
"Assalamualaikum, Umi?" Langkah pemuda tampan itu begitu penuh penghormatan ketika mendekati seorang wanita luar biasa yang berjasa menuntunnya ke jalan ini dengan kasih sayang.
"Waalaikumussalam Nak, Abi mu mana? Kok gak ada bareng kamu?" Umi mengelus puncak kepala pemuda tampan yang menjabat sebagai anak sekaligus menantunya sekarang.
Mendudukkan dirinya di samping Umi yang tengah duduk nyaman masih dalam balutan mukenanya.
"Abi tadi mampir dulu ke rumah Pak Kyai, katanya ada yang mau mereka bicarakan." Lapor pemuda itu jujur tanpa melebihkan bahkan sampai mengurangi perkataannya.
"Oo.. Umi baru ingat kalau Abi ada urusan sama Pak Kyai, untung kamu ingatkan Umi." Ternyata ia lupa jika beberapa hari yang lalu Abi pernah cerita ada urusan penting dengan Pak Kyai.
Tersenyum lembut, "Umi, Annisa kemana? Kok gak ada Razi liat di sini?" Tanya Razi seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah yang memang hanya ada ia dan Umi.
"Annisa lagi di dapur, katanya mau masak sendiri buat sarapan makanya Umi di sini karena gak diizinin ikut campur di dapur." Menghela nafas, Umi heran mengapa Annisa begitu semangat di dapur.
"Umi bingung kenapa adek mu itu tiba-tiba begitu semangat ingin memasak di dapur, padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini." Heran Umi.
Berpikir positif, "Mungkin saja Annisa ingin mempraktikkan pemahaman memasaknya di dapur secara langsung, tentunya tidak perlu bantuan Umi."
Menganggukkan kepalanya setuju, "Yah, mungkin saja seperti itu. Adik mu ini kan sulit ditebak."
"Ya udah, kamu ke atas aja nemuin Zahra. Soalnya tadi Umi sempat mau masuk kamar kalian tapi gak dibolehin Zahra. Aneh, padahal kalian ini adalah anak-anak Umi, masa hal begitu saja malu dilihat Uminya." Keluh ini tidak terima Zahra melarangnya masuk ke dalam kamar mereka.
Ya, meskipun itu berantakan itu tidak apa-apa karena alasan Umi sendiri ke sana berniat membantu Zahra dan mengajarinya cara mandi junub yang benar. Tapi bukannya disambut Umi malah diusir Zahra, dia bilang ini privasi mereka.
Mendengar itu, sontak telinga Razi terasa panas. Teringat dengan suasana manis yang ia bangun dengan Zahra tadi malam setelah akad, itu begitu mendebarkan.
"Zahra benar Umi, itu adalah privasi kami. Lagipula kami sudah menikah dan tidak pantas rasanya melibatkan Umi dalam hal seintim ini." Ucap Razi lembut, berusaha tidak menyinggung hati Uminya yang penuh kasih sayang.
"Apa kalian sudah tidak menganggap Umi sebagai bagian dari keluarga kecil kalian?" Tanya Umi tidak kalah lembutnya.
Razi meraih tangan ramping Umi dan menciumnya penuh kasih, lalu ia menatap mata lembut Uminya yang kini menua seraya menggelengkan kepalanya.
"Allah lebih tahu bagaimana perasaan kami kepada mu dan juga Abi, demi Allah kalian adalah orang yang selalu menempati sisi penting di hati kami. Adapun masalah privasi kami, Razi dan Zahra tidak ingin menyusahkan kalian dengan urusan kami. Jika pun suatu hari kami mendapatkan masalah yang tidak bisa kami pecahkan, maka orang pertama yang kami datangi setelah Allah adalah kalian berdua, orang terkasih kami." Ucap Razi lembut, tidak ingin meninggalkan rasa tidak berdaya pada Uminya, sosok yang telah berjasa besar membesarkannya dengan penuh kasih dan melahirkan tulang rusuknya yang selalu ia dambakan.
