Semalam Dengan Mantan Ku

Semalam Dengan Mantan Ku
Membangun tembok yang tinggi


__ADS_3

" K-kak. " Tasya berusaha meraih selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah setengah telanjang itu, dia sangat malu karena belum pernah ada laki-laki yang melihat tubuhnya tanpa baju seperti sekarang, tapi Dion menahan itu.


Kedua tangan Tasya ia tahan ke atas, lalu dengan rakus ia mencium kembali bibir itu, lalu perlahan ciuman itu turun ke leher jenjang gadis itu, menghisapnya kuat memberikan jejak kepemilikkannya di sana.


Tasya mendongak membiarkan Dion mencium lehernya dengan leluasa, rasanya begitu nikmat membuat Tasya menginginkan hal yang lebih gila dari ini.


Tidak hanya sampai di situ, tiba-tiba Dion melepas celana jeans pendek yang ia kenakan, Tasya panik luar biasa. " Kak, aku malu." tapi Dion tak menggubris rengekan Tasya, ia tetap membuka celana itu bahkan menurunkan kain penutup terakhir yang menutupi inti tubuh gadisnya itu.


Dion menghentikan sejenak kegiatan nya, ia menatap tubuh gadis itu dengan kagum, terlihat sangat seksi di mata Dion untuk ukuran gadis 18 tahun, membuat gairah Dion semakin menggebu untuk segera menyantap makanan yang ada di depannya ini.


Dion menghisap kuat payudaraa Tasya, hingga gadis itu melenguh sambil meremas rambut Dion, terlebih saat tangan Dion mengelus pahanya, Tasya memejamkan mata menikmati jari jemari Dion yang mengusap inti tubuhnya. " Aaakkhh.. kak. " desahhan itu lagi lagi lolos dari bibirnya, Tasya di buat tak berdaya karena Dion menyerang tubuhnya atas bawah.


Dion membuka matanya mengerjap kecil untuk melihat jam di sudut kamarnya. Jam baru menunjukkan pukul empat dan Dion baru tertidur selama dua jam, ia bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak pikirannya terus terisi oleh gadis cantik yang kini tertidur polos di sebelahnya.


Dion terus menatap wajah Tasya yang terpejam dengan helaan napas teratur. Rambut gadis itu berantakan bahkan beberapa anak rambutnya menutupi pipi gadis itu. Lalu ia menyelipkan anak rambut itu ke telinga dan mengusap lembut pipi Tasya dengan punggung tangannya.


Ada perasaan senang yang teramat sangat tapi juga ada rasa bersalah yang menyusup di hati kecilnya. Masih ingat betul saat ia berhasil menerobos dinding keperawwanan Tasya. Saat itu memang menyakitkan tapi membuat Dion ingin terus merasakannya lagi.


Dion menertawai dirinya sendiri, bisakah ia di sebut badjingan karena sudah merusak anak gadis orang saat ini. Tasya masih sangat polos, bahkan mengerti apa itu pelepasan saja ia tidak tau. Dia merasa telah melecehkan gadis di bawah umur.


" Salah gak sih gue. "


Dion beranjak turun dari kasur memakai kembali celana boxernya, ia masuk ke dalam kamar mandi dan menatap pantulan dirinya di kaca. Harusnya ia puas telah mendapatkan tubuh yang selama satu bulan ini ia inginkan, tapi kenapa ia merasa tidak mau melepaskan Tasya, ia ingin terus berada di keadaan seperti ini, ingin terus melakukan hal itu bersama Tasya.


" Kenapa gue jadi goyah gini, sial! " umpat Dion sambil mencengkram rambutnya.

__ADS_1


Lantas ia segera mengguyur kepalanya dengan shower, berharap rasa dingin yang masuk ke otaknya akan memperbaiki pemikirannya saat ini. Dion harus membangun tembok yang tinggi agar hatinya tak goyah karena Tasya.


Pagi itu Tasya bangun dengan rasa perih di bagian intinya , ia masih mengumpulkan kesadaran saat telinganya mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


Tasya menatap jam dinding yang menggantung di sudut kamar, masih terlalu pagi memang tapi Tasya sudah terbiasa bangun sepagi ini. Dia tersentak mengingat kejadian semalam, ia tak menyangka jika semua ini terjadi, dia melakukan **** dengan bos nya sendiri.


**** yang ia bilang hanya bisa di lakukan oleh pasangan yang sudah menikah kini hanya omong kosong belaka saat dirinya juga melakukannya bersama Dion semalam, tapi semua sudah terjadi di sesali pun tak ada gunanya, toh kehormatannya juga tak akan kembali lagi, pikirnya.


