
Gadis itu diam-diam memperhatikan wajah cantik yang terpantul di dalam cermin. Meskipun mempunyai penampilan lemah lembut, namun terkadang kedua mata akan bersinar terang. Memberikan perasaan bahwa gadis ini punya mata yang tajam dan penuh ambisi.
"Annisa, perawatan apa yang kamu pakai sehingga bisa membuat kulit wajah mu semulus ini?" Di belakang, Aisha yang juga diam-diam memperhatikan Annisa tidak bisa tidak merasa iri.
Mengapa wajah gadis ini begitu cantik dan mulus pikirnya cemburu.
Annisa yang secara tidak langsung dipuji oleh Aisha tentu saja merasa bangga dengan pujian Aisha yang secara tidak langsung.
"Keluarga ku memang mempunyai kulit seperti ini sejak lahir dan aku pun tidak pernah menggunakan perawatan serius apapun." Jawab Annisa tidak menyembunyikan apapun.
Ia dan Zahra tidak pernah menggunakan perawatan yang serius seperti skincare atau sejenisnya karena keluarganya sudah terbiasa menggunakan perawatan halal. Simpel saja, ini seperti ekstrak bunga mawar yang dibeli langsung dari Mekkah untuk digunakan sebagai pengharum. Bukan parfum tapi ini seperti pewangi saat mandi, itu bisa kalian gunakan setelah menyelesaikan acara mandi. Menyiapkan air dengan suhu normal di atas bak mandi lalu meneteskannya dengan satu botol mini ekstrak bunga mawar dan berakhir berendam selama beberapa menit di dalamnya.
Percayalah, hasilnya sangat memuaskan. Kalian tidak berbau badan yang menyengat dan malah itu akan berbau yang sangat harum. Itu tidak akan menghilang meskipun kalian beraktivitas seharian full.
"Benarkah?" Tanyanya ragu sambil menyentuh kulit mulus Annisa.
"Tapi ini terasa sangat lembut." Gumamnya semakin cemburu.
"Jika kamu mau aku bisa memberikan mu ekstra bunga mawar, itu sangat bagus untuk kulit kita yang perempuan." Tawar Annisa seraya bangkit dari duduknya, menarik laci meja ia lalu mengambil 2 botol mini transparan dari dalam.
"Ekstrak bunga mawar?" Bingung Aisha jelas baru mendengar tentang hal ini. Ia juga tidak pernah tahu bahwa bunga mawar bagus untuk kulit kaum perempuan dan hanya tahu bahwa bunga mawar adalah lambang sebuah cinta.
"Iya, ini adalah ekstrak bunga mawar dan harus kamu gunakan setelah mandi." Jawab Annisa dengan sabar menjelaskan.
Ia meraih tangan putih Aisha yang sebenarnya tidak seburuk itu kulitnya, lalu kedua botol mini transparan yang ada di tangannya ia taruh di atas telapak tangan Aisha.
"Setelah mandi nanti kamu harus menumpahkan satu botol ini ke dalam bak mandi dan berendamlah di dalamnya selama beberapa menit. Yakinlah, kamu akan langsung merasakan efeknya yang luar biasa tak tertahankan."
Menatap dua botol mini transparan yang ada di tangannya dengan mata berbinar, "Aku akan mencobanya nanti saat mandi," Kembali menatap wajah cantik Annisa yang masih tersenyum manis.
"Terimakasih Annisa, kamu adalah wanita yang sangat baik." Meskipun baru sehari saling mengenal namun Aisha bisa melihat bahwa Annisa adalah gadis yang jujur juga sangat baik.
Ia beruntung bisa berteman dengan Annisa.
"Lalu, apa boleh kita berbincang-bincang sebentar sebelum kita pergi ke dapur umum?. Ini masih siang untuk mulai memasak makan malam untuk santri." Ketika melihat waktu di jam dinding, ini baru pukul setengah tiga siang dan seharusnya mereka punya banyak waktu untuk mengobrol bersama.
Aisha langsung setuju tanpa mengatakannya, ia dengan senang hati mendudukkan dirinya di atas ranjang Annisa dengan santai dan nyaman.
"Baiklah, jadi kita akan membicarakan tentang apa?" Tanya Aisha meminta topik, ia baru keluar dari masa penyembuhannya dan belum banyak tahu tentang pondok pesantren ini.
