Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Part 19


__ADS_3

Sekotor Itukah Aku Part 19


Sekarang Alif tepat berada di depan pintu kamar Fira, mengetuk pintu beberapa kali Alif masih belum mendapatkan jawaban apapun dari Fira.


"Fira, Mas izin masuk ke dalam yah." Ucap Alif mengambil keputusan. Ia menarik gagang pintu kamar Fira, Alif cukup terkejut melihat pintu kamarnya ternyata tidak dikunci sama sekali. Ia pikir Fira menolak untuk bertemu dengannya karena tadi ia terlihat sangat murung. Akan tetapi ketika ia masuk ke dalam kamarnya, Fira masih tidak mengatakan apa-apa untuk protes.


Fira terlihat tenggelam di dalam selimut hangatnya, suara nafasnya yang teratur menunjukkan jika Fira sudah jatuh tertidur.


Mengapa begitu cepat?


Pikir Alif bertanya-tanya, padahal ia ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada Fira. Namun baru beberapa menit ia masuk ke dalam kamarnya Fira sudah tertidur lelap.


"Alif, apa kamu di dalam, nak?" Terdengar suara Abi dari luar, sepertinya ada sesuatu yang ingin Abi bicarakan dengannya.


Keluar dari kamar Fira, ia menutup pintu Fira dengan hati-hati takut membangunkan Fira. Berdiri di luar Abi sudah menunggunya dengan tatapan sayunya yang langka. Melihat ekspresi langka Abinya, Alif tahu jika ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Abinya. Mungkin ini berkaitan dengan masa lalu Alif yang sudah terkubur hampir 20 tahun lamanya.


"Ya, Abi?" Responnya setelah memastikan jika kamar Fira sudah benar-benar tertutup.


"Apakah Fira sudah tidur?" Tanyanya terlihat linglung.


Alif langsung menjawab, "Fira sudah tidur, Abi."


Menghela nafas, Abi akhirnya bisa merilekskan tubuhnya untuk beberapa saat. Memberikan gesture untuk diikuti, Abi lalu berjalan memimpin arah tujuan ia ingin membawa Alif pergi. Tujuan Abi sudah jelas bahwa itu bukan di rumah. Sepertinya Abi ingin membawa Alif menuju kantor pondok pesantren tempat mereka biasanya bertemu.


Dari jaraknya sekarang Alif bisa melihat lampu kantor masih menyala terang dan itu sudah pasti menunjukkan bahwa ada orang lain di dalamnya. Karena ini bulan puasa dan sangat baik untuk dimanfaatkan, kantor biasanya langsung tutup setelah jam 5 sore dan tidak akan ada rutinitas kerja lembur jika tidak terlalu dibutuhkan.


"Assalamualaikum." Salam Abi dengan suara beratnya yang khas, membuat orang yang ada di dalam segera berdiri dan langsung menyalami tangan Abi.


"Waalaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh, Abi." Jawab Razi, laki-laki yang sedari tadi duduk menunggu kedatangan mereka berdua adalah Razi.


Beberapa menit yang lalu, Abi tiba-tiba menelponnya dan mengatakan jika ia ingin bertemu. Tanpa ragu, Razi langsung mengiyakannya dan segera pergi ke kantor sebelum Abi datang terlebih dahulu.


"Razi?" Bingung Alif ketika melihat orang itu adalah Razi.


"Duduklah." Ucap Abi mempersilakan seraya mendudukkan dirinya di salah satu sofa yang biasanya ia duduki ketika beristirahat dari pekerjaannya di kantor.


"Aku memanggil kalian ke sini seharusnya kalian berdua bisa menebaknya." Ucap Abi memulai pembicaraan setelah beberapa menit menenangkan ekspresinya setenang mungkin.


Razi tidak mengerti, "Razi sungguh tidak tahu mengapa Abi membawa ku ke sini."


