
Tak terasa seminggu sudah pernikahan mereka, Dean pun mulai kembali bekerja seperti biasa tapi tidak dengan Alenka, suami nya meminta ia berhenti bekerja dan di rumah saja hanya mengurus dirinya seorang.
" Sayang, udah selesai kan? " tanya Dean seraya memeluk Alenka dari belakang, karena kini Alenka tengah berada di depan lemari untuk mengambil baju sang suami yang baru saja selesai mandi.
Alenka tersenyum tipis, ia tau apa yang Dean maksud. Sebenarnya sudah selesai tapi dia sengaja tak memberitahu nya pada Dean karena ingin sedikit mengerjai suaminya, lucu saja pikir Alenka melihat Dean merengek setiap hari dan selalu bertanya kapan selesai masa menstruasinya.
Sang istri berbalik menghadap Dean. " Belum selesai, gimana dong. " ucapnya dengan ekspresi menyesal yang di buat- buat.
Dean melepaskan tangannya yang sejak tadi memegang pinggang sang istri wajahnya merengut kesal." Kata kamu seminggu, ini udah seminggu kenapa belum kelar juga sih sayang. "
Alenka tertawa, gemas sekali melihat wajah suaminya saat ini. Ia menangkup wajah Dean dan langsung mengecup bibir sang suami agar tak merajuk lagi padanya.
" Gak mempan. " kesal Dean
" Yakin gak mempan? beneran nih gak mau? Ya udah kalau gitu, padahal udah bisa loh kalau mau ngajak gelud di ranjang " Alenka berjalan keluar kamar tapi baru saja tangannya hendak memegang gagang pintu, Dean langsung menarik tangan itu dan menghimpit tubuh Alenka ke dinding.
" Jadi mau ngerjain aku? Kamu gak tau apa tiap hari aku gak fokus kerja cuma gara-gara nungguin kamu kapan selesainya. "
" Nama nya juga lagi datang bulan kan bukan maunya aku, lagi juga kamu kan udah pernah ngerasain setidaknya ini bukan malam pertama lagi, kak. "
" Justru karena udah pernah merasakan, aku jadi terbayang terus pengen lagi dan lagi, waktu itu kamu juga mabuk sayang, pasti juga gak sepenuhnya inget kan. Lagian buat aku ini tetap malam pertama kita, karena kita melakukanya setelah menikah dan dengan kondisi sadar, pasti lebih nikmat. " ucap Dean dengan senyum menyeringai.
Baru saja Alenka ingin menjawab tapi Dean langsung membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman, walaupun bukan yang pertama tapi tetap membuat jantung keduanya berdebar seperti pertama kali ingin melakukannya.
Dean melu*mat bibir Alenka dengan rakus, hasrat Dean yang sudah tertahan sejak kemarin tak bisa lagi di bendung, tanpa melepaskan tautan bibirnya Dean menggendong Alenka dan merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang.
Alenka melenguh saat Dean menghisap kuat lehernya hingga menimbulkan tanda kemerahan. Baru di tahap itu saja gairah Alenka sudah terpancing, terlebih saat kini Dean menghisap puncak bukit kenyal Alenka. Ia hanya bisa memejamkan matanya sambil terus mendessah.
" Aaakkhh kak.. " ******* indah itu lolos begitu saja dari bibirnya saat Dean menundukkan wajahnya di bawah sana, memainkan intinya dengah lidahnya, sesekali Dean menghisap kuat inti sang istri membuat Alenka semakin menggila merasakan nikmat yang luar biasa.
Mulut nya terus meracau sambil mencengkram rambut Dean menahan rasa nikmat hingga tubuhnya menggelinjang hebat.
Lain hal nya dengan pasangan pengantin baru yang sedang mencari kenikmatan dan kepuasan dengan pergulatan panas di atas ranjang, lain juga dengan tiga orang yang sedang duduk di sebuah club malam. Mereka adalah Dion, Kalan dan juga Doni.
Dion yang merasa mulai kesepian dan butuh suasana baru mengajak Doni dan juga Kalan yang sedang patah hati untuk mengunjungi club malam yang dulu juga sering dikunjungi Dean. Kalan memang sudah menceritakan semuanya pada Dion jadi saat Dion mengajaknya menghilangkan jenuh dia bersedia menerima tawaran itu, hanya sekedar minum tak apalah pikir Kalan.
__ADS_1
" Udah lama gak ngumpul gini, loe juga Kal. Sekali -kali harus gini, ilangin jenuh. Jangan jadi workaholic, loe gak akan bisa nikmatin hidup" ucap Doni yang memang benar adanya. Kalan hanya tau kerja dan kerja, tak seperti Dion, Dean dan Doni yang sering menghabiskan waktu di club malam atau lebih tepatnya membuang waktu menurut Kalan.
" Maklum, Don. Lagi patah hati doi makanya mau gue ajak kesini. " timpal Dion seraya menghisap sebatang rokok yang di pegangnya.
" Woah, pantes si workaholic ini mau keluar kandang, mau gue cariin cewek gak, Kal? " tanya Doni menaik turunkan alisnya.
