
Begitu sampai di gerbang, Alif bisa melihat jika ada beberapa laki-laki besar yang berasal bukan dari pondok pesantren. Di antara mereka ada beberapa orang yang Alif lihat saat menyelamatkan Aisha, para preman itu wajahnya masih memar dan penuh akan tatapan membunuh. Seakan-akan mereka bisa saja menelan para pihak yang mengamankan pondok pesantren.
"Assalamualaikum, Gus Fansyah." Salam Nabila, pemimpi asrama putri kepada Alif.
"Waalaikumussalam, dimana Aisha dan Nabila?" Tanya Alif karena tidak melihat keberadaan dua gadis ini di sini. Ia takut jika Aisha dan Annisa kenapa-napa, menimbulkan trauma yang berat kepada dua gadis ini.
Nabila dengan bijaksana menundukkan pandangannya, menjaga batasan antara ia dan Alif. Sejak kejadian Razi menegurnya dulu Nabila sudah bertekad untuk berubah, apalagi saat ia tahu yang menikah dengan Razi adalah Zahra, gadis yang sempat ia hina dan membuat Razi marah kepadanya.
Merasa malu dan takut, Nabila kemudian berjanji kepada dirinya sendiri untuk berubah menjadi orang yang lebih baik dan bijaksana. Mungkin dengan memperbaiki diri ia bisa di dekatkan dengan seseorang yang ia impikan. Semisal, laki-laki luar biasa yang ada di depannya.
Tidak ada yang tidak mungkin selama Allah berkehendak pikir Nabila.
"Mbak Aisha dan Mbak Annisa baru saja dibawa ke ruang staf. Di sana sudah ada beberapa ustazah yang mendampingi mereka." Jawab Nabila menjelaskan keberadaan Aisha dan Annisa yang baru saja dibawa ke ruang staf oleh para ustadzah.
Alif mengangguk santai, menatap orang-orang yang masih bersitegang tidak baik rasanya Nabila berada di sini.
"Kamu bisa kembali ke dalam, kalau bisa bantu teman-teman mu yang lain untuk turun sarapan di stan makanan. Lalu pastikan jika semua santriwati pergi ke kelas masing-masing untuk memulai pelajaran pagi ini." Perintah Alif pada Nabila.
Berhubung Aisha dan Annisa sudah ada yang mengurus maka Nabila harus kembali menjalankan tugasnya sebagai ketua kedisplinan asrama putri. Mengorganisir para santriwati untuk turun sarapan dan memastikan mereka masuk ke dalam kelas masing-masing sesuai aturan pondok.
"Baik Gus, kalau begitu saya permisi dulu, assalamualaikum." Pamit Nabila mematuhi perintah Alif.
"Hem, waalaikumussalam." Jawab Alif seraya memastikan Nabila benar-benar aman masuk ke dalam pondok pesantren.
Setelah siluet Nabila benar-benar hilang dari pandangannya, maka Alif langsung membawa langkahnya mendekati kerumunan dengan pihak lain yang aktif bersuara daripada pihak pondok.
Kedatangan Alif sebenarnya tidak terlalu mendapatkan perhatian besar pada awalnya, namun dua preman dengan wajah yang babak belur itu tiba-tiba berteriak keras sambil menunjuk-nunjuk Alif dengan ketakutan.
"Bos, dia orangnya. Dia orang yang membuat kami sampai seperti ini." Adu preman botak dengan wajah memar yang agak tragis.
Mungkin ia sangat trauma setelah diperlakukan sekejam ini oleh Alif pada malam itu.
Laki-laki yang di panggil bos oleh si botak melirik Alif. Mata sipitnya yang berbahaya menatap Alif dengan pandangan menilai, bahkan tampangnya yang biasa-biasa saja dengan terang-terangan mencemooh Alif yang tidak punya daya tarik apapun kecuali tampangnya yang tampan. Ia bahkan sangat meremehkan fisik Alif yang tinggi tegap dapat mengalahkan anak buahnya dalam waktu beberapa menit saja pada malam itu.
Kecuali..yah, jika Alif menggunakan cara curang pikirnya.
"Oh, jadi kamu dalangnya.." Suaranya menilai.
Menyentuh dagunya, bos preman ini berpikir jika seharusnya ia tidak mencari masalah dengan orang pondok karena pasti melibatkan pihak penegak hukum. Maka dari itu setelah dipikir matang-matang ia hanya ingin membawa pulang Aisha saja dan pergi dengan damai.
