
Razi P. O.V
"Mbak, kita tuh ke sini baik-baik lho, bukan buat ngerusuh. " Suara cempreng khas seseorang yang tidak begitu asing cukup mengganggu aktivitas ku dalam menyusun beberapa dokumen santri.
"Maaf, mbak. Tapi mbak harus menaati peraturan pondok pesantren jika ingin datang berkunjung. " Tolak Nabila halus.
"Kita datang jauh-jauh dari kota ke tempat ini bukan lah dengan jarak yang main-main, mbak. Kita juga capek, mbak. Butuh istirahat." Suara gadis yang lain lagi bersuara. Ah, mungkin yang datang lebih dari satu orang.
"Saya mengerti, tapi kalian juga harus mengerti dengan peraturan pondok pesantren kami." Ini keterlaluan. Bukan kah sudah jelas jika mereka melakukan perjalanan dari kota ke sini. Pasti itu sangat melelahkan. Seharusnya Nabila memberikan keringanan kepada mereka, bukannya bersikap seperti ini.
"Gini aja ya, mbak. Kami to the point aja, kedatangan kami ke sini itu untuk bertemu dengan Zahra yang baru saja pindah satu bulan yang lalu dari kota."
Zahra?
Apakah yang mereka maksud Zahra ku?
Apa jangan-jangan mereka adalah sahabat Zahra?. Sahabat yang telah menyakiti nya.
Mau apa lagi mereka ke tempat ini?
Ada urusan apa lagi mereka mencari Zahra, apakah mereka masih belum puas mempermalukan Zahra?.
Ini tak bisa dibi-
"Zahra? Oh, jadi kalian ini teman-teman nya Zahra. Gak heran sih melihat kelakuan Zahra yang begitu, eh ternyata pergaulan nya gini toh. "
"Eh, mbak jangan bawa-bawa Zahra deh dalam masalah ini. Kami emang kelakuan nya gak benar, tapi Zahra enggak."
Eh, tapi mengapa mereka membela Zahra saat dijelek-jelekkan Nabila?
"Alah, kalian sama aja. Sama-sama biang masalah! "
Ini tak bisa dibiarkan! Nabila sudah keterlaluan.
Aku melangkah kan kaki ku ke arah gerbang, berniat menghentikan ocehan memuakkan Nabila tentang sikap buruk Zahra. Namun, sebelum kaki ku benar-benar menyentuh gerbang sebuah tangan telah menahan pundakku. Membuat ku refleks berhenti dan menoleh ke sang empu pemilik tangan.
"Fia? " Kaget ku karena mendapati Fia yang sudah berdiri dibelakang ku.
"Dengarkan dulu, jangan terlalu buru-buru. " Pesannya terhadap ku.
Aku menghela nafas pelan dan menganggukkan kepala ku patuh. Ia tersenyum hangat dan membawa ku menepi ke arah tembok, berteduh. Dari sini suara mereka terdengar sangat jelas.
"Eh, mbak! gua masih terima aja ya lo bilang jadi biang masalah, tapi kalo Zahra juga lo sangkut pautin atau lo anggap juga sebagai biang masalah, sorry aja yah gua gak terima. "
Aku sedikit terkejut, bahkan Fia pun juga sama terkejut nya dengan ku.
"Ya, elah Ann. Udah, sikat aja ini orang gak tau sopan santun. Niat baik-baik kok ditolak, jadi ragu gue dia di sini dapet ilmu. "
"Udah, Fa. Lo tenang aja, gak usah emosi bisa?"
"Njirr, lo yang bilang gak usah emosi kok malah lo yang emosi sih?. Itu suara dibiasain aja kali. "
"Yee.. Kok lo nyolot sih, Fa. Biasa aja kali! "
"Apa? Lo bilang gue nyolot? lo tuh yang nyolot! Kok lo-"
"Udah napa sih! Kita ke sini tuh mau ketemu Zahra. Kenapa pada jadi ribut? "
Kenapa terdengar lucu yah?
Apa ini yang membuat Zahra menjadi nyaman dengan kehadiran mereka, sesuatu yang tidak ia dapat kan dirumah. Kehangatan.
"Biasa kak, itu teman-teman aku emang gitu. Gak usah diheranin." Ucap Fia kepada ku. Aku hanya mangguk-mangguk biasa menanggapinya.
"Daripada kalian ribut gak jelas di sini, mending kalian pergi aja. Cari tempat yang bisa nerima kelakuan buruk kalian. " Usir Nabila kepada mereka.
Asstagafirullah..
Aku benar-benar terkejut dengan sifat asli Nabila. Aku pikir ia adalah orang yang berbudi baik karena terlihat dari jabatannya yang menjabat sebagai ketua kedisiplinan. Karena Setau ku, pak kiayi tak mungkin asal pilih untuk memberikan seseorang sebuah tanggung jawab yang besar secara cuma-cuma.
"Ah ini nih, ngajak ribut ni orang!"
"Saya bilang kalian pergi aja, kelakuan kalian gak bisa diterima di tempat ini. "
"Wah, songong banget ini orang. Minta di tampol, ya?. Yang ngundang rusuh duluan siapa? Lo begok! "
"Kok jadi saya sih, ya kalian lah!"
"Eh, kalo lo gak jelek-jelekin Zahra duluan kita pasti gak buat keributan di sini. Lagian niat baik orang lo tolak, punya hati kagak?"
"Hahah.. Astaga, itu toh. Zahra mah gak usah di tanya, udah fakta kali kalo kelakuan -"
Aku benar-benar tidak bisa menahan nya lagi.
"Dia emang bur-"
Brakk
Aku mendorong pintu gerbang dengan sekali dorongan. Ku lihat mereka semua shock dengan ulah yang ku buat. Sudah ku duga, itu pasti mereka. Teman-teman aneh Zahra. Aku tak heran jika Zahra mau berteman dengan mereka, karena mendengar sedikit percakapan mereka saja aku sudah tau jika mereka adalah teman yang sangat menghibur.
