
***يٰۤـاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَا لًا كَثِيْرًا وَّنِسَآءً ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهٖ وَا لْاَرْحَا مَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 1***)
-------------------------------------------------------------
Sambil menggenggam tangan lembut Zahra, Razi kemudian membimbing langkah mereka memasuki sebuah kamar yang dulu nya adalah kamar Razi dan kini telah di dekor dan di rubah menjadi sebuah kamar pengantin yang cantik dan anggun. Di dalam nya terdapat berbagai macam bunga yang bertebaran di atas permadani lembut. Wangi nya sangat memabukkan bagi mereka yang masuk ke dalam nya. Tidak terkecuali Zahra yang notabene sangat menyukai sesuatu yang berbau bunga.
Memasuki kamar, Zahra melirik sang suami yang kini sedang menutup pintu kamar nya dan bergerak menguncinya yang mana pergerakan ini membuat Zahra tanpa sadar tersenyum malu. Bahkan wajah nya kini memunculkan rona pipi yang manis di kedua pipinya. Menunduk, tangannya kembali di genggam sang suami. Mendudukkan nya di atas ranjang lalu berlutut dilantai mensejajarkan tinggi nya dengan tinggi Zahra.
Dibalik cadar nya Zahra tidak bisa tidak tersenyum, bahkan kedua tangan nya kini saling meremat, terasa dingin.
Ini bukan lah sesuatu yang asing dirasakan oleh pengantin lainnya. Zahra sama dengan pengantin yang lain jika di hadapkan dengan sesuatu yang menyangkut malam pertama. Mereka pasti merasakan sebuah perasaan gugup yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata.
Zahra sangat takut namun juga bahagia, itu tidak bisa di pungkiri olehnya. Ia takut karena ini adalah pengalaman pertama baginya dan ia juga bahagia karena yang menjadi pendamping hidup nya adalah seseorang yang sangat ia impikan dan dambakan. Maka itu terasa wajar jika malam ini segala macam perasaan dapat bercampur dalam satu emosi ke dalam pikiran Zahra. Itu adalah sesuatu yang bisa di maklumi.
"Zahra." Panggil Razi seraya membawa kedua tangan Zahra ke dalam tangan nya, menggenggam nya. Namun, Zahra masih menundukkan wajah nya malu. Ia tidak berani menatap Razi, jangan kan menatap mengangkat wajah nya saja rasanya sangat berat. Seperti ada sesuatu yang menahan nya untuk melakukan hal itu.
Mendapati sikap malu-malu Zahra, Razi mengembangkan senyuman manisnya. Melepas genggaman tangan kanan nya, Razi mengangkat tangan nya menyentuh dagu Zahra. Zahra tersentak namun tetap menurut ketika dagu nya di tarik sehingga wajah mereka kini berhadapan tanpa sekat.
"Zahra, istriku. " Panggil Razi sekali lagi dan itu berhasil menarik perhatian Zahra. Menggerakkan bulu mata lentik nya terlihat anggun dan kini bola mata jernih nya menatap sang suami dengan sikap malu-malu yang manis.
Sekali lagi Razi tersenyum hangat, mengangkat tangan kirinya yang masih menggenggam tangan Zahra. Melepaskan nya dan menggerakkan membuka kaitan cadar transparan yang melindungi wajah sang istri dari pandangan nya. Wajah Razi mendekat bermaksud untuk berkonsentrasi membuka kaitan cadar transparan yang langsung di sambut secara spontan oleh Zahra dengan menutup kedua mata nya malu-malu.
Sangat mendebarkan rasanya bisa sedekat ini dengan Razi.
Setelah berhasil melepas kan pengait cadar transparan tersebut Razi langsung meletakkan nya ke sisi ranjang yang di duduki Zahra. Menatap dengan penuh takjub betapa indahnya nya ciptaan Allah yang satu ini. Maka nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan?
