
"Kak.." Suara Zahra terdengar serak.
Razi diam menunggu lanjutan ucapan dari Zahra.
Perlahan Zahra mengangkat kepala pelan, memperlihatkan wajah cantik sembabnya yang memerah karena kelelahan menangis.
"Bukankah kau berniat menjauhi ku?" Tanya Zahra pilu.
Deg
Razi terkejut dengan ucapan Zahra. Bahkan tanpa ia sadari tubuhnya spontan mundur ke belakang.
"Ap.. pa maksud kamu dek? " Panik Razi.
Zahra tersenyum kecut, mengusap wajahnya kasar dengan tangan bergetarnya.
"Kau puas bukan, setelah membuat ku terlihat bodoh seperti ini, kau memutuskan untuk pergi meninggalkan ku.. Hiks.. " Tangis Zahra kembali terdengar. Zahra menatap kecewa wajah pucat Razi yang masih shock dengan ucapan Zahra.
"Kau bahkan dengan apiknya telah menyusun semua rencana ini dengan baik. Tanpa sepengetahuan ku, kau telah menyiapkan acara kepindahan mu ke negeri yang sangat amat jauh ku jangkau. Dan hebatnya lagi, identitas mu sampai dengan saat ini mampu kau sembunyikan dariku. Kau..bukan kakak kandung ku, hiks.." Ucap Zahra seraya memandangi tangan bergetarnya. Kemudian setelah puas ia pandangi, ia arahkan tangan bergetar nya menuju dadanya. Meremat baju bagian dadanya. Ada rasa sesak bercampur sakit di sana. Dan ini untuk kesekian kalinya Zahra merasakan perasaan semacam ini jika mengenai Razi. Bahkan malam ini terasa sedikit berbeda, lebih sakit dan tentunya lebih sesak dari sebelumnya.
Razi bahkan sampai dengan saat ini masih belum bisa berkata apa-apa, ia bungkam sekaligus sakit mendengar tangisan dan suara bergetar Zahra. Ia telah melukai satu-satunya bidadari yang selalu menghiasi malam tahajud nya. Dan ia tak bodoh jika menyimpulkan bahwa Zahra pantas membenci nya.
"Jawab, kak! katakan dengan jelas bahwa kau bukanlah kakak kandung ku..hiks.. ku mohon.." Pinta Zahra dengan suara memohon. Bahkan suaranya pun kini terdengar sangat serak karena kelelahan menangis.
Razi tak bergeming, ia masih tak bersuara. Razi hanya bergerak mendudukkan dirinya menghadap balkon kamarnya yang memperlihat kan gelapnya malam ditaburi dengan kilauan cahaya bintang yang amat sangat cantik. Namun sayang, suasana malam ini justru tak mendukung sama sekali pemandangan yang disajikan Sang Maha Kuasa. Justru sebaliknya, ada air mata kekecewaan yang terjatuh ke bumi tanpa persetujuan Sang Maha Romantis.
Razi memeluk lututnya tanpa suara, memberikan pandangan ke arah balkon tepatnya langit yang bertaburan bintang dengan kosong.
"Hiks..katakan, katakan bahwa kau memang bukan kakak kandung ku!. Aku ingin mendengar nya langsung dari diri mu, bukan orang lain. " Sekali lagi suara Zahra memohon, lebih menuntut dari sebelumnya.
Razi mengangguk dalam diam, menyiratkan bahwa ia sama terluka nya dengan Zahra.
"Benar, kakak bukanlah kakak kandung mu. Kakak tak tau darimana kau mengetahui nya dan mungkin itu sangat tidak penting untuk saat ini, akan tetapi yang jelas kakak bukanlah kakak kandung mu dan kau bebas membenci ku. Itu sangatlah wajar untuk semua ini." Jawab Razi mencoba terdengar kuat dan tenang. Ia masih menatap langit dan tidak ingin mengalihkan nya sama sekali, apalagi jika harus menatap mata Zahra sudah dipastikan ia tidak akan bisa dan tidak akan kuat.
Zahra membungkam mulutnya dengan kedua tangan nya. Ia meredam suara tangis yang langsung meledak ketika mendengar jawaban Razi, namun dalam bungkam nya Zahra memberikan gelengan kuat.
Tidak.
