Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Petaka


__ADS_3

"*Kau terlalu ceroboh, bahwa jalan yang kau pilih adalah salah. Kau tak menyadari jika tempat yang akan kau pijaki itu adalah tempat yang penuh dengan duri."


Lutfia Asakira*.


\*\*\*


Zahra P. O. V


Tok


Tok


Tok


"Dek?,"


"Zahra, bangun dong dek..ayo dong kita pergi sholat.." Annisa berteriak nyaring, berusaha membangunkan ku untuk sholat bersama.


Aku menggeliat nyaman di atas kasur ku, menandakan bahwa aku sudah bangun namun butuh waktu untuk mengembalikan kesadaran ku.


"Zahra, bangun dong dek.." Samar, ku dengar suara Annisa memanggilku dari luar. Suara yang membuat ku terbangun tadi aku yakin itu adalah suara Annisa yang langka.


Akan tetapi tiba-tiba aku tersadar, bingung kenapa Annisa memanggilku sesemangat ini. "Kak annisa?"


Kepala ku masih terasa pusing dan aku merasa mengapa pagi secepat ini datang?


Bukankah ini terlalu cepat, padahal aku merasa jika aku baru saja tidur 3 jam yang lalu dan sekarang tiba-tiba saja pagi datang, apakah ini hanya karena perasaan ku saja atau apa?.


Tidak ingin ambil pusing, aku menyingkirkan selimut hangat yang sempat memelukku dan memberikan kehangatan yang nyaman. "Iya, kak bentar.." Menyahutinya, aku beranjak turun dari ranjang ku dan bergegas membukakannya pintu.


"Assalamualaikum, Zahra." Setelah ku buka pintu, hal pertama yang menyambut ku adalah salam Annisa yang disuarakan dengan semangat yang terlihat jelas. Jika ku pikir-pikir ini pertama kalinya aku melihatnya se'energik ini di depan ku, karena biasanya seperti yang pernah aku katakan dulu ia adalah tipe gadis yang halus.


"Waa'alaikumsalam, astaga kakak ih ngagetin Zahra aja, nyebelin tau gak." Aku mengeluh setengah berbohong. Aku memang dibuatnya terkejut, tapi itu bukan karena sisi negatif nya. Aku terkejut karena yah, aku terpana dengan sifat kakak ku yang baru ku lihat saat ini.


Annisa tertawa kecil, "Hehe.. maaf deh udah ngagetin kamu, tapi serius lho dek nungguin kamu bangun itu kesabaran bikin kakak jadi gemas tau gak. Apalagi ini dingin banget, kakak kedinginan tau. "


Mendengar alasan Annisa aku tidak bisa tidak berdecak kesal, bukankah ia sudah mengatakan nya sendiri jika ia kedinginan tapi mengapa ia tetap berusaha membangunkan ku?


Di tambah lagi, sebelumnya aku mendengarnya mengatakan ingin sholat bersama dengan ku. Bukankah tadi malam aku sudah mengatakan jika aku sedang berhalangan, apakah ia melupakan hal ini?


Lalu tentang sholat bersama ini, mana ada sholat di pagi hari, kalo aku tebak mungkin ini masih jam setengah tujuh, masa iyasih sholat dzuhur di jam segini?


Ini terlalu rajin atau apa sih?


"Kak, ini kan masih pagi masa iyasih kita sholat dzuhur di jam segini, kan ini baru jam setengah tujuh, kak?" Aku mencoba mengingat kannya, mungkin saja ia lupa atau apa siapa yang tau.


Sekedar pengingat saja, walaupun aku miskin agama tapi aku tetap masih mengingat waktu-waktu sholat yang harus dikerjakan umat muslim. Yah, walaupun tidak terlalu mendalami tapi setidaknya aku tidak seburuk itu kan?


"Ya Allah, Zahra.!" Annisa sekali lagi berteriak, jika yang pertama tadi ia berteriak diluar kamar ku untuk membangun kan ku jadi tidak terlalu mengganggu tapi yang kedua kali ini adalah di depan ku dan seperti yang bisa kalian tebak, ini sangat mengganggu. Jadi bingung, Annisa kok hobinya jadi teriak-teriak gini, apa sebelumnya ini adalah kebiasaan nya?


