
Part 3
"Ya Allah Fi, aku udah gak sabar nunggu kedatangan mereka. Apalagi Mbak Annisa, kangen banget aku sama dia."
"Aku juga sama, udah kangen berat mau ketemu Zahra. Padahal baru aja 4 hari yang lalu kita ke rumahnya, tapi tetap aja masih gak nahan kangennya." Ujar Fia senang setelah mendengar kabar tentang kedatangan Zahra bersama suaminya dan Annisa.
"Iya Fi, Marwah juga pengen ketemu Mbak Zahra lagi. Kemarin waktu di sin Mbak Zahra kan cuma sebentar sekarang setelah menikah dengan ustadz Razi pasti mereka bakal menetap, kita jadi tiap hari deh ketemu sama Zahra." Seru Marwah rindu.
Ia harap Zahra akan tinggal di sini bersama Razi, karena tempat tinggal Razi yang sebenarnya kan ada di sini jadi wajar saja istri mengikuti suaminya ke rumah mertua.
"Ih, gak boleh!" Larang Fira tidak suka.
Fira tidak terima, "Lha, kok kamu ngelarang sih?"
"Gus Fansyah itu baru aja patah hati dan Fira gak mau lihat dia tiap hari galau terus gegara Zahra dan ustadz Razi tinggal di sini." Fira gak mau lihat Alif terus-menerus sedih gara-gara Zahra, ia tidak ingin Zahra dan Razi menetap di sini.
Kasihan Alifnya.
"Ya Allah, kita ngerti apa yang kamu rasakan apalagi Gus Fansyah itu Kakak kamu. Tapi..tapi kamu gak boleh gitu dong karena ustad Razi juga keluarga kita. Dia punya hak untuk tinggal dan menetap di sini selama dia punya darah keluarga pondok pesantren ini." Razi adalah sepupu mereka yang tertua jadi gak adil rasanya memperlakukan Razi seperti ini.
Apalagi selama tinggal di sini Razi tidak pernah menuntut apapun selain hanya ingin merawat rumah peninggalan kedua orang tuanya.
"Aku tahu ini salah tapi jangan sekarang dulu pindahnya karena Gus Fansyah masih belum menikah, kalau udah nikah nanti sih gak apa-apa kan udah ada istrinya."
Razi dan Zahra gak apa-apa kok tinggal di sini asalkan jangan sekarang karena hati Kakaknya masih terombang-ambing dan ia tidak mau Kakaknya semakin gagal move on hanya gara-gara mereka datang di waktu yang tidak tepat.
"Iya juga sih, tapi...eh, itu bukannya Gus Fansyah yah?" Tunjuk Fia pada sosok laki-laki yang dikelilingi banyak santri.
Bingung, "Emang aneh yah lihat Gus Fansyah dikelilingi banyak orang?" Tanya Fira tidak mengerti.
Bukannya sudah biasa Alif dikelilingi banyak orang?
Dan bagi semua orang di sini itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan.
"Ih, jangan fokus di sana tapi fokus sama pakaiannya." Ralat Fia memberikan arahan kepada Fira dan Marwah agar fokus pada pakaian yang Alif kenakan.
"Kok tumben Gus Fansyah menggunakan baju santai seperti itu?" Bingung Marwah bertanya-tanya.
Karena biasanya Alif selalu menggunakan pakaian taqwa khas muslim dan melihatnya menggunakan pakaian santai seperti ini benar-benar tidak biasa.
Kecuali, jika Alif kan pergi berpergian.
"Gus Fansyah mau pergi kemana?" Suara Fira bingung.
Pasalnya tadi malam Alif tidak mengatakan apa-apa kepadanya jika akan berpergian. Apa itu karena Zahra yah dia lebih memilih kabur sebelum ia melihatnya datang?
"Kalian tunggu dulu di sini yah." Pesan Fira buru-buru sambil membawa langkah cepatnya menuju parkiran pondok pesantren. Menerka-nerka mungkin Kakaknya akan menggunakan mobil Abi.
Setelah sampai parkiran, ia kemudian mendudukkan dirinya dengan pikiran yang campur aduk juga khawatir.
Iyakah patah hati Kakaknya sedalam ini?
__ADS_1
Sampai-sampai saking dalamnya ia tidak berani melihat kedatangan Zahra dan lebih memilih kabur dari sini.
