
*Rahasia adalah hal yang menyakitkan, itu mengapa orang-orang lebih suka mengubur masa lalu dengan kata rahasia. Karena di baliknya ada luka yang terpendam.
Zahra Affianisha*
\*\*\*
Setelah sampai rumah, Zahra langsung bergegas turun dari taksi menuju ke depan pintu.
Ada rasa ragu saat Zahra akan mengetuk pintu rumahnya. Ekspresi wajah Zahra memperlihatkan bahwa saat ini ia sedang tidak baik-baik saja. Pikirannya melayang entah kemana-mana sejak kejadian itu.
Dengan wajah tertunduk Zahra langsung membuka pintu rumah tanpa memberikan salam atau pun mengetuk pintu lebih dulu.
Langkah Zahra terasa gontai saat menaiki anak tangga dengan wajah tertunduk lesu. Zahra menyusuri anak tangga dengan langkah tertatih.
"Zahra, kamu udah pulang sayang?" Tegur umi berhasil menghentikan langkahnya.
Zahra menghela nafasnya dengan berat, seakan-akan ia sedang mencoba melepaskan beban berat yang di pikul nya malam ini.
Zahra hanya menundukkan wajahnya dan tidak merespon pertanyaan umi.
Umi bergerak menaiki anak tangga dengan perlahan mencoba mendekati putri bungsunya yang terlihat murung.
"Kakak mu mana, dek? kok pulangnya hanya sendiri?" Tanya umi lagi tetap dengan suaranya yang menenangkan dan menghangatkan.
Deg
Seperti ada pukulan keras yang menghantam hati Zahra saat mendengar pertanyaan umi.
"Tetap saja, aku memang tidak pernah terlihat di mata mu umi." Batin Zahra kesakitan.
Sakit, sungguh ini sangat sakit bagi Zahra. Tak sedikit pun umi nya berpikir tentang Zahra, hanya tentang Annisa. Apakah tidak terlihat sama sekali? langkah lemas dengan wajah tertunduk murung tidak bersemangat. Sekali lagi, hati Zahra kembali tergores. Bukan goresan besar, tapi ini cukup membuat Zahra *** tangan kuat, sekedar pelampiasan.
"Zahra-"
"Tolong jangan sekarang, aku sangat lelah untuk hari ini.." Potong Zahra dingin dan berlalu meninggalkan umi dengan langkah yang lebih cepat.
Baru saja Zahra mengunci pintu kamarnya tiba-tiba suara klakson mobil berbunyi, pertanda bahwa mobil itu sedang memasuki halaman depan rumahnya.
"Itu pasti mereka.." Gumam Zahra pada dirinya sendiri sambil berjalan ke arah balkon kamarnya. Zahra fokus melihat ke arah halaman dimana mobil itu parkir. Zahra melihat seorang laki-laki keluar dari dalam mobil sambil membopong seorang wanita. Zahra kenal siapa mereka, bukan hanya kenal namun sangat kenal.
Iya, mereka Razi dan Annisa. Seorang adik kakak yang tidak dapat di pisahkan.
Setelah beberapa menit kemudian, seorang laki-laki yang sangat di cintai Zahra keluar dari mobil sambil memapah seorang gadis seumurnya. Dia, Fia.
Sahabat Zahra.
Oh, tidak..bukan sahabat melainkan teman palsu.
Melihat dua pemandangan dengan situasi yang sama namun dalam kondisi yang berbeda membuat hati Zahra kembali tergores, namun kali ini sedikit lebih dalam dari luka yang lain.
Tik
Satu bulir air mata Zahra jatuh mengenai tangannya.
"Apakah aku menangis?" Tanya nya kepada dirinya sendiri. Ia mengusap wajahnya kasar, namun tetap saja air mata itu terus mengalir bahkan lebih deras dari sebelumnya.
"Ini, aneh. Biasanya aku tak selemah ini!," Gumam Zahra di dalam keterguguan nya.
Tersenyum kecil, "Tapi tidak masalah, toh di sini aku hanya sendiri..tidak ada yang melihat.."
"Yah, tidak ada yang melihat sisi lemah ku di sini."
Zahra memeluk dadanya erat, merasakan semua sesak yang sedang bergejolak di dalamnya.
Apakah aku sudah benar-benar kalah?
Benarkah?
Oh, ku mohon Tuhan bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Bangunkan lah aku, Tuhan. Batin Zahra menangis.
Tiba-tiba dari luar terdengar suara langkah kaki yang sedang berjalan ke arah pintu Zahra, suara langkah kaki yang berat.
"Zahra?," Sayup-sayup terdengar suara umi memanggil dari luar.
"Hiks..hiks..tolong buka pintu ini Zahra.." Panggil umi sambil menangis kencang. Zahra tidak merespon sama sekali panggilan umi nya. Namun, ia hanya berjalan dan mendekati pintu sambil tangan kanannya menyentuh gagang pintu dan telinganya menempel pada sisi pintu.
"Zahra-"
"Sudahlah umi, lebih baik masalah ini kita selesaikan besok saja saat semua keadaan kembali normal.." Nasihat kak Razi kepada umi.
