Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Jarak


__ADS_3

Zahra P. O. V


Aku tak pernah baik-baik saja sejak hari itu. Aku sangat terkejut mendapati dirinya yang selama ini terang-terangan menjadi bahan pembicaraan dimana-mana. Bagaimana mungkin aku bisa tak menyadari jika selama ini Alif juga berada ditempat yang sama dengan diriku. Oh, astaga.


Aku kembali seperti diriku yang dulu, menjadi Zahra yang seperti anggapan mereka, aku egois. Akan tetapi, sisi kecil ku mengingatkan aku akan satu hal. Aku tak boleh terlihat lemah di depan nya. Ya, aku harus bersikap seolah-olah kejadian di masa lalu itu tidak pernah terjadi. Hari dimana aku dicap sebagai pembunuh. Hari dimana cinta pertama ku bertepuk sebelah tangan dan dipermalukan di depan umum. Dan hari dimana aku benar-benar dibuang oleh orang orang yang ku sebut sebagai keluarga.


Lihat, jika kalian berada diposisi ku apakah kalian akan tetap kuat?


Apakah kalian akan tetap bertahan dengan semua ini?


Titik dimana kau sangat membutuhkan Tuhan. Titik dimana Tuhan seharusnya mengulurkan tangannya untuk di genggam. Titik dimana Tuhan seharusnya memperlihatkan kekuasaan nya untuk memberikan pertolongan nya.


Tapi TIDAK!


Hari itu aku merasa kan nya sendiri. Tuhan tidak berbuat apa-apa.


Tuhan seakan tuli dengan penderitaan ku saat itu. Ia seakan tak perduli. Ia menertawakan rasa sakit dan ketakutan ku hari itu. Ia sama sekali tak membantu ku.


Padahal jelas-jelas Ia lebih tau apa yang aku rasakan.


Ia jelas-jelas lebih tau apa yang aku sembunyikan.


Ia lebih tau apa yang aku inginkan.


Ia lebih tau apa yang aku butuhkan.


Dan Ia lebih tau apa yang sebenarnya terjadi sehingga membuat kekacauan ini terjadi.


Tapi apa yang aku dapat?


Tuhan DIAM.


Tuhan benar-benar diam. Ia seakan tak melihat ku sebagai mahluk ciptaan nya yang juga mempunyai hati. Ia hanya melihat ku sebagai mahluk ciptaan yang memang khusus dibuat untuk sebuah permainan.


Itu jelas.


Aku menyadarinya. Menyadari betapa hidup ku ini selalu dipermainkan oleh sang maha kuasa. Bahkan saat hari itu, hari dimana pangeran tampan ku dirampas dengan mudah nya. Pangeran tampan ku pergi meninggalkan aku, menyisakan diriku dengan harapan semu.


Pangeran tampan ku hanya sesekali pulang, itu pun tak berniat melihat ku. Dan setelah 10 tahun lamanya ia benar-benar kembali ke sisi ku namun dengan sesuatu yang baru. Posisi ku telah tergantikan oleh kehadiran kak Annisa. Tuan putri yang sangat dilindungi. Bahkan sikap nya terhadap ku berubah 180 derajat. Ia jadi lebih dingin dan tidak berhati terhadap ku.


Satu-satunya orang yang ku percaya justru telah berubah. Pangeran yang seharusnya melindungi ku telah hilang. Dan itu semakin membuat ku terluka.


Jika kalian ada di posisi ku, apa yang akan kalian lakukan?


Bertahan?


Menjauh?


Atau mencoba mengahiri hidup?


Hahah.. Sudahlah. Tak perlu dipikirkan. Lagi pula ini hidup ku, bukan kalian. Jadi aku yang merasakan dan kalian cukup memperhatikan.


Kita kembali pada pembicaraan awal kita, benar. Aku harus kuat. Aku tak boleh terlihat lemah didepan nya. Kali ini, aku harus benar-benar memainkan peran ku sebagai seorang Zahra. Aku harus bersikap seakan aku baik-baik saja meski faktanya ini hanya sandiwara ku saja.


Flash Back On.


"Zahra? " Panggil Alif pelan seraya menuruni tangga bermaksud mendekati ku, sampai satu suara menghentikan langkah Alif.


"Gus Fansyah teh ngapain di sini?" Tanya Marwah.


Aku tertegun dan tersenyum kecut.


"Jadi dia adalah Alif." Gumam ku pada diriku sendiri.