"Ustad Razi?" Panggil Nabila kaget. Aku menoleh ke arahnya, memberikan tatapan ketidak sukaan ku terhadapnya. Dingin.
"Razi?" Ku dengar salah satu gadis itu menyebut nama ku tak percaya.
"Anjirr, ganteng banget. Pantesan aja Zahra gak pernah ngasih kita ijin buat ngeliat kakak nya ini, ternyata ganteng banget. " Histeris salah satu gadis yang menurut ku terlalu berlebihan.
Tapi apa tadi?
Aku dengar ia mengatakan jika Zahra tak memberi kan teman-teman nya kesempatan untuk bertemu dengan ku?
Kenapa terdengar lucu yah?. Pasti Zahra ngomong yang gak bener tentang aku.
Berdeham, "Usahakan jaga etika dan sopan santun ketika berbicara, jangan biarkan cara bicara mu seolah menggambarkan sifat dan akhlak mu yang sebenarnya. Astagfirullah, ini sangat memalukan pihak pondok." Aku melirik sekilas yang lain, tidak menunjukkan sebuah senyuman atau keramahtamahan seperti biasanya.
"Us-ustad.. Nabila tidak bermaksud seper-"
"Saya permisi, assalamualaikum." Pamit ku tanpa menunggu jawaban salam yang lain juga tanpa menunggu Nabila menyelesaikan ucapannya.
Ya, itu teguran yang cukup sopan untuk nya.
***
Setelah makan siang, aku langsung bergegas menuju kediaman umi. Dalam perjalanan aku tak henti-henti nya berdoa dalam hati semoga kedatangan mereka membawa hal yang berbahagia bagi Zahra. Aku sudah tak ingin melihatnya bersedih lagi, cukup sampai hari itu aku melihatnya menangis. Itu pun karena cinta nya, Alif.
Walaupun sakit, tapi inilah kenyataan nya. Jika Zahra telah memilih kemana hatinya akan berlabuh. Aku ikhlas, sangat ikhlas. Asalkan ia bahagia. Asalkan ia kembali tersenyum seperti dulu lagi. Tak apa.
Dengan semua kenyataan ini pun, aku tak salah lagi memilih calon imam yang pantas untuk nya. Yang juga mampu berhasil duduk di singgah sana hati terdalam nya. Yang mungkin dulu selalu aku angan-angankan untuk duduk manis di sana.
Tapi, sekali lagi. Allah memilih yang lain.
"Kak Razi. " Panggil Fia yang sudah berdiri didepan pintu rumah umi.
Aku tersenyum hangat membalas sapaan ramahnya.
"Assalamualaikum.. Fia." Salam ku mengoreksi sapaannya. Fia tersenyum kikuk.
"Waalaikumussalam.. Hehe.. Yuk, kak masuk. Umi dan pak kiayi kebetulan ada didalam. Sedang beristirahat. " Ucapnya seraya menuntunku masuk ke ruang tamu.
Di sana, sudah ku temukan teman-teman Zahra yang sempat bersitegang dengan Nabila. Namun, kali ini mereka bertiga menggunakan pakaian yang lebih tertutup dan nyaman. Tidak seperti beberapa waktu lalu, pantas jika Nabila menolak mereka masuk. Lantaran pakaian yang mereka kenakan sangat kekurangan bahan dan terbuka.
"Assalamualaikum.. " Salam ku seraya mendudukkan diriku di sofa singgel. Sedang kan Fia memilih duduk disamping gadis berkaca mata yang ku yakini mempunyai suara khas yang cempreng.
"Waalaikumussalam.. " Jawab mereka kompak.
"Ekhem.. " Mulai ku mencairkan suasana. Bermaksud untuk membuat suasana lebih hangat dan bersahabat.
"Kak Razi, sebelum nya Fia perkenalkan dulu sahabat-sahabat Fia. " Sela Fia.
Aku mengangguk menyetujui usulan Fia dan langsung mempersilakan nya.
"Kak, yang di sebelah Fia namanya adalah Latifa. Yang duduk di depan Fia ini adalah Dewi dan yang disamping nya adalah Ann. " Ucap Fia lancar dan cepat.
"Nah, kedatangan mereka ke sini untuk meminta maaf kepada Zahra. Namun, karena saat ini ada kakak jadi permasalahin ini kakak tangani dulu." Jelas Fia kepada ku.
Aku mengangguk paham dan memberikan kode bahwa mereka boleh memulai percakapan.
Author P. O. V
"Hari itu, saat kejadian Zahra dipermalukan didepan umum karena telah menyatakan cinta nya kepada pak Alif namun langsung ditolak pak Alif sebenarnya itu semua adalah rencana ku dan Latifa. " Suara Ann terdengar gugup. Ia tak berani memandang atau pun menatap Razi.
"Aku tau." Jawab Razi singkat, tersirat dingin.
Ann dan Latifa meneguk ludahnya kasar. Ada aura dominan yang menguar dari Razi. Sisi dingin dan sikap tegas nya sangat terasa bagi Ann dan Latifa.
"Kami minta maaf, terutama aku. " Mohon Ann terdengar menyesal. Ia menggigit bibirnya gugup.
"Aku tak tau jika selama ini Zahra adalah sosok malaikat yang melindungi adik ku, Alvin. Aku telah salah paham terhadap nya.. Maaf. " Suara Ann terdengar serak dan sumbang. Ia terlihat menahan air matanya agar tidak pecah.
"Aku telah salah paham terhadap nya. Aku pikir penyebab kematian adik ku adalah Zahra tapi, ternyata aku salah.. Hiks.. maafkan aku. " Tangis yang ia tahan sedari tadi akhirnya ia lepaskan. Namun, ia tak ingin mengeluarkan suara kerasnya dan akhirnya ia meredam suaranya dengan menggigit bibirnya kuat. Nyaris melukai daging bibirnya jika saja Razi tidak menegur nya.
