
"Umi benar, tapi sebagai seorang laki-laki yang mengharapkan ridho kedua orang tuanya Alif ingin kalian berdua juga ikut andil dalam memilih calon pendamping untuk Alif. Alif percaya jika pilihan kalian adalah yang terbaik setelah semua karena kalian adalah 'kedua orang tua' yang luar biasa." Pilihan kedua orang tuanya ini memang yang terbaik jika itu sesuai dengan harapan yang Alif inginkan. Karena jujur saja, untuk merebut hati sang pujaan hatinya ini lebih sulit ketika berhadapan dengan Zahra dulu.
Dulu, Zahra masih bisa mengejarnya meski hanya sebuah pelampiasan namun hati sang pujaan hatinya ini benar-benar sulit ditembus. Bukan hanya itu, Alif juga khawatir jika perjuangannya untuk merebut hati sang kekasih sia-sia lantaran ikatan mereka yang sedikit rumit.
Ini membuat Alif sedikit takut karena hei, gadis manapun pasti terkejut jika tahu orang yang sangat dekat dengannya ternyata menaruh hati. Itu...yah, Alif akui sedikit mengerikan. Tapi Alif tidak kehilangan harapannya karena jawaban dari doanya saja gadis itu adalah dia jadi tidak ada jalan untuk menolaknya ketika Alif ingin menikahinya.
"Mas Alif," Setelah diam dalam kebingungannya, Fira yang sedari tadi hanya duduk menyimak sudah tidak tahan lagi dengan perasaan tidak nyaman hatinya. Ia ingin menanyakannya langsung kepada Alif tentang perihal mengapa ia menanyakan hal ini kepada Umi.
"Bukankah gadis yang akan Mas nikahi itu sudah terjawab di dalam sholat istikharah, lalu mengapa Mas tiba-tiba menanyakan hal ini kepada Umi?" Meremat kedua tangannya diam-diam, Fira dengan kuat menahan perasaan sesak yang menyebalkan ini.
Alif tidak langsung menjawabnya, namun diam-diam mata tajamnya yang pekat memandangi wajah cantik Fira yang kini sedang terlihat kening. Bahkan bibir tipisnya yang ranum kini sedang digigit cemas oleh Fira, entahlah.. melihat hal ini bukannya membuat Alif senang tapi justru merasa marah dan enggan pada saat yang bersamaan.
"Kakak memang sudah tahu siapa gadis itu." Jawab Alif tanpa ragu tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah Fira yang kini tampak semakin memburuk saja ekspresinya.
"Oleh karena itu Kakak mencoba mendengarkan pendapat Umi tentang dia, Kakak ingin tahu bagaimana pendapat Umi tentang calon istri Kakak nanti. Karena biar bagaimanapun satu-satunya orang yang pernah paling dekat dengannya adalah Umi jadi Kakak tidak ragu dengan penilaian Umi terhadapnya." Sambungnya dengan ekspresi tidak terganggu, terlihat sangat santai khas Alif biasanya.
Mendengar jawaban Alif, tubuh Fira seakan-akan kehilangan tenaganya. Dari jawaban Alif, Fira tahu jika Kakaknya sudah mengkonfirmasi bahwa calon istrinya diantara Aisha atau Annisa. Sebenarnya ini adalah kabar yang baik mengingat mereka berdua adalah orang-orang yang baik dan sholehah. Tapi entah mengapa hati Fira tiba-tiba menjadi enggan tentang ide ini, dalam hati ia bertanya-tanya mengapa dirinya tiba-tiba seperti ini?
"Mashaa Allah, apakah itu benar Alif jika jawaban dari sholat istikharah itu antara Aisha atau Annisa?" Umi tiba-tiba merasa antusias setelah mendengar percakapan anak-anaknya. Hum, tidak heran jika putranya selama ini berkelakuan aneh, selayaknya orang yang baru saja jatuh cinta. Ternyata alasannya adalah ini, orang yang ditakdirkan untuk hidup bersama dengan Alif adalah Aisha atau Annisa.
Memikirkannya membuat Umi tanpa sadar berharap jika itu adalah gadis yang mereka inginkan 15 tahun yang lalu.
Alif tidak langsung menjawabnya dan hanya merespon Umi dengan sebuah senyuman.
Melihat senyuman manis Alif yang langsung mengkonfirmasi kebenaran tersebut maka Fira hanya bisa tersenyum getir, merilekskan tubuhnya di sandaran sofa Fira berpikir dalam jika semuanya memang sudah direncanakan.