"Zahra.." Panggil umi tak mau mendengar.
"Annisa lebih membutuhkan kita saat ini umi.."
Kemudian terdengar suara langkah kaki mereka menjauhi kamar Zahra.
Zahra P. O. V
Ku dengar langkah umi sayup-sayup menjauhi kamar ku dan setelah itu hanya suara sunyi serta senyap yang ada di kamar ku. Oh itu bukan suara, melainkan suasana kelamnya malam yang mendekap ku erat.
Ini sakit.
Sebuah kebenaran yang menyakitkan dan mampu membuat ku jatuh dalam kelemahan yang amat dalam.
Fia?
Tuhan dia menghianati ku!, dia telah menyakiti ku, dia melukai ku Tuhan!.
Apakah Kau tak marah kepada nya?,
apakah Kau tidak merasa marah karena dia telah berani-berani nya menyakiti aku?
apakah Kau tak marah?
Oh, benar!
Aku lupa jika Tuhan tidak pernah memihak ku atau benar jika Tuhan itu sebenarnya tidak pernah ada, tidak pernah ada!.
Bodoh!
Seharusnya aku menyadari semua ini dari awal. Hahaha, aku mengadu pada Tuhan?
BULLSHIT!!!
Persetan dengan Tuhan!!!
Persetan dengan teman!!!
Persetan dengan keluarga!!
Semuanya hanya sandiwara, mengertilah Zahra bahwa mereka semua benar-benar tidak pernah ada.
Terdddd..
Terdddd..
Suara getar hand phone ku membuyarkan lamunan ku dan mengembalikan ku ke dunia sadar ku.
Aku bergerak ke arah kasur dan mengambil handphone ku dengan payah.
"Andrini?" Gumam ku seperti berbisik pada diriku sendiri. Sebelum menjawab telpon Andrini, ku netral kan suara serak akibat menangis sedari tadi. Tidak lupa juga ku usap wajahku dengan cekatan untuk menghapus jejak air mata kesialan itu, walaupun sebenarnya Andrini tidak bisa melihatnya, akan tetapi aku tetap melakukannya.
"Hallo.." Akhirnya ku jawab juga telpon darinya.
"Zahra?"
"Are you ok?" Tanya Andrini terdengar khawatir.
"Yeah, i'm ok. Memangnya ada apa, kenapa lo nanyanya gitu?" Tanyaku balik tidak suka.
Di seberang sana ku dengar Andrini seperti sedang menghembuskan nafasnya, terdengar berat.
"Lo yang sabar yah, Ra, gue ngerti apa yang lo rasain setelah kejadian di club tadi cukup bisa membuat lo jadi down.." Jelas Andrini menjawab kebingungan ku. Oh, jadi kejadian tadi langsung menyebar yah ke anak-anak sekolah. Gak heran sih, mengingat posisi ku di sekolah itu.
"Gue gak apa-apa, lagi pula kejadian di club tadi bukan berati apa-apa buat gue, gak terlalu penting." Elak ku mematahkan rasa kasihan Andrini kepada. Ku gigit bibir ku dengan sekuat tenaga, menjaga isak tangis ku yang bisa saja tiba-tiba pecah apa bila membicarakan kejadian tadi.
Tidak!
Tidak ada yang boleh tau jika aku sedang menangis. Itu tidak boleh terjadi, tidak akan.
Andrini diam tak membalas bantahan ku. Hanya terdengar suara nafasnya yang mengalun ringan.
"Ann, kalo gak ada yang penting untuk di bicarakan mending gue tutup aja deh telpon ini, capek, gue butuh istirahat."
"Ra?" Panggil Andrini terdengar lebih serius.
Aku menghela nafas berat, memikirkan apa yang akan di bicarakan Andrini sampai terdengar se'serius ini.
"Apa lagi?" Tanyaku kesal. Ingin sekali aku memutuskan sambungan telpon ini dan pergi membuang tubuh lelah ku di atas pantai kapuk untuk di berikan pelukan hangatnya.
"Lupakan dia!." Perintah Andrini serius.
"What?"
"Maksud lo?" Tanyaku tidak mengerti.
"Lo jangan pura-pura bego Zahra, gue tau kalo lo saat ini benar-benar sakit. Dia bukan lah sahabat yang baik, Fia munafik Zahra!." Jelas Andrini dengan suara yang meninggi.
Aku diam membisu tidak membantah penjelasan Andrini. Yah, memang benar Fia bukanlah orang yang baik untuk ku. Dia menipu ku dengan berpura-pura simpati kepada ku. Mengerti dengan perjalanan hidup ku dan suasana hati ku yang hampa.
Padahal itu palsu.
Itu topeng.
Dan itu hanya sandiwara belaka.
"Gue tau kalo saat ini lo benar-benar terluka Zahra. Gue tau kalo lo saat ini merasa sakit, gue tau Zahra! gue tau-"
"Terus kenapa? terus kenapa kalo lo tau gue terluka, lo mau tertawa hah? lo mau apa?" Potong ku dengan suara yang tidak kalah emosi dengannya.