"Jika kau ingin menangis, jangan ditahan. Lepas kan saja itu jauh lebih baik." Suara Razi memberikan saran.
"Maafkan aku, jika saja aku tak berbuat jahat kepada Zahra mungkin ia tak akan merasa sendiri dan kesepian. Jika saja aku mau bertanya saat itu mungkin Zahra tidak akan terluka. Jika saja saat itu ak-"
"Semuanya sudah berlalu, tak ada gunanya berandai-andai. Itu tak baik." Potong Razi tidak suka.
Ann kembali menggigit bibirnya dan menggeleng kan kepalanya.
"Aku bodoh, karena aku tak pernah mendengar kan Zahra. Dan kesalahan terbesar ku adalah membuat malaikat pelindung adikku menangis. Ia terluka karena kejahatan ku hiks.. Aku tak tau jika selama ini dia adalah pendonor rahasia itu. Aku sa-"
"Pendonor rahasia?" Potong Razi tak mengerti.
"Apa maksud mu jika Zahra.." Razi menggantungkan ucapannya. Namun, Ann tau kemana arah pembicaraan Razi.
"Benar, Zahra adalah seorang malaikat yang diam-diam mendonorkan darahnya untuk Alvin. Ia juga diam-diam selalu memberikan Alvin sebuah semangat. Kami semua termasuk keluarga ku pun tak tau akan rahasia ini. Bahkan rumah sakit sendiri tak ingin memberi tahu kami siapa yang mendonorkan Alvin darah. Saat itu kami sangat bersyukur sampai akhirnya Alvin divonis kembali sehat atau terbebas dari penyakit kanker leukimia. "
Mengernyit, "Jika pihak rumah sakit saja bungkam, lalu darimana kamu tau jika Zahra adalah pendonor itu?" Bingung Razi sekaligus penasaran.
Ann terdiam sesaat, namun setelah nya ia bergerak menjangkau tas punggung nya dan mengeluarkan sebuah buku berwarna hitam, buku harian. Sebuah diary.
Setelah mengambil nya, Ann pun langsung menyodorkan nya kepada Razi.
"Ini adalah buku harian Zahra. Kami tau semua nya dari buku ini, setelah beberapa hari kepindahan Zahra kami menemukan nya dibawah kolong mejanya. Buku ini menjelaskan semua nya, bahkan hal yang selama ini ia sembunyikan dengan rapat.
Flash back on
"Ini. " Ujar Dewi seraya menyodorkan sebuah buku berwarna hitam ke meja Ann dan Latifa.
"Gue gak pernah merasa mau minjem catatan, lo. Gue juga gak pernah merasa meminjamkan catatan gue ke lo, dan gue juga gak pernah merasa punya buku seperti ini. Lo salah alamat. " Jawab Ann ketus.
Dewi menghela nafas kasar.
"Iya, kamu benar. Ini semua bukanlah salah satu dari perkataan kamu. Ini milik Zahra, tertinggal di dalam mejanya. "
Ann mengernyit tak suka.
"So, jadi gue yang harus tanggung jawab gitu balikin nih buku ke dia?" Tanya Ann mengejek.
"Zahra udah pindah kalo lo lupa, upss..bukan pindah sih, tapi tepat nya dibuang. Hihi.. "
"Terserah, aku tak perduli. Baca! Buka dan baca buku ini!. Dan ku harap setelah kalian membacanya, kalian tak menyesal sama sekali." Putus Dewi menahan emosi seraya pergi meninggalkan meja Ann dan Latifa yang masih terbengong.
Ann beralih menatap buku tersebut, dan bergerak membawanya ke hadapan nya. Ia buka buku harian Zahra perlahan. Lembar demi lembar menceritakan kehidupan Zahra dari umur 8 tahun. Ann sedikit tak percaya dengan apa yang ia baca, ini aneh.
Hingga berlembar-lembar ia habiskan untuk sebuah catatan pendek dan sampailah ia pada sebuah lembar dimana berisi tentang dia, Alvin.
Ann diam terpaku membacanya.
*Dear, diary.
Beberapa waktu lalu aku kedatangan siswa baru, dia laki-laki. Ia memang tampan, tapi aku lebih tertarik menjadikannya sebagai teman. Bukan, bukan! Bukan aku menyukai nya, tapi aku tertarik menjadikannya sebagai teman karena beberapa minggu lalu, aku melihatnya terkapar tak berdaya diruang icu. Awalnya aku tak begitu tertarik, akan tetapi saat aku mendengar kedua orang tua nya menangis pilu lantaran anaknya membutuhkan pendonor darah namun masih belum bisa mereka dapatkan. Aku sedih, ia sangat dibutuhkan oleh orang tua nya. Keluarga nya. Rasanya sangat hangat jika aku yang ada diposisi Alvin. Yah, laki-laki itu bernama Avin. Bagus bukan? Ah, lupakan.
Dear, karena dilanda penasaran aku pun memberanikan diri untuk bertanya ke salah satu dokter yang menanganinya. Dan kau tau dear apa yang aku dengarkan dari dokter tersebut? Ia mengatakan jika Alvin mengidap leukimia. Ia butuh darah saat itu, gol O. Beruntung, aku O. Dan karena keberanian itu pula aku menawarkan diriku sebagai pendonor utama Avin, rahasia. Dokter itu menyanggupi. Dan secara rutin aku mendonorkan darah ku selama 2 minggu sekali untuk Alvin. Tak mengapa.
Setidaknya, harapan orang tua dan keluarga nya bisa tersemogakan dan tercapai, aku senang dengan hal itu.
Ok, dear. Ku pikir sampai di sini dulu untuk hari ini. Bye*.