Seperti yang Alif bilang bahwa bukan hanya Alif yang akan menikah di bulan itu namun dirinya juga. Maka, rasa kehilangan Fira terhadap Alif pasti akan digantikan dengan suaminya nanti. Meskipun Fira masih ragu takut dengan hari itu namun Fira tidak bisa mengatakan apa-apa. Entahlah, hatinya lemah jika sudah menyangkut tentang Kakaknya ini.
"Baiklah, Umi pikir mereka lebih baik yang memasak untuk buka puasa hari pertama besok. Umi ingin melihat kecakapan mereka dalam bertindak di dapur, apakah mereka bisa memasak atau tidak Umi yang akan menilainya." Umi memutuskan dengan semangat yang tinggi. Ia sangat antusias dengan kabar gembira ini karena awalnya ia sempat khawatir tentang perasaan Alif kepada Zahra. Ia takut jika Alif masih belum bisa melupakan sosok Zahra di dalam hatinya oleh karena itu Umi dan Abi terus saja menunda-nunda tentang perjanjian ini.
Mendengar keputusan Umi, Alif mengernyitkan keningnya tanpa sadar. "Apakah dia harus pandai memasak, Umi?" Tanya Alif ragu, pasalnya ia sangat mengenal calon istrinya sendiri yang sangat anti dengan dapur.
Umi menggelengkan kepalanya dengan bijaksana, "Dia tidak harus pandai memasak karena setelah kalian menikah nanti mau tidak mau ia harus terbiasa dengan dapur dan dengan sendirinya ia akan pandai memasak. Akan tetapi meskipun Umi tidak mempertimbangkan apakah ia pandai atau tidak, Umi tetap ingin melihat usahanya dalam belajar memasak besok. Apakah ia berusaha atau hanya sekedar menjadi pengamat saja." Mengenai perihal ini Umi sangat hapal jika perempuan-perempuan di jaman sekarang sangat asing dengan dapur. Jarang ada yang bisa berteman dengan dapur bahkan bisa mengendalikan apapun yang ada di dalam dapur.
Oleh karena itu Umi tidak terlalu memberatkan calonnya.
"Umi benar, jika dia tidak bisa maka setidaknya dia berusaha untuk belajar memasak." Alif bernafas lega, beruntung jika Uminya tidak terlalu menuntut banyak tentang sang calon yang ia kenal Hem... memusuhi dapur.
"Nah, karena sudah diputuskan maka Umi tugaskan Fira besok untuk menemui mereka berdua. Katakan kepada mereka jika Umi ingin makan masakan mereka saat buka puasa besok, tapi Fira dilarang membocorkan pembicaraan kita hari ini. Umi ingin melihat dan menilai sendiri kegiatan mereka di dapur dengan jujur dan tanpa embel-embel sandiwara." Pesan Umi kepada Fira yang sedang bersandar lemas di sandaran sofa.
Meluruskan duduknya, Fira berusaha terlihat baik-baik saja. "Iya Umi, In shaa Allah besok Fira akan menyampaikan pesan ini kepada mereka." Jawabnya menyanggupi.
"Ya sudah, kalau begitu Umi ke dapur dulu yah. Mau masak buat makan sahur nanti, kalian lebih-"
"Umi tidak perlu melakukan itu karena Alif pikir sudah saatnya Fira mengenal dapur. Umi tidak ingin bukan jika Fira nanti dipandang buruk oleh pihak suaminya kelak?" Potong Alif memberikan saran, pasalnya adiknya ini masih belum mengenal dapur dan sebagai Kakaknya, Alif turut berduka untuk sang suami kelak.
Hem... sejujurnya, ia ingin mencicipi masakan pertama buatan Fira karena Alif yakin dalam hidupnya Fira tidak pernah memasak makanan sendiri dengan kedua tangannya. Itulah mengapa, sebagai seseorang yang akan....yah, seperti itulah.. Alif ingin masakan pertama Fira dimakan olehnya.
Terkejut, "Hah, aku?" Tanya Fira spontan.