"Saya sedang mengecek keadaan masjid, apakah masjid sudah bersih atau justru masih ada yang belum beres. Nah, di lantai atas tadi pewangi nya masih belum diganti ya?" Jawabnya jelas menjawab pertanyaan Marwah.


Seperti biasa, suara berat dan tegasnya menjadi sebuah pengingat untuk ku sendiri. Ah, tapi aku lupa. Bahwa apa yang ku rasa dan ku angan-angan kan ini hanya lah impian semu.


Aku menatapnya dalam dan seperti biasanya, ia akan menundukkan pandangan nya. Ini terkesan bahwa menatap ku adalah sebuah kutukan atau kesialan. Aku tau saat ini ia jelas-jelas sedang menghindari ku.


Tentu saja, ia membenci ku. Bahkan merasa jijik jika melihat ku. Aku masih mengingatnya, ketika hari dimana aku merasa paling hancur dan berakhir dibuang oleh mereka yang ku sebut sebagai keluarga.


Fira mengatakan dengan jelas jika selama ini Alif merasa muak dam jijik jika berada di dekat aku. Aku sadar betul akan hal itu.


Ah, ini tak mungkin ku lupa juga. Fakta bahwa dia adalah calon kakak ipar ku adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. Dan aku akan menjadi adik ipar nya, miris. Itu pun jika aku masih dianggap dalam keluarga.


"Iya gus, kami baru saja mau naik ke atas untuk menggantikan pewangi tersebut. Jadi saya dan Zah-"


"Marwah. " Potong ku cepat.


Marwah diam dan tidak melanjutkan ucapan nya.


"Seperti nya kamu harus menyelesaikan sendiri pekerjaan ini, aku harus pergi. Ada urusan yang harus ku selesaikan. " Sambung ku seraya pergi meninggalkan mereka.


Aku tetap berjalan tentunya dengan cepat walaupun suara marwah bergema di masjid ini memanggil nama ku. Aku tidak perduli.


Bahkan setelah aku keluar dari pintu masjid pun orang-orang menatapku aneh. Tapi aku tidak perduli, aku sadar saat ini aku sedang menangis.


Menyedihkan bukan?


Hahah ..ini sudah biasa bagiku.


Sudah ku katakan berulang kali bahwa aku tidak perduli, yang aku butuhkan saat ini adalah sandaran. Yah hanya sandaran.


Aku berlari tanpa tau arah, tinggal di sini hampir satu bulan bukan berarti aku sudah bisa menghafal dan mengetahui tempat-tempat yang ada di sini. Aku sama sekali tidak mengenali tempat yang sedang ku pijaki saat ini.


Aku tidak khawatir dan aku tidak takut. Yang aku rasakan saat ini adalah rasa sakit yang kian menekan dada ku.


Sakit.


Ini sangat sakit Tuhan.


Apa yang harus aku lakukan?


Bayang-bayang masa lalu yang kelam seakan mengejar ku. Dan itu membuat ku semakin lemah.


Aku butuh sandaran.


Aku butuh pelukan hangat.


Aku butuh ka-


Grep


Sebuah pelukan hangat yang aku rasakan saat ini dan usapan lembut yang menenangkan di punggung ku. Aku diam dan tidak memberontak. Aku tak perduli siapa-pun yang sedang memeluk ku saat ini. Yang aku tau, saat ini aku sangat membutuhkan pelukan hangat nya.


"Menangislah, aku tau bahwa selama ini kau tidak pernah baik-baik saja. " Ucapnya lembut menenangkan.


Suara prempuan.


"Dira. " Panggil ku dengan bibir begetar.


"Hem. " Responnya singkat.


Aku langsung membalas pelukan nya dan mengeratkan tanganku pada tubuhnya.


Dira aneh, sudah biasa. Aku bahkan bersyukur akan keanehan nya hari ini. Aku merasa tenang.


"Ingin menceritakan sesuatu?" Tawarnya lembut.


Aku diam.


"Benar nih gak ada yang mau di bicarain?. Zahra, keadaan kamu saat ini sudah memperjelas perasaan kamu. Tidak baik memendam perasaan sendirian, ada aku. Lepaskanlah. " Tawarnya lagi.


Aku termenung untuk beberapa waktu.


"Aku gak bisa, Dir. " Jawab ku akhirnya.


"Kenapa?" Tanya nya terdengar menuntut.


"Karena aku gak mau terluka lagi Dir, ini terlalu sakit. " Isak ku tak kuat.


