
Besoknya setelah pulang sekolah Fira dan Dira menyempatkan diri untuk mendatangi kamar staf guna mencari Annisa dan Aisha. Ketika sampai di sana mereka berdua menemukan jika kedua orang ini terlihat sangat akrab berbincang-bincang.
"Apa kedatangan kami mengganggu waktu bersantai kalian?" Tanya Fira merasa tidak enak karena ia pikir kedatangannya ke sini diwaktu yang tidak tepat. Jarang sekali melihat mereka berdua akrab dan berbincang selayaknya teman lama.
"Siapa bilang, justru kami senang dengan kedatangan kalian." Annisa membantah cepat seraya memberikan ruang untuk Fira dan Dira masuk ke dalam kamar mereka.
"Ayo masuk." Ajaknya seramah mungkin agar Fira dan Dira nyaman di dalamnya.
Fira dan Dira tidak terlalu banyak berpikir sebelum masuk ke dalam kamar. Lagipula mereka tidak akan lama di sini karena ada sesuatu yang akan Fira kerjakan di asrama bersama yang lainnya.
"Mbak, kami ke sini karena Umi dan Abi mau makan masakan kalian. Maksudnya, untuk menu berbuka hari ini Umi dan Abi akan makan di rumah saja dengan makanan yang kalian berdua buat. Jadi, apakah kalian bisa hari ini meluangkan waktu untuk memasak?" Fira menjelaskan maksud kedatangannya ke sini kepada Annisa dan Aisha. Entah mereka berdua bisa membaca kode yang Uminya buat Fira tidak ingin terlalu memikirkannya. Lagipula jika ia terus memikirkannya malah membuat stres untuk dirinya sendiri.
Setelah mendengar maksud kedatangan Fira dan Dira, lantas Annisa dan Aisha kemudian saling pandang seraya menggariskan sebuah senyuman penuh maksud di benak masing-masing. Siapa yang tidak ingin menyenangkan orang tua orang yang mereka sukai?
Mereka tentu saja menginginkan hal ini lebih dari siapapun dan kesempatan yang mereka terima hari ini tidak lain adalah sebuah harta karun yang tidak bisa mereka lewatkan.
"Kami berdua in shaa Allah bisa meluangkan waktu untuk memasakkan Umi dan Abi." Tersenyum kalem, Annisa mencoba bersikap setenang mungkin agar mereka tidak menyadari betapa senangnya ia sekarang.
"Ngomong-ngomong, masakan apa yang Umi dan Abi ingin kami masak? Apakah ada sesuatu yang ingin mereka makan saat buka nanti?" Tanya Annisa mencoba mencari kesan yang baik pada orang-orang terdekat Alif. Siapa tahu kedua orang tua Alif ingin meminta sesuatu yang mungkin sulit untuk mereka masak. Akan tetapi meskipun itu sulit Annisa sudah bertekad untuk berusaha keras membuat masakan itu.
Hem, ia harus mampu mencuri perhatian semua orang yang ada di sana malam ini.
Diingatkan tentang masakan apa yang disukai kedua orang tuanya, Fira pikir itu semua sudah diketahui dengan baik oleh Annisa jadi ia tidak perlu menyebutkannya. Namun, jika itu tentang Alif maka Fira pikir itu akan berbeda cerita. Baru-baru ini Kakaknya ingin makan tumis kangkung bahkan tumis kangkung yang ia buat semalam langsung dihabiskan tanpa menyisakan apapun untuk Umi dan Abi. Ah, mengingatnya membuat Fira tiba-tiba menjadi sedih. Kakaknya terlalu cinta dengan tumis kangkung sampai-sampai ia tidak perduli jika tumis itu enak atau tidak.
"Umi dan Abi suka apa saja yang kalian masak, tapi untuk Mas Alif itu berbeda. Baru-baru ini Mas Alif sangat menyukai tumis kangkung jadi Fira harap kalian juga memasak makanan ini." Karena ini adalah ajang untuk Alif maka mau tidak mau Fira menekankan betapa pentingnya mereka menarik perhatian Kakaknya.
Tumis kangkung?
Sudut mulut Annisa tertarik membuat kurva senyuman yang manis. Wajah cantiknya yang merah merona menandakan betapa tersipunya ia sekarang. Fira bilang Alif menyukai tumis kangkung baru-baru ini yang otomatis membangkitkan harapan Annisa. Karena sebelumnya Annisa sudah memasakkan Alif tumis kangkung yang langsung dimakan di depannya.
