Sekotor Itukah Aku

Sekotor Itukah Aku
Pupus


__ADS_3

*Ku ingin terbang memeluknya.


Namun, setiap kali aku mendekatinya selalu saja duri-duri itu menusuk ku.


Dewi Asri Rahma*.


 


\-\-\-\-\-\-


 


Dewi P. O. V


Setelah keluar main pertama datang, aku memutuskan berbicara empat mata dengan Fia, sahabat terbaik Zahra.


Zahra adalah gadis yang sangat ceria dan periang, semua orang bisa melihatnya.


Tapi tidak bagiku.


Bagiku Zahra hanya bermuka topeng di sekolah ini dan dia hanya bersandiwara saja menganggap bahwa tak ada yang pernah terjadi selama ia tertawa, akan tetapi sebenarnya di belakang kami semua ia sangat kesepian, sangat terluka.


Dulu saat aku pertama kali mengenalnya aku sering mendengar cerita-cerita tentang Zahra, tentang keluarganya yang membencinya. Awalnya aku tak percaya, tapi saat aku membaca buku diari Zahra akhirnya aku percaya.


Flash back on


"Zahra, kita ke kantin yuk."


Panggil Fia tak sabaran seperti cacing kepanasan.


"Gue gak laper, Fi." Jawab Zahra santai.


Aku sedikit geli melihat ekspresi Zahra yang sangat datar menanggapi panggilan Fia yang sudah sangat mirip dengan cacing kepanasan.


Fia mengambil nafas, lalu dengan manja nya ia berteriak sekuat-kuatnya. "Aaaaa..gue gak mau tau, Ra, lo harus ikut gue ke kantin. Temenin gue." Teriak Fia yang sudah tidak ingin ditolak.


Zahra mendongakkan wajahnya, menatap Fia dengan tatapan datarnya. Beberapa menit kemudian, Zahra kembali menundukkan pandangannya dan kembali fokus dengan buku tulis tebal berwarna abu-abu.


Seperti buku diari, tapi mana mungkin Zahra si cewek brandal berkutat dengan buku diari yang secara notabene adalah buku untuk gadis cupu, alias gadis kesepian.


Sekali lagi aku ingin tertawa karena melihat ekspresi Zahra yang masih datar menanggapi Fia.


"Lo kan bisa di temani Ann atau Latifa,"


Zahra menghentikan ucapannya, lalu berpaling melihat wajahku yang juga sedang memandang wajahnya. Beberapa detik ia menatap mataku, Zahra pun kembali menatap Fia.


"Juga kan lo bisa di temani Dewi atau sekalian aja kalian berempat yang ke kantin." Sambung Zahra.


Mendengar jawaban Zahra, Fia langsung bereaksi dengan memasang wajah polosnya yang asli membuat ku ingin muntah.


"Ra, lo mau liat gue di labrak lagi sama kak Yola?. Lo kan gak ada di samping gue, so bisa saja dia ngelabrak gue lagi kayak kemaren." Fia merengek, membuat ekspresi tidak berdayanya. Melihatnya membuat ku ingin muntah saja.


Mendengar alasan Fia, Zahra langsung menatap tajam mata Fia hingga akhirnya Zahra berdiri dan memutuskan untuk menemani Fia ke kantin. Melihat pemandangan itu, jujur aku sangat iri kepada Fia.


Entah, mungkin hanya perasaan ku saja atau apa tapi setiap kali Fia dalam kesulitan, orang pertama yang datang membantunya adalah Zahra. Sigh, aku menginginkanya.


Setelah kepergian mereka berdua, aku pun berniat ingin menyusul mereka berdua. Akan tetapi, saat aku melewati bangku Zahra aku melihat buku yang berwarna abu-abu milik Zahra tergeletak tidak berdaya dibawah bangku Zahra.


"Ini memang buku diari.." Gumamku sambil memungut buku diari Zahra.


"Bagaimana buku ini bisa terjatuh? oh, mungkin sewaktu Zahra berdiri ia tak sengaja menyenggol buku diari nya.." Gumamku menebak pertanyaan ku sendiri.


Aku pun berniat meletakkan kembali buku diari Zahra, namun karena aku penasaran aku pun memberanikan diri untuk membukanya.