"Zahra, bukalah mata mu. " Mohon Razi dengan suara lembut dan hangat nya. Kali ini Zahra tidak ingin membuat suaminya menunggu lebih lama lagi. Ia langsung membuka matanya yang mana langsung disambut dengan sebuah senyuman manis di wajah tampan Razi.
"Apa kakak boleh membuka hijap mu? " Suara Razi meminta izin yang langsung di angguki oleh Zahra tanpa keraguan sedikit pun.
Mendapat persetujuan dari sang istri, Razi langsung mengarah kan tangan nya ke arah atas kepala Zahra yang disambut dengan semakin merendah nya posisi kepala Zahra. Ia menundukkan kepala untuk membantu suaminya melepas kan berbagai jenis jarum yang tersemat dalam hijap nya.
Melepaskan nya dengan perlahan hingga benar-benar terbebas dari lilitan jarum, kemudian ia singkirkan kain hijap tersebut ke tempat semula ia menaruh kain cadar transparan itu beberapa waktu lalu.
Razi semakin menatap kagum dengan paras cantik wajah Zahra. Mengaguminya dengan mata yang berbinar, seakan-akan berkedip adalah sesuatu yang membawa kerugian bagi nya.
Tersadar akan kegiatan nya Razi bergegas mengalihkan perhatian nya, berdehem yang kemudian menarik perhatian Zahra.
"Kakak akan mandi terlebih dahulu kemudian setelah nya kamu boleh mandi, kemudian kita akan melaksanakan sholat sunnah 2 rakaat sebagai penyempurna pernikahan kita. " Suara Razi canggung.
"Zahra mengerti. " Jawab Zahra patuh yang langsung di angguki oleh Razi. Razi mengelus lembut puncak kepala Zahra lalu bergerak mengangkat tubuhnya dan berakhir berjalan ke arah kamar mandi untuk melaksanakan ritual membersihkan tubuh nya.
Setelah Razi benar-benar hilang di telan kamar mandi, Zahra akhirnya bisa bernafas lega. Ia menggigit bibir nya gugup. Berpikir jika beberapa waktu yang lalu mereka tidak merasa canggung sama sekali. Tapi entah mengapa setelah memasuki kamar pengantin mengapa tiba-tiba suasana menjadi berbeda. Membuat Zahra harus berkali-kali menahan nafas karena perasaan gugup yang merasuki nya entah dari mana.
Untuk memastikan bahwa penampilan nya tidak mengecewakan, Zahra dengan hati-hati berjalan ke arah cermin di atas meja rias. Ia memperhatikan wajah nya yang di beri sentuhan make up tipis dan tidak menonjol sama sekali.
Menghela nafas lega, Zahra kembali bergerak ke arah ranjang dan mendudukkan dirinya ke tempat semula.
Sementara menunggu Razi membersihkan badan nya, Zahra ingin berjalan keluar menemui umi atau yang lain. Yang berpengalaman saat malam pertama. Ia ingin bertanya apa yang harus dilakukan saat dimalam pertama. Namun, jika ia benar-benar keluar apakah ia tidak akan menjadi bahan ejekan mereka yang ada di luar?
Ah, betapa menyesalnya Zahra tidak mencari tahu dan bertanya sebelum nya. Jika waktu bisa di putar lagi ia ingin kembali ke waktu beberapa jam yang lalu sebelum pernikahan. Membaca dan mencari buku referensi pernikahan apa pun yang bisa membantu saat ini.
Akan tetapi sayang sekali, itu hanya angan-angan nya saja. Itu tidak akan pernah bisa diputar ulang.
Zahra memijit kepala nya kesal, karena saat ini yang sedang melayang-layang di dalam pikiran nya adalah sesuatu yang berbau-
"Cukup, jangan memi-"
"Zahra? " Panggil Razi yang kini sudah menggunakan baju takwa beserta sebuah sarung berwarna putih yang dengan rapi melilit tubuh nya.
"I-iya, kak. " Gugup Zahra mendapati penampilan Razi yang tidak biasa. Ini terlihat sangat cocok dengan Razi, Zahra bahkan mengakui pesona Razi malam ini berkali lipat dari pada hari-hari sebelum nya.
