Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Pengakuan (2)


__ADS_3

Semenjak kejadian itu, suasana asrama putri menjadi penuh akan isu-isu tak baik tentang Zahra. Banyak dari mereka yang menyayangkan betapa hina nya sikap Zahra yang tak sesuai dengan wajahnya yang cantik. Bahkan saat Zahra keluar dari kamarnya sekedar untuk melaksanakan sholat dan sekolah, mereka terang-terangan mencemooh keberadaan Zahra. Menggunjingkan dan mempertanyakan mengapa Zahra sangat tak bisa di atur.


Bahkan, pernah suatu hari tersebar isu bahwa Zahra ternyata datang ke pondok pesantren lantaran sudah di tolak dan di usir keluarga nya. Isu itu sangat hangat diperbincangkan dikalangan santri.


Namun berbeda dengan para santriwati itu, santriwati yang ada dikamar Zahra justru memilih diam dan bungkam. Mereka bersikap seakan-akan hal itu tidak pernah terjadi.


Bahkan mereka tetap care seperti biasa, mencoba mengajak Zahra berbicara atau bermain.


Tapi, semua yang mereka lakukan sia-sia.


Zahra bahkan sejak hari itu lebih memilih menutup diri. Ia hanya berdiam diri di atas ranjang nya. Ia keluar dari kamarnya jika waktu sholat dan sekolah. Bahkan, tak jarang Zahra sering melewati waktu makannya. Dira dan Marwah pun ikut kewalahan menghadapi sikap Zahra yang aneh. Mereka bahkan masih belum mengetahui hal apa sebenarnya yang dipikirkan Zahra. Penyebab Zahra menjadi lebih diam dan dingin.


"Zahra, jangan seperti ini. Kau akan menyakiti diri mu sendiri, berhenti lah. " Ujar Dira sedih.


Ya, bahkan sampai hari ini pun Dira tak pernah absen mengajak Zahra berbicara, bermain seperti biasa dan makan.


Akan tetapi, seperti yang kalian ketahui Zahra justru bersikap tak perduli. Entah, mungkin hati nya benar-benar telah mati.


"Sampai kapan?" Tanya Dira putus asa karena sampai saat ini Zahra tak pernah merespon ucapannya.


"Sampai kapan Zahra?!"


"Kau egois!" Marah Dira. Zahra masih tetap tak terpengaruh dengan Dira. Bahkan tatapan nya terkesan kosong. Mati.


"Apa kau pikir dengan begini kau akan merasa tenang, kau tak terluka?"


"Hei, jangan egois! "


"Kau pikir dengan begini bukan hanya kau saja yang terluka?" Tanya Dira dengan suara parau nya. Akan menangis.


"Tidak Zahra, dia juga terluka. Dia sangat terluka melihat mu seperti ini. Dia terlihat menyedihkan melihat mu terus-terusan seperti ini! Hiks.. "


"Setiap hari ia terlihat murung dan lelah. Ia tak pernah tidur dengan nyenyak  dan tenang, ia juga sakit Zahra! Kenapa kamu masih tidak mengerti juga? Di-"


"Bukan kah besok kita semua libur?" Potong Zahra. Mengalihkan topik pembicaraan. Ia beralih menatap Dira dengan tatapan dinginnya.


Dira diam, masih sesenggukan.


"Aku tak ingin berdiam diri di sini terus selama tiga hari sendiri. Aku juga ingin pulang ke rumah tapi sayang, aku tak punya tempat di ru-"


"Aku mengerti, ikutlah denganku besok. Ku bawa kau ke rumah keluargaku. " Putus Dira seraya beranjak pergi meninggal kan Zahra sendiri.


Melihat kepergian Dira, Zahra tersenyum miris.


"Maaf. " Ucap Zahra sendu.


                                 ***


"Kita mau kemana, Dir?" Suara Marwah terdengar lesu. Pasalnya, sampai saat ini Zahra masih enggan berbicara dengan nya.


"Kita akan ke rumah ku, kita bertiga. " Jawab Dira terdengar bahagia.


"Bertiga?"


"Zahra akan ikut bersama kita, bukan kah kau juga ingin melihatnya bahagia? "


"Iya, Dir. Aku udah kangen banget sama mbak Zahra yang ramah dan ceria. "


"Hm, Aku juga. Sekarang, kemasi semua barang-barang kamu. Kita akan berangkat. "


"Siap kapten. "


                                 ***


"Bagaimana Zahra, apakah kamu sudah siap?" Tanya Dira sambil memakai tas ranselnya di punggung. Terlihat penuh.


"Hm, bisa kita berangkat sekarang?" Jawab Zahra terkesan acuh seraya mengangkat tas ransel nya yang penuh akan barang-barang.


Seperti rencana mereka, Dira, Marwah dan Zahra akan pergi menginap ke salah satu keluarga Dira. Berhubung besok pondok pesantren diliburkan selama tiga hari dan semua penghuni pondok pesantren dibebaskan untuk berkunjung ke rumah orang tua atau keluarga masing-masing.


Maka dari itu Zahra mengambil kesempatan ini untuk pergi mencari suasana yang baru dan menenangkan diri. Ia masih belum bisa mengerti dengan betul tentang semua yang terjadi. Ia masih tak rela.


Bohong jika kalian berpikir ia akan baik-baik saja, ia tidak.


Tentu saja.