"Fira?" Lamunan Fira langsung buyar, tersadar ia mendapati jika Kakaknya sedang berjongkok menatapnya dengan ekspresi kebingungan.
"Mas Alif." Panggil Fira ragu.
Ia bingung harus mengatakan apa agar Kakaknya jangan pergi karena momen yang paling Fira tunggu adalah Kakaknya dapat bertemu dengan Annisa lagi.
"Kamu kok di sini dek?, Kenapa gak pergi sarapan bersama yang lain?" Waktu sudah menunjukkan jika para santri sekarang seharusnya sedang sarapan. Namun, mengapa adiknya ini terduduk sendirian di sini?
"Mas..jangan pergi yah." Ucap Fira hati-hati seraya mengamati ekspresi Kakaknya.
"Loh, emang kenapa Kakak gak boleh pergi?"
"Kan..kan Mbak Annisa hari ini datang dan Kakak gak boleh melarikan diri seperti ini hanya karena Zahra juga datang."
Mendengar jawaban adiknya, senyuman Alif tiba-tiba semakin lebar. Mendudukkan dirinya di depan Fira, ia tatap wajah cantik nan merah adiknya. Terlihat begitu khawatir dan lucu di saat yang bersamaan.
"Dek, Kakak bukannya lari dari mereka tapi Kakak pergi karena ada urusan sebentar. Nanti satu atau dua jam lagi Kakak in shaa Allah balik lagi ke sini." Jelas Alif bermaksud menghilangkan kekhawatiran adiknya.
Merasa lucu sebenarnya melihat adiknya begitu khawatir tentang dirinya. Padahal dia yang punya masalah santai saja karena semuanya sudah di atur oleh Allah SWT.
"Urusan apa?" Tanya Fira tidak percaya.
"Urusan yang penting, in shaa Allah gak lama kok. Udah, kamu balik aja masuk ke dalam yuk, gak baik seorang perempuan tinggal diluar rumah tanpa pengawasan keluarganya." Ucap Alif seraya menarik lengan Fira tidak terlalu keras, mengantarnya ke depan gerbang pondok pesantren. Alif ingin jika adiknya tidak bertindak gila dengan nekat mengikutinya.
"Hem, Mas hati-hati di jalan yah." Pesan Fira masih khawatir.
"In shaa Allah, ada Allah yang selalu melindungi Kakak. Udah, kamu sarapan dulu sana sebelum pergi belajar." Perintah Alif sambil mendorong adiknya masuk.
"Asal kamu tahu dek, aku justru lebih takut jika kamu ada di dekat ku.
\*\*\*
"Hasilnya negatif, kamu tidak punya kecocokan dengan mereka." Seorang pria paruh baya memberikan vonis yang amat sangat kejam untuknya. Sebenarnya ia sudah menduganya, namun tetap saja rasanya sulit ketika mendengarnya secara langsung.
"Jadi, saya positif bukan anak mereka?" Tanyanya meminta kejelasan dari vonis dokter tersebut.
Dokter itu menyentuh kaca matanya dengan gerakan alami, seolah ini sudah puluhan kali ia lewati.
"Secara medis, kamu dan mereka tidak punya ikatan apapun-" Menyodorkan amplop putih yang ada di depannya.
"Semuanya ada di sini jika kamu ingin tahu penjelasannya lebih dalam." Ucapnya tidak ingin membuat sang pasien bingung.
Menghela nafas panjang, ia lalu meraih amplop putih pemberian dokter itu. Mengucapkan terimakasih ia lalu membawa langkahnya keluar dari rumah sakit.
"Jika aku tidak mendapatkan petunjuk saat sholat istikharah malam itu, mungkinkah selamanya aku tidak akan tahu jika aku ini bukan anak kandung kalian?" Gumamnya sedih juga bahagia sebenarnya.
Ia sedih karena selama ini tidak tahu apa-apa tentang dirinya namun ia juga bahagia karena ternyata selama ini Allah selalu melihatnya, bahkan memberikan jodoh yang tidak disangka-sangka.
"Aku harap mereka mau memberi penjelasan kepadaku."
__ADS_1
\*\*\*
"Umi, Mbak Annisa nanti tidurnya bareng Fira yah." Mohon Fira seraya memeluk lengan Annisa manja.