"Sekarang giliran mu untuk membersihkan tubuh mu. " Jawab Razi yang langsung di balas dengan kikuk oleh Zahra.
Zahra berjalan pelan menuju ke arah kamar mandi, karena terlalu gugup dengan keberadaan Razi, Zahra hampir saja jatuh terjengkang gara-gara menginjak gaun nya.
Secepat yang ia bisa, Razi meraih Zahra agar tidak terjatuh.
"Hati-hati. " Nasihat Razi lembut yang langsung diangguki kikuk oleh Zahra. Jika bisa, Zahra ingin di tenggelam kan ke dalam laut karena betapa memalukan nya ia saat ini. Sungguh, ini bukan dirinya.
Zahra kembali berjalan, namun kali ini lebih hati-hati. Tidak ingin membuat sang istri bermasalah lagi Razi secara spontan meraih gaun Zahra dan mengangkatnya agak tinggi agar tidak menjadi pijakan untuk yang kedua kalinya bagi Zahra. Ia ingin istrinya tidak terluka atau merasa tidak nyaman dengan gaun nya. Menutup pintu, Razi langsung merosotkan badannya ke atas ranjang. Terduduk, ia menyentuh dadanya gugup.
Tangan nya bergetar dan terasa dingin. Bahkan suara deru nafasnya pun terdengar kuat.
"Ini sangat mengejutkan." Gumam Razi tidak percaya. Razi mengusap wajahnya pelan sebelum akhirnya ia memutuskan beranjak dari ranjang dan meraih dua buah sajadah yang memang sudah disiapkan.
Menggelarnya ke arah kiblat juga tidak lupa menyingkirkan beberapa kelopak bunga yang akan menghalangi sujud.
Setelah rapi dan bersih, Razi bergerak meraih sebuah Al-Qur'an dan membacanya sementara menunggu Zahra menyelesaikan ritual mandinya.
Cklek
Suara pintu kamar mandi mengalihkan fokus Razi, mengakhiri dengan doa Razi menutup Al-Qur'an dengan perlahan. Mengembalikkannya, Razi mengalihkan perhatiannya dan menatap sang istri yang sudah terbalut anggun sebuah muknah putih polos.
__ADS_1
Wajahnya menunduk sopan terlihat sangat malu-malu dan menyenangkan dipandang mata. Zahra terlihat gugup di sana, ia sangat kentara terlihat ragu melangkahkan kakinya menuju sang suami yang sedang menatap takjub dirinya.
"Zahra, kemarilah. Kita akan melaksanakan sholat sunnah dua rakaat." Suara Razi setelah tersadar dari lamunannya. Ia menatap Zahra yang sedang melangkah ke arahnya tanpa berkedip, lagi-lagi ia merasa takjub malam ini. Begitu banyak yang ia dapatkan dari Zahra dan selalu berhasil membuatnya merasa takjub dengan itu semua.
Memimpin sholat, Razi dengan keyakinan yang mantap mengangkat kedua tangannya untuk memulai takbir pertama. Membawa keheningan yang membungkus mereka berdua menjadi sebuah suasana suci nan romantis yang menghanyutkan mereka dalam buaian rindu Sang Pencipta. Membelai kedua mahluknya yang baru saja menyempurnakan agamanya dengan ayat-ayat suci sebagai rayuan manis yang tidak terbantahkan.
Sadar atau tidak mereka berdua kini sama-sama terhanyut dalam kekhusyukan buaian Sang Kuasa, membelai dan mengikat mereka dalam sebuah ikatan merah penghubung takdir dari lauhul mahfuz nya.
"Assalamualaikum warrahmatullah.." Mengakhiri sholat sunnah dua rakaat, Razi mengangkat kedua tangannya di depan dada. Menundukkan kepala sebagai rasa syukur dan menghambanya kepada sang kuasa ia mulai melatunkan ayat-ayat suci sebagai rasa bahagia atas ridhonya.