"Kedatangan ku ke sini tidak bermaksud membuat masalah dengan mu dan hanya berniat mengambil kembali Aisha, gadis yang kau ambil paksa dari anak buah ku." Suaranya terdengar tidak ramah namun tidak dingin, sepertinya bos preman ini sedang berusaha menjaga ketenangannya.
"Bos, kamu tidak bisa hanya mengambil Aisha saja. Pikirkan juga luka kami-"
"Diam!" Potong bosnya tidak senang. Karena anak buahnya yang bodoh dan ceroboh maka mangsa mereka yang masih segar dan manis dibawa pergi oleh burung lain. Dan karena kecerobohan mereka ini, sebagai bos ia harus mengeluarkan biaya besar untuk menebusnya dan datang ke sini.
Jadi setelah semua, bos benar-benar tidak perduli dengan luka yang anak buahnya dapatkan.
"Jika kalian tidak bisa diam maka aku tidak akan segan memasukkan kalian ke pondok pesantren ini, sekalian saja kalian dipenjara di dalamnya." Ancam bos langsung membuat anak buahnya bungkam. Tentu saja mereka takut karena di kepala mereka pondok pesantren tidak punya kesan yang baik.
Pondok pesantren adalah penjara yang sangat mengerikan, lebih ngeri daripada penjara yang ada di polisi. Entahlah, mengapa kesan ini begitu tertanam dalam di pikiran mereka akan tetapi yang pasti mereka benar-benar enggan untuk masuk ke dalam.
Alif tersenyum hangat, menampilkan penampilan yang bijaksana juga ramah tamah khas tuan rumah ketika menerima tamu.
"Aisha sekarang adalah bagian dari keluarga kami di sini dan sudah resmi menjadi salah satu staf di pondok pesantren. Jadi, untuk membawa pulang Aisha sepertinya harus melewati beberapa prosedur hukum yang memadai agar kami tahu dan bisa menjamin bahwa, Aisha kami pulangkan kepada orang yang benar dan bukan pada orang yang salah." Jawab Alif begitu menyambut hangat kedatangan tamu yang 'penting' ini.
Untuk orang-orang seperti mereka, Alif pikir tidak perlu menggunakan kekerasan karena itu tidak bisa menyelesaikan apa-apa. Nah, lebih baik untuk menggunakan hukum secara langsung di sini karena hukum tidak dapat ditundukkan juga tidak dapat membuat orang kebal terhadap hukum. Hukum tidak bisa berbohong dan punya konsekuensi yang jelas jika orang menyalahi ketentuannya.
Oleh karena itu menghadapi tamu yang 'penting' juga 'terhormat' ini biarkan saja hukum yang berbicara.
Raut wajah preman-preman itu berfluktuasi, tatapan bersahabat yang coba bos berikan kepada Alif segera digantikan dengan wajah tidak bersahabat, bahkan kedua matanya yang sipit memperlihatkan niat membunuh yang jelas.
"Jadi maksud kamu secara tidak langsung adalah tidak akan memberikan Aisha kepada kami, benar?" Tanyanya murka.
Alif lagi-lagi tersenyum hangat, tersenyum seakan-akan bos preman tersebut sedang tertawa hangat bersamanya. "Itu benar, tuan." Angguk Alif santai.
Berbisik, "Apa kau sudah punya rencana?" Tanya Razi yang sedari tadi memperhatikan interaksi sahabatnya dengan para preman ini.
Alif dengan jujur mengangguk, terlihat santai dan tidak takut sama sekali dengan orang-orang sok kuat ini.
"Baiklah, tuan muda memang terbaik." Suara Razi mengejek, namun Alif tidak perduli dan dengan senang hati melayani pelayan jejadiannya.
__ADS_1
"Hem, maka tuan muda harus merepotkan pelayan untuk memperhatikan." Balas Alif dengan suasana hati yang santai.
Razi mengangkat bahu tidak perduli dan dengan patuh melaksanakan perintah tuan muda jejadiannya.
"Hah!" Marah bos itu arogan.
Melirik orang-orang pondok dengan pandangan sebelah mata, "Jika kau membawa-bawa nama hukum di sini maka aku akan memberi tahu mu secara langsung jika Aisha, gadis yang kau lindungi adalah gadis yang ku beli langsung dari Bibinya. Jika kau tidak percaya maka kau bisa menghubungi keluarganya secara langsung untuk mencari kebenaran apa yang sudah ku katakan." Tentu saja bos preman itu tidak bodoh. Jika melewati hukum mereka tidak akan pernah menang dan justru harus ditangkap dengan tuduhan transaksi jual beli manusia.