__ADS_1
Ann menyentuh dadanya sesak, ia usap air mata yang mengalir lembut diatas pipinya.
Ia kemudian beralih ke lembaran berikutnya.
*Dear, diary.
Dear, aku sama sekali tidak bermaksud jahat kepada Alvin. Akan tetapi aku melakukan hal itu karena aku tau, bahwa ada seorang gadis yang sangat mencintai Alvin. Dia bahkan terus saja berjuang walaupun ia berkali-kali ditolak Alvin. Latifa, nama gadis itu Latifa. Gadis cantik berkaca mata dengan suara khas cempreng nya. Yah, aku bukan nya bermaksud menguping. Akan tetapi aku tidak sengaja mendengar kan percakapan mereka.
Serius dear!
Tapi, aku masih takut. Aku sangat takut dear! Pasti Latifa sangat membenci ku lantaran berpikir jika akulah yang menyebabkan kematian Alvin. Ya, aku tau aku salah karena tak mengakui Alvin sebagai teman ku saat itu dan pergi berlari meninggalkan Alvin di saat ia telah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan ku, tapi sungguh dear. Saat itu aku sangat shock dan ketakutan. Maka dari itu aku memilih pergi. Aku tau, ya aku salah. Tapi aku lah yang paling merasa tersakiti dengan semua ini. Aku sangat sakit.
Dear, aku juga tau Ann dan Latifa mendekati ku karena ingin balas dendam. Aku tau, tapi tak mengapa. Mungkin ini adalah cara ku untuk menebus kesalahan ku kepada Alvin. Tidak mengapa.
Yah tidak mengapa, meskipun aku tidak yakin siapa mereka sebenarnya.
Mungkin sampai di sini dulu, dear*.
"Bahkan kau tau apa yang kami sembunyikan dan ingin kan, akan tetapi kamu tetap bertahan dan pura-pura tidak perduli. Sebenarnya hati mu ini terbuat dari apa Zahra? Hiks..kenapa kau sekuat ini?. Hiks.. Sekarang apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku lakukan?" Ann sangat menyesal setelah mengetahui semua kebenaran nya, ia tak tau harus berbuat apa.
Mungkin kah Zahra akan memberikan maaf setelah apa yang mereka lakukan, ataukah Zahra kali ini memilih menutup pintu maaf dan menguncinya. Mengingat dari awal lembar pertama Zahra telah menulis tentang kehidupan nya yang penuh dengan rasa kesepian.
"Ann, kamu kenapa nangis?" Tanya Latifa khawatir.
Ann tak menjawab akan tetapi justru menunjukkan sebuah buku harian yang sempat diberikan Dewi. Latifa meraih buku tersebut dan memilih membacanya.
"Hiks.. Zahra, Fa, aku telah menyakiti nya! Aku telah membuat Alvin kecewa! Apa yang harus aku lakukan?"
Flash back Off
\*
Razi terpaku melihat buku tersebut. Ia tersenyum samar. Dan bergerak menggapainya.
Ia teringat akan sepenggal kisah masa lalunya. Kisah yang tanpa ia sadari telah merubah semuanya.
Flash back on
Razi hari ini akan kembali kerumah setelah mendapatkan izin untuk pulang. Yah, Razi sudah sangat merindukan putri kecilnya, sehingga ia berusaha keras menyelesaikan semua tugas tugasnya agar dapat pulang. Namun, sayang. Razi hanya diberikan izin 2 hari untuk cuti. Itu pun satu harinya ia habiskan di dalam perjalanan. Akan tetapi Razi tidak ambil pusing dengan semua itu. Bisa bertemu Zahra saja sudah sangat cukup baginya. Bagaimana tidak, ini sudah hampir 2 tahun lamanya Razi tinggal di pondok pesantren. Selama dua tahun itu pula Razi hanya bisa bertemu dengan Zahra bisa dihitung dengan jari. Ia rindu.
Saat ini Razi sedang dalam perjalanan pulang, ketika ditengah perjalanan Razi menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku. Membeli sesuatu untuk sang putri.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.49 malam ketika Razi tiba di pekarangan rumah. Kedatangan Razi langsung disambut baik oleh bik Imah, pembantu yang sudah berjasa dengan baik menjaga Zahra selama ia tak ada di sini. Razi juga mengetahui jika orang tua nya sangat sibuk mengurusi bisnis mereka yang sedang gencar-gencarnya menyelesaikan beberapa proyek besar. Hal ini jugalah yang membuat Razi selalu ingin pulang, menemani Zahra yang kesepian dirumah.
"Zahra pasti saat ini sudah tidur." Ucap Razi dengan ekspresi lelahnya.
"Benar tuan muda, saat ini non Zahra sedang tidur. " Ucap bik Imah membenarkan ucapan Razi.
Razi tersenyum tipis seraya pamit untuk pergi ke kamar Zahra.
Razi membuka pintu kamar Zahra dengan hati-hati. Tak ingin mengganggu tidur pulas Zahra. Dengan langkah hati-hati pula Razi berjalan mendekati ranjang Zahra.
Di tatapnya wajah polos cantik Zahra. Ia angkat tangannya untuk mengusap pipi gembil Zahra dengan lembut.
"Kamu terlihat pucat, dek. Maaf aku baru datang sekarang." Ucap Razi lembut seraya mengecup kening Zahra hangat dan setelah itu ia keluar dari kamar Zahra. Setelah menutup pintu dengan hati-hati, Razi sedikit shock mendapati bik Imah yang sudah berdiri dibelakang nya.
"Asstagafirullah.. Bik Imah ih, nagetin aja. "
Bik Imah tersenyum hangat.
"Tuan muda tak ingin menemani non Zahra tidur?" Tanya nya heran.
Razi menggeleng pelan.
"Aku sudah besar bi, aku juga sudah kapok mendengar omelan Abi dulu. Aku tak ingin mengulangi nya dan membuat Abi kecewa. " Jelas Razi terdengar sopan.