Jadi untuk kesempatan ini Annisa juga akan memasak tumis kangkung khusus untuk Alif.
"Baiklah, karena kalian berdua sudah mendengar amanah yang Umi sampaikan kepada kalian maka nanti setelah sholat asar kalian bisa datang ke rumah. Sudah ada Umi yang akan menunggu kalian di sana." Setelah menyelesaikan tugasnya, Fira dan Dira kemudian segera keluar dari kamar mereka dan berjalan menuju arah asrama putri.
"Fira, aku pikir mereka berdua menyukai Gus Alif." Setelah mengamati tadi, diam-diam Dira menyimpulkan jika orang yang menyukai Alif bukan hanya Annisa namun Aisha juga.
Fira dengan lemah menganggukkan kepalanya, orang-orang yang menyukai Alif semuanya cantik-cantik dan luar biasa jadi ia sedikit merasa tidak nyaman.
"Kamu benar, mereka berdua menyukai Mas Alif dan acara memasak ini juga dibuat untuk melihat siapa yang paling bisa menerima perhatian Umi dan Mas Alif."
"Ah, kamu tidak perlu mengatakannya karena sedari awal aku sudah menebaknya." Kata Dira seraya melambaikan tangannya singkat. Mendengar obrolan mereka saja tadi Dira sudah mengerti maksud dari acara memasak ini. Tentu saja itu ada hubungannya dengan calon istri Alif.
"Yah seperti yang ku duga juga, kamu pasti sudah menebaknya." Dira itu aneh dengan kebiasaannya yang suka sok tahu dengan kehidupan orang lain. Akan tetapi meskipun bersikap sok tahu entah mengapa tebakannya selalu benar dan tepat. Jadi, melihat Dira mengetahui maksud dari undangan Umi tidak terlalu mengejutkannya.
"Itu karena aku jenius." Dira memasang senyum angkuhnya, menunjukkan bahwa sangat mampu diandalkan dalam situasi ini.
"Tapi Fira, aku lihat kamu sepertinya tidak nyaman tentang mereka. Katakan padaku, apakah ada sesuatu yang mengganggu mu tentang mereka?" Selalu saja Dira merasa ada sesuatu yang salah dengan Alif dan Fira. Entah itu tanggapan Fira kepada Alif atau perlakuan Alif kepada Fira. Menurutnya, itu semua tidak seharusnya terjadi pada hubungan Kakak dan Adik karena mereka sedarah. Akan tetapi melihat sikap mereka yang tidak biasa membuat Dira teringat kembali dengan Zahra dan Razi sebelum menikah dulu.
Mereka juga dulu seperti ini akan tetapi itu tidak sedekat interaksi Fira dan Alif. Apakah ini hanya perasaan Dira saja atau kenyataannya memang begitu?
Fira tidak yakin mengatakannya, namun karena ini adalah Dira menyembunyikan apapun darinya pasti akan selalu menjadi sia-sia. Karena Dira aneh ia akan mencium apa yang ia sembunyikan cepat atau lambat.
__ADS_1
"Aku tidak yakin mengapa aku merasakan ini kepada Mas Alif karena menurut ku ini terlalu tidak normal. Juga, aku tidak suka melihat Mas Alif memikirkan tentang gadis lain apalagi sampai mengingat tentang Mbak Annisa. Itu akan sangat tidak nyaman di hatiku." Akuinya jujur. Setelah dipikir-pikir ia memang kadang cemburu melihat Alif memikirkan gadis lain. Awalnya ia pikir itu karena ia masih tidak rela melihat kakaknya menikah namun setelah ia merenunginya itu bukan karena ia tidak rela Kakaknya menikah cepat, tapi itu karena ia cemburu dan tidak ingin melihat kakaknya bersama gadis lain. Hatinya mengatakan bahwa Alif hanya boleh menatapnya saja!
"Kenapa aku merasa jika kalian tidak jauh berbeda dengan Zahra dan Razi?" Dira sekarang benar-benar yakin jika mereka berdua sama dengan Zahra dan Razi. Jalan mereka sama namun Fira dan Alif sedikit rumit karena mereka berdua adalah saudara kandung yang sah.
"Aku juga tidak yakin." Gumam Fira lesu, tidak yakin jika perasaannya ini sama dengan apa yang Alif rasakan padanya. Bisa saja Alif hanya menatapnya sebagai seorang adik biasa dan tidak lebih. Mengingat bahwa mereka memang saudara kandung.
