
"Mas Razi kok udah selesai aja tadarusannya, bukannya ini masih terlalu pagi yah?" Zahra melirik jam dinding yang berdetak teratur menunjukkan waktu baru saja masuk pukul 10 malam, menurut Zahra ini adalah waktu yang terbilang pagi untuk selesai tadarusan di masjid.
Gerakan tangan Razi langsung membeku, menatap kaku sang istri tercinta yang kini sedang menatapnya dengan pandangan berbinar. Seakan terhipnotis akan mata cantik Zahra, Razi tanpa membuang waktu lagi langsung melepaskan peci yang sempat ditangannya. Berjalan tergesa-gesa menuju Zahra tanpa memikirkan nasib sang peci yang terkapar tidak bernyawa di atas dinginnya lantai.
"Mas Razi-"
Grab
Sebuah pelukan yang amat sangat hangat melingkupi Zahra, membuatnya dikelilingi oleh aroma khas Razi yang sudah sangat tidak asing di penciumannya.
"Tadi kamu panggil aku apa?" Bisik Razi tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya pada Zahra.
"Zahra panggil Mas Razi apa?" Tanya balik Zahra bingung.
Razi merasa senang, "Ya, tadi kamu panggil aku 'Mas'" Razi memberitahu untuk menjawab kebingungan sang istri.
Zahra tertegun dan baru menyadari jika ia sudah beberapa kali memanggil Razi dengan sebutan 'Mas'. Ah, Zahra sudah mulai merubah panggilannya kepada sang suami karena ia pikir alangkah lebih intimnya mereka jika Zahra memanggil Razi dengan embel-embel Mas.
Zahra membalas pelukan Razi seraya menempelkan kepalanya di atas dada bidang sang suami. "Apa Mas suka Zahra panggil begini?" Tanya Zahra memastikan walaupun ia tahu betul jika laki-laki manapun pasti menyukai panggilan ini dari sang istri.
Razi tidak langsung menjawab akan tetapi ia secara perlahan melepaskan pelukan mereka. Meskipun enggan, Zahra mau tidak mau melepaskan pelukannya dari Razi. Lalu dengan gerakan halus Razi menarik Zahra untuk duduk di sofa yang sedari tadi mereka abaikan.
"Mas sangat menyukainya." Jawab Razi seraya mengelus lembut punggung tangan Zahra. Mengelusnya dengan hati-hati dan penuh akan belas kasih.
"Lagipula, panggilan apapun yang Zahra berikan kepada Mas sesungguhnya itu akan selalu terdengar manis. Itu sangat berbeda jika dari orang lain, terdengar sangat biasa dan tidak menarik. Namun ketika keluar dari bibir kamu, rasanya sangat menyenangkan." Lanjut Razi memberitahu dengan jujur.
Memang benar, panggilan apapun yang Zahra berikan kepadanya Razi akan selalu merasa puas. Itu bukan karena Zahra adalah istrinya saja tapi selebihnya, itu karena Zahra adalah orang yang paling ia cintai di dunia. Adalah pujaan hatinya yang dengan rela dan sepenuh hati ia cintai selama 10 tahun lebih. Sampai sekarang rasa itu masih sama manisnya, malah mungkin bertambah kuat karena saat ini mereka akhirnya bisa hidup bersama tanpa terhalangi status keluarga.
Jauh dari dalam hatinya Razi sangat mensyukuri itu.
Cup
Zahra mengecup pipi Razi gemas, rasanya sangat geli mendengar Razi mengucapkan hal-hal yang tidak biasa ia lakukan. Betapa menggemaskannya, Zahra semakin cinta dibuatnya, ah!
"Lho, kok cuma pipi doang sih, dek?" Seru Razi tidak terima.
"Hem?" Zahra berpura-pura bodoh, bersikap seolah-olah ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Razi.
"Ciuman yang bener itu gini, dek." Dan Razi pun sama sekali tidak terpancing dengan kepura-puraan sang istri, ia malah memanfaatkan hal ini untuk mendapatkan keuntungan.
Cup
Razi mencium sekilas bibir ranum Zahra. Menatapnya lekat, Razi lantas mengangkat kedua tangannya untuk menangkup wajah cantik sang istri.
"Mas pulang cepat karena ada urusan penting yang harus Mas selesaikan dengan sang istri tercinta." Ucap Razi dengan suara rendahnya yang menggoda.
Cup. Razi mengecup kening Zahra, terasa sangat lembut dan hangat di sana. Tempat itu adalah tempat yang paling berkesan untuk Zahra dan Razi.
