
Siangnya, setelah pulang sekolah Fira dan Dira langsung pergi mencari tumbuhan sirih di sekitar pondok pesantren ini. Meskipun tidak pernah melihatnya namun mereka berdua yakin pasti ada yang tumbuh di sini, entah itu secara liar atau sengaja ditanam Fira dan Dira tidak yakin. Namun yang pasti tanaman sirih ini harus ada di sini!
"Fira, nanti kalau kamu merasa capek langsung bilang ke aku yah." Dira takut Fira sampai kenapa-napa apalagi saat ini wajahnya begitu pucat, ah!
Fira mengerti kekhawatiran sepupunya, ia juga sebenarnya tidak ingin membebani Dira di sini. Ia tahu jika Dira pasti kelelahan setelah duduk dan belajar berjam-jam di dalam kelas.
"Kamu tidak perlu khawatir Dira, aku pasti memberitahu mu jika aku sudah tidak sanggup lagi berjalan." Ucapnya menghibur kegelisahan Dira.
Setiap menstruasi Fira memang selalu seperti ini dan biasanya ia akan meredakan rasa nyerinya dengan minum obat. Tapi kemarin ia sudah minum dan nyerinya tidak pernah berkurang seperti yang lalu-lalu. Ia bingung apakah tubuhnya sudah kebal dengan obat-obatan itu?
"Tapi Fira, aku saranin lebih baik kamu minum air kunyit aja deh daripada harus capek-capek keliling gini. Takutnya nanti kamu kenapa-napa lho di sini." Dira tidak bisa tidak merasa khawatir melihat Fira yang sudah seperti ini.
Lihat saja caranya berjalan, ia terus saja membungkuk sambil sesekali memegangi perut bagian bawahnya.
Fira mengernyit tidak suka ketika membayangkan bau kunyit yang menyengat memasuki mulutnya. Itu terlalu menakutkan untuk ia minum dan jujur Fira tidak pernah bermimpi meminum air kunyit setelah mencium baunya.
"Jangan katakan lagi, aku tidak sanggup membayangkan air kunyit dengan bau menyengat itu memasuki mulut ku." Fira menolak dengan tegas, menggerakkan tangannya tidak sanggup.
Jika Fira sudah berkata seperti ini maka dia Dira tidak bisa mengatakan apapun lagi, yah namanya orang yang tidak bisa minum kunyit kan tidak bisa dipaksa.
"Baiklah, tapi setidaknya kamu harus makan siang dulu baru mencari daun itu." Keluh Dira padanya.
Fira menggeleng pelan, memindai tempat yang mirip kebun dengan berusaha seteliti mungkin.
"Percayalah Dira, jika kau ada di posisi ini maka kau tidak akan pernah mau melihat makanan. Itu membuat mu semakin mual."
"Hem..Hem..aku percaya." Suara Dira tidak berdaya.
Percuma saja berbicara kepada manusia batu karena ujung-ujungnya apa yang kau katakan hanya angin lalu untuknya.
"Assalamualaikum Dira, Fira?" Tiba-tiba suara seorang laki-laki menginterupsi kegiatan mereka mencari daun sirih.
"Waalaikumussalam." Jawab Fira dan Dira langsung begitu mendapati ada kepala asrama laki-laki di sini.
"Kalian..apa yang kalian lakukan di tempat ini?" Tanyanya sambil mengedarkan pandangannya menatap tempat ini.
Dira yang lebih tua dari Fira tentu saja mengambil alih pembicaraan, di samping itu ia juga tidak tega melihat Fira banyak bicara dalam keadaan seperti ini.
"Kami sedang mencari daun sirih, tapi hampir satu jam kami berkeliling kami masih belum menemukannya." Jawab Dira tidak menyembunyikan pencarian mereka.
Malah ia berdoa agar laki-laki ini mau membantu mereka mencari daun sirih karena dengan begitu mereka bisa cepat menemukannya tanpa memakan banyak waktu.
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Sekilas Fira bisa melihat jika bola mata laki-laki ini sesekali melirik Fira yang ada di sampingnya. Hem, sepertinya laki-laki ini cukup tertarik dengan Fira.
"Aku tahu dimana tanaman ini berada." Ucapnya memecahkan masalah.