Ia mengeratkan pelukan nya padaku dan mengusap-ngusap punggung ku dengan lembut.


"Maaf, tapi aku tidak mengerti dengan alasan mu Zahra. "


"Ini sakit, Dir. Semua luka yang kudapat kan ini karena terlalu mempercayai mereka semua. Aku terlalu percaya kepada mereka, menaruh harapan besar kepada mereka dan berakhir ditinggalkan. Dan aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama akan hal itu. "


"Kamu tidak mempercayai aku?" Tanyanya dengan suara yang masih menenangkan.


"Bukan, tapi aku takut. " Elak ku tak ingin menyinggung nya.


"Kau lucu, tanpa sadar saat ini kau telah menceritakan ketakutan mu. "


Aku bingung.


"Aku tidak-"


"Kau iya, Zahra. "


"Kau tidak ingin menceritakan masalah mu kesembarangan orang karena tidak ingin berakhir di khianati dan di kecewakan. Dan semua yang kau ucapkan tadi adalah rahasia mu. Penyebab mengapa kau sulit terbuka kepada orang lain. Aku mengerti dan terima kasih, kau telah mau terbuka kepada ku. "


Ah, iya.


Dia benar, tanpa sadar aku telah menceritakan rahasia ku terhadap nya.


Biarlah. Mungkin aku harus membuka diri padanya. Hanya padanya.


"Jadi, masih tidak ingin cerita, hem?"


Satu menit.


Dua menit.


Tiga menit.


"Ini semua berawal dari 10 tahun yang lalu. " Suaraku pelan.


"Aku tidak ingin bicara banyak, hanya intinya saja." Peringat ku yang berhasil membuat nya terkekeh.


"Saat itu, aku mempunyai seorang kakak laki-laki. Aku biasa memanggil nya dengan panggilan pangeran tampan. "


Dira tidak merespon, fokus menyimak ku.


"Aku sangat menyangi nya." Aku tersenyum kecil mengingat betapa indahnya masa lalu ku.


"Bahkan aku pernah bermimpi akan menikah dengan nya. " Dira terdengar terkekeh. Aku tidak merasa terganggu.


"Dia adalah dunia ku saat itu, karena kedua orang tua ku lebih condong terhadap kakak perempuan ku. Aku tidak keberatan selama pangeran tampan ku bersama ku." Ungkap ku jujur.


"Akan tetapi semua nya berubah, saat kedua orang tua ku mengirim pangeran tampan ku dan kakak perempuan ku ke pondok pesantren. Aku juga ditawari, akan tetapi aku tidak ingin berpisah dari orang tua ku. Hingga akhirnya mereka memutuskan bahwa akulah yang bersama mereka sementara pangeran tampan ku dan kakak perempuan ku tinggal di pondok pesantren. "


Ini yang ku pendam. Ini yang selama ini ku sembunyikan.


"Beberapa hari setelah kepergian mereka kedua orang tua ku menjadi sangat sibuk, aku terabaikan dan kesepian. "


"Dan satu-satunya orang yang selalu menjaga ku adalah bik Imah, pembantu yang sudah ku anggap sebagai keluarga. "


"Pangeran tampan ku sesekali pulang kerumah untuk mengurus sesuatu, tak lagi seperhatian dulu. " Isakan ku mulai keluar.


Sesak.


Sesak yang selama ini menghimpit ku akhirnya ku keluarkan juga. Dira semakin mengusap punggung ku lembut. Mencoba menenangkan.

__ADS_1


"Terkadang saat ia menelpon kerumah, aku mendengar nya menagis. Ia menangisi kakak perempuan ku. Ia sama sekali tidak pernah menanyakan kabar ku. Hanya tentang kakak perempuan ku, dan aku tidak termasuk didalamnya. Aku sakit, semuanya telah hilang. "


"Tak ada siapa pun yang menyadari keberadaan ku dirumah. Sendiri dan kesepian. Kedua orang tua ku terlalu sibuk untuk melihat ku. Aku paham, dan sejak itu pula aku memilih jalan ku sendiri. "


"Setelah 10 tahun lamanya, tepat satu tahun kemarin akhirnya mereka berdua kembali. Dan saat itu pula aku benar-benar jelas melihat perubahan nya, ia bukan pangeran ku lagi. Ia orang lain. "


"Suaranya semakin tegas dan berwibawa. Ia semakin tampan. Lesung pipi yang menjadi candu ku saat melihat nya tersenyum sedikit menghilang. "


