Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Extra Part 1: Jalan Allah


__ADS_3

***رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ


"(Mereka berdoa), Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."


(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 8***)


***


Aku menatap wajah cantik Zahra yang terlihat tersipu memerah menahan malu.


Aku tersenyum, mengelus wajah Zahra untuk yang terakhir kalinya.


Aku tersenyum tipis memandangi wajahnya yang perlahan menunduk menutupi virus merah jambu yang tercetak manis di pipi putihnya.


Perlahan ku sentuh dagunya, membuat pandangan mata kami kembali bertemu.


Ku hela nafas ku sebelum mengucapkan sesuatu yang membuat ku harus terlihat kuat dimatanya.


"Kakak pamit, kakak harus pergi ke tempat yang bisa memulihkan hati kakak. Jaga diri kamu, dek. Cintai suami mu dan berbaktilah kepadanya. Jika Allah mengizinkan kita untuk bertemu kembali maka itu adalah sebuah pertemuan untuk mempererat tali silahturahmi. Kakak bahagia jika kamu bahagia."


Ucap ku dengan satu tarikan nafas. Ku lihat pergerakan matanya yang melebar terkejut. Perlahan aliran bening mengalir di wajah cantiknya.


Dia menangis dan ini membuat ku semakin tidak kuat untuk menatapi wajah terluka nya. Aku menurunkan tangan ku bersiap untuk melangkah pergi, namun lagi-lagi Zahra menggapai tangan ku, tidak mengizinkan ku pergi.


Isak tangisnya bahkan membuat ku mau tidak mau ikut menjatuhkan air mata.


Aku menunduk menatap dinginnya lantai, tidak mempunyai keberanian menatap wajah terluka nya. Dengan hati-hati ku lepas tangan bergetar Zahra yang menggenggam tangan ku.


Begitu genggaman tangan nya terlepas aku langsung berbalik dan melangkah pergi. Aku bisa mendengar suaranya yang semakin terisak tapi ini harus tetap aku lakukan. Apa pun yang terjadi aku harus tetap pada pendirian ku. Pergi dan menghilang menyembuhkan luka hati ku. Beristirahat dan mencoba untuk melupakan semua nya.


***


Aku menutup pintu kamar ku perlahan dan kemudian langsung berbalik berniat mencari kamar tamu, namun sebelum itu benar-benar terjadi ketika aku baru berbalik pemandangan pertama yang aku dapati adalah umi, abi, dan Annisa yang sedang bersedekap dada. Dari pandangan mereka aku bisa menyimpulkan bahwa mereka ingin meminta penjelasan dari ku.


"Ke ruang keluarga. " Pinta abi mutlak membuat ku dan yang lain mau tidak mau mengangguk patuh dan berlanjut mengikuti langkahnya menuju ruang keluarga.


Begitu sampai kami langsung mendudukkan diri di masing-masing sofa.


Suasana di sini sangat sunyi dan sedikit canggung, mungkin ini dikarenakan waktu berkumpul kami tidak lah tepat. Ini sudah hampir jam 2 dini hari namun wajah mereka tidak menampakkan tanda-tanda mulai mengantuk.


"Kami telah mendengar semuanya." Suara abi memulai obrolan. Aku tidak terkejut mendengar ucapan nya, jika pun aku terkejut maka akan sangat terlambat jika terkejut sekarang.


"Jadi, kesimpulan yang kami dapatkan dari pembicaraan kalian berdua adalah bahwa kalian berdua mempunyai keinginan yang kuat untuk bersama, namun semua nya tidak bisa kalian lakukan karena keputusan egois mu Razi, mengapa dirimu berlaku seperti ini terhadap putri ku?. Bukankah semua keraguan mu sudah terjawab dengan jelas bahwa Zahra juga menginginkan dirimu? " Ucap abi membuat ku tertegun.


Ya, Zahra memang mempunyai rasa yang sama dengan ku. Semua keraguan ku memang sudah terjawab, akan tetapi masalah ini tidaklah semudah yang dipikirkan.


Walaupun Zahra terbukti mencintai ku akan tetapi bagaimana dengan hubungan yang lain?


Hubungan yang dengan mudahnya diterima Zahra hanya karena kecerobohan nya.


Aku tidak bisa menyakiti hati yang lain, karena aku tau betul bagaimana perasaan Alif terhadap Zahra. Ya, aku ingat betul bagaimana caranya memandang Zahra dengan tatapan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dan aku tidak bodoh untuk melukai nya juga, Alif adalah adik sepupu ku yang kedua setelah Dira. Mereka sama-sama sangat berharga bagiku.