"Ternyata tuan tak melupakan kemarahan tuan besar saat itu, yah walaupun bibi tau tuan muda hanya sekedar menemani non Zahra tidur dan tak bermaksud apa-apa. Tapi tuan besar ada benarnya juga. Ini adalah pilihan tuan muda."
Razi tersenyum samar dan menghela nafasnya berat.
"Ya sudah, aku ke atas dulu ya bi, mau istirahat. Bibi juga harus istirahat jangan menyiksa diri. " Pamit Razi yang langsung diangguki bi Imah.
Namun, sebelum Razi benar-benar menaiki tangga Razi langsung berbalik dan mengucapkan sesuatu kepada bi Imah.
"Bi, tolong jangan beritahu kan Zahra tentang kedatangan ku. Aku ingin membuat kejutan untuk nya. " Pesan Razi dan setelah nya ia benar-benar menghilang dari pandangan bi Imah.
Pukul 03.32 dini hari.
Setelah selesai melaksanakan sholat tahajjud dan mandi, Razi langsung turun dan berjalan menuju kamar Zahra. Di tangan kanannya ia selipkan sebuah buku yang sempat ia beli ditoko buku kemaren. Namun, sebelum langkah nya benar-benar memenuhi tujuan awal ia membawa kakinya terlebih dahulu memasuki dapur.
Ia berjalan menyusuri dapur dan mengeluarkan beberapa bahan dapur dari kulkas dan lemari bumbu. Setelah semuanya terlihat sesuai dengan rencananya, Razi pun berjalan meninggalkan dapur dan melanjutkan kaki jenjangnya memasuki kamar Zahra. Ia buka hati-hati pintu kamar Zahra dan berjalan dengan hati-hati pula memasuki kamar Zahra. Zahra masih terlelap, terlihat sangat pulas. Razi menyimpan buku yang sedari tadi ia bawa disamping tidur Zahra dan setelah itu tangannya bergerak perlahan menyelipkan rambut panjang Zahra yang nakal menutupi wajahnya. Razi tersenyum hangat. Kemudian ia bergerak menunduk kan kepalanya, menyamping ke arah telinga Zahra. Lalu dengan tulus ia bisikan sederet doa yang selalu menghiasi malam tahajjud nya. Doa yang selalu membuat nya merasa damai sekalipun ia dan Zahra mempunyai jarak yang jauh.
"Aamiin. " Lirih Razi tulus. Ia angkat wajahnya dan kembali menatap wajah polos Zahra.
Setelah puas menatap nya ia pun bangkit dari duduknya dan bergerak keluar dari kamar Zahra, menutup pintu dengan hati-hati.
Ia kemudian kembali membawa kaki jenjang nya memasuki kawasan dapur.
Razi menggulung baju lengan panjangnya dengan riang. Kemudian ia mulai mengambil sebuah pisau daging dan sebuah daging ayam. Ia posisikan daging ayam tersebut dengan posisi yang nyaman, agar saat memotong nanti Razi bisa dengan mudah dan tak kesulitan.
Setelah semuanya selesai, Razi langsung bergerak mencuci tangan sampai bersih. Melanjutkan kegiatan yang Kedua. Membuat kue brownis kukus kesukaan Zahra.
Razi memang tak pandai memasak, akan tetapi jika itu menyangkut Zahra, Razi akan melakukan apa-pun untuk membuat nya tersenyum.
Azan subuh pun berkumandang tepat setelah kue brownis kukus Zahra ia keluarkan dari kukusan. Razi tersenyum bangga dan pergi meninggal kan dapur. Di depan dapur Razi kembali mendapati bi Imah yang bersiap akan pergi ke pasar.
"Tuan muda, bibi ke pasar dulu yah. Untuk sarapan nya non Zahra bi-"
"Udah aku yang masak kok bi, hmm.. Bibi bantu bangunin Zahra aja. Ajakin sholat subuh sebelum bibi berangkat ke pasar. Tapi bibi jangan bilang kalo ada aku yah bi. " Potong Razi sopan. Setelah semua rencana nya beres, Razi pamit undur diri dari bi Imah dan kembali berjalan menuju kamar nya. Melaksanakan sholat subuh dengan damai.
Setelah ia selesai menunaikan tugas nya sebagai seorang muslim, Razi pun langsung turun dan berjalan ke kamar Zahra. Di sana, Razi melihat Zahra sedang duduk termenung sambil memegang buku yang sengaja ditaruh Razi.
"Assalamualaikum.. Putri kecil?" Salam Razi seraya berjalan masuk ke kamar Zahra.
Terkejut, Zahra tersenyum sumringah mendapati kedatangan Razi dan langsung berjalan memeluk Razi.
"Kakak kapan pulang?" Tanya Zahra senang.
"Jawab dulu dong salamnya kakak."
"Waalaikumussalam.. Zahra kangen kakak. Kakak kapan pulang, kok Zahra gak tau sih kalo kakak pulang?"
Razi mengelus rambut Zahra sayang.
"Kakak pulang tadi malam, tengah malam. Kamu lagi tidur, kakak gak tega bangunin."
Menatap dengan perasaan bersalah, "Maafin Zahra ya, kak. "
"Apa sih kamu dek, udah gak ada yang perlu dimaafkan. Kamu suka gak sama buku yang kamu pegang ini? "
"Aku suka banget, kak. Apa lagi ini dari pangeran Zahra, pasti suka lah. "
"Tau darimana itu dari kakak?. Kakak kan belum bilang."
"Zahra tau lah, di buku ini wanginya kak Razi masih nempel. Tuh, harum banget kak. Cuma kakak yang punya wangi seperti ini."
"Ahahah..kamu ini ada-ada aja dek. "
"Hehe.. Emh.. Kak?" Raut Zahra terlihat serius.