"Aku ingin kita membicarakan tentang Gus Fansyah." Jawab Annisa mencoba setenang mungkin, membuat dirinya terlihat senormal mungkin dengan mata yang diam-diam mengamati perubahan ekspresi Aisha.
"Tentang Gus Fansyah.." Gumam Aisha tanpa sadar mengingat sosok tampan yang pernah menyelamatkannya saat dikejar preman beberapa hari yang lalu.
"Jadi, bisakah kamu menceritakan kepada ku awal pertemuan kalian?. Sebagai salah satu orang yang mengenalnya, aku juga ingin tahu tentang pertemuan kalian yang penuh rahasia." Pertanyaan ini sudah lama Annisa ingin menanyakannya.
Namun, berhubung mereka masih belum akrab maka jadilah ia hanya bisa memendamnya dalam diam. Ia juga ingin menanyakan hal ini kepada Gus Fansyah tapi Annisa malu dan tidak ingin terlalu agresif di depan Gus Fansyah.
"Ah, awal pertemuan kami..." Ia kembali teringat dengan malam yang paling ia benci sekaligus malam terindah yang pernah ia miliki.
Ia benci karena nyaris saja ia kehilangan kehormatannya dan ia merasa malam itu indah karena pada saat itu ia bertemu dengan sosok Alif, cinta pertamanya.
"Itu terjadi pada malam hari di pinggir jalan yang gelap, pada saat itu aku sedang melarikan diri dari para preman dan secara kebetulan Gus Fansyah lewat di jalan itu. Ia melihat ku yang diganggu preman dan tanpa ragu ia menghentikan mobilnya untuk menolong ku. Lalu aku tidak ingat apa-apa lagi karena pada saat itu aku pingsan begitu masuk ke dalam mobilnya. Dan ketika aku membuka mata hal pertama yang aku lihat adalah kamar yang sudah beberapa yang lalu aku tempati. Kemudian aku tidak pernah bertemu lagi dengannya bahkan setelah aku tinggal di sini bersama mu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya." Ada kekecewaan ketika mengatakan yang terakhir.
Setelah bangun dari pingsannya Alif tidak pernah mencari dirinya lagi, jangankan mencari berpapasan secara kebetulan saja ia tidak pernah. Itulah mengapa ia begitu sedih, Alif tidak pernah mencarinya lagi!
Tapi hari ini ia sangat bahagia karena ia dengar orang yang membantu menyelesaikan masalahnya adalah Alif. Ia bahkan tanpa ampun mengirim orang-orang jahat itu ke dalam penjara. Jika bertemu nanti Aisha harus mengucapkan terimakasih untuk semua yang Alif berikan kepadanya. Jika Alif mau, Aisha juga tidak akan menolak jika Alif memintanya menjadi seorang istri.
Memikirkannya tidak bisa tidak membuat Aisha terus tersenyum, ah!
"Oh, jadi seperti itu." Gumam Annisa merasa lega. Ia pikir hubungan antara Aisha dan Alif sangat dekat namun nyatanya itu semua hanya kekhawatirannya saja.
Bagaimana mungkin Alif secepat itu melupakan Zahra?
Kalaupun iya, satu-satunya orang yang akan Alif cintai adalah Annisa karena wajahnya dengan Zahra punya kemiripan yang sangat mudah untuk diingat. Benar, jika Alif jatuh cinta lagi maka wanita yang ia cintai pasti Annisa.
"Annisa, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan obrolan ini lagi karena ini sudah jam 3 lebih 10 menit. Sebentar lagi akan masuk waktu sholat ashar." Ucap Aisha mengingatkan jika mereka tidak bisa berbincang lagi.
Sebentar lagi masuk waktu shalat ashar dan setelah sholat ashar mereka akan langsung ke dapur umum untuk membantu staf dapur memasak.
Melihat jam yang ada di dinding, "Kamu benar, sebentar lagi kita akan masuk waktu sholat ashar. Ya sudah, kita lebih baik ke masjid langsung saja agar tidak mengantri saat wudhu nantinya." Ajak Annisa ingin segera ke masjid.
Jika terlambat sedikit saja maka mereka akan kehabisan saf yang paling depan dan bahkan harus mengantri saat berwudhu nanti.
\*\*\*
"Fir, kamu masih hidup gak?" Tanya Fia iseng karena sejak ia mulai mengikatkan sabuk kain ke perutnya, Fira tidak pernah bersuara. Entah itu mengatakan jika sabuknya terlalu menjerat, sabuk ini membuatnya susah bernafas atau ikatan sabuknya terlalu longgar lah. Fira tidak mengeluhkan apapun.