Tidak, Zahra sungguh tak membenci Razi. Ia hanya shock mendengar nya secara langsung dari sang pelaku utama.
"Maaf. " Suara Razi menyesal.
Pelupuk matanya sudah di genangi oleh air matanya sendiri, hanya berkedip, maka air mata itu akan langsung keluar dan menetes.
"Maaf kakak bukanlah sosok seperti yang ada di bayangan mu. Maaf, mungkin kakak terlalu jahat dengan menyembunyikan semua rahasia ini dari mu sekian tahun lamanya. Maaf, kakak pantas kau benci dan kakak tak akan pernah melarang mu untuk itu. " Maaf Razi sangat menyesal.
Ia tak bisa melihat Zahra terluka seperti ini dan bodohnya pelaku yang membuat Zahra seperti ini adalah dirinya sendiri, si pecundang.
"Jangan menangis, kakak mohon. Kau bisa membenci kakak tapi kakak mohon, jangan menangis. Kakak tak bisa melihat mu seperti ini. " Pinta Razi seraya menenggelamkan wajah kacau nya dalam pelukan lututnya.
Zahra menggeleng lagi, melepas bungkaman tangan nya sendiri dan bergerak mendekati posisi Razi, hanya mendekat tak lebih.
"Aku tak membenci mu. " Suara Zahra serak, kali ini tangis nya sudah tak terdengar lagi. Bisa ia kendalikan.
Razi diam tak bergeming.
"Bahkan walaupun aku ingin membenci mu itu tak bisa ku lakukan. Aku tak bisa. " Sambung Zahra mengungkapkan isi hatinya.
"Aku.. " Suara Zahra menggantung.
"Aku hanya lelah dan kecewa. " Ungkap Zahra.
Zahra mengusap wajahnya pelan, sangat gugup rasanya berhadapan langsung dengan Razi.
"Aku kecewa, kau tau? Ini adalah hal yang sangat penting namun kau dengan teganya menyembunyikan semua ini dari ku. Apalagi kita hanya bertatap muka beberapa tahun karena terpisah jarak, itu membuat ku kesal. " Cerita Zahra.
"Maaf, maafkan aku. " Suara Razi menyesal di balik lututnya.
Zahra mengerang kesal.
"Kau-astaga jangan potong ucapan ku dulu!. Dan juga, jangan seperti ini, kau terlihat seperti seorang anak gadis jika bersembunyi seperti ini. Tunjukkan lah wajah mu, jika kau merasa sebagai laki-laki. " Kesal Zahra.
Bagaimana tidak, Zahra saat ini sedang ingin serius tapi melihat sikap Razi yang seperti ini membuat nya terganggu dan merasa risih.
Ragu-ragu Razi mengangkat wajahnya perlahan, namun tidak menatap Zahra melainkan kembali menatap gelapnya langit yang bertaburan bintang.
"Maaf. " Suara Razi meminta maaf.
Zahra memutar bola matanya malas.
"Apa kau ingat dulu aku pernah mengatakan jika aku ingin menikah dengan mu saat besar nanti. " Sambung Zahra serius, tatapan matanya meredup. Menyiratkan sebuah perasaan tersembunyi di sana.
"Awalnya aku berpikir itu aneh, apalagi saat diri ku menjadi Zahra yang tak terkontrol hanya untuk mendapatkan kembali perhatian dan sebuah janji masa kecil kita. Aku rela mendapatkan cemooh dan makian dari orang-orang karena sikap ku yang berbeda dari kalian, itu tak apa asal aku bisa mendapatkan respon dari mu. "
"Sampai akhirnya aku bertemu Alif, aku memutuskan untuk mencintai nya hanya untuk membunuh perasaan aneh itu, tapi...aku benar-benar tak bisa melakukan nya. Aku menganggap bahwa Alif lah cinta pertama ku, tapi ternyata itu salah. Justru cinta pertama ku adalah pangeran ku sendiri. Pangeran yang selalu menjaga dan mengawasi ku dari jauh tanpa sepengetahuan ku. Kakak tau, hari dimana kakak menampar ku, aku sangat merasa berdosa. Bagaimana bisa aku membuat sebuah kesalahan hingga orang yang ku cintai melakukan itu? aku membenci diriku sendiri. "
__ADS_1
Razi mengeratkan pelukan nya terhadap lututnya. Perlahan tanpa ia sadari air mata terus menetes tanpa suara.