AUTHOR P. O. V
"Gak, gue gak bakal ngelakuin hal bodoh itu. Tapi, gue mau lo balas dendam Zahra, lo harus balas dendam!."
"Maksud lo?"
"Lo harus merebut pak Alif dari Fia, Zahra. Lo harus buktikan ke Fia jika lo gak bisa di remehkan semudah ini. Karena lo adalah Zahra, ratu sekolah yang tidak akan pernah menyerah untuk sesuatu yang ingin lo miliki. Lo adalah Zahra, cewek paling dingin dan disegani oleh semua orang."
"Buktikan Zahra, jika semua gelar yang lo sandang masih lo pertahankan dan lo pertanggung jawabkan, karena lo adalah Zahra." Ucap Andrini dengan suara yang tajam dan langsung menusuk Zahra tepat di ulu hatinya.
"Ya, lo benar, gue adalah Zahra. Zahra yang punya sisi gelap, dia salah telah mempermainkan ku." Tekat Zahra sudah bulat, sudah cukup mereka semua meremehkan Zahra. Sudah cukup mereka semua mempermainkan Zahra. Zahra sudah muak dan sudah saatnya Zahra bermain dengan permainan yang mereka buat. Zahra siap.
"Hahaha..akhirnya Zahra akhirnya gue bisa mendengar apa yang telah lama gue ingin dengar."
"Terimakasih, tapi apa yang ingin lo lihat dan dengar bukanlah ini, melainkan besok.."
"Ok..ok..gue tunggu tapi lo masih inget kan rencana kita yang besok?, inget dong."
"Yeah, tenang aja. Udah gue catat dengan benar dan gak bakal gue lupakan. Lo tunggu aja besok.."
"Ah, sip lah gue tunggu.."
"Eh, gue tutup aja yah, capek gue mau istirahat.."
"Oh, ok. Tutup aja dan gue cuma mau bilang 'Zahra Affianisha, selamat datang di lembaran hidup lo yang baru dan tentunya dengan lingkungan yang baru juga'..bye.."
Tud...
Tud...
Tud...
Sambungan Zahra pun langsung terputus. Zahra menghela nafas dalam. Menghapus semua kenangan yang terjadi hari ini. Yah, sudah seharusnya Zahra kembali. Benar, Zahra kembali.
Zahra P. O. V
Tapi, ucapan Andrini yang terakhir mengapa aku menjadi sangat penasaran yah?
Zahra Affianisha, selamat datang di lembaran hidup lo yang baru dan tentunya dengan lingkungan yang baru juga
Lingkungan?
Lingkungan itu kan tempat?
Apa maksudnya?, bukankah aku hanya di sekolah dan tidak pindah kemana-mana.
Ah, Andrini ada-ada saja. Padahal kan aku tidak pindah sekolah.
Tapi, bagaimana dengan abi dan umi?
Apakah mereka akan tetap diam dengan masalah yang ku ciptakan seperti kemarin-kemarin. Tapi, masalah ini berbeda. Aku telah menjebak kak Annisa. Apakah abi akan memukul ku?
Benarkah?
Oh, tidak mengapa, silahkan pukul aku sepuas yang abi mau asalkan jangan kirim aku ke tempat sampah. Pondok pesantren, aku tak sudi ke tempat kolot itu, sangat tidak sudi.
Author P. O. V
Zahra menatap handphone nya, menatap foto keluarga yang sangat harmoni. Zahra mengusap-ngusap wajah mereka satu persatu, seakan-akan Zahra tak pernah ada di sana. Ia tidak bahagia. Ia ingin membuat semua orang yang ada di foto keluarga itu menyadari satu hal, yaitu kesalahan kecil namun sangat berdampak besar bagi Zahra kecil. Yah, kesalahan yang zahra ingin tunjukan dan perlihatkan. Akan tetapi selalu di salah artikan oleh mereka.
"Aku merindukan kalian." Ucap Zahra terdengar berbisik.
"Apa tidak terlihat jelas?"
"Aku merindukan kalian.." Gumam Zahra seraya memeluk handphone nya erat.
"Aku merindukan kalian.." Ucap Zahra nyaris tidak terdengar dan akhirnya pun Zahra tertidur dengan posisi menyandarkan tubuh lemahnya di pintu.
Zahra lelah.
Ia sangat lelah.
\*\*\*
Zahra menggeliat manja di dalam pelukan selimut kesayangan nya. Menandakan bahwa ia sudah bangun namun tidak sepenuhnya kesadaran Zahra pulih, masih sebagian.
Zahra meraba-raba selimut tebal nya, setelah benar-benar menyadari nya Zahra langsung membuka matanya lebar dan melihat di sekelilingnya.
__ADS_1
Zahra mengerjap-ngerjapkan matanya kuat. Nafas Zahra menjadi naik turun tidak beraturan, saat ini Zahra sedang di landa kebingungan luar biasa yang sangat tidak di duga nya.
"Dimana ini?" Tanya Zahra kebingungan.
Zahra mengedarkan pandangannya ke semua ruangan, dimana ruangan itu berukuran sedang, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil pula.
