Semalam Dengan Mantan Ku

Semalam Dengan Mantan Ku
Tak pernah menyesal


__ADS_3

Dengan penuh keterpaksaan akhirnya Alenka kembali bekerja, meski masih belum siap rasanya tapi ia tak punya pilihan lain.


tok. tok. tok


" Masuk. " teriak Dean dari dalam ruangannya. Dean masih fokus dengan beberapa dokumen yang berada di atas meja kerjanya.


Alenka yang melihat nya pun terpesona saat Dean sedang dalam mode serius seperti ini, apalagi dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Padahal ia sudah sering melihat hal semacam ini tapi tetap saja membuat ia terpana dan tiba-tiba bayangan percintaan satu malam mereka yang penuh gairah terlintas di otaknya.


Bugh. bugh. bugh


" Kamu ngapain, Al? " tanya Dean yang bingung sendiri karena tiba-tiba Alenka memukul kepalanya sendiri, Dean yang sedang fokus bekerja sampai terkejut dan menoleh ke arah Alenka saat mendengar suara benturan yang cukup keras. Dia sedang sakit kepala atau ingin membuat dirinya amnesia, pikir Dean.


Wajah Alenka merona karena malu lantaran Dean melihat nya melakukan hal gila semacam ini, apa yang harus dia jawab sekarang, tidak mungkin kan dia berkata mengingat kejadian malam itu.


Dean masih terus menatap Alenka menunggu jawaban dari wanita di hadapannya ini. Sementara Alenka masih berpikir harus menjawab apa pada Dean.


" Eemmm, itu pak anu. anu bapak, eh bukan maksud nya itu kepala saya tiba-tiba sakit pak, kayanya karena efek mabuk waktu itu. " ucap Alenka asal. Entah kenapa dia tiba-tiba menjadi gugup seperti ini sehingga menjawab dengan asal seperti itu.


Dean tertawa kencang mendengar pengakuan Alenka yang tak masuk akal itu, bagaimana bisa mabuknya sudah 4 hari tapi pusingnya sampai sekarang. " Benarkah masih pusing? atau sedang membayangkan malam panas kita di Bali? " celetuk Dean tanpa rasa bersalah. Tak tahukah Dean wajah Alenka saat ini sudah seperti kepiting rebus, dia yang malu semakin malu dibuatnya karena omongan Dean yang sangat blak-blakkan itu.


" Si-siapa yang ngebayangin, bapak tuh yang otaknya kotor belum dicuci. Saya kan mabuk inget juga gak kaya gimana rasanya, jadi gak mungkin bisa membayangkan. " ucap Alenka tanpa sadar sudah memancing Dean. Sontak Dean bangkit dari duduknya dan melepas kacamatanya, berjalan perlahan mendekati Alenka sampai gadis itu mundur perlahan dan berakhir membentur dinding.

__ADS_1


" Jadi lupa kaya gimana rasanya, mau aku ingetin lagi gak?" tanya Dean sambil tersenyum penuh arti. Menyesal sekali Alenka menjawab seperti tadi padahal maksudnya bukan begitu, tapi otak Dean yang memang sudah kotor sejak dulu salah mengartikan perkataannya.


Dean merengkuh tubuh langsing Alenka membuat jantung Alenka benar-benar tak aman. Ia takut kejadian di Bali akan terulang lagi, tapi mana mungkin, pikir Alenka. Apalagi ini di kantor.


Tanpa aba-aba Dean mencium bibir itu sekali lagi, mungkin saat di Bali Alenka tak sadar melakukannya tapi kali ini tidak, ia seratus persen dalam keadaan sadar, yang lebih parahnya bukannya menolak tapi tubuhnya menginginkannya, Alenka memejamkan matanya sambil mengalungkan tangannya ke leher Dean. Membalas ciuman Dean yang cukup membuat gairahnya naik seketika, Seakan ia lupa bahwa sekarang sedang berada di kantor, bahkan dirinya tak ingat hal penting apa yang mau dibicarakan pada Dean sekarang.


Di tengah asiknya pergulatan lidah mereka tiba-tiba ponsel Dean berbunyi membuat ia berdecak kesal karena Alenka sontak mendorong tubuh Dean menjauh darinya, seakan baru tersadar dengan apa yang dilakukannya tadi.


Bodoh kenapa gampangan banget sih Al, kamu kesini kan mau membicarakan hal penting, kenapa semudah itu terhipnotis sama Dean, batin Alenka menjerit memarahi dirinya sendiri.


