
"Fir, Fira bangun."
Seseorang memanggil ku, mengguncang tubuh ku dengan gerakan yang tidak asing dan kekuatan yang tidak besar. Sejenak aku enggan untuk membuka mataku karena sejujurnya aku sudah terlalu nyaman di sini.
"Fira bangun, Gus Fansyah di luar lagi nyariin kamu tuh." Bisiknya lagi membuat ku langsung membuka mataku terkejut.
Mengenyahkan rasa kantukku yang luar biasa ingin segera direbahkan kembali, aku pun mendudukkan diriku di atas ranjang dan melihat ada Fia kini sedang duduk di samping ku.
Ah, ternyata Fia yang telah membangunkan ku tadi.
"Kamu kenapa Fi?" Tanyaku dengan mata yang masih terbelenggu rasa kantuk.
"Itu Gus Fansyah nyariin kamu di luar, dia bilang pengen ketemu kamu." Ulang Fia sekali lagi membuat ku menganggukkan kepalaku tanda mengerti.
"Emang ini udah jam berapa Fi?, Kok Mas Alif pagi banget nyariin aku.." Lagian Mas Alif terlalu dini nyari aku.
Aku masih ngantuk dan belum siap pergi ke sekolah. Untungnya hari ini aku tidak sholat jadi aku punya waktu untuk bangun lebih siang dan membersihkan diri di saat semua orang pergi sarapan.
"Ini baru aja jam 10." Katanya menjawab ku.
Terkejut, sontak aku membuka mataku selebar mungkin dan berusaha mengenyahkan rasa kantukku yang sempat menguasai ku.
"Lha kok kamu masih di sini bukannya pergi sekolah?" Tanyaku terkejut sekaligus tidak habis pikir dengan Fia yang masih santai di depan ku.
Tapi,
Di sini bukan hanya Fia saja yang sedang bersantai tapi semua teman kamar ku juga terlihat bersantai. Bahkan mereka terlihat begitu asik merapikan selimut mereka untuk segera rebahan.
Ini kenapa pada bolos sekolah semua?
Plak!
"Astagfirullah, Fia! Kamu kok mukul kepala aku sih? Sakit tahu!" Dia keracunan apa sih sampai berani ngegplak ku?
Dia gak tahu apa kalau geplakannya itu nyakitin.
"Kamu tuh masih belum sadar-sadar aja dari tadi, ini tuh masih jam 10 malam yah bukannya jam 10 pagi. Ngomong aja suka ngaur kamu, udah bangun sana kasian Gus Fansyah sendirian di luar nungguin kamu. Apalagi ini udah malam dan di depan kamar asrama santriwati, kamu gak takut apa dia kena fitnah yang enggak-enggak?"
Dia bilang apa tadi?
"Mas Alif di luar nungguin aku?" Tanyaku terkejut.
Siapa yang tidak terkejut coba kalau dia tiba-tiba nyasar ke sini nyariin aku. Apalagi Kakak ku ini kan luar biasa tampan dan membuatnya menunggu ku diluar bukanlah ide yang baik. Dia bisa saja masuk ke dalam jebakan setan dan terjerumus dengan hal yang tidak bisa aku katakan bahkan dijelaskan.
"Iya, udah dari tadi." Jawab Fia membuat ku semakin dilanda panik.
"Ih, kenapa gak bilang dari tadi sih!" Kesal ku seraya memperbaiki posisi jilbab ku dan berlari kecil meninggalkan wajah menyebalkan Fia.
Keluar dari pintu kamar asrama ku, sudah ku dapati Mas Alif yang sedang menunduk kalem memperhatikan tanah yang sedang ia pijaki.
Apa yang sedang Mas Alif pikirkan?
Ia terlihat serius dengan tatapan matanya tajam dan fokus. Hem, sebenarnya aku tidak paham mengapa aku selalu merasa jika mata Mas Alif terlalu mempesona untuk seorang gadis. Bahkan aku saja yang menjadi adiknya tidak bisa mengenyahkan perasaan terlena itu.
__ADS_1
"Gus Fansyah?" Panggil ku sepelan mungkin tidak ingin membuatnya kaget.
Ia mengangkat pandangannya dan menatapku dengan senyuman tampan di bibirnya. Astagfirullah..jika saja kami tidak bersaudara mungkin aku sudah mengejar cintanya mati-matian.
Tapi sayangnya kami sedarah dan gadis yang kelak mendapatkannya pastilah gadis yang amat sangat beruntung bisa memiliki Mas Alif.
Laki-laki sebaik dan setampan Mas Alif adalah sesuatu yang tidak mudah kaum hawa temukan di zaman ini--
Ah, aku mulai berbicara asal-asalan lagi!
"Kamu baru bangun, dek?" Tanyanya lembut seperti biasanya. Akan tetapi entah mengapa kali ini aku merasa dia lebih dan lebih lembut dari biasanya.
Apa hanya perasaan ku saja?
"Iya Gus, Fira baru aja dibangunin sama Fia. Katanya Gus Fansyah nyariin Fira." Jawabku sesopan mungkin. Apalagi saat ini kami tidak di dalam rumah maka seharusnya aku menjaga martabat Kakak ku di depan banyak orang.
Apalagi aku yakin sedari tadi di sini, Mas Alif sudah diperhatikan oleh laser-laser hidup yang tersebar dari berbagai kamar di sini. Huh, pesona Kakakku tentu saja sudah menjadi daya tarik para gadis di sini.
Tapi apa Mas Alif tidak merasa terganggu dengan tatapan-tatapan memuja dari mereka?
Mas Alif menganggukkan kepalanya dengan tenang sambil memberikan ku sebuah tas kain. Terlihat ringan dan tidak berbobot ditangan Mas Alif.