Di ruangan itu terdiri dari kasur kasur kecil yang tampak usang dan kotor berjejer sekitar dua puluhan dengan rapi. Tidak lupa juga di samping kasur tersebut berdiri lemari-lemari berukuran macam-macam, di setiap lemari tertempel dan tertulis sebuah kata atau nama. Ada yang menggunakan bahasa Arab ada pula yang menggunakan bahasa Indonesia.
"Dimana aku?"
Kebingungan Zahra tidak lagi sekedar kebingungan, namun kini sudah berubah menjadi ketakutan yang amat luar biasa.
"Oh, tidak Tuhan."
"Tolong jangan katakan jika ini ada di-"
"Assalamualaikum, Zahra?,"
"Kamu sudah bangun, ya?"
Zahra melongo dengan sapaan seorang gadis yang sebaya dengannya dan tentunya Zahra merasa gadis ini sok kenal sok dekat kepada dirinya.
"Ya udah, lebih baik kita ambil air wudhu bersama-sama yah?. Soalnya bentar lagi kan mau azan magrib.." Ajak gadis itu menarik tangan Zahra dengan lembut.
"Tunggu.." Tahan Zahra.
Gadis itu diam dan tidak melanjutkan langkahnya.
"Lo ini siapa sih?," Zahra bertanya dengan nada yang tidak ramah.
"Kok lo sok ramah gini ke gue, emang lo siapa sih?" Tanya Zahra tidak suka.
Gadis itu diam tidak bergeming dari posisinya.
Zahra terlihat iritasi dengan gadis ini yang masih saja belum merespon pertanyaan nya. "Heh, kok lo malah diem sih?, gue nanyak yah bukan khotbah!."
Gadis itu masih diam di posisinya, namun kali ini gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke depan.
"Zahra, jangan berpikir kamu adalah ratu di sini karena ini bukanlah tempat yang kau sering datangi.." Jawab gadis itu dingin. Suaranya berubah menjadi tidak bersahabat dan tidak seramah awal bertemu. Ini aneh.
"Maksud lo?"
"Selamat datang di pondok pesantren, Zahra.." Sambut gadis itu dingin.
"PONDOK PESANTREN?"
"Ehem.." Singkat gadis itu.
Gadis itu membalikkan badan nya menghadap Zahra dengan penampilan dan ekspresi yang sangat mengerikan. Bibir pucat pasi, badan kurus, mata nya melotot hampir keluar dan pakaian kotor yang mengeluarkan bau amis.
"Ya, tepatnya PENJARA MANUSIA SAMPAH!"
"Ap-pa...? penjjjaaarraa?"
"Kau-kau bohong..!"
"Untuk apa aku berbohong, Zahra? bukankah benar jika kau gadis yang sangat kotor!" Ucap gadis itu tajam seraya terus berjalan mendekati Zahra yang berjalan mundur.
"Itu tidak benar.."
"Oh, jadi kau mengelak jika kau adalah SAMPAH di keluarga, itu?"
"Tidak!"
"Jujurlah, Zahra. Jika selama ini kau menyadari bahwa kau tidak pernah di butuhkan di keluarga itu, kau hanyalah sampah."
"Jangan mendekat! ku mohon menjauh lah!" Teriak Zahra takut sambil terus berjalan mundur.
"Kau hanya pura-pura tidak perduli jika selama ini kau tidak pernah terlihat di mata mereka. kau bukanlah bagian dari mereka.."
"Tidak..tidak..tidak..!Ttttiiiddddaaaakkk.."
Brakk
"Aww..sakit.." Keluh Zahra kesakitan sambil memegang kepalanya yang terbentur lantai.
Zahra melihat sekeliling kamarnya dengan perasaan was-was.
"Oh, ternyata aku hanya bermimpi buruk.." Syukur Zahra merasa lega.
Zahra memijit-mijit kepalanya yang terasa berdenyut akibat dari terbentur lantai kamarnya.
"Sial, kenapa aku bisa ketiduran di sini?" Bingung Zahra bercampur kesal karena mendapati dirinya ketiduran di depan pintu.
"Udah ketiduran, kejedot lantai di tambah dapet mimpi buruk..duh, kok hidup aku apes banget yah hari ini?. Udah gitu mimpinya aneh banget lagi, kok aku jadi takut, yah?"
"Ah, ini pasti gara-gara Fia dan Annisa sialan itu. Jika saja mereka tidak bekerja sama, maka malam ini pasti aku bermimpi indah dan bukan nya bermimpi buruk aneh ini. Awas kalian, jangan berpikir aku tidak akan tinggal diam dengan perbuatan kalian, tunggu saja." Ucap Zahra bertekad sambil berjalan menaiki ranjang nya dan kembali berbaring karena rasa kantuk yang tidak dapat di tahannya.
\*\*\*
Zahra menuruni anak tangga dengan cepat, tak ada siapa pun yang ia dapati di ruang keluarga.
Karena merasa lapar, akhirnya Zahra berniat menuju meja makan. Akan tetapi, setelah sampai meja makan tidak ada sapaan atau teguran yang Razi dan umi layangkan kepadanya.
