Semalam Dengan Mantan Ku

Semalam Dengan Mantan Ku
Tak terduga


__ADS_3

" Tumben loe makin kesini makin anteng, biasanya udah keluyuran nyari mangsa." celetuk Dion sambil menyerahkan beberapa dokumen untuk Dean tanda tangani.


" Gak ada waktu gue. " jawab Dean dengan jujur. Semenjak ia di minta mengambil alih perusahaan oleh Kalan sang kakak, Dean terlalu sibuk hingga tak bisa berkencan dengan banyak wanita seperti dulu saat masih kuliah di Amerika, Bahkan pekerjaannya akhir-akhir ini saja menyita banyak waktu. Sekalinya ada waktu luang pun Dean memilih mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah karena banyaknya pekerjaan.


" Biasanya loe sesekali masih suka kencan, apa karena Alenka? " sindir Dion dengan senyum mengejek.


" Gak ada hubungannya sama Alenka, dari sebelum Alenka ada juga gue udah jarang main- main. lagi juga gimana gue mau nyari mangsa, kerjaan gue aja makin banyak, bukannya makin sedikit. " keluh Dean.


" Kalo Rachel gimana? loe masih berhubungan sama dia? udah beberapa bulan gue gak lihat dia." tanya Dion penasaran.


" Oh iya Di, pesenin gue buket bunga kirim ke apartemen Rachel, dia baru balik dari paris semalam dan harus yang cantik bunganya. " titah Dean.


" Oh jadi karena Rachel, loe nungguin dia sampai gak selera sama cewek lain ? Gue kira karena Alenka loe jadi tobat. "


" Bukan karena keduanya, tapi karena gue sibuk. Udah cepet keluar sana, jangan lupa pesanan gue."


" Bapak Dean yang terhormat, kan sekarang bapak sudah ada asisten baru, kenapa masih harus gue yang ngurusin hal kaya gitu, kerjaan gue banyak ini. " timpal Dion tak terima. Untuk apa Dean mempekerjakan Alenka kalau untuk hal sepele itu saja masih harus dia yang mengurusnya, pikir Dion. Padahal pekerjaan yang Dean limpahkan padanya tak sedikit, apa Dean tak punya otak sampai tak bisa berpikir, batin Dion.


" Jangan sampai loe nyuruh Alenka buat pesan bunganya! " ucap Dean penuh penekanan.


" Yaelah De, dia mantan pacar loe, takut amat ketauan loe udah punya gandengan. dia aja udah punya calon suami." ceplos Dion.


" Rachel bukan pacar gue, Loe tau kan hubungan gue sama Rachel kaya apa? jadi gak usah banyak omong, lakuin aja perintah gue. udah sana buruan."


Dion keluar dari ruangan dengan perasaan kesal, bisa-bisanya tugasnya bertambah lagi, pikirnya.

__ADS_1


" Maaf Pak dion, pak Arga minta meeting nya di majukan sekarang, karena beliau mendadak harus berangkat ke Singapura sore ini." ucap salah seorang karyawan yang menghampiri Dion.


mau gak mau gue harus minta tolong Alenka. sorry ya, De. ini juga urgent karena kerjaan. batin Dion.


" Oke, nanti saya ke sana. "


" Len, saya boleh minta tolong? " ucap Dion yang saat ini sedang berdiri di depan meja kerja Alenka.


" Boleh, pak. Ada yang bisa saya bantu? " tanya Alenka dengan sopan.


" Tolong ke toko bunga Heaven's florist, pesan kan buket bunga, kalau bisa kamu pilih yang cantik bunganya. Nanti minta tolong Kirim ke alamat ini. " ucap Dion sambil menyerahkan kertas yang bertuliskan alamat seorang wanita dan ucapannya.


from Dean


Tak sabar untuk bertemu lagi denganmu.


Alenka terperangah melihat kertas yang diserahkan Dion padanya, Alenka pikir Dean tak punya kekasih, pria itu selalu sibuk bekerja hingga Alenka berpikiran mungkin Dean tak ada waktu untuk berpacaran, tapi ia salah rupanya Dean sudah memiliki kekasih, ah apa gunanya memikirkan itu, lagi pula itu bukan urusannya, pikirnya.


" Yaudah, Len tolongin saya, saya harus meeting sekarang, jangan lupa ya! dan jangan bilang saya yang minta kamu buat pesan bunganya. Oke? " setelah berkata begitu Dion langsung pergi meninggalkan Alenka, ia bergegas untuk menghadiri rapat penting bersama kliennya.


**************


keesokkan harinya


" Hai, Lenka. " sapa Dion dengan senyum manisnya. senyuman yang Alenka tau memiliki arti tersembunyi.

__ADS_1


" Ada apa lagi? mau minta tolong apa, pak Dion? " tanya Alenka langsung pada intinya.


" Tau aja aku mau minta tolong. Dean kan gak masuk kerja hari ini, bisa ke apartemen nya gak? ini ada dokumen yang harus di tanda tangani sekarang sama dia. " ucap Dion dengan tatapan memohonnya. "aku gak bisa antar kesana karena aku menghandle semua kerjaan Dean dikantor hari ini. " lanjutnya.


" Siap, pak. saya kesana sekarang. " Alenka beranjak dari duduknya, baru juga selangkah tiba-tiba Dion menghentikannya.


" Tunggu, Len. Kalau nanti Dean lama bukain pintunya, kamu langsung masuk aja. Passwordnya tanggal jadian kalian berdua. " bisik Dion pelan karena khawatir ada yang mendengarnya dan akan menjadi bahan gosip para karyawan.


deg


Alenka mematung mendengar ucapan Dion, bagaimana mungkin Dean masih mengingat tanggal spesial mereka. kenapa? kenapa Dean menggunakan tanggal itu, Alenka terus saja memikirkannya bahkan sepanjang perjalanannya ke apartemen Dean.


Benar apa yang dikatakan Dion, ia menunggu cukup lama tapi Dean tak kunjung membuka pintunya, sampai ia ingat pesan Dion untuk langsung masuk saja, mungkin ia tidak sopan tapi kalau harus menunggu lebih lama lagi mungkin kakinya akan keram sebentar lagi.


Jantungnya berdebar menekan angka yang Dion katakan adalah tanggal jadian mereka dulu, dan benar saja saat Alenka menekannya pintu itu langsung terbuka. Alenka masuk dengan perlahan, sepi itu lah yang Alenka rasa, kemana Dean ya apa dia masih di kamar? apa dia sakit? Dion juga gak bilang kenapa Dean gak masuk kekantor. pertanyaan itu berputar terus di otaknya sampai akhirnya ia mendengar suara laknat dari dalam kamar.


" Aaakkhhh baby, kamu semakin liar sekarang."


" Aakkhhhh, aaakkhhhh. " suara-suara laknat itu semakin terdengar jelas di telinga Alenka sehingga ia memundurkan langkahnya perlahan.


.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2