
Setelah pembicaraan tadi malam, Zahra kini sudah mulai merubah sikapnya. Ia akan mudah tersenyum juga belajar membuka hati untuk Alif. Sejujurnya, jika dilihat dari penampilan Alif, ia cukup baik dalam pandangan Zahra. Ia cukup menarik jika Zahra renungi lebih dalam. Hanya saja, ia harus bersabar membuat hatinya terbuka. Dengan mengejar Alif, ia yakin bisa menggantikan posisi pangeran tampannya.
"Fi, kamu harus dukung dan bantu aku agar bisa lebih dekat dengan Alif. Kalo bisa aku sampai nikah sama Alif kamu harus bantu. "
Fia terkejut, namun secepat kilat mengintrol ekspresinya. Tersenyum kecil, ia menganggukkan kepalanya, "Tentu, Zahra, apa-pun pilihan mu akan selalu ku dukung. "
Zahra tersenyum senang, ia sangat berharap bahwa apa yang ia inginkan bisa terwujud. Ya, terwujud atau tidak sang maha kuasalah yang menentukannya. Tapi bagaimana dengan hati?
"Zahra!." Teriak Dewi mengejutkan Zahra.
"Shit, lo ngagetin aja, anjir!. Untung aja gue gak punya penyakit jantungan, kalo iya, abis lo sama gue. " Zahra kesal karena dikejutkan seperti ini. Memegangi dadanya, ia mengelus-ngelus dadanya sabar
"Hahaha..sorry, gue sengaja kok." Timpal Dewi memberikan tawa meledek.
Mendengus, "Untung gue baik, mau aja lo ledek. "
Dewi tersenyum ringan setelah menghentikan tawanya, "Lagian lo sih, Ra, pagi-pagi udah ngelamun aja. Kesambet setan Beti tau rasa lo. " Berjalan di sisi Zahra.
"Serah gue dong mau ngapain aja, kan ini hidup gue, jadi lo-"
"Iya deh serah lo." Potong Dewi cepat. Fia yang menonton interaksi mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Hm."
"Oh, ya, ada tugas dari buk Helda!. Lo udah pada ngerjain belum? " Suara Fia mengagetkan mereka, tapi yang lebih membuat kaget adalah tugas dari buk Helda.
"Anjir, gue belum. " Dewi ikut berseru panik.
"Yodah yuk, kita langsung ke kelas aja. " Fia memberikan saran seraya mempercepat langkahnya menuju kelas.
"Woi, tungguin gue ellah." Dewi berteriak kesal seraya menarik Zahra dan mengejar Fia yang sudah jauh.
Sesampainya dikelas.
"Eh eh, kalian udah pada denger berita hangat, gak?" Tanya seorang gadis kepada teman duduknya.
"Berita hangat, tentang kak Revan, Cha?" Tanya gadis itu balik kepada gadis yang bernama Cacha.
"Jiah, kak Revan mah udah basi kali Rin.." Jawab Cacha menampilkan figur bosan.
"Kak Angga?" Tanyanya lagi.
"Kak Angga, kak Alfi, kak Yola, Zahra, pokoknya ini bukan tentang mereka semua. Tapi ini tentang yang lain.." Jawab Cacha gemas.
"Lha, terus ini tentang siapa?" Sekali lagi Ia bertanya dengan ekspresi keingintahuan yang besar.
"Ini tentang.."
"Iya ini tentang apa?" Sambar Ririn tak sabaran.
"Ini tentang pak Alif, Rin!" Jawab Cacha cepat.
"Hah, pak Alif?" Teriak Ririn histeris, yang langsung membuat semua penghuni kelas melongo.
"Ini sih bukan cuma berita hangat Cha! tapi juga berita heboh! panas-panas..." Ucap Ririn bersemangat.
"Huh, dasar alay, gitu aja di teriak-teriakin. Alay lo.." Randy yang menjadi korban dari teriakan Ririn menatap kesal sang pelaku pembuat onar.
Ririn memutar bola matanya kesal, "Ye, serah aku dong mau teriak apa gak. Ini kan mulut aku, bukan mulut kamu. Lagian yah, bilang aja kamu iri, dasar perusak mood!" Timpal Ririn sengit.
"Njir, lo yah dibilangin bukannya nurut eh malah ngelawan, dasar durhaka lo!." Randy juga tidak mau kalah.
"Suka-suka aku dong." Ririn menjawab santai.
"Shit, seandainya saja Allah ngasih ketua kelas kewenangan untuk ngutuk anak buahnya yang gak mau di atur jadi batu, pasti udah gue kutuk lo dari kemaren." Randy berucap semakin kesal.