"Kamu benar, Fira harus belajar terbiasa dengan dapur malai dari sekarang. Ya udah, urusan makan sahur Umi serahkan kepada Fira. Entah itu masakan kamu enak atau tidak, Umi dan Abi akan tetap memakannya." Putus Umi setelah memikirkannya dengan cermat jika putrinya suatu hari nanti akan pindah ke rumah sang pihak suami. Memang benar, Umi tidak mempermasalahkan kecakapan seseorang di dalam dapur tapi itu tidak sama dengan pemikiran sang calon mertua. Bisa saja calon mertua Fira nanti adalah orang yang kritis jadi mau tidak mau Fira harus membiasakan diri dengan lingkungan rumah mulai dari sekarang.
Memikirkannya, Umi tidak bisa menampik rasa khawatirnya.
"Tapi kalau Fira nanti gak sengaja masukin sianida, gimana? Umi sama Abi tetap mau makan?" Fira mencari jalan keluar agar tidak memasuki dapur.
Umi tersenyum dengan bijaksana, "Karena itulah Umi mengutus Alif untuk mengawasi mu. Baiklah, karena kalian sudah sepakat maka Umi punya waktu untuk istirahat sebentar."
"Kapan Fira menyepakatinya?" Fira bertanya dengan panik.
Umi yang sudah bangun dari duduknya tiba-tiba mengedarkan pandangannya di sekitar ruang tamu, "Apa kamu tadi mendengar seseorang berbicara, Alif?" Tanya Umi dengan tatapan kebingungannya kepada Alif yang kini terlihat sedang dalam suasana yang baik.
Tersenyum polos, "Alif tidak mendengar apapun, Umi, apa Umi juga mendengar seseorang berbicara?" Jawab Alif bekerja sama dengan Umi, mereka berdua seakan tidak terpengaruh dengan tatapan kesal Fira yang berapi-api.
"Oh, Umi juga tidak mendengarnya. Hoam-" Menutupi mulutnya, "Umi mengantuk jadi sisanya kamu urus ya , Alif." Pesan Umi yang langsung disanggupi Alif. Setelah mendapatkan kesanggupan putranya, Umi tidak punya kegiatan apapun lagi dan memutuskan untuk beristirahat di dalam kamar sembari menunggu kedatangan suaminya.
"Mas Alif, Fira gak bisa masak apa-apa." Suaranya mengeluh. Ah, hari ini mengapa hatinya dibuat begitu terombang-ambing. Tadi siang ia dibuat meleleh dengan perhatian Alif, eh, malamnya dia udah buat beku saja.
Ah... sudahlah, ini sangat membuat Fira pusing.
"Karena itulah Kakak minta kamu buat belajar dari sekarang, biar besok saat buatin suami kamu kopi, kamu ambil gula yang bener bukan sianida." Kata Alif dengan perasaan yang lucu, ia berpikir di dalam hatinya jika sejak kapan ia sangat menyukai ekspresi cemberut Fira yang menggelikan.
Atau sebenarnya, ketika seseorang jatuh cinta memang seperti ini? Menyukai segala apa yang ada pada sang kekasih?
Ay, memikirkannya terus menerus membuat Alif tidak bisa berhenti tersenyum.
"Gak lucu kali Mas." Kesel Fira seraya bangun dari duduknya berjalan menuju ke dapur.
"Lagian yah, Mas kok kelihatanya senang banget ketemu sama calon istri besok. Padahal tiap Fira singgung dulu tentang mereka Mas selalu gak suka dengar, tapi kok baru-baru ini jadi seneng sendiri." Suara Fira mengeluh, yah..dulu saat Fira menyebutkan tentang mereka, Alif selalu menolak atau tidak suka membahasnya.
Tapi mengapa tiba-tiba jadi berubah beberapa hari ini?
Ah, kesal!
"Hem, siapa yang gak senang coba kalo ketemu sama calon istri sendiri. Lagipula nih bukannya kamu yang kemarin-kemarin semangat banget pengen jodohin Kakak sama mereka. Nah, sekarang kan lagi proses jadi kamu bisa tenang." Jawab Alif mantap dengan senyuman manisnya yang tampan, ia bahkan dengan patuh mengikuti langkah Fira yang jelas terlihat kesal.
Hem, entah mengapa Alif sangat menyukai melihat Fira menderita seperti ini.
(Author: Cek..cek..masokis si Alif nih🤭)
"...iya, Fira akhirnya tenang setelah melihat Mas Alif bahagia seperti ini." Meski sejujurnya hatiku masih sakit karena ternyata yang Mas butuhkan bukan aku, tapi orang lain.