"Aku mencintaimu. " Suara Zahra gugup. Takut-takut ia sentuh tangan Razi yang sedang terkait memeluk lututnya.
"Aku..hiks..aku mencintaimu." Ungkap Zahra lagi. Ia pandangi wajah tampan Razi yang masih tak bergeming dan bersuara.
"Apa kau mendengar, ku?" Tanya Zahra meminta jawaban karena tak mendapatkan respon apa-pun dari Razi.
"Aku men-"
"Zahra. " Panggil Razi memotong kalimat Zahra.
Perlahan ia lepas sentuhan tangan Zahra dari tangannya dan bergerak menghadap Zahra, menyamping.
Di tatapi nya wajah cantik Zahra yang terlihat memerah karena kelelahan menangis.
"Kau keliru. " Suara Razi membuat Zahra menatapnya heran, meminta penjelasan.
Namun Zahra memilih diam untuk menunggu lanjutan dari ucapan Razi.
"Kau keliru, dek. " Suara Razi lembut, ia tidak ingin menyinggung perasaan Zahra sama sekali.
"Perasaan yang kau bicarakan tadi bukanlah perasaan cinta, melainkan perasaan sayang seorang adik kepada kakanya. " Sambung Razi membuat Zahra mengerang tak terima.
"Perasan sayang seorang adik kepada kakaknya?" Tanya Zahra tidak percaya.
"Haha..darimana kau bisa menyimpulkan semua nya seperti itu?. Apa kau tau? aku hampir berpikir bahwa aku mempunyai gangguan jiwa karena memiliki perasaan ini terhadap mu!. Itu karena aku tak pantas mempunyai perasaan ini lantaran saat itu aku masih belum mengetahui siapa kamu, aku sangat tersiksa saat itu!, aku seperti orang gila!. " Marah Zahra tak terima.
Razi bungkam dengan ucapan Zahra, ia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu.
"Dan kau, kau dengan mudah nya menghakimi perasaan yang ku rasakan hanya karena aku tak tau kebenaran nya selama ini?. Apakah kau tak berpikir jika ucapan mu telah melukai ku?. Aku kecewa! " Putus Zahra seraya bangkit dari duduknya, berniat keluar dari kamar Razi. Namun sebelum Zahra benar-benar melakukan nya, Razi lebih dulu bertindak cepat. Ia raih tangan Zahra dengan kuat hingga membuat tubuh Zahra oleng dan terjatuh dalam pelukan hangat Razi.
Grab
Razi memeluk tubuh Zahra hangat yang tanpa menunggu lama langsung dibalas Zahra walaupun terkejut pada awalnya.
"Hiks..kau jahat!. Aku sudah mengatakan nya berulang kali bahwa aku mencintaimu, tapi kau jahat tak mempercayainya!. Bahkan kau meragukan nya!." Isak Zahra kembali terdengar namun teredam dalam pelukan hangat Razi.
Razi menggeleng kan kepala nya kuat, ia tak bermaksud begitu namun sebuah fakta bahwa ia telah memilih Alif adalah sebuah bukti bahwa Zahra memang mencintai Alif dan menerima lamarannya. Jika Zahra memang benar-benar mencintai nya bukankah seharusnya Zahra menolak lamaran Alif?
"Kakak tak bermaksud begitu, dek. " Suara Razi terdengar serak.
Zahra masih asyik dengan kegiatan nya, menangis dalam pelukan Razi seraya mengeratkan pelukan nya di tubuh Razi. Namun ia tetap menyimak apa yang di katakan Razi.
"Jangan bohongi hati kamu, dek." Suara Razi lembut seraya menatap wajah cantik Zahra.
Ia sentuh wajah basah Zahra yang kelelahan menangis, perlahan ia usap wajah Zahra dengan lembut.
"Kakak memang mencintai kamu, dek." Jujur Razi seraya tersenyum hangat.
Ia singkirkan helaian rambut Zahra yang nakal menutupi wajah cantik Zahra.
