
Hari yang di tunggu pun tiba, Alenka berada di bali saat ini bersama Dean walaupun harus melalui perdebatan panjang dengan Tommy di karenakan sang kekasih tak menyetujui Alenka pergi hanya berdua dengan Dean, tapi karena Alenka terus meyakinkan Tommy, akhirnya sang kekasih pun mengijinkan Alenka pergi bersama Dean, Tommy berusaha berpikir positif bahwa sang kekasih akan bersikap profesional.
"Al, ini gaun untuk nanti malam. Jangan dandan terlalu cantik. " ucap Dean sambil memberikan paper bag pada Alenka. Karena Dean harus menghadiri acara ulang tahun perusahaan salah seorang rekan bisnisnya mau tak mau Alenka harus menemaninya, bahkan Dean secara khusus memilih kan sendiri gaun untuk Alenka saat mereka masih berada di jakarta.
Aneh sekali, pikir Alenka. biasanya seorang pria akan senang berdampingan dengan wanita yang cantik dan bahkan meminta wanita berdandan cantik untuk menghadiri acara seperti ini, tapi Dean malah sebaliknya. " Memang kenapa? bukan nya di mana-mana pria akan meminta wanita untuk dandan yang cantik, agar tak malu saat berdampingan."
Tanpa Alenka duga, Dean malah memajukan langkahnya, refleks Alenka mundur sampai membentur dinding kamar hotel yang Alenka tempati. Perlahan Dean mencondongkan badannya ke arah Alenka " Kalau kamu dandan terlalu cantik, jangan salahkan aku kalau aku jatuh cinta lagi sama kamu." Bisik Dean di telinga Alenka, membuat gadis itu meremang merasakan napas hangat Dean menyapu bagian samping wajahnya.
Setelah mengatakan itu Dean memundurkan badannya. Gemas sekali rasanya melihat wajah Alenka yang memerah. kalau saja bukan calon istri orang mungkin sudah Dean cium seluruh wajah cantik itu, pikir Dean yang mulai tak waras.
Setelah membuat Alenka gugup setengah mati, kini Dean kembali ke kamarnya untuk bersiap keacara rekan bisnisnya, begitu pun Alenka yang langsung bersiap untuk menemani Dean nanti malam.
...----------------...
" Hai, De. " sapa Seorang wanita cantik dan sexy.
" Bisa bicara sebentar berdua, aku sulit menghubungi kamu, ke kantor juga susah buat ketemu sama kamu. " ucap Erina memohon.
Dean dan Alenka yang sedang berada di pesta pun di kejutkan dengan kehadiran Erina yang juga ada di pesta itu. Pertemuan tak sengaja membuat Dean tak bisa menghindar seperti sebelumnya, Erina sendiri bisa berada di pesta pun karena mewakili sang papa yang tidak bisa hadir di pesta perusahaan sahabat papanya itu.
" Maaf, Rin. Aku rasa gak ada yang harus kita bahas, bukankah saat itu aku sudah mengatakan membatalkan perjodohan kita. " beberapa hari yang lalu Dean memang datang ke rumah sang mama untuk meminta membatalkan perjodohannya dengan Erina, Dean berjanji akan membawa calon istrinya bulan depan. Karena hal itu lah akhirnya mama sherlin menyetujui permintaan Dean. Perihal calon istri yang ia karang bebas itu urusan belakangan, pikirnya. Yang terpenting perjodohannya batal dengan Erina.
" Ayo lah aku hanya ingin berbicara saja tak lebih, De. " Erina masih mencoba memohon, dengan berat hati Dean menurutinya untuk berbicara berdua sedikit menjauh dari Alenka, karena jujur Erina malu kalau sampai ada yang tau perjodohannya dengan Dean berakhir karena Dean memiliki calon idaman lain.
__ADS_1
" Al, tunggu di sini sebentar. jangan pergi kemana pun apalagi kembali ke hotel sendiri. Tunggu aku, aku hanya sebentar berbicara dengan Erina. " Dean khawatir meninggalkan Alenka seorang diri, takut sekali ia kalau ada pria yang mendekati Alenka apalagi di sini banyak pebisnis muda yang tampan.
Alenka hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis pada Dean.
" Ada apa, apa yang mau kamu bicarakan? " tanya Dean saat mereka sudah berada agak jauh dari Alenka.
