Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Dendam?


__ADS_3

Andrini P. O. V


Aku masih saja mengekor dibelakang Zahra dan Latifa, mengikuti kemana mereka melangkah. Kejadian hari ini memang sangat tidak menguntungkan, bukan karena aku berakhir di ruang BK, namun karena rencana kami yang gagal sepenuhnya. Yah, aku kecewa dengan Zahra yang berhasil membuat Yola merasa malu di depan orang banyak, apa lagi dengan pengungkapan identitas Zahra yang berhasil membuat kami semua harus membuka mulut dan merasa shock karena fakta besar yang baru kami ketahui sekarang.


Kok aku gak tau yah kalo Zahra anak investor terbesar di sekolah ini?. Oh, ternyata benar, bahwa gosip tentang anak investor terbesar sekolah ini bersekolah di sini dan ternyata anak itu adalah Zahra?


"Oh, good. Ternyata selama ini aku belum bisa meyakinkan dia bahwa aku adalah teman yang baik. Kamu hebat Zahra, selain bisa mempermainkan orang sesuka hatimu, ternyata kamu juga sangat pandai menyimpan rahasia."


"Yah, kita lihat saja nanti kira-kira rahasia mana lagi yang akan kamu ungkapkan,"


"Jadi tunggu saja, aku akan membantu mu dengan sepenuh hati untuk mengungkapkan semua rahasia tersembunyi mu itu. " Tersenyum senang, aku berjalan mendekati Latifa.


Sebenarnya, jika saja guru tidak datang maka akan lain cerita nya. Karena rencana kami gagal total dan hanya mendapatkan rasa malu, maka tidak ada gunanya lagi di sana jika hanya menonton kekalahan.


Yah, aku bersyukur karena guru itu datang tepat waktu. Jika tidak, maka semakin hancurlah Yola di sana.


"Ann." Panggilan kecil dari Latifa menarik kesadaran ku.


Menatapnya, "Ada apa, Fa? "


"Ann, aku gak tau kalo Zahra ternyata anak investor itu. Ini adalah kejutan yang buat kita. " Latifa menunduk muram, membuat ku semakin dibakar emosi kuat didada ku.


"Yah, jangankan kamu, aku pun juga merasa terkejut dengan hal ini. Lagi pula aku juga sadar, melihat posisi nya yang tinggi aku yakin kasus 'itu' bisa ditutupi dengan mudah. " Yah, aku percaya kematiannya saat itu ditutupi dengan uang. Ah, memikirkan nya membuat ku semakin membencinya.


Latifa mengangkat wajahnya, menatap ku dengan tatapan terkejut dan marah, "Kau benar, ia pasti melakukan kekuasaannya untuk menghilang dari kasus itu. " Mengatakan nya, ekspresi wajahnya semakin muram.


"Jangan sedih, Fa, kita pasti bisa membalas rasa sakitnya kepada Zahra. Kau tau aku tidak suka berkata kosong. " Kepergian nya, aku tidak akan lupa. Dan untuk itu aku berani melakukan apa pun asal rasa sakit didada ini bisa pergi dan menghilang sejauh mungkin.


"Yah, aku menunggu," Menatap ku, ada riak dangkal yang menggenangi sudut matanya.


"Ann, aku kangan Alvin. Gak terasa ini udah satu tahun dia pergi, rasanya lama banget, aku gak suka disiksa begini. " Aku tersenyum miris, berbicara rindu, aku lebih merindukan sosoknya dari siapa pun. Jangan salah, ia adalah orang terpenting dalam hidup ku. Satu-satunya adik ku di dunia ini dan kini telah pergi.

__ADS_1


Ya, sudah satu tahun lamanya. Kau benar, waktu ini seakan melambat dan aku tidak menyukai hal ini. Ini sangat menyiksa ku.


"Hem, aku juga merindukannya, Fa, bukan kamu saja. " Aku mengalih kan perhatian ku, menatap langit.


"Alvin apa kabar di sana? " Latifa bertanya dengan suara berbisik, aku yakin pertanyaan ini ditujukan kepada dirinya sendiri.