Hal 1


Dear, diary.


Ini tentang hariku, tentang perjalanan hidupku yang kesepian. Yang hampa akan


kasih sayang dari mereka.


Dear?


Apakah aku salah meminta sedikit saja perhatian mereka, apa aku salah dear?


Setiap kali aku berpikir, mengapa aku selalu merasa bahwa keberuntungan ku tidak sama dengan anak seusia ku yang lain.


Mereka tinggal dirumah dengan keluarga nya, aku pun sama. Mereka punya orang tua yang membesarkan mereka maka aku pun sama.


Akan tetapi,


Mereka dibesarkan dengan kasih sayang lalu mengapa aku tidak?


Dear, mengapa itu tidak terjadi sedangkan aku tidak?


Zahra affianisha.


Tanpa ku sadari, air mataku terjatuh mengenai lembaran buku Zahra.


Benarkah ini kamu Zahra?


Sungguh, kamu sangat berbeda di sini.


Untuk memperjelas curahan hati Zahra, aku pun membaca lembaran berikutnya.


Hal 2


Dear, diary.


Apa kamu tau hari ini apa yang terjadi?


Mungkin..kau tak tau, tapi akan ku ceritakan semuanya.


Dear, pagi tadi kak Razi mengujiku lagi. Mungkin kata-kata kak Razi yang kemarin tidak terlalu ku pikirkan, akan tetapi kata-kata kak Razi hari ini membuatku sakit bahkan sangat sakit.


Tahukah kamu dear, apa yang dia katakan kepadaku?


Ia membandingkan ku lagi dengan kak Annisa. Sejauh ini aku selalu menerima apa-pun yang ia katakan kepada tapi tidak dengan hal yang berkaitan dengan kak Annisa.


Entah, aku tidak tahu mengapa aku sangat membenci diriku yang dibanding-bandingkan dengan kak Annisa. Aku menerima nya jika itu orang lain, tapi tidak dengan Annisa.


Dear, itu mungkin karena perubahan dia dan mereka adalah karena kak Annisa. Karena kak Annisa, ia membuat pangeran tampan ku melupakan ku dan karena kak Annisa, abi dan umi juga melupakan diriku.


Dear, sejauh ini mereka selalu menyudutkan ku di saat aku melakukan sebuah kesalahan. Aku menerima perasaan sakit itu, akan tetapi ketika kesalahan yang ku buat dibanding-bandingkan dengan kak Annisa yang lembut, aku pikir aku memang tidak pernah ada dimata mereka.


Setiap kali membuat tindakan ceroboh sejujurnya itu aku lakukan karena aku ingin menguji mereka, apakah mereka akan bertanya dan mencari tahu mengapa aku seperti ini atau mereka hanya akan bersikap tidak perduli.


Dan ya, seperti yang kau lihat dear, keberadaan ku hanya menjadi bahan sebagai pembanding.


Tidak lebih.


Zahra Affianisha


Dan lagi, dada ini terasa sangat sesak membaca lembaran kedua ini. Aku tak pernah berpikir jika kehidupan Zahra sekacau ini, sungguh dengan wajah Zahra yang selalu tersenyum ceria dan tertawa lepas membuat ku selalu berpikir jika kehidupan Zahra sangatlah sempurna. Apa lagi kejadian waktu itu membuat Zahra mengungkapkan identitasnya sebagai anak pemilik saham paling besar di sekolah ini. Itu adalah sebuah kejutan fantastis yang bisa membuat semua orang berpikir bahwa Zahra adalah gadis yang beruntung. Paras wajah cantik, keluarga yang lengkap dan kaya raya. Siapa yang tak berpikir begitu jika Zahra sudah tertawa.


Tak kan ada yang berpikir negatife jika melihat Zahra yang di luar. Namun setelah melihat Zahra yang di dalam semua pikiran itu akan langsung sirna.


Tak ingin berlama-lama dengan pikiran ku, aku pun memutuskan membuka lembaran berikutnya. Namun saat tanganku akan menyentuhnya tiba-tiba suara teriakan Latifa yang cempreng terdengar.


"Woi, kejar gue kalo lo bisa."


"Gawat! pasti mereka berempat sedang menuju kemari".


