Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Dia Sangat Aneh


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


"Annisa, bangun nak. Ini sudah waktu nya sholat malam.." Umi mengetuk kamar Annisa dengan suara lembut khas seorang ibu.


Mendengar suara uminya memanggil namanya, Annisa tidak merespon banyak. Ia semakin menarik selimut nya yang hangat dan lembut untuk menenggelamkan tubuhnya yang masih terbuai di alam mimpi.


Umi menggeleng kan kepala nya heran karena biasanya saat dibangunkan seperti ini Annisa tidak pernah semalas ini.


Menghela nafas, umi mencoba untuk memanggilnya lagi untuk yang kesekian kali. "Annisa, bangun nak. Ini sudah waktunya sholat malam. " Kali ini suara umi lebih besar lagi dari sebelumnya.


Terkejut, "Asstagafirullah. " Annisa mendudukkan tubuhnya seraya menggosok kedua matanya terburu-buru.


"Asstagafirullah, Annisa lupa memberitahu umi bahwa Annisa batal mandi besar tadi sore. Umi pasti berpikir bahwa aku sudah tidak halangan lagi. " Bergegas, Annisa langsung turun dari ranjang nya seraya meraih jilbab instan disamping nakasnya.


"Umi, Annisa minta maaf karena lupa memberitahu umi kemarin sore. Annisa tidak jadi mandi besar karena memang masih belum selesai. " Begitu membuka pintu kamar nya, ia dapati uminya yang sudah menggunakan muknah dan wajahnya yang sudah tidak muda lagi kini telah basar oleh air wudhu. Menyesal, ia tidak ingin membuang kesempatan untuk tidak mengungkapkan rasa maafnya kepada umi.


Sementara annisa menyesal, umi hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Annisa yang menatapnya dengan wajah panik yang lucu.


"Udah selesai ngomongnya?" Tanya umi sambil tersenyum hangat.


Annisa hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan umi, ia hanya merasa heran mengapa umi tersenyum dengan kelakuan nya dan bukannya merasa sedih.


"Tidak apa-apa, nak. Ini bukan masalah yang besar, lagi pula bukankah Annisa juga sudah mengatakan maaf kepada umi?," Tersenyum hangat.


"Umi puas dengan sikap Annisa yang matang seperti ini, umi bangga, nak. " Umi berseru senang, menepuk kedua pipi Annisa dengan lembut dan sayang.


Melihat uminya tersenyum bahagia, Annisa tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Ia juga tersenyum hangat, membalas senyuman hangat uminya.


"Jangan kan, Annisa pun sangat bangga mempunyai umi sebaik dan sehangat umi. Annisa tidak bisa mengelak bahwa Annisa seperti ini juga karena didikan umi. " Annisa berseru senang, menatap wajah uminya dengan senyum ketulusan.


Namun, tiba-tiba wajah cantik umi yang berhiaskan senyum dan kebahagiaan kini berubah menjadi wajah yang murung dan tatapan sendu.


Mata umi terlihat berkaca kaca dan lelah.


"Tidak, nak. Umi tidak sebaik yang kamu katakan karena jika itu benar maka adik mu tidak akan seperti ini. Umi gagal, nak." Umi berucap sedih membuat senyuman yang ada di bibir Annisa beberapa saat yang lalu kini telah lenyap. Annisa menatap uminya dengan tatapan tidak berdaya, ia juga merasa sedih dengan kehidupan adiknya.


"Umi, itu bukan karena umi gagal dalam mendidik Zahra akan tetapi itu karena Zahra sendiri yang tidak ingin terikat dengan kita. Jadi, buang jauh-jauh pikiran ini dari umi karena umi tidak pernah gagal dalam membesarkan kita semua. " Annisa berucap menghibur, menenangkan uminya yang kini hanya bisa diam dan tidak mengatakan apa-apa padahal baru saja beberapa menit yang lalu umi tersenyum bahagia di depan nya.

__ADS_1


Mengangguk lemah, umi menggenggam tangan Annisa, "Tolong jangan mengatakan itu, nak. Karena bagaimana pun dia adalah adik mu, ia masih belum mengerti kemana ia ingin berjalan dan sebagai seorang ibu, umi lah yang patut di salahkan karena tidak membimbing adik mu ke jalan yang benar. "


Annisa menggeleng tidak setuju, "Umi jangan menyalahkan diri sendiri, ini karena Zah-"


"Umi harus kembali, abi mu pasti sudah menunggu lama. " Mengelus wajah Annisa lembut umi langsung berjalan menuruni tangga tanpa menunggu jawaban dari Annisa.


Annisa tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa menatap punggung uminya yang semakin lama semakin menjauh sampai tidak terlihat lagi ditelan tangga.


Menghela nafas, Annisa memilih langsung kembali ke kamarnya. Sampai dikamarnya ia tidak langsung tidur dan melanjutkan lagi rasa kantuknya. Akan tetapi Annisa memilih duduk di depan meja riasnya seraya mengingat betapa menyedihkannya ekspresi umi ketika membicarakan Zahra.


"Umi terlalu keras kepala!."


Annisa P. O. V


"11 tahun yang lalu pasti dilalui dengan berat oleh abi dan umi, aku tidak bisa membayangkan betapa lelah dan tersakitinya umi ketika menghadapi Zahra selama itu."