Jika dikatakan terkejut, maka iya, aku memang terkejut. "Hah?" Dan ini adalah respon ter'alami ku setelah mendapatkan shock darinya.


Menggelengkan kepalanya, "Mana ada dek sholat dzuhur di jam segini, sholat shubuh aja kita belum dek..eh, udah main sholat dzuhur aja." Annisa memberi ku penjelasan yang sekali lagi membuat ku merasakan terpana.


What, tadi dia bilang apa?


Aku gak salah denger kan?


Tadi itu dia teriak histeris gak jelas yang aku kira ada banteng masuk rumah dan bersiap menyerang kami tapi ternyata bukan banteng yang masuk melainkan dia berteriak histeris gak jelas dan gak masuk di akal hanya karena ngejelasin tentang sholat?


Oh.


Aku gak tau jika kepolosannya berujung idiot.


Tapi tunggu dulu, Annisa bilang ini bukan sholat dzuhur bahkan sholat shubuh pun masih belum ada waktu, jadi ini maksudnya apa?


Memutar otak, aku menebak apa yang dimaksud kakak ku. "Maksud kakak kita mau sholat, sholat pagi menjelang siang hari?" tanya ku dengan ekspresi yang tidak bisa ku gambar kan.


Asli deh, pagi ini aku kayak orang bego nan bodoh yang gak tau mau pergi kemana karena sedang tersesat di planet mars dan dengan sejuta siksaan sinar matahari yang selalu menyoroti ku kemana-mana-


Oh, shit!


Aku mulai berhalu lagi.


Ekspresi Annisa menjadi bingung, "Sholat pagi menjelang siang hari?" Ia bertanya ragu.


Mendengar nya bertanya seperti itu, respon ku hanya mengangguk. Apa lagi ekspresi nya yang terlihat kebingungan membuat juga kebingungan. Jika bukan tebakan ku ini maka apakah ini langsung sholat ashar, hell aku menjadi semakin bingung.


Annisa terlihat menyipitkan matanya dan berpikir lama. Hingga beberapa menit kemudian Annisa tertawa sambil memukul-mukul pundak ku.


Yah, kelakuan nya berubah lagi. Dalam waktu setengah jam ia sudah membuat ku terpana untuk yang kesekian kalinya.


Aku sempat berpikir, apakah ini adalah Annisa yang ku kenal biasanya karena setauku Annisa tidak akan sekonyol dan seaneh ini. Bisa merubah ekspresi dan kelakuan nya hanya dalam beberapa menit, aku jadi ragu apakah Annisa yang ada didepan ku ini adalah Annisa kakak ku.


Ah, atau ini adalah efek samping karena terlalu lama dikurung di dalam penjara pondok pesantren. 10 tahun di sana, bisa jadi kan Annisa mengalami gangguan mental.


Menelan ludah, aku mencoba bertanya dengan hati-hati kepadanya. "Kakak..kakak baik-baik aja kan?" Tanyaku khawatir karena jika ia tidak baik-baik saja maka misi ku akan terancam gagal.


"Ya Allah, Zahra, kakak sih ok. Tapi kamu yang gak ok, dek" Jawab Annisa di sela-sela tawanya.


Aku mengernyitkan dahi ku, tak mengerti dengan ucapannya. Bukankah yang sedang tidak baik-baik saja adalah dia dan bukan aku. Lalu kenapa dia mengatakan jika aku tidak baik-baik saja?


"Maksud kakak?" Tanyaku ragu karena menurut yang sedang mengalami masalah adalah Annisa dan bukan aku.


"Astagafirullah, Zahra ini tuh jam 3 bukan jam 6. Masa kamu gak sadar kalo ini masih dini hari? ." Jelas Annisa membuat ku meragukan pendengaran ku. Efek baru bangun jadi beberapa indra masih belum bekerja secara normal.


"Haha, kakak gak boleh gitu ah, bercanda kakak kelewatan."


"Bercanda?, kakak gak bercanda kok dek .kakak serius lho kalo sekarang pukul 3 pagi."


Seakan dunia berhenti berputar, sekali lagi aku meragukan pendengaran ku.


"Kakak serius ini jam 3?," Tanyaku tak yakin masih meragukan pendengaran ku.


Annisa mengangguk mantap meyakinkan bahwa ia berbicara serius.