"Abi, tolong maafkan sikap Razi yang memang berlaku sangat egois kepadamu, terutama kepada putri mu, Zahra. Namun sejujurnya, abi harus tau bahwa keputusan yang Razi ambil bukanlah sesuatu yang mudah. Ini tidak seperti yang abi pikirkan, ini adalah sesuatu yang sulit. " Jawab ku berusaha agar setenang mungkin. Ku lihat dahi abi berkerut menungkik, jelas sekali ia seakan meminta penjelasan lebih dari ku. Diamnya abi sudah menjadi bukti untuk itu.


"Abi, Razi sangat bahagia ketika mendengar bahwa Zahra juga merasakan hal yang sama dengan ku. Akan tetapi semua itu sudah tidak ada gunanya lagi abi, Zahra sudah memilih bersama yang lain. Razi tidak sebodoh itu memilih egois dengan menyakiti hati yang lain hanya karena Zahra juga menginginkan Razi. Maafkan Razi, abi. Sungguh Razi tidak pernah bermaksud seperti itu kepada Zahra. " Pinta ku memohon maaf seraya mengakhiri penjelasan ku. Suasana kembali hening, tidak ada lagi yang berbicara. Mungkin karena suasana di sini sangat serius sehingga membuat mereka enggan mengucapkan sesuatu yang tidak penting.


"Tapi kau telah menyakiti putri ku, nak. Kau membuat nya menangis." Sendu abi berhasil membuat ku bungkam.


Benar, apa-pun yang aku coba katakan dan jelaskan semua nya tetap sama dimata mereka. Ya, aku pun mengakui bahwa aku adalah laki-laki berengsek yang dengan lancang nya membuat putri kecil ku menangis. Ku akui bahkan aku pun merasakan sakit saat ini.


"Aku tidak bermaksud abi, aku tid-aku minta maaf karena mungkin apa-pun yang ku coba jelaskan tidak akan pernah merubah apa-pun. Maafkan aku abi. "


"Kau tau, nak, kesalahan terbesar kami adalah membuat Zahra merasa terabaikan karena dunia. Kesalahan yang tidak akan pernah bisa aku maafkan sebagai seorang ayah, dan sejak setelah itu nak, aku selalu mengingatkan diriku bahwa saat itu adalah saat terakhir ia merasakan sakit di dunia. Dan saat itu pula aku berjanji pada diriku sendiri untuk membahagiakan nya, bagaimana pun caranya. Termasuk harus mengambil langkah egois." Jelas abi membuat ku terkejut.


Mengambil langkah egois?


Apa maksud abi jika pernikahan Zahra tidak akan pernah terjadi dengan yang lain?


"Apa maksud abi? " Tanyaku takut-takut.


Abi tersenyum samar dan bergerak menegak kan tubuh nya. Ia terlihat sangat berwibawa saat ini.


"Razi, yakinlah bahwa semua nya akan baik-baik saja. Maaf, jika selama ini kami menyembunyikan semuanya darimu nak. "


Aku bingung, apa maksud abi?


Hal apa yang disembunyikan abi dariku?


Kenapa aku tidak merasakan apa-pun tentang hal ini?


"Beberapa hari yang lalu, kami mengadakan pertemuan keluarga di pondok pesantren. Kami membicarakan masalah mu yang masih tidak menemui titik terang. Bahkan kami juga menyetujui bahwa pernikahan tetap dijalankan akan tetapi yang akan menjadi mempelai pria nya adalah dirimu Razi, bukan Alif." Jelas nya.


Aku membeku, ku rasakan seluruh bagian tubuh ku menjadi kaku dan tidak bisa digerakkan. Semua nya, apa yang ku dengar dan rasakan malam ini seperti mimpi bagiku. Aku takut ini hanya halusinasi ku.


"Untuk sementara waktu kau akan tinggal di pondok pesantren bersama keluarga besar mu. "


Dan ya, aku benar-benar tidak bermimpi. Ini nyata dan bukan halusinasi ku. Aku sejujurnya bahagia?


"La-lu bagaimana dengan Alif? " Tanya ku takut-takut.


Abi dan yang lain tersenyum kepada ku, senyum mereka sangat mengkhawatirkan.


"Alif setuju tanpa kami minta, ia bilang bahwa Zahra bukanlah jodohnya. Justru saat ia melaksanakan sholat istikhoroh wajah ataupun petunjuk yang mengarah ke Zahra tidak pernah Alif dapat kan. Jadi, Alif tidak mempermasalahkan hal ini. "


Aku tercengang, ternyata mereka bertindak sejauh ini.


"Sudah, ini sudah sangat larut. Sebaiknya kau istirahat karena setelah sholat subuh nanti kau akan berangkat ke pondok pesantren. Itu pasti melelahkan. " Ucap abi menyudahi pembicaraan kami. Aku tidak membantah atau pun menolak. Aku hanya mengangguk patuh dan dengan sendirinya tubuh ku berdiri mengikuti langkah abi, namun aku harus ke kamar tamu untuk malam ini.


"Abi. " Panggil ku pelan.


Abi tidak menjawab namun memberikan ku tatapan bertanya.