"Tentu, ayo. " Ajak Dira menyetujui pertanyaan Zahra. Dira tak ingin ambil pusing atau sekedar bertanya lebih jauh kepada Zahra. Karena Dira sangat menyadari bahwa mood Zahra benar-benar tidak dalam keadaan baik sejak hari itu.


Dira menyadari satu hal, jika kejadian itu benar-benar bukanlah Zahra. Ia bisa menyadari perubahan emosi Zahra sejak mbak Nabila membicarakan ustad Razi. Sejak itu pula Zahra menjadi emosi dan murung. Hingga Dira memutuskan untuk membawa Zahra beristirahat di ruang keluarga. Akan tetapi, Dira sampai saat ini masih belum mengerti. Setelah kejadian Zahra yang mengalami perubahan mood yang drastis, selang beberapa menit terjadi lah kejadian dimana Zahra ketahuan memeluk gus Fansyah. Berita itu langsung tersebar dengan cepat dikalangan santri dan santriwati. Nama Zahra benar-benar buruk dimata penghuni pondok pesantren mulai hari itu. Dan sejak itu pula, Zahra terkesan dingin dan menutup diri. Ia berbeda.


Maaf, tapi ini harus aku lakukan untuk melihat apakah kau memang sengaja melakukan nya karena nafsu mu atau karena kamu tidak bisa menerima ucapan mbak Nabila tentang dia. Maaf.  Batin Dira sendu.


"Mbak Zahra jangan diam aja dong, Marwah kan sedih ngeliat mbak Zahra diem terus. " Protes Marwah yang sudah berjalan disamping Zahra.


Zahra sedikit terkejut mendapati Marwah yang ikut serta dalam perjalanan mereka. Akan tetapi, setelah nya ia acuh. Karena ia menyadari bahwa mereka bertiga memang awalnya jika melakukan sesuatu pasti bersama.


"Hm. " Respon Zahra dingin.


Mendengar respon Zahra yang sangat singkat dan terdengar dingin atau cuek, Marwah langsung memasang wajah cemberut nya. Hendak protes. Namun, sebelum ia mengeluarkan protesan nya Dira langsung bertindak dengan menyentuh pundak Marwah dan mememberikan kode gelengan agar jangan terlalu banyak bicara atau bertanya.


Lagi, Marwah semakin cemberut dan mengiyakan kode Dira.


"Apakah kita perlu menaiki kendaraan atau semacam nya? " Tanya Zahra membuka percakapan setelah keluar dari gerbang pondok pesantren.


Dira dan Marwah tersenyum kecil. Awal yang baru.


"Itu tidak perlu. Lagi pula tempatnya juga tidak terlalu jauh dari pondok pesantren, kita bisa berjalan kaki. Sekalian olahraga." Jelas Dira kepada Zahra yang hanya direspon anggukan oleh nya.


"Tidak masalah, jika udara nya sesegar ini. " Jawab Zahra tak merasa bermasalah dengan penjelasan Dira.


"Apakah keluarga mu sudah mengetahui tentang kedatangan kita?" Tanya Zahra ingin lebih tahu. Ia juga takut jika kehadiran nya di anggap masalah dan beban oleh mereka.


"Tentu, aku sudah menghubungi bunda dan ayah. Dan mereka dengan senang hati menunggu kedatangan kalian. " Jawab Dira jujur.


Terutama kamu, pastinya.


"Baguslah, setidaknya aku tak perlu takut. "


"Takut?, takut kenapa mbak?" Tanya Marwah polos.


Zahra diam dan tetap fokus ke depan, memandangi jalan setapak.


Berbeda dengan Zahra yang bersikap acuh, Dira justru merutuki pertanyaan polos Marwah disaat yang tidak tepat. Mood Zahra akan mudah berbalik menjadi lebih buruk jika membicarakan privasinya.


"Aku takut jika keluarga Dira bersikap sama dengan mereka. " Jawab Zahra akhirnya, masih fokus menatap jalan setapak yang terlihat lebih menarik bagi Zahra.


Marwah tak puas, bukan kah Marwah itu penuh akan keingintahuan apa bila menyangkut tentang Zahra yang sudah di anggap menjadi kakak nya. Ia akan alaminya berubah menjadi polos dengan level akut.


"Mereka siapa mbak? " Kejar Marwah tak puas.


Lagi-lagi Dira harus menahan nafas akibat dari kepolosan Marwah yang tak dapat dibendung.


"Marwah seb-"


"Mereka, keluarga ku. " Jawab Zahra memotong ucapan Dira seraya beralih menatap Marwah dengan sebuah senyuman, terluka.


Marwah mengangguk-anggukan kepalanya  dan  bersiap akan membuka mulut dan melayangkan sebuah pertanyaan namun langsung dicegah Dira dengan mengalihkan topik pembicaraan.


"Alhamdulillah..akhirnya kita sudah sampai, ayo masuk." Syukur Dira setelah ia telah sampai di rumah nya.


Rumah ini tak jauh berbeda dengan rumah yang Zahra kunjungi bersama Dira beberapa hari yang lalu. Yah, rumah itu sedikit lebih besar dari rumah Dira.


"Ma syaa Allah...ini rumah kamu, Dir? Besar pisan? " Takjub Marwah melihat rumah Dira yang memang besar dan mewah.


"Hehe..apa sih, udah gak usah gitu ih."