"Mas mau malam ramadan pertama ini tadarusannya bersama sang istri." Bibirnya turun lebih rendah, lebih tepatnya Razi membawa kecupan hangatnya untuk menyentuh kedua mata cantik Zahra yang sontak terpejam menerima sentuhan lembut sang suami.
"Tapi sebelum itu Mas juga ingin membantu sang istri Mas yang tercinta membuat masakan untuk makan sahur nanti." Setelah itu ia mengecup manis kedua pipi Zahra yang sudah merah merona, terlihat sangat cantik dan menggoda. Apalagi, kulit Zahra terasa sangat lembut dan berbau harum, Razi tidak bisa menahan untuk tidak menyentuh lebih lama wajah Zahra.
Wanginya...Hem, ini bukan wangi seperti makeup yang sangat menggangu. Tapi, ini lebih seperti wangi bunga mawar yang seakan sudah berakar di kulit cantik Zahra. Razi sangat menyukai momen-momen seperti saat ini, menghirup wangi lembut dan menggoda sang istri.
Zahra tentu saja sangat terpesona saat ini, apalagi mendapatkan perlakuan manis seperti ini dari Razi, Hem, Zahra akhirnya mengerti apa yang dimaksud dengan meleleh sekarang. Itu seperti seluruh tubuh terasa panas dan gemetaran mendapatkan kebahagiaan yang terus menerus, bahkan rasanya berdiri saja susah jika mendapatkan perlakuan semanis ini dari sang suami.
Setelah selesai mengecup pipi Zahra, Razi kemudian membawa wajahnya menjauh namun hanya beberapa centi saja dari wajah Zahra. Kedua hidung mereka bersentuhan dengan intim, bahkan mereka masing-masing bisa merasakan panas dari nafas masing-masing.
"Kemudian, kita akan menghabiskan waktu bersama untuk menghasilkan benih-benih yang akan menegakkan agama Allah dengan teguh di masa depan. Zahra, Mas sudah tidak sabar melihat hasil dari cinta kita." Bisik Razi lirih.
Mereka berdua terdiam, menikmati waktu manis mereka dengan perasaan yang sedang meluap-luap. Lalu, seolah mengerti akan keinginan masing-masing kepala mereka bergerak miring dan kemudian diakhiri dengan sebuah ciuman yang hangat dan lembut. Kedua tangan Zahra perlahan bergerak memeluk erat punggung kokoh Razi yang langsung disambut dengan pelukan hangat pula dari Razi. Razi membawa tangan kanannya untuk meraih tengkuk Zahra sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk membalas pelukan hangat sang istri. Ini sangat mendebarkan!
Mereka seolah tersihir dengan kekuatan yang manis dan tanpa sadar bergerak dengan suka rela dalam ikatan manis itu. Entahlah, malam yang penuh akan pesona manis ini meskipun sudah terjadi berkali-kali tapi tetap saja terasa manis dihari mereka. Itu sama sekali tidak membosankan!
🌹🌹🌹
"Umi sibuk, gak?" Umi mengangkat kepalanya, mendapati putri terkasihnya sedang mengintip dari balik dinding ruang tamu.
__ADS_1
"Kebetulan Umi baru saja selesai melipat baju Abi, sini, gabung sama Umi." Umi menggerakkan tangannya untuk mempersilakan Fira masuk ke dalam dan ikut bergabung di sampingnya.
Melihat Umi yang sudah tidak sibuk lagi, lantas Fira langsung bergegas masuk dan mendudukkan dirinya dengan patuh di samping Umi.
"Umi gak ikut tadarusan di masjid?" Biasanya saat bulan puasa Umi akan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tadarusan di masjid bersama dengan para santriwati. Tapi malam ini kenapa Uminya sudah ada di rumah saja?
Padahal ini baru saja jam setengah sebelas dan cukup pagi untuk kegiatan yang hidup di bulan ramadhan ini.
"Umi ada urusan mendadak tadi di kantornya Abi jadi gak sempat ikut tadarusan di masjid. In shaa Allah besok malam Umi sudah mulai tadarusan bersama yang lain di dalam masjid jadi Umi pikir itu tidak apa-apa untuk absen." Tadi saat ia baru saja menyelesaikan beberapa lembar ayat Al-Qur'an di dalam masjid, ia tiba-tiba dipanggil oleh salah satu staf pondok pesantren. Staf itu bilang ada urusan penting yang harus ia urus di kantor maka jadilah Umi tidak melanjutkan tadarusannya dan menghabiskan waktu sekitar setengah jam di kantor. Setelah itu ia langsung kembali ke rumah untuk melakukan beberapa kegiatan ringan untuk menghabiskan waktunya menunggu Abi.