"Terima kasih untuk segalanya. " Ucap ku tulus yang langsung dibalas anggukan pelan dari abi.


"Ku titip putri ku kepada mu. " Pesan abi yang membuat ku memberikan nya sebuah senyuman keyakinan. Dan dengan begitu malam ku berakhir di rumah ini.


***


Di pondok pesantren


Alhamdulillah, aku telah sampai di pondok pesantren beberapa waktu yang lalu. Saat ini aku sedang duduk di sofa ruang tengah keluarga Alif, adik sepupu ku. Tentunya dia adalah keluarga ku juga.


Ini sudah sekian lama nya aku menunggu kedatangan Alif, namun sampai sekarang aku masih belum melihat batang hidungnya disini. Mungkin ia masih sangat sibuk dengan urusan kantor dan pondok pesantren, itu bukan lah sesuatu yang mengherankan mengingat Alif adalah penerus pemilik pondok pesantren ini, paman ku.


Sejujurnya bukan tanpa alasan aku ingin menemui Alif, selain ini menyangkut lamaran yang batal aku juga ingin memastikan sesuatu yang ku dengar dari abi. Sesuatu yang membuat ku sedikit terkejut dan bertanya-tanya, apakah benar begitu?


Lama ku menunggu tiba-tiba suara langkah mulai terdengar dari arah selatan, tepatnya dari arah pintu.


"Assalamualaikum.. " Salam seseorang yang ku yakini dari suara nya adalah Fia. Tapi sepertinya ia tidak sendiri karena suara langkah nya terdengar beruntun.


Dan benar, setelah menjawab salam Fia aku langsung mengalihkan pandangan ku ke arah asal suara Fia. Di sana Fia tengah berjalan dengan langkah biasa bersama dengan Dira, adik sepupu ku yang pertama. Dira adalah anak dari bibi Rum, anak kedua yang lahir setelah papah. Sebenarnya jika diurutkan secara garis keluarga Dira seharusnya dipanggil kakak oleh sepupu yang lain. Walaupun Dira tidak setua itu akan tetapi dari garis keturunan ia terlahir dari anak kedua kakek. Namun, karena ia tau umurnya lebih muda dari sepupu yang lain akhirnya ia lebih memilih menghargai yang lebih tua. Seperti halnya Alif, ia adalah anak pertama paman yang dalan keturunan kakek adalah anak ketiga setelah bibi Rum. Alif lebih dulu lahir daripada Dira, karena itu lah Dira memanggilnya dengan sebutan kakak. Itu pun berlaku untuk semua sepupu ku yang lain.


"Bagaimana kabar, kakak, apakah masih bisa bernafas dengan benar atau tidak? " Tanya Dira setelah duduk di sofa. Aku tau ia tidak benar-benar bertanya kepada ku, ia sangat kentara sedang memberikan ku ejekan.


"Seperti yang kamu lihat, Alhamdulillah masih bisa. " Jawab ku tidak bermaksud meladeni ejekan nya.


Mendengar nya, Dira memandang ku penuh maksud. Ia lalu memberikan ku sebuah senyuman tipis, menyeringai. Ah, aku pernah bukan mengatakan nya kepada kalian bahwa adik ku yang satu ini sangat aneh. Ia biasa mengatakan sesuatu dengan ekspresi yang mengerikan, apakah ia baik-baik saja dengan sikap seperti itu?

__ADS_1


"Jadi, bagaimana sekarang?. Kakak pasti sudah mendengar semuanya dari abi bukan? " Tanya Fia mengalihkan fokus ku.


Aku mengangguk singkat sebagai balasan, benar, abi telah menjelaskan semuanya tadi malam. Hei, jangan berpikir yang aneh.


Abi yang Fia maksud adalah abi yang merawat ku hingga sebesar ini. Abi nya Zahra, sahabat orang tua ku. Jika kalian bertanya dimana orang tua ku maka jawaban nya adalah kedua orang tua ku telah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan 17 tahun yang lalu. Aku tidak tau apa yang menyebabkan mereka kecelakaan akan tetapi yang harus kalian tahu bahwa aku sudah mengihklaskan nya. Aku sudah menerima nya dengan lapang dada bahwa ya, Allah lebih menyayangi kedua orang tua ku.


"Benar, kakak sudah mendengar nya tadi malam. Seperti yang kalian lihat, kakak di sini bersama kalian. " Jawab ku tenang. Tapi, ekspresi yang mereka tampilkan justru menunjukkan ketidak puasan yang jelas.


Dira memutar bola mata nya malas,  terlihat sangat tidak sopan. Ah, bagaimana aku bisa melupakan ini, adik ku ini kan memang aneh. Bukan hanya dia, tapi mereka semua.


Apa kalian ingat Fia saat masih di kota?