"Astagfirullah, kamu kok nanyanya jahat gitu sih. Ini sama aja kamu doain aku!" Gerutu Fira kesal.
Ya siapa sih yang gak kesel ditanya begitu karena sudah jelas-jelas dia masih bernafas dan hidup pula!
"Hehehe..ya maaf aja sih kalau kamu marah tapi kan kalau kamu bersuara atau ngeluh waktu aku pasangin sabuk aku gak bakal ngomong gitu. Ini mah dari tadi kamunya diam terus jadi aku iseng nanya gitu deh siapa tahu itu benarkan." Cengir Fia tidak merasa bersalah sedikitpun.
Ia malah lega karena dengan begini Fira mau berbicara.
__ADS_1
"Nahkan, niat awal kamu emang udah jelek. Males ah ngomong sama orang gak jelas kayak kamu." Kesalnya semakin menjadi-jadi. Ia pun memilih menguburkan dirinya di dalam selimutnya yang hangat, menolak untuk berbicara.
Melihat Fira seperti ini, Fia bisa merasakan jika suasana Fira memang sedang tidak baik. Yah walaupun dimana-mana orang berhalangan selalu bermasalah dengan emosi mereka tapi Fira sedikit berbeda. Ia sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang cukup serius dan mengganggu.
Menyentuh lengan Fira yang ada di balik selimut, ia dengan sayang mengelusnya mencoba melunakkan emosi Fira yang sedang berantakan.
"Kamu kenapa sih Fir, kalau ada masalah kan bisa cerita ke aku sama Dira. Kita mau kok dengerin masalah kamu juga kalau bisa pasti kita bisa bantu selesaikan masalah yang kamu punya." Suara Fia lembut menasehatinya.
Fira diam tidak tergerak dengan tawaran Fia. Karena meskipun ia mau juga Fira bingung bagaimana cara menceritakannya kepada Fia, apakah ia harus jujur tentang Alif yang selalu membuatnya sedih?
"Fir, kalau kamu gak mau cerita sama aku nanti masalah ini aku laporin ke Mas Alif lho biar sekalian kelarnya." Ancam Fia tahu jika Fira paling takut berhadapan dengan kemarahan Alif.
Fira terlalu sayang sama Kakaknya, ah!
"Fia.." Panggil Fira akhirnya dari balik selimut.
"Iya Fir, aku dengerin kok." Jawab Fia lega akhirnya Fira mau berbicara juga.
"Fia, aku lagi marah sama Mas Alif." Suaranya lemah memberi tahu. Ia sedang marah dengan Mas Alif yang lebih mengutamakan orang lain daripada dia yang notabene sebagai adiknya.
Mengernyit heran, jarang sekali melihat Fira marah kepada Alif bahkan sampai dibawa galau seperti ini, terlalu langka.
"Kamu marah kenapa sama Mas Alif, hem?" Suaranya selembut mungkin.
"Aku marah karena Mas Alif lebih milih bantu gadis lain ketimbang dengerin cerita aku tadi pagi. Aku kan kesel jadinya karena belum menikah saja ia sudah lupa denganku lalu bagaimana ketika dia menikah nanti, bisa-bisa dia langsung amnesia!" Kesalnya masih kental di dalam hatinya, mengingat Alif lebih memilih gadis lain!
Setelah mendengar cerita Fira, Fia akhirnya mengerti mengapa Fira marah seperti ini. Tapi jika dipikir-pikir Alif tidak bersalah di sini karena orang yang paling ingin melihat Alif dengan gadis lain awalnya adalah Fira sendiri. Nah, setelah dekat seperti ini Fira tidak terima dan memilih opsi Alif lah yang salah di sini padahal semua ini sebenarnya dari Fira sendiri.
"Fira, sebenarnya kamu tidak bisa langsung menyalahkan Mas Alif seperti ini." Suara Fia ragu-ragu apakah Fira akan menolak jawabannya.
"Mengapa kamu bisa mengatakan seperti ini?" Namun, ternyata Fira mau mendengarkannya dan malah meminta penjelasan Fia lebih lanjut.
