Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Sekotor Itukah Aku Season II


__ADS_3

اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ ۚ  وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ


"Kepada Allahlah kamu kembali. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."


(QS. Hud 11: Ayat 4)


***


"Ainallah.. " Suara gadis itu putus asa. Ia terus saja berlari mengikuti kemana arah kakinya yang sudah melemah karena kelelahan berlari.


Terkadang gadis itu menghentak kakinya putus asa agar lebih cepat berlari dan terkadang pula gadis itu memukul dadanya lemah karena sering mengalami kehabisan nafas saat berlari.


"Allah.. " Mohon gadis itu putus asa, perlahan langkah kaki nya melemah. Ia jatuh terduduk meratapi betapa lemahnya ia.


"Allah.. Ainallah.. " Tangis gadis itu pilu.


Ia memeluk badannya yang hanya tertutupi kain mini nan tipis pemberian wanita paruh baya yang angkuh akan kekuasaan nya itu.


Ia sentuh telapak kakinya yang sudah dipenuhi bercak darah, darahnya sendiri.


Ia kedinginan, kesakitan, dan juga butuh pertolongan.


Ia butuh pertolongan Allah untuk menyelamatkan nya dari niat busuk keluarga nya.


Sebuah kejahatan yang akan membuat nya berakhir menjadi wanita yang ternoda sekaligus menjijikkan. Ia butuh pertolongan Allah untuk menyelamatkan nya.


"Ya, rabb.. Dengarkan lah suara jerit ku yang lemah ini."


"Ya, rabb.. Kau ambil ibu dan ayah ku dari dunia ini. Kau renggut mereka dari ku, ya Allah.. Aku ridho dan ikhlas. Kau uji aku dengan terjebak dalam kehidupan keluarga paman dan bibi yang dzalim, aku ridho ya Allah. Namun, jangan untuk kali ini ya Allah.. Sungguh aku tidak akan sanggup melewati nya. Lihatlah diriku ya, rabb.. Saat ini diriku lemah tidak berdaya. Aku telah berjuang untuk lari dari mereka. Kau lihat di sinilah aku berakhir, sendiri dan kedinginan. Tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu kawanan penjahat itu menangkap ku lagi.. Tolong aku ya rabb.. " Mohon gadis itu pilu.


Gadis itu terus saja memohon tanpa lelah sampai akhirnya tanpa dia sadari sekawanan orang dengan tampang preman telah berdiri dibelakang nya.


Mereka tampak memberikan sebuah senyuman marah sekaligus kepuasan, akhirnya mereka mendapatkan kembali kucing nakal tersebut.


"Disini kau rupanya.. " Suara rendah pria berbadan kekar dipenuhi tatto tersebut berhasil membuat gadis itu berjenggit kaget dan ketakutan disaat yang bersamaan.


Gadis itu ingin berlari, namun keadaan kaki dan tubuhnya yang lemah tidak mengizinkan.


Alhasil, ia hanya memeluk badannya yang berpakaian minim lagi tipis dengan perasaan ketakutan.


"Aisha, kemarilah sayang.. Jangan seperti ini, hem.. " Rayu pria berpakaian preman yang satunya lagi.


Aisha, gadis yang sedang meringkuk ketakutan itu adalah Aisha.


Ia semakin mengeratkan pelukan nya seraya bibir pucat yang mulai membiru itu tidak henti-hentinya memanggil Allah.

__ADS_1


"Kemarilah sayang.. " Rayu laki-laki yang lain.


Aisha menggeleng hebat, sungguh ia sangat takut saat ini.


"Ainallah.. Hiks.. " Isak gadis itu.


"Ainallah.. "


"Ainallah.. Ainallah.. Ainallah.. Siapa pun yang kau coba panggil saat ini tidak akan pernah bisa menolong mu. Dia tidak akan bisa!" Ejek preman berbadan kekar yang langsung disambut dengan gelak tawa oleh preman yang lain.


"Aisha, sekuat apa pun kau meminta pertolongan tidak akan ada yang akan datang menolong mu. Jalanan ini ada di hutan terlebih lagi ini sudah malam, tidak akan ada yang datang. "


Aisha menggeleng tidak terima. Dimana pun tempat ini bukan lah hal yang ia pikirkan, karena ia tau Allah tidak akan pernah diam melihat hamba nya terdzolimi seperti ini.


Ya, Aisha yakin. Aisha hanya perlu bersabar dan terus berdoa.


"Lagipula mengucapkan kata-kata tidak berguna seperti ini malah membuat kami semakin bernafsu kepada mu. "


Aisha semakin takut, ia semakin takut mendengar ucapan kasar yang sangat frontal diucapkan laki-laki menyeramkan itu.


"Ayolah kemari sayang, kita pulang. Sudah saatnya kita bersenang-senang, hem.. " Bujuk preman berbadan kekar seraya menunjukkan tatapan bernafsunya. Ia mencoba menggapai tangan kiri Aisha namun dengan amarah penuh langsung ditepis oleh Aisha.


