
"Wah-wah ada angin apa nih Fira masuk dapur, jangan bilang mau ikut bantu masak juga di sini." Goda Fia menyambut kedatangan tidak terduga Fira.
Pasalnya Fira ini adalah orang yang sangat anti dengan masalah dapur. Alasannya sih ia tidak bisa memasak dan kurang paham dengan berbagai macam bumbu yang ada di sini.
Nah, berhubung dia tidak paham maka seharusnya dia ikut belajar memasak bersama yang lain. Tapi setiap kali di ajak belajar memasak, Fira selalu beralasan masih belum ada kemauan.
Sekarang melihatnya masuk di dapur secara tiba-tiba tentu saja Fia tidak bisa tidak merasa penasaran dibuatnya.
Fira dengan malas merespon Fia yang terlihat begitu penasaran melihatnya.
"Hem, Mas Alif bilang aku harus belajar masak dan dia gak mau tahu masakan apapun yang aku buat dia yang akan cicipin langsung." Ujar Fira lesu seraya mendekati Uminya yang sibuk memotong kecil-kecil daging sapi.
"Hahaha..pantas kamu mau ke sini soalnya Mas Alif langsung yang minta. Bagus juga nih..dengan begini kamu bisa belajar masak biar gak bebal waktu nikah nanti." Ujar Dira senang.
Pantas saja sepupunya ini mau masuk ke dapur karena orang yang telah memprovokasinya adalah Kakaknya sendiri dan Dira bisa jamin bahwa Fira akan sangat sulit menolak permintaan Alif.
"Ketawa aja terus sampai puas, lagian Fira juga orangnya sabar kok dizolimi kayak gini." Sungutnya tidak bersemangat.
Bahkan meski ia dihadapkan dengan berbagai macam bahan ini Fira masih belum tersulut akan memasak apa.
"Wah, keterlaluan kamu Fir, kalau mikir Mas Alif zolimin kamu. Entar aku lapor Mas Alif tahu rasa lho kamu." Ancam Dira dan Fia kompak, begitu senang mempermainkan ketidak berdayaan sepupu mereka ini.
Fira merasa tidak terima dengan perlakuan Fia dan Dira kepadanya, "Lho, kan aku gak bilang Mas Alif yang zolimi tapi yang aku maksud adalah kalian berdua. Gak boleh lho memutar balikkan fakta, Allah marah tahu rasa kalian." Ancam Fira balik tidak mau kalah dari dua orang usil ini.
"Fira ih baperan bawa-bawa nama Allah, gak asik ah."
Memutar bola matanya malas, "Yang nyari gara-gara duluan siapa?"
"Sst.. jangan pada berantem di sini mendingan kalian bertiga mulai bantuin masak deh biar cepat selesai." Umi yang sedari tadi menonton perdebatan mereka akhirnya bersuara juga.
Umi tidak ingin perdebatan kekanak-kanakan seperti ini membuat acara memasak mereka tertunda.
"Tuh, dengerin." Ejek Fira serasa di atas angin seraya menjauh dari jangkauan Fia dan Dira.
"Astaga.. sayuran apa yang bisa aku masak buat Mas Alif?" Gumamnya kebingungan menatap berbagai macam sayuran yang masih segar ini.
Memilah-milah sayuran hijau yang tidak asing untuknya namun tidak mengenal namanya, Fira akui memasak itu adalah pekerjaan yang rumit.
"Kamu lagi ngapain, dek?" Tiba-tiba suara Annisa memasuki pendengarannya, membuatnya langsung tersadar.
"Ah?" Responnya linglung.
Tersenyum lembut, wajah cantiknya yang tidak tertutupi cadar lagi membuat Fira langsung membeku di tempatnya.
Sejak kapan Annisa melepas cadarnya?
Dan mengapa ia harus melakukan itu?
Tapi...tapi bukankah cadar itu sunnah dan memakai atau melepaskannya bukanlah perkara yang penting. Itu sah-sah saja jika ingin bercadar atau tidak karena menggunakan cadar hanya sebatas sunnah dari pendapat para Imam besar.