"Ketika berbicara dengan ku ia seakan berbicara pada seorang penjahat yang kedapatan berbuat jahat. Berbeda ketika ia berbicara dengan kakak perempuan ku. Ia seakan mengagumi sosoknya yang cantik dan anggun. Aku cemburu. Tentu saja, tapi aku mencoba acuh. "


"Kau tau? Aku sangat bahagia ketika ia marah pada ku. Aku bahagia, setidaknya dengan begitu ia tetap mau berbicara kepada ku. Maka dari itu aku selalu membuat ulah dirumah agar mereka yang mengabaikan ku bisa melihat keberadaan ku. "


"Hiks.. Menyedihkan bukan.?"


"Dir, mungkin sampai disini. Selebihnya aku tidak bisa. Terlalu sakit. " Mohon ku kepadanya untuk menyudahi curhatan ku. Sakit.


Aku tidak bisa menerus kan nya lagi. Mengingat nya seakan membuat ku mengulangi kembali kejadian dulu. Dan itu sangat membuat ku terluka. Bagaimana mungkin, rasa terabaikan dan ditinggal kan menjadi trauma tak kasat mata di relung hati ku. Dan mereka semua abai akan semua itu. Mereka semua tidak perduli.


Dan aku lelah.


Iya mengangguk maklum.


"Aku mengerti, mungkin kau butuh waktu untuk lebih jelas nya. Tapi terima kasih telah memberikan ku kesempatan untuk masuk menjadi bagian dari hidup mu. "


Aku terdiam.


Benar. Dira sekarang telah menjadi bagian dari hidup ku. Aku mempunyai tempat untuk bersandar.


"Kita kembali ke asrama, Zahra. Aku yakin, kau pasti butuh istirahat. " Ajak nya lembut.


Author P. O. V


Zahra melepaskan pelukan itu dan beralih menatap Dira sendu. Jejak air matanya masih membekas dipipi merah Zahra.


"Aku mau beristirahat, tapi tidak di sana. " Tolak Zahra halus.


Dira tersenyum seraya membawa tangan Zahra dalam genggamannya.


"Kenapa, hem?. Di sana kan ada Marwah. Pasti saat ini dia sangat khawatir tidak dapat menemukan mu. " Tanya nya meminta penjelasan dari Zahra.


"Aku tau, tapi di sana terlalu berisik. Dan juga aku malu, pasti mereka semua akan bertanya-tanya mengapa aku menjadi semenyedihkan ini? " Jelas Zahra beralasan.


Dira terdiam, kemudian tersenyum lembut.


"Aku mengerti. " Maklum Dira.


"Kita akan tetap beristirahat, tapi tidak kembali ke asrama. Jadi, lebih baik kita ke tempat yang layak. " Kekeh Dira tidak ingin dibantah.


Zahra tidak berkomentar.


Ia nurut saja saat Dira menarik tangan nya entah kemana.


Hingga lama mereka berjalan, sampai lah mereka berdua di depan sebuah rumah mewah. Sangat megah dan luas.


Dira memberikan kode kepada satpam penjaga rumah untuk segera membuka kan pintu untuk mereka berdua masuk.


"Astaga, Dira. Ini rumah mu? " Takjub Zahra yang tidak menyangka jika ditengah hutan belantara seperti ini ada rumah mewah bak istana yang tersembunyi. Sangat terlihat jika tempat ini sangat berkelas.


"Bukan. Ini milik seseorang. " Jawab Dira santai seraya membuka pintu rumah.


Dira menarik tangan Zahra untuk mengikuti nya masuk ke dalam. Sekali lagi Zahra takjub dengan tempat ini. Benar dugaan nya, bukan hanya rumah nya saja yang mewah. Akan tetapi barang-barang dan dekorasi rumah ini juga memberikan kesan kemewahan.


"Apa kau suka? " Tanya Dira disela-sela kekaguman Zahra terhadap rumah ini.


"Tentu. " Jawab Zahra masih terfokus pada dekorasi rumah.


Bagaimana bisa rumah ini mempunyai dekorasi dan tata barang yang sangat simple. Sesuai selera ku. Ah, kebetulan yang manis. Batin Zahra.


"Kau tau, pemilik rumah ini mendekor semuanya sendiri. " Ungkap Dira.


"Benarkah? " Tanya Zahra antusias.


Pasalnya rumah ini sangat cocok dengan seleranya.


"Hem, itu ia lakukan untuk 'putri kecilnya '."