"Ah, jadi seperti itu." Gumam Fira mengerti.
"Umi, ada sesuatu yang ingin Fira tanyakan kepada Umi." Setelah menimbang, lebih baik Fira menanyakannya sekarang saja daripada harus berdiam diri menunggu takdirnya di bulan syawal.
"Hem, tentang apa itu?" Tanya Umi santai seraya membawa lipatan baju Abi kembali ke tangannya.
"Itu..." Fira tidak yakin akan menanyakan hal ini atau tidak, rasanya terlalu aneh.
"Apakah benar saat bulan Syawal nanti Fira akan menikah dengan laki-laki pilihan Kakak?" Meskipun aneh, ia tetap saja menyuarakan pertanyaan ini.
Gerakan Umi terhenti, ia lalu menatap putri satu-satunya dengan pandangan kebingungan.
"Nak, katakan kepada Umi siapa yang telah mengatakan ini kepada mu?" Tanya Umi bingung.
Fira menjawab dengan jujur, "Ini Mas Alif yang memberitahu Fira."
Mendengarnya, Umi tidak langsung merespon dan hanya menatap bingung wajah cantik putrinya. Ia bertanya-tanya mengapa ia tidak tahu tentang hal ini?
Karena tidak mendapatkan respon Uminya, Fira pikir Uminya butuh penjelasan yang lebih oleh karena itu ia segera melanjutkan ucapannya lagi.
"Mas Alif bilang kalau ia sudah menemukan laki-laki yang pantas untuk ku dan bahkan kalian berdua telah merestui kami, tapi..tapi yang Fira bingung kan kenapa kalian semua tidak melibatkan Fira saat mengambil keputusan. Bukankah.. Islam memberikan perempuan kesempatan untuk memilih calon pendamping hidupnya meskipun tanpa melibatkan persetujuan kedua orang tuanya? Tapi.. kalian tidak memberikan Fira kesempatan itu." Keluhnya merasa berat hati.
Yah, meskipun pilihan kedua orang tua adalah yang terbaik karena mendapatkan ridho dari mereka sama dengan mendapatkan ridho dari Allah SWT. Tapi tetap saja Fira juga ingin melihat calonnya, itu tidak adil jika ia hanya bertemu di hari pernikahan saja karena bagaimanapun juga Fira pasti merasakan takut jika tiba-tiba harus hidup bersama laki-laki asing.
"Nak," Panggil Umi lembut.
"Umi sebenarnya juga cukup terkejut dengan apa yang kamu katakan tadi. Karena Umi sendiri tidak pernah merasa sudah memutuskan dengan siapa kamu akan menikah, apalagi waktu yang tiba-tiba menjadi bulan syawal. Jika kamu tidak memberi tahu Umi tadi maka Umi tidak akan pernah tahu apa-apa tentang semua ini."
Kini, bukan Umi lagi yang bingung tapi itu Fira. Bukankah hari itu ia mendengar dengan jelas bahwa Alif mengatakan kedua orang tua mereka sudah merestui pernikahan Fira dengan laki-laki pilihan Alif?
"Tapi, Mas Alif mengatakan kalau Umi dan Abi sudah menerima lamaran laki-laki itu untuk ku."
Umi merenung sejenak, setelah berpikir lama ia kemudian menepuk punggung tangan Fira berniat untuk menenangkan.
"Mungkin kamu salah dengar, maksud Alif mungkin yang sudah merestui hanya Abi karena selama ini hanya Abi dan Alif lah yang selalu menyeleksi laki-laki yang berniat melamar mu. Jadi, percayakan saja kepada mereka Nak, karena Umi yakin pilihan mereka berdua adalah orang yang baik." Umi membuang kebingungannya dan lebih memilih berpikir positif
Pasalnya, selama ini memang Alif dan Abi lah yang mengurus laki-laki yang berniat baik pada Fira. Dan sebagai seorang Ibu, Umi tidak mempermasalahkannya. Bahkan ia percaya jika pilihan dua orang ini yang terbaik.
Yah, sikap keras kepala Abi dan Alif memberikan Umi sebuah kesan bahwa orang tidak akan mudah memiliki Fira. Mereka harus melewati penilaian dua laki-laki hebat yang selama ini menjaga Fira.
"Apa Umi tidak apa-apa jika tidak melihat laki-laki itu?" Fira bertanya ragu.
"Tidak apa-apa, toh semuanya sudah diatur oleh Abi dan Kakak mu." Jawab Umi tidak terlalu memikirkannya.
"Tapi bagaimana jika Fira tidak menyukainya?" Keluh Fira menebak malam-malam tanpa tidurnya dengan laki-laki asing yang tidak ia sukai. Apakah rumah tangganya akan tetap aman jika seperti itu?