Tapi..ini membuat Fira tiba-tiba menjadi tidak nyaman. Orang selembut dan sebaik Annisa mengapa harus melepaskan tabir pelindungnya?
"Kamu lagi ngapain di sini, kok ngelamun gitu?" Annisa dengan sabar mengulangi pertanyaannya. Wajah tersenyumnya yang cantik seketika membuat Fira berpikir.
Ia berpikir jika Alif sampai melihat wajah cantik ini akankah hatinya akan berlabuh kepada Annisa?
__ADS_1
Tapi.. mengapa ia tidak bisa menerima pemikiran ini?
Ia sedikit tidak rela.
"Ah..ya, Fira.. Fira mau masakan Mas Alif tapi Fira masih belum hapal dengan sayuran yang ada di sini. Fira juga bingung harus masakin Mas Alif apa." Meskipun tidak nyaman, Fira berusaha mengusir pikiran aneh yang sempat mengusiknya tadi.
Lagipula bukankah sedari awal inilah yang Fira inginkan untuk Alif, ia berusaha menjodohkan Alif dengan gadis-gadis cantik dan luar biasa yang ia kenal.
Sekarang sudah ada di depannya lalu mengapa ia harus meragu seperti ini?
Ini konyol!
"Gak usah heran Mbak, Mas Alif ngelakuin ini agar Fira mulai membiasakan diri di dalam dapur. Ia tidak ingin melihat Fira menjadi gadis bebal yang tidak mengerti urusan dapur padahal Fira adalah seorang perempuan." Sahut Dira memberikan penjelasan tanpa diminta Annisa.
"Mashaa Allah, itu bagus Fir. Biasakan diri di dalam dapur agar bisa mengenal dan memahami apa yang ada di dalamnya." Takjub Annisa.
Ia mengerti bagaimana jalan pikiran Alif kepada adiknya karena Annisa pun pernah diposisi yang sama ketika mengurus Zahra dulu.
Ia harus berusaha keras mengajak Zahra masuk ke dalam dapur dan mengajarinya bagaimana cara memasak yang baik.
"Boleh Kakak bantu, gak?" Ucap Annisa menawarkan sebuah bantuan tanpa pamrih kepada Fira yang masih terlihat linglung.
"Ka-kalau Mbak Annisa tidak keberatan maka Fira juga akan senang." Jawabnya sedikit canggung.
Fira masih belum terbiasa dengan tampilan Annisa yang seperti ini. Rasanya ia sedang berhadapan dengan orang lain yang asing dan baru ditemui.
"Alhamdulillah..Mbak gak masalah kok, oh yah..Fira mau masak apa buat Mas Alif?" Tanyanya terdengar bersemangat.
Berusaha setenang mungkin di depan Annisa. "Fira ikut Mbak aja." Jawabnya pasrah mengikuti jalan yang akan Annisa tunjukkan.
Berhubung ini adalah perintah Alif untuk Fira maka Annisa pikir ia tidak berhak menentukan tentang masakan apa itu.
Ia hanya bisa mengikuti kemauan Fira dan dengan perlahan ia akan membimbingnya untuk tahap-tahap memasak makanan tersebut.
"Ah.." Pikiran Fira tiba-tiba tidak bisa bekerja secepat biasanya. Rasanya terlalu lambat dan ia bingung harus memasak apa.
Berpikir keras akhirnya pilihan Fira jatuh pada sayuran kangkung yang dikenalnya. Ia ingin membuat sayuran tumis kangkung untuk Alif.
Tumis kangkung yang akan ia buat mempunyai rasa yang tidak terlalu manis juga tidak terasa pedas. Hanya seimbang saja dan cocok apalagi dicampur nasi putih yang masih hangat.
Memikirkannya entah mengapa membuat semangat memasak Fira melonjak. Ia ingin segera menyelesaikan masakannya dan melihat bagaimana reaksi Alif terhadap masakannya.
Ah, tidak!
Tidak!
Berhubung di sini ada Annisa maka kenapa tidak Annisa saja yang memasakkan Alif. Ini akan semakin menambah kedekatan mereka berdua secara alami.