🍃🍃🍃
"Kan udah ada Umi yang awasin mereka Mas, masa Fira juga harus ikut sih." Ia tiba-tiba dipanggil pulang oleh Alif ke rumah dan tanpa mengatakan apapun ia langsung mendorong Fira masuk ke dalam dapur.
Alif tidak terlalu terpengaruh dengan sikap manja Fira dan dengan tegas mendorong Fira masuk ke dalam dapur untuk bergabung bersama yang lain. "Mas tidak bilang kamu mengawasi mereka tapi yang Mas mau adalah kamu ikut memasak bersama mereka. Masak kan Mas apapun itu dan kamu tidak boleh meminta bantuan yang lain. Ingat, Mas tahu betul mana tangan yang amatiran dan mana tangan yang sudah terbiasa dengan dapur jadi kamu tidak akan bisa mengelabui Mas." Setelah mengatakan itu ia langsung pergi meninggalkan Fira yang menatap aneh Alif. Apakah Alif sangat senang melihatnya hidup dengan laki-laki lain bahkan memerintahkannya untuk mulai belajar memasak demi membahagiakan laki-laki lain?
Mengapa hanya Fira yang tidak suka melihat Alif dengan wanita lain?
Mengapa Alif tidak terganggu melihatnya melakukan semua ini untuk laki-laki lain? Jangan bilang Fira mengalami penyakit mental?
Menyukai saudara kandung sendiri itu adalah dosa juga termasuk penyakit mental yang berbahaya di dalam medis. Haruskah Fira berkonsultasi ke dokter psikiater?
Fira sungguh dibuat gila!
"Sudah, ikuti saja kemauannya. Kamu tidak perlu khawatir tentang keluhan mu karena aku akan mencoba membantu mu semaksimal mungkin." Dira sangat mengerti bagaimana perasaan putus asa Fira sekarang. Karena ia sedang menyukai Alif maka seharusnya Alif menjaga jarak atau memberikan perlakuan yang benar layaknya seorang adik dan kakak yang normal. Tapi bukannya normal Alif malah sama ambigunya dengan laki-laki yang menjaga pacarnya diluar sana.
Hem, Dira mulai menegakkan antena detektifnya guna mendeteksi hubungan aneh apa yang sudah terjadi di antara mereka.
"Dira, dia benar-benar menyebalkan'kan?" Sekarang hatinya ditarik ulur dengan santai oleh Kakaknya yang tidak peka, ah!
Dira yang bersimpati pada kemalangan sepupunya dengan bijaksana menganggukkan kepalanya, "Hem, dia memang seperti itu."
Setelah memikirkannya percuma saja ia menolak perintah Kakaknya karena ia akan selalu berakhir seperti tadi malam.
"Baiklah, tunggu aku di ruang tamu." Pesan Fira sebelum masuk ke dalam dapur.
Dira memperhatikan sikap kikuk Fira yang terlihat kebingungan akan memasak apa. Dihadapkan dengan orang-orang yang bergerak cepat dan sibuk di dalam, Dira merasa simpati untuk Fira. Ia terlihat seperti kucing ketakutan yang mencoba beradaptasi dengan lingkungannya yang baru dan asing.
Menghela nafas tidak berdaya, Dira kemudian membawa langkahnya mencari Alif dan untungnya langsung ia temukan di dalam ruang tamu. Ia terlihat dalam suasana hati yang baik sampai-sampai ia tidak menyadari ada orang lain dibelakangnya.
"Mas Alif, jangan terlalu menekan Fira. Kasian, ia terlihat sangat kebingungan tadi di dalam dapur." Ucap Dira mengeluh seraya mendudukkan dirinya di atas sofa seberang Alif.
Tahu jika ada orang lain lagi di sini, Alif kemudian merubah posisi duduknya lebih lurus lagi seraya meletakkan buku tebal dengan tulisan Arab tanpa tanda di dalamnya.
"Aku harus melakukannya agar dia terbiasa karena jika tidak saat menikah besok suaminya akan kewalahan dengan-"
"Itu Mas Alif bukan yang akan kewalahan menghadapinya? Katakan pada Dira, apakah Mas Alif menyukai Fira?" Potongnya lurus diam-diam menilai perubahan ekspresi Alif yang berubah secara halus.
Mengangkat alisnya provokasi, sudah lama sekali Dira tidak merasakan euforia ini. "Atau apakah kalian selama ini tidak sedarah?" Menaikkan kedua tangannya dengan santai, kedua matanya yang tajam masih tetap fokus memandangi wajah Alif yang terlihat panik namun samar.