"Iya, kenapa dek?"
Takut, "Kakak bakal diem kan di sini?"
"Iya,dek. Kakak diem kok di sini. Tapi, nanti sore kakak harus balik lagi ke pondok. "
Mendengar itu, mata Zahra terlihat berkaca-kaca.
"Kakak mau ninggalin Zahra lagi?" Tanya nya sendu.
Razi tersenyum miris dan menggeleng pelan.
"Kakak gak bakal ninggalin Zahra, kakak kan udah janji sama Zahra kalo kemana pun kakak pergi pasti akan kembali kepada Zahra. Inget, kakak cuma milik Zahra. "
"Tapi hari ini kakak pergi lagi!"
"Kakak kan harus nuntut ilmu, tuan putri. Lagi pula semua perjuangan kakak ini buat kamu kok. Pasti suatu hari nanti kamu paham."
"Tapi Zahra kesepian, gak punya teman ngobrol! Abi sama Umi selalu sibuk. Zahra kesepian. "
Lagi-lagi Razi hanya tersenyum kecut.
"Karena itu kakak bawain kamu buku ini. "
"Hah? "
"Kalo Zahra sedih atau kesepian, Zahra tinggal tulis di sini. Zahra curahkan apa yang adek rasakan. Besok kalo kakak pulang, kakak janji pasti baca. "
Zahra menatap buku yang ada ditangannya dengan senyum sumringah dan mengangguk senang.
"Tapi kakak janji yah, harus baca. "
"Iya, kakak janji. "
Flash back Off
Tik
Setetes air mata mengalir lembut dari sudut mata Razi. Ia memandangi buku harian tersebut sendu.
Maafin, kakak. Karena telah melupakan janji itu. Batin Razi menyesal.
"Kak. " Panggil Fia lembut. Berusaha menyalurkan rasa hangatnya.
Razi tersenyum tipis dan membuka buku harian Zahra dengan hati-hati. Ia mulai membaca cerita-cerita polos Zahra.
Lembar yang satu dengan lembar yang lain mempunyai emosi yang berbeda. Dan kali ini Razi benar-benar tersadar akan semua kesalah pahaman yang terjadi. Ia mengerti apa keinginan Zahra. Ia juga mengerti kemana tujuan Zahra.
"Fi, kamu hubungi keluarga kakak. Suruh mereka datang, penting. Dan kalian, apakah kalian tak keberatan jika bertemu dengan Zahra? " Tanya Razi semangat.
***
*Hatiku sakit
Dan aku merasa lelah. Hatiku tersakiti, dan aku sudah sangat lelah. Jiwaku serasa kosong.
Aku ragu, jika jiwaku masih bisa merasakan sakit. Hatiku hancur, mungkin mati.
Telah lelah diri ini dan air mataku terus saja mengkhianati ku. Aku kalah terhadap nya.
Dunia seakan menertawakan dan menghakimi keberadaan ku.
Aku benci kehidupan ini!
Aku benci cinta!
Aku tak ingin mengulangi nya lagi karena cinta telah membuat ku hancur dan terluka.
Tidak, jangan salah paham. Aku baik-baik saja. Karena yang hanya tahu keadaan yang menimpa ku hanyalah diriku.
Hatiku sakit dan aku lelah.!
Setiap waktu mendapatkan masalah yang lebih berat dari sebelum nya.
Aku telah merasakan berbagai kesengsaraan. Kesengsaraan yang tiada seorang pun pernah merasakan nya.
Di tinggalkan sahabat.
Cinta bertepuk sebelah tangan.
Dibuang oleh mereka yang seharusnya memeluk ku hangat, keluarga ku.
Dan sekarang?
__ADS_1
Dia pergi juga, mematahkan harapan ku. Membuat ku benci akan Cinta.
Aku benci cinta.
Tiada seorang pun yang mengerti padaku disaat aku membutuhkan nya.
Apa ini?
Karena keegoisan mereka?
Atau
Justru ini karena diriku yang terlalu jahat dimata mereka?
Aku tak tahu.
Oh, mungkin saja ini karena dunia yang terlalu kejam.
Ya, Tuhan.
Bahkan aku bukan lah mahluk ciptaan mu yang sempurna. Yang mampu menampung rasa sakit yang terus berdatangan menghujani hatiku.
Tuhan, katakan apa yang harus aku lakukan dengan segala ketidak adilan yang ku dapatkan?
Hatiku sakit.
Aku lelah, sangat lelah.
Hatiku hancur, mungkin mat*-
"Zahra?"
Panggil Dira lembut dan berhasil membuyarkan lamunan Zahra. Walaupun lamunannya telah buyar, Zahra masih tetap tak bergeming. Ia masih memandangi telapak tangannya kosong. Seperti mayat hidup, tak tau arah.
"Sampai kapan kamu gini terus?"
"Sejak pulang dari rumah aku, kamu gak pernah mau makan."
"Jangankan makan, minum saja kamu tak pernah. "
"Liat keadaan tubuh kamu Zahra, ia tersiksa. Ia kesakitan. Ia butuh energi.!"
"Jawab Zahra, jangan diem terus!"
Nihil. Zahra tak merespon sedikit pun. Zahra terlihat seperti mayat hidup yang tak mempunyai arah. Apakah Zahra menangis?
Jawaban nya mudah. Setelah sekian banyak ia terjatuh. Setelah sekian banyak ia kembali berkali-kali terjatuh, apakah Zahra masih bisa menangis?
Tentu saja tidak.
Bukan kah sudah jelas, jika hatinya telah mati. Menangis pun tak ada gunanya bagi Zahra.
Ia lelah dan sakit.
Itu adalah penggambaran yang cocok untuk Zahra. Ia tidak menyerah, oh tidak. Zahra sama sekali tak berhenti berharap, bahkan ia tidak bisa berhenti.
Mengapa?
Entahlah.