Dengan itu, tidak hanya kalah namun mereka harus rela mendekam di dalam penjara selama 5 tahun. Apalagi dengar-dengar selain di penjara mereka harus membayar denda sebesar 40 juta!
Ah, perjalanan hidupnya benar-benar menjadi ampas jika itu sampai terjadi.
Sontak semua orang yang ada di sini terkejut, mereka tidak menyangka sekaligus perihatin dengan Aisha. Gadis lugu itu harus menerima dengan pahit perbuatan keluarganya yang sewenang-wenang.
Bayangkan, yang menjual mu adalah keluarga mu sendiri!
Betapa kejamnya itu, ah!
Alif mengangguk ringan, wajah tersenyumnya kini sedikit aneh dan tidak sehangat tadi. Bahkan kedua mata tajamnya menatap dingin mereka yang terlihat begitu bangga telah melakukan perbuatan haram itu, miris sekali rasanya melihat gadis yang tidak tahu apa-apa menerima kenyataan pahit ini.
Alif berpikir jika hal ini terjadi pada Fira, ia tidak tahu bagaimana mengekspresikan keterkejutannya! Mungkin batas kesabarannya benar-benar terlihat sampai hari itu.
"Aku tahu dan asal kalian tahu saja jika orang itu sudah mendekam dengan damai di dalam penjara beberapa hari yang lalu." Ucap Alif tidak berniat menutupinya lagi.
Memang, setelah malam itu Alif sudah memerintahkan beberapa orang kepercayaannya untuk mengusut asal Aisha dan bagaimana bisa ia berakhir di dalam kawanan ini. Dan betapa terkejutnya ia mendapati bahwa Aisha ternyata dijual oleh keluarganya sendiri-ah tidak, lebih tepatnya yang menjualnya adalah Bibinya sendiri. Padahal keluarga mereka adalah keluarga yang berada lalu mengapa Bibinya dengan kejam menjual keponakannya sendiri?
Apalagi setelah melakukan penyelidikan lebih dalam ternyata rumah yang ditempati keluarga Aisha sekarang adalah rumah peninggalan kedua orang tuanya. Yah, bisa disimpulkan jika Aisha yatim piatu dan dibesarkan oleh Bibinya. Semua warisan kedua orang tuanya tentu saja jatuh ke tangan Aisha dan karena keserakahan Bibinya, Aisha sampai harus di jual seperti ini.
Itulah mengapa Alif tega melaporkan Bibi Aisha ke kantor polisi karena di dalam pemahaman Alif, wanita tua ini terlalu serakah dan kejam. Sehingga melemparkannya ke jeruji besi adalah pilihan yang terbaik.
Biarkan ia belajar dari kesalahannya!
"Apa! Kau..kau..!" Pantas saja ia tidak bisa menghubungi wanita tua itu lagi, ternyata alasannya adalah karena laki-laki kurang ajar ini sudah melaporkannya ke polisi.
Sial, jika seperti ini maka mereka...
"Ya, sekarang kalian adalah buronan polisi. Tentu saja beberapa menit sebelum ke sini aku sudah menghubungi polisi khusus untuk kalian, melaporkan jika buronan yang mereka cari ada di sini." Melirik jam tangannya, senyum Alif semakin terlihat tidak nyaman.
"Seharusnya itu sebentar lagi." Ucap Alif serasa di atas angin.
Dan benar saja, setelah mengatakan itu mereka bisa melihat kawanan polisi dengan seragam lengkap dan mobilnya yang tangguh berjalan tergesa-gesa menuju ke arah mereka semua berkumpul.
"Sialan, kita dijebak! Lari!" Teriak bos mereka sambil membawa motornya pergi dengan tergesa-gesa ke arah lain. Melarikan diri secepat mungkin agar tidak tertangkap oleh para aparat penegak hukum yang sok menaati aturan.
"Gus Fansyah, selamat pagi." Sapa komandan yang mengenal Alif ramah.
"Selamat pagi." Sapa Alif ramah juga, menganggukkan kepalanya lalu komandan polisi itu pergi mengejar para buronan yang sudah ada di depan mata. Begitu mereka tertangkap maka seharusnya nanti malam mereka bisa mengadakan pesta besar karena buronan yang mereka kejar merupakan salah satu buronan dengan kasus yang berat.