"Karena jika kalian memang sedarah mana mungkin Mas Alif memperlakukan Fira sekeras ini, bahkan tidak segan-segan memberikannya sebuah perlakuan manis yang tidak seharusnya ada pada hubungan antara adik dan Kakak." Dira tidak memberikan Alif kesempatan untuk mengelak dan langsung mencercanya dengan hasil semua pengamatan yang ia lakukan selama ini. Ia tahu bahwa ini hanya omong kosongnya saja dan ia juga siap mendengar jawaban bantahan dari Alif.
Akan tetapi bukannya membantah Alif justru mengakuinya dengan jujur. "Kami memang tidak sedarah dan akupun mengakui bahwa perlakuan ku selama ini kepadanya memang spesial. Aku ingin membuatnya terbiasa dengan kehadiran ku sebagai laki-laki yang mencintainya dan bukan menjadi seorang Kakak untuknya. Aku ingin ketika kami menikah nanti ia tidak terkejut dengan ikatan kami karena sejujurnya aku sangat mengkhawatirkan penolakan Fira kepada ku." Alif sungguh tidak tega melihat Fira tersiksa di dapur akan tetapi Alif juga tidak ingin melihat Fira tiba-tiba menjadi stres menghadapinya kelak. Ia tidak ingin Fira kebingungan dan menolaknya oleh sebab itu ia selalu memberikan perhatian spesial untuk Fira layaknya seorang kekasih. Ini ia lakukan agar Fira lambat laun mau menerimanya menjadi seseorang yang penting di dalam hatinya.
Dira tertegun, tidak pernah berpikir jika Alif akan langsung mengakuinya. Pengakuannya juga membuat Dira sangat terkejut, bagaimana bisa ia tahu jika mereka berdua tidak mempunyai hubungan sedarah?
__ADS_1
Apakah Alif pernah melakukan tes DNA?
"Jadi..jadi apakah Mas Alif pernah melakukan tes DNA?" Tanyanya tidak percaya. Ia bertanya-tanya bagaimana perasaan Alif saat tahu jika Fira bukanlah saudara kandungnya.
Alif sekali lagi mengangguk dengan yakin, "Aku sudah melakukan tes DNA beberapa minggu yang lalu. Awalnya itu membuat ku sedikit terkejut namun itu tidak bertahan lama karena aku senang orang yang lindungi selama ini akhirnya bisa sepenuhnya aku lindungi. Sebelumnya aku selalu takut jika Fira bertemu dengan laki-laki lain sehingga aku dengan tegas menolak siapapun yang ingin mendekatinya. Namun, setelah tahu dia bukan saudaraku maka kekhawatiran langsung hilang. Aku lega karena akhirnya bisa memiliki Fira sepenuhnya." Dulu ia terkenal sebagai Kakak yang terlalu protektif kepada Fira. Bahkan saat Fira melakukan kesalahan ia akan dengan mudah memaafkannya tanpa memberikan hukuman yang berat seperti yang lain.
Saat di Mesir dulu pun Alif selalu menghubungi Fira setiap hari guna mendengarkan aktivitas apa saja yang sudah dilakukan Fira dalam satu hari. Alif saat itu tidak sadar jika ia melakukan itu karena takut Fira menemukan laki-laki lain tanpa perlindungan darinya.
"Mengapa aku merasa Mas Alif tidak berbeda dengan Razi saat mengejar Zahra dulu." Gumam Dira bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Setelah itu mereka mulai berbincang tentang rahasia apa yang coba keluarga ini sembunyikan juga bertanya-tanya siapa orang tua Alif yang sebenarnya.
🍃🍃🍃
Saat mereka sedang berbuka puasa suasana di atas meja tiba-tiba menjadi tidak nyaman. Mereka bisa merasakan ada sesuatu yang salah dengan Annisa dan Fira. Namun karena mereka sedang di atas meja maka itu tidak akan terlihat bagus membicarakannya di sini maka mau tidak mau mereka lebih memilih memendamnya.
Melihat suasana yang buruk Dira dengan prihatin menggelengkan kepalanya tidak berdaya melihat sikap santai Alif melahap makanannya. Bukan hanya itu saja yang membuat Dira tidak berdaya, suasana semakin memburuk ketika melihat Alif yang hanya fokus menghabiskan masakan Fira saja daripada memakan makanan yang sudah susah-susah dibuat oleh Annisa dan Aisha.