"Sayangnya Allah gak sejahat itu." Timpal Ririn tak mau kalah.
Randy menatap jengah, berdiri, ia menunjuk Ririn dengan murka. "Lo yah jadi orang kok ngeselin banget!"
"Idih kamu kali yang lebih ngeselin!," Ririn semakin membesar kan volume suaranya karena tidak terima dengan perkataan Randy.
"Lo!"
__ADS_1
"Kamu!"
"Lo!"
"Kamu!"
"Lo!"
"Kamu!"
"Hoam, kalian ini pada kenapa sih?, pagi-pagi udah bikin rame kelas.?" Tiba-tiba seorang laki-laki masuk ke dalam kelas dengan wajah mengantuk nya. Ia menatap Ririn dan Randy dengan tatapan kebingungan.
"Lho, kok gak ada yang pada jawab sih?" Merasa semakin bingung karena tidak ada satupun dari mereka yang mau bersuara.
"Ririn?"
"Tau ah, gelap. Yuk, Cha, kita pergi, kalo di sini terus yang ada makin gelap ni kelas!" Ucap Ririn cepat seraya menarik tangan Cacha dan membawanya keluar kelas.
"Randy?"
"Mendung! tu cewek asli bikin gue kesel abis, udah ah gue cabut dulu mau ke ruang TU. Yogi, lo mau ikut?" Randy berseru kesal seraya meraih sebuah buku absensi usang di atas meja guru.
"Hah?"
"Kita ke ruang TU." Ucap Randy memperjelas lagi.
"Hah?"
"Hah..heh..hah..heh, lo mau ikut apa gak?" Kesal Randy.
"Oh, ok. Gue ikut." Jawab Yogi cepat.
"Gitu kek dari tadi." Mereka pun pergi menuju ruang TU.
sementara di lain tempat, Ririn dan Cacha melanjutkan obrolan mereka yang sempat tertunda.
"Terus, Cha soal pak Alif kenapa?" Tanya Ririn antusias.
"Serius?" Ririn dengan ekspresi ketidak percayaannya.
"Iyah, aku serius Rin." Jawab Cacha meyakinkan.
"Yes!"
Sementara itu, Zahra sudah berdiri di belakang mereka. Lebih tepatnya menguping pembicaraan mereka. Mendengar nya Zahra ikut merasa senang karena akhirnya ia bisa lebih dekat dengan Alif.
"Eh eh, ni anak kok datang-datang bukannya nyapa teman, eh malah senyum-senyum gak jelas."
"Zahra, ini lo kan?" Tanya Andrini khawatir.
Zahra memutar bola matanya kesal, " Bukan, gue Luna Maya. "
Andrini membola, menjauh dari Zahra. "Gue pikir si Zahra emang lagi kesurupan kayaknya. " Yang lain mengangguk sebagai persetujuan.
"Otak lo pada geser kali, ya. Ya-iyalah ini gue, sinting kali lo pada. "
"Ini serius lo? " Andrini masih tidak percaya.
"Hem. " Mendengarnya mereka langsung bernafas lega.
"Zahra-Zahra, ternyata ini efek yang lo dapatkan setelah nginep di rumah Fia tadi malam, otak lo sema-"
"Stop!, lo tau darimana kalo tadi malam gue nginep di rumah Fia?" Tanya Zahra cepat memotong ucapan Dewi dengan penuh selidik.
Andrini tertegun, menyadari kesalahan Dewi yang asal ceplos bicara saja. Berpikir, alasan apa yang akan mereka katakan kepada Zahra.
Astaga, si Dewi pakek acara keceplosan segala lagi. Ah, kalo sampai si Zahra curiga abislah semua rencana ku. Andrini merasa cemas.
"Iya, Wi, lo tau darimana kalo tadi malam Zahra nginep di rumah gue?. Perasaan tadi malam gue gak pernah kasih tau siapa-siapa deh.." Fia ikut bersuara dan meminta penjelasan dari Dewi.
Dewi bingung harus menjawab apa, "Gue.. "
"Sebenarnya, Ra, tadi malam itu kita kerumah lo. Kita mau ngajak lo pergi jalan-jalan, kan Kita semua udah jarang jalan berlima. So, tadi malam gue, Dewi, dan Andrini kerumah lo. Tapi bukannya ketemu sama lo, eh kita ketemu sama umi lo. Jadi, umi lo bilang kalo lo gak ada di rumah tapi lagi nginep di rumah Fia. Jadi, kita maklumin waktu lo sama Fia buat bermain dan milih gak jadi pergi jalan-jalan.." Latifa tiba-tiba menjawab, dengan ekspresi yang meyakinkan ia mencoba merangkai cerita yang terjadi tadi malam.