Buronan ini sudah biasa melakukan kejahatan-kejahatan yang seharusnya konsekuensinya sangat fatal.
Puk
Alif mengalihkan pandangannya begitu merasakan Razi menepuk pundaknya, "Masyaa Allah, tuan muda kita memang yang terbaik." Puji Razi tulus.
Siapa yang tidak tahu betapa cerdasnya Alif di sini, dalam usianya yang masih belum genap 24 tahun ia sudah lulus S2 di Kairo Mesir. Universitas Al-Azhar, universitas yang mempelajari Al-Qur'an tertua dan terbaik di dunia. Tentu saja prestasi ini adalah sebuah kebanggaan untuk orang-orang pondok.
Razi?
Razi dulu seangkatan dengan Alif dan seharusnya mereka lulus sama-sama waktu itu di Kairo Mesir. Namun berhubung Razi lebih fokus dengan Zahra maka ia mengenyampingkan pendidikannya yang ada di Kairo dan menundanya selama 2 tahun.
Kalian ingat bukan ketika Razi memutuskan menjauh dari Zahra dan memilih pergi ke Mesir?
Benar, itu karena ia ingin melanjutkan pendidikannya yang sempat ditunda dan berusaha melupakan Zahra. Dan yah, takdir ternyata tidak mengizinkannya, Razi ternyata menikah dengan Zahra sehingga lagi-lagi ia harus menunda pendidikannya lagi.
"Jangan menguji ku lagi karena aku ini bukan tipe tuan muda yang rendah hati." Ucap Alif bercanda, lega sekali rasanya melihat semuanya sudah sesuai rencananya.
Maka dengan begini bisa dipastikan jika orang-orang itu tidak akan datang mencari gara-gara. Kalaupun iya, maka langkah selanjutnya akan mudah bagi Alif. Ia sudah bekerja keras mengusut masalah ini dan polisi tidak akan pernah membuat posisi Alif serta pondok pesantren dalam keadaan bahaya.
Semuanya sudah aman sekarang.
Setelah semua, mereka akhirnya kembali masuk ke dalam pondok pesantren. Karena waktu masih pagi dan masih banyak waktu untuk sarapan, maka mereka semua memutuskan untuk ikut bergabung sarapan bersama yang lain.
__ADS_1
\*\*\*
"Zahra?" Gumam Fira terkejut melihat Zahra yang duduk tenang di samping Fia dan Marwah.
Fira masih dilema jika di dekat Zahra, marah dan menyesal menjadi satu. Fira tidak tahu bagaimana suasana hatinya saat ini yang semakin memburuk.
"Sini, kita sarapan sama-sama." Dira tahu jika Fira merasa tidak nyaman di dekat Zahra oleh karena itu ia mengajaknya bergabung di sini agar ia bisa terbiasa dengan Zahra. Yah, dengan kata lain mencoba untuk berteman karena bagaimanapun sekarang mereka adalah keluarga di sini.
"Hem." Ucapnya ragu sambil meletakkan buburnya di atas meja dan duduk dengan tenang di samping Dira.
Menundukkan kepalanya tidak nyaman, ia dengan tenang membawa suapan kecil bubur ke dalam mulutnya. Meskipun mereka asik mengobrol namun Fira berusaha tidak mengganggu mereka karena biar bagaimanapun Fira tidak akrab dengan Zahra.
"Kau harus banyak makan karena wajah mu terlihat pucat." Tiba-tiba Zahra menempatkan satu sendok suit daging sapi ke dalam mangkuk Fira.
Tertegun, Fira spontan mengangkat wajahnya kaget dan mendapati Zahra sedang tersenyum manis kepadanya.
Dengan kaku, Fira tersenyum "Terimakasih Zahra tapi sebenarnya itu tidak perlu." Ucap Fira malu.
Ia malu karena Zahra tiba-tiba berubah menjadi sosok yang berbeda, jauh dari terakhir kali mereka berbicara. Apakah karena ia menikah sehingga pola pikirnya juga berubah?
"Itu perlu Fira, karena apa yang dikatakan Zahra emang benar. Wajah kamu pucat banget, emang pusingnya masih belum pergi yah?" Fia juga baru menyadari jika wajah Fira terlihat lebih pucat dari semalam.
Meraba wajahnya, Fira tersenyum malu karena mendapatkan banyak perhatian dari mereka. "Aku sebenarnya lagi halangan jadi perutnya masih sakit..hehe.."