Oh,


Tidak!


Lengkap sudah penderitaan ku hari ini.


Jam 3?


Oh, shit. Pantas aja kepalaku pusing juga aku merasa tumben-tumbenan udara hari ini dinginnya sampai ketulang-tulang.


Dan bodohnya aku kenapa gak sadar-sadar dari awal kalo ini masih pagi banget. Udah dingin, gelap lagi.


"Kita mau belajar sholat tahajut, dek." Sambung Annisa semakin menambah kebodohan dan keterkejutan ku.


"Sholat tahajut?" Tanyaku tanpa sadar.


Annisa mengangguk seraya merangkul pundak ku, ah, ini terasa hangat.


"Sholat tahajut adalah sholat sunnah yang paling istimewa dari sholat sunnah lainnya karena kita melakukannya di seperdua atau di sepertiga malam, dimana semua orang tidur dengan lelapnya sedangkan kita bangun dan meninggalkan kenikmatan itu hanya untuk berbicara dengan Allah." Ucap Annisa menjelaskan ku, aku tidak yakin tapi kenapa ada orang bodoh yang melakukan sholat ditengah malam seperti ini?


"Ayo.." Ajak Annisa sambil menarik tanganku dengan lembut.


"Tapi aku kan masih halangan kak." Jujur ku sekaligus mengelak ajakan Annisa secara halus.


Mendengar alasan ku, Annisa memberikan ku tersenyum seraya membawa ku menuruni tangga.


"Kan kita cuma belajar aja Zahra" Ucap Annisa mematahkan harapan ku untuk kembali tidur.


Annisa menggenggam tangan ku dengan erat, tapi entah mengapa aku menyukainya dan menikmati perjalanan ku ke mushola keluarga dengan nyaman.


Ku ikuti langkah Annisa yang masuk ke dalam mushola, di sana kami dapati umi yang sudah melipat sebuah kain yang biasa mereka sebut sebagai muknah.


Umi tersenyum melihat ku, mengecup kening ku dengan kening Annisa setelah itu umi keluar dari ruangan sambil mengucapkan salam.


Annisa menarik tangan ku lagi dan mengarahkan ku untuk duduk berhadapan dengan nya.


Setelah aku terduduk, tangan Annisa bergerak mengambil sebuah bag paper berwarna merah yang ada di belakangnya lalu menyodorkannya kepada ku.


"Ini apa kak?" Tanyaku penasaran seraya membawa bag paper itu ke hadapan ku.


"Buka dong,dek.." Intruksi Annisa semangat. Aku pun langsung membuka bag paper itu dengan semangat pula dan ternyata..


It's not my expectancy


Aku kira ini apaan tapi ternyata ini MUKNAH!!!


Yah, bukan harta karunlah yang ku temukan. Melainkan sebuah muknah dengan warna putih yang mendominasi. Aku tak ingin membuka plastik bening yang melindungi muknah itu, cukup sampai di sini karena aku sungguh tak tertarik.


"Kamu suka gak dek?" Tanyanya dengan tatapan berharap.


Suka?


Dia nanya aku suka?


Mau tau jawabannya?


GAK.


AKU GAK SUKA DAN GAK AKAN PERNAH SUKA!!!


"Suka gak?" Tanya Annisa dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.


"Iya kak, aku suka." Jawab ku bohong serasa ingin muntah.


Mendengar jawabanku mata Annisa langsung berbinar binar. Seperti nya ia cukup puas mempermainkan ku.

__ADS_1


Aku hanya meresponnya dengan ikut tersenyum. Namun, sejujurnya hati ini terasa bahagia juga melihat ada rona kebahagiaan di sana. Wajah Annisa yang tak pernah sebahagia ini membuat ku terkadang merasa sedih, tapi tunggu dulu!


Mengapa aku perduli?


Mengapa aku memikirkan hal yang tidak perlu untuk di pikirkan?


Dasar bodoh.


Lalu, ia meraih sesuatu dari belakang tempat ia sedang duduk. "Dan ini, tadi malam saat kakak merapikan buku kakak menemukan buku ini. Jadi teringat sama kamu, nih buat kamu dek." Menyerahkannya, ia masih tersenyum penuh harap menatapku.


Terlihat masih baru dan terbungkus rapi.