Tangan Umi terangkat, mengelus lembut wajah tampan Razi yang terasa hangat. "Umi tahu, Nak, dan Umi hanya menguji mu saja. Terimakasih untuk jawaban mu, Umi merasa lega sekaligus tenang setelah mendengarnya. Dan Umi bersyukur bahkan sangat bersyukur bahwa laki-laki yang menikahi Zahra adalah kamu, anakku Razi." Ujar Umi jujur.
Ia hanya menguji Razi dan seperti yang ia katakan tadi, Umi puas dengan jawaban Razi. Ia juga merasa bersyukur bahwa orang yang menikahi putrinya adalah putra yang telah ia besarkan. Karena dengan begitu hatinya bisa menjadi tenang, memberikan putrinya pada laki-laki yang tepat.
"Sudah, bantu istrimu di atas. Umi yakin, ia pasti sedang kebingungan dengan kekacauan yang kalian buat." Goda Umi yang lagi-lagi membuat kuping Razi memanas.
"Baik, Umi. Kalau begitu Razi ke atas dulu yah, assalamualaikum." Mengecup tangan Umi, Razi langsung berlari meninggalkan Umi. Melarikan dari godaan Umi yang bisa saja memukulnya tanpa ia sadari, astaga, Razi tidak tahu jika Umi punya sisi ini juga.
__ADS_1
"Waalaikumussalam, hah..Razi..Razi.." Ucap Uminya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya merasa lucu.
***
Cklack
Saat pintu kamar mereka terbuka, hal pertama yang Razi lihat adalah Zahra yang sedang bersusah payah mengumpulkan berbagai macam bunga mawar merah menggoda yang menjadi saksi akan penyatuan mereka semalam.
"Assalamualaikum, istriku." Salam Razi lembut seraya berjalan mendekati Zahra yang sudah segar dan cantik dengan balutan mukena putihnya.
Mukena ini adalah mas kawin yang Razi berikan kepada Zahra, istrinya tercintanya.
Mendongak ke arah sumber suara, Zahra baru menyadari jika suaminya sudah pulang dari sholat subuh berjamaah.
"Waalaikumussalam, Kak Razi." Ia sontak bangun dari duduknya, menghampiri sang suami yang beberapa detik lalu ia pikirkan.
"Kenapa gak tunggu Kakak pulang aja biar bersihinnya samaan?" Tanyanya selembut mungkin pada sang istri yang kini sedang menatapnya malu-malu dengan wajah memerah tersipu.
Tidak tahan melihat ini, lantas Razi langsung meraih wajah Zahra. Mengecupnya lembut ke seluruh wajahnya dan berakhir di kening Zahra, di titik ini Razi mengecupnya begitu tulus dengan doa-doa indah yang terus ia langitkan dalam hatinya.
Memegang erat pakaian Razi, Zahra dengan keras berusaha menetralkan suara detak jantungnya yang terus berdegup kencang. Begitu terasa manis!
"Zahra sedang belajar menjadi istri yang baik untuk Kakak, jadi hal sekecil ini seharusnya bisa Zahra lakukan." Jawab Zahra jujur.
Mengecup puncak kepala Zahra penuh cinta, ia sangat senang mendengar Zahra bertekad lebih baik untuknya.
"Maka tidak ada salahnya menunggu kepulangan Kakak karena aku juga ingin belajar menjadi suami yang baik untuk Zahra, apa kamu mendengarnya?" Bisik Razi lembut.
Mengeratkan genggaman tangannya pada pakaian Razi, Zahra tidak sadar jika pakaian suaminya kini telah menjadi kusut.
"Ya, Zahra mendengar apa yang suami katakan." Jawab Zahra tersipu. Berjinjit, Zahra kemudian dengan cepat mengecup bibir Razi sekilas lalu berakhir memeluk Razi malu.
Ia dengan malu-malu menenggelamkan wajahnya di dalam dada bidang yang sudah lama ia dambakan. Menghirupnya kuat, Zahra rasanya ingin sekali menangis apabila teringat dengan perjuangannya mendapatkan Razi.
"Jangan sedih karena aku sangat mencintaimu, ini sulit digambarkan dengan kata-kata akan tetapi yang pasti..aku ingin hidup dimana kamu pergi dan mengikuti mu kemana pun kau mau. Zahra, aku tidak bisa jauh dari mu... karena aku sangat mencintaimu sampai batas dimana tidak bisa digambarkan kata-kata." Bisik Razi lembut seraya mengeratkan pelukannya pada Zahra.