Ah, mungkin ini yang membuat suasana hatinya turun naik. Astaga, dia melupakan hal yang penting seperti ini. Biasanya jika perempuan sedang berhalangan akan mudah emosi dan hatinya sering gelisah, apalagi besok adalah bulan puasa jadi wajar aja dia galau terus.
"Oh pantesan dari semalam kamu cemberut terus jadi ini alasannya." Gumam Fia akhirnya tahu alasan kenapa sepupunya ini terlihat cemberut dari semalam. Seakan-akan ada beban hutang segunung yang menantinya untuk segera dibayar.
"Jadi besok kamu gak ikut puasa dong?" Tanya Marwah basa basi karena sebenarnya siapa pun tahu Fira tidak bisa ikut puasa hari pertama.
Fira dengan menyesal mengangguk lemah, puasa pertamanya harus ia korbankan untuk tamu bulanannya.
"Fir, kalau kamu masih sakit di perut kenapa gak coba minum air kunyit aja? Kalau gak sanggup kamu juga bisa pakek daun sirih untuk ditempel di perut." Ucap Zahra memberikan saran.
Bagi kau perempuan yang sedang kedatangan tamu bulanan itu adalah hal yang paling menguji emosi dan ketahanan tubuh.
Emosi dan sakit perut secara bersamaan adalah ujian terbesar wanita setelah ujian melahirkan. Huh, perempuan benar-benar spesial!
"Apakah daun sirih mempan?" Tanya Fira ragu karena jika air kunyit di minum sih ia yakin mempan karena kandungannya langsung masuk ke dalam perut.
Tapi jika hanya di tempel di dalam perut akankah itu punya efek?
Zahra dengan kalem mengangguk yakin, "Umi dulu sering menempelkan Kak Annisa daun sirih ketika halangannya datang dan terbukti kok Kak Annisa langsung nyaman dibuatnya. Kalau kamu gak gak percaya tanya aja Kak Annisa." Zahra sering melihat Umi sibuk menempelkan daun sirih di atas perut Annisa.
Apalagi saat sakitnya benar-benar tajam bisa-bisa Annisa pingsan dibuatnya, namun karena menggunakan daun sirih sakitnya langsung hilang dan Annisa bisa beraktivitas dengan normal.
"Aku percaya deh, nanti sepulang sekolah aku bakal coba." Jika Zahra berkata seperti ini Fira jadi yakin sehingga ia bertekad untuk mencari daun sirih sepulang sekolah nanti.
"Eh, ngomong-ngomong kalian gak khawatir apa sama Mbak Annisa dan Mbak Aisha yang diganggu sama preman. Dengar-dengar premannya banyak lho." Tanya Fia mengganti topik pembicaraan, mengangkat topik yang sedang hangat-hangatnya di sini.
Zahra mengangkat bahunya santai, "Mereka bakal aman kok soalnya udah ada Gus Fansyah dan Kak Razi yang amanin, bukan hanya itu tapi banyak kok ustadz dan staf yang membantu di luar." Zahra tidak khawatir karena banyak sekali orang yang membantu menangani masalah ini.
Lagipula ia juga percaya jika orang-orang pondok pesantren tidak akan terpancing emosi karena mereka adalah orang yang cerdas dan berakal.
"Itu Kakak mu lho." Ucap Fia heran melihat betapa santainya Zahra di sini.
"Di sana juga ada suaminya, Fia, jadi kenapa harus takut." Ini Dira yang berbicara, heran mengapa Fia punya sisi yang suka gibahin kehidupan orang lain.
"Hem, di sana juga Gus Fansyah jadi kalian tidak perlu khawatir." Gumam Fira terdengar tenang, menyembunyikan kebingungannya yang samar.
"Lagipula di antara mereka ada calon istri Gus Fansyah jadi semuanya akan aman terkendali." Angguk Fia ikut santai.
Yah tidak bisa dipungkiri selain pintar, orang pondok juga pandai ilmu bela diri sehingga tidak ada gunanya khawatir.
"Yah, kalian benar. Apa saja bisa dilakukan untuk orang yang kita sukai." Ucap Fira membenarkan.
Bertanya-tanya siapa yang mampu menarik hati Gus Fansyah, apakah itu Annisa atau Aisha?
Tapi Fira tidak mau berpikir panjang karena ia sendiri pun sedang dalam suasana hati yang tidak baik sehingga alangkah baiknya ia menjauhkan diri dari urusan percintaan Kakaknya.
Bersambung..
__ADS_1