Zahra membeku.


Lalu menggeleng pelan, mengenyahkan pikiran memalukan nya.


"O-oh. " Respon Zahra bergetar.


Dira tersenyum tipis. Ia menang.


"Ikuti aku."


Zahra langsung menuruti permintaan Dira seraya mengekornya. Mengikuti langkah Dira menaiki anak tangga dan berakhir pada sebuah kamar.


Indah.


Itu kesan pertama Zahra melihat kamar tersebut.


"Tidurlah. " Intruksi Dira kepada Zahra.


Zahra mengangguk, karena ia tidak bisa pungkiri menangis berjam-jam membuat nya kelelahan dan mengantuk.


Baru beberapa menit menjatuhkan kepala nya, Zahra sudah memejam kan matanya. Tidur.


"Aku merindukan wangi ini." Gumam Zahra berbisik.


"Kak Razi.. " Dan akhirnya Zahra benar-benar terlelap.


Dira tersenyum sumringah. Ia mengerti. Kemana tujuan Zahra selama ini.


Flash Back Off. (Author P. O. V)


"Zahra, ke perpustakaan yuk. Katanya ada buku baru, liat-liat yuk. Siapa tahu ada yang bagus." Ajak Dira yang sudah berdiri di depan Zahra.


"Hem. " Balas Zahra seraya berdiri dan mengikuti langkah Dira. Marwah tak mau ketinggalan dan ikut andil mengekori Dira dan Zahra menuju perpustakaan.


Setelah sampai perpustakaan mereka langsung mencari buku-buku yang baru datang dan sialnya sudah ditaruh ditempat masing-masing. Itu artinya mereka bertiga harus berpisah. Mencari buku masing-masing.


Perpustakaan ini sangat luas, jadi jangan heran mereka memutuskan untuk berpisah.


"Dimana yah?" Tanya Zahra pada dirinya sendiri.


Ia berjalan menyusuri rak-rak buku yang disusun rapi dengan teliti.


"Tapi masa iya sih perpustakaan ini menyimpan buku seperti itu." Monolog Zahra lagi.


"Tapi inikan perpustakaan, ya wajar sih. "


"Ah, inikan perpustakaan pondok pesantren. Masa iya sih ada? " Ragu Zahra karena sedari tadi ia hanya mendapati buku dengan tulisan arab.


"Walaupun ini perpustakaan pondok pesantren, tapi tetap saja ini perpustakaan. Dan harus mempunyai koleksi buku yang beragam. " Ucap Zahra menjawab pertanyaan nya sendiri.


"Tapi aku ragu. " Putusnya.


"Kenapa gak nanya sama penjaga perpus yah? Ah, ok. " Ucap Zahra bergumam pada dirinya sendiri seraya berjalan menuju penjaga perpustakaan yang kebetulan sedang menstempel buku baru.


"Emm.. As.. Assalamualaikum.." Salam Zahra terdengar gugup pada penjaga perpustakaan yang ternyata adalah perempuan.


Perempuan itu menghentikan aktivitas nya sejenak seraya mengangkat kepala nya, menatap Zahra.


"Waalaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh.. Iya ada apa, nak? " Ramah perempuan tersebut sambil memperlihatkan senyuman nya.


Zahra membalas senyuman perempuan tersebut dengan kikuk.


"Saya boleh nanyak gak, buk? " Izin Zahra meminta persetujuan.


Lagi-lagi perempuan tersebut tersenyum lembut dan mengangguk kecil.


"Tentu saja boleh, nak. Mau bertanya apa?"


"Apakah perpustakaan ini menyimpan koleksi buku disney?" Tanya Zahra dengan suara kecil.


"Disney?" Bingung perempuan tersebut.


"Buku dongeng. " Jawab Zahra cepat.


"Buku dongeng?"


"Iya, Princess sleeping ada gak buk? Atau di sini disebut sebagai Putri tidur . Ada gak buk?" Semangat Zahra.


Perempuan itu mengernyitkan dahinya dan menggeleng pelan.


"Di sini tak menyimpan buku seperti itu anak, ku. Buku perjalanan para nabi dan rasul in shaa Allah di sini banyak, nak. " Jelas perempuan tersebut mematahkan semangat Zahra.


Zahra mengangguk kecewa dan pamit untuk undur diri. Ia pikir bisa menemukan buku tersebut, tapi nyatanya tidak.