"Rindu di sepertiga malam, Tahajut." Gumam ku membaca judul buku pemberian Annisa.


Annisa tersenyum melihat ku menatap buku pemberiannya.


"Di baca yah, dek. di sini ada panduan sholat dan manfaat sholat tahajut." Ucap Annusa sambil menunjuk buku tersebut.


Aku hanya memanggut-manggutkan kepala ku dengan gaya sok ngerti ku, walaupun sebenarnya aku tidak mengerti dak tak mau tau.


Sholat tahajut?


Itu sholat apaan sih, kok asing banget yah di telingaku?


Tapi kok ini sholat aneh banget yah, kenapa harus tengah malem begini di kerjakan?


Mana aku masih ngantuk lagi, aduh kepalaku masih pusing banget nih.


Tapi, aku penasaran sholat tahajut itu apa sih?


Masih menatap buku tersebut, aku mulai menyuarakan rasa penasaran ku. "Kak, sholat tahajut itu apa sih?, kok aku gak pernah dengar yah" Tanyaku jujur karena ini adalah pertama kalinya aku mendengar tentang sholat ini, apalagi ini dilakukan ditengah malam.


Annisa menampilkan senyum sumringahnya lagi karena mendengar pertanyaanku.


"Ya pastilah kamu gak pernah dengar dek, orang sholatnya aja di laksanakan tengah malam dan bukan sholat wajib juga." Jawab Annisa singkat.


Aku tidak puas dengan penjelasan ini, masih banyak rasa penasaran ku terhadap sholat ini.


Kenapa dilaksanakan saat tengah malam, dan kenapa gak siang hari saja?


Dan juga yang terpenting, jika itu sholat sunnah kenapa kak Annisa mau melaksanakan susah payah. Bukan kah ini bukanlah hal yang wajib.


Ini membuat ku penasaran!


"Tapi, kenapa kakak mau sholat jika itu hanya sholat sunnah dan kenapa harus di tengah malam?" Tanyaku to the point karena tak dapat menahan rasa penasaran ku yang menggunung.


Annisa tertawa kecil mendengar pertanyaan ku yang mungkin terdengar lucu baginya dan tidak sama sekali bagi ku.


Aku hanya meringis melihat pertanyaan bodoh ku itu di tertawakan oleh Annisa, jika kak Razi ada pasti dia juga akan mentertawakan kebodohanku.


Tapi untungnya ia sedang di luar kota jadi aku bisa beraksi tanpa sepengetahuan dia.


"Kenapa harus dilakukan jika itu hanya sholat sunnah dan kenapa harus tengah malam?," Tersenyum, Annisa menatap ku.


"Hem..ini pertanyaan bagus." Ucap Annisa terdengar bergumam.


"Karena sholat tahajut adalah bukan sholat sunnah biasa, sholat tahajut adalah sholat sunnah paling istimewa. Kenapa?


karena dilakukan pada saat semua orang masih tidur dengan lelapnya, karena dilakukan pada saat semua orang menikmati kenikmatan dunia. Yang lain tidur, nah lho kenapa kita sholat tahajut?" Tanya Annisa memancing respon ku dengan argumennya yang sejujurnya menurut ku menarik.


Aku diam tak memberikan respon apapun karena aku saat ini sedang fokus kepada perkataan Annisa selanjutnya.


"Karena saat itu Dia turun ke bumi." Sambung Annisa.


Dia, siapa?


Ayolah jangan membuat ku semakin penasaran.


"Dia itu siapa?" Tanya ku dengan spontan.


"Allah," Ia menjawab yakin dan tanpa ragu.


"Allah turun ke bumi bersama ribuan bala tentaranya atau bersama ribuan malaikat untuk menemui para hamba Allah yang melakukan sholat tahajut. Saat kita melakukan sholat dan berdoa, ribuan malaikat saat itu akan mengelilingi kita dan mengucap kan amin di setiap doa yang kita ucapkan."


Hoaaa..sumpah!


Aku merinding dengarnya, tapi apakah yang dikatakan Annisa itu benar?


Tuhan akan datang menemui aku jika aku melakukan sholat?


"Dan istimewanya adalah Allah akan menemani kita, mengobrol dengan hambanya. sungguh itu adalah hal yang paling kita tunggu dek." Ucap Annisa bersemangat.


