
Tasya menatap tajam Dion, sungguh kesal mendengar perkataan Dion barusan yang hanya membutuhkan tubuhnya saja. Bodoh sekali ia berharap Dion mengatakan hal lain, bahkan ia bukan siapa-siapa bagi Dion hanya sekedar partner ranjang lalu apa yang ia harapkan? berharap Dion mengatakan mencintainya? mana mungkin pria seperti Dion berkata begitu.
" Kalau aku gak mau gimana? " tantang Tasya.
" Kalau aku mau seterusnya kita ngelakuin ini gimana? " tanya Dion balik.
" Aku tanya kenapa kamu malah balik nanya. " sentak Tasya. " Ini gila. " gerutu Tasya saat Dion mengatakan akan membiayai kuliahnya sampai selesai, tapi dengan syarat menjadi partner ranjangnya sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan. Itu artinya ia akan terjebak bersama pria itu tanpa status yang jelas dengan kurun waktu yang cukup lama.
" Aku benar-benar gak ngerti sama jalan pikiran kamu, bisa- bisanya kamu punya ide gila kayak gitu. " lanjut Tasya.
" Coba kamu pikirkan di usia kamu yang masih muda kamu gak perlu lagi bekerja keras dan menabung untuk membiayai kuliah kamu, bukankah penawaran dari aku menguntungkan untuk kamu? itu jauh lebih mudah, kamu bisa mewujudkan semua mimpi kamu. " jelas Dion panjang lebar. " Aku akan memberi semua yang kamu butuhkan termasuk apartemen akan aku berikan untuk kamu. "
" Ya tapi sampai kapan kita kaya gini? aku juga mau punya masa depan kak, aku ingin menikah lalu punya anak membangun keluarga kecil bukan selamanya terjebak sama kamu tanpa status yang jelas, terlebih hanya karena se*ks. Gimana aku bisa mewujudkan salah satu impian aku? "
" Itu bisa kita pikirkan lagi nanti, Sya. Lagi pula kamu kan masih muda gak mungkin nikah sekarang juga kan? nanti kalau udah lulus kuliah kita pikirin lagi. " bujuk Dion.
" Kenapa harus aku sih kak? " ucap Tasya yang tampak sewot.
" Karena milik aku maunya cuma sama milik kamu!" jawab Dion nyeleneh.
Tasya memijat pelipisnya, jawaban Dion benar-benar membuat kepalanya mendadak pusing. Tasya tau ini salah tapi kalau boleh jujur di sisi lain ia juga butuh Dion, ia butuh pria itu untuk menggantungkan hidupnya. Tasya tak punya lagi siapapun hanya pria itu yang ia punya saat ini. Pria yang sudah menyelamatkan hidupnya dari sang paman.
" Kita juga ngelakuin itu berkali-kali, kamu juga pasti menikmatinya kan? buktinya mata kamu sampai merek melek pas nahan dessahan." ucap Dion dengan santai sambil berusaha menahan tawanya.
Tasya mendelik sempurna ke arah Dion.
" Dasar gila! bisa gak kalau ngomong di saring dulu. "
__ADS_1
Dion terkekeh, sementara Tasya merasa pipinya pasti sudah memerah saat ini. Gelak tawa Dion terdengar sangat menjengkelkan di telinga Tasya. Sumpah Demi apapun ingin sekali Tasya menyumpal mulut sialan itu untuk berhenti tertawa sampai tak bisa lagi bicara sembarangan.
" Gimana mau yah? oke? " rayu Dion lagi, entah kenapa jantung berdebar kencang menanti jawaban Tasya, ia sama sekali tak siap bila Tasya menolak permintaan nya.
" Hm....tapi aku mau kita bikin surat perjanjian Baru dan aku mau nambahin beberapa poin. "
" Oke silahkan. " mata Dion berbinar mendengar jawaban Tasya, seperti yang ia inginkan.
" Jangan larang aku untuk berteman dekat dengan siapa pun termasuk Alex. "
Mata berbinar Dion seketika berubah menjadi terbelalak mendengar persyaratan Tasya, mana mungkin ia mau berbagi sekali pun Tasya hanya sekedar partner **** untuknya.