"Nak, kamu akan mencintai suami mu seiring waktu berjalan. Hanya jalani saja dan rasa itu akan tumbuh seiring waktu berjalan. Percaya Umi, hari-hari yang akan kalian jalani pasti akan terasa sangat manis." Rasa itu tidak perlu dikhawatirkan karena seiring waktu mereka berdua bisa jatuh cinta.
Umi tidak ragu akan pemikiran ini karena dulu pun ia mengalaminya. Menikah dengan Abi yang tidak pernah ia temui dan lihat sebelumnya, tidur bersama secara tiba-tiba membuat Umi hampir ketakutan. Namun seiring waktu Umi terbiasa dengan kehadiran Abi di sisinya, malah itu akan sangat menggangu jika Abi tidak ada di sampingnya sehari saja. Dipikir-pikir, waktu itu tanpa sadar Umi telah jatuh cinta pada Abi. Cinta, sampai-sampai Umi tidak terbiasa tanpa melihatnya langsung.
Cinta itu aneh, bukan?
"Ah.. baiklah." Fira pasrah, jika Uminya sudah mengatakannya maka ia tidak bisa merayunya melakukan sesuatu.
"Percaya sama Abi dan Kakak kamu, mereka pasti sangat teliti." Hibur Umi sedikit geli dengan reaksi lemah putrinya.
"Hem, Fira percaya Umi." Fira membalas cepat.
__ADS_1
"Ya udah, kalau gitu Umi simpan pakaian Abi dulu yah ke kamar." Umi segera bangun dari duduknya dengan satu tumpukan lipatan pakaian yang sudah rapi.
"Fira bantu, Umi-" Fira juga mengikuti gerakan Uminya. Namun, Umi tidak tinggal diam dan langsung menghentikannya.
"Ini hanya sedikit, sudah, kamu duduk saja nanti Umi balik lagi kok." Tolak Umi tidak memberikan Fira kesempatan untuk membantahnya, Umi segera melarikan diri ke dalam kamarnya bersama Abi.
Menghela nafas, Fira menjatuhkan dirinya kembali ke tempat semula ia duduk. Menyandarkan kepalanya yang kebingungan, mata cantiknya diam-diam memandangi langit-langit ruang tamu yang sesungguhnya tidak terlalu menarik minatnya. Ia hanya.. berpikir saja bahwa jauh dari dalam hatinya ia menolak untuk menikah dengan laki-laki lain.
Padahal, dulu ia tidak pernah mempermasalahkannya dan berpikir bahwa siapapun jodohnya kelak ia akan menerimanya dengan tulus. Namun...kali ini berbeda. Rasanya sangat aneh ketika memikirkan dirinya bersanding dengan laki-laki lain. Hatinya seakan menolak gagasan itu, Fira tidak mengerti mengapa hal ini terjadi.
Adapun berbicara tentang Alif, Fira juga tidak bisa menampik bahwa ada perasaan tidak puas di dalam hatinya untuk Alif. Padahal Fira lah yang dulu paling antusias melihat Alif bersama gadis lain, terburu-buru ingin melihat Alif menikah tapi faktanya ia membenci akan pemikiran itu.
Mengapa dirinya menjadi tidak berguna seperti ini- ah, mengapa langit-langit ruang tamu ini berkontraksi menjadi wajah Alif?
Tidak! Ini memang wajah Alif yang sebenarnya, ah!
"Mas Alif?" Bisiknya terkejut mendapati wajah tampan Alif yang cemberut di atasnya.
"Kamu sedang memikirkan siapa?" Tanya Alif terdengar tidak suka seraya mengangkat kepalanya menjauh dari keterkejutan Fira. Ini seakan-akan Fira telah ketahuan sedang memikirkan laki-laki lain dan Alif tidak suka akan hal ini.
"Mas Alif kok udah pulang aja?" Karena masih terkejut Fira bukannya menjawab pertanyaan Alif tapi ia malah bertanya balik kepada Alif.
Ini tentu saja semakin membuat Alif tidak senang karena bukannya menjawab ia malah ditanya balik oleh Fira, "Kamu lagi mikirin siapa?" Tanya Alif ulang dengan ekspresi datarnya yang samar Fira yang kini sedang merah merona. Itu sebenarnya terlihat sangat cantik untuk Alif, akan tetapi ketika mengingat bahwa orang yang dipikirkan Fira adalah laki-laki lain, wajahnya semakin datar saja.