"Udah ah, lebih baik kalian istirahat aja dulu dikamar aku. " Ajak Dira seraya membuka pintu rumah tersebut.


"Assalamualaikum, ayah, bunda.. Dira pulang.." Teriak Dira bergema didalam rumah.


"Waalaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh.. " Jawab seorang wanita paruh baya.


"Bunda, Dira pulang.. " Sambut Dira seraya berjalan dengan cepat dan memeluk bundanya erat.


"Bunda kangen sama Dira. " Ungkap bundanya seraya membalas pelukan hangat sang anak.


"Dira juga, malahan Dira kangen bangetttt.. Sama bunda. " Bunda terkekeh mendengar jawaban Dira.


Sementara Dira yang berbahagia ria dengan bundanya, Zahra justru terlihat miris melihat hal tersebut. Ia seakan menertawakan takdirnya yang begitu buruk.


Andai umi juga bersikap sehangat ini kepada ku.  Batin Zahra terluka.


Ia tersenyum kecil, miris.


"Oh, ya bun. Ini teman-teman yang Dira bicarakan kemarin. Ini Marwah dan yang ini Zahra. " Ucap Dira memperkenalkan Marwah dan Zahra seraya menarik tangan Marwah dan Zahra agar mendekat kepada bundanya.


"Oh, ternyata ini toh.. "


"Assalamualaikum, bunda. Saya Marwah. " Salam Marwah seraya mencium tangan bunda dan dibalas dengan sebuah pelukan hangat dari bunda.


"Waalaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh.. Selamat datang di rumah kami Marwah. " Jawab bunda lembut yang langsung diangguki polos dari Marwah.


"Hallo, aku Zahra. " Ucap Zahra kikuk. Pasalnya ia sangat canggung dengan perlakuan hangat bunda kepada Marwah.


Mendengar sapaan Zahra yang lain dari pada yang lain, bunda langsung memberikan senyuman hangatnya kepada Zahra.


"Hai, Zahra. Selamat datang dirumah kami, Zahra. " Sambut Bunda ramah seraya membawa tubuh mungil Zahra kedalam pekukan hangatnya. Sangat hangat.


Hem, aku rindu. Batin Zahra sendu.


Bunda mengelus lembut punggung Zahra, berusaha menyampaikan rasa aman dan nyaman yang ia rindukan.


"Tidak apa-apa, anggap rumah sendiri. " Ucap bunda menenangkan. Dalam pelukan bunda, Zahra sedikit merasa aneh dengan perlakuan bunda kepadanya. Ia seakan merasa jika bunda tau apa yang ia rasakan.


Benar, anak dan ibu sama saja. Sama-sama aneh.  Batin Zahra heran.


Bunda tersenyum hangat mendapati respon Zahra yang polos, ternyata ini diluar ekspetasinya.


Ma syaa Allah, pantas ia tak bisa melupakan mu. Kamu sangat cantik dan tentunya rapuh. Bunda yakin, ia sangat merindukan mu. Merindukan putri kecilnya.


Marwah dan Dira yang menyaksikan hal tersebut pun hanya bisa tersenyum simpul, mereka bersyukur setidaknya di sini Zahra akan merasa sedikit lebih baik.


Zahra, permainan telah dimulai. Maka bersiaplah. Batin Dira semangat.


                                 ***


"Apa rencana kamu hari ini bersama kedua teman mu, Dira? Ayah pikir jika Zahra dan Marwah membutuhkan sedikit hiburan. " Tanya lelaki paruh baya yang ternyata adalah Ayah Dira.


"Hem, ayah benar. Dira akan mengajak Zahra dan Marwah untuk berkeliling sebentar menjelajahi tempat ini. " Jawab Dira yang langsung di respon anggukan oleh sang ayah.


"Bolehkan ayah? " Tanya Dira meminta persetujuan sekaligus memastikan jika ayahnya tak keberatan dengan rencananya berkeliling tempat ini bersama Zahra dan Marwah.


"Tentu saja boleh anak ku, ayah tak akan melarang selama itu membawa dampak yang baik untuk mu. Tapi ingat, jangan pulang terlalu sore. Kamu perempuan, tanggungan ayah. Mengerti? " Jelas ayah tegas.


"Alhamdulillah.. Siap ayah, laksanakan. " Seru Dira bahagia seraya memeluk ayahnya hangat dan bergegas berlari menaiki tangga dan menghampiri Zahra dan Marwah yang sedang istirahat di dalam kamar nya.


"Assalamualaikum.. " Salam Dira langsung masuk ke dalam kamar dan langsung mendudukan dirinya disamping Zahra yang sedang membaca buku di atas sofa.


"Waalaikumussalam..." Jawab Marwah yang sedang berbaring dan bermalas-malasan di atas kasur empuk Dira.


"Hem. " Jawab Zahra singkat menjawab salam dari Dira.


"Apa kalian tak ingin pergi jalan-jalan atau mencari hiburan lain?" Tanya Dira memulai percakapan.


"Iya, Dir. Aku bosen di dalam kamar kamu terus...butuh jalan-jalan. " Jawab Marwah terdengar lesu. Bosan berbaring terus.


"Kalo kamu, Ra? " Tanya Dira meminta pendapat Zahra.


"Zahra. Cukup Zahra. " Koreksi Zahra dingin, ia masih fokus dengan sebuah buku yang ada di depannya.


Dira gelagapan, ia melupakan hal yang penting.