Awalnya aku tidak percaya akan tetapi saat aku melihat dengan mata kepala ku sendiri akhirnya aku yakin dengan itu, ah, betapa gilanya Fia dan Fira saat itu. Mereka berdua rela melepaskan jilbabnya dan berpakaian minim hanya untuk bisa dekat dengan Zahra. Itu adalah sesuatu yang sangat mengerikan, akan tetapi untungnya masalah ini tidak sampai tercium pihak keluarga yang ada di pondok pesantren. Jika sampai tercium maka aku tidak bisa menjamin mereka akan baik-baik saja.


"Lalu, bagaimana dengan kuliah kakak yang ada di Mesir? " Tuntut Dira.


Aku tersenyum mendengar pertanyaan nya.


"Sudah kakak konfirmasi beberapa waktu yang lalu, mungkin bukan sekarang." Jawab ku.


"Jadi, kakak memilih pergi dan meninggalkan Zahra? " Tanya Fia tidak suka.


Aku tertegun, kemudian menutup mulut ku rapat. Menahan tawa yang siap meledak jika tidak ku kontrol.


"Apakah ini lucu? " Tanya Dira polos.


"Tidak, maksud ku bukan begitu. Aku akan menikah dengan Zahra itu adalah keputusan yang ku ambil. Akan tetapi aku sedikit penasaran, bagaimana bisa aku tidak mengetahui bahwa beberapa waktu lalu keluarga besar telah melakukan pertemuan? " Tanya ku penasaran. Mendengar penjelasan singkat abi semalam aku menjadi sangat penasaran dengan hal ini. Mereka melakukan pertemuan tanpa melibatkan ku. Ini seperti mereka telah merencanakan semua nya dariku. Abi juga mengatakan bahwa Alif pun ikut serta dalam rencana ini, dan yang paling membuat ku kesal adalah mengapa Alif tidak pernah mengatakan apa pun tentang hal ini?. Mengapa Alif tidak memberi tahu ku tentang hal ini?


"Apa kakak bercanda? " Tanya Dira sedikit membuat ku tersinggung, bagaimana tidak aku tidak tersinggung jika ia bertanya seperti tadi. Pikirkan saja ini tentang perasaan hal yang bukan main-main, apalagi dipermainkan maka itu bukan lah sesuatu yang wajar.


"Bercanda, bagaimana bisa kau mengatakan sesuatu seperti ini adalah sebuah bercandaan bagiku?"


Dira mengernyit lalu mengangkat kedua tangan nya menjadi posisi menyilang di depan dadanya, bersedekap dada.


"Aku tidak mengatakan nya. " Bantah Dira membuat ku semakin dipermainkan, bahkan Fia kini sudah tertawa heboh, yah ku sadari jika aku benar-benar dipermainkan oleh mereka berdua.


Aku menyerah dan memilih tidak meladeni mereka berdua, ah betapa usilnya mereka berdua.


"Begini... " Suara Dira mengintrupsi ku. Aku menatap nya dalam diam, menunggu untuk kelanjutan dari ucapan nya yang meminta perhatian.


"Bukankah sudah ku katakan 3 minggu yang lalu  bahwa aku yang akan mengambil alih permainan, mengakhiri nya dengan cara ku sendiri, kau melupakan sesuatu yang penting." Ejek Dira mengakhiri ucapan nya kepada ku. Aku terdiam, berpikir kejadian beberapa waktu yang lalu.


Seingat ku, pertemuan terakhir ku dengan Dira saat aku sedang sakit. Ah, aku benar-benar melupakan hal ini, ucapan aneh yang dilontarkan Dira saat itu ku kira hanya sebatas emosi dan bualan saja. Aku tidak pernah berpikir jika dia benar-benar melakukan nya.


"Untuk masalah pertemuan keluarga, itu juga karena aku. Aku dan Fia telah mengatakan semua nya kepada Ustad Kholik, aku mengatakan pada paman Kholik bahwa Zahra sebenarnya menyukai kakak. Aku juga mengatakan bahwa kakak pun menyukai Zahra." Aku terdiam, sebenarnya saat ini aku sangat shock dengan apa yang diucapkan Dira. Mengapa ia senekat itu?


"Jangan kaget, aku dan Fia sebenarnya  tidak mempunyai keberanian yang besar untuk berbicara hal gila seperti ini. Akan tetapi walaupun begitu kami tetap melangkah karena tidak tahan melihat kesalah pahaman diantara kalian berdua. Seperti dugaan kami, mereka tidak percaya. Kami pun bingung untuk meyakinkan mereka hingga akhirnya Fia mengatakan bahwa mereka harus melihat semua nya dengan kepala mata mereka berdua sendiri. Mengawasi kalian berdua. "


Mengawasi ku?


Bagaimana bisa itu terjadi?


Jadi selama ini aku selalu diawasi oleh keluarga pondok pesantren?


Ini benar-benar membuat ku terkejut.


