
" Astaga! " pekik Tasya setelah berhasil menekan saklar lampu dan melihat Dion terbaring di atas sofa dengan satu tangan menutupi matanya.
" Ngagetin banget sih. " omel Tasya, namun tak mendapatkan respon apapun dari pria itu. " Kamu ngapain sih kak tiduran di sini tapi lampu gak di nyalahin. "
Mata Dion masih terpejam dengan posisi tubuh yang tidak berubah. Andai saja dadanya tidak naik turun mungkin Tasya mengira Dion adalah mayat.
Karena merasa tidak ada jawaban, Tasya memilih menghampiri Dion dan duduk di tepi sofa, ia masih berusaha mendapat jawaban dari Dion. " Kamu Udah makan? kak? kamu tidur beneran? "
Tasya mengamati tarikan napas Dion yang beraturan, sedekat itu hingga Tasya tak lepas memandangi wajah tampan Dion dengan jelas. Sungguh paket lengkap, kulit Dion yang bersih dengan dagu yang di tumbuh bulu halus, hidungnya mancung serta bibir yang seksi juga tubuh yang atletis.
Dengan wajah lelah saja Dion masih terlihat tampan, pikir Tasya. Tapi sayang ia tidak bisa melihat mata Dion karena tertutup oleh tangannya. Tasya jadi teringat banyaknya waktu yang sudah ia habiskan bersama Dion, meski ini sebuah kesalahan dan dosa besar tapi entah kenapa Tasya tak ingin kebersamaannya dengan Dion cepat berlalu, meski mungkin ia harus siap dari sekarang kalau suatu saat Dion akan bosan dengannya lalu membuang Tasya begitu saja.
Setelah puas memandangi Dion lantas Tasya memilih untuk beranjak dari posisinya, tapi Tasya di kejutkan dengan tangan Dion yang tiba-tiba menarik pinggangnya kasar hingga membuatnya terjatuh di atas tubuh pria itu.
" Ih apaan sih kak. "
" Udah puas mandangin wajah tampan aku? " sindir Dion dengan mata yang perlahan terbuka.
" Aku kira kamu tidur. " ujarnya sambil berusaha melepaskan diri dari Dion.
" Kamu dari mana? dari aku pergi ke Bandung kamu ngelayap terus ya sama Alex? " Dion menatapnya tajam seolah ingin mengulitinya hidup- hidup dengan sorot mata itu.
" Eng- enggak kok" Tasya mencoba bangkit, namun cengkraman tangan Dion di pinggangnya begitu kuat. " Gak enak kak ngobrol kaya gini, lepas dulu ya. "
" Aku mau minta jatah aku yang tertunda selama aku di Bandung kemarin."
" Iya tapi mandi dulu ya. "
__ADS_1
Dion beranjak dari tidurnya, membuat tubuh Tasya hampir terjatuh dan mau tidak mau ia mengeratkan tangannya pada bahu Dion, hingga kemudian tubuhnya sudah berada di pangkuan pria itu.
" Kita mandi bareng! " titah Dion seraya menyelipkan rambut Tasya di balik telinganya gadis itu.
" Kenapa? "
" Gak usah banyak tanya! Ayo buruan mandi!" Tasya dan Dion beranjak dari sofa dan mandi bersama. Lebih baik mengalah dari pada harus berdebat dengan Dion hanya karena perkara mandi, toh pria itu juga tak akan bisa di bantah, pikir Tasya.
Awalnya Tasya pikir Dion akan memintanya bermain di kamar mandi, tapi pikiran Tasya ternyata salah karena Dion benar-benar memandikannya tanpa berbuat apapun, Entah kenapa Dion menggosok tangan serta kening Tasya dengan sedikit kasar.
" Kenapa sih kak? " Tasya menyentak tangan Dion. Karena sejak tadi mereka bukan mandi bersama tapi Dion malah sibuk menggosok bagian tangan dan kening Tasya saja sampai berulang kali.
" Aku cuma gak mau ada jejak pria lain di tubuh kamu! " ucap Dion tanpa menatap Tasya, ia masih menggosok kening gadis itu, entah sudah berapa kali ia mengulanginya lagi dan lagi.
Tasya membeku di tempatnya, ia meyakinkan dirinya jika arah pembicaraan Dion dengannya bukan perihal ciuman yang Alex berikan di lobby tadi.