"Maaf, aku lupa. "


"Hem, tak apa. "


"Jadi, bagaimana dengan mu? Apakah kamu akan terus-terusan berdiam diri di sini sambil membaca buku atau bergabung bersama ku dan Marwah? " Tanya Dira terdengar kikuk mengulangi pertanyaan nya yang dibuat sedikit lebih jelas.


Zahra diam, ia terlihat memainkan jari telunjuknya. Sedang berpikir.


"Aku ikut, tapi kemana? " Putus Zahra sambil menutup buku bacaan nya dan beralih menatap Dira yang juga sedang memperhatikan nya.


"Hem, bagaimana jika menangkap ikan di sungai? " Tanya Dira antusias.


"Sungai? Wah, aku mau Dir. Sekalian mandi kalo bisa. " Antusias Marwah yang sudah terduduk di depan Dira dan Zahra.


"Sungai? "


"Iya. "


"Enggak, kalian aja. " Tolak Zahra santai.

__ADS_1


"Ayolah mbak, kita kan juga sekalian bisa mandi.. " Rayu Marwah.


"Mandi? Di sungai? Dasar jorok, kamu itu udah gede bukan anak kecil lagi, mandi kok di sungai. " Cibir Zahra tak suka.


"Sungai nya gak kotor kok, kalo itu yang kamu khawatirkan. Malahan sungainya bersih banget, airnya jernih lagi. " Jelas Dira mematahkan kekhawatiran Zahra.


"Kalo aku bilang enggak ya enggak! Kalo kalian mau pergi, pergi aja. Gak usah ngajak-ngajak. " Tolak Zahra kesal.


"Tapi, Zah-"


"Aku yakin telinga kalian masih baik-baik saja dan tak mempunyai riwayat gangguan apa-pun. " Potong Zahra acuh.


"Mbak.. " Panggil Marwah.


"Hiks.. Mbak Zahra.. " Akhirnya tangis Marwah pun pecah, membuat Zahra memutar bola matanya malas.


"Oke, kita pergi. " Putus Zahra tak ingin mendengar tangisan Marwah lebih lama lagi.


"Dasar cengeng. " Cibir Zahra mengejek.


Melihat itu, Dira langsung melempar kan Marwah dengan sebuah jempolan singkat yang menandakan jika Marwah benar-benar berhasil.


"Ya udah, lebih baik kita jalan sekarang aja. Biar pulang nya tidak terlalu sore. " Ajak Dira seraya beranjak dari posisinya dan berjalan mendahului Zahra dan Marwah.


                                  ***


"Aaaa.. Mbak Zahra!!! "


"Awas ya mbak! Marwah gak bakal diem aja-yah mbak kok kabur sih, ah mbak Zahra enggak asik!!! "


"Ah, seriosly?" Tanya Zahra mengejek.


"Ngomong apa to mbak, aku gak ngerti lho. " Protes Marwah.


"Dira, mbak Zahra tadi ngomong apa sih? Kamu tau enggak? " Tanya Marwah meminta bantuan kepada Dira.


"Hah? " Respon Dira dengan tampang bloonnya.


Bagaimana tidak, saat mereka tiba di sungai dan sedikit berjelajah, Dira yang menjadi pemandu perjalanan dan di buat cengok dengan kelakuan Zahra dan Marwah yang tiba-tiba sudah berendam di dalam air sungai. Apalagi Zahra dan Marwah sangatlah terlihat akur layaknya adik dan kakak.


Namun, itu bukanlah masalah. Malahan, Dira mensyukurinya. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan Dira adalah


SEJAK KAPAN MEREKA SUDAH BERENDAM DI DALAM SUNGAI?


KENAPA IA BISA TIDAK TAU?


BUKANKAH IA TETAP MENGAWASI ZAHRA?


DAN JUGA, KENAPA ZAHRA BISA BERENANG DENGAN ANTENGNYA DI DALAM SUNGAI MENGINGAT SEBELUM KE SINI IA SANGAT MENGECAM KERAS AIR SUNGAI?


"Kamu juga gak tau yah, Dir. Uh, aku lupa jika otak mu sama saja dengan otak ku. " Kata Marwah terdengar polos langsung membuyarkan lamunan Dira.


"E.. Sejak kapan kalian didalam sungai? " Tanya Dira hati-hati.


"Sejak tadilah, Dir. Masa sejak kemarin." Oke, jawaban polos Marwah terdengar sangat menyebalkan bagi Dira.


"Ini tuh gara-gara mbak Zahra, dia tiba-tiba dorong aku. Ya aku tarik balik lah, biar mandinya sama-sama. " Jelas Marwah menjawab kebingungan Dira.


Dira mengangguk.


"Terus, Zahra nya mana? " Tanya Dira kepada Marwah karena setelah tersadar dari lamunan nya ia tidak melihat lagi keberadaan Zahra didalam air sungai.


"Aku di sini, Dir." Bisik Zahra dibelakang Dira.


"Dim-"


BYURRR


Dira langsung tercebur ke dalam sungai setelah mendapatkan sedikit dorongan dari Zahra.


"Hahahh.. " Tawa Zahra dan Marwah bersamaan.


"Zahra! " Teriak Dira kesal lantaran masih belum siap memasuki sungai.


"Kenapa, marah?"