Benarkah?


Benarkah Annisa bertemu dengan Tuhan, bahkan mereka berdua mengobrol.


"Beneran kak?,"


Annisa tertawa lagi mendengar pertanyaanku. Namun kali ini tawa Annisa sangat-sangat heboh dan berisik.


Apakah ia lupa jika ini sudah tengah malam?, jika didengar tetangga pasti mereka akan terganggu.


"Astagafirullah, gak dek. Kamu jangan salah paham gitu, kakak gak pernah melihat rupa Allah itu kayak gimana. Allahualam, hanya orang-orang pilihanlah yang kelak bisa melihatnya."


See, itu hanya bualan saja.


Tanpa sadar aku beringsut menjauhinya, "Terus?"


"Yah, kita gak lihat tapi kita bisa merasakannya. merasakan jika saat itu Allah sedang merangkul dan memeluk kita dengan hangat. Di saat itu pulalah kita bisa menumpahkan kesedihan kita, berbicara dan memberitahunya jika perjalanan hari kita tak selamanya senang dan tak selamanya pula bahagia. Adakalanya kita merasa sendiri dan kesepian, terjatuh dan tak tau harus berbuat apa kecuali mengadu kepadanya. Allah akan dengan sangat senang hati memeluk kita, memberikan kehangatan yang tak mampu di berikan oleh siapa-pun. Kecuali hanya Allah." Annisa tersenyum kecil setelah mengakhiri penjelasannya. Dan entah kenapa aku melihat senyuman itu terlihat manis dan tulus, tidak dibuat-buat.


Dan juga, entah mengapa penjelasan Annisa membuat hati ku merasakan sesak. Bukan karena kebencian, namun lebih kepada perasaan kesepian dan sendiri. Yah, perasaan ini adalah perasaan yang sangat ingin aku kubur dalam-dalam. Namun bukannya menghilang, perasaan ini justru semakin sakit dan sesak di setiap waktunya.


Tuhan, sungguh ini sakit.


Aku tidak kuat harus selalu menanggung beban ini yang setiap waktu akan semakin memberat saja, aku tidak bisa menanggungnya.


"Kak, aku balik ke kamar dulu." Aku langsung berdiri dan meninggalkan Annisa keluar tanpa menunggu jawabannya.


Author P. O. V


Annisa menatap kepergian adiknya dengan tatapan kosong, sekilas ia bisa melihat ada tatapan terluka dimatanya akan tetapi ia tidak yakin dengan hal itu.


"Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah? " Annisa bertanya bingung.


                          ***


"Annisa, paggil adek mu nak suruh dia untuk turun sarapan. Ini sudah pukul tujuh. Sayang, nanti nasi goreng kesukaannya jadi dingin." Teriak Umi dari dapur.


"Iya, umi. " Annisa balas teriak seraya naik ke atas tangga.


Mendengar jawaban Annisa, umi spontan menampilkan senyum geli diwajahnya. Senang rasanya memulai hari ini.


"Jika saja abi dan Razi sudah pulang, pasti rumah ini semakin ramai dan menyenangkan" batin umi berandai-andai.


Setelah sekian lama menunggu, Annisa dan Zahra akhirnya turun ke meja makan. Penampilan Zahra saat ini sangat berantakan.


Mata sembab, rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur.


"Umi, benar buat brownis kukus untuk aku?" Tanya Zahra terlihat bersemangat.


Umi hanya merespon Zahra dengan mengangguk senang.


Setelah mendapat anggukan dari umi, Zahra langsung duduk di salah satu kursi meja makan dan mendapati hal yang spesial.


"Waw, nasi goreng balado." Seru Annisa tidak kalah semangat nya dengan Zahra.


"Udah-udah, kalian langsung sarapan aja daripada teriak-teriak gak jelas. "


Umi, maafin Zahra jika semua ini hanya sandiwara Zahra saja.


                        ***


"Hallo, Fia." Sapa Zahra saat orang yang dia tuju menjawab telpon nya.


"Assalamualaikum, Zahra." Salam Fia bermaksud menyinggung Zahra dengan halus.


"Hehe, iya maaf waalaikumsalam." Jawab Zahra sambil cengengesan.