Ini tidak seperti hari biasanya bagi Zahra, ia tau kecerobohan nya tadi malam membuat semua orang membencinya. Akan tetapi Zahra tetap bersikukuh merasa tidak salah. Karena yang ia lakukan tidak melewati batas wajar, itu pikirnya. Oleh sebab itu Zahra merasa baik-baik saja dan bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa di rumah ini.
Zahra menggapai roti tawar yang bertengger manis di meja. Saat memilih selai, Zahra tidak menemukan selai kacang kesukaannya di antara botol-botol selai yang berjejeran dengan rapi di meja.
Saat Zahra melihat ke arah umi, Zahra langsung tersenyum sumringah. Selai kacang kesukaannya ternyata ada di tangan umi.
"Umi, Zahra mau selai kacang nya juga.." Seru Zahra terdengar ceria dan bersemangat.
Umi menghentikan aktivitas nya mengoles roti yang ada di tangan dengan selai. Umi mengambil nafas berat, seakan-akan ia sedang menahan sesuatu.
Umi mengalihkan pandangannya dan beralih menatap wajah Razi seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Razi, umi ke belakang dulu yah..mau bantuin bik imah masak. Soalnya kan hari ini abi pulang jadi harus spesial."
Razi tersenyum kepada umi seraya mengangguk paham.
Zahra sedikit tersinggung dengan sikap umi pagi ini, ia merasa tak di anggap.
Iya, aku tau jika kau marah. Aku paham. Tapi, suatu saat nanti umi pasti menyadari semua yang aku lakukan ini adalah sebuah petunjuk untuk kalian semua.
Zahra mengambil nafas berat seraya tersenyum pahit.
Zahra bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh dari meja makan. Tepatnya, meninggalkannya. Tidak ada teguran atau kritikan yang Razi lemparkan kepadanya pagi ini. Ia sedikit merasa aneh.
Baguslah, toh hari ini aku tidak perlu bermuka masam di sekolah.
\*\*\*
"Zahra!" Panggil Andrini yang sudah berdiri di samping zahra.
"Ah, lo.."
"Siap?" Tanya Andrini dengan ekspresi menggoda.
Zahra tersenyum sumringah dan mengangguk mantap.
Zahra menuntunnya ke tempat duduk terdekat di lapangan agar dia bisa melihat wajah tampan Alif dengan jelas.
Namun baru saja zahra melangkah, tiba-tiba langkah terhenti.
"Zahra?" Panggil Fia lembut.
Zahra membalikkan badan nya dan melihat Fia yang sudah ada di belakangnya.
Fia terlihat sangat berantakan pagi ini. wajah pucat dengan mata sembab yang sangat jelas.
Fia tersenyum getir memandangi wajah sahabatnya ini. Ada rasa rindu dan ketakutan yang ingin Fia sampaikan kepada Zahra.
Namun bukannya balas menyapa, Zahra langsung membuang muka.
Melihat situasi yang menguntungkan, Andrini langsung mengambil tindakan dengan menarik tangan Zahra dan membawa Zahra menjauh dari Fia. Mengamankan kekuasaannya.
Fia semakin murung melihat Zahra yang sudah tidak mau mendengarkan penjelasannya.
"Zahra.." Gumam Fia terdengar berbisik.
"Sudahlah, Fi." Tegur Dewi yang sudah merangkul pundak Fia dengan hangat.
Fia menoleh ke arah Dewi, menggelengkan kepalanya tidak terima.
"Tak akan.."
"Tak kan ku biarkan Zahra merasakan sakit lagi."
"Ayo.." Ajak Dewi membawa Fia ke tempat duduk terdekat dengan Zahra.
Zahra terlihat mengedarkan pandangan nya, mencari sosok yang ia tunggu-tunggu.
"Dimana dia?" Gumam Zahra penasaran.
Sabar adalah kata yang sangat mudah di ucapkan, akan tetapi sangat melelahkan jika dilakukan. Itulah yang Zahra sedang rasakan saat ini, Zahra tidak sabar untuk merebut Alif dari Fia. Ia ingin menunjukkan bahwa ia juga bisa mempermainkan Fia seperti ia mempermainkan dirinya.
"Gila, Ra, lo pakai shampoo apaan sih? harum banget.." Oceh Latifa sambil mencium rambut Zahra takjub.
Zahra tersenyum geli mendengar ocehan Latifa.
"Oh, ini gue pakai shampoo biasa kok.."
"Serius, ini harum banget, masa iya sih lo pakai shampoo biasa.." Sambung Latifa masih tidak percaya.
"Ih, Latifa! lo bisa diem gak sih?pak Alif udah dateng tau.." Intruksi Andrini menghentikan pertanyaan Latifa.
Sontak Zahra dan Latifa langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah pusat perhatian semua gadis.
Dan
Alif?
"Ann, serius itu pak Alif? gila, dia keliatan beda banget pake baju beginian, dia lebih ganteng.." Jujur Latifa terpesona.
Ya, hari ini dia sedikit berbeda dengan pakaian seperti ini. Sama dengan pangeran tam-ah, shit!, kenapa harus mengingat dia lagi. Sigh, lupakan Zahra karena ia juga sudah melupakan dirimu.
"Zahra.."
