Semalam Dengan Mantan Ku

Semalam Dengan Mantan Ku
Menyetujuinya


__ADS_3

" Wih, muka tegang amat yang abis bawa anak perawan. " sindir Dean saat melihat Dion memasuki ruangannya. " Gimana rasanya sama anak abege? " tanya Dean menaik turunkan alisnya.


" Apaan sih! belum juga gue coba , mana gue tau rasanya kaya gimana. " jawab Dion sekenanya.


" Loe naksir sama tuh bocah? Eemm, siapa namanya Ta.."


" Tasya."


" Ah iya Tasya."


" Gak biasa aja, cuma penasaran doang gimana rasanya kalau Tasya berada di bawah gue. " Dion tersenyum menyeringai sambil membayangkan adegan 21+ bersama Tasya.


pletak


Dean melemparkan pulpen ke arah wajah Dion dan itu berhasil mengenai keningnya.


" Sialan, kampret! Sakit gila. " umpat Dion sambil mengusap keningnya yang sedikit memerah. Lamunan buyar seketika saat pulpen Dean mendarat tepat di keningnya.


" Loe yang sinting, masih pagi pake di bayangin lagi. " kesal Dean yang sudah tau isi otak Dion yang kini sudah terkontaminasi.


" Mana Kalan katanya mau ngomong sama gue. " alasan Dion langsung menuju ruangan Dean sesampainya di kantor tadi tak lain karena Kalan menghubunginya untuk bertemu di kantor, dia ingin membahas masalah semalam.


" Gak jadi dateng, dia ada urusan katanya. "


" Bagus lah jangan sampai Kalan tau apa yang gue lakuin, yang ada mulutnya yang bocor itu bakal ngadu sama bokap dan nyokap gue. " bisa di bilang diantara mereka mungkin hanya Kalan yang sedikit normal, tidak seperti para sahabatnya yang suka bermain wanita.


" Ceritain, gimana bisa loe tertarik sama si Tasya, kayanya udah sebulan kerja di sini loe biasa aja tiap dia bawain kopi. " aneh sekali pikir Dean, seorang Dion yang tidak pernah melirik wanita manapun tiba-tiba kini tertarik dengan gadis remaja yang bahkan 8 tahun lebih muda darinya, bukan kah lebih merepotkan berkencan dengan anak remaja, pikir Dean. Mereka pasti lebih manja, kekanakan, banyak maunya dan yang lebih penting belum berpengalaman dan Dion bukan tipe pria penyabar, maka dari itu kemungkinan Tasya sama sekali bukan tipenya mengingat usia Tasya yang masih 18 tahun, tapi bagaimana bisa sahabatnya tertarik dengan gadis kecil itu.


Dion menceritakan saat dia melihat Tasya di club malam dengan pakaian super seksi, wajahnya di rias dengan riasan natural tapi dia tetap terlihat sangat cantik dan saat itu lah Dion tertarik dengan gadis itu. Dion juga menceritakan tentang dirinya yang membayar hutang Tasya dan meminta gadis itu menjadi partner ranjangnya.

__ADS_1


" Gila! ternyata loe lebih brengsek dari gue. Itu anak bocah mau loe jadiin pemuas loe doang? astaga loe mau ngerusak anak gadis orang? kalau loe jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia, mending loe pacarin atau loe nikahin sekalian dari pada cuma loe rusak terus loe tinggalin. " Dean tak habis pikir, bagaimana bisa otak Dion tiba-tiba menjadi korslet seperti ini.


Dean mungkin brengsek tapi dia meniduri wanita karena wanita itu yang menyerahkan tubuh nya pada Dean, setidaknya mereka melakukan nya atas dasar mau sama mau bukan memaksa apalagi mengancam, hanya Alenka yang ia tiduri dalam keadaan mabuk waktu itu, tapi dia bertanggung jawab dengan apa yang di lakukannya, lalu Dion? menjalin hubungan saja ia tak mau tapi hanya ingin merusak anak gadis orang lalu meninggalkannya setelah ia puas sungguh gila idenya.


" Gue belum mau menjalin hubungan dengan siapapun, De. Untuk saat ini kaya gitu aja udah cukup dan gue minta rahasiain ini dari siapapun. "


pinta Dion serius, sepertinya memang tak ada yang bisa merubah pikirannya saat ini.


" Terserah loe, awas aja loe baper. Bucin baru tau rasa loe."


Gue harap Tasya bisa membuat loe percaya akan sebuah komitmen, semoga dia bisa bikin loe bertekuk lutut. batin Dean.


Dion hanya tersenyum mendengar perkataan Dean tanpa mau menimpalinya.


...----------------...