"Hem, terimakasih Fira. Kamu adalah satu-satunya penyemangat Kakak yang luar biasa, terimakasih karena sudah mendukung Kakak selama ini." Alif tidak tahu jika ucapan terimakasihnya ini semakin menambah garam di dalam lukanya Fira. Ia tidak bisa melihat bagaimana ekspresi sendu yang kini ada di wajah Fira.
__ADS_1
Bagaimana mengatakannya?
Fira sepertinya belum siap melihat Kakaknya pergi bersama wanita lain, ia belum sanggup melihat Kakaknya memanjakan wanita lain selain dirinya. Ia masih belum sanggup melihat Kakaknya lebih mengutamakan wanita lain dibandingkan dirinya sendiri. Ia masih belum sanggup..yah, ia belum sanggup melihat Kakaknya bersanding dengan wanita lain dan perlahan melupakan keberadaannya.
Itu rasanya mungkin sangat.. tidak nyaman.
"Nah, sekarang kamu mau masak apa?" Tanya Alif seraya membuka kulkas, menunjukkan kepada Fira berbagai macam sayuran yang masih segar di dalamnya.
Tersadar dari lamunannya, Fira kemudian berusaha memperbaiki ekspresinya yang bermasalah. Ia lalu menampilkan senyuman ceria yang seperti biasanya di depan Alif, "Mas Alif emang maunya makan apa?" Tanyanya tanpa sadar, seakan-akan apa yang ia masak sekarang adalah hanya untuk Alif.
Sejenak Fira membeku, namun beberapa detik kemudian ia menyamarkan sikapnya seolah itu adalah sebuah pertanyaan yang biasa. Padahal saat ini jantungnya berdebar kencang menunjukkan betapa takutnya ia mendengar suara protes Alif.
Alif yang merasa tersanjung, "Yakin nih nanya, emang Fira bisa buatin Kakak masakan yang Kakak sebutin?" Ucap Alif berniat bercanda seraya memilih-milih sayuran yang ia mau. Alif masih belum berani menyuruh Fira memasak daging karena takutnya jika salah-salah dagingnya akan terbuang sia-sia.
Yah meskipun salah sejujurnya Alif akan tetap memakannya jika itu buatan Fira.
Berbeda dengan maksud Alif yang bercanda, namun ketika itu masuk ke dalam pendengaran Fira jatuhnya itu sebuah ucapan yang mengejek. Fira merasa sedih sekaligus kesal karena Alif meremehkan masakannya. Apalagi ketika mengingat hari dimana Alif memakan dengan lahap masakan Annisa, itu semakin membuatnya marah dan sedih secara bersamaan.
"Gak jadi, lebih baik Fira masak sayur tumis kangkung aja." Marah Fira sambil mengambil beberapa ikat kangkung yang kelihatannya baru saja dimasukkan ke kulkas.
Melihat betapa kesalnya Fira, Alif tidak lagi merasa senang namun ia justru merasa khawatir. Khawatir jika kemarahan Fira kali ini memberikan dampak pada masakan yang akan ia buat, bisa jadi kan dia memasukkan satu sendok garam ke dalam tumisannya?
Hem, jika seperti itu Alif akan berakhir mules keesokan harinya.
"Em.. Fira, Umi bilang kalau mau masak itu harus dalam keadaan tenang. Itu biar masakannya matangnya bagus dan gizinya gak hilang." Panik Alif mencoba menyelamatkan sedikit dari kehidupannya yang sedang dipertaruhkan. Sebenarnya apa yang ia katakan ini hanya omong kosong belaka, itu sama sekali tidak ada pengaruhnya terhadap masakan.
Fira semakin marah, menjatuhkan kangkung tersebut ke atas meja ia lalu mengambil wadah dan menyeret kursi untuk duduk di depan meja. "Ini yang masak Fira bukan Umi, jadi marah atau gak marah tidak akan mempengaruhi masakan Fira." Balasnya tidak terima sambil membuka ikatan kangkung yang terlihat sangat menggangu di mata Fira.
"Ah..ok." Karena Fira terlihat sangat marah, Alif tidak ingin mengatakan sesuatu yang aneh lagi kepadanya.
"Boleh Kakak bantu masaknya?" Tanya Alif meminta izin kepada Fira, ia bermaksud mencairkan kemarahan Fira.