Tasya masih memeluk erat selimut yang masih membalut tubuhnya, perlahan kakinya turun untuk mempermudah mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai.


Namun belum sempat kakinya menyentuh lantai namun pintu kamar mandi terbuka dari dalam dan membuat tubuh Tasya menegang seketika.


Tasya menoleh melihat pria tampan itu berdiri di samping ranjangnya dengan handuk yang masih melilit dipinggangnya, ia merasa gugup bahkan wajah nya memanas, Tasya hanya bisa menyembunyikkan wajahnya dan semakin mengeratkan pelukannya pada selimut.


" Apa? " sontak Tasya mendongak menatap Dion, ia hanya bisa memperhatikan punggung pria itu yang berdiri membelakangi nya, ada bekas luka di punggung itu, luka bekas cakarannya semalam Karena harus menahan sakit saat Dion membobol pertahanannya semalam, dia tak sadar melukai punggung Dion.


Hatinya mencelos saat mendengar nada dingin dan acuh dari kalimat Dion barusan.


" Nanti aku telat kalau harus nganter kamu pulang dulu. " alasan Dion saja sebenarnya, ia berusaha membangun tembok yang tinggi agar tak jatuh pada pesona gadis kecil di hadapannya ini. Padahal kosan Tasya hanya berjarak 15 menit dari kantor dan itu artinya perjalanan mereka seharusnya satu arah, tapi lagi-lagi Tasya di buat bungkam karena ia tau Dion hanya beralasan karena ingin menghindarinya setelah mendapatkan apa yang pria itu inginkan.


Melihat Tasya yang hanya diam tak menjawab lagi-lagi Dion berkata " Itu uang taksi ada di atas nakas untuk kamu pulang. "


Hati Tasya serasa di remas kuat mendengarnya, benar-benar seperti wanita murahan, yang habis di pakai di tinggalkan begitu saja.


Lantas ia segera memunguti pakaiannya lalu bersiap melangkah ke kamar mandi dengan selimut yang masih membalut tubuhnya.

__ADS_1


Dion melihat pantulan diri Tasya dari kaca meja riasnya, ada rasa iba yang menghinggap di hatinya melihat Tasya yang kesulitan berdiri karena sudah dipastikan bagian inti gadis itu pasti masih sakit dan perih. Tapi Dion segera menepis perasaan itu, ia takut semakin tak bisa mengendalikan diri kalau sampai sedikit saja ia peduli dengan gadis itu.


Sungguh Tasya ingin sekali menangis di perlakukan seperti ini, tapi apa berhak ia menangis toh Dion memang bukan siapa-siapa nya, wajar kalau pria itu tak peduli, bukan kah ia hanya pemuas bagi pria itu.


Sesampainya di kantor Dion langsung menuju ruangan Dean.


" Kenapa lagi muka loe. Kayanya semenjak kenal Tasya galau mulu loe. " sindir Dean yang memang benar adanya.


" Gue ngerasa bersalah sama dia, udah ngerusak dia semalam terlebih pagi ini, Gue acuhin dia gitu aja. " curhat Dion pada sang sahabat.


" Badjingan gila! " umpat Dean. " Loe udah rusak sekarang loe baru nyesel? kemarin kemana aja sinting sebelum loe rusak emang loe gak mikir. "


" Terlalu tertutup nafssu mungkin. " jawabnya santai .


" Loe tanggung jawab lah kalau merasa bersalah, loe nikahin tuh anak orang, lagian bisa-bisanya abis loe pake loe cuekin dia gitu, gimana hancurnya itu perasaan dia, Tasya bukan ****** yang biasa loe temuin di club, yang emang menjual diri. Dia itu loe paksa buat jadi partner loe Dion, seenggaknya perlakukan dia dengan baik. " nasihat Dean yang terdengar amat bijak pagi ini, mungkin karena mendapat asupan yang baik dari Alenka, pikir Dion kearah yang enak-enak.


" Gue cuma membangun tembok yang tinggi supaya gak main perasaan sama dia, De. Gue gak mau menjalin hubungan. Loe tau sendiri kan anak bocah kaya dia masih labil, gampang tergoda sama yang lain, terlebih sama yang seusianya juga yang satu frekuensi sama dia "


" Gak semua wanita begitu, sekalipun dia masih remaja bisa jadi pikirannya justru lebih dewasa. Kesetiaan itu gak di ukur dari usianya, itu mah tergantung dari masing-masing orang nya Di. " Dean tau memang sesulit untuk mengembalikan kepercayaan Dion yang pernah di khianati dan gagal menikah dengan wanita yang di cintainya.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.

__ADS_1


__ADS_2