Ia sudah berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa semua nya telah hilang dan berakhir. Ia juga sudah berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa semua pengharapan nya sia-sia.
Akan tetapi hati Zahra menolak semua itu. Hati Zahra seakan buta dengan apa yang dirasakan tubuh lelah Zahra.
Ia memilih menunggu dan terus berharap, meskipun sakit yang ia dapatkan berkali-kali lipat dari biasanya. Ia memilih percaya jika orang itu akan datang kepada nya. Ia percaya.
"Baiklah, kau masih tak ingin berbicara rupa nya. Aku akan keluar dan membawakan mu makanan. Kau harus kuat dan makanlah. Kau boleh saja bersedih, akan tetapi perhatikan pula kondisi tubuh mu juga. Lihat, kau tak sechuby awal kita bertemu. Kau lebih kurus dan pucat. Ku harap semua ini segera berakhir. " Nasihat Dira seraya beranjak dari duduk nya dan berjalan keluar meninggalkan Zahra.
Zahra tersenyum tipis dan mengangkat wajah nya ke arah pintu keluar.
"Terimakasih.. " Gumamnya tulus.
Kembali, Zahra kembali termenung. Bahkan ia tak mengalihkan sedikit pun pandangannya dari pintu keluar.
Tiba-tiba sebuah bayangan seseorang yang ia rindukan berdiri di sana, "Zahra?" Panggilnya dengan suara bass-nya. Terkejut, Zahra menajamkan atensi nya ke arah pintu keluar. Ia sama sekali tak berkedip. Zahra takut jika sosok yang ada di depan nya ini adalah salah satu khayalan nya, karena itulah ia tak berkedip sama sekali.
Sosok itu berjalan pelan ke arahnya. Ia terlihat menangis. Atau lebih tepatnya kacau.
Zahra semakin melebarkan matanya.
Nyata.
Itulah yang sekarang berputar+putar dipikiran nya, bahwa sosok itu nyata.
Tanpa ia sadari, air matanya telah lancang keluar tanpa persetujuan sang empunya.
Sosok itu kian mendekat, mendekati Zahra.
Zahra tak tenang dan dengan perasaan kacaunya pula ia segera menuruni ranjang dengan tergesa-gesa. Berlari semampu yang ia bisa agar sosok itu tak menghilang dari atensi nya.
Grep
Zahra menabrakan tubuh nya kuat dan memeluk sosok itu dengan erat.
Ia redam tangisan nya dan tenggelam kan wajah lelahnya di dada bidang sosok tersebut. Zahra resapi wangi yang menguar dari tubuh tersebut. Masih sama. Bahkan mungkin tak akan berubah.
"Maafin kakak.." Suara nya menyesal. Ia usap-usap punggung Zahra hangat.
Zahra menggeleng kuat.
"Zahra kangen kakak.. Hiks.."
"Kakak jangan tinggalin Zahra lagi. Zahra capek nunggu kakak! Zahra lelah! Zah-"
"Sstt.. " Putus Razi seraya mengeratkan pelukan nya. Menumpukan dagunya yang kokoh di atas puncak kepala Zahra.
"Kakak gak akan ninggalin kamu lagi, maaf. Maafin kakak yang baru menyadari semua nya, maafin kakak yang gak peka dari awal. Maafin kakak.." Ucap Razi tulus.
"Hem. " Respon Zahra singkat karena ia masih sibuk dengan kegiatan nya saat ini. Menghirup wangi tubuh sosok yang ia rindukan.
"Dengerin kakak.. " Ucap Razi seraya melepas kan pelukan Zahra. Zahra merenggut sebal, akan tetapi ia tetap mengikuti dorongan Razi. Razi memegang erat kedua bahu Zahra erat. Menatap kedua manik mata Zahra yang hanya bisa ia tatap dari kejauhan, dulu.
"Hari ini kakak punya kejutan buat kamu. Kakak mau kamu harus bersiap-siap, maksud kakak..kamu harus makan lalu mandi. Lihat tubuh kamu terlihat kurusan. Kakak gak mau kamu seperti ini, ok. Sekarang lakukan apa yang kakak bilang. " Perintah Razi tegas.
Zahra mengerjap-ngerjapkan matanya kagum. Ia benar-benar bisa merasakan aura dominan Razi yang menguar.
"Hei.. " Panggil Razi lembut seraya mengelus wajah polos Zahra. Ia menatap Zahra dalam. Zahra pun melakukan hal yang sama, terbuai akan perlakuan lembut yang Razi berikan.
Zahra seakan bisa melihat jika ada rindu yang sangat ingin tersampaikan dari balik tatapan Razi. Ia seakan bisa merasakan hal yang sama.
Namun, setelah menyadari sikapnya yang sudah melewati batas. Razi menggeleng lemah, melenyapkan pikiran-pikiran aneh yang sempat menggerogoti kepala nya.
Zahra dibuat bingung. Zahra bisa merasakan seakan Razi sedang menahan sesuatu.
"Jangan melamun lagi, ingat perintah kakak. Karena satu jam lagi kakak akan ke sini menjemput kamu. "
Zahra menatap kecewa Razi, bukan karena perintah yang ia berikan. Akan tetapi karena menyadari jika ia tak merasakan lagi usapan lembut dipipi nya.
"Jangan berbohong!"
"Itu tidak akan terjadi." Ucap Razi yakin seraya mendekatkan wajahnya dengan wajah Zahra. Menatap manik mata itu sendu dan berakhir mengecup kening Zahra tulus.
Zahra memejam kan matanya spontan. Meresapi sebuah kecupan hangat yang sudah lama ia tak rasakan.
"Kakak pergi, assalamualaikum." Pamit Razi seraya berjalan meninggalkan Zahra.
Menatap punggung kokoh yang bergerak menjauh, Zahra tersenyum bahagia. Ada desiran tak rela yang ia rasakan.