" Gak sinting, gue gak segila loe sama Dean! Gue di sini cuma mau minum doang." kesal Kalan, entahlah bisa-bisanya dia terbujuk rayuan setan berada di tempat ini dan di kelilingi dua anak buah iblis alias anak buah Dean, meskipun Dion tidak bermain wanita seperti Doni dan Dean tapi club malam dan alkohol sudah menjadi langganannya saat ia jenuh.
" Ya kali, biar bisa ilangin patah hati loe. " kekeh Doni sambil menyesap minumannya.
" Kenapa loe Di. " tanya Kalan karena sedari tadi Dion seperti sedang melihat sesuatu, sampai akhirnya Kalan mengikuti kemana arah pandangan Dion.
Doni pun yang penasaran juga menoleh ke arah yang sedang Dion pandangi.
" Siapa? " tanya Kalan
" Loe kenal? " timpal Doni
" Hem, itu OB baru di kantor. Tapi kok bisa ada di sini ya. " Dion penasaran dengan sosok gadis remaja berusia 18 tahun dengan pakaian seksi berada di sebuah club malam, sungguh pikirannya negatif sekali saat ini.
" Masih bocah begitu, Don. Masa iya kerja jadi wanita penghibur, usianya juga kayanya masih remaja. " timpal Kalan yang kini ikut penasaran dengan sosok yang di maksud Dion.
" Heh, kampret mau kemana loe? " tanya Doni saat tiba-tiba Dion beranjak meninggalkan mereka.
" Bentar gue ada urusan. " Dion bergegas menuju seseorang yang sedang di tarik paksa oleh seorang pria paruh baya.
" Mau kemana tuh anak, baru kali ini gue lihat dia merhatiin cewek. " ucap Kalan yang memang benar adanya, biasanya Dion tak terlalu peduli dengan wanita manapun. Entah kenapa sekarang tiba- tiba Dion jadi penasaran hanya karena seorang gadis remaja yang dikenalnya berada di sebuah Club malam.
Dion menarik tangan pria paruh baya yang sedang menarik paksa tangan seorang gadis remaja yang Dion kenal bernama Tasya.
" Lepas! "
Sontak Pria paruh baya itu langsung melepas tangan Tasya , tatapan Dion sangat menyeramkan saat ini sehingga membuat nyali. pria paruh baya itu menciut.
" Pak Di-Dion. " Dion tak menoleh sama sekali saat gadis itu menyapanya, ia hanya fokus pada orang yang ada di depannya saat ini.
__ADS_1
Pria paruh baya itu berdecak kesal karena ada orang yang mengganggunya. " Siapa kamu, jangan ikut campur sama urusan orang lain. "
" Jelas saya ikut campur karena dia karyawan di kantor saya. " jelas Dion dengan tatapan mautnya.
" Pak udah pak, jangan terlibat masalah. Saya gak kenapa- napa kok. " lirih gadis itu, karena tak ingin Dion terkena masalah setelah ini karena dirinya.
" Dengar kan, keponakan saya aja gak ingin anda ikut campur, jadi tolong tinggalkan kami. " Pria paruh baya bernama Bagas itu ingin menarik kembali tangan Tasya tapi dengan cepat Dion menarik Tasya ke belakang punggungnya.
" Ada masalah apa anda dengan Tasya." tanya Dion masih berusaha sopan dengan pria paruh baya di depannya ini.
" Orang tua Tasya itu punya hutang, dia harus membayar semua hutangnya pada saya , karena Tasya gak sanggup bayar sesuai perjanjian makanya saya mau jual Tasya ke tempat ini. " jelas Bagas panjang lebar.
" Berapa hutangnya? "
" Pak... "
" Diem sebentar. " Dion menoleh sekilas ke arah Tasya. " Urusan kamu nanti sama saya. " lalu kembali fokus berbicara dengan bagas kembali.
Bagas tersenyum menyeringai, sepertinya pria di hadapannya ini cukup kaya, pikirnya. " 300 juta. " jawabnya singkat.
" Paman gak bisa gitu, hutang orang tua Tasya cuma 200 juta. " protesnya, bagaimana mungkin tanpa pemberitahuan hutang orang tuanya tiba-tiba menjadi 300 juta sungguh tak masuk akal menurut Tasya.
" Kamu gak ingat sudah telat bayar, itu bunganya Tasya. " sahut paman Tasya yang tampak sewot mendengar sang keponakan yang tak terima dengan perhitungannya.
" Kita keluarga Paman, papa dan mama selalu memperlakukan paman dengan baik, tapi kenapa paman sekarang jadi seperti ini." Tasya mulai menitikan air matanya mengingat betapa baik sang papa pada pamannya ini tapi pamannya membalas papanya dengan begitu kejam.
" Berapa nomer rekeningnya, biar saya transfer." tanpa banyak bertanya lagi Dion segera menstransfer uang 300 juta itu ke rekening paman Tasya. " sudah lunas, saya harap anda jangan mengganggu Tasya lagi, karena sekarang dia milik saya, anggap saya membelinya dari anda. "
" Lihat kamu harus berterima kasih sama bos kamu karena mau membeli kamu dengan harga mahal. Dan satu lagi uang tidak mengenal saudara Tasya. " Setelah mengatakan itu Bagas meninggalkan Tasya begitu saja bersama Dion.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1