Aku pun memutuskan untuk menutup buku diari Zahra dan meletakannya ke tempat semula.


Flash back off


Bukan hanya karena buku diari Zahra saja. Akan tetapi, terkadang aku diam-diam memperhatikan Zahra saat ia sedang sendiri. Pandangan itu, aku bisa melihatnya. Wajah Zahra terlihat murung dengan tatapan sendunya, bahkan pernah suatu hari aku melihatnya duduk sendiri di taman belakang sekolah.


Aku tak tau apa yang sedang ia pikirkan saat itu akan tetapi hari itu ia menangis.


Menangis?


Tak semua orang pernah melihatnya menangis dan aku beruntung dapat melihatnya.


Sigh, Setidaknya aku tau apa yang di sembunyikan Zahra dari dulu.


Author P. O. V


"Dewi, lo di sini?. Dari tadi gue cari-cari eh lo malah di sini. Ada apa, katanya ada yang pengen lo omongin sama gue? "


Tanya seorang gadis membuyar kan lamunan Dewi.


Terkejut, Dewi mendapatkan wajah bingung Fia didepan nya. "Ah, ya gue di sini-" Dewi menjawab bingung, terlihat berpikir.


"Apa ada masalah? " Fia bertanya khawatir.


Dewi menatap wajah Fia dengan tatapan yang tak bisa dimengerti oleh Fia.


"Wi, kok lo ngelamun sih? gue nanya di jawab dong."


Tegur Fia yang langsung mengembalikan kesadaran Dewi.


"Kalo lo beneran mau niat ngomong ama gue sehar-"


"Ini soal Zahra." Potong Dewi cepat.


Setelah mendengar nama Zahra disebutkan Fia langsung merespon cepat pernyataan Dewi.


"Zahra kenapa, Wi?"


"Zahra dalam keadaan bahaya, Fi."


"Bahaya, maksud lo, Wi?


gue masih belum mengerti. "

__ADS_1


"Jadi gini Fi, tadi pagi itu gue denger percakapan Andr-"


"Dewi!."


Panggil Andrini menghentikan ucapan Dewi.


Dewi langsung memalingkan wajahnya ke arah Andrini dan Latifa yang sudah berdiri di belakangnya.


"Ann, lo kok-"


"Lo dipanggil sama buk Yuli, di suruh keruang guru katanya" Putus Latifa.


Merasa bingung, "Buk Yuli?" Tanya Dewi seperti sedang berpikir.


"Iya."


"Udah sana, daripada lo kelamaan mikir mending lo ke ruang guru aja. Nanti kalo lo telat dimarah lagi sama buk Yuli." Saran Andrini seraya mendorong bahu Dewi menjauh dari Fia.


Walaupun bingung, ia tetap mengiyakannya. "Oh, ok. Fi, kita lanjutinnya nanti aja yah di dalam kelas" Ucap Dewi seraya berlari ke ruang guru.


"Sebenarnya Zahra kenapa sih?


ah, Dewi belum sempet jelasin lagi." Kesal Fia seraya menatap kepergian Dewi.


Mendengar kekesalan Fia, Andrini dan Latifa pun saling pandang, memberi kode.


"Ooo..emang tadi Dewi ngomong apa aja ke lo?"


Andrini mencoba menggali informasi.


"Gue juga gak tau sih, tapi tadi itu dia bilang kalo Zahra dalam bahaya gitu deh. Ah, tapi gue gak ngerti apa maksudnya dia." Sesal Fia menjawab Andrini.


"Oh, gitu."


"Ya udah, gue ke BK dulu yah. Di panggil sama buk Dewi." Pamit Fia seraya berbalik badan dan berjalan menuju ruang BK.


Setelah punggung Fia menghilang dari pandangan mereka, mereka pun melanjutkan obrolan mereka.


"Tu, kan gue bilang apa!, Dewi itu penghianat, Ann!" Kesal Latifa seraya menatap marah ke arah Dewi terakhir kali menghilang.


Mengangguk ringan, "Sigh, gue gak pernah berpikir sampai sejauh ini," Menatap Latifa yang kini sudah menatapnya.


"Kita berikan pelajaran sedikit, untuk efek jera. " Ucap Andrini santai sambil mengotak-atik hand phone nya dan setelah itu ia mulai tersenyum lebar.