"Terima kasih, Tuhan. " Gumam Zahra tulus seraya menyiapkan persiapan mandinya.
***
Ini sudah menunjukkan pukul 3 sore, akan tetapi sosok yang Zahra tunggu-tunggu masih belum memperlihatkan batang hidungnya. Ada rasa kecewa yang ia rasakan, mungkinkah jika sosok yang ia tunggu-tunggu hanya omong kosong bualan semata?. Ia ragu karena sudah terlalu sering dikecewakan.
" Kena-"
"Assalamualaikum..dek?" Salam Razi yang sudah berdiri dengan senyum tampannya didepan pintu.
Zahra tersenyum bahagia, lantas berjalan mendekati Razi dengan langkah riang.
"Waalaikumussalam.. " Jawab Zahra lancar .
Untung masih ingat. Batin Zahra syukur sambil mengelus dadanya.
"Lama banget sih, kak? Kakak janjinya bakal datang satu jam lagi, eh tapi ini udah hampir tiga jam lho Zahra nunggu.! Ih, kok kakak malah senyum sih? gak ada yang lucu!."
Kali ini Razi tak bisa menahan tawanya. Ia tertawa lepas didepan Zahra. Zahra tertegun melihat Razi yang bisa tertawa lepas seperti ini. Baginya, ini adalah pengalaman pertama Zahra bisa melihat Razi tertawa. Yah, tentunya setelah sepuluh tahun lamanya.
"Kamu lucu dek kalo lagi marah, makin cantik."
Blush
Zahra bisa merasakan jika pipinya menghangat dan juga ia bisa pastikan jika saat ini pipinya pasti telah memerah seperti kepiting rebus.
"Ih, kakak! Apaan sih, gak jelas. Udah ah, katanya mau ngajak Zahra keluar, yuk.. Zahra udah siap dari 2 jam yang lalu." Sindir Zahra sambil menekan kata terakhir.
Razi tersenyum kikuk dan langsung meraih tangan Zahra. Menggenggamnya lembut, membawa langkah Zahra agar mengikutinya patuh.
Zahra yang mendapatkan perlakuan lembut seperti ini hanya bisa tersenyum malu-malu. Beruntung Razi tak melihat mukanya yang sudah dipastikan sedang dalam keadaan abnormal.
***
Setelah sampai tujuan, Razi langsung melepaskan genggaman tangan Zahra lembut. Ia tersenyum samar ke arah Zahra, sementara itu Zahra sangat bingung mendapati sikap Razi yang terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.
"Kita sampai." Ucap Razi canggung.
Zahra dapat merasa kan jika ada yang disembunyikan Razi darinya.
"Kenapa kita ke rumah umi, kak?" Sadar Zahra setelah menyadari jika mereka sekarang berada di depan rumah umi.
Razi tersenyum hangat, mengangkat tangannya menyentuh pipi Zahra lembut. Namun, secepat kilat Razi langsung menjauhkan tangan nya dari wajah Zahra. Ia sadar telah melewati batas.
"Kamu akan tau setelah masuk ke dalam. " Ucap Razi mencoba mencairkan suasana yang sempat canggung beberapa saat.
"Ayo. " Ajak Razi seraya berjalan duluan di depan Zahra. Meninggal kan Zahra yang masih terbengong dengan sikap Razi. Ia memandang tangannya yang sempat digenggam Razi, ada rasa tidak rela saat mengetahui bahwa Razi tak lagi menggenggam tangannya lagi.
Kakak aneh deh, tadi romantis! Sekarang?. Batin Zahra kesal.
Ia kemudian berlari kecil mengikuti langkah Razi yang sudah bersiap memasuki rumah Umi.
"Kita ngapain sih ke sini ka- HAH?" Kaget Zahra.
Zahra sangat shock mendapati seluruh keluarga besarnya berada di tempat ini. Bukan hanya keluarga besarnya saja, akan tetapi semua sahabat-sahabat nya sedang duduk manis menatap kehadiran Zahra antusias.
"Kak.. Inni..? " Bingung Zahra sambil menatap Razi shock.
Razi tersenyum hangat dan membisikkan sesuatu kepada Zahra.
"Kakak telah menepati janji kakak yang pertama, membawa putri kecil kakak kembali." Bisik Razi hangat.
Zahra menatap Razi tak percaya, ia pikir Razi telah melupakan semua nya. Termasuk janji mereka berdua.
"Kakak... Hiks.. " Tangis Zahra langsung pecah dalam pelukan hangat Razi. Razi yang belum siap dipeluk hanya bisa tersenyum tipis.
Mungkin setelah ini kakak akan belajar melupakan mu, dek. Kakak harus menepati janji kakak yang terakhir, membawa mu ke calon imam mu yang sudah tertanam manis dihatimu. Dan itu bukan kakak. Ingat, walaupun hari itu tiba nanti hati kakak hanya milik kamu. Bukan yang lain, bahkan sekalipun kakak tak dapat memiliki hati mu. Batin Razi sendu.
Dira yang melihat pemandangan itu hanya bisa menatap sendu.
Kau hebat dan juga bodoh.
Bersambung...
Kyaaa.. Dateng lagi, okay, kali ini saya mau minta tolong buat readers ceritain dong kenapa bisa Nemu buku ini di aplikasi dan kenapa juga readers tertarik buat baca, inget awal mulanya yahhhh..
Pengen tau hayati, biar makin semangat gitu lho nulisnya 🤣
**PS!!
__ADS_1
Maaf buat yang komen saya gak bisa balas satu-satu karena ini pun saya up nya butuh perjuangan besar, so saya juga punya kesibukan yang sangat tidak bisa ditinggal. Maaf dan terima kasih atas respon dan kunjungan readers yang sangat membuat saya terhibur.
Sekali lagi saya minta maaf karena tidak merespon komentar readers, maaf**.