"Ini tuh hukuman buat kalian berdua yang udah ngerjain aku supaya bisa ikut kalian ke sini, kalian pikir aku enggak tau apa." Cibir Zahra mengejek perbuatan Dira dan Marwah yang telah di endus oleh Zahra.


Marwah dan Dira tersenyum kikuk, namun setelah nya mereka tersenyum penuh arti.


"Oh, kamu mau balas dendam toh?" Kata Dira dengan nada mengejek.


"Mungkin." Jawab Zahra acuh masih belum dapat membaca niat terselubung Dira dan Marwah.


"Kalo gitu, Marwah juga boleh dong balas apa yang mbak lakuin ke Marwah tadi?" Tanya Marwah polos.


"Tentu-apa?" Kaget Zahra gelagapan.


Dira tersenyum miring.


"Yey, di bolehin."


"Tunggu, maksud kalian ap-hei!" Sebelum Zahra benar-benar bisa menyelesaikan ucapannya, Dira dan Marwah langsung menerjang Zahra didalam air.


Mereka tertawa bersama. Melupakan sementara luka yang menganga.


                                ***


"Hatchihhh.. "


"Astaga suhu badan mu benar-benar hangat, nak. " Ucap bunda dengan raut khawatir nya.


"Ini, Zahra minum obat dulu. Agar suhu badan mu kembali menjadi normal. "


"Terima kasih, bunda. " Ucap Zahra tulus setelah menghabiskan air minum nya.


"Sama-sama sayang. "


"Ya, udah. Kalo gitu bunda tinggal yah, kamu harus istirahat yang cukup untuk mengembalikan stamina tubuh kamu yang hilang." Pamit bunda sembari memberikan Zahra nasihat.


"Dan kalian berdua, berhubung tidak mengalami masalah, rawat Zahra dengan baik ok?"


"Iya, bunda. Itu pasti. " Jawab Dira semangat.


"Ya, udah. Bunda keluar dulu nemenin ayah, assalamualaikum.." Pamit bunda berakhir dengan menutup pintu kamar Dira.


"Waalaikumussalam.." Jawab Dira dan Marwah secara bersamaan.


"Zahra, aku minta maaf. Gara-gara ke asyikan bermain, aku jadi lupa waktu." Pinta Dira memohon maaf kepada Zahra dengan raut wajahnya yang terlihat menyesal.


"Kau tak perlu meminta maaf, lagi pula yang paling bersemangat bermain itu aku. Jadi sebenarnya yang lupa waktu adalah aku."


"Tapi Zah-"


"Sudah, tak ada yang salah." Putus Zahra.


Dira mengangguk patuh dan merubah posisi nya ikut berbaring disamping kanan Zahra. Memeluknya, sayang.


Melihat itu, Marwah tak tinggal diam dan langsung ikut ambil bagian dengan memeluk Zahra di bagian samping kiri.


"Mbak Zahra.. Hiks.." Tangis Marwah pecah.


"Hei, kau tak perlu menangis. Oke, tak ada yang salah. Dan jangan mencemaskan ku, karena aku tidak separah itu." Ujar Zahra seraya menepuk pelan lengan Marwah lembut berusaha menenangkan.


"Tak ada yang salah, terima kasih telah membuat ku tertawa hari ini." Kata nya tulus.


Samar, ia menatap langit-langit kamar Dira dengan tatapan menerawang. Ia tersenyum kecil  mengingat kejadian beberapa waktu di sungai tadi.


"Apa yang kau pikirkan Zahra?" Tanya Dira ikut-ikutan menatap langit-langit kamarnya.


"Hem, bukan sesuatu yang penting. " Jawab Zahra seadanya.


"Mbak, boleh Marwah bertanya sesuatu?" Tanya Marwah meminta izin kepada Zahra.


"Hem, tentu. " Izin Zahra.


"Jika ini tentang sesuatu hal yang aneh lebih ba-"


"Tak apa-apa, lagi pula Marwah bukanlah orang lain bagiku. Ia adik ku, benar bukan? " Potong Zahra mematahkan kecemasan Dira.


"Tuh, mbak Marwah aja gak masalah toh. Kok kamu yang sewot sih? " Cibir Marwah mengejek.


Dira memilih diam dan tak merespon cibiran mengejek dari Marwah. Ia hanya sedikit terkejut mendapati perubahan sikap Zahra yang sangat berbeda dari yang sebelumnya.


"Mbak Zahra kalo sakit begini pasti punya keinginan yang harus dituruti. Misalnya seperti ingin makan bakso atau soto gitu mbak? " Tanya Marwah polos.


Dira mengelus dada ketika mendengar pertanyaan polos Marwah, ia bersyukur setidak nya kepolosan Marwah kali ini tidak menimbulkan sesuatu yang aneh.


Sementara Dira yang bersyukur akan kepolosan Marwah, Zahra justru terkekeh mendengar kepolosan Marwah. Setidaknya ia bisa sedikit terhibur.


"Tentu saja aku punya keinginan, aku kan juga manusia sama seperti kamu." Jawab Zahra santai.


Marwah mengangguk kan kepalanya mengerti, tapi masih tak puas.


"Keinginan mbak Zahra apa, makan soto atau apa? " Kejar Marwah ingin tahu.


Zahra tersenyum kecil.


"Bukan lah hal yang besar, hanya sebuah bubur. Namun.. " Gantung Zahra dengan pikiran melayang.