"Untuk memiliki kamu, kakak gak bisa. Kakak gak bisa bertindak egois dan menyakiti perasaan yang lain. Kakak gak mau memaksakan rasa yang sama kepada kamu, dek. " Ucap Razi sendu.
Zahra menggeleng kuat, ia raih tangan Razi dan menggenggam nya erat.
"Kakak salah paham, malam itu aku memang menerima lamaran Alif tapi Zahra lakukan itu untuk kakak!." Bantah Zahra.
Razi mengernyit bingung.
Seakan mengerti maksud Razi, Zahra pun melanjutkan ucapan nya.
"Kakak ingat bukan malam itu?" Tanya Zahra tak sabaran.
"Yang mana? " Bingung Razi.
"Itu..saat kakak.."
Flash Back On
"Kak Razi! " Panggilnya merajuk membuat lamunan singkat Razi langsung hilang. Zahra berjalan mendekati Razi dengan langkah yang sengaja ia hentak-hentakan. Terlihat lucu dan manis.
"Kakak kemana aja, sih? Zahra kangen! " Rajuknya seraya memeluk lengan Razi manja.
Razi merasa bahagia dengan tingkah laku nya yang manja, namun langsung tersadar akan sesuatu. Semua orang menatap Razi aneh, termasuk Alif.
Tidak, ini tak boleh. Batin Razi
Dengan susah payah Razi mengumpulkan suara nya dan meneguk ludah nya kasar.
"Zahra, hei. "
"Duduklah di antara Umi dan Abi. Kau tak boleh seperti ini. " Peringat Razi hati-hati tak ingin merusak suasana hati nya.
Ia menggeleng kuat.
__ADS_1
"Kakak jahat! kakak gak mau deket-deket sama Zahra lagi, yah? Kakak jahat banget! dari tadi pagi kakak gak pernah nemuin Zahra, Zahra kan kangen sama kakak!. Tapi ternyata kakak gak mau ketemu sama Zahra, kesel!" Keluhnya terdengar serak.
Astaga, kenapa Zahra terlihat sangat manis jika merajuk seperti ini?. Tapi apa tadi, suaranya serak! Oh, astaga ini pasti karena ia sedang menahan tangisnya.
"Zahra sayang, kakak bukannya gak mau ketemu sama Zahra. Tapi kakak beneran sibuk, sayang. Jadi kakak gak bisa bertemu dengan mu, dek. Hei, sudah. Jangan menangis, putri kakak lebih cantik jika sedang tidak menangis. Apa lagi saat ia tersenyum, ia sangat terlihat cantik dengan seperti itu. Oke, nanti setelah acaranya selesai kakak akan menemui mu. Tapi dengan satu syarat, duduklah di antara Umi dan Abi dengan patuh. Mengerti?"
Flash Back Off
"Apa kakak ingat, kakak berjanji kepada ku setelah semua nya selesai kakak akan langsung menemui ku, maka dari itulah tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan lamaran Alif agar aku bisa berbicara lagi dengan kakak. Hari itu aku sangat tersiksa karena tidak pernah bertemu kakak sehari full, tapi lagi-lagi kakak mengingkari janji kakak. Setelah acara selesai kakak tidak pernah terlihat..dan itu karena kakak pasti sangat terluka dengan kecerobohan ku, benar bukan?" Jelas Zahra.
Razi bingung sekaligus tak bisa berkata apa-apa dengan kecerobohan Zahra dalam mengambil keputusan, benar-benar masih sama dengan sifat Zahra kecilnya.
"Bagaimana bisa kamu bertindak seperti itu, dek? " Tanya Razi shock sekaligus kesal.
Bagaimana tidak kesal, hanya karena urusan sepele separuh hidupnya tergadaikan. Ck.
"Mudah, itu karena kakak. " Jujur Zahra dengan polosnya.
Razi tersenyum simpul, lebih tepatnya getir.
"Tapi kakak gak bisa, dek. " Ucap Razi sendu.
Zahra lagi-lagi dibuat bingung oleh sikap Razi.
"Pernikahan tinggal menghitung hari dan sangat mustahil untuk membatalkan nya, semua persiapan sudah 90 persen siap, dek. " Jelas Razi membuat Zahra menggeleng tak terima.
Ia eratkan genggaman tangannya dalam genggaman Razi.