Ini bukanlah suasana yang biasa bagi Zahra, apalagi ini dilakukan bersama dengan sang kekasih yang ia dambakan. Ini sangat menyentuh hati Zahra. Bahkan air matanya pun tidak ingin ketinggalan langkah dalam ikut berpartisipasi menyuarakan rasa harunya yang sangat membuncah di hati.
Satu hal yang Zahra dapat simpulkan dari semua ini bahwa, ya, Sang Kuasa memang adalah ahli terbaik dalam hal skenario. Dan ia tidak akan meragukannya lagi.
Mengakhiri doa, Razi mengucapkan hamdallah. Kemudian ia membalikkan badannya menata sang istri yang sedang mengulurkan tangannya. Mengangkat tangan kanannya yang langsung disambut baik oleh Zahra. Meraih tangan sang suami, Zahra tidak mempunyai keraguan sama sekali menciumnya yang kemudian disambut oleh Razi dengan sebuah kecupan lembut dan hangat dikeningnya.
Menyelesaikan kecupan manis, Razi menjauhkan wajahnya dari Zahra. Membawa tangan hangatnya menyentuh dan membelai rindu wajah sang istri dengan tatapan memuja yang jelas.
"Zahra, istriku." Panggil Razi lembut seraya menangkup hangat wajah sang istri.
"I-ya kak." Jawab zahra gugup. Zahra menggigit bibirnya gugup, dalam hati ia merutuki betapa tidak berdaya dirinya saat ini.
"Apakah kamu gugup?" Tanya Razi dengan senyuman hangat diwajahnya.
Zahra mengerjapkan matanya, beberapa saat kemudian ia menganggukkan kepalanya.
Razi terkekeh, mencubit pelan hidung sang istri.
"Kakak juga merasa gugup, sangat gugup." Jujur Razi membuat Zahra kehilangan kata-katanya. Ia tidak mampu berkomentar apapun karena ia pun sama gugupnya dengan sang suami.
Tersenyum, Razi menurunkan tangannya. Menggenggam kedua tangan Zahra dalam genggaman tangan besarnya.
"Zahra aku sangat mencintai mu." Mencium tangan Zahra, perlahan air mata bening mulai mengalir dari mata tajam nan meneduhkan nya.
"Kau tau, aku masih menganggap semua ini adalah mimpi. Ini adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya."
Zahra mengeratkan genggamannya. Menatap sang suami yang terlihat sangat bahagia.
"Aku juga, aku sangat mencintai mu, kak." Mata Zahra mulai berkaca-kaca, yang kemudian disambut dengan air mata yang sama, kebahagiaan.
"Aku pikir yang ada dihadapan ku saat ini adalah sebuah ilusi. Aku pikir sejak saat itu semuanya telah berakhir dan aku tidak punya jalan yang lain lagi untuk menggapai mu."
Razi mengangguk menyetujui. Mencium tangan sang istri, ia bawa lagi kedua tangannya menyentuh wajah Zahra. Mengusap jejak air mata yang sempat mengaliri wajah cantiknya.
"Kakak ingin mengatakan sesuatu." Zahra mengangguk, memberikan gestur mendengarkan.
Membelai pipi sang istri, Razi meluruskan atensinya menatap kagum sang istri tepat di bola matanya.
"Mulai malam ini ikatan kita sudah resmi dimata Allah dan hukum sebagai suami dan istri."
"Aku adalah suami dan imam mu." Zahra mengangguk semangat menanggapi membuat Razi lagi-lagi tersenyum manis.
"Dan kau adalah istriku, ibu dari anak-anak ku kelak." Pipi Zahra menghangat. Ada rona merah yang menghinggapi pipinya.
"Maka dari itu malam ini adalah malam yang mengawali hubungan yang sesungguhnya. Aku tidak bisa berjalan tanpa dirimu dan kamu tidak akan bisa berjalan tanpa ada diriku, jadi ayo kita sama-sama melangkah. Bersama."
"Zahra, bersediakah kamu menjadi pendamping hidup ku hingga ajal menjemput?"