"Zahra!" Panggil Andrini membuyarkan lamunan Zahra.
"Eh, iya Ann..ada apa?" Jawab Zahra gelagapan.
Berkerut bingung, "Kok lo bengong sih? di panggil-panggil gak nyahut-nyahut, lo kenapa sih, aneh banget hari ini?" Tanya Latifa tidak mengerti.
Zahra tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Latifa, ia tidak ingin mengatakan bahwa ia sedang memikirkan kakaknya. Aneh bukan?
"Di tanya bukannya jawab, eh lo malah balik nanya.."
Zahra diam tidak menyahuti, matanya saat ini sedang fokus memperhatikan Alif yang sedang membaca doa.
"Ma shaa Allah, selain tampan, pak Alif juga mempunyai suara yang merdu..jika saja pak Alif membaca kan ayat-ayat suci itu kepadaku.." kagum seorang gadis yang duduk bersebelahan dengan Zahra.
Mendengar suara gadis itu, Zahra tersenyum sinis.
"Iya, jika saja ayat-ayat suci itu di bacakan kepada kamu, tepatnya di samping kuburan mu pasti suara Alif semakin indah.." Sahut Zahra kesal bercampur puas karena telah membuat gadis itu ketakutan.
"Astagafirullah.." Sahut gadis itu beristigfar.
Andrini dan Latifa langsung terkekeh melihat Zahra mengerjai gadis yang ada di sebelahnya.
Zahra hanya cuek bebek saja melihat reaksi mereka, baginya mengamankan kekuasaan lebih penting darinya.
2 jam kemudian
Pengajian telah selesai dan semua siswa dapat beristirahat.
Tapi tidak dengan Zahra, baginya momen ini adalah waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya.
Zahra melihat Alif sedang menuruni anak tangga panggung sambil berbincang-bincang santai dengan salah satu guru.
"Apakah kamu sudah siap?" Tanya Andrini lembut.
Zahra menghembuskan nafas berat dan dengan sigap mengangguk mantap.
"Jika kamu ragu, lebih baik tidak usah.."
"Hei, apa ini Ann?"
"Aku siap, aku sangat siap!" Elak Zahra tidak mau di bantah.
Andrini tersenyum samar dan mengangguk pelan.
"Baiklah..jika itu mau mu.." Pasrah Andrini.
Zahra menyentuh dadanya ringan, merasakan suara detakan jantung yang terus saja memompa dadanya. Zahra tersenyum ragu, detakan jantung ini terasa sangat berat untuk Zahra bawa melangkah.
Zahra mulai melangkah pasti, menyeret kakinya dengan kuat agar mau bergerak dan tidak menjadi lumpuh.
Setiap jengkal langkah yang di ambil Zahra adalah sebuah keyakinan hati yang tidak terbantahkan. Ia harus memiliki Alif cepat atau lambat karena dengan begitu ia yakin ia bisa melukai Fia, teman palsunya.
Zahra tersenyum penuh kemenangan, walaupun belum pasti ia akan di terima tapi sebuah suara yang terus saja bersorak di dalam kepala Zahra mengatakan bahwa ia akan memilik hati Alif hari ini.
"Hanya beberapa langkah lagi dan semuanya akan benar-benar terlepas". Gumam Zahra semangat.
Yah, melihat posisi Alif yang semakin dekat dengan dirinya membuatnya semakin ingin bersorak ria.
"Zahra.." Tiba-tiba terdengar suara yang sudah sangat tidak asing memanggilnya.
"Fi?" Langkah Zahra langsung terhenti.
"Zahra, jangan lakukan hal bodoh ini, mereka menjebak mu Zahra! mereka tidak sebaik yang kamu pikirkan!." Ucap Fia emosi sambil menggapai tangan Zahra yang sudah dingin.
"Bagaimana ini, Fi?"
"Bagaimana kamu se'serakah ini kepada ku? setelah semua yang telah kau ambil dariku..kau juga ingin mengambil mereka dariku?" Tanya Zahra dingin.
"Aku tidak butuh omong kosong dan rasa belas kasihan mu yang tidak mendasar itu, maaf." Ucap Zahra dingin sambil berlalu meninggalkan Fia dan melanjutkan langkahnya kembali untuk menyelesaikan masalah hatinya.
__ADS_1
Fia terdiam, ia bungkam. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Ah, ia lupa jika Zahra adalah orang yang sangat keras kepala. Zahra tidak mudah luluh, terkecuali dengan orang yang dipercayainya. Akan tetapi Zahra tetaplah Zahra, ia terbiasa dengan sikap egoisnya.
Ia lupa atau mungkin sengaja melupakan bahwa hidup sendiri tanpa mendengarkan penjelasan orang lain adalah sesuatu yang sangat menyeramkan.
Lalu, bagaimana dengan pendapat Zahra? ah, ia masih tetap kukuh dengan pendapat hidupnya sendiri. Tidak ada yang tau, bahkan Fia sahabat terbaiknya masih belum mengenalnya. Ia berbeda.
"Ternyata aku masih belum mengenal mu dengan baik. Maaf, aku masih belum mengerti dirimu yang sebenarnya.." Gumam Fia bersedih.