Mengangguk maklum, "Bagaimana dengan mu, Alif?" Tanya Abi ingin mendengar pendapat Alif. Pasalnya di antara dua bersaudara ini hanya Alif lah yang paling peka dengan identitasnya. Ia baru saja menemukan fakta bahwa ia bukanlah bagian dari mereka jadi pikirannya pasti sangat bekerja sekarang.

__ADS_1


Alif tidak langsung menjawab Abi, ia mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke mata Abi. "Siapa Razi? Tidak, apa sebenarnya hubungan kami berdua?" Begitu pertanyaan ini keluar Razi akhirnya mengerti kemana arah pembicaraan mereka ini. Jika Razi tidak salah menebak identitas Alif mungkin adik yang ia cari, adiknya dari istri kedua Papa.


"Kamu bisa menanyakannya langsung kepada Razi." Abi tidak ingin menjawabnya dan membiarkan Razi menjelaskan situasinya sendiri. Ia yakin, Razi sudah tahu semuanya dan Abi juga berharap jika Razi mau menerima persaudaraan mereka.


Alif semakin bingung, bukankah Razi baru saja mengatakan bahwa ia tidak tahu maksud Abi membawa mereka ke sini?


"Alif, aku adalah Kakak mu." Ucap Razi tidak terdengar ragu saat mengatakannya, malah jika diperhatikan baik-baik ada nada bersemangat yang tersemat di dalamnya.


Tertegun, "Jelaskan aku lebih jelasnya." Pinta Alif tenang.


"Papa kita mempunyai dua istri, Alif. Istri pertama adalah Mamaku dan istri kedua adalah Ibumu. Aku dengar dari Umi saat kamu berumur 4 tahun Ibumu jatuh sakit dan meninggal di usia muda. Akan tetapi sebelum meninggal ia berpesan agar orang yang membesarkan mu adalah Pak Kyai dan Umi." Mengalihkan pandangannya menatap Abi yang mengangguk ringan menyetujui.


"Ibumu bilang jika ia tidak ingin mengganggu waktu kebersamaan Mama dan Papa sehingga ia memutuskan untuk menitipkan mu kepada mereka. Namun setelah beberapa bulan kematian Ibumu, Mama dan Papa tiba-tiba mengalami kecelakaan dan langsung meninggal di tempat. Meninggalkan ku yang tidak punya siapa-siapa kepada kedua orang tua Zahra. Hampir 20 tahun lamanya, kita akhirnya dipertemukan kembali. Meskipun berbeda Ibu namun kita tetaplah saudara, darah Papa sama-sama mengalir di dalam tubuh kita. Aku sangat lega adikku ternyata adalah kamu. Seorang laki-laki yang baik dan penghafal Al-Qur'an, kita bisa hidup bersama-sama di rumah yang Papa tinggalkan. Hidup damai bersama pasangan masing-masing."


Razi sangat terkejut juga bersyukur bahwa adiknya adalah Alif, anak yang hebat dengan segudang prestasi. Ia bisa membayangkan bagaimana reaksi Zahra saat mendengarnya nanti, ia pasti sangat senang.


Setelah mendengarkan penjelasan Razi, Alif dengan diam membisu memperhatikan wajah tegang Razi di depannya yang terlihat bahagia juga takut-takut menunggu responnya. Yah, sekarang ia tahu mengapa selama ini ia selalu merasa nyaman dekat dengan Razi. Inilah alasannya, itu karena mereka sedarah yang menunjukkan ada hubungan batin yang kuat di antara mereka. "Jadi seperti itu." Gumam Alif sedikit terkejut. Ia juga tidak pernah tahu jika Ibunya adalah seorang perempuan yang kuat. Rela berbagi suami dengan perempuan lainnya, hem, tentu saja Mama Razi juga tidak perlu dipertanyakan betapa lapang hatinya. Merelakan Papa menikahi Ibunya adalah sebuah pengorbanan yang sangat besar.