"Menjadi rumah untuk ku pulang dan menjadi istri, ibu dari anak-anak ku?"
Zahra menggigit bibirnya. Menahan isak tangis yang siap meledak kapan saja. Menenangkan diri, Zahra mulai membuka bibirnya.
"Aku bersedia." Menarik nafas, ia genggam tangan sang suami yang sedang membelai lembut wajahnya.
"Aku bersedia menjadi rumah tempat untuk mu pulang, menjadi istri, ibu dari anak-anak kita. Aku bersedia bahkan jika ajal memisahkan kita..hiks.." Tangis Zahra pecah. Ia tidak mampu lagi menahan semuanya. Berhambur ke dalam pelukan sang suami, ia lepaskan segala rindu yang mengikatnya. Ia bahagia dan akan selalu terasa begitu selama mereka bersama.
Membalas pelukan sang istri, Razi membelai hangat tubuh bergetar istrinya. Membelainya dengan lembut dan berusaha menyampaikan sebuah energi penenang untuk nya.
Setelah sekian lama dalam posisi seperti ini, membiarkan Zahra memeluknya dan menumpahkan tangisannya hingga Zahra dirasa sudah tenang. Razi pun mengambil tindakannya, melepaskan pelukan sang istri lalu menatap mata sang istri. Mengelusnya, Razi pun mengangkat badannya. Menjadi kekuatan lututnya sebagai tumpuan berat badannya. Razi meraih kepala Zahra yang masih tertutupi kain muknahnya. Menghadapnya seraya membisikkan sesuatu yang membuat wajah basah Zahra merona malu.
"Zahra, kita akan memulai semuanya dengan menyempurnakan pernikahan kita. Apakah kamu siap, hem?" Bisik Razi dengan suara maskulinnya. Berusaha mengucapkannya dengan lembut.
Zahra tidak langsung merespon, bahkan matanya sangat fokus menatap kedua tangannya yang saling meremat. Lama menunggu, Zahra akhirnya menganggukkan kepalanya. Berusaha menundukkan wajahnya. Menyembunyikan rona wajah nya yang kini sedang menggodanya.
Razi terkekeh, menggelengkan kepalanya pelan. Berpikir bahwa betapa lucunya sikap sang istri malam ini, tidak seperti sosok yang ia kenal.
"Baiklah." Suara Razi gugup.
Menghela nafas panjang Razi sedang berusaha mengumpulkan keberaniannya. Menutup mata untuk meredam suara detak jantungnya yang seperti tidak biasanya.
Membuka mata, Razi mulai mengucapkan sebuah doa yang indah. Sebuah ayat-ayat suci yang ia baca tepat di atas ubun-ubun Zahra. Dibaca dengan suara yang indah dan lembut, membuat Zahra mau tidak mau kembali meneteskan air mata kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ini adalah malam yang sungguh menakjubkan. Malam yang akan mengantarkan mereka dalam ridho Allah, mengikat mereka dengan balutan takdir benang merah dari sang maha romantis ahli skenario.
*اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
"Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa*."
"Aamiin." Doa mereka tulus. Razi mengusap wajahnya lalu dengan lembut ia mulai meniup ubun-ubun sang istri. Mengecupnya dengan setulus hati lalu ia berpindah menghadap wajah cantik sang istri yang masih dijejaki jejak air mata bahkan sekarang ada rona pipi diwajah cantiknya. Tersenyum, Razi kembali mengecup Zahra, namun kali ini tepat dikeningnya. Mengecupnya ringan namun sarat akan ketulusan. Memejamkan mata, mereka berdua larut dalam pikiran dan harapan masing-masing. Dengan mata terpejam, Zahra kembali merasakan sebuah sentuhan hangat dimata kirinya lalu kemata kanannya. Sangat hangat dan membuat Zahra tanpa sadar kembali terhanyut dalam buaian hangat sang suami.
__ADS_1
"Jangan menangis." Bisik sang suami khawatir. Zahra spontan membuka matanya dan langsung mendapati mata tajam Razi yang juga sedang menatap nya khawatir.
