." Jawabnya jujur.
Mengangguk senang, Fira tidak sabar melihat Aisha ikut berbaur dengan orang-orang di sini.
"Wah Alhamdulillah, kalau begitu nanti malam Mbak Aisha sudah bisa pindah ke kamar staf dong." Ujarnya membawa kabar gembira.
"Kamar staf?" Tanya Aisha tidak mengerti.
"Iya Mbak, nanti malam Mbak Aisha akan dipindahkan ke kamar staf bersama Mbak Annisa. Kalian akan satu kamar selama tinggal di pondok pesantren ini." Ucap Fira menjelaskan Aisha.
"Jadi, ini adalah pondok pesantren?" Pantas saja ia selalu mendengar orang mengaji dengan suara yang mengalun lembut. Dan tidak jarang ia melihat beberapa santri dari jendela kamarnya ini, ternyata alasannya adalah karena ini pondok pesantren dan bukan sebuah perumahan.
"Lho, kok Mbak baru tahu?" Tanya Fira bingung. Ia pikir Aisha sudah tahu dari kemarin-kemarin.
"Kan Mbak gak pernah keluar dari kamar ini, juga kamu dan Umi tidak pernah menceritakan apapun tentang tempat ini." Yang masuk ke kamar ini kan hanya dua orang, Umi dan Fira saja.
Jadi, di antara mereka tidak ada yang pernah mengatakan apapun tentang tempat ini.
"Astagfirullah..Fira kirain Umi udah cerita-cerita tentang pondok pesantren ini."
"Terus, Mbak tahu gak siapa yang bawa Mbak ke sini?" Tanya Fira mengukur pengetahuan Aisha selama di sini.
"Nah, menurut Mbak, Gus Fansyah teh orangnya gimana?" Tanya Fira penasaran. Aisha adalah kadidat calon Kakak iparnya maka dan Fira ingin ketertarikan Aisha pada Alif semakin besar.
Sepintas, Aisha kembali dibawa pada malam ia di selamatkan Alif. Malam itu ia melihat Alif yang begitu luar biasa, jangan bicarakan fisiknya yang bak model tapi kelembutan hatinya pada perempuan-perempuan seperti Aisha yang menggetarkan hatinya.
Ia tiba-tiba menginginkan laki-laki yang menyelamatkannya ini menjadi miliknya.
"Gus Fansyah orangnya sangat baik dan lembut, dia sempurna di mata Mbak." Jawab Aisha seraya mengulum senyuman manisnya.
Rasanya ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Ouh, dia ganteng gak?" Pancing Fira penasaran.
"Hem, dia ganteng juga sangat kuat." Jawab Aisha spontan.
Rasanya, Fira ingin tertawa saja mendengar Kakaknya di puji seperti ini.
Tertawa tapi mengapa rasanya ia tidak rela Kakaknya dipandang seperti ini?
Ah, mungkin.. mungkin ini karena ia masih belum rela melihat Kakaknya, yah.. seperti itu.
\*\*\*\*
"Lho Mas Alif kok ada di sini?" Bingung Fira karena begitu masuk ke kamarnya ia dapati Alif sedang berbaring nyaman di atas ranjangnya.
"Puas kamu, dek?" Tanya Alif tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Fira tiba-tiba merasa tidak nyaman dengan suasana yang ada di sekelilingnya.
"Maksud Mas Alif, apa?" Mendudukkan dirinya di samping.
Alif tidak langsung menjawab dan dengan diam mengamati ekspresi Fira yang terlihat kurang nyaman.
"Lain kali jangan diulangi, okay?" Suaranya meminta jawaban.
Fira masih bingung apa yang dimaksud dengan Kakaknya ini, "Fira bakal ulangi, sampai semuanya berakhir." Meskipun tidak tahu apa-apa ia tetap saja mengikuti obrolan aneh Alif.
Tersenyum tipis, "Maka kamu harus terbiasa dengan rasa sakit." Ujar Alif semakin membingungkan Fira.