Entah mengapa Razi tahu bahwa istrinya sedang emosional, ia bisa merasakan jika istrinya sedang bersedih. Mungkin karena teringat dengan masa lalu mereka yang penuh kerumitan sehingga ketika mengingatnya, air mata menjadi begitu mudah keluar dari sarangnya.
"Hem..Zahra juga mencintai Kak Razi, cinta sampai tidak bisa digambarkan dengan kata-kata."
****
__ADS_1
"Umi sama Abi besok mau umrah?" Tanya Annisa tidak bisa menahan rasa terkejutnya.
Umi dengan bijaksana menggeleng, "Gak besok Nak, tapi 3 atau 4 hari lagi." Ralat Umi seraya membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Terus Annisa besok sama siapa di sini? Kak Razi sama Zahra kan mau ke pondok pesantren besok." Ia tidak bisa menahan cemberutnya karena akan ditinggal pergi umrah oleh kedua orangtuanya.
"Kamu akan ikut mereka selama kami pergi, nanti beberapa kami kembali ke tanah air Zahra dan Razi akan kembali lagi di sini sedangkan kamu tinggal di pondok pesantren." Ini bukan Umi yang jawab, tapi Abi yang kini sudah menyelesaikan sarapannya.
Terkejut, "Maksud Abi teh, apa?" Annisa masih linglung dan lambat mengerti.
"Maksud Abi, Razi dan Zahra akan tinggal bersama kami, mereka tidak menetap di pondok pesantren. Lalu Annisa akan tinggal di pondok pesantren untuk meraih cita-cita kamu, bukankah Annisa ingin mengabdikan ilmu yang Annisa punya di pondok pesantren?" Jelas Abi menjelaskan maksudnya kepada Annisa.
Mereka sudah sepakat jika Razi dan Zahra akan menetap di sini dan sesekali berkunjung ke pondok pesantren sedangkan Annisa akan menetap di pondok pesantren untuk mengabdikan diri.
"Masyaa Allah, Abi teh serius izinin Annisa mengabdi di pondok pesantren?" Perasaan senang membuncah kuat di hatinya. Perasaan tidak percaya juga bahagia bercampur aduk di dalam hatinya.
"Abi serius asalkan kamu juga serius di sana." Jawab Abinya serius.
Annisa tentu saja tidak membuang kesempatan ini dan dengan serius menganggukkan kepalanya serius.
"Ngomong-ngomong, Kak Razi sama Zahra kok gak turun-turun yah ke bawah. Apa iyasih keseleo pinggang Zahra sampai separah itu?" Gumam Annisa santai tidak menyadari perubahan warna pada wajah kedua orang tuanya.
"Padahal baru saja semalam nikah, eh paginya udah keseleo aja." Gerutu Annisa kesal karena ia juga ingin melihat bagaimana keadaan adiknya itu sekarang. Tapi adik yang ia sedang khawatirkan sekarang itu malah enggan menerimanya masuk ke dalam kamar pengantin mereka.
"Annisa, adik mu butuh istirahat yang banyak jadi kau tidak perlu menyinggung masalahnya lagi. Kalau sudah sehat ia pasti dengan sendirinya mencari mu." Ucap Umi memperingati.
Hei, mengapa putrinya yang satu ini tidak peka sekali dengan situasi yang ada?
Astaga, betapa polosnya!
"Annisa mengerti Umi." Angguk Annisa cepat tidak ingin mengundang murka Uminya. Mengesampingkan masalah adiknya, Annisa kembali bersenandung senang mengingat persetujuan Abi yang mengizinkannya pergi ke pondok pesantren.
Ah, betapa senangnya ia.
****
Di lain tempat, gadis yang sudah dua hari ini tidak pernah bangun akhirnya hari ini membuka kelopak matanya.
Bulu mata yang lentik dengan bentuk mata yang persik dan indah bergerak bingung memandang tempat ia berada sekarang.
"Dimana aku?"
__ADS_1
Bersambung...