"Annisa bukan santri lagi dan tidak pantas bergabung bersama kalian yang masih belajar, nanti Annisa tidurnya sama Aisha di asrama bagian staf." Mereka sudah mengatur semuanya sesuai dengan kesepakatan dan aturan yang berlaku di sini.
"Aisha siapa, Umi?" Tanya Annisa bingung ketika mendengar nama baru ini.
Pasalnya kemarin saat ia di sini ia tidak pernah mendengar nama ini, namun hari ini tiba-tiba disebutkan entah mengapa ia menjadi kurang nyaman.
"Aisha adalah gadis yang Alif selamatkan tempo hari, dia baru saja bangun kemarin sore." Cerita Umi tidak menyadari ekspresi rumit Annisa.
"Iya Mbak, sepertinya kalian berdua seumuran dan sama-sama cantik lagi. Fira seneng deh sekarang punya Mbak-mbak cantik seperti kalian berdua." Fira sangat senang karena selain cantik, Aisha juga orangnya sopan dan lembut.
Ini sama seperti Annisa, mereka sama-sama orang yang lembut dan penyayang. Fira semakin penasaran Alif akan memilih yang mana. Apakah itu Annisa atau Aisha yang akan ia pilih.
Ah, atau justru Marwah?
Mbak Nabila?
Fira pusing memikirkannya karena perempuan-perempuan yang ingin dekat dengan Alif sangat banyak. Apalagi mereka semua perempuan-perempuan hebat dan luar biasa, Fira begitu penasaran!
"Wah, Alhamdulillah... Mbak juga senang bisa punya teman di kamar nanti. Oh ya, sekarang bagaimana keadaan Aisha? Dia...gak apa-apa kan?" Tanyanya canggung juga penasaran. Ia ingin bertemu seperti apa sosok Aisha itu karena Annisa merasa jika Aisha akan menjadi saingannya mendapatkan Alif.
"Alhamdulillah, Aisha tidak punya cidera yang berat dan hanya luka lecet kecil di kaki dan telapak tangan. Setelah itu, dia hanya merasa kelelahan saja makanya tidur lama." Untungnya Aisha tidak punya cidera berat dan hanya luka kecil saja.
Setelah itu semuanya aman dan ia hanya butuh waktu istirahat saja.
"Alhamdulillah.. Annisa jadi senang mendengarnya. Gak sabar ingin bertemu dengannya dan ingin tahu bagaimana keadaannya secara langsung."
"Annisa istirahat dulu saja yah, pasti capek habis perjalanan jauh. Nanti kalau udah selesai makan malam, Umi ajak ketemu sama Aisha biar sekalian pindahan ke kamar kalian. Bagaimana?"
Umi tahu jika Annisa butuh istirahat karena perjalanan yang mereka lakukan tidaklah dekat. Jadi, biarkan saja ia istirahat beberapa waktu sebelum beraktivitas dengan aktif.
"Ah, kalau itu yang Umi mau Annisa sepertinya harus istirahat dulu." Walaupun enggan namun ia juga tidak bisa menampik jika badannya sangat kelelahan saat ini.
Ia butuh istirahat.
"Fira, bawa Annisa ke kamar kamu dulu yah." Perintah Uminya yang langsung diangguki cepat oleh Fira.
"Ayok, Mbak." Ajak Fira seraya membimbing Annisa ke kamarnya.
Di perjalanan menuju kamarnya, Fira sering mendapati mata Annisa yang melirik ke sana kemari. Melihatnya Fira entah mengapa merasa geli, "Mbak Annisa, Mas Alifnya ada urusan sebentar diluar jadi gak sempat menyambut kedatangan Mbak."
Merasa malu, Annisa dengan cepat menundukkan kepalanya. Bulu mata lentiknya yang panjang bergetar tersipu, begitu cantik. Untungnya ia menggunakan cadar saat ini atau jika tidak, Fira pasti bisa melihat betapa malunya ia sekarang.
"Tenang kok Mbak, dia perginya cuma sebentar. Mungkin satu jam lagi dia pulang-"
"Assalamualaikum, Umi?"
"Nah, itu dia Mbak!"
__ADS_1
Bersambung...
Awas Typo Bertebaran!!!