"Benarkah?" Ini bukan Dira yang berbicara tapi Fira yang sudah lelah kepanasan dari tadi. Ia awalnya ingin menyerah saja dan bersabar menahan perih perutnya karena menurut pengalamannya sakitnya hanya satu atau dua hari saja.
Laki-laki itu tersenyum manis, menganggukkan kepalanya tanpa ragu seraya memfokuskan perhatiannya kepada Fira yang antusias.
"Itu benar." Jawabnya tanpa meninggalkan senyuman manisnya.
Mengalihkan pandangannya menuju ke arah semak-semak yang tidak terlalu rimbun.
"Kalian tunggu di sini dulu." Pintanya seraya berjalan ke arah semak-semak tersebut. Karena laki-laki ini tinggi maka ia tidak kesulitan untuk melihat apa yang ada di dalam semak-semak tersebut.
"Fir, apakah kau merasa ada sesuatu yang aneh dengan laki-laki ini?" Pancing Dira ingin menarik argumennya. Meskipun ia tidak yakin jika Fira tidak peka namun tetap saja ia ingin menanyakan hal ini.
"Aneh?" Suaranya bergumam.
"Aku pikir tidak ada yang aneh dengan dia." Benar, setelah dipikir-pikir laki-laki ini terlihat normal dan tidak ada yang mencurigakan dari gerak geriknya.
"Ah, aku mengerti." Dan seperti yang ia duga anak ini tidak terlalu peka dengan aura yang laki-laki ini bawa.
__ADS_1
Hem, menarik pikirnya.
"Kenapa kau menanyakan hal ini?" Tanya Fira curiga jika sepupunya ini melihat sesuatu yang aneh. Pasalnya Dira ini selalu sulit di tebak dan Fira tahu bahwa ia tidak akan bisa menebak jalan pikiran Dira.
"Apa kau melihat ada sesuatu yang salah darinya?" Tanyanya lagi dengan mata yang sesekali melirik laki-laki tersebut.
Dira tersenyum ringan seraya menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang salah, aku hanya iseng saja ketika menanyakan ini." Jawab Dira berbohong. Untuk sementara waktu ada baiknya Dira mengamati saja bagaimana perkembangan hubungan laki-laki ini dengan Fira.
Ia tidak akan mengganggu jalan mereka asalkan Fira juga menyukainya.
"Fira, ini daun sirihnya. Alhamdulillah ternyata tumbuhannya masih ada dan masih sehat." Laki-laki itu kembali lagi dengan setumpuk daun sirih yang masih segar dan harum. Menjulurkan kedua tangannya yang memegang daun sirih kepada Fira.
Melihat apa yang ia cari tersedia banyak di depan mata, lantas kedua tangan Fira terangkat ingin meraihnya. "Alhamdulillah, terima-"
"Randi, berikan daun itu kepada ku." Suara Alif meminta. Tiba-tiba tanpa sepengetahuan semua orang ia sudah berdiri di samping Fira dengan tangan terulur ingin mengambil alih apa yang dipegang Randi, kepala asrama laki-laki pondok pesantren ini.
"Ma-Mas Alif?" Kedua tangannya yang sempat terulur tadi membeku, entah mengapa ada perasaan bersalah yang menyerang Fira saat ini.
Seakan-akan ia sudah melakukan kejahatan yang besar dan tidak dapat dimaafkan, namun kejahatan apa itu Fira masih tidak mengerti.
"Ah.. Gus Fansyah.." Tidak hanya Fira, Randi pun ikut terkejut ketika melihat kedatangan Alif yang tiba-tiba.
Sejak kapan ia berada di sini?
"Daunnya tolong berikan kepada ku." Ulang Alif lagi karena Randi belum memberikan daun tersebut kepadanya.
Tersadar dari lamunannya, segera Randi mengulurkan tangannya dan memberikan daun sirih tersebut ke tangan Alif.
"Ini Gus daunnya, maaf tadi saya tidak merespon langsung karena pikiran saya tiba-tiba linglung" Iya, linglung karena calon pewaris pondok pesantren ini sekarang sedang berdiri menatapnya. Ia sangat dekat bahkan sampai membuat Randi takut melakukan sesuatu yang konyol.