Fira yang merasa sedih karena diremehkan semakin berburuk sangka kepada Alif, pasalnya ketika Annisa memasak waktu itu Annisa sama sekali tidak membutuhkan bantuan siapapun di dapur. Jika bukan karena waktu itu Mas Alif yang memintanya memasak di dapur, mungkin masakan Annisa sudah cepat selesai membuat tumisan itu.
"Ini Mas Alif sendiri yang minta Fira buat belajar jadi gak usah dibantu, katanya Fira harus jadi istri yang baik." Jawab Fira kesal.
Ah.... apapun yang dikatakan Alif selalu salah dimatanya!
"Karena Fira sedang belajar jadi Mas Alif bantu tegur aja kalo ada salah nanti. Tapi, Mas Alif kan cowok mana bisa ngerti urusan dapur begini." Setelah berpikir panjang, Fira tidak pernah melihat Alif masuk dapur untuk memasak jadi Fira ragu jika Alif mengerti dengan urusan yang ada di sini.
"Kakak ngerti kok, kan di Kairo Kakak tinggal sendiri yang otomatis juga makannya masakan sendiri." Saat kuliah di Kairo, Alif berusaha untuk hidup mandiri dan terbiasa dengan urusan rumah. Sebenarnya juga anak santri memang terbiasa dengan urusan rumah, mereka diajarkan untuk bisa hidup mandiri di perantauan. Jadi tidak perlu panik rasanya jika anak santri pergi sekolah ke tempat yang jauh-jauh, karena mereka sudah punya bekal yang kuat.
"Oh, Fi-"
"Ya Allah, Fira kalau mau motong kangkung tuh gak perlu pakek pisau. Cukup pakek tangan aja biar kamu tahu mana bagian yang tua sama muda batangnya." Tegur Alif ketika melihat Fira sudah mengangkat sebilah pisau untuk memotong kangkung yang sudah dibariskan di atas talenan.
Tertegun, tanpa sadar Fira melepas pisau tersebut dari tangannya. Ia sedikit terkejut dengan teguran ganas Alif kepadanya.
"Tapi Fira gak bisa, Mas." Lapor Fira mengeluh.
"Mas Alif jahat." Gerutu Fira kesal sambil mengambil satu batang kangkung dan dengan kaku memotongnya dengan hati-hati seraya meraba-raba dimanakah letak batang tuanya.
"Nah, kalau yang ini agak susah kan di potong?" Tanya Alif menebak membuat gerakan kaku tangan Fira terhenti.
Fira yang ditanya seperti itu sekali lagi mencoba menarik bagian tersebut, dan memang seperti yang dikatakan Alif jika bagian ini agak sulit untuk dipotong.
"Ini sedikit sulit." Jawab Fira mengakui.
"Ini adalah bagiannya yang tua. Kamu harus inget baik-baik kalau mau masak kangkung jangan sampai bagian ini juga kamu masak, ini adalah bagian yang tua dan gak enak." Alif memberikan Fira informasi yang langsung diserap dengan cepat oleh Fira.
Setelah mendengarkan arahan dari Alif, batang kangkung selanjutnya bisa di atasi dengan mudah oleh Fira. Meskipun gerakan tangannya kaku karena belum terbiasa dengan dapur, namun melihat pemandangan ini justru membuat Alif merasa senang dan lega.
Ia senang karena orang pertama yang mengajari Fira adalah dirinya sendiri dan Alif juga lega karena orang pertama yang melihatnya berusaha di dalam dapur adalah dirinya sendiri.
Hem, Alif sangat menyukainya.
"Nah sekarang kamu kupas bawang putih sama bawang merah dan setelah itu kamu iris tipis-tipis." Alif mengarahkan langkah selanjutnya setelah Fira selesai mencuci kangkung.
"Bawang putihnya berapa biji?" Tanya Fira seraya mencari bawang di tempat biasanya ia ditaruh.
"Semuanya pakai aja 4." Jawab Alif tanpa ragu.
Setelah mengambil sama-sama 4 biji, Fira kemudian langsung mengambil pisau yang sempat dibuang tadi dan dengan hati-hati mengupas bawang dengannya.
"Astagfirullah Fira, jangan pakek pisau dulu." Alif merasa ngeri melihat Fira dengan entengnya mengupas bawang dengan pisau. Ia takut jika tangan Fira kenapa-napa karena biar bagaimanapun ini adalah pertama kalinya ia memasuki dapur!