"Itu karena sedari awal kamulah orang yang mendekatkan Mas Alif dengan gadis-gadis itu jadi kamu tidak bisa menyalahkannya setelah ia benar-benar dekat dengan mereka. Ingat, jika saja kamu tidak memaksa Mas Alif untuk dekat dengan mereka maka mungkin Mas Alif tidak akan berubah sikapnya kepadamu."
Lalu, Fia tidak mendengar respon apapun lagi dari Fira. Mungkin ia baru menyadari kesalahannya dan sedang menyesali semua itu sekarang.
"Yah, kamu harus istirahat dulu di sini sementara aku harus pergi ke masjid untuk shalat ashar." Bangun dari acara duduknya, matanya tetap memperhatikan gerakan selimut yang turun naik dengan teratur.
"Nanti setelah sholat ashar aku sama Dira bakal ke sini lagi okay, assalamualaikum." Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Fira yang masih tidak merespon apapun.
Kamar ini kemudian menjadi sunyi, hanya ada Fira yang terkubur di bawah selimutnya yang hangat dan nyaman.
Cklack
Suara pintu kamarnya dibuka. Lalu suara langkah kaki seseorang bergema di dalam kamarnya tanpa gangguan.
Yah, ini belum 10 menit ia pergi dan mengapa secepat itu ia kembali ke sini? Apa ia membatalkan waktu sholatnya di masjid dan lebih memilih sholat di kamarnya.
"Dek, ini Kakak."
Deg
Nafas Fira tanpa sadar tertahan, begitu gugup rasanya ketika tahu Alif sekarang ada di sini. Fira karena merasa gugup tidak langsung merespon apapun sampai akhirnya ia merasakan jika selimut yang menutupinya perlahan terangkat. Memperlihatkan wajah tampan yang sudah beberapa hari ini membuatnya terombang-ambing dalam emosi yang tidak jelas.
"Jangan berpura-pura tidur, dek." Ucap Alif lembut, ia tahu jika Fira saat ini hanya pura-pura tidur saja. Lihat, kedua bulu matanya yang panjang dan lentik bergetar ringan, menandakan jika ia hanya berpura-pura tidur saja.
Kemudian sebuah usapan lembut ia rasakan di pipinya, membuat mata yang tadinya tertutup kini perlahan terbuka menampilkan mata persik yang indah dan cantik di waktu yang bersamaan. Alif tanpa sadar sangat menyukai ini, ah tidak, semua yang ada pada Fira adalah hal favoritnya.
"Kamu marah ya sama Kakak?" Bisik Alif merasa bersalah.
Ia pribadi memang masih marah dengan kejadian siang tadi dan tentu saja Alif tidak akan melupakan pelajaran yang akan ia berikan kepada Fira nanti. Namun, ketika ia mendengar obrolan Fia dan Fira tadi Alif akhirnya ingat jika tadi pagi ia pergi dengan terburu-buru. Tapi saat itu tidak tepat untuk mendengarkan cerita Fira, karena yah seperti yang kalian tahu pagi tadi adalah puncak rencananya.
Jadi ia tidak bisa menundanya lebih lama lagi.
"Apakah Kakak merasa bersalah?" Tanya Fira ingin tahu dan entah mengapa ia ingin sekali mendengar Alif menjawab ya, jika dia memang merasa bersalah setelah membuat Fira marah.
"Hem, Kakak menyesal telah membuat mu marah." Jawab Alif tanpa ragu.
Fira tersenyum lembut, begitu senang mendengar jawaban memuaskan Alif yang entah mengapa membuat beban dihatinya hilang tanpa menunggu waktu lama.
"Baiklah, karena Mas Alif sangat menyesal maka Fira akan memaafkan Mas Alif." Karena hatinya dalam suasana yang baik maka ia dengan mudah memaafkan Alif. Lagipula seperti yang dikatakan Fia tadi ini semua adalah kesalahannya sejak awal.
Dan Fira menolak untuk mengakuinya.
"Tapi Mas Alif janji gak boleh ulangi kesalahan itu lagi atau kalau enggak Fira bakal benar-benar marah sama Mas Alif dan enggak akan pernah memaafkan Mas!" Ancam Fira kekanak-kanakan, membuat Alif tidak bisa tidak merasa geli dibuatnya.
Mungkin karena terlalu fokus dengan senyuman manis Fira membuat Alif tanpa sadar menundukkan kepalanya, itu hanya beberapa jarak saja yang bisa membuat kedua hidung mereka bersentuhan. Suasananya terlalu...aneh?