"Tidak apa-apa, malahan aku seharusnya berterima kasih kepada mu karena telah membantu adik-adik ku menemukannya." Alif tentu saja tidak perduli dengan respon laki-laki yang terlambat karena hal yang paling ia perdulikan adalah daun sirih yang Randi pegang.
"Ini bukan apa-apa Gus karena kebetulan saya juga sedang mencari sesuatu di sini."
Dari samping Dira yang tidak pernah berbicara sejak kedatangan Alif diam-diam memperhatikan jika ekspresi Alif sedikit bermasalah. Itu seperti ada ekspresi ketidak sukaan di sana namun itu samar dan terlihat menipu orang lain. Untungnya Dira sudah memperhatikannya atau kalau tidak mungkin ia akan melewatkan momen penting ini.
Yah, jarang sekali melihat Alif berperilaku seperti ini karena biasanya Alif adalah orang yang pandai mengontrol penampilan luarnya seburuk apapun suasana hatinya. Lihat saja saat ia gagal menikahi Zahra dulu, Alif tidak memberikan ekspresi yang menyedihkan. Bahkan ia terlihat terlalu santai.
"Ya sudah kalau begitu, Fira dan Dira segera kembali ke kamar kalian. Berada di tempat ini kurang baik untuk perempuan." Instruksi Alif memutuskan untuk langsung membawa mereka pergi dari sini.
Apalagi ia juga sudah tidak tahan melihat Fira yang terlihat tidak nyaman di sini.
Tersadar dari pikirannya yang aneh, "Baik Gus, kami akan kembali ke asrama kalau begitu, assalamualaikum." Pamit Dira sambil menarik tangan Fira, mengikuti langkahnya. Meninggalkan Alif dan Randi yang sepertinya akan membicarakan sesuatu.
Berjalan ringan menuju asrama, pikiran Dira sudah dibawa melayang ke suatu tempat yang hanya Allah saja yang tahu dimana itu. Ia bingung juga bertanya-tanya apakah itu hanya perasaannya saja?
Tapi intuisinya mengatakan jika apa yang ia lihat dan rasakan adalah sebuah kebenaran, benarkah?
Bukankah itu terlalu gila?
"Mengapa aku merasa jika Alif sedang cemburu?" Gumam Dira bingung.
"Apa kau tadi mengatakan sesuatu?" Tanya Fira tidak yakin karena suara Dira terlalu kecil dan kurang jelas tadi.
"Ah..tidak, aku tidak mengatakan apa-apa." Elak Dira tidak ingin memberi tahu pikiran konyol apa yang sudah merasukinya tadi.
"Ah, ja-"
"Fira, ikut Kakak kembali ke rumah." Alif memotong cepat tidak memberi waktu Fira dan Dira bereaksi ia sudah menarik tangan Fira untuk mengikuti langkahnya ke rumah Umi.
Mereka pergi dengan cepat dan Dira tidak bisa mengatakan apapun selain mengamati secara diam-diam dari belakang. Meskipun sekilas ia tetap saja bisa melihat ada sesuatu yang tidak biasa tentang Alif. Dan memikirkannya secara terus menerus tidak bisa tidak membuat Dira mengerutkan keningnya tidak nyaman.
"Apa Gus Fansyah menyukai ku?" Pikirnya konyol.
__ADS_1
"Karena itu tidak mungkin Fira'kan?" Lanjutnya lagi merasa lucu. Mereka sedarah okay jadi tidak wajar melihat Alif cemburu kepada Fira. Ini hanya wajar jika Alif cemburu kepada Dira yang jelas-jelas sepupunya.
***
"Duduk." Suara Alif dingin, terdengar begitu marah dan kesal pada saat yang sama.
Fira yang menjadi objek kemarahannya tidak mengerti mengapa Kakaknya marah seperti ini kepadanya. Fira yakin seyakin-yakinnya bahwa ia tidak pernah membuat kesalahan apapun. Ia juga semakin yakin ketika mengingat hari ini mereka tidak pernah bertemu kecuali tadi pagi.
"Mas Alif kenapa?" Mungkin karena Alif sedang punya masalah dengan pekerjaannya di kantor segala sehingga membuatnya begitu kesal saat ini.