" Gak bisa gitu dong, kamu tau kan alasan aku gak mau kamu dekat dengan pria manapun! "
" Kamu egois kalau gitu! Yaudah kalau gak mau ikutin persyaratan dari aku, aku juga gak mau ikutin maunya kamu. " Tasya sudah tampak sewot, ia merasa terkekang dengan aturan Dion, bagaimana tidak bahkan karena aturan itu Tasya mendadak menjauhi Alex, sungguh ia tak enak hati pada pria yang berstatus kan sahabatnya itu.
Bisa licik juga ternyata, dimana gadisnya yang polos dulu kenapa sekarang berubah licik seperti dirinya sampai membuat Dion tak bisa berkutik, pikir Dion.
Tasya terbelalak mendengar permintaan Dion untuk tinggal bersama. " Kok jadi banyakkan maunya kamu ya, nanti kalau aku tinggal di sini kamu pasti akan ngelakuinnya lebih dari satu kali sehari. Aku gak mau! "
" Ya iya dong, seenggaknya sehari tiga kali lah. "
" Gak enak aja! udah kaya minum obat sehari tiga kali. Sehari sekali aja! "
" Enggak! aku gak setuju, masa cuma sekali sehari. Belum lagi nanti ke potong masa menstruasi kamu nanti juga kan libur seminggu. Makin dikit kalau gitu jatah aku. "
" Terus kamu mau nya gimana? " sentak Tasya yang kesabarannya mulai menipis. " Aku bukan boneka **** yang bisa kamu pake setiap saat ya."
__ADS_1
Dion mengusap wajahnya frustasi. Sulit sekali bernegoisasi dengan Tasya, dari pada bernegoisasi dengan rekan bisnisnya sendiri, pikir Dion.
" Gini aja deh, dua kali sehari. Gak ada penawaran lagi! Perut aku udah laper ini. "
" Oke, Deal tapi jangan bohong ya. Kalau kakak ngelakuinnya lebih dari dua kali, jatah esok harinya di kurangin! " Ancam Tasya.
Anggaplah Tasya bodoh dan murahan, tapi semua sudah terlanjur sejak awal ia menyerahkan dirinya untuk membayar hutang pada Dion, bukankah sekarang sama saja, pikir Tasya. Toh kesuciaannya sudah tak ada, mana ada pria yang mau dengan wanita sepertinya yang sudah menjual tubuh dan kehormatannya untuk membayar hutang.
" Oh iya sama satu hal lagi, aku gak mau lagi pakai kon*dom." ujar Dion sambil melipat tangannya di depan dada lalu bersandar pada punggung sofa.
" Hah? " Tasya seketika melebarkan matanya.
" Kamu bisa minum pil penunda kehamilan, aku yakin itu lebih aman. " Dion mencoba meyakinkan Tasya agar mau menuruti ucapannya, karena jujur saja Dion sangat tidak suka menggunakan kon*dom, terlebih dia merasa seperti terhalangi saat miliknya tak bisa merasakan langsung kehangatan dari lubang kenikmatan milik Tasya.
" Banyak mau banget sih! Yaudah nanti aku konsultasi ke dokter dulu dan sebelum aku konsultasi sama dokter kita gak usah ngelakuin itu dulu ya." melihat wajah Dion yang kesal, Tasya lantas berkata. " Kan kamu sendiri yang bilang gak enak kalau pake kon*dom."
Dion menggerutu kesal, entah kenapa Tasya selalu berhasil membuat dunianya jungkir balik dalam sekejap sampai harga dirinya seolah tak ada artinya lagi di mata gadis itu.
" Gak usah protes. " sela Tasya sebelum Dion kembali bersuara untuk memprotes keputusannya.
" Terserah! " Dion beranjak dari duduknya, mengusap perutnya yang mulai berbunyi meminta untuk di isi. " Aku laper. "
"Yaudah kamu tunggu sini, aku buatin rotinya dulu."
.
.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.