Di seberang sana, Fia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ya Allah, Zahra, kamu kan lagi proses berhijrah masa iya sih kamu melupakan hal yang sangat penting, salam itu doa tau." Nasihat Fia.


Zahra mengernyitkan dahinya, terlihat berpikir.


Kok Fia tau yah kalo aku lagi proses hijrah?. Batin zahra bingung.


Penasaran, ia coba bertanya. "Tau darimana kamu kalo aku lagi proses hijrah?" Tanya Zahra dengan nada suara menyelidik.


"Oh itu..hem dari-oh dari kak Annisa. Iyah, tadi malem kak Annisa menelpon aku.." Ucap Fia menjawab kecurigaan sahabatnya ini dengan dada yang kembang kempis.


"Oh, dia. Emang yah tu anak dasar mulut ember!, belum apa-apa aja udah main ngomong." Maki Zahra tak suka.


Sementara di seberang sana Fia meringis mendengar makian Zahra kepada Annisa.


"Udah, oh ya kamu ngapain nelpon aku sore-sore begini?, ada apa?" Tanya Fia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Emang aneh yah Fi aku nelpon kamu di jam sore-sore begini?" Tanya Zahra dengan suara lemah.


Astagafirullah, salah ngomong lagi. Mana Zahra orang nya pekaan lagi. Batin Fia khawatir.


"Astagafirullah, kamu ini apa-apaan sih, Ra?, kamu jangan salah paham gitu napa dong, aku ngomong gini karena tumben aja kamu nelpon aku.."

__ADS_1


Zahra hanya mengangguk-anggukan kepalanya senang. Namun, ada yang aneh dengan Fia. Zahra merasa jika Fia sangat sopan hari ini, apalagi dalam pembicaraan tadi cara berbicara Fia sangat mirip dengan Annisa.


"Kamu aneh, Fi. Cara ngomong kamu kayak Annisa, aku gak suka." Ucap Zahra to the point mengatakan ketidak sukaannya kepada Fia. Zahra tidak suka dengan sesuatu yang berhubungan dengan Annisa, itu adalah sebuah kebencian alaminya semenjak ia kecil.


Di seberang sana, dada Fia sudah kembang kempis karena kehabisan alasan melawan Zahra yang terlalu peka dan sensitif pada segala hal.


"Ya Allah, Zahra, kamu kan berhijrah, masa iya sih aku gak ngikutin jejak sahabat aku." Fia mencari alasan lagi.


Zahra tersenyum sumringah mendengar jawaban Fia yang berhasil mematahkan kecurigaannya terhadap sahabatnya. Ia juga berpikir begitu, jika sahabat nya berubah maka ia pun juga harus berubah.


"Oh, kirain. Eh, aku punya kabar gembira buat kamu."


"Kabar gembira?"


"Iya, kabar gembira Fi.."


"Kabar gembira apa?" Fia bertanya antusias.


"Kabar gembira bahwa aku hanya pura-pura saja berubah." Zahra menjawab langsung, membuat Fia yang di sana mulai meragukan pendengarannya.


"Hah, maksud kamu apa Zahra?, aku gak ngerti."


Memutar bola matanya, "Hem, sebenarnya aku hanya pura-pura hijrah di depan Annisa sama umi."  Zahra menjelaskan dengan sabar, pasalnya Fia tidak pernah selambat ini jika membicarakan sebuah rencana. Ia sedikit geram.


"Kenapa.?" Tanya Fia sedih.


"Karena aku sedang menjalankan sebuah rencana, aku pengen ngejebak Annisa. Aku butuh bantuan kamu dong Fi, yah-yah"


Fia diam tak menyahuti permintaan zahra.


Ia sangat shock dengan apa yang baru saja di dengarnya.


Ternyata Zahra tidak benar-benar tulus melakukan semua itu. Ia berbohong dan ia menipu semua orang yang ada di sekelilingnya.


"Kenapa kamu sangat keras kepala, Zahra?, kenapa kamu sangat keras kepala?" gumam Fia lebih kepada berbisik.


"Apa, Fi?, tadi kamu ngomong apa?"


"Hah, enggak kok. aku gak ngomong apa-apa."


"Tadi aku denger kamu kayak ngo-"


"Kapan, Zahra?, kapan rencana ini kita laksanakan?" Potong Fia cepat mengalihkan pembicaraan.