"Dan seperti itulah awal mula terjadi nya pertemuan keluarga disini. Sesimple itu. " Akhir Dira.


Aku belum cukup puas dengan apa yang mereka jelaskan. Aku ingin tahu lebih banyak lagi. Namun sebelum aku benar-benar bertanya suara ketukan pintu dan ucapan salam lebih dulu mengintrupsiku. Aku menjawab salam dan langsung ku persilakan masuk. Seperti dugaan ku sosok yang mengetuk pintu adalah Alif, Alif berjalan masuk dan duduk disofa samping ku. Melihat seseorang yang ku tunggu telah datang, Fia dan Dira pun izin undur diri. Mereka berdua paham ini urusan antara laki-laki dan tidak seharusnya mereka berdua yang sebagai perempuan ikut campur dalam urusan ini.


"Bagaimana kabar mu? " Tanya Alif lebih dulu memulai obrolan setelah Fia dan Dira benar-benar telah keluar. Aku mengangguk pelan.


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. " Jawab ku meyakinkan.


"Bagaimana dengan mu? " Ucapku berbalik menanyai nya.


"Alhamdulillah, seperti yang kau lihat. " Jawab nya membuat kami spontan menyungging kan senyum. Ah, ikatan keluarga kami memang tidak bisa dibohongi.


"Zahra, kenapa kau melepas kan nya?" Tanyaku menuntut penjelasan nya. Aku memang sudah diceritakan oleh abi tadi malam mengenai hal ini, akan tetapi aku ingin mendengar sendiri penjelasan Alif dari dirinya langsung. Aku ingin mencoba mencari kebenaran dari semua yang terjadi hari ini.


"Razi, aku tau jika selama ini kamu menyukai Zahra." Suara nya mulai menjawab.


"Apa kau tau dari D-"


"Tidak. " Potong Alif cepat.


"Ya memang benar jika Dira dan Fia sempat datang kepada ku dan memberi tahu ku tentang perasaan mu, akan tetapi sebenarnya aku memang sudah tahu dari awal. "


"Bagaimana bisa? " Bingung ku.


Bagaimana bisa Alif mengetahui perasaan ku, bukan kah aku tidak pernah mengatakan atau menceritakan nya kepada siapa pun?


Kecuali jika itu Dira dan Fia. Mereka memang mengetahui nya dari awal walaupun aku tidak menceritakan nya. Mungkin karena mereka perempuan sehingga perasaan mereka menjadi lebih peka terhadap yang lain.


"Hem, dari cara mu menceritakan dan menatap nya. Awalnya aku meragukan nya, akan tetapi setelah melihat tatapan berbeda mu kepada nya akhirnya aku yakin, kau menyukai Zahra-oh tidak, kau tidak menyukai nya akan tetapi kau mencintai Zahra. "


"Aku menjadi yakin lagi jika kalian berdua saling mencintai setelah aku melihat langsung bagaimana manjanya Zahra terhadap mu dan jangan lupakan jika tatapan aneh nya yang selalu antusias jika berada didekat mu. Aku menyadari satu hal Razi jika apa yang kurasakan tidak sebanding dengan apa yang kamu rasakan. Aku juga tidak bodoh untuk memisahkan kalian berdua, aku tidak sejahat itu."


Aku terdiam, ini tidak seperti yang aku perkirakan. Aku pikir Alif akan memberikan ku sebuah alasan omong kosong yang sulit diterima akal. Aku tidak tau jika ia tau sebanyak ini tentang aku dan zahra. Aku tidak tau jika ia memperhatikan dan mengawasi kami sampai sejauh ini.


"Alif, kau memang tidak memisahkan kami. Tapi kau tau? Kami yang menyakiti kamu, apa kamu tidak menyadari ini? "


Alif tersenyum simpul, diwajahnya saat ini hanya terlihat sebuah ketenangan dan kedamaian.


"Kau salah Razi, jangan pernah berpikir seperti ini. Di sini ada Allah dan selalu ada Allah, bagaimana mungkin aku bisa mengambil keputusan tanpa melibatkan nya?"


Aku tertegun. Aku melupakan hal penting ini. Alif bukan lah laki-laki yang sejahat itu, ia tidak egois dalam hal apa pun. Ada Allah, benar selalu ada Allah.


"Aku mengerti. " Suara ku menerima semua penjelasan nya.


"Razi, aku ingin menyampaikan sesuatu. " Suara Alif terdengar santai.


Aku mengangguk dan memberikan gestur menunggu.


"Malam ini aku akan pergi ke kota untuk menyelesaikan urusan kantor cabang, itu berlaku untuk beberapa hari, jadi aku minta maaf tidak bisa membantu mu untuk mempersiapkan pernikahan mu. Akan tetapi satu hal yang pasti, in shaa Allah di saat hari pernikahan mu aku akan datang. " Suara nya meminta izin.


Aku mengangguk dan mengatakan bahwa Alif tidak perlu memikir semua itu.