"11 tahun yang lalu, setelah kepergian ku dengan kak Razi seharusnya itu baik-baik saja. "


Zahra Affianisha, dia adalah adik ku yang sangat periang dan manis tapi itu dulu tepatnya 11 tahun yang lalu. Saat itu zahra kecil masih berusia 6 tahun, saat ia masih manis-manisnya. Aku, kak Razi, dan Zahra saat itu sangat akrab dan saling menjaga berbeda dengan sekarang yang sangat bertolak belakang dengan saat itu.


Pada saat itu umi dan abi memberi tahu kami bertiga untuk mondok di pondok pesantren milik sahabat abi, aku dan kak Razi setuju untuk pergi walaupun pada awalnya berat akan tetapi kami bisa mengerti. Karena aku dan kak Razi setuju bukan berati Zahra juga setuju , saat itu Zahra lebih memilih untuk bersama umi dan abi dari pada ikut kami ke pondok pesantren. Umi dan abi waktu itu sangat bingung bagaimana menghadapi Zahra yang keras kepala. Berbagai carapun dilakukan, namun Zahra tetap bersikukuh dengan pilihan nya. Melihatnya umi dan abi hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan Zahra, hingga setelah 10 tahun kami menuntut ilmu di pondok pesantren aku dan kak Razi pulang satu tahun yang lalu. Pulang-pulang dari pondok pesantren aku dan kak Razi sangat terkejut dengan Zahra yang kami lihat sekarang. Dia sangat kasar dan berontak, dia bukan lah Zahra kecil kami lagi.


"Zahra, saat itu apa yang telah terjadi kepada mu? "


Saat Annisa sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba Annisa mendengar alunan ayat-ayat suci yang di baca oleh Razi.


Annisa merasa aneh kenapa suara Razi seperti berada di samping kamarnya atau lebih tepatnya di kamar Zahra.


"Kenapa aku merasa jika kak Razi sedang mengaji di depan kamar Zahra, mungkinkah?" Annisa bergumam bingung seraya membawa langkah kakinya mendekati pintu kamarnya.


Berdiri di sisi pintu, Annisa meraih knock pintu kamarnya dengan gerakan pelan.


Bismillah.


Membuka pintu kamar nya, ia tidak menemukan siapa-siapa diluar, bahkan sosok kak Razi sekali pun.


"Tidak ada siapa-pun di sini, apa itu hanya perasaan ku saja, ya? " Bertanya pada dirinya sendiri. Mengangkat bahunya acuh, Annisa kembali menutup pintu kamar dan kembali terduduk di posisi nya semula.


"Ini aneh, padahal sudah jelas-jelas itu suara kak Razi. Tapi kenapa saat aku membuka pintu kakak tidak ada di sana, jangankan kakak, suaranya saja sudah hilang. Mungkin benar, itu hanya perasaan ku saja." Annisa bergumam bingung, memikirkan nya membuat Annisa merasa pusing. Bahkan kadar mengantuk nya kini mulai bertambah lagi seperti orang yang belum pernah tidur sebelum nya. Tidak ingin ambil pusing, Annisa kembali ke atas ranjang empuknya sambil menarik selimut hangat yang sempat ia abaikan tadi. Menutup mata, tiba-tiba suara azan shubuh mulai berkumandang.


"Kenapa rasanya cepat sekali. " Annisa sekali lagi bangun dan berjalan ke arah kamar mandi. Membersihkan diri, ia berniat membantu umi memasak di dapur.

__ADS_1


Setelah 30 menit akhirnya Annisa keluar dari dalam kamar mandinya dengan tubuh yang terasa segar dan dengan wajah yang sudah bersih dan cantik. Annisa mengambil hijap panjang sepinggangnya yang beberapa saat lalu ia letakkan dan langsung memakainya.


Setelah sampai di dapur, Annisa mmendapati umi yang sedang mengulek-ulek sambal dengan lihai.


"Assalamualaikum, umi." Salam Annisa yang langsung di jawab umi.


"Waalaikum salam anak umi.." Jawab umi senang tanpa mengalihkan tatapan nya dari ulekan sambal.


"Umi, pagi ini mau buat sarapan apa?"


"Nasi goreng aja, nak biar cepat. Soalnya Razi mau pergi sama abi ke pondok pesantren sahabat abi."


"Pondok pesantren, mau ngapain umi?"


"Umi juga gak tau abi kamu, mungkin mau silahturahmi."


"Oh, ya."


"Umi Annisa bantu apa?"


"Bantu hancurin nasi aja" Intruksi umi sambil memberikan Annisa tempat nasi. Setelah mengambilnya dari umi, Annisa pun langsung melaksanakan tugasnya.


Saat sedang fokus-fokusnya menghancurkan nasi, tiba-tiba Razi datang dengan terburu-buru.


"Assalamualaikum, umi." Salamnya terengah-engah.


"Waalaikum salam, kamu ngapain sih Razi kok buru-buru gitu." Tanya umi bingung.


"Bukan apa-apa umi, Razi cuma mau bilang-" Mendekati umi seraya membisikkannya sesuatu yang Annisa tidak bisa dengar.


"Maksud kamu apa to Razi, umi gak ngerti."


"Umi, ih. " Razi berseru tidak puas serata membisikkan umi sekali lagi.


"Umi pahamkan? " Razi bertanya dengan wajah berharap.


Umi tersenyum kecil seraya menganggukkan kepalanya ringan.


"Kalo gitu Razi balik ke atas dulu, yah. Assalamualaikum. "


Kenapa kak Razi tidak mengatakannya secara langsung saja? Bukankah dia sangat aneh hari ini?.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2