"Namun? " Kata Marwah tak sabaran.


"Namun, aku ingin yang memasakannya adalah pangeran ku, lalu.. "


Marwah dan Dira diam, pembicaraan mulai terdengar serius.


"Lalu, aku akan tidur dan tenggelam dalam pelukan hangatnya."


Zahra tersenyum kecut.


"Itu impian sederhana ku saat aku terbaring lemah seperti ini. " Akhiri Zahra dengan sebuah helaan nafas.


"Akan tetapi, mungkin semua itu tidak akan pernah terjadi. Aku harus mengakuinya. "


"Kenapa mbak? " Tanya Marwah sedih.


"Karena semuanya sudah berakhir." Jawab Zahra terdengar tegar.


Marwah mengeratkan pelukan nya ke tubuh Zahra. Ia juga merasa sedih dengan cerita Zahra.


"Mbak, Marwah emang gak tau siapa pangeran mbak Zahra. Akan tetapi entah kenapa Marwah bisa merasakan betapa orang itu sangat berarti untuk mbak Zahra. "


"Terima kasih, tapi kamu tau darimana? "


"Maaf mbak, sebenarnya Marwah sering terbangun di tengah malam gara-gara mendengar suara mbak Zahra yang menangis ." Jelas Marwah menjawab kebingungan Zahra.


"Menangis, ditengah malam? "


"Iya, mbak Zahra terkadang di saat aku terbangun sudah aku temukan dalam keadaan menangis. " Terang Marwah lagi.


"Benarkah? Tapi aku tidak merasa. " Elak Zahra.


"Benar mbak, bagaimana bisa mbak menyadarinya. Lha wong mbak nangisnya ngigo kok sambil nyebut nyebut nama 'kak Razi ' ."


"Hem, aku mengerti. " Putus Zahra malu.


"Sekarang bagaimana, mbak? "


"Apa nya yang bagaimana? "


"Mbak kan pengen di suapin bubur, tapi bunda udah nyuapin. Berati tinggal tidur nya mbak aja, pangeran mbak kan gak ada di sini."


Zahra tertegun. Tatapannya berubah menjadi sendu.


Tiba-tiba ia teringat sesuatu didalam tasnya dan mengintruksikan agar Marwah mengambilkannya tas tersebut.


"Ini mbak. " Ucap Marwah seraya memberikan Zahra tasnya.


Zahra langsung mengambil nya dan membukanya dengan gerakan cepat. Setelah mendapatkan apa yang dicari nya, Zahra memberikan lagi tas nya kepada Marwah agar di taruh kembali di tempat semula.


"Aku memang tidak bisa tidur dalam dekapan hangat peluknya." Ucap Zahra sendu seraya menatap sebuah buku dalam pelukannya.


"Namun setidaknya aku bisa tidur dalam hangatnya tubuh pangeran ku yang tertinggal di buku ini. " Sambung nya dengan sebuah senyuman sumringah sambil memeluk erat bukunya.


"Ini kan buku Putri tidur itu mbak. "


"Hem, kau benar. "


"Selamat tidur. " Putus Zahra tak ingin memperpanjang obrolan seraya menutup matanya perlahan.


Dira menatap sendu wajah lelah Zahra, dan untuk yang kesekian kalinya Dira merasa permainan Sang Maha Kuasa sangat lah rumit.

__ADS_1


"Selamat tidur Zahra.. "


Bersiaplah untuk permainan esok.


                                ***


"Uh, selamat pagi. " Ucap Zahra seraya mengucek-ngucek matanya ganas. Menyelaraskan cahaya matahari yang masuk lewat jendela dengan matanya.


"Dimana mereka? " Bingung Zahra karena tidak mendapati Dira dan Marwah disampingnya.


"Dan buku ku? " Kaget Zahra karena tak menemukan bukunya.


"Apa mungkin Dira dan Marwah membawanya kabur? " Pikiran buruk pun tak bisa ia saring dalam otaknya.


"Bukankah aku melarangnya untuk membacanya? " Kesal Zahra seraya bangun dari tidur nya.


Rambut panjang menjuntai dengan wangi strauberi ia biarkan bebas tak terikat.


"Aish, mereka benar-benar membuat ku kesal. " Gerutu Zahra berniat membuka pintu.


Namun, ia menyadari satu hal dan langsung berbalik meraih sebuah jilbab yang tergeletak di atas kasur. Lalu dengan gerakan cepat ia langsung memakainya dan setelah itu ia benar-benar melaksanakan aksinya membuka pintu dan keluar.


Zahra menuruni tangga dengan langkah santai sambil mengedarkan pandangan nya ke semua arah. Berharap menemukan Dira atau Marwah.


Namun, sampai ruang makan pun Zahra masih tak menemukan mereka. Bukan hanya mereka berdua saja, akan tetapi bunda dan ayah pun ia tak temukan.


"Kemana bunda dan ayah? " Tanya Zahra kebingungan.


"Kenapa rumah ini sangat sepi? Kemana mereka semua pergi? "


"Ataukah mereka sedang bersantai di ruang keluarga? " Monolog Zahra seraya melangkah kan kakinya ke arah ruang keluarga.


Setelah sampai ruang keluarga, Zahra masih tak menemukan siapa pun. Nihil.


"Atau diruang tamu mungkin? " Terka Zahra masih mengikuti pikiran nya.