"Terus Fira pakek apa?" Tanya Fira rada takut setelah mendapatkan teguran dari Alif yang terkesan galak untuknya. Ini seperti dulu ketika ia mengaku kepada Alif tentang kejahatannya terhadap Zahra. Suara Alif saat itu setajam ini, ah.. jika dipikir-pikir saat ini Fira sedang dimarah!
"Pakek charter dulu." Alif mengambil alih pisau tersebut dari tangan Fira dan menempatkan charter yang sudah bekas di tangan Fira.
"Lho, ini kan sama aja." Sama-sama benda tajam juga!
"Beda, ini udah lama dan gak terlalu tajam. Sedangkan pisau ini meskipun udah lama tapi sangat tajam. Kalau salah-salah nanti tangan kamu yang ke iris. Tapi kalau charter ini gak sampai buat tangan kamu luka, paling cuma kaget aja kalau terpleset ke jari." Jelas Alif sambil memperlihatkan sisi tumpul dari charter tersebut.
"Oh..ya sudahlah" Setelah itu Fira kembali fokus memasak dan mendapatkan berbagai macam teguran yang terkesan ganas bagi Fira. Meskipun sering di marah, namun entah mengapa Fira cukup menikmatinya. Bisa sedekat ini dengan Alif sudah jarang ia rasakan mengingat Alif adalah orang yang sangat sibuk di pondok pesantren. Entahlah, Fira tidak bisa memikirkan bagaimana kesepiannya ia ketika Alif kelak berumah tangga. Ia harap istri Mas Alif nanti mau berteman dengannya.
Hem... sejujurnya ini hanya kata-kata penghibur saja untuk dirinya sendiri.
"Mas Alif buruan cicip gih." Semangat Fira sambil mengambil sendok dan menyerahkannya ke tangan Alif.
Alif tidak mengatakan apa-apa dan dengan patuh mengambil masakan tersebut dalam sendok.
"Gimana?" Tanya Fira bersemangat.
__ADS_1
Menelannya dengan tenang, tidak ada perubahan apapun dalam ekspresi Alif. "Yah, ini lumayan." Ucapnya menilai. Mengangguk ringan, ia kemudian mengambil satu piring dan beberapa sendok nasi ke atasnya. Setelah itu ia mengambil beberapa sendok lauk tumis kangkung yang Fira buat dengan suasana hati yang nyaman.
"Lha, Mas mau ngapain?" Tanya Fira bingung melihat Alif yang kini sudah duduk manis di atas meja lengkap dengan sepiring nasi dan tumis kangkung.
"Mas Alif mau duluan makan sahur dulu." Jawabnya santai, membaca doa ia kemudian sibuk dengan makanannya.
Fira yang sedari tadi melihat tanpa sadar merasakan suasana hati yang baik, benar, masakannya memang lezat. Jika tidak lezat mengapa Mas Alif makan sahur langsung sebelum waktunya?
Setelah itu juga lihat saja, Mas Alif sangat lahap ketika memasukkan sesendok demi sesendok ke dalam mulutnya. Ah, melihatnya membuat Fira tiba-tiba menjadi lapar.
Tanpa ragu ia kemudian mengambil sendok lain dan dengan santai mengambil setengah sendok tumis kangkung yang masih hangat. Membaca doa, ia dengan bersemangat memasukkan sendok itu ke dalam mulutnya.
Hasilnya,
Diam-diam kedua mata Fira berair dan menatap Alif yang masih sibuk makan dengan pandangan bersalah.
"......" Rasanya sangat buruk, ah!
🤢🤢🤢
Setelah istirahat beberapa saat, Umi yang masih belum mengantuk meraih salah satu album foto keluarga mereka. Dengan perasaan nostalgia ia membuka lembar demi lembar kenangan yang tercipta dari berbagai lembar foto hingga sampailah mereka pada foto keluarga kecil yang terlihat amat sangat bahagia.
Seorang gadis kecil yang baru saja bisa berjalan tertidur lelap di atas pangkuan seorang anak laki-laki yang baru berumur 7 tahun. Anak laki-laki itu terlihat linglung pada saat pertama kali Umi berjumpa dengannya dulu dan mereka berdua harus menghabiskan waktu hampir 3 mingguan untuk saling bisa menyapa.
Mengingatnya tanpa sadar membuat Umi bersedih, sejenak ia teringat akan hari dimana laki-laki tersebut berpisah dengan Ibunya yang malang. Ia juga masih sangat ingat ketika sang anak laki-laki dengan linglung menanyakan dimana Ibu dan Ayahnya, kemana mereka pergi?