Padahal makanan yang Fira buat entah apa namanya itu yang jelas penampakannya sangat tidak menarik selera makan. Masih ada makanan yang lebih baik dari itu namun Alif hanya memakan masakan yang Fira buat.
"Aku pikir Mas Alif sedang mengalami kesurupan." Bisik Fira prihatin melihat Kakaknya yang giat menghabiskan masakan yang ia buat. Padahal ia sendiri tidak terlalu berani memakannya meskipun itu adalah buatannya.
Dira mengangguk setuju, Alif seperti memang sangat mencintai Fira sampai-sampai masakan tidak berbentuk seperti itu saja ia habiskan hanya karena itu adalah masakan Fira. Hem, benar-benar suami yang bisa diandalkan.
Setelah semua orang selesai berbuka maka satu persatu mulai meninggalkan meja makan menyisakan Fira, Dira, Annisa dan Aisha yang masih dalam suasana hati yang buruk.
"Fira, Mbak tidak bermaksud menuduh mu di sini tapi hanya ingin mengingatkan saja bahwa lain kali jangan ulangi itu. Karena gara-gara Fira yang memasukkan terlalu banyak cabai ke dalam masakan ku, Mas Alif jadi tidak ingin menyentuh semua masakan yang ada di meja kecuali milikmu." Annisa sungguh tidak mengerti apa maksud Fira memasukkan banyak cabai ke dalam masakan mereka?
Gara-gara ada banyak cabai Alif jadi tidak berminat untuk menyentuh makanan yang mereka buat. Dan hasilnya, hanya ada kekecewaan hari ini bukannya perasaan senang yang mereka harapkan.
Dira agak terkejut mendengar tuduhan Annisa di tambah lagi Fira sama sekali tidak menjawabnya yang artinya ia mengakui perbuatan yang ia lakukan. Ia memang sengaja memasukkan cabai banyak-banyak ke sana karena tidak ingin Alif memperhatikan apa yang mereka buat. Itu karena Fira cemburu dan merasa tidak mampu bersaing dengan mereka.
"Ada apa ini?" Ketika keluar dari ruang tamu Alif akhirnya bisa merasakan ada sesuatu yang salah diantara mereka. Apalagi melihat wajah cemberut Fira dan Annisa membuat Alif mau tidak mau menanyakannya langsung kepada mereka.
Semua orang yang ada di ruang makan menjadi sunyi, begitu enggan untuk melaporkannya. Melihat Fira yang masih diam membisu, Aisha langsung mengatakan kepada Alif apa yang sudah terjadi di dapur tadi.
"Cabai?" Bingung Alif setelah mendengarkan penjelasan Aisha. Pasalnya saat makan tadi Ia terlalu memperhatikan masakan yang lain dan langsung fokus pada makanan yang Fira buat.
"Fira, coba jelaskan kepada Kakak kenapa kamu melakukan itu?" Tanya Alif terdengar tidak suka. Ia sangat marah melihat sikap Fira yang seperti ini, egois.
Fira hanya diam membisu, menunjukkan bahwa ia tidak ingin mengatakan apapun. Bahkan kedua matanya saja sudah memerah seperti ingin segera menangis.
"Kakak tidak pernah mengajarkan kamu untuk melakukan perbuatan hina seperti ini, Fira!" Lanjutnya membentak, membuat Fira tanpa sadar berjenggit kaget.
Semarah apapun Alif ia tidak pernah sampai membentaknya, namun hanya karena Annisa sekarang Alif tidak ragu untuk membentaknya. Ini membuat hati Fira sakit dan menangis dalam diam. Ia tidak merasakan perasaan sakit semacam ini, sakit yang membuatnya bernafas saja menyakitkan.
"Aku benci Mas Alif!" Marah Fira seraya berjalan pergi meninggalkan semua orang. Ia tidak lagi masuk ke dalam kamarnya namun ia memilih untuk pergi ke atas asrama putri, ia memutuskan untuk tidak lagi perduli dengan Alif!
Melihat kepergian Fira yang dalam suasana hati yang buruk, Dira kemudian menggelengkan kepalanya lelah. Ia menatap Alif yang sedikit terkejut dengan kemarahan Fira, "Aku akan segera menyusulnya." Ucapnya memberi tahu seraya pergi menyusul Fira yang Dira tebak pasti ke asrama mereka.
🍃🍃🍃
__ADS_1