Setelah pembicaraan kami selesai, aku dan Alif langsung bergerak terpisah. Alif pergi untuk persiapan ke kota sedang kan aku pergi ke kamar untuk beristirahat. Karena tidak bisa ku pungkiri bahwa perjalanan dari kota ke sini bukanlah sesuatu yang cepat dan mudah.


***


3 hari kemudian


Aku menyelesaikan bacaan Al-Qur'an ku dengan hikmad lalu bergerak menutupnya, menempatkan nya di tempat yang seharusnya.


Aku melirik jam, sudah pukul 11 malam, besok adalah hari pernikahan ku dengan Zahra namun Alif masih belum memberikan kabar akan kepulangannya. Sejujurnya sedari tadi aku merasakan perasaan khawatir yang tidak beralasan. Aku merasa gelisah akan sesuatu yang belum aku ketahui, itulah mengapa aku sangat mengkhawatirkan Alif saat ini. Aku takut bahwa firasat yang ku rasakan saat ini adalah suatu pertanda untuk Alif.


Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar dari arah luar, aku segera berdiri dan berjalan ke pintu. Dan benar saja, disana sudah ku dapati Alif yang sedang keluar dari dalam mobil bersama wanita?


Alif menggendong wanita yang terlihat tidak sadarkan diri di sana. Tubuh wanita tersebut tertutupi sebuah selimut, keadaan wanita itu terlihat tidak baik-baik saja. Diwajah pucatnya terdapat sebuah luka lebam yang terlihat masih segar, Alif pun tidak jauh berbeda dengan keadaan wanita tersebut.


Diwajah Alif sudah ada beberapa luka lebam, bahkan dipunggung tangan nya kini sudah ada beberapa luka lecet.


"Abi, tolong gadis ini.. " Suara Alif buru-buru membawa wanita tersebut masuk ke dalam rumah. Melihat itu, paman dan abi tidak tinggal diam dan langsung bergegas membantu Alif.


"Apa yang terjadi, mengapa wanita itu bisa seperti ini? " Tanya bibi khawatir.

__ADS_1


"Cerita nya panjang umi, tolong dia umi.." Suara Alif kelelahan.


"Itu pasti nak, Razi tolong bawa Alif ke kamarnya, berikan ia obat merah dan penenang.." Perintah bibi. Aku mengangguk patuh dan bersiap membawa Alif berjalan mengikuti ku.


"Umi-"


"Jangan khawatir kan wanita ini, kami akan menanganinya. Lihatlah dirimu, kau tidak jauh berbeda dengan keadaan nya, obatilah. " Perintah paman mutlak yang langsung diangguki dengan patuh oleh Alif.


***


Author P. O. V


Pemuda itu masih saja tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini, ia menatap rumah yang ia pijaki sekarang berubah menjadi tempat yang sangat indah. Dipenuhi dengan dekorasi cantik dan terlihat anggun. Dan didepan nya kini, berdiri seorang pria paruh baya yang sedang menatap nya bahagia. Dari sorot mata nya yang mulai berkaca-kaca menahan air mata, ada sorot kelegaan yang tergambar di sana. Ia bahagia karena menitipkan-ah, lebih tepatnya yang akan menjaga putri tercinta nya adalah seseorang yang tepat. Seseorang yang ia percaya bisa mengawal dan membimbing putrinya ke jalan yang lebih baik lagi dan ia sangat lega akan semua itu.


"Abi. " Panggil pemuda tersebut seraya memeluk pria paruh baya itu dengan pelukan yang dalam akan sorot kerinduan.


"Abi mendidik mu untuk menjadi pria yang tangguh, bukan pria yang lemah terlebih cengeng. " Ejek pria paruh baya yang dipanggil abi, mengetahui bahwa pemuda yang ia besarkan penuh kasih sayang telah tumbuh menjadi pria dewasa yang kuat dan tegas kini sedang menangis dipelukannya.


Pemuda itu hanya bisa tersenyum simpul seraya menghapus jejak air mata diwajah tampannya. Sekali lagi ia tersenyum, tersenyum bahagia hingga lesung pipinya menampakkan dirinya malu-malu.


"Hiduplah berbahagia. " Pinta abi membuat pemuda tersebut tersenyum penuh arti seraya mengangguk semangat.


Abi menepuk pundak pemuda itu pelan seraya membawanya masuk ke dalam, menuju tempat yang akan menjadi gerbang untuk menghalalkan putri kecilnya yang ia impikan sejak dulu.


"Apakah kita bisa mulai sekarang?" Suara pria paruh baya kepada seluruh undangan dan kerabat, terlebih kepada seorang pemuda yang sedang duduk bersila dengan beraninya dihadapan para tetua dan penghulu.