Tidak heran Razi menjadi orang yang sangat sabar karena semua itu ia dapatkan dari kelembutan hati Mamanya.


"Sekarang bagaimana perasaan mu?" Tanya Abi penasaran respon apa yang akan Alif tunjukkan. Pasalnya ia sedikit bingung melihat ekspresi wajah Alif yang tidak menunjukkan perubahan apapun.


"Jujur saja aku sedikit terkejut." Akuinya menggambarkan perasaannya saat ini.


Mengangguk puas, Abi akhirnya bisa merasa lega sepenuhnya. Kini giliran ia yang akan mengatakan sesuatu kepada Alif.


"Aku bersyukur kalian bisa saling menerima dengan cepat dan lancar, terpisah hampir 20 tahun aku takut kalian menjadi terasing." Menghela nafasnya lega.


"Kalian berdua juga sudah dewasa dan sudah waktunya untuk membangun rumah tangga. Razi sudah menyelesaikan setengah agamanya bersama Zahra dan sekarang kamu, Alif. Aku ingin memastikannya dengan sangat hati-hati karena ini menyangkut perasaan putriku juga."


Abi memandang serius wajah Alif dan memberikan sikap seperti seorang Ayah yang sedang menghadapi calon menantunya. Sebagai seorang Ayah tentu saja ia ingin agar putrinya bisa hidup bahagia dengan orang yang ia cintai dan sebagai seorang Ayah tentu saja ia ingin putrinya dihargai dengan serius oleh calon menantunya ini. Oleh karena itu, Ayah sangat berkewajiban melindungi putrinya dari masa depan yang buruk. Ia harus ekstra hati-hati melihat apakah laki-laki ini cocok dengan putrinya.


"Ya Abi, Alif akan mendengarkan dengan serius." Jawab Alif juga serius, ia tidak akan menyepelekan urusan masa depannya.


Melihat suasana yang tiba-tiba menjadi serius dan bukan ranahnya, Razi memutuskan untuk menyimak percakapan mereka sampai batas dimana mereka membutuhkan sarannya.


"15 tahu lalu kedua orang tua Annisa datang kepada kami. Mereka mengatakan bahwa sebelum meninggal Papa kalian pernah membuat perjanjian dengan mereka. Isi perjanjian itu adalah kalian berdua harus menikah dengan putri mereka. Razi sudah menyelesaikan perjanjian itu dan menikahi Zahra, sekarang tinggal kamu. Menurut perjanjian seharusnya kamu menikah dengan Annisa dan bukan dengan anakku. Mengenai perjanjian ini, apakah kamu masih teguh ingin menikahi anakku atau justru sebaliknya, kamu ingin menyelesaikan perjanjian itu dengan menikahi Annisa?"


Meluruskan posisi duduknya, ia melanjutkan ucapannya lagi sebelum Alif menjawabnya. "Satu hal yang harus kamu tahu Alif bahwa sebagai seorang Ayah, aku tidak akan pernah ridho melihat putriku di poligami. Daripada kamu mempoligaminya lebih baik aku menikahkannya dengan laki-laki lain asal ia bisa menjamin tidak ada poligami di dalam rumah tangga mereka." Ucap Abi tegas tidak menerima bantahan apapun. Ia mengatakan ini karena pengalaman mengajarinya, Mama Razi atau istri pertama Papa mereka adalah salah satu contoh yang bisa Abi ambil pelajarannya. Di luar Mama Razi memang terlihat tidak terganggu dengan adanya istri kedua namun semua orang bisa melihat jika di dalam ia terlihat sangat kesakitan.


Sekuat apapun suami berjanji untuk bersikap adil itu tidak akan pernah menjadi nyata karena salah satu istri pasti akan selalu merasa dirugikan.

__ADS_1


Sejujurnya, poligami terlalu menyakitkan untuk perempuan dan Abi tidak akan pernah mengizinkan itu terjadi pada Fira.