"Sekarang!,"


"Di tempat biasa, kamu pasti ngerti kok. "


"Ok.." Jawab Fia sedih seraya berusaha mengontrol suaranya agar tetap normal. Jika boleh jujur, Fia merasa sedih dengan apa yang telah ia dengar tadi. Ia pikir jika semuanya sudah selesai tapi nyatanya ini adalah awal dari kehancurannya.


"Kenapa kamu harus melangkah sejauh ini Zahra dan kenapa kamu berani mengambil resiko sebesar ini?. Apakah kau tak pernah berpikir panjang bahwa semua ini akan menyakitimu?, apakah kau tak pernah berpikir bahwa langkah yang kau ambil terlalu besar resikonya?. Kau egois zahra!, kau egois!. Apa kau pikir rencana mu akan berhasil?, tapi maaf Zahra. Kali ini aku tak bisa membantu mu menyakiti yang lain karena yang akan paling merasakan sakit adalah dirimu!, bukan kak Annisa. Sekali lagi aku minta maaf, aku harus memberitahu gus Fansyah rencana mu ini. Maaf, tapi sungguh aku tak ingin melihat ada yang terluka lagi. Terutama untuk mu Zahra." Batin Fia sedih sambil mengusap air matanya.


"Ok, kalo gitu aku mandi dulu yah..kalo udah siap aku hubungi ok.." Pesan Zahra dan sambungan pun terputus tanpa menunggu persetujuan dari Fia.


                          ***


Zahra P. O. V


"Kak, kak Annisa..." Teriak ku memanggil Annisa dengan semangat karena beberapa menit lagi misi ku akan terlaksana.


Aku berlari-lari kecil menuruni anak tangga dengan pakaian casual ke kinian dan dengan sepatu high hills yang baru beberapa hari yang lalu aku beli. Semuanya tampak serasi dan elegan karena rambut ku yang terurai lepas bebas.


"Kakak.." Panggil ku mengagetkan Annisa dari belakang.


"Astagafirullah, Zahra.." Ucap Annisa kesal sambil mengelus-elus dadanya.


Dia memang terlihat kesal, namun senyum nya itu tak pernah terlepas dari wajah nya.


Ok, baiklah mungkin saat ini dia bisa tersenyum tapi lihat saja apa yang akan terjadi beberapa waktu lagi, kau pasti akan menyesalinya seumur hidup karena tak pernah singgah ke tempat itu atau oh, ok mungkin kau akan terluka dan menangis meraung-raung akibat insiden hari ini. Hahaha..ayolah, Zahra, ayo kita lakukan pesta ini dengan bersenang-senang.


"Hehehe..maaf kakak ku yang cantik, assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam, ada apa hem?ada yang bisa kakak bantu?" Tanya Annisa to the point.


Annisa membelalakan matanya setelah menyadari penampilan ku.


"Kamu mau kemana, dek, kok penampilan kamu hari ini seperti gak biasanya.?"


"Hehe..justru itu aku mau minta bantuan kakak, tolong temenin Zahra ke toko buku, bisa gak?" Tanya ku dengan santai. Aku yakin, ia pasti mau menemani ku pergi karena setelah melihat perubahan besar ku, ia akan bersikap baik pada ku.


"Ya kakak sih bisa-bisa saja, tapi apakah harus kamu pakai pakaian ini Zahra?" Tanya Annisa yang masih saja menyebalkan.


Emang salah ya aku pakai pakaian gini?, dia aja yang pakai pakaian syar'i gak ada yang marah. Lha ini, aku pakai-pakaian begini dia protes padahalkan pakaian yang paling aneh itu dia, mana kalo keluar rumah pakai cadar lagi. kayak ninja nyasar aja!.


"Ya lah kak..emang kenapa?" Tanyaku berusaha menahan lonjakan emosiku.


"Astagafirullah, Zahra, kamu kan lagi proses hijrah, dek. Jadi harus belajar pake jilbab..." Nasihat Annisa sambil menyentuh rambut ku yang terurai.


Aku menepis tangan Annisa dengan halus agar ia tidak berpikir yang tidak-tidak tentang aku.


"Bukannya Zahra gak mau, tapi hanya saja Zahra mau nya beli baju dan buku-buku itu dari uang tabungan Zahra sendiri. Alhamdulillah, Zahra punya sekitar 8 jutaan di ATM Zahra dan itu pun tabungan Zahra dari kelas satu SMA " Ucap ku beralasan.