Anggukan semua orang dan pemuda itu membuat para tetua mengangguk setuju dan memulai acaranya. Membuka gerbang pembatas secara perlahan dan mulai mengikat seseorang yang akan mendampingi sang pemuda menuju ridho nya.


Perlahan pemuda itu mengambil nafas sambil terus mengingat-ngingat firman Allah swt.


*يٰۤـاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَآءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا


"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."


(QS. An-Nisa' 4: Ayat 1*)


Firman tersebut terus membuat hati pemuda tersebut menghangat, ia yakin seyakin-yakinnya jika putri kecilnya yang akan menjadi bagian dari hidup nya adalah tulang rusuk nya yang Allah takdir kan untuk nya. Ia bahkan tidak lupa bagaimana kerasnya perjuangan dan rintangan yang ia lewati untuk sampai pada titik ini. Ia juga tidak lupa bahkan beberapa waktu yang lalu ia lebih memilih untuk menyerah memperjuangkan putri kecilnya, namun ternyata kuasa Allah adalah skenario terbaik untuk nya. Bagaimana manusia untuk berlari atau pun mengangkat tangan atas segala nya, sekali lagi Allah tidak akan tinggal diam. Jika manusia itu lelah, maka dengan kebaikan Allah dan kasih sayang Allah sang maha romantis yang akan melanjutkan nya. Dan ya, pemuda itu sangat bersyukur atas kebaikan dan kasih sayang Allah untuk segala nya. Terlebih untuk hari ini.


***


Razi P. O. V


Setelah mengakhiri bacaan Qur'an ku dengan doa yang dianjurkan rasulullah, aku mengambil nafas lega setidaknya satu kunci telah ku dapat kan. Ya, kunci yang sangat penting. Kalian tau? Putri kecil ku meminta mahar sebuah hapalan surat Ar-Rahman, aku begitu takjub sekaligus kagum dengan dirinya. Ku pikir ia akan meminta sesuatu yang biasa diminta oleh gadis-gadis diluar sana tapi ternyata aku salah, putri kecil ku berbeda bukan?


Setelah mengambil nafas yang cukup aku pun memberikan sebuah anggukan kepada abi, ya aku siap menerima dan membawa sang putri kembali ke dalam dekapan ku.


Abi menjulurkan tangannya yang langsung ku sambut dengan perasaan yang amat sangat tidak bisa ku gambar kan.


Aku menatap sorot mata tajam abi yang serasa mengikat ku untuk membalas tatapan nya. Setelah saling menjabat tangan, tampak jelas abi mengambil nafas sebelum mengucapkan kata-kata yang sakral.


"Ananda Muhammad Affianka Razi BIN Muhammad Affianka Fahriandi saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Zahra Affianisha binti Muhammad Affiarul Hadi dengan... "


***


Razi P. O. V


"SAH. " Teriakan semua tamu undangan dan keluarga besar membuat ku dengan spontan langsung berucap syukur. Abi menepuk pundak ku dan langsung ku sambut dengan sebuah pelukan kebahagiaan yang tidak bisa ku gambar kan. Selama didalam pelukan abi, aku tidak henti-hentinya berucap syukur betapa besar dan banyak nikmat yang Allah limpahkan hari ini. Alhamdulillah.


"Ayo, jemput istri mu. " Suara abi membuat ku tersadar dan langsung mengangguk antusias. Aku pun diarahkan berjalan menaiki tangga kamar pengantin kami, aku dan Zahra, istriku.


Disamping ku ada abi yang terlihat tenang dan tegar, disamping kiri ku lagi ada paman yang bersikap sama pula seperti abi.


Proses menaiki tangga ini terasa sangat lamban bagiku. Sebenarnya aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, akan tetapi rasanya ini tidak lucu jika aku bersikap tidak sabaran dan menjadi bahan tertawaan para tamu undangan.


Sejujurnya saat ini aku merasakan perasaan yang tidak bisa digambarkan. Dada ku pun sedari tadi tidak pernah berhenti berdetak keras bahkan lutut terasa seperti jeli saat ini. Ini adalah perasaan yang tidak bisa digambarkan.


Setelah kami sampai didepan pintu kamar Zahra, aku menghela nafas ku pelan kemudian dengan tangan bergetar mulai mengetuk pintu kamar pengantin kami.


Tok~


Tok~


Tok~


3 kali mengetuk pintu akhirnya pintu kamar pengantin ini pun dibuka.


Deg


Aku menatap kosong pemandangan yang ada didepan ku. Bahkan berkedip pun aku tidak rela untuk saat ini.


Bagaimana tidak?


Di sana, seorang gadis berdiri dengan sebuah gaun putih tertutup anggun ditambah sebuah cadar transparan tersemat manis disisi wajahnya.


Masyaa Allah.


Itu Zahra, istriku.


Ia tampak sangat cantik dengan balutan cadar tipisnya, ia jauh lebih anggun jika seperti ini.