Ku rasa Alvin baik-baik di sana dan aku juga berharap bahwa dia merasa tenang di sana. Selama dia tertidur nyenyak di sana, maka aku di sini akan terus berjuang membalakan rasa sakit Alvin. Yah, tidak lama lagi, hanya menunggu waktu dan situasi yang tepat maka semua rencana ku akan berhasil.


"Jadi kapan kita bisa membalasnya? " Latifa kembali berbisik, pertanyaan ini ditujukan kepada ku. Aku yakin dengan hal ini.


"Tidak lama lagi. Jangan terlalu banyak bertanya, hanya tunggulah aku beberapa waktu lagi, jika sudah siap maka kau pasti akan ku beritahu. " Latifa terdiam, tidak ada respon apa pun, aku yakin ia mengerti dan tidak ingin bertanya lagi.


Vin, aku harap di sana kamu bisa lebih bersabar.


"Ck, lo pada yah kayak nya suka banget pada main bisik-bisikan." Keluhan Zahra tiba-tiba terdengar dari arah depan kami. Aku mengangkat wajahku dan menatapnya yang kini sedang berwajah datar.


"Hehehe..kita gak lagi bisik-bisik kok. Kita cuma lagi ngomongin guru baru yang didepan kita aja. Ganteng yah." Latifa menjawab cepat dengan cara bicaranya yang konyol. Aku sedikit merasa terkejut dengan perubahan ekspresi yang cepat.


Mimik wajah Zahra tidak berubah setelah Latifa mengatakan hal itu, ah, syukurlah ia tidak curiga.


Dia bilang cukup tampan?


Apakah ia mempunyai rasa yang manis untuk guru tersebut?


Aku ingin tahu lebih banyak, "Lo tertarik? "


Zahra terdiam, wajah nya tampak berpikir serius. Aku tidak yakin, tapi aku seperti melihat bahwa Zahra sama sekali tidak tertarik dengan guru tersebut. Ada yang mengganggu pikiran nya.


"Yah, kurasa. " Bahkan wajahnya menunjukan keraguan yang besar, akan tetapi apa pun itu aku sudah tau target yang akan aku gunakan untuk rencana ku.


"Kalian semua duduk di sana." Arahan guru tersebut menunjuk sofa panjang berwarna cokelat tersebut. Aku dan yang lain duduk terpisah. Yola dan kelompok nya di sofa yang lain dan aku, Latifa serta Zahra di sofa yang ditunjuk.

__ADS_1


                           ***


Author P. O. V


Zahra memandangi wajah guru baru tersebut dengan penuh pertimbangan. Ia menimbang apakah ia mampu dan bisa berpindah hati dari pangeran tampan nya ke guru tersebut?


Oh, tidak!


Zahra melupakan sesuatu, bagaimana bisa perasaan nya terhadap pangeran tampan adalah sebuah perasaan virus merah jambu, itu tidak mungkin bukan?


Yah, Zahra pikir ia bisa jatuh cinta kepada laki-laki ini cepat atau lambat.


Pangeran tampan adalah saudara ku, perasaan yang ku rasakan ini kepada nya bukanlah perasaan cinta melainkan perasaan sayang dan kehilangan setelah 10 tahun tidak pernah bertemu. Batin Zahra menyimpulkan perasaannya sendiri.


"Alangkah lebih baiknya jika wanita bisa menjaga pandangannya." Guru baru tersebut berbicara halus namun tajam, ia menyindir Zahra yang sedari tadi memandanginya.


Zahra terkejut, tersadar akan lamunan nya. Ia memang melihat ke arah guru tersebut, tapi pikirannya tidak tertuju ke arah guru itu. Ia hanya melamun!.


Mendengar dirinya ditegur zahra langsung memperbaiki sikapnya. Dia menundukkan kepalanya dengan patuh.


Sial!


Zahra merutuki kecerobohannya karena mendapatkan tawa mengejek dari Yola dan yang lain.


"Ketawa aja terus, liat aja nanti lo-"


"Dia kakak kelas kamu, tolong bersikaplah dengan baik dan sopan. " Lagi-lagi guru baru itu mengintrupsi Zahra, membuat Zahra memutar bola matanya malas.


"Pak, mereka dibaikin bukannya baik malah ngelunjak. Tuh, pak liat aja mata mereka udah melot-"


"Zahra.. "

__ADS_1


"Ok, saya diam. "


                          . ***


__ADS_2