Saat itu, Umi saat bingung akan menjawab apa dan hampir menyerah untuk menghadapinya. Tapi, setelah beberapa minggu linglung tiba-tiba anak laki-laki itu tidak pernah bertanya lagi dan kemudian menjadi sangat akrab dengan lingkungan pondok pesantren. Tanpa sadar waktu terus berjalan dan anak laki-laki itu tumbuh menjadi seseorang yang hebat. Hem, anak laki-laki itu tumbuh dengan sangat baik dan menganggap mereka berdua adalah kedua orang tuanya. Setelah semua Umi dan Abi juga memikirkannya, mereka memilih untuk diam dan terus bersikap selayaknya orang tua kandung yang baik.
"Ada apa, Umi?" Ketika Abi masuk ia sudah melihat istrinya tenggelam dalam masa lalu yang sedikit rumit, Abi bisa menebak jika saat ini sang istri dalam suasana hati yang cukup baik.
"Abi kapan masuk?" Tanya Umi sedikit terkejut, ia bertanya-tanya sejak kapan suaminya masuk.
Abi tersenyum, "Baru saja." Duduk di samping Umi, " Sedang memikirkan apa, hum?" Tanya Abi penasaran dengan istrinya yang sampai bisa melamun sedalam itu.
"Memikirkan masa kecil Alif, Abi." Jawab Umi jujur seraya menutup album foto, mengembalikannya ke tempat semula dan mulai berbicara serius dengan Abi.
"Abi, 15 tahun yang lalu kita pernah berjanji untuk menikahkan Alif dan Razi dengan Annisa dan Zahra." Suara Umi mulai mengingatkan akan amanah yang mereka emban.
"Sebelumnya, Umi pikir jika perjanjian ini sebenarnya tidak bisa dilaksanakan karena saat itu dua bersaudara memperebutkan Zahra. Akan tetapi setelah mendengar keputusan Alif beberapa saat yang lalu, perjanjian 15 tahun yang lalu bisa kita lakukan."
"Itu sesuai dengan janji kita jika Razi menikahi Zahra dan kemudian Alif akan menikahi Annisa, semuanya bisa berjalan sesuai dengan rencana kita semua dulu." Umi akhirnya bisa merasa lega jika Alif memilih menikah dengan Annisa karena 15 tahun yang lalu isi perjanjiannya adalah Alif yang harus menikah dengan Annisa.
"Apakah Alif ingin menikahi Annisa?" Tanya Abi terkejut, terlintas di dalam sinar matanya jika Abi sedikit enggan melihat Alif bersama Annisa.
"Alif memang tidak mengatakannya secara langsung, namun di antara Annisa dan Aisha sudah pasti calon yang Alif maksud adalah Annisa. Umi sama sekali tidak ragu akan pemikiran ini." Ia bersyukur karena jodoh yang didapatkan anaknya adalah wanita yang baik dan soleha lagi cantik. Siapa yang tidak senang coba diberikan menantu sesempurna itu?
"Yah, jika itu yang memang Alif mau maka semuanya baik-baik saja." Gumam Abi dengan pandangan menerawang. Sebagai seorang Ayah, Abi melihat dengan jelas pertumbuhan Alif menjadi laki-laki yang luar biasa. Dan sebagai seorang Ayah yang baik untuk putrinya tentu saja Abi menginginkan putrinya bersanding dengan laki-laki yang sudah ia besarkan dengan kepercayaan yang luar biasa.
Hah... sejenak, ia cemburu dengan keberuntungan Zahra yang menikah dengan Razi. Laki-laki yang sudah dibesarkan secara langsung oleh Abi Zahra, tentu saja Abi Zahra sangat bersyukur memberikan Zahra kepada Razi karena yang membesarkan Razi adalah mereka.
Otomatis mereka tahu betapa luar biasanya Razi untuk menjaga putri mereka.
Sayangnya, Abi tidak bisa merasakan hal yang sama dengan Abi Zahra. Abi harus merelakan Fira dengan laki-laki lain, sejujurnya...sangat enggan rasanya melepaskan Fira untuk laki-laki lain.
🍃🍃🍃
Zahra tiba-tiba terbangun dari tidurnya yang singkat, melihat jam yang ada di dinding waktu sudah menunjukkan pukul 02.14 dini hari.