 


\\*


 


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." Jawab buk Dewi.


"Ibu manggil saya?" Tanya Fia sopan.


Buk Dewi terlihat tersenyum ketika memandangi Fia yang kini sudah berdiri di depannya.


Buk Dewi kagum melihat perubahan Fia yang maju pesat, bukan hanya dari sikap akan tetapi baju seragam yang Fia gunakan pun sudah menutupi aurat walaupun belum menggunakan hijap.


"Buk?"


"Maaf, bukan saya tapi pak Alif. Pak Alif ada di ruangannya, kalo begitu, saya permisi dulu. Assalamualaikum." Pamit buk Dewi sambil menjawil pipi tembem Fia.


"Pak Alif?" Gumam Fia.


"Silahkan duduk, Fi."


Intruksi Alif yang tiba-tiba muncul dan langsung duduk di sofa yang telah ada.


"Ah, iya pak. Tapi, ngomong-ngomong bap-"


"Kamu gak usah formal gitu, Ra. Saya ini kakak kamu" Potong Alif cepat.


"Tapi, pak-"


"Kenapa kamu harus membuka jilbab kamu?. Kenapa kamu harus mengambil resiko sebesar ini?" Tanya Alif to the point kepada Fia dengan santai namun terdengar tegas.


"Pak, masalahnya kita ada di-"


"Jangan uji kesabaran saya, Kira. Saya ingin kamu seius!."


"Tapi, pak masalahnya sekarang ini kita ada di-"


"LUTFIA ASAKIRA!!!" Bentak Alif tak tahan lagi.


"Saya gak perduli kita sedang ada dimana, yang saya perduli itu penjelasan kamu!, kenapa harus sejauh ini, Kira?" Sekali lagi Alif bertanya lagi, akan tetapi ini dengan nada serius.


Fia menelan ludah dengan bentakan Alif. Ia berpikir jika Alif hanya asal bicara saja namun, ternyata kali ini Alif benar-benar serius dengan pertanyaannya.


"Jawab, Kira!, jangan biarkan sa-"


"Saya tau, tapi kenapa harus sejauh ini, Kira?. Apa kamu gak takut jika umi kamu tau apa yang telah kamu lakukan di sini, apa kamu gak takut jika keluarga di pondok tau apa yang sebenarnya terjadi?"


"Astagafirullah, kakak ini ngomong apa sih? ya, jelaslah Kira takut kalo umi sama abi tau. Tapi mau gimana lagi kak, hanya ini satu-satunya cara agar Kira bisa mendekati dia dan juga karena itulah kakak harus tutup mulut. Hm, bukan cuma kakak aja, kak Razi juga udah janji tutup mulut dan kak Annisa juga gak bakal cerita ke keluarga di pondok kalo Kira sama Fira seperti ini."


Alif menghela nafasnya dengan berat setelah mendengar penjelasan dari Fia. Menatap wajah sepupunya ini dengan tatapan lemah.


"Sampai kapan?" Tanya Alif bersuara.


"In shaa Allah, tinggal sebentar lagi." Yakin Fia.


"Ok, sementara kakak menunggu janji kamu, saya sama Razi besok mau ke pondok lagi untuk mengurus acara pengajian yang akan di adakan beberapa hari lagi di sekolah ini."


Fia menganggukan kepalanya dengan semangat.


"Ok, kamu boleh pergi sekarang."


Fia kembali menganggukkan kepalanya dan bersiap akan pergi, namun langkahnya pun terhenti karena teringat akan sesuatu.


"Gus.." Panggil Fia.


Alif terlihat membelalakkan matanya setelah mendengar Fia memanggilnya.


"Kira, ini di sekolah bukan-"


Memutar bola matanya mengejek, "Tadi gus bilang kalo gus gak perduli kalo kita sedang ada dimana, nah sekarang kok gus perduli?" Tanya Fia sambil terkekeh.


"Sigh, ok, ada apa Kira?"


"Hm, gus, menurut gus kalo Zahra gimana?" Tanya Fia dengan wajah yang penasaran.


"Zahra, gimana apanya?"


"Gimana kalo Zahra yang jadi calon istri gus?" Pancing Fia seraya menilai ekspresi Alif.