"Mas...Alif?" Panggil Fira sangat gugup dengan jarak yang sedekat ini dengan Alif. Bahkan ia bisa merasakan nafas lembut nan hangat Alif menerpa wajahnya, mereka terlalu dekat, ah!
"Hem?" Alif menjawab kalem, begitu menikmati memandangi wajah Fira sedekat ini. Tangannya yang sedari awal mengelus pipi Fira pun masih dengan tenang menyentuh pipi lembut itu, mengelusnya dengan lembut dan penuh candu.
Fira meneguk ludahnya kasar, meremat kedua tangannya yang ada dibalik selimut untuk pelampiasan betapa gugupnya ia sekarang.
"Fira?" Panggil Alif lembut, lembut sampai rasanya Fira ikut terhanyut dalam tatapannya yang tajam namun terlihat sangat menawan!
__ADS_1
"I-iya, Mas." Jawabnya masih gugup.
Mengelus kedua pipi Fira dengan lembut, kedua matanya yang pekat dan menawan masih fokus menatap kedua mata persik Fira yang indah.
"Kamu adalah gadis tercantik yang pernah Kakak lihat di dunia ini." Bisiknya serius, selama ini Fira adalah gadis tercantik yang pernah ia lihat di dunia.
Kedua mata persik Fira bergetar halus, memberikan kesan ada kerapuhan yang manis di dalamnya. Bahkan kedua pipinya yang putih mulus merona hebat di depan mata Alif dan tentu saja semua ini tidak akan pernah dilewatkan Alif. Ia menatap dalam diam perubahan wajah Fira yang pemalu, ini begitu menarik minatnya!
Biasanya ketika melihat gadis lain merona saat menatapnya, Alif tidak punya pendapat lain dan ia pikir itu adalah hal yang wajar. Namun ketika matanya jatuh pada Fira, melihatnya merona malu adalah sesuatu yang langka dan sangat cantik.
Mungkinkah Fira sudah mulai...
Memikirkan hal ini membuat bibir Alif terangkat puas, ia tersenyum begitu manis sampai-sampai Fira yang ada di bawahnya ingin sekali mengalihkan pandangannya dari Alif. Ia takut Alif mendengar suara detak jantungnya yang berdegup kencang!
Namun sebelum ia bisa melakukannya tangan Alif sudah meraih dagunya, membuat Fira tidak bisa memalingkan wajahnya.
"Jangan berpaling," Pinta Alif tidak ingin melihat Fira mengalihkan wajahnya dari pandangan Alif.
"Karena aku tidak suka melihat mu berpaling dari ku." Ucap Alif serius terlihat tidak bercanda sama sekali. Ia tidak suka melihat Fira berpaling darinya, itu membuatnya tanpa sadar marah.
Namun itu hanya sekilas karena setelah itu suasana hatinya kembali menghangat ketika melihat senyum malu-malu Fira, seakan tersihir olehnya Alif semakin menurunkan wajahnya. Menatap diam bibir merah nan ranum Fira sejenak membuatnya lupa akan pikirannya saat ini. Namun lagi-lagi ini hanya sesaat karena Alif masih bisa mempertahankan pikirannya tetap masuk akal.
Bergerak sedikit lebih tinggi ia akhirnya mencium kening Fira dengan sayang dan ini hanya bertahan beberapa detik saja sebelum ia bangun menjauhi Fira yang masih menutup matanya. Merasakan kehangatan yang ada di keningnya telah menghilang, kedua mata Fira perlahan terbuka kembali. Bertemu dengan senyuman manis Alif yang entah kenapa membuatnya semakin terlihat tampan!
Apakah ini yang dirasakan para santriwati ketika melihat Kakaknya tersenyum?
"Kamu makan dulu yah.." Suara Alif membuyarkan lamunan Fira.
Melirik nasi dengan lauk pauk yang ada di tangan Alif, Fira tanpa sadar menggelengkan kepalanya menolak.
"Aku gak lapar, Mas." Tolak Fira langsung.
Alif mengernyitkan keningnya merasa terganggu, "Kamu belum makan siang jadi gak baik kalau ditunda-tunda, dek." Ucap Alif tidak terima sambil menyendokkan satu sendok nasi dengan lauk di atasnya.
"Makan." Perintah Alif tegas tidak mau dibantah.
"Mas Alif ih, kok maksa sih!" Gerutu Fira kesal menolak untuk mematuhinya.