Aisha memberikan tatapan sengitnya walaupun takut-takut.


"Aku tidak mau! " Tolak Aisha mutlak.


"Selain mahal, ternyata kau juga nakal yah, kau akan mendapatkan semua balasannya malam ini. " Smirk preman tersebut seraya meraih tubuh lemah Aisha dengan kasar dan tak sabaran.


Mendapatkan perlakuan seperti itu Aisha tentu saja tidak tinggal diam, ia terus saja melakukan perlawanan dengan cara meronta-ronta.


Hingga akhirnya suara teriakan dan histeris bercampur doanya dijawab oleh Allah, dari jauh terlihat sebuah mobil yang melaju cepat dan berhenti tepat didepan mereka.


Melihat itu Aisha bernafas lega, ia sangat bersyukur karena Allah tidak benar-benar meninggal kan nya.


Pintu mobil terbuka, menampakkan seorang pemuda dengan garis wajah yang tegas.


Mata pemuda tersebut menatap nyalang para preman yang baru saja menyeret kasar seorang gadis muda yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Siapa kau? Berani sekali ikut campur dalam masalah kami. " Marah preman berbadan kekar yang merasa kesenangannya diganggu.


Pemuda tersebut berdecih, memberikan tatapan dinginnya.


"Gus Fansyah. " Panggil pria paruh baya yang ada dibelakang pemuda tersebut.


Gus Fansyah atau biasa dipanggil Alif ini pun tidak merespon panggilan supirnya, ia justru memanggil balik supirnya.

__ADS_1


"Pak Maman, tolong bawa gadis itu ke dalam mobil. Berikan ia selimut yang ada didalam mobil untuk menutupi auratnya. " Perintah Alif tegas yang langsung diangguki okeh pak Maman.


"Tunggu setelah mereka mendapatkan balasan nya. " Sambung Alif murka.


Melihat sorot mata tuannya yang tidak biasa membuat pak Maman harus mengakui bahwa aura kepemimpinan Alif bukan lah sesuatu yang bisa diremehkan atau dipandang sebelah mata.


"Tidak perlu kau tau siapa aku, akan tertapi yang jelas aku sama sekali tidak ingin ikut campur dalam masalah kalian. Urusan ku disini hanya satu, membawa gadis itu pergi dari tempat ini. " Jawab Alif tegas tanpa rasa takut.


Mendengar itu sontak ketiga preman tersebut tertawa remeh, memandang Alif dengan tatapan mengejek.


"Gadis ini adalah urusan kami, jika kau mengusik urusan kami maka kau sama saja mengusik ketenangan kami. " Suara preman berbadan kekar terdengar angkuh.


Alif terdiam, hingga akhirnya.


"Itulah maksud ku, mengusik kalian. " Jawab Alif masih dalam aura dinginnya.


Mendengar itu sontak tiga preman tersebut tersulut emosi dan langsung bergerak menyerang Alif. Sementara Alif asik meladeni tiga preman tersebut, pak Maman pun membantu Aisha masuk kedalam mobil. Ia memapah Aisha hati-hati karena kondisi Aisha yang sedang tidak baik.


Setelah masuk dalam mobil, Aisha diberikan sebuah selimut yang memang sudah ada didalam mobil.


Aisha berucap terimakasih dan langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tersebut.


"Alangkah lebih baiknya kamu berbaring, nak. Biarkan tubuh mu beristirahat. " Saran pak Maman yang awalnya ditolak Aisha, namun karena paksaan dari pak Maman akhirnya Aisha pun mengikuti saran pak Maman, ia berbaring sambil terus berdoa semoga mereka semua selamat, termasuk pemuda tersebut, Alif.


Setelah sekian lama menunggu akhirnya Alif pun masuk kedalam mobil. Ia langsung mendudukkan dirinya dikursi depan samping pak Maman.


"Bibir gus Fansyah berdarah, se-"


"Langsung ke pondok pesantren, pak. " Potong Alif yang langsung dipatuhi pak Maman.


"Ainallah.. " Isak Aisha disela-sela tidurnya.


Mendengar itu sontak Alif mengalihkan pandangan nya, menatap Aisha yang sudah terlelap tidur.


Alif terdiam, ia tersenyum tipis dan beberapa menit akhirnya Alif memutuskan pandangan nya dan memilih menatap jalanan depan.


Sesekali ia meringis kesakitan karena merasakan perih diarea bibirnya dan merasakan sakit diarea perutnya.


"Gus, bagaimana dengan tiga preman yang tadi? " Khawatir pak Maman.


Alif terdiam cukup lama, memikirkan nya.


"Mereka kabur, salah satu teman nya pingsan dan salah satunya lagi kemungkinan besar mengalami patah tulang dan kaki. " Jawab Alif tenang berhasil membuat pak Maman cengok.


Ah, kemampuan bela diri Alif memang tidak bisa dipandang remeh.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2