"Juga tak ada. " Keluh Zahra begitu mendapati tempat itu juga kosong.


"Aha! Pasti mereka semua sedang berkebun di taman belakang. " Ucap Zahra ceria sambil berlari kecil memutar arah menuju arah taman belakang.


Begitu ia sampai taman belakang, Zahra tak henti-henti nya menggeretu tak suka terhadap sikap Marwah dan Dira yang main tinggal saja.


"Jika kalian ku tem-Alif? " Kaget Zahra menemukan Alif yang sedang berdiri di depan nya.


Seketika tubuh Zahra langsung menegang dan membatu. Ia tak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri. Lidahnya pun terasa kakuk untuk mengucap kan sesuatu.


"Bagaimana kabar mu Zahra? " Ucap Alif bertanya memulai percakapan duluan. Ia masih terlihat tampan dengan pakaian sederhana nya dan sedikit bumbu senyuman hangat.


Zahra diam, lidahnya terasa beku dan mulutnya tertutup rapat seakan terkunci.


"Aku harap kamu baik-baik saja." Ucap Alif lagi masih dengan senyuman yang sama.


Kenapa ia tak menggunakan bahasa formalnya?  Batin Zahra heran.


"Soal hari itu aku ing-"


"Cukup!" Potong Zahra dingin.


Ia sudah cukup merasa terluka. Dan ia ingin melawan luka tersebut, mengubahnya menjadi sebuah goresan bukan luka lagi.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini? " Tanya Zahra dengan wajah yang dibuat sedatarnya.


"Aku ingin mencari tahu sesuatu." Jawabnya lembut.


"Tentang hari itu, kenapa kau memeluk ku? " Tanya Alif masih dengan suara yang lembut.


Zahra diam. Mengumpulkan suaranya yang hampir hilang.


"Itu.. Karena aku ingin. " Jawab Zahra acuh.


"Benarkah? " Tanya Alif memancing.


"Hem, aku hanya ingin memeluk mu. Itu karena aku menginginkanya."


"Lalu, bagaimana dengan sekarang?"


"Sekarang?"


"Apakah kau tak ingin memeluk ku?" Tantang Alif dengan tatapan menyelidik nya.


Zahra sedikit shock dengan pertanyaan Alif yang diluar nalarnya. Namun, secepat kilat Zahra menetralisir keterkejutan nya dengan sebuah senyuman miring.


"Tidak, aku tidak mau. " Jawab Zahra santai.


"Kenapa, bukankah di sini sepi?. Tak akan ada orang yang melihat. "


Lagi-lagi Zahra dibuat terkejut dengan pertanyaan Alif.


"Yah, tapi aku sedang tak ingin. "


"Tapi, bagaimana jika aku ingin?" Pancing Alif sambil melangkah kan kakinya mendekati Zahra.


Melihat itu, Zahra refleks berjalan mundur.


"Itu tidak mungkin." Elak Zahra.


"Kenapa tidak?"


"Tapi aku tak mau, jadi kau tak bisa!. " Emosi Zahra mulai terpancing.


"Bagaimana dengan hari itu. Bukankah kau langsung memeluk ku tanpa persetujuan dari ku?"


"Tapi hari itu berbeda!"


"Berbeda? Hari ini juga berbeda!"


"Tolong, jangan dekati aku!" Mohon Zahra terluka.


Ia memang menyukai Alif, namun entah kenapa perasaannya menjadi aneh ketika mengingat bayangan kakak nya yang marah-marah ketika ia pulang kerumah larut malam.


Apa ini yang kakak takutkan jika aku pulang malam dan selalu berkeliaran diluar rumah?


"Kenapa Zahra, bukankah kau menginginkannya seperti yang kau katakan hari itu."


"Ku mohon, itu tak seperti yang kau pikirkan! aku tak bermaksud seperti itu."


"Lalu? " Tanya Alif menuntut.


"Aku melakukan nya karena aku putus asa saat itu! aku tak tau harus berbuat apa! semua orang yang aku percaya pergi meninggal kan aku! s


mereka menghianati aku! "


Alif diam mendengar kan penjelasan Zahra.


"Aku kecewa, satu-satunya orang yang ku percaya justru telah berubah!. Dia pergi, melupakan semua janjinya. Kau tau? Orang itu pernah berjanji kepada aku, ia mengatakan bahwa aku lah tempat kembalinya, aku lah pemilik hatinya dan dia juga telah berjanji akan membawa ku kembali tapi apa? dia bohong. Dia melupakan semua itu, bahkan aku masih terjebak menjadi seseorang yang menakutkan tapi dia tak perduli! Katakan? Apa yang harus aku lakukan?..hiks.. "


"Aku masih menerima ketika sahabat-sahabat ku mengecab ku sebagai pembunuh! "


"Aku masih menerima ketika cinta pertama ku bertepuk sebelah tangan! Bahkan dipermalukan di tempat umum, aku masih menerima. "


"Aku bahkan masih menerima ketika mereka yang ku sebut sebagai keluarga membuang dan mengirim ku ke tempat ini! aku masih bisa menerima rasa sakit itu semua! "


"Aku bahkan masih bisa menahan rasa sakit itu semua, tapi ku mohon.. Hiks.. "


"Ku mohon.. Jangan dia! "


"Dia alasan ku masih percaya akan sebuah kebahagiaan.. Hiks.."