" Maksud kakak apa? "
Perasaannya mulai tak enak, jantung Tasya bahkan berdetak lebih cepat dari biasanya. Tatapan Dion semakin tajam dengan deru napas yang semakin tidak beraturan. Tasya paham pria di hadapannya ini sedang marah padanya.
" Kejadiannya gak kaya gitu, aku gak macam-macam dan gak ada hubungan apapun sama Alex. " Tasya buru- buru memberi penjelasan pada Dion karena khawatir pria itu akan salah paham dengannya.
Dion berdecak. Menarik napas dalam - dalam dengan kedua mata yang masih tetap menatap tajam Tasya. " Bahkan kamu melanggar perintah ku, Tasya. Segitu sukanya kamu sama dia? "
Tasya semakin menundukkan wajahnya yang ketakutan, ia merasa terintimidasi dengan tatapan tajam dari Dion. Dalam hati Tasya juga mengutuk dirinya sendiri yang begitu bodoh tidak peka bahwa Alex selama ini menyukainya. Pantas saja Dion melarangnya untuk berdekatan dengan pria itu. Kalau tau Alex menyukainya mungkin Tasya juga akan menjaga jarak dengan pria itu, ia tidak ingin jika nantinya Alex menjadi salah paham dengan sikapnya.
" Maaf kak. " lirih Tasya.
__ADS_1
" Jangan di ulangi lagi! " suara Dion melembut, kemudian ia menarik dagu Tasya keatas agar mata mereka saling bertatapan. " Aku benci banget lihat kamu sama pria lain, aku gak suka kalau kamu pacaran sama Alex. "
" Aku udah nolak Alex kok kak tadi, aku sama dia gak ada hubungan apapun kak. "
" Kamu cuma milik aku. " Bisik Dion di telinganya Tasya dan tak butuh waktu lama Dion mengecup bibir gadis itu.
Awalnya kecupan tapi kemudian menjadi sessapan dan lummatan, dengan senang hati Tasya menyambut ciuman Dion, ia membuka sedikit mulutnya agar Dion bisa menjelajah di dalam sana.
Perlahan ciuman itu berpindah ke leher jenjang Tasya, menghissap dan menggigit pelan hingga menimbulkan warna kemerahan, Dion memberikan banyak tanda kepemilikan di sana hingga Tasya melenguh, lantas ia mengeratkan pegangan tangannya pada pundak Dion.
Ketika Dion menarik diri, Tasya bisa melihat mata pria itu menatapnya dengan sorot mata yang tidak ia mengerti, kemudian dalam beberapa detik Dion kembali mencium bibirnya.
Semuanya terasa menggebu- gebu dengan penuh tuntutan. Tasya merasa bibir Dion bergerak dengan tergesa-gesa seolah tidak ingin kepemilikannya terbagi oleh siapapun.
Tapi Tasya mendorong pelan dada Dion dan ia melepaskan tautan bibir mereka. " Kak... "
" Kenapa? "
" Dingin, bisa lanjutin di kamar aja gak. " wajahnya sudah pucat dengan bibir yang membiru, Tasya kedinginan karena sejak perdebatan tadi ia masih di kamar mandi, sungguh Tasya tak sanggup kalau harus melayani Dion di sini. Perdebatan mereka saja tadi cukup lama, kalau harus bermain dengan Dion di kamar mandi pasti akan membutuhkan waktu yang lama juga apalagi sudah dua hari mereka tak melakukannya, sudah pasti Dion akan memintanya berkali- kali. Bisa mati kedinginan ia berlama-lama di sana.
" Ya ampun, maaf sayang kamu jadi kedinginan gini. " Dion langsung mengangkat tubuh Tasya ala bride style.
Melihat tubuh Tasya yang sudah menggigil, Dion memikirkan cara untuk menghangatkan tubuh gadis itu, ia merebahkan Tasya di atas ranjang kemudian melanjutkan aksinya yang sempat terhenti tadi, bergelud di atas ranjang benar-benar bisa membuat tubuh Tasya yang tadinya kedinginan sekarang justru mendadak kepanasan karena Dion membuat api gairahnya berkobar, tak di pungkiri ia juga rindu dengan sentuhan Dion yang sudah dua hari tak ia rasakan.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
maaf gaes baru sempet up, soalnya kemarin lagi banyak acara.
.