Tidak ingin melanjutkan topik aneh ini, lantas Fira langsung menjatuhkan dirinya ikut berbaring bersama Alif seraya memeluknya manja.
Namun, itu semua tidak berjalan lancar karena beberapa detik kemudian Alif bangun dari acar berbaringnya dan turun dari ranjang.
Memilih berdiri di depan jendela seraya berusaha menyembunyikan debaran jantungnya.
"Kamu gak boleh santai-santai dek, kasian Umi masak sendirian di dapur." Ucap Alif setelah beberapa detik diam.
Fira yang masih bingung dengan sikap Kakaknya lantas mendudukkan dirinya kembali di tempat semula.
"Kan di dapur ada Mbak Annisa sama Mbak Nabila di dapur yang bantu Umi, kalau Kakak gak percaya kenapa gak ke dapur aja. Di sana banyak banget yang bantu Umi masak." Ini fakta karena sebelum masuk ke kamar ia sempat ke dapur dan melihat banyak santriwati membantu Umi.
Tidak hanya ada Annisa dan Nabila, namun ada juga Dira dan Dia yang membantu di sana. Yah, walaupun Marwah tidak di sana tapi itu sudah sangat banyak membantu di dapur.
"Kakak maunya kamu yang masak sekalian belajar masak sama mereka, Kakak gak mau suami kamu nanti protes ke Umi hanya karena kamu gak bisa masak."
"Lho, tapi Mas suami aku harus menerima aku apa adanya dong kalau dia emang tulus nikahi aku." Yah, kalau gak mau nikah sama dia mending gak usah aja.
Masih banyak laki-laki di luar sana yang ingin menikahinya.
"Suami kamu juga butuh di bahagiakan oleh kamu, hanya karena dia menikahi kamu bukan berarti kamu harus selalu tampil apa adanya. Tapi berusahalah untuk tampil sebaik mungkin di depannya dan jangan sampai mengecewakannya, bukankah itu adalah kewajiban seorang istri kepada suaminya?" Ujar Alif menasehati.
"Tapi Mas..Fira kan belum tahu calonnya." Ragu Fira.
Membalikkan badannya, Alif menatap Fira dengan tatapan yang tidak biasa. "Percayalah, suami kamu adalah yang terbaik dari yang baik. Ia adalah pilihan Allah untuk mu in shaa Allah, jadi jangan takut."
"Udah, kamu ikut gabung sana ke dapur. Nanti Kakak bakal cek langsung dan cicipi masakan asli dari kedua tangan kamu." Ucap Alif memerintahkan seraya keluar dari kamar Fira.
Fira mau tidak mau mengikuti perintah Kakaknya, ia dengan tidak rela masuk ke dalam dapur dan bergabung bersama yang lain.
Ia berpikir keras masakan apa yang akan ia masak untuk Kakaknya ini karena ia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang dapur.
Menghela nafas pasrah, baiklah karena Kakaknya sudah memaksa maka ia akan memasak apapun yang ia bisa. Mungkin sedikit imajinasi di kepalanya tidak apa-apa. Lagipula ini adalah percobaan maka anggaplah ia sedang memasakkan suaminya makanan yang paling lezat.
\*\*\*
"Kak Razi kenapa?" Tanya Zahra khawatir melihat ekspresi aneh suaminya.
Ia dengan sayang memeluk Razi sambil menghirup puas wangi khas Razi. Wangi yang selalu membuatnya tenang dan nyaman diwaktu yang bersamaan.
Mungkin ini yang dinamakan jodoh sedunia dan seakhirat, sangat manis.
Mengecup lembut puncak kepala Zahra, ia kemudian membalas erat pelukan sang istri.
"Zahra, Abi dan Umi kemarin menceritakan sesuatu kepada ku." Suaranya menceritakan malam sebelum Abi dan Umi berangkat Umroh.
"Apa yang mereka ceritakan, Kak?" Tanya Zahra penasaran cerita apa yang sampai membuat suaminya kebingungan seperti ini.
__ADS_1
"Papa ku ternyata punya satu istri lagi selain Mama." Suara Razi merasa berat.
Bersambung...