"Ra.. Zi?" Zahra memanggil ku tidak percaya, aku tau pasti saat ini ia merasa sangat terkejut dengan kedatangan ku di sini. Aku tersenyum dan dengan lembut mengucapkan salam .


"Assalamualaikum warrahmatullahiwabarakatuh. " Salam ku seraya perlahan masuk kedalam kamar Zahra. Membuat Zahra semakin membeku ditempat. Rombongan yang mengiringi ku hanya menatap geli kepada ku dari luar kamar, bahkan Dira dan Fira secara terang-terangan melontarkan kata-kata menggoda, membuat wajah ku terasa hangat.


"Waalaikumussalam.. " Bisik Zahra menjawab salam ku. Ia masih menatap tidak percaya dengan ku yang kini tepat berada didepannya.


"Kenapa kakak ada di sini? " Suara Zahra mulai terdengar serak, bahkan air matanya pun telah mengalir mulus dikedua pipinya yang tertutup cadar.


Aku tersenyum hangat. Lihatlah, betapa manisnya Zahra saat ini.


"Apakah tidak boleh jika suami mu ini datang menjemput istrinya? " Goda ku semakin membuat Zahra shock bercampur bingung.


"Bukankah..bukankah hiks.. " Isak Zahra tidak bisa melanjutkan ucapan nya, Zahra meremat pakaian pengantin nya gelisah, ia terlihat ingin melakukan sesuatu namun seperti nya ia tahan.


"Kemarilah, sambut suami mu ini dengan pelukan hangat mu. " Suara ku seraya membawa tubuh bergetar Zahra dalam pelukan penuh kerinduan ku. Mendapatkan pelukan dadakan seperti itu membuat Zahra mau tidak mau memeluk balik diriku dengan pelukan yang tidak kalah eratnya. Zahra menenggelamkan wajah cantik tertutup cadarnya dibalik dada bidang ku, menangis dan menumpahkan rasa rindunya yang telah menggunung.


Aku memeluknya semakin erat, meresap rambut nya yang kini masih tertutup, ah betapa aku sangat merindukan Putri kecil ku. Aku sangat merindukan nya. Aku tidak bisa membayangi nya jika saat itu aku benar-benar pergi meninggalkan Zahra, aku yakin hidupku pasti serasa hampa.


"Ehem, jangan terlalu asik sendiri, masih ada acara yang harus kalian lewati hari ini. " Tegur abi yang sontak membuat ku dan Zahra melepaskan pelukan kami, bahkan kami baru menyadari tatapan mengejek juga menggoda dari orang-orang yang hadir di sana.


Dengan tangan bergetar aku mengeluarkan sebuah cincin emas bermata intan yang disematkan dijari cantik Zahra. Zahra menerima nya dengan tersenyum malu-malu. Bahkan aku sempat melihat betapa lucunya mata Zahra ketika melihat cicin yang sama juga tersemat dijari ku, ini cincin perak.


Umi mendekati Zahra dan terlihat membisikan sesuatu yang membuat Zahra mengangguk canggung.


Zahra perlahan bergerak meraih tangan ku, tangan nya terasa bergetar dan basah. Aku ingin tertawa rasanya melihat betapa malunya ia saat ini.


Setelah Zahra selesai mencium tangan ku, aku pun mulai bergerak meraih kepala Zahra dan membawanya ke depan ku. Berdoa didalam hati semoga jalan yang kami pilih membawa dampak yang baik untuk semua orang dan Allah pun ridho terhadap kami. Lalu diakhiri dengan aku mengecup keningnya hangat dan tulus.


***


Setelah semua acara selesai aku dan Zahra memilih duduk bersantai bersama yang lain diruang keluarga, bahkan sedari tadi kami selalu menjadi bahan godaan mereka semua. Sebenarnya aku malu, namun mengingat ini adalah sesuatu yang sangat membuat ku berdebar dan ini yang pertama kali, rasanya berlama-lama diluar untuk menenangkan hati bukan lah masalah.


"Apa kau lelah, hm? " Tanya ku selembut mungkin kepada Zahra seraya menggenggam tangannya lembut.


"Sedikit, tapi itu bukan apa-apa." Jawabnya malu-malu. Aku tersenyum hangat seraya mengelus tangannya lembut. Saat ini keluarga yang lain sedang membereskan beberapa hal yang tidak aku tau pasti, jadilah di sini hanya kami berdua.


"Zahra, Alif menyampaikan salam untuk mu. Ia tidak bisa hadir karena ia mengalami sebuah kecelakaan tadi malam. " Suara ku membuat dahi Zahra mengernyit. Aku yakin ia masih belum paham.

__ADS_1


"Aku akan jelaskan semua nya, tapi tidak di sini. Kita harus istirahat. " Suara ku lagi membuat Zahra hanya mengangguk patuh walaupun dirinya sangat kentara penuh akan kebingungan.


Bersambung..


__ADS_2