Hem..benar, Alif mungkin tidak akan marah jika itu adalah Annisa. Apalagi sekarang Annisa sudah tidak bercadar lagi maka akan dipastikan Alif akan mudah melupakan Zahra.
Tidak perlu dipikirkan perasaan tidak nyaman ini karena itu wajar saja ia kaget melihat perubahan Annisa yang tiba-tiba. Ini juga mungkin karena ia masih belum rela melihat Alif menikah secepat itu.
Yah, ini adalah sesuatu yang wajar!
"Fira buat tumis kangkung aja deh, gak apa-apa kan Mbak?"
__ADS_1
"Gak apa-apa kok, lagipula ini tidak sesulit yang Fira pikirkan." Setuju Annisa seraya mengambil sayur kangkung ke hadapannya.
"Kita mulai dari potong sayurnya dulu yah, abis itu kupas bawang putih bawang merah dan diiris tipis-tipis-"
\*\*\*
"Ini masakan kamu?" Tanya Alif tidak percaya setelah mencium baunya yang tidak cocok untuk ukuran pemula seperti Fira.
Seharusnya akan ada bau-bau yang aneh tercium karena ini adalah pertama kalinya Fira memasak.
Merasa santai, "Mas Alif coba aja dulu baru Fira jawab."
Mendengar jawaban Fira yang seperti ini Alif akhirnya mendapatkan pencerahan. Yah, masakan ini pasti bukan masakan Fira.
Ia yakin karena jika Fira yang memasaknya seharusnya ia tidak akan bersikap setenang ini.
"Ini yang masak siapa?" Alif tidak mau mendengarkan Fira dan justru menuntut balik.
Ia ingin Fira mengatakannya secara jujur.
Fira tertegun, ini buruk pikirnya.
Alif terlihat serius dengan pertanyaannya dan Fira juga tahu bahwa tidak ada gunanya terus bermain-main seperti ini.
"Ini..ini Fira yang masak.." Jawab Fira setelah menimbang dampak baik dan buruknya.
Alif, "......" Masih enggan mengatakan apapun.
"Yah, sebenarnya yang masak Mbak Annisa dan Fira juga bantu-bantu kok." Suaranya gugup.
Melihat Alif yang masih enggan merespon, Fira mau tidak mau menjelaskannya sekali lagi.
"Iya, Fira bantu-bantu potong kangkungnya terus bantu kupas bawang putih sama merah. Kan..ini sama aja Fira masak di dapur." Jadi seperti ini, karena ia ingin mendekatkan Annisa dan Alif maka jadilah selama di dalam dapur ia hanya bantu-bantu memotong sayur dan mengupas bawang.
Setidaknya ini sudah lebih baik daripada tidak melakukan apapun, bukan?
Alif seketika tidak bisa mengatakan apapun, menatap kosong masakan yang ada di atas piringnya ia lalu dengan tenang menggeser piring tersebut menjauh seraya membawa pandangannya menatap dalam mata persik Fira.
"Kakak gak mau makan apa yang dimasak oleh orang lain, Fira kenapa kamu masih belum mengerti?" Ada keputus asaan saat mengatakan ini.
Mungkinkah perasaan ini juga yang dirasakan Razi ketika berhadapan dengan Zahra dulu?
Jika iya, maka amat sangat melelahkannya itu.
"Fira..Fira gak maksud gitu, Mas." Suara Fira merasa bersalah.
Padahal Alif sudah meluangkan waktu menunggunya di sini untuk mencicipi makanan yang ia buat. Namun karena kecerobohannya justru ia mengecewakan Alif.
"Mas Alif lebih baik ikut gabung aja di meja makan bersama yang lain, Fira gak mau Mas Alif sia-sia menunggu di sini." Bahkan Alif rela tidak ikut bergabung bersama yang lain di meja makan hanya karena untuk mencicipi hasil tangannya.
"Kamu masak ulang dan kali ini Kakak yang akan langsung awasi kamu di dapur." Ucap Alif final yang langsung membuat Fira kosong seketika.
"Hah?"
Bersambung...
__ADS_1