Alif hanya menggeleng pelan dengan pertanyaan Fia.


"Belum saatnya kita membicarakan ini."


Fia menggelengkan kepalanya cepat, tak terima dengan pernyataan Alif.


"Kenapa?" kejar Fia.


"Karena..karena bel masuk sudah berbunyi dan sudah waktunya kamu masuk kelas."


Fia tersenyum geli dengan sikap Alif yang terlihat salah tingkah.


"Baiklah, kira masuk dulu yah gus, eits tapi Kira cuma mau ngasih tau aja kalo gus beneran suka sama Zahra lebih baik gus cepat mengambil langkah sebelum yang lain mulai bergerak.." Nasihat Fia di barengi dengan sebuah ejekan sembari berlari keluar dari ruang BK.


"Astagafirullah.." Alif menggeleng pelan, mencoba melupakan pertanyaan Fia.


Merasakan detak jantungnya melaju cepat dan tak biasanya terjadi.


Ya Allah, hamba merasakannya lagi. Perasaan ini..perasaan yang seharusnya tak ada sebelum waktunya..


"Bukan hanya mereka yang menginginkan mu kembali, tapi aku juga akan terus berjuang hingga Allah membawa mu kembali ke jalannya yang lurus"


Gumam alif penuh tekat.


Setelah sekian lama berkutat dengan pikirannya sendiri, akhirnya Alif memutuskan untuk kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.


 


\\*


 


Dewi keluar dari ruang guru dengan raut wajah kebingungan dan dengan bermacam-macam pikiran yang memenuhi kepalanya.


"Kok aku ngerasa ada yang janggal dengan semua ini. Ann bilang kalo aku dipanggil sama buk Yuli, tapi setelah aku keruang guru ketemu sama buk Yuli, buk Yuli bilang kalo dia gak pernah manggil aku. Dan anehnya, buk Yuli kan guru pengajar khusus untuk kelas 12, sementara aku kelas 11. Jadi kalo dipikir-pikir secara logika buk Yuli gak mungkin manggil aku, secara kan buk Yuli gak kenal aku" Ucap Dewi berbicara sendiri dan membuat kesimpulannya sendiri.


"Berati-ya Tuhan!, apakah ini jebakan?" Tanya Dewi khawatir.


"Yaps, lo benar ini adalah jebakan yang khusus untuk lo seorang." Ucap Yola yang tiba-tiba sudah ada di depannya.


Dewi melangkah mundur dengan perlahan-lahan menahan ketakutannya.


"Jangan harap lo bisa lolos dari sergapan gue." Ucap Yola sambil memberikan aba-aba kepada Rani dan Lala untuk beraksi.


Terkejut, Dewi tak bisa mengelak karena tubuhnya langsung di apit oleh Rani dan Lala yang secara sukarela menyeret tubuh Dewi kesebuah ruangan yang biasa disebut gudang oleh siapa pun yang melihatnya.


"Lepas, lepasin gue!" Bentak Dewi.


Rani dan Lala hanya tertawa garing mendengar bentakan Dewi.


Setelah sampai dalam gudang, Rani dan Lala pun mendorong tubuh Dewi ke arah lantai yang di penuhi debu. Terjatuh, Dewi merasakan jika lututnya terasa perih dan terbatuk-batuk karena debu yang tanpa sengaja ia hirup ketika terjatuh.

__ADS_1


"Ow, sakit yah?" Suara tepuk tangan diiringi dengan ejekan yang jelas tiba-tiba datang dari arah yang tergelap dari gudang tempat ia sekarang.


Menyipitkan matanya, Dewi langsung melebarkan matanya terkejut begitu mengetahui orang yang sedang mengejeknya adalah seseorang yang ia kenal. "Ann?" Dewi menatap tidak percaya, ia jelas tau bahwa Ann memang akan bertindak seperti ini tapi ia tidak tau bahwa ia akan secepat ini dalam bertindak.


Tersenyum sinis, ia balas menatap tatapan terkejut Dewi dengan ejekan. "Iya, ini gue. Biang dari semua ini. " Menjawab malas.