"Ini apa Gus?" Tanyaku penasaran sambil membawa tas tersebut ke tangan ku.
Memang jika di tangan Mas Alif tas kain ini terlihat begitu ringan dan tidak berbobot, akan tetapi ketika tas kain ini berpindah ke tangan ku mengapa tiba-tiba ini terasa begitu berat?
"Itu makanan buat kamu, tadi di rumah kamu belum sempat makan apapun dan Fia bilang kamu juga lagi kurang sehat makanya istirahat lebih awal tadi." Ucapnya menjelaskan.
Tertegun, aku spontan membuka tas kain tersebut dan mendapati ada satu tempat nasi beserta lauknya. Ada juga beberapa makanan ringan yang manis dan menyegarkan mulut. Serta ada sebotol air putih yang masih utuh di dalam.
Aku meskipun terkejut namun dengan patuh masih menganggukkan kepalaku.
"Eh, jari Mas Alif kenapa?" Tanyaku terkejut melihat jari kelingking yang ada di tangan kiri Mas Alif diplester.
Apakah jarinya terluka?
"Ah, ini...ini tadi habis kena gunting waktu di rumah." Jawabnya beralasan sambil menyembunyikan jari kelingking tersebut dari pandangan ku.
Meletakkan tas kain itu ke atas tanah, lalu aku menarik tangan Mas Alif ke hadapan ku. Memperhatikan plester yang melindungi luka Kakak ku.
"Gus Fansyah kok aneh banget sih mainin gunting sampai terluka gini." Heran ku karena sangat minim sekali terluka oleh gunting.
Mungkin jika kita sengaja memasukkan salah satu jari untuk digunting sih iya, tapi Mas Alif gak mungkin sebodoh itu kan masukin jarinya?
"Kamu ngapain, dek?" Tanyanya terdengar panik.
"Gus Fansyah diam aja biar Fira yang urusin lukanya."
Dengan hati-hati aku membuka plester yang ada di jari Mas Alif. Setelah berhasil membukanya langsung saja aku buang plester tersebut ke tanah.
"Kok dibuang sih, dek?"
"Plester sebenarnya gak baik buat jari Gus Fansyah karena luka Gus Fansyah juga butuh oksigen buat bernafas. Kan kalau ditutupi plester malah nanti makin tambah bengkak dan parah bukannya membaik." Kata Umi kalau terluka usahakan jangan pakai plester karena luka kita juga butuh oksigen untuk bernafas.
__ADS_1
Nanti kalau ditutupi plester luka kita bukannya membaik malah tambah parah karena tidak ada ruang untuk bernafas.
"Udah, Gus Fansyah tahan aja perihnya dulu biar jarinya cepat sembuh." Ucapku mengingatkannya seraya meniup jarinya hati-hati.
"Gus Fansyah kan juga cowok juga udah besar lagi masa luka sekecil ini gak bisa ditahan sih?"
Mas Alif udah besar juga bukan perempuan jadi luka sekecil ini bukan apa-apa untuknya.
"Gus Fansyah dengar gak sih-". Ucapan ku tiba-tiba terhenti ketika mengangkat kepala, ku dapati Mas Alif sedang memperhatikan ku.
Ini...
Mengapa suasananya terasa salah?
Mata Mas Alif terlalu lembut atau akunya saja yang merasa seperti itu?
Lagian Mas Alif kan Kakak ku jadi mengapa aku berpikir segila ini?
Oh astaga, jangan sampai aku melewati batas dan menganggap hal-hal biasa seperti ini terlalu spesial untuk ku. Aneh, kami adalah saudara jadi mengapa harus kebingungan seperti ini.
"Gus Fansyah ngelamunin Mbak Annisa, yah?" Atau mungkin itu karena Mbak Annisa.
Iya, soalnya Mbak Annisa cantik banget tanpa cadarnya dan aku yakin Mas Alif pasti tertarik padanya. Iya, Mas Alif mungkin tertarik dengan Mbak Annisa.
Hem, Mas Alif tertarik dengan Mbak Annisa!
Seketika tatapan lembut Mas Alif langsung hilang, menarik tangannya dariku lantas ia langsung berbalik dan meninggalkan ku pergi?
Iya, dia langsung pergi gitu aja tanpa mengatakan apapun!
Mas Alif ih, soal Mbak Annisa aja langsung lupa sama aku, kesel!
"Lha, udah beres kamu love dopeinya?" Goda Fia ketika aku baru masuk ke dalam kamar.
"Tahu ah, malas aku ngomongin dia." Kesal ku sambil memberikan Fia tas kain pemberian Mas Alif.
"Ini apa?" Tanyanya seraya membuka tas tersebut.
"Eh, kamu boleh ambil yang lain tapi jangan ambil kotak nasi aku." Peringat ku sambil mengambil kotak nasi tersebut.
Marah, tentu saja aku marah padanya.
Ya pikirin aja masa hanya gara-gara aku ngomongin orang yang dia suka tiba-tiba langsung pergi tanpa bilang-bilang, ya aku kesel lah.
"Ni anak kenapa lagi bawaannya cemberut aja dari tadi." Dira ikut duduk di samping ku, namun karena suasana hatiku sedang tidak baik aku tidak meresponnya dan lebih memilih memasukkan satu sendok besar ke dalam mulutku.
Eh?
Kenapa masakan ini tidak sama dengan buatan Umi?
Hem, apalagi ini masih hangat seperti baru di masak. Rasanya?
Jelas ini enak tapi ini bukan seperti masakan Umi.
__ADS_1
Apa hanya perasaan ku saja yah?
Bersambung...