Zahra terus melangkah hingga ia benar-benar berdiri di depan Alif.
Alif terdiam dan tidak tau harus berbuat apa selain mengambil langkah dengan pergi kembali ke kantor.
"Tunggu..Alif!" Tahan Zahra.
Langkah Alif terhenti. Ia diam tak bersuara.
"Ada yang saya mau katakan, penting!" Ucap Zahra tidak mau di bantah.
Alif terdengar mengambil nafas berat dan memutar tubuhnya menghadap Zahra.
"Sepenting apa hingga kamu harus mengumpulkan semua orang di sini?. Apakah ini tentang kisi-kisi pelajaran saya?" Tanya Alif ramah.
Zahra tertegun ketika baru menyadari jika ia sudah dikelilingi banyak orang. Namun, secepat kilat ia mengontrol emosi nya, seakan-akan ia memang sengaja mengumpulkan banyak orang.
"Kenapa diam?, katanya ada yang penting." Tanya Alif membuyarkan lamunan Zahra.
"Oh, iya Alif..ini bukan tentang pelajaran kamu tap-"
"Maaf, Zahra, tapi di sini saya adalah guru dan bukan sebagai teman kamu..tolong gunakan bahasa yang sopan." Tegur Alif memotong ucapan Zahra.
Pipi Zahra langsung memerah seperti kepiting rebus karena menahan malu. Di tambah lagi, siswa-siswi yang berkumpul menyoraki nya penuh semangat.
Kapan lagi coba mengerjai Zahra jika bukan hari ini, sungguh adalah sebuah keberuntungan pikir mereka.
"Eh, iya pak saya minta maaf.."
"Lanjut.." Ucap Alif tegas.
"Emm..pak ini soal hati." Ucap Zahra pelan.
Alif mengernyitkan kening nya, tidak mengerti.
"Soal hati, maksud kamu Zahra?saya tidak mengerti.." Jawab Alif terdengar khawatir.
"Maksud saya itu saya mau mengungkapkan per-"
"Maaf, Zahra, saya harus kembali ke TU. Saya lupa jika ada file penting yang saya harus urus.." Potong Alif ingin segera meninggalkan Zahra.
"Tunggu..pak.."
"Sekali lagi saya minta maaf.." Mohon Alif terdengar tegang seraya melangkah mundur.
Tak ingin kehilangan kesempatan, Zahra akhirnya mengambil jalan pintas.
"ALIF..AKU CINTA SAMA KAMU." Teriak Zahra lepas.
Mendengar itu semua orang yang berada di sana langsung shock. Ada yang histeris dan ada pula yang mencibir tidak suka.
Alif seketika langsung terdiam. Wajah nya berubah menjadi merah padam. Ia marah bercampur kesal karena merasa jika harga dirinya sudah di jatuhkan oleh Zahra.
"KAMU MAU GAK JADI PACAR AKU..YANG PERTAMA DAN TERAKHIR." Teriak Zahra lagi dengan kepercayaan diri yang tinggi.
Semua orang semakin bersorak riuh mendengar permintaan Zahra di anggap sangat berani.
Alif mengepalkan tangannya kuat. Rasanya ia ingin sekali berlari kembali pulang ke pondok pesantren dan memeluk erat uminya. Meminta kehangatan atas perlakuan Zahra kepadanya.
"Jawab!"
"Terima."
"Jangan di terima!"
Dan berbagai macam teriakan yang mewarnai hari ini.
"Zahra..." Panggil Alif pelan.
"Yah.." Jawab Zahra senang.
Aku tau jawaban kamu pasti..
"Maaf saya tidak bisa menerima kamu.."
Doarrrr
Bagai di sambar petir, semua yang di sana langsung terdiam membisu.
Zahra mengerjap-ngerjap kan matanya sambil tertawa sumbang. Menepis pendengaran bodohnya itu.
"Hahaha..ah, kamu Lif ternyata bisa juga bercanda ya..jawaban kamu 'iya' kan?" Tanya Zahra dengan air mata yang hampir tumpah.
Alif menggeleng kuat.
"Maafkan saya Zahra, tapi saya memang tidak bisa menerimanya.." jawab Alif tegas.
Zahra sangat terkejut mendengarnya, rasanya dunia ini serasa ingin hancur.
"Tapi kenapa?, penolakan kamu pasti ada alasannya kan?" Tanya Zahra dengan suara yang sudah mulai terdengar serak.
"Tidak perlu saya jelaskan Zahra..ini privasi saya."
"Oh, tidak. Saya harus tau apa alasan kamu menolak saya, apa karena Fia?" Tanya Zahra dengan tatapan menyelidik.
"Tidak, itu bukan karena Fia." Elak Alif jujur.
"Apakah ini karena kejadian tadi malam? apakah ini karena Annisa?"
Alif terdiam tak bereaksi.
"Alif, aku bisa jelaskan itu semua!itu semua hanya karena ak-"
"Mungkin! tapi selebihnya bukan karena tadi malam.."
"Lalu?" Tanya Zahra bingung.
"Apa harus saya katakan?"
"Harus, jika tidak itu berati kau menjadi pacar ku."