Menggeleng kan kepala nya, deru nafas berat tidak bisa tidak terdengar dari dirinya. "Lo..lo benar-benar keterlaluan, lo kelewatan batas, Ann!." Dewi tak habis pikir mengapa Andrini harus melakukan sesuatu yang seperti ini hanya karena dendam kecil. Berpikir lebih jauh, orang pun bisa menilainya bahwa apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang melewati batas.


"Melewati batas?, " Latifa bersuara sarkatis.


Menatap ekspresi Dewi dengan ekspresi cemoohan yang jelas, "Ini adalah hal yang wajar untuk pengkhianatan yang lo lakuin ke kita, sedikit bermain tidak apa-apa kan?"


Mengernyitkan kening nya, Dewi tak pernah merasa jika apa yang dilakukan nya adalah sesuatu yang salah. Ia hanya ingin melindungi Zahra dari kejahatan sahabat nya. Ia tidak berkhianat bukan?, ia hanya membantu Zahra untuk terlepas dari jerat rencana yang keji hanya karena dendam kecil.


"Berkhianat, lo bilang gue berkhianat?" Dewi mengulangi pertanyaan nya, ada rasa tidak rela ia di cap sebagai seorang pengkhianat.


Yola yang duduk diseberangnya memberikan tatapan malas, berpikir drama yang dimainkan Dewi adalah drama murahan yang sudah menjadi hal biasa dalam kehidupan. "Ya, lo adalah pengkhianat, seharusnya ini adalah hal yang jelas sejak lo berpikir membantu Zahra. "


Menatap marah, ia mengalihkan tatapannya ke arah Andrini dan memilih mengabaikan ucapan provokasi Yola terhadapnya. "Hei, lo sadar gak sih yang berkhianat itu kalian bukan gue." Dewi berucap sinis, ada nada sindiran yang kental di dalamnya.


"Termasuk gue?" Tanya Yola dengan raut wajah begok nya.


"Bukan lo, begok," Dewi membantah penuh emosi.


"Oh. " Yola mengangguk dengan ekspresi mengejek.


"Ann, Fa, gue gak tau kalo lo benar-benar lupa sama janji kita berlima. Gue harap lo gak akan lupa. "


Mendengar nya membuat Andrini tertawa masam, "Janji persahabatan?"


"Lo yakin gue akan menganggap hal serius hal idiot seperti itu?. Wi, gue tau lo ngerti betul jalan pikiran gue selama ini. Gue bukan termasuk kumpulan manusia idiot seperti kalian yang mau saja diperbodohi oleh dia. "


Dewi menggeram marah, ia tidak terima dikatakan orang idiot karena selama Zahra bukanlah orang seperti itu. "Kali-"


"Gak usah drama, tolong, " Yola berdiri dari tempat duduknya, lalu dengan langkah yang angkuh ia berjalan ke arah Dewi yang sedang terduduk takut dilantai.


"Gak usah heran, Yo, dia kan korban ftv jadi berasa lagi main tv dia mah. " Mengejek santai, Latifa juga berjalan mendekati Yola yang kini sedang asik menatap ekspresi ketakutan Dewi.


Tak tau melakukan apa, Dewi hanya bisa menyerah karena jauh dari dalam dirinya ia tau bahwa melawan mereka bertiga bukanlah sesuatu yang mudah. "Sebenarnya apa yang kalian inginkan?"


Yola dan Latifa langsung saling pandang begitu pertanyaan ini keluar dari mulut kecil Dewi.


"Tentu saja, jauhi Zahra. " Menjawab santai, Yola diam-diam memperhatikan ekspresi sedih Dewi kini berubah menjadi ekspresi kemarahan.


Menatap tidak percaya, "Jauhi Zahra?, " Ada kemarahan yang terselip dalam nada bicaranya.


"Gak, gue gak bisa." Bantah Dewi tanpa berpikir panjang.


Mendengar penolakan Dewi, akhirnya Andrini yang sedari tadi hanya menonton pertunjuk mulai tidak tahan lagi. Meninggal kan tempat duduknya, Andrini membawa langkahnya ke arah Yola dan Latifa yang sedang menekan Dewi.


Sesampainya di sana, Andrini langsung berjongkok di depan Dewi. Membawa tangannya untuk mengelus pipi mulus Dewi, ia tersenyum tipis sebagai sambutan tulus. Melihat Andrini tersenyum seperti ini membuat Dewi merasakan perasaan dingin yang dan berhasil membuat nyalinya semakin mengecil.