" Apa kurangnya aku sampai kamu menolak? bukankah sebelumnya kamu gak punya kekasih? kenapa sekarang tiba-tiba kamu bilang udah punya calon istri? apa kamu berbohong hanya untuk menghindari perjodohan kita? " sederet pertanyaan Erina lontarkan pada Dean, sungguh ia tak habis pikir kenapa Dean selalu menolaknya.
" Rin, dengar aku. Aku tau kamu cantik, pintar, kaya dan bahkan karier kamu terbilang sukses, tapi aku gak bisa memaksa hati aku untuk mencintai kamu karena memang sejak awal aku sudah mencintai wanita lain sejak lama dan wanita itu yang akan menjadi istriku nanti." jelas Dean panjang lebar.
Disaat mereka sedang berbicara serius, di sisi lain Alenka sedang duduk sendiri sambil meminum, minumannya. Dean yang khawatir dengan Alenka menoleh sebentar ke arah gadis itu yang duduk tak jauh darinya sehingga Dean masih bisa melihat Alenka dengan jelas. Alangkah terkejutnya Dean saat Alenka meminum minuman berwarna merah itu.
Tanpa banyak berkata Dean meninggalkan Erina begitu saja saat Erina masih berbicara dengan nya, bahkan teriakkan Erina seakan tak terdengar olehnya karena dirinya hanya fokus pada Alenka.
" Aku kan haus nunggu kamu, kak. Lagi juga minuman ini enak tau. " jawab Alenka yang mulai setengah sadar dengan pandangan mata yang mulai kabur.
" Kamu gak pernah meminum minuman kaya gini Alenka, kami juga pasti gak tau ini minuman apa, kenapa sembarangan ambil minuman. " kesal Dean yang merasa Alenka sangat ceroboh.
" Tau lah, ini kan fruit punch. Kakak pikir aku bodoh apa. " sahut Alenka sambil menoyor kepala Dean dengan sangat berani.
Untung aja mabuk, kalau enggak udah gue ceburin ke laut nih mantan. Sopan banget kalau lagi mabuk begini." batin Dean pelan.
" Itu sangria, koktail Alenka, minuman beralkohol. " kesal Dean. " Kamu minum berapa gelas? "
__ADS_1
Alenka mengangkat jemarinya dan mulai menghitung. " Satu, dua,tiga ..eh ko tangan kanan aku jarinya jadi banyak, Ah gak tau kak, kok aku tiba-tiba jadi gak bisa ngitung ya.tangan aku aneh tuh lihat jarinya banyak kan."
" Bukan gak bisa menghitung Alenka, tapi karena otak kamu udah terendam sama alkohol. Kita balik hotel aja, bisa makin ngelantur kamu lama-lama. " Dean membantu Alenka berdiri karena gadis itu sempoyongan.
" Kak ini gempa, kok aku goyang-goyang."
" Iya gempa, gempa di otak kamu. " Dean yang kesal luar biasa langsung membawa Alenka masuk ke dalam mobil, gadis itu masih meracau tidak jelas. Bahkan membuat Dean sulit berkonsentrasi untuk mengemudi.
" Kamu tau gak, gimana sakit hatinya aku saat kamu selingkuh? kamu tega banget tau gak kak. " racau Alenka sambil terisak, entah kenapa ia tiba-tiba mengingat kembali rasa sakit hatinya saat bersama Dean dulu.
" Aku gak selingkuh, Alenka. Sejak sama kamu gak pernah terlintas sedikit pun di kepala aku untuk selingkuh. " Dean mencoba menjelaskan dengan mata yang tetap fokus menatap jalanan di depan.
" Terus foto ciuman sama mantan kamu Nadia apa? kamu udah ciuman sama wanita lain pake gak mau mengaku. " racau Alenka yang masih dibawah pengaruh alkohol.
" Aku di rumah sakit jagain ibu sementara kamu tanpa punya hati nurani malah selingkuh di saat keadaan aku lagi gak baik-baik aja. " ucap Alenka lagi sambil memukul-mukul lengan Dean meluapkan kekesalannya. Alenka yang saat itu harus menjaga sang ibu di rumah sakit mendapat kiriman foto dari Tommy yang memperlihatkan Dean sedang berciuman dengan mantan kekasihnya.
Terlanjur sakit hati tanpa mendengar penjelasan Dean lebih dulu, ia memutuskan Dean secara tiba-tiba tanpa penjelasan. Dan kini saat dirinya mabuk, Alenka malah membeberkan semuanya tanpa sadar. Dean yang mendengarnya pun sangat terkejut dengan pengakuan Alenka.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1