Alif yang tidak terpengaruh dengan raut kesal Fira tetap mempertahankan sikapnya, "Makan atau Kakak akan panggil Abu buat suapin kamu." Ancam Alif dengan wajah datarnya.
"Iya-iya, Fira makan nih." Fira gak mau dong disuapin sama Abi, apalagi Abi orangnya keras kepala. Kalau udah bilang mau nyuapin Fira maka mau tidak mau Fira harus menurutinya atau kalau enggak Abi akan tetap kukuh di dalam kamarnya.
20 menit kemudian Fira akhirnya bisa menyelesaikan suapan terakhirnya. Sebenarnya Fira sempat menolak beberapa waktu yang lalu untuk menghabiskan satu piring yang Alif bawa. Tapi lagi-lagi Alif adalah orang yang keras kepala dan menolak untuk meninggalkan Fira di sini sampai akhirnya Fira benar-benar menghabiskan makanannya.
"Oh ya Mas tentang Mbak Annisa, apa Mas suka dengan masakan yang dibuatnya?" Karena suasana hatinya sudah nyaman Fira pun merasa nyaman juga membahas jodoh Alif di sini.
Alif diam-diam mengamati ekspresi Fira, tersenyum samar Alif tanpa ragu menganggukkan kepalanya.
"Mas suka, memangnya kenapa?" Jawab Alif santai.
Fira tersenyum senang juga karena seperti yang ia duga Alif pasti akan menyukai masakan Annisa, "Enggak kenapa-napa kok Kak." Nanti setelah merasa lebih baik ia akan memberi tahu Annisa tentang kabar baik ini. Ia bisa membayangkan wajah tersenyum Annisa ketika tahu bahwa Alif menyukai masakannya.
Melihat ekspresi konyol Fira, Alif tahu bahwa pikiran anak ini sedang berkelana ke tempat yang seharusnya.
Sepertinya memang harus memberikan pelajaran lagi untuk membuatnya sadar.
Tok
Tok
Tok
Mendengar suara ketukan, Alif tahu jika Fia dan Dira pasti sudah ada di luar.
"Kakak keluar dulu yah, kamu bisa ngobrol sama Dira dan Fia untuk mengisi waktu kosong kamu." Pamitnya seraya berjalan keluar, dan benar di luar ia dapati Fia yang tersenyum energik dan Dira yang menatapnya sedikit aneh.
"Mas Alif." Panggil Dira setelah Fia lebih dulu masuk ke dalam.
"Ya?" Respon Alif santai.
Meskipun ragu mengatakannya tetap saja ia harus mengatakannya, ini demi mereka berdua. "Aku sudah punya seseorang di hati." Ucapnya malu-malu, jarang sekali melihat Dira bertingkah layaknya perempuan normal.
Alif yang bingung menganggukkan kepalanya, "Ya itu bagus, minta kepada Abi untuk mengurus hal ini." Karena Alif masih muda jadi belum punya hak untuk mengurus masalah lamar melamar antara para santri.
"Ya itu tentu saja." Jawab Dira merasa tidak enak seraya melemparkan pandangan meminta maaf kepada Alif yang lagi-lagi semakin dibuat kebingungan.
"Apakah ada sesuatu yang salah dengannya?" Gumam Alif menebak pasalnya tingkah Dira terlalu aneh. Menggelengkan kepalanya tidak perduli ia kembali teringat dengan Fira, suasana manis yang terjadi di dalam hampir saja membuatnya melewati batas.
"Ya Allah, hari ini aku sudah melakukan sesuatu yang berdosa." Gumam Alif tidak berdaya seraya mengelus dadanya yang masih berdegup kencang, berdegup kencang namun tidak ada rasa sakit. Hanya ada perasaan manis yang sangat candu.
Tersenyum lembut, Alif kemudian membawa langkahnya menjauh dari kamar Fira. Berpikir serius apa yang harus ia lakukan untuk membuat Fira tidak akan pernah punya pikiran konyol lagi untuk mendekatkan Alif dengan gadis-gadis itu.
Bersambung...
Minal aidzin wal faidzin, Minna🙏. Maafkan diriku yang baru mengucapkannya sekarang 🤣🤣🤣
__ADS_1
Oh, ya mampir dong ke buku yang lain Hapus Aku, Ai. In shaa Allah kalian bakal suka kok.
Okay segini aja, sampai jumpa Minna😘