"Kakak tidak akan melakukannya secara kasar, kakak janji. Kakak akan berusaha selembut mungkin." Bisik Razi meyakinkan. Zahra menutup wajahnya malu, pipinya terasa menghangat saat ini.
"Zahra menangis bukan karena hal itu, tapi Zahra menangis justru karena Zahra malam ini merasa sangat bahagia. Zahra bahagia tau!" Suara Zahra merajuk. Mendengar jawaban Zahra membuat Razi merasa ingin ditenggelamkan ke dasar bumi. Ia tidak tau jika Zahra akan membuatnya merasa semalu ini.
"Tapi karena kakak telah mengatakannya, maka tolong lakukanlah dengan lem-lembut." Suara Zahra malu-malu. Razi terkejut namun sedetik kemudian ia mengangguk lembut sebagai persetujuan untuk sang istri.
"Baik, mari lakukan dengan lembut." Suara Razi seraya menarik kedua tangan Zahra dari wajah malu-malunya.
Zahra tidak melawan dan membiarkan Razi menarik tangannya yang kemudian disambut dengan sebuah ciuman yang lembut dan hangat dibibir nya. Zahra terkejut dengan kejutan yang diberikan sang suami, ia tidak menyia-menyiakan perjuangan sang suami dan ikut mengikuti arus yang dibuat sang suami.
Malam itu adalah malam yang penuh akan kehangatan. Malam yang menjadi saksi akan proses penyatuan dua mahluk yang berharap akan ridho Sang Kuasa terhadap mereka. Malam yang akan mengawali perjalanan mereka selanjutnya bersama dengan benang merah Sang Maha Romantis yang kini sedang mengikat mereka dengan benang takdir dari lauhul mahfuz.
Ya, malam ini adalah awal dari segalanya.
***
Gadis itu memandang takjub sebuah foto yang ada di handphone genggam nya. Tidak bisa mengelak lagi bahwa seluruh tubuhnya merasakan sebuah sengatan kebahagiaan yang berlimpah malam ini. Ia mengelus wajah tampan yang sedang tersenyum tersebut dengan sebuah senyuman kerinduan. Ia tidak menyangka jika keinginannya akan langsung tercapai. Mengingat bahwa jalan yang ia jalani tidak mudah dan terkesan rumit membuat gadis itu mau tidak mau menghembuskan nafas kelegaan. Ia sangat bersyukur akan semua ini.
"Mas Alif." Gumam gadis itu seraya menatap kecewa wajah tampan yang kini sedang tersenyum bahagia di dalam foto.
"Kenapa mas Alif tidak hadir dalam acara ini?" Bertanya serius pada figur abadi yang tidak akan pernah bisa merespon pertanyaan nya.
"Annisa sangat merindukan mas Alif." Aku gadis itu dengan suara lembut nan manisnya. Tersirat ada nada manja yang terselip dalam suaranya.
Annisa, ya gadis yang kini sedang menatap rindu sosok Alif dalam figura foto telepon pintar tersebut adalah dia, Annisa. Sang pengagum yang diam-diam memendam sebuah rasa manis kepada laki-laki tampan tanpa cela tersebut kini telah mendapatkan sebuah jalan yang terbuka lebar untuknya. Jalan untuk meraih sosok yang selama ini kagumi keberadaannya.
"Kali ini mas, Annisa tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan hati mas Alif. Apapun akan Annisa lakukan untuk mendapatkannya, Annisa tidak akan pernah berhenti sebelum mas Alif benar-benar menjadi milikku." Mengucapkan sebuah tekad yang kuat, Annisa tidak akan pernah mengingkarinya. Bahkan mata yang biasanya memancarkan sinar kelembutan dan kehangatan kini berubah memancarkan sebuah sinar keserakahan yang kuat. Yah, jadi tujuannya akan benar-benar tercapai setelah malam ini dan ia akan pastikan itu.