Alif mengangkat kelopak matanya, menatap Fira dengan diam. Ia seakan acuh dengan pertanyaan Fira tadi karena rasa kesalnya yang sudah mendominasi.
Dug
Dug
Dug
Jantung Fira memompa keras dengan tidak jujur ketika dipandang seperti ini oleh Alif. Bahkan ia bisa merasakan jika kedua pipinya pasti saat ini sedang memerah menahan gugup. Ah, mengapa tiba-tiba merasa malu seperti ini padahal biasanya ia tidak akan merasakan apapun jika berduaan dengan Alif.
Tapi,
Tapi Alif dulu juga tidak pernah menatapnya seperti ini, apa itu hanya perasaannya saja?
"Bukankah Kakak sudah mengatakannya?" Suara Alif tidak lagi selembut biasanya.
Fira tersadar dari pikirannya yang konyol, memperbaiki duduknya senyaman mungkin ia lalu membalas tatapan Alif dengan nyali setengah-setengah.
"Me-mengatakan apa?" Dan bodohnya Fira tidak bisa menyembunyikan betapa gugupnya ia saat ini!
"Kau tidak bisa dekat dengan laki-laki manapun karena kau akan segera menikah, tapi apa itu tadi?" Ucapnya dingin, mengingatkan Fira akan pembuatan mereka beberapa hari yang lalu.
"Fira gak pernah dekati laki-laki manapun, jika itu tentang laki-laki tadi bukankah ia sudah menjelaskannya kepada Kakak bahwa kami tidak sengaja bertemu dengannya. Selain itu juga laki-laki itulah yang tadi membantu kami menemukan daun sirih jadi mengapa Mas Alif sangat marah?" Jawab Fira tidak bisa tidak merasa kesal.
Jelas-jelas itu sudah dijelaskan oleh laki-laki itu bahwa pertemuan mereka karena kebetulan ia juga sedang mencari sesuatu di tempat itu. Tapi mengapa Alif masih saja belum mengerti, apalagi menuduhnya mendekati pria lain!
"Baik, jika apa yang kamu katakan itu benar tapi bagaimana dengan ini, mengapa kamu tidak mencari Kakak untuk mendapatkan apa yang kamu butuhkan. Daripada mencari Kakak tapi kamu malah pergi sendiri dan bertemu dengan laki-laki itu. Apakah kamu bisa menjelaskannya?" Alif masih belum menerima hal ini karena seharusnya Fira mencarinya untuk mendapatkan apa yang ia butuhkan.
Tapi mengapa harus pergi sendiri sampai harus bertemu dengan laki-laki itu.
Mendengar ini, Fira langsung terdiam. Meremat kedua tangannya gugup, ia tidak tahu harus merespon apalagi karena tidak mungkin Fira mengatakan hari ini ia sedang kesal jika itu berbicara tentang Alif.
Ia marah dan sakit hati pada saat yang bersamaan, namun Fira tidak tahu mengapa itu bisa terjadi, ah!
Hening.
Tidak ada lagi yang bersuara dan hanya masalah yang diam-diam bicara, menyampaikan betapa kecewanya hati masing-masing.
Bagi Alif, Fira terlalu bersikap semaunya dan Alif bingung bagaimana harus bersikap mengingat ia juga tidak bisa terlalu marah pada Fira. Namun, Alif juga tahu bahwa Fira harus diberikan pelajaran agar dia kapok untuk membuat Alif kesal.
Yah, itu benar.
Karena sudah seperti ini mengapa Alif tidak melakukan itu saja untuk memberikan efek jera yang efektif untuk Fira.
"Aku harus kembali ke kantor dulu," Bangun dari duduknya, ia melirik daun sirih yang menumpuk di atas meja.
"Minta Umi atau Dira dan Fia menempel kan mu daun ini." Ucapnya lagi sambil pergi meninggalkan Fira sendirian di ruangan ini.
"Itu karena hatiku selalu sakit jika bertemu dengan mu maka dari itu aku tidak mencari mu." Gumamnya sedih.
Ia tidak bisa mengatakan ini saat menjawab pertanyaan Alif, Fira tidak tahu apakah Alif akan merasa aneh ketika mendengarnya karena ia sendiripun akui bahwa ini terlalu aneh untuk diucapkan.
Bersambung...
__ADS_1