Alif menatap serius mata Abi, dalam hatinya ia tahu jika Abi tidak ingin Fira ia duakan. Yah, Ayah manapun pasti akan sangat tertekan melihat putrinya di duakan, Alif juga merasakan hal yang sama. Mengambil pelajaran dari Papanya, Alif bertekad hanya memiliki Fira dihatinya seraya berdoa semoga Allah melindungi hatinya dari jangkauan syeitan.


"Abi, yakinlah jika di dalam hidup ku ini aku tidak pernah sampai berpikir untuk menduakan orang yang aku cintai. Tentu saja aku mengerti bagaimana perasaan Abi sebagai seorang Ayah melihat putrinya yang akan tinggal dengan laki-laki lain. Tapi Abi, seharusnya kau mengenal ku jauh lebih dalam dari siapa pun bahwa diri ini tidak akan mudah disesatkan. Alif hanya ingin menikahi Fira dan membangun rumah tangga yang harmonis selayaknya tuntunan Rasulullah Saw. Adapun masalah perjanjian 15 tahun yang lalu Alif yang akan bicara sendiri kepada kedua orang tua Annisa. Alif ingin menjelaskan bahwa Alif sudah menemukan seseorang yang Alif cari dan tidak ingin hidup poligami. Alif yakin, mereka akan mengerti dan tidak akan memaksa meneruskan perjanjian itu." Di dalam hatinya hanya ada Fira seorang. Bahkan sejak kecil ia berperan menjadi Kakak yang baik untuk Fira, Alif tanpa sadar membangun rasa posesif yang dalam. Ia tidak bisa dipisahkan dari Fira dan ia pun tanpa sadar tidak suka melihat ada laki-laki lain yang ingin memiliki Fira.


Ini bertahan sampai sekarang dimana ia langsung tersadar bahwa perasaan ini tidak normal dan seharusnya tidak ada diantara mereka berdua. Sampai akhirnya ia bertemu Zahra, Alif memutuskan untuk menerima Zahra untuk menjauhi Fira karena toh Zahra saat itu mengejarnya.


Sampai suatu hari ia tahu bahwa Zahra dan Razi saling menyukai dan mereka berdua sama sekali tidak sedarah. Kejutan ini membuat Alif tidak bisa tidak berharap bahwa seperti Zahra dan Razi, ia juga ingin ada keajaiban di antara ia dan Fira.


Lalu, saat pernikahannya dengan Zahra sebentar lagi Alif memutuskan untuk melakukan sholat istikharah. Mencari jawaban apakah ia yakin menikahi Zahra yang akan menyakiti Razi. Atau apakah mungkin pernikahan ini seharusnya tidak terjadi?


Malam pertama setelah melakukan sholat istikharah, ia melihat wajah Fira yang sedang tersenyum menunggunya di dalam kamar yang sudah dihiasi berbagai macam jenis bunga layaknya kamar pengantin. Fira sangat cantik saat itu, Alif tanpa sadar menganggap bahwa mimpi itu bukanlah mimpi melainkan dunia nyata.


Alif tidak langsung menganggap serius mimpi itu karena ia sendiri menyadari bahwa itu tidak mungkin, mereka berdua sedarah.


Malam kedua setelah melakukan sholat istikharah lagi-lagi mimpi yang sama ia dapatkan. Ia melihat Fira dengan pakaian pengantin yang sama di dalam kamar yang sama sedang tersenyum manis menunggu kedatangannya. Karena mendapatkan mimpi yang sama dua malam berturut-turut, Alif kemudian memutuskan untuk melakukan sholat istikharah sekali lagi untuk memastikan apakah ia mendapatkan mimpi yang sama atau justru berbeda.


Lalu, malam ketiga pun tiba. Alif mendapatkan mimpi yang sama seperti dua malam yang lain. Karena mendapatkan mimpi ini 3 malam berturut-turut, Alif menyadari bahwa mereka berdua memang saling berjodoh yang otomatis mengkonfirmasi bahwa mereka tidak punya hubungan darah. Hal itu pun semakin diperkuat ketika Alif membawa rambut Fira ke rumah sakit untuk tes DNA yang hasilnya sesuai dengan tebakannya.