***
Menutup pintu masjid, laki-laki itu pun membawa langkah kakinya menuruni tangga. Di setiap langkahnya tidak pernah lepas dari sapaan hangat para santri yang melewatinya. Menuruni tangga terakhir sosok itu langsung disambut dengan kehadiran sosok yang sangat tidak asing untuknya.
"Assalamualaikum Gus Fansyah?" Salam seorang gadis sopan. Gadis itu terlihat masih menggunakan muknahnya, bahkan sebuah kitab suci Al-Qur'an masih ia jaga dalam pelukan hangatnya.
Gus Fansyah menyunggingkan senyuman hangatnya, mengelus puncak kepala sang gadis.
"Waalaikumussalam, belum pulang, Fir? Ini udah mau masuk jam tidur santri lho." Peringat Fansyah terhadap gadis yang ternyata adalah Fira, adiknya.
"Jangan terlalu formal, panggil saya mas Alif saja." Sambung Alif merasa canggung jika dipanggil dengan formal oleh orang terdekatnya. Fira menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"Itu tidak akan, Gus Fansyah adalah Gus Fansyah." Suara Fira keras kepala.
Alif tidak ingin ambil pusing dengan kelakuan adiknya ini. Ia biasa seperti ini, mungkin sekarang ia akan memanggilnya dengan 'Gus Fansyah' tapi ia bisa menjamin jika besok ia akan memanggilnya dengan 'mas Alif'. Tidak perlu dipertanyakan adiknya memang labil.
"Fira akan kembali ke pondok sebentar lagi." Suara Fira menarik Alif dari lamunannya.
Alif meliriknya seraya membawa langkahnya berjalan ke arah pondok putri. Fira menurut dan tetap mengikuti langkah sang kakak.
"Gus, gadis yang Gus Fansyah bawa semalam sudah siuman." Suara Fira membuat langkah Alif spontan berhenti. Ia berbalik, menatap wajah polos sang adik.
"Sejak kapan?"
"Dua jam yang lalu." Jawab Fira mantap.
Di banjiri rasa ingin tahu, Alif tidak akan melepaskan kesempatan ini untuk mencari tahu lebih dalam lagi.
"Apa yang dilakukan selama dua jam ini?"
Fira mengernyit bingung, lalu dengan ragu menjawab pertanyaan kakaknya.
"Gadis itu makan dibantu dengan umi."
"Lalu?" Merasa tidak puas ia menggali lebih dalam lagi.
"Fira tidak tahu setelahnya karena Fira langsung ke masjid untuk melaksanakan sholat isya berjamaah, bukankah Gus Fansyah adalah imam untuk sholat isya tadi?" Bingung Fira.
Alif mengangguk dan tidak lagi mengatakan apapun. Ia kembali membimbing Fira menuju pondok para santriwati.
Dalam perjalanan mereka ke sana hanya diwarnai dengan seputar pembicaraan ringan. Mencakup kegiatan sehari-hari hingga pembicaraan tentang pernikahan Razi dan Zahra yang sudah direncanakan keluarga.
Setelah sampai gerbang pondok, mereka disambut oleh beberapa satpam yang bertugas menjaga gerbang pondok para santriwati.
Sebelum melepas sang adik, Alif mengucapkan sebuah permintaannya kepada Fira.
"Fira." Panggil Alif.
"Iya, Gus?" Jawab Fira cepat.
"Tolong awasi gadis itu, jangan biarkan dia pergi walaupun ia meminta." Pinta Alif sarat akan kekhawatiran. Fira tersenyum dan mengangguk ringan. Ia tau maksud dari ucapan kakaknya, ada sesuatu yang coba kakaknya sampaikan. Dan ia tau sesuatu itu bukanlah hal yang sepele.
Mengucapkan salam akhirnya Alif dan Fira berpisah didepan gerbang pondok para santriwati.
**TAMAT
SERIUS, KALI INI TAMAT BENERAN. GAK ADA EXTRA PART TAMBAHAN LAGI.
__ADS_1
YAP, BUKU INI SAMPAI DI SINI.
Kecuali itu tentang Alif, in shaa Allah ada rencana**.