Hell, Zahra bukan anak kecil lagi yah. Hanya saja buku itu sangat berperan penting dalam kehidupan Zahra. Ia masih menyimpan buku itu dirumah. Tapi sayang, saat dibawa ke sini ia tak sempat membawanya pergi.


Flash Back On


"Kakak punya sesuatu untuk Zahra. " Ucap seorang remaja laki-laki kepada seorang gadis kecil yang bernama Zahra .


Zahra tersenyum antusias, lantaran setelah beberapa minggu mereka berpisah akhirnya mereka berdua bertemu.


"Pangeran pulang.. " Teriak Zahra bahagia seraya berlari memeluk laki-laki yang disebut 'pangeran' .


Laki-laki tersebut tak mau kalah, ia pun membalas pelukan hangat sang putri kecil.


"Uh, putri kangen banget ya sama pangeran, hem? " Godanya.


Zahra mengangguk sedih  matanya mulai berkaca-kaca.


"Kak Razi jahat, kak Razi tinggalin Zahra. " Curhat Zahra dengan air mata yang hampir keluar dari persembunyian nya.


Razi menatap Zahra dalam. Melihat wajah cantik putri kecilnya yang terlihat menggemaskan.


"Maafin, pangeran yah. Pangeran juga gak mau pisah sama tuan putri. Tapi mau bagaimana lagi, ini semua pangeran lakukan untuk tuan putri juga. Karena pangeran tidak mau putri pergi dari sisi pangeran. " Jelas Razi memohon maaf kepada Zahra.


Zahra tersenyum manis dan mengangguk patuh, memaafkan Razi.


"Tapi kenapa pangeran harus pergi?" Tanya Zahra polos.


Razi tersenyum.


"Pangeran kan bisa diam dirumah aja kalo gak mau liat Zahra pergi. " Tanya Zahra polos.


Razi semakin melebarkan senyumnya. Mengangkat tangan kanannya bergerak menyingkir kan helaian rambut Zahra yang nakal menghalangi wajah Zahra dari pandangan nya.


Mengelus pipi Zahra lembut.


"Kakak harus pergi Zahra, kakak gak bisa tinggal dirumah dengan Zahra. "


Zahra sendu.


"Tapi tuan putri harus ingat, kemana pun pengeran pergi pasti akan kembali kepada tuan putri. Karena tuan putri adalah dunia kakak. Karena Zahra adalah pemilik hati kakak. " Ungkap Razi serius.


Zahra tersenyum bahagia dan memeluk Razi dengan hangat.


"Awas ya kalo kakak bohong. Ingat, Kak Razi hanya milik Zahra. Gak boleh yang lain." Ancam Zahra tajam.

__ADS_1


Razi terkekeh dengan tingkah lucu Zahra dan membalas ancaman Zahra dengan kecupan ringan dikening Zahra.


"Oh, ya kakak lupa. "


"Kakak bawain Zahra sesuatu." Ucap Razi seraya memberikan paper bag warna pink kepada Zahra.


Zahra menerima nya dengan antusias dan tanpa banyak tanya.


Ia langsung membuka paper bag tersebut tanpa menunggu perintah dari Razi.


Zahra tersenyum antusias begitu mengetahui isi paper bag tersebut.


Sebuah buku.


Cerita bergambar.


"Putri tidur?" Gumam Zahra membaca judul buku tersebut.


"Iya, Putri tidur. "


"Kok judul nya aneh?" Tanya Zahra polos.


Razi tersenyum lembut, lesung pipinya terlihat menampakkan diri setiap kali ia tersenyum. Menjadi candu tersendiri bagi Zahra.


"Kakak gak tau pasti cerita nya, Zahra. Karena kakak kan gak pernah baca buku princess seperti ini, tapi kakak pernah dengar jika cerita nya sangat bagus. "


"Benarkah?" Tanya Zahra antusias.


"Benar, jadi buku ini menceritakan seorang putri cantik yang dikutuk seorang penyihir jahat. Ia mengutuk putri tersebut saat masih kecil dan sedang terlelap. Ia mengatakan bahwa gadis ini akan tumbuh menjadi putri yang cantik, namun saat umur 17 nanti putri akan tertusuk jarum hingga membuat putri tertidur untuk selama-lamanya. "


Zahra diam menyimak.