"Tapi.. Apa sekarang? Ia telah pergi! Bahkan ia tak melihat ku, ia tak menganggap aku ada! "


"Rasanya sakit! Di sini.." Tangan Zahra meremat baju bagian dadanya.


"Sakit! Aku lelah, kau tau? "


"Tapi bodohnya aku masih percaya bahwa ia akan kembali walaupun aku telah terjatuh berkali-kali di tempat yang sama.! "


"Katakan kepada ku, jika kau jadi aku atau jika kau adalah aku. Apa yang harus dilakukan? "


Teriak Zahra putus asa. Ia memeluk dadanya kuat, meresapi rasa sesak dan sakit yang menggerogoti dadanya.


Tiba-tiba Zahra menggeleng pelan.


"Tidak..aku seharusnya tidak mengatakan ini bukan..? "


"Hiks..maaf..aku minta maaf untuk hari itu, sungguh aku tak pernah berpikir untuk melakukan hal itu kepada mu.. Maaf.. " Ucap Zahra seraya pergi berlari meninggalkan Alif yang masih termenung.


Melihat kepergian Zahra, Alif hanya bisa tersenyum tipis.


"Dia hebat.. " Gumam Alif sendu.


"Hem, kakak benar. Dia hebat tapi juga bodoh."


Alif terkejut mendapati Dira berserta paman dan bibinya yang sudah berdiri didepannya.


"Apakah ini tidak keterlaluan? " Tanya Alif sendu.


"Tak apa, setidaknya kita tau bahwa ia tak melakukan nya karena sebuah nafsu. Aku lega. " Jawab Dira dengan sebuah senyuman.


"Hem, aku juga. " Timpal Alif merasa lega.


"Kau harus menjaga nya, jika hari itu benar-benar datang. Karena Razi telah menitipkan adik tersayangnya kepada mu. " Pesan Dira.


Dan dia juga harus merelakan hatinya dibawa pergi Zahra. Dia bodoh bukan? Batin Dira sendu.


                                 ***


Fira tak henti-henti nya *** kedua tangannya khawatir. Ia gugup bercampur gelisah. Rasa takut pun mendominasi suasana hatinya saat itu.


"Apa aku harus mengatakan nya, Fi? " Tanya Fira ragu kepada Fia.


Fia menyentuh tangan Fira lembut, membuat genggaman lembut di tangannya terlepas.


"Kau harus, jika seperti ini terus maka Zahra akan terus-terusan melukai semua orang. Bahkan dirinya terutama. " Jelas Fia meyakinkan Fira.


"Tapi bagaimana jika kak Alif marah kepada ku? " Tanya Fira takut-takut.


"Ia tak sejahat itu, dia kakak mu bukan?"


"Iya, tapi jika ini menyangkut tentang Zahra maka semua nya tak sama lagi."


"Fir, kau harus percaya diri dan juga ada pihak lain yang akan terus terusan terluka dengan semua ini. "


"Aku mengerti, tapi tetap lah bersama ku jika ka-"


"Assalamualaikum.. " Salam seseorang memotong ucapan Fira.


"Waalaikumussalam..kak Alif, akhirnya kakak pulang juga. Ada yang ingin Fira katakan kepada kakak.. " Ucap Fia menjawab salam seraya menjelaskan jika Fira ingin mengatakan sesuatu.


"Ada apa Fir? "


"Kak, Fira minta maaf. "


"Untuk apa, dek?. Tak ada yang salah dengan mu dek. "


"Tolong dengarkan Fira dulu.. "


"Baiklah, Silahkan. "


Fira menatap Fia ragu, namun Fia membalas tatapan keraguan Fira dengan sebuah anggukan penyemangat.


"Sebenarnya Zahra berubah gara-gara Fira kak. "


Alif diam.


"Hari itu di sekolah Fira marah kepada Zahra yang telah mempermalukan kakak di depan umum. Awalnya Fira tak bermaksud untuk mengatakan kata-kata itu, akan tetapi saat Fira melewati gudang sekolah, Fira tak sengaja mendengar percakapan antara Zahra, Ann dan Latifa. Ann dan Latifa memojokan Zahra dengan sebuah tuduhan bahwa Zahra adalah pembunuh. Setelah mendengar itu kemarahan Fira semakin memuncak sehingga Fira memutuskan untuk pergi meninggal kan gudang dan menunggu Zahra diluar. "


"Hingga tak berapa lama Zahra benar-benar keluar dari gudang dengan keadaan yang sangat kacau, tapi Fira tak perduli. Yang Fira tau Zahra harus merasakan sakit yang pernah orang-orang rasakan. Orang-orang yang Zahra sakiti. "


"Hingga kata-kata itu Fira ucapkan.. "


"Fira mengatakan bahwa Zahra adalah aib semua orang, membuat semua orang berada dalam masalah dan Fira juga mengatakan bahwa Zahra tidak layak bersama mereka semua termasuk kakak, karena Zahra kotor-"


"Astagfirullah, Fira.."


"Fira tau kak..Fira salah, maafkan Fira kak..hiks"


"Hiks..maafkan Fira kak.. " Tangis Fira langsung pecah. Ia memeluk Alif kuat, menyampaikan rasa penyesalan yang besar.


Alif memijit pelipisnya yang berdenyut sakit.


"Kita harus meminta maaf kepada Zahra.. " Putus Alif tak mau dibantah. Fira dan Fia mengangguk patuh.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2