"Kalau begitu bagaimana jika kita menikah di hari pernikahan yang sudah direncanakan. Kita bicarakan semua ini dengan Alif dan keluarga yang lain bahwa aku gak cinta sama Alif dan hanya cinta kepada ka-"
"Kakak gak bisa, dek. " Air mata Razi perlahan turun membasahi pipinya.
Zahra menggeleng tak terima dan menjatuhkan pelukannya kepada Razi. Memeluk Razi kuat.
"Hiks.. " Isak Zahra tak kuat.
Razi mengelus rambut panjang Zahra dengan lembut.
"Kakak gak bisa bertindak egois, dek. Ada hati yang akan terluka di sini. Dan kakak tau betul bagaimana rasanya patah hati. Cukup, kakak, jangan yang lain, karena rasanya akan sangat sakit dek. " Putus Razi teguh pada keputusan nya.
"Egois? Apa kakak tidak sadar bahwa saat ini kakak sedang bertindak egois dengan membuat ku terluka. Meninggal kan aku pergi, apa itu tidak egois? " Tanya Zahra tak terima.
Razi tersenyum kecut dan menggeleng pelan. Harus butuh kesabaran yang tinggi untuk meyakinkan Zahra.
"Kakak tak akan pernah melakukan ini jika yang akan menjadi imam mu adalah orang yang tidak kakak kenal, tapi dia Alif. Adik sepupu kakak. Kakak tau betul dia adalah pribadi yang baik dan in shaa Allah mampu menuntun mu ke jalan Allah. Kakak tau juga jika ia sangat mencintai mu. Dan kakak ikhlas akan itu, dek. "
Menggeleng pelan, "Aku gak bisa, kak." Mohon Zahra menolak nya.
Razi diam tak bersuara. Ia hanya bisa menangis untuk saat ini.
"Aku gak bisa, kak. Aku hanya mencintai kakak..hiks.. "
Razi melonggarkan pelukan nya, perlahan menggapai pundak Zahra. Zahra dengan tak relanya melepaskan pelukan nya terhadap Razi.
Razi menatap dalam manik Zahra, menyalurkan rasa rindu yang tak pernah tersampaikan.
Dengan berurai air mata ia usap wajah cantik Zahra dengan lembut.
"Dengar," Perintah Razi seraya mengunci manik mata Zahra.
"Kakak mencintai mu." Ungkap Razi seraya tersenyum tulus, terlihat bahagia karena saat ini ia benar-benar mampu mengatakan nya.
Zahra mengangguk semangat walaupun ada firasat buruk yang ia rasakan dengan ucapan Razi.
"Percayalah bahwa satu-satunya gadis yang duduk di sini.. " Tunjuk Razi kepada dadanya.
"Selama 10 tahun lamanya adalah kamu. Dan sejauh apapun jarak dan lamanya waktu yang menghalangi kita, yang duduk di sini tetap kamu dan kakak akan pastikan itu. "
"Kak.. " Panggil Zahra bahagia.
Razi tak merespon panggilan Zahra, tersenyum, ia perlahan mendekatkan wajahnya dengan Zahra secara pelan hingga bibir mereka pun bertemu.
Dalam berurai air mata Zahra memejamkan matanya bahagia, ini adalah ciuman pertama nya dan itu dilakukan dengam orang yang sangat di cintainya.
Sementara Zahra memejamkan matanya bahagia, Razi justru menggunakan kesempatan ini untuk menatap lekat wajah tersipu Zahra dengan perasaan kacaunya.
Setidaknya ini adalah yang terakhir. Batin Razi sendu.
Setelah beberapa detik lamanya Razi akhirnya menjauhkan wajahnya dari wajah Zahra. Hanya sebuah kecupan, tidak lebih.
Zahra terlihat tersipu dengan wajah yang memerah menahan malu.
Razi tersenyum, mengelus wajah Zahra untuk yang terakhir kalinya.
"Kakak pamit, kakak harus pergi ke tempat yang bisa memulihkan hati kakak. Jaga diri kamu, dek. Cintai suami mu dan berbaktilah kepadanya. Jika Allah mengizinkan kita untuk bertemu kembali maka itu adalah sebuah pertemuan untuk memper erat tali silahturahmi. Kakak bahagia jika kamu bahagia.."
__ADS_1