"Benar, kutukan tersebut terjadi. Saat umur 17 putri tertusuk jarum hingga membuat nya tertidur. Sang penyihir berpesan, bahwa yang bisa mematahkan kutukan tersebut dan membangunkan putri dari tidur panjang nya adalah cinta sejati. Ia akan mendapat ciuman dari pangeran yang mencintai nya dengan sungguh-sungguh. Dan benar, disaat keluarga kerajaan putus asa dan memutuskan untuk berhenti berharap tiba-tiba datanglah seorang pangeran yang tanpa disangka justru adalah cinta sejati nya. " Razi mengakhiri cerita nya dengan happy ending.


Zahra tersenyum dan memeluk buku tersebut erat.


"Zahra mau jadi putri tidur juga."


Razi terhenyak.


"Dan kak Razi adalah pangeran nya. "


"Kenapa?"


"Karena nanti kak Razi akan jauh dari Zahra dan saat kak Razi pulang nanti dan menemukan Zahra sedang tertidur, Zahra mau kak Razi yang membangun kan Zahra. Kak Razi janji yah, bakal bangunin Zahra. " Mohon Zahra lembut.


Razi merasa hatinya menghangat dan tersenyum bahagia.


"Kakak janji saat bertemu Zahra nanti, kakak yang akan menjadi orang pertama yang membangun kan Zahra. Putri kecil kakak. " Janji Razi yang langsung disambut antusias Zahra.


Flash Back Off


"Nak.. kamu baik-baik saja kan?" Tanya perempuan penjaga perpustakaan itu khawatir, membuat Zahra langsung tertarik dari alam bawah sadar nya.


Zahra gelagapan dan menggeleng cepat.


"Tapi kamu kenapa nangis, nak? Kamu baik-baik saja kan? " Tanya nya lagi khawatir.


Zahra meraba pipinya terburu-buru. Dan benar saja, Zahra mendapati jejak air matanya yang masih basah. Tanpa menunggu lagi, ia langsung mengusapnya kasar.


"Saya gak apa-apa, buk. " Tekan Zahra.


Perempuan tersebut mengangguk maklum, tak ingin mengorek privasi santriwati nya.


"Ini bukan buku yang kamu cari?" Tanya perempuan tersebut seraya memberikan Zahra sebuah buku.


"Putri tidur. " Gumam Zahra membaca judul buku tersebut.


Zahra terhenyak, pasalnya buku tersebut sangat mirip dengan pemberian kak Razi. Bukan hanya mirip, akan tetapi sama persis. Tak ada bedanya.


"Tapi bukan kah.. "


"Saya menemukan nya diantara rak-rak gudang, teringat kamu jadi saya langsung mengambilnya. " Jelas perempuan itu.


Zahra terdiam, masih berpikir.


Hingga perempuan itu pergi pun Zahra masih tak bergeming.


Tiba-tiba Zahra langsung tersadar akan sesuatu. "Hiks.. " Isak Zahra akhirnya ia keluarkan.


Terduduk lemas, "Aku tau wangi ini. " Gumam Zahra seraya mencium buku tersebut yang masih menyimpan wangi pemilik pertama.


"Aku rindu. " Ucap Zahra disela-sela isaknya.


"Aku masih menunggu, menunggu kakak membangunkan ku. Kakak gak lupakan?" monolog Zahra sendu.


"Karena hanya kakak yang bisa." Bisik Zahra.


Sementara itu dibalik rak-rak buku yang menutupi Zahra dari pandangan orang-orang, berdiri seseorang yang selama ini membututi kemanapun Zahra pergi.


Ia tersenyum sendu. Menahan rindu yang tak sempat tercurah kan beberapa tahun. Bahkan walaupun dulu sempat bertatap muka dirumah, ia tak pandai melobi hatinya.


"Kakak gak mungkin lupa sama janji kakak. "


"Kakak akan selalu kembali kepada mu, bagaimana-pun dan dimana-pun itu. "


"Kakak juga sedang berusaha menepati janji yang lain, berusaha membangunkan tuan putri kakak. "


"Kakak sedang mencari nya, mencari cara agar kamu bisa terbangun lagi. " Ucap Razi sendu.


Ia sakit melihat Zahra yang terduduk lemas dilantai seraya memeluk buku pemberian nya dengan erat. Ia masih sama, masih dalam bayangnya.


"Kakak tetap milik kamu, Zahra." Gumam Razi sebelum akhirnya pergi lantaran mendapatkan panggilan dari pihak pengurus kantor.


Sementara itu Zahra masih shock, ia berpikir jika selama ini Razi berada di sekitar nya.


"Tapi dimana? " Monolog Zahra.