__ADS_1
Semoga aja mereka percaya, please. Doa Latifa.
Mendengar jawaban Latifa, Andrini bernafas lega. Ia hanya berharap bahwa Zahra mau mempercayai apa yang dikatakan Latifa.
"Ohh, lo kerumah gue?. Hm, iya-iya gue percaya." Jawab Zahra tenang dengan ekspresi biasanya.
"Ah, yodah, kita ke kelas aja. Jam pertama kan pelajaran bahasa Arab, ini juga udah mau masuk.." Ajak Andrini
mengalihkan pembicaraan.
"Ih, lo benar juga. Ini hari pelajarannya gak enak semua, jam pertama bahasa Arab. Setelah itu Agama Islam, selanjutnya SBD nah yang terakhir Matematika minat.." Dewi mengeluh dengan wajah masamnya. Mata pelajaran hari ini sangat membosankan, selain pelajarannya yang membuat sakit kepala, guru yang mengajar mapel tersebut juga sedikit menyebalkan.
"Lo curhat lihat tempat lihat situasi dong, main asal ceplos aja lo." Fia berusaha mengingatkan karena tempat mereka yang ada di luar kelas.
Dewi masih belum menyadari situasi, "Lho, emang kenapa?, ada masalah?" Tanya Dewi dengan wajah polos.
"Ada, lo mau tau?"
"Ya.." Dewi menjawab cepat.
"Waktu lo ngomong tadi di belakang lo ada pak Hilman, guru bahasa Arab kita. Mati kan lo, pasti lo jadi incaran pak Hilman habis ini. "
Mereka semua langsung tertawa terpingkal-pingkal, kecuali Dewi yang sudah terlihat ingin menangis memikirkan apa yang akan terjadi saat pelajaran bahasa Arab nanti.
"Udah, ah. Kita masuk aja." Ajak Dewi yang sudah berlari memasuki kelas.
"Ya-ya dia malah kabur." Ejek Andrini.
"Ya udah kita masuk yuk." Ajak Andrini.
"Kalian duluan aja, nanti gue sama Zahra nyusul." Tolak Fia.
"Oh, ok. Tapi kalian mau kemana?" Tanya Latifa.
"Zahra mau nemenin gue ke toilet."
"Oh, ya udah."
"Bye.."
"Yuk, Ra." Menarik Zahra.
Zahra memandangi tempat mereka berdiri sekarang, "Kita kenapa ke sini?, ini kan bukan toilet tapi taman Fi!"
"Ya-iya lah ini taman, siapa bilang ini toilet." Ucap Fia tenang.
"Dasar nyebelin, anak Tk pun tau ini taman bukan toilet. Tapi maksud aku kan kenapa gak jadi ke toilet." Protes Zahra.
"Hhmm, ok, kita jangan bahas masalah toilet atau taman. Aku cuma mau ngomongin ini sama kamu." Ucap Fia memilih mencari jalan keluar perdebatan mereka.
"Ngomongin apa?"
"Kamu merasa aneh gak sama kelakuan mereka bertiga?mereka tau kalo kamu nginep di rumah aku, okelah alasan mereka hampir benar dengan membuat alasan ke rumah lo,
tapi kan di rumah lo cuma ada bik Imah dan gak ada siapa-siapa lagi, Ra." Fia menjelaskan kecurigaannya tentang cerita yang Latifa katakan kepada mereka.
Mengangguk ringan, "Iya, kamu benar Fi. Pasti ada yang mereka sembunyikan dari kita." Zahra juga merasa curiga dengan cerita yang Latifa katakan.
"Aku emang dari awal berteman sama mereka udah mulai ngerasa gak enak gitu.." Berpikir, tiba-tiba mata Zahra membola tidak percaya, lalu beberapa detik kemudian ia sudah bisa mengontrol ekspresinya.
Mereka terlihat mirip, tapi apakah ini benar?
"Ya udah, lebih baik kita selidiki bersama. Kita harus bongkar siapa mereka sebenarnya." Suara Fia membuyarkan lamunan Zahra.
"Ah, ok."
"Ya udah, kita ke kelas yuk, nanti kita telat lagi."
"Ya, ayo. "
Fi, sepertinya tidak perlu. Biarkan mereka bermain sesuka hati mereka, aku tidak akan mengganggunya. Batin Zahra sendu.
Bersambung...
__ADS_1