Aku memang mempunyai tabungan di ATM ku sejak aku kelas 1 SMA, itu adalah kejujuran ku. Namun aku berbohong soal membeli buku dan pakaian. Karena sejujurnya aku tidak terlalu suka membaca buku apalagi membelinya secara khusus.


"Tapi, dek-"


"Ayolah kak, sekali aja biarkan Zahra hidup mandiri.." Pintaku memohon dengan wajah dan ekspresi yang di buat-buat.


Akhirnya..annisa pun luluh dan mau menerima pendapat ku.


"Ayo.." Ajak ku sambil menarik tangannya.


Apalagi ini?


Ia menahan langkah ku!


Sekarang apa lagi yang ingin ia protes kan?


Ritual apa lagi yang ingin dia katakan?.


"Sekarang, dek?" Tanya nya dengan ekspresi polos.


Oh, shit!


Ini anak kok ngeselin banget sih, udah tau aku rapi begini ya kale perginya tahun depan.


Dasar aneh.


"Ya, sekarang dong kak. Masa iya sih kita perginya tahun depan?" Jawab ku mulai jengkel.


Lama-lama ini anak ngajak berantem yah. Huh..sabar Zahra.


"Sekarang?, kenapa enggak nanti malem aja dek, biar kak Razi juga ikut." Tuturnya santai.


What?


Tadi dia bilang apa?


Kak Razi?


Aku gak salah dengerkan kalo Annisa tadi bilang kak Razi?


"Kak Razi?"


Tanyaku memastikan bahwa apa yang ku dengar mungkin saja salah dengar. Maklum, bukan mulut saja yang khilaf tapi telinga juga.


"Iya, Zahra. kak Razi hari ini pulang dan kabar bahagianya sekarang kak Razi lagi dalam perjalanan pulang." Jawab Annisa dengan mata berbinar-binar.


Iyah, kakak tercinta mu hari ini pulang dan baiknya sekarang ini dia dalam perjalanan.


Oh, astaga!


Jika kak Razi pulang maka rencana yang aku sudah susun dengan rapi pasti bakal hancur dan aku gak mau itu semua terjadi, kalau itu terjadi aku gak akan pernah punya kesempatan lagi.


Ini gak boleh di biarkan. Aku harus cari cara agar Annisa bisa pergi bersama ku sekarang juga.


"Ya ampun, kak. Kakak gak mikir yah kalo kak Razi pasti capek habis dari perjalanan jauh. Ih, kakak egois!." Pancing ku.


"Enggak Zahra, bukannya kakak egois tapi kak Razi sendiri yang bilang gitu kalo setelah sampai rumah kak Razi akan bawa kita jalan-jalan." Sanggah Annisa cepat.


Percuma aku ngomong gini kalau ujungnya dia ngeles mulu.


"Tapi kita pergi nya cuma sebentar kok.." Sanggah ku lagi memohon. Mengeluarkan ekspresi wajah andalan yang sebetulnya sangat menjijikan bagiku.


"Yah, Zahra mohon..Zahra pengen beli baju yang dari Zahra sendiri. Mandiri kak, biar kak Razi senang liat Zahra.." Mohon ku lagi.


Tuhan, aku mohon bantu aku sekali saja.


"Tapi kita pulang jam berapa?" Tanya Annisa meminta kepastian.


"Gak lama kok, kak. Sebelum kak Razi di sini juga kita udah di sini."


"Hem, ok, deh. Tapi, cepet yah dek." Ucapnya menyetujui.


Mendengar persetujuannya, langsung saja ku seret dia eh, ralat. Maksud ku langsung saja ku tarik tangannya mengikuti langkah ku dari belakang.


Pemandangan yang langka memang, yang satu kekinian dan fashionable tapi yang satu nya kuno dan kolot. Sangat ketinggalan zaman.


Sebenarnya sih aku malu bawa dia, tapi karena demi tercapainya misi aku harus melakukan hal bodoh seperti ini. Oh, ya..aku harus sms Fia dulu.


Fi, aku udah di jalan sama kak Annisa. kita ketemu nya ditempat biasa aja, ok.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2