"Apakah kakak masih ingat, kakak adalah milik Zahra seorang. Kakak hanya milik Zahra."


 


\*


 


Semenjak kejadian diperpustakaan, pikiran Zahra terbagi menjadi dua. Pertama, Zahra yakin jika selama ini yang mengikuti nya kemana-mana adalah Alif. Mengingat pertemuan nya di masjid menjadi titik terang bagi Zahra. Kedua, Zahra ragu jika Razi mengikutinya di sini. Walaupun buku dan wangi tersebut menjadi pertimbangan, akan tetapi tetap saja. Kejadian saat terakhir kali Zahra bertemu dengan Razi, ia sangat marah pada dirinya dan berakhir mendapatkan tamparan dari Razi. Tamparan yang membuat Zahra semakin yakin jika Razi benar-benar telah hilang.


"Zahra, kok melamun terus sih?" Tanya Dira yang berada disamping Zahra.


Zahra terkejut dan secepat kilat membantah dengan menggeleng.


"Aku oke, jangan khawatir. " Jawab Zahra tenang.


Dira mengangguk paham, tak ingin membuat mood Zahra menjadi lebih buruk.


"Itu buku siapa?" Tanya Dira penasaran.


Dira melirik buku yang sedari tadi ia peluk.


"Bukankah perpustakaan dilarang menyimpan buku seperti itu. " Jelas Dira.


"Ah, ini buku ku. " Jawab Zahra gugup.


"Benarkah, dari siapa? " Pancing Dira.


"Hah?" Bingung Zahra.


"Itu dari siapa Zahra, kan dari asrama kamu gak bawa apa-apa tadi. Dan juga kamu gak punya koleksi buku seperti ini jika kau lupa. "


Zahra gugup.


"Ah, ya.. Ini dari seseorang. " Jawab Zahra ragu.


"Seseorang? "


"Hem."


"Siapa?"


"Rahasia ku." Putus Zahra.


"Apakah kamu bertemu dengan nya secara langsung?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Lalu?" Tanya Zahra tidak mengerti.


"Darimana kamu tau jika itu adalah seseorang dari 'Rahasia'mu?" Tanya Dira menuntut.


"Surat? " Tanya Dira tak sabaran.


"Tidak. "


"Terus? "


"Wangi. " Ucap Zahra tersenyum kecut. Karena ia masih bimbang dengan pemikiran nya. Ia yakin karena buku nya sama persis dengan pemberian Razi saat kecil. Apalagi wangi familiar yang tak pernah Zahra lupakan masih melekat dibuku ini. Ia yakin, Razi di sekitar nya. Buktinya, perpustakaan jelas-jelas tidak mengoleksi buku seperti ini. Menemukan digudang?


Hell, jelas-jelas ini masih baru.


"Wangi?" Tanya Dira memancing.


"Hem, seseorang itu mempunyai wangi yang sangat familiar untuk ku. Dan hanya dia satu-satunya yang mempunyai wangi seperti ini, terasa nyaman dan damai. " Jawab Zahra tenang.


"Boleh Marwah pinjam enggak, mbak?" Sahut Marwah terlihat antusias melihat buku yang ada di pelukan Zahra.


Zahra memeluk buku tersebut semakin erat.


"Tidak Marwah. " Tolak Zahra tegas.


"Kenapa mbak?"


"Karena ini satu-satunya alasan aku untuk terus ber-"


"Lupakan. " Putus Zahra.


"Jadi bisak-"


"Tidak dan jawaban ku akan selamanya tidak, hingga ia benar-benar datang membangunkan ku. "


"Mbak kan udah bangun." Celoteh Marwah tidak mengerti.


"Sampai hari itu tiba aku akan menunggu, maka dari itu bersabarlah Marwah. Jika tidak kunjung datang, maka kau tidak akan dapat membacanya. " Ucap Zahra diakhiri kekehan.


Dira menatap wajah Zahra lembut. Ia tersenyum. Tulus.


Dia sedang berusaha, dia sedang berusaha untuk membuat mu kembali. Hanya saja, itu butuh waktu untuk mu tersadar jika selama ini pangeran tampan mu selalu berada didekat mu. Karena dia hanya milik mu, Zahra. Batin Dira.


"Hanya waktu yang akan membawa kalian kembali." Ucap Dira pelan berhasil membuat Zahra terhenyak.


"Hem. " Balas Zahra masih merenungi ucapan Dira. Lagi-lagi Dira bertingkah aneh.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2