Mereka tidak punya hubungan darah jadi Alif tidak akan menahan diri jika bertemu Fira. Ia akan terang-terangan mengejar Fira dan berusaha keras membuatnya jatuh cinta kepadanya.


Alif tidak akan pernah menyia-nyiakan usahanya selama ini untuk mendapatkan Fira, ia tidak akan pernah melakukan apapun yang membuat mereka berdua berpisah lagi.


"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?" Suara serius Abi menguji keseriusan Alif.


Di tanya seperti ini tentu saja Alif tidak akan pernah menjawab dengan ragu-ragu, ia sangat yakin lebih dari apapun. "Alif yakin, Abi." Jawab Alif serius.


Puas dengan jawaban Alif, Abi lantas segera bangun dari duduknya seraya mengatakan sesuatu kepada Alif. "Aku dan Umi merestui mu dengan Fira asalkan kamu mampu membahagiakannya. Dan karena kamu sudah menarik garis dengan kami maka mulai malam ini kamu harus menjaga jarak dengan Fira. Jika bisa jauhi dia sampai hari pernikahan kalian datang karena ini adalah keputusan terbaik untuk kalian berdua. Mengenai waktu pernikahan," Menatap serius Alif.


"Aku memutuskan itu dilaksanakan setelah hari lebaran dengan kata lain pernikahan kalian jatuh pada tanggal 2 Syawal. Aku harap kamu mulai menyiapkannya dari sekarang." Putus Abi tidak menunggu pendapat Alif. Ia sudah memutuskan untuk segera menikahkan mereka berdua karena Abi tahu perasaan mereka berdua tidak bisa tahan menjaga jarak dengan tempo waktu yang lama.


2 Syawal, mendengar keputusan Abi tentu saja membuat Alif sangat senang. Itu hanya 1 hari setelah lebaran jadi siapa yang tidak akan bahagia?


"Abi tadi mengatakan jika Umi merestui kami, ini... bukankah Umi lebih setuju aku dengan Annisa?" Pasalnya, sudah beberapa hari ini Umi terus menyebutkan tentang Annisa di depannya jadi mungkin agak sulit memberikan Fira kepadanya.


"Alif, yakinlah jika seorang Ibu manapun di dunia ini pasti menginginkan anak-anaknya bersama dengan orang yang baik. Tentu saja kebenaran yang kamu berikan kepada kami cukup membuatnya terkejut tapi bukan berarti ia tidak menyetujui kalian. Ia malah senang jika Fira menikah dengan mu yang sudah tahu betul kelebihan dan kekurangannya. Sebagai seorang Ibu, ia hanya berharap jika kalian bisa hidup bahagia dan dapat melahirkan generasi-generasi yang diridhoi Allah. Alif, kau seharusnya sudah memahaminya." Jawab Abi tenang khas seorang Ayah kepada putranya.


"Karena pembicaraan kita sudah berakhir maka Abi pamit pulang dulu karena Umi pasti menunggu di rumah." Mengucapkan salam, Abi lalu bergegas pulang ke rumah untuk menemui Umi. Pembicaraannya dengan Alif sudah mencapai apa yang ia harapkan jadi mulai malam ini ia bisa bersantai lagi. Ia tidak perlu khawatir mengenai masa depan Fira karena orang yang akan menikahi putri manjanya ini adalah Alif, putra yang sudah ia didik dan besarkan langsung oleh dirinya sendiri.


Dalam hatinya, ia sangat bangga dengan prestasi ini. Hem, akhirnya ia bisa merasakan apa yang dirasakan sahabatnya ketika tahu Zahra menikah dengan Razi. Tentu saja, ini adalah kepuasan yang sangat sulit didapatkan orang tua manapun!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2