Ah, hampir waktunya untuk makan sahur pikir Zahra panik seraya mencoba membangunkan suaminya yang baru beberapa jam terlelap.
"Mas, Mas Razi bangun~" Panggil Zahra lembut seraya mengguncang tubuh Razi yang masih belum mengenakan atasan apapun. Huh..mengingat tadi malam kedua pipi Zahra tiba-tiba memerah. Ia tidak habis pikir dengan suaminya yang katanya ingin memasak bersama dengan Zahra di dapur. Bukannya memasak di dapur Razi malah membuatnya harus bekerja lembur di malam hari, ah!
"Hem..kenapa, Zahra?" Tanya Razi masih dengan kantuknya yang luar biasa.
"Ini.." Ragu, Zahra tanpa sadar menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya dari sang suami. Ini sangat memalukan!
"Ini waktunya makan sahur dan Zahra masih belum masak apapun untuk makan sahur!." Keluh Zahra ketika mengingat tadi malam bagaimana ia bisa berakhir di atas ranjang.
"Oh, benarkah?" Razi langsung bangun dari tidurnya dan baru menyadari betapa merahnya wajah Zahra sekarang.
"Hem." Zahra semakin menaikan selimutnya hampir menutupi wajahnya.
Ah, ia mengerti bagaimana suasana hati istrinya.
Tersenyum penuh maksud, "Mau mandi bersama?" Tanya Razi terdengar alami.
Terkejut, Zahra tidak langsung menjawabnya namun memberikan Razi sebuah tatapan membunuh yang mengancam.
Terkekeh, Razi sedikit geli dengan sikap Zahra yang jelas berpikir aneh-aneh. "Jangan mikir yang aneh-aneh deh, Mas gak mungkin ngelakuin itu di dalam kamar mandi karena kamar mandi adalah tempat syeitan berkumpul. Mas ngajak kamu mandi bersama karena Aisyah Radhiyallahu Anha pernah mengatakan jika Aisyah dan Rasulullah Saw selesai melakukannya mereka akan mandi junub bersama, jadi apakah kamu mau mengikuti perilaku Rasulullah Saw kita?" Terang Razi meluruskan pikiran istrinya yang aneh.
Ah, Zahra merasa malu karena telah berpikiran yang tidak-tidak tentang suaminya. Kemudian, ia berjanji jika setelah menyelesaikan sholat tahajud nanti ia akan meminta maaf langsung kepada suaminya.
"Hem, Zahra mau-" Belum selesai Zahra mengucapkan kata-katanya Razi tiba-tiba mengangkat Zahra dan membopongnya ke dalam kamar mandi. Razi tidak perduli dengan ketakutan Zahra yang sangat memekikkan telinganya karena satu-satunya yang ia pikirkan saat ini adalah, betapa bersyukurnya ia hari ini.
Bersambung...
Hello?
Ok, selamat hari raya Idul Adha, mohon maaf lahir dan batin. Maafin author yah yang ngilang hampir 2 bulan lamanya. Nah, jadi alasan author ngilang gitu tuh di mulai dari author yang tiba-tiba jatuh sakit selama beberapa hari. Kemudian setelah dua atau tiga hari sembuh author ada UAS yang dijalankan selama 2 minggu. Author mikir tuh gak mungkin dong author nulis sambil belajar buat ulangan kan? Iya, author benar-benar gak sanggup jalanin makanya nulis ditunda dulu. Setelah dua minggu UAS, author punya masalah dengan dosen yang mengampu mata kuliah tambahan author. Dosennya masyaa Allah, semoga Allah membuka pintu hatinya dan memberikannya hidayah. Masalah sama dia hampir satu kelas yang gak beres-beres maka jadilah author pasrah aja, biar Allah yang balas🤣. Kelar dengan urusan kuliah, author jatuh sakit lagi dan ini lebih lama sakitnya. Hampir dua minggu, ini aja author masih belum bisa nyium apapun dan lidah author juga belum bisa merasakan perasa apapun selain manis, pedas dan asin. Semuanya kayak samar-samar aja buat author kalo lagi makan.
Tuh penjelasannya, drama banget kan hidup author labil ini🤣🤣🤣. Jadi jangan pada suudzon yah author pindah lapak atau berhenti nulis novel ini karena penjelasannya udah author jabarin.
Okay, sekian dari author dan sampai jumpa di part selanjutnya 😘
__ADS_1
Author labil
Lili H.