"Permintaan gue bukanlah hal yang sulit dan sangat sederhana, gue hanya minta lo jauhi Zahra dan bukan bunuh orang tua lo,"


Dewi memang merasakan perasaan takut karena diintimidasi Andrini, namun perasaan tak ingin melindungi Zahra masihlah mendominasi Dewi. Dengan pelan ia menggeleng kan kepalanya pelan, menolak secara halus permintaan Andrini yang tidak masuk akal.


Geram, Andrini langsung menggenggam rambut Dewi tanpa belas kasih. Menariknya, ada tatapan mengancam yang ia arahkan kepada Dewi.


"Menolak, lo harus tau konsekuensi apa yang akan lo dapatkan dari melawan gue. Lo tau bukan, gue adalah tipe orang yang seperti apa?." Mengancam, ia melepas cengkeraman tangannya dirambut Dewi. Lalu, menyentuh kembali pipi mulus Dewi seraya memberikan tepukan pelan.


"Tapi, An-"


"Gue harap lo ngerti apa yang gue mau. Hanya menjauhinya bukanlah sesuatu yang melanggar hukum. Lagi pula, walaupun lo ada disekitarnya juga lo tidak akan pernah terlihat dimata Zahra." Memotong cepat, Andrini menatap Dewi dengan tatapan kasihan. Ia mengatakan hal yang sejujurnya ia rasakan kepada Dewi. Tidak ada yang pernah terlihat dimata Zahra, bahkan mereka yang selalu ada di sekelilingnya. Bagi Zahra, mereka semua adalah sesuatu yang tidak penting dan tidak berguna. Hanya satu orang, ya, selama ini yang didapatkan Andrini satu-satunya orang yang mampu membuat Zahra berbicara santai adalah Fia. Gadis aneh itu, ia selalu menyembunyikan identitas keluarga nya. Tak ada yang tau ia berasal dari mana, bahkan yang selalu menghadiri rapat orang tua hanya pembatu rumahnya dan bukan orang tua nya yang masih ia rahasiakan sosoknya.


Menggeleng pelan, "Lo salah, An-"


"Stop, gue gak butuh omong kosong lo lagi. Tutup mulut lo dan laksanakan perintah yang gue berikan maka kehidupan lo akan baik-baik saja. " Berdiri, ia menepuk pakaiannya membersihkan debu. Ada kesan jijik yang ia lemparkan kepada Dewi yang sedang duduk termenung.


"Yu, guys. Saatnya kita cabut, gak kuat gue nafas di tempat seapek ini. " Tak ingin membantah, Yola dan Latifa hanya bisa menganggukan kepala seraya berjalan keluar mengikuti langkah Andrini.


Namun sebelum Andrini benar-benar keluar dari pintu gudang tersebut, Andrini menghentikan langkahnya dan membalikan badannya menghadap posisi Dewi yang masih duduk termenung.


"Wi, dengar, gue gak pernah janji lo akan baik-baik saja setelah tidak menaati perintah gue. Dan sebaliknya, lo taati perintah gue maka semuanya akan baik-baik saja. Karena lo sudah terlanjur ikut campur, jadi lo harus bisa mencermati taktik aman saat bermain. " Menatap dingin Dewi yang masih kukuh menggeleng kan kepalanya, Andrini tau Dewi hanya masih keras kepala.


Dewi tersenyum kecil, lebih kepada miris menghadapi sikap angkuh dan keras kepala Andrini. "Lo bukan cuma nyakitin Zahra, tapi orang-orang yang ada di sekitarnya juga." Dewi mencoba meluluhkan hati Andrini walaupun ia tau itu tidak mungkin. Seperti yang ia katakan, yang terluka bukan hanya Zahra melainkan orang-orang yang ada di sekitar nya juga.


Tertawa kecil, Andrini menatap angkuh Dewi.