Sepulang kantor Dion meminta Tasya datang ke apartemennya. Kini keduanya sudah duduk saling berhadapan.


Tasya juga realistis, ia tau bahwa gajinya tak akan cukup membayar hutangnya pada Dion, tapi dengan menjadi partner ranjang bos nya itu, ia pun tak mau. Posisinya benar-benar sulit saat ini.


" Berapa lama aku harus jadi partner ranjang pak Dion?"


Dion tersenyum penuh kemenangan ia yakin Tasya tak akan menolak tawarannya, karena ia tau Tasya tak akan sanggup membayar hutangnya.


" Dua bulan, setelah itu hutang kamu lunas. "


Tasya berpikir sejenak, apa ini keputusan terbaiknya, tapi hanya ini cara satu - satunya yang ia punya. Benar kata Dion lebih baik melayani satu pria dari pada ia harus menjual diri ke club malam itu dan melayani banyak pria.


Tasya menarik napas dalam dan mengeluarkannya lewat mulut sebelum memberi jawaban pada Dion.

__ADS_1


" Oke, aku mau tapi setelah itu hutang kita lunas dan jangan sampai ada yang tau soal hubungan kita, kalau di kantor kita harus bersikap kayak bos dan bawahan dan jangan mencampuri urusan pribadi masing-masing. " pinta Tasya panjang lebar.


dasar cerewet, batik dion.


" Oke, Deal. Oh iya satu lagi selama kamu jadi partner aku, kamu di larang punya pacar. Karena aku gak mau, waktu kamu dan tubuh kamu ini terbagi untuk pria lain juga. "


" Aku gak punya pacar! " ketus Tasya, dada nya terasa sesak, apakah Dion pikir ia gadis murahan yang rela menyerahkan tubuhnya pada pria lain, sekalipun itu pacar nya sendiri, Melakukan ini saja dia terpaksa. mana mungkin dia sudi menjadi partner ranjangnya seandainya bukan karena hutang.


" Bagus, persiapkan diri kamu mulai sekarang. Kapanpun aku mau dan kapanpun aku meminta kamu datang ke sini, kamu harus datang! " titah Dion yang tak ingin di bantah.


" Kapan kita mulai nya? " pertanyaan yang membuat jantung Tasya berdetak lebih cepat, sejujurnya ia takut saat mengatakannya, takut Dion meminta dirinya melayani pria itu saat ini juga.


" Aku tunggu saat kamu siap, tapi ingat jangan terlalu lama karena aku tak sesabar itu. " ucap Dion penuh penekanan agar Tasya tau diri, dia mau menunggu tapi Tasya juga harus sadar diri untuk segera menyelesaikan kewajibannya.


Untuk saat ini Tasya bisa bernapas lega saat Dion berkata akan menunggunya siap melakukan hal itu.


" Oh iya, itu passcode apartemen aku, jadi aku gak perlu repot- repot bukain kamu pintu kalau kamu datang kesini nanti. " Dion menyerahkan selembar kertas bertuliskan passcode apartemennya agar Tasya tak lupa dan selalu menyimpannya.


" Ya ampun pak saya ini gak pikun, kenapa mesti ditulis segala. Disebutin aja kan bisa. " kesal sekali rasanya, sejak kemarin dia diperlakukan seolah-olah pasien Alzheimer , saat Tasya sudah menyimpan nomer ponsel Dion di HP nya tapi tetap saja Dion meminta Tasya menyimpan kartu nama Dion juga, kata Dion agar Tasya selalu ingat nomer ponselnya kalau suatu saat nanti ponsel Tasya hilang atau tertinggal. Padahal untuk urusan menghafal Tasya tak usah di ragukan lagi. Bahkan kesalahan yang pernah di buat oleh temannya beberapa tahun yang lalu saja dia masih ingat, apalagi perkara nomer ponsel atau passcode apartemen, pikir Tasya.


" Kamu tuh masih anak kecil, ceroboh dan pelupa siapa tau nanti kamu gak inget gimana? " timpal Dion, mana mau dia kalah dalam berbicara, tahu kah bahwa dia paling pintar menjawab setiap kali berdebat.


" Kalau tau masih anak kecil kenapa di ajak bikin anak, dasar aneh! " sentak Tasya, sepertinya Tasya kesal luar biasa sampai ia lupa dengan siapa ia berbicara saat ini.


Dion yang mendengar ocehan Tasya pun tertawa terbahak- bahak, benar kata Tasya dia mungkin aneh memaksa anak kecil menjadi partner ranjangnya. Entah karena penasaran atau apa yang jelas Dion sangat menginginkan gadis kecil itu berada di atas ranjang yang sama dengannya.


.


.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2