Dean hanya mengirim pesan pada Dion tanpa mau mengangkat panggilan dari sahabatnya itu. kemudian mematikan ponselnya karena tak ingin di ganggu saat ia bersama Alenka, tak peduli walaupun ada rapat saat ini yang harusnya ia hadiri tapi Dean lebih memilih meminta Dion menggantikannya.


" Mau lanjutin yang tadi gak? " Dean bertanya tanpa dosa, tapi sungguh ia benar-benar sangat ingin melanjutkan ciuman yang sempat terjeda tadi apalagi sekarang mereka melakukannya dengan sadar, pasti akan jauh lebih nikmat dari sebelumnya, baru ciuman tapi otak Dean sudah sekotor itu karena sudah beberapa hari ini dia selalu terbayang dengan malam penuh gairahnya bersama Alenka.


" Tapi kamu tadi menikmatinya sayang, secara sadar pula." Dean terkekeh melihat wajah kesal Alenka padahal sebelumnya gadis itu begitu menikmati ciuman yang ia berikan.


Kesal luar biasa, apalagi saat Dean memanggilnya sayang, sungguh Alenka tak mengerti apa yang ada di otak pria di hadapannya ini.


" Kamu tau aku punya kekasih kan kak? jangan asal sembarangan memanggil aku kaya gitu.Nanti orang lain salah paham gimana?" gerutu Alenka.


" Kamu gak mencintai Tommy, Al. Kamu cuma gak enak hati kalau sampai menyakiti hatinya." Dean mencoba menyadarkan Alenka bahwa yang ia rasakan saat ini hanyalah rasa kasihan.

__ADS_1


" Tapi pada kenyataannya sampai saat ini, Tommy masih menjadi kekasih ku, kak. Apapun alasannya dia tetap kekasihku. "


Dean sungguh kesal mendengarnya, bagaimana tidak, setelah menikmati ciuman tadi kini Alenka mengatakan dengan lantang memiliki kekasih, lalu yang terjadi barusan apa? Bahkan Dean bisa merasakan kalau Alenka masih mencintainya, sementara kalau ia mencintai Tommy tak mungkin Alenka membalas ciumannya,pikir Dean. Tapi Alenka masih terus saja keras kepala untuk mempertahankan Tommy menjadi kekasihnya.


Alenka sangat kesal karena apa yang dikatakan Dean memang kenyataan sebenarnya, tapi ia malas menanggapinya, biar lah perihal Tommy dan hatinya itu menjadi urusannya.


" Cukup bahas masalah itu, itu urusanku. " ucap Alenka dengan mata yang menatap tajam Dean.


" Sekarang lebih baik membahas masalah di Bali. Kenapa kamu gak menghindar atau tampar aku aja biar saat itu aku sadar, tapi apa? Kamu malah menikmatinya, mengambil kesempatan sama seorang wanita yang sedang mabuk. Apa yang harus aku katakan sama Tommy sekarang? ditengah dia yang sedang berjuang mendapat restu ibunya untuk menikahi aku tapi aku malah tidur sama kamu, kak. " Alenka tak dapat membendung lagi air matanya, ia bingung apa yang sekarang harus ia katakan pada Tommy,. apalagi kalau Tommy tau dia sudah mengkhianatinya.


Dean mengambil posisi duduk di sebelah Alenka yang kini duduk di sofa ruangannya. Menarik wanita itu ke dalam pelukannya, tadi mereka bertengkar sekarang malah berpelukan seolah tak terjadi perdebatan apapun barusan.


Dean merasa bersalah membuat Alenka di posisi sulit saat ini tapi untuk menyesali semua yang sudah terjadi sama sekali Dean tak menyesal. Bohong rasanya kalau Dean sudah tak memiliki rasa pada Alenka, rasa itu jelas masih ada apalagi saat ia bertemu Alenka kembali setelah sekian lama.


Dean bahkan berusaha menyangkal perasaannya karena mengingat Alenka yang sudah memiliki kekasih dan Dean pun sudah mencoba ikhlas melepas Alenka bersama Tommy, tapi semenjak kejadian di Bali beberapa hari lalu, ia menjadi ingin egois, ingin memiliki Alenka meski itu berarti harus merebutnya dari Tommy. Bukan semata-mata hanya karena ingin bertanggung jawab karena telah mengambil kesucian Alenka tapi juga karena dia menyadari bahwa dirinya masih mencintai Alenka bahkan sekarang menginginkan wanita itu menjadi istrinya.


" Maaf, maafkan aku, Al. Tapi untuk semua yang terjadi aku tak pernah menyesalinya. Aku menganggap itu adalah cara takdir untuk menyatukan kita, jadi menikahlah denganku. "


.


.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2