"Karena-karena saya sudah mengkhitbah seorang gadis."
"Mengkhitbah?"
"Saya sudah melamarnya dan akan menikahi gadis tersebut." Jelas alif terdengar senang.
"Melamar?" Gumam Zahra nyaris tidak terdengar.
"Gadis lain?"
Benarkah?
Deg
Seperti ada pukulan keras yang menghantam ulu hati Zahra. Tidak terasa sakit untuk tubuh, tapi berdampak sangat sakit bagi batin Zahra.
"Yah..serius?"
"Ah, kalah cepet nih.."
"Anjay , pak Alif udah lamar cewek lain."
Apa lagi mendengar komentar-komentar mereka yang sangat menyakitkan membuat Zahra samakin terluka.
Zahra P. O. V
Sakit!
Alif sudah melamar gadis lain?
Siapa dia?
kenapa berani sekali melangkahi ku.
"Siapa?" Tanya ku tidak terima.
"Rahasia."
"Hahaha..rahasia?"
"Hanya saya dan Allah yang tahu."
"Baiklah, jika itu memang rahasia. Tapi kenapa harus gadis itu? kenapa bukan aku?" Tanya ku dengan nafas memburu.
Alif mengalihkan pandangannya terlihat sambil berpikir.
"Maaf Zahra saya harus kembali bekerja lagi pula semua nya sudah jelas sekarang, tidak ada yang perlu di bicarakan lagi." Ucap Alif dingin sambil berlalu meninggalkan aku.
Aku langsung terduduk lemas di tanah. Mau berkata apa lagi, ini terlalu sakit.
Alif?
Alif sudah mempunyai gadis lain.
Tik
Sebutir air jatuh mengenai tanganku.
Aku menangis?
Di tempat ramai seperti ini?
OH, NNO!
STOP ZAHRA!
Hentikan semua kebodohan ini. Jangan menangis di sini, kau akan terlihat lemah dan semua orang akan mengejek mu si lemah.
Tapi, aku tidak bisa mengelak nya. Ini terlalu sakit untuk ku lupakan, beginikah rasanya patah hati?
Ah, tidak. Ini bukan patah hati, ini adalah rasa kecewa karena aku telah gagal mendapatkan nya. Lalu, Fia akan menertawakan ku dan aku akan selamanya terjebak dalam kenangan masa lalu pangeran tampan ku. Padahal aku ingin mengalihkan hati ku.
Ini sakit Tuhan.
Aku telah kalah!
Terlalu banyak luka.
Aku lemah.
"Zahra, come here.." Panggil Andrini seraya menyentuh pundakku.
Andrini dan Latifa mengangkat tubuh lemah tidak berdaya ku.
"Ayo, ikuti kami.." Ucapnya seraya menarik tanganku ke sebuah ruangan, tepatnya gudang.
Setelah sampai sana mereka berdua langsung mendudukan ku di salah satu kursi kosong.
Ah, gudang.
Aku ingat tempat ini tempat dimana aku selalu membully atau mengerjai siswa baru. Kenangan indah ku rasa.
"Bagaimana, Zahra?" Tanya Andrini lembut sambil tersenyum.
"Lo jangan pura-pura bego bukannya lo yang ngumpulin anak-anak supaya nonton gue? ya, kale lo gak tau hasil akhirnya." Jawab ku kesal.
Yah, jika saja mereka tidak mengumpulkan anak-anak itu untuk menonton ku maka aku akan tidak semarah ini mungkin.
"Wo..wo..santai Zahra, kalem dong." Ucap Latifa ikut bersuara.
Andrini terlihat tersenyum samar. Terkesan mengejek dimata ku.
"Oh, pasti rasanya sakit yah?" Tanya Andrini dengan tatapan mengiba.
Ah, shit!
Aku benci tatapan itu.
"Ya-Iyalah sakit, pake nanya lagi. Udah, ah lo bukannya nenangin malah makin ngebuat gue kesel, Shit lo!"
"Ops, sorry jika lo merasa begitu." Mohon Latifa terdengar mengejek.
Apa-apaan mereka ini, kenapa jadi aneh begini?
Bahkan setiap mereka mengatakan sesuatu terdengar seperti mengejek.
"Zahra, lo mau denger sebuah cerita gak?"
"Cerita?"
"Ehem, ini rahasia gue dengan Latifa. Jadi, lo jangan kasih tau siapa-siapa yah.."
"Rahasia?"
"Iyah, lo juga pasti sangat kenal dengan tokoh utamanya. Ia bukanlah orang asing lagi buat lo."
"Maksud lo?"
"Dulu di sma ini pernah ada siswa laki-laki yang naif."
"Ia adalah murid pindahan, namun baru masuk di sekolah ini dia langsung menjadi famous dan artis sekolah. Akan tetapi pada suatu hari, ia tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang cantik. Gadis itu bernama Zahra."
Zahra?
Tunggu dulu, ini seperti kehidupan nyata ku. Jangan-jangan yang di maksud mereka adalah..
"Alvin?" Tanyaku dengan suara nyaris tidak terdengar.
Bersambung..
__ADS_1