"Tujuan gue hanya Zahra dan bukan ke yang lain. Akan tetapi, jika ada yang terluka dengan apa yang gue lakukan itu berati dia sudah berani ikut campur dalam rencana ini. Untuk mereka yang pemberani gue akan pastikan akan mendapatkan imbalannya, termasuk lo, Wi. Jika lo masih ingin hidup tenang maka lo harus melaksanakan perintah gue, tapi jika lo masih keras kepala maka lo akan mendapatkan konsekuensi dari apa yang lo lakukan." Menyelesaikan ucapannya, Andrini langsung membawa langkahnya meninggalkan Dewi yang langsung menatap nya dengan tatapan linglung.


Terdiam, tiba-tiba suara isak tangis terdengar. Entah darimana asalnya, perasaan yang sangat menyesakkan langsung memeluk tubuh bergetar Dewi.


"Maafin gue, Ra. Gue kalah, gue telah kalah!. Mereka terlalu kuat, mereka terlalu jahat, dan gue gak akan bisa berbuat apa-apa lagi dengan semua ini." Sesal Dewi merasa tidak berdaya.


"Duri-duri itu terlalu tajam untuk ku lewati, lantas apa yang harus ku lakukan dengan semua kekalahan ini?"


 


\\*


 


Zahra P. O. V


Aku tak bisa berhenti memperhatikan semua aktifitas umi di kamar ku ini.


"Innalillahi, kamar kamu kok berantakan gini, dek? masih bisa tidur lagi." Komentar umi melihat kamar ku yang berantakan seperti kapal pecah.


Senang rasanya jika umi melakukan ocehan ini di setiap pagi, pasti hari-hari ku akan menyenangkan.


Namun, sekali lagi semuanya hanya mimpi ku saja. Itu semua tak akan pernah terjadi, selamanya.


"Umi." Panggil ku dengan suara yang sedikit terdengar parau.


Namun, umi masih tak menghiraukan panggilanku dan lebih sibuk dengan barang-barang ku yang berantakan.


Merasa sedikit kesal, aku memanggilnya lagi. "Umi.. " Panggil ku dengan teriakan yang lumayan keras bagiku.


"Astagafirullah.." Kaget umi seraya menyentuh dadanya.


"Hehe.." Tawa ku cengengesan.


Umi hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan ku.


Berjalan, "Ada apa sayang?" Tanya umi seraya mendekati ku.


"Umi, tadi pagi itu..kak Razi.."


"Iya, sayang tadi pagi umi nitipin sesuatu ke kamu dan kebetulan tadi pagi umi ada keperluan jadi gak bisa langsung nganterin kamu sayang." Ucap umi menjelaskan dan berhasil membuat ku menyesal bertanya.


Sigh..sudah ku duga jika itu tak mungkin terjadi. Aku terlalu besar kepala mengharapkan sesuatu yang memang mustahil untuk ku.


"Kamu nangis nak, kamu kenapa sayang?" Tanya umi yang langsung membuyarkan lamunanku.


Meraba pipiku, "Hah, nangis?, aku nangis?"


Dan benar saja, saat ku menyentuh pipi ku memang terasa basah dan hangat.


Aku menangis?


Di depan umi?


Ah, shit. Aku harus menacari alasan, bagaimana pun aku tidak boleh terlihat lemah di depan nya.


"Kenapa nak, perut kamu masih sakit?." Umi bertanya khawatir.


Ah, ya, aku bisa menggunakan ini sebagai alasan


"Hm, iyah umi. Perut Zahra masih sakit." Jawab ku beralasan.


Umi menatap ku iba dan beringsut memeluk ku.


Ah, sudah lama rasanya sejak aku merasakannya terakhir kali.


"Ya, udah umi keluar dulu yah mau bantuin Razi nyiapin bajunya. Sementara itu kamu istirahat ya, nak."


Nyiapin baju?


Emang kak Razi mau kemana?


Berapa lama?


Sampai kapan?


Karena tak mau dilanda kebingungan, aku pun memberanikan diri bertanya sebelum umi pergi.


"Umi.."


"Ya.."


"Emang kak Razi mau kemana?"


Umi terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan ku.


"Razi sama abi mau ke pondok pesantren, ada urusan." Jawab umi sebelum akhirnya memberi salam dan menutup pintu kamar ku.


Ke pondok pesantren?


Kak Razi?


Abi?


Apa yang sedang mereka lakukan di sana?


Apakah mungkin...ah, shit!


Ini benar benar gila.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2