"Aku...gak lagi mikirin siapa-siapa kok, Mas." Jawabnya ragu. Bayangan akan wajah tampan Alif yang sempat mengagetkannya tadi terus terngiang di dalam pikirannya. Mengapa Kakaknya sangat tampan?
Mengapa Alif harus menjadi Kakaknya, ah!
"Kamu bohong, dek." Wajahnya kini sedang merah merona dan Alif tahu bahwa Fira saat ini memikirkan laki-laki lain.
Meskipun itu samar, namun anehnya Fira tetap bisa merasakan perubahan suasana hati Alif yang dingin. Entah karena itu firasat atau apa yang paling penting ia harus segera menjelaskannya kepada Alif sebelum itu bisa berdampak buruk untuknya.
"Fira gak bohong, Mas." Suaranya menjelaskan. Meskipun singkat namun ini adalah kebenarannya karena ia tidak memikirkan orang lain kecuali Kakaknya.
Tapi Alif hanya diam menatapnya dengan ekspresi yang sama, justru karena berdiam diri seperti ini malah membuat Fira berpikir bahwa Alif tidak percaya dengannya. Oleh karena itu Fira ingin menjelaskannya lagi namun suara lembut Umi menginterupsi kata-katanya.
"Lho, Alif udah pulang?" Kaget Umi seraya mendekati putra satu-satunya yang tampan.
"Kenapa tadi Umi gak denger Alif salam, Hem?" Tanpa menyadari suasana diantara mereka, Umi dengan santai bertanya akrab pada Alif.
Alif tersenyum lembut, bersikap seolah-olah sikapnya tadi hanya sebuah ilusi untuk Fira. Lantas ia dengan penuh kasih sayang mengecup tangan Umi sopan, "Alif tadi udah salam kok, tapi Uminya aja yang gak dengar." Bantah Alif menjelaskan kepada Umi.
"Oh, kamu bener juga. Mungkin Umi gak denger salam kamu tadi." Ketika mengingat ia sibuk di kamar, Umi akhirnya mengambil kesimpulan bahwa ia memang tidak mendengarkan salam dari anaknya.
"Oh ya, Umi, Alif mau nanya sesuatu sama Umi."
"Hem, kamu mau nanya apa?" Jarang-jarang putranya menanyakan sesuatu kepadanya karena dulu Alif selalu bertanya langsung kepada Abi dibandingkan dengan dirinya.
"Ini tentang Annisa dan Aisha." Jawab Alif santai seraya melirik samar perubahan ekspresi wajah Fira.
Fira yang ada di samping kiri Umi tanpa sadar mengecilkan lehernya setelah mendengar siapa yang akan ditanya Alif. Ini aneh namun Fira tidak bisa memungkiri bahwa diantara dua gadis ini Fira selalu merasa ia tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka berdua. Seakan-akan mereka berdua memang sudah sempurna dari segini manapun sedangkan dirinya hanya berdiri dengan apa adanya. Ia tidak punya kelebihan apapun untuk bisa berdiri di depan Alif jika itu dibandingkan dengan Annisa dan Aisha.
Rasanya Fira penuh dengan kekurangan.
"Hem, memangnya ada apa dengan mereka berdua?" Umi pura-pura bertanya tidak tahu.
Alif tersenyum samar, suasana hatinya benar-benar membaik saat ini. "Menurut Umi siapa yang lebih baik diantara mereka berdua?" Tanya Alif memancing.
Fira tanpa sadar menundukkan kepalanya, tenggelam dalam pemikiran gila yang tidak pernah ia bayangkan.
"Menurut Umi mereka berdua cukup baik, apalagi Annisa yang memang kita sudah kenal lama. Umi sudah tahu seluk-beluknya dan sikap, sifatnya yang sopan jadi wajar saja Annisa mendapatkan poin bagus di mata kita. Tapi jika itu Aisha, Umi belum bisa terlalu menilai untuk sementara karena kita baru saja mengenalnya. Namun, semua itu bukanlah hak Umi untuk memilih siapa yang lebih baik karena orang yang akan menikah dengan salah satu gadis itu adalah kamu. Hanya kamu yang tahu mana yang terbaik terlepas dari penilaian siapapun, Umi percaya bahwa gadis yang kamu pilih nanti adalah gadis terbaik yang duduk di dalam hati kamu." Umi tidak ingin terlalu ikut campur dalam pilihan hati Alif karena sekali lagi orang yang akan menjalankan pernikahan itu adalah Alif sendiri.
Umi juga yakin jika gadis yang dipilih Alif nanti adalah gadis yang ada di dalam perjanjian 15 tahun yang lalu.
Yah, 15 tahun yang lalu semuanya sudah diatur.
Bersambung...
__ADS_1