Semalam Dengan Mantan Ku

Semalam Dengan Mantan Ku
Ajaran sesat


__ADS_3

Sejak saat itu hubungan Dean dan Alenka masih seperti biasa, ia tak memaksa Alenka lagi untuk menikah dengannya, Dean membiarkan hubungannya mengalir begitu saja dengan Alenka, meski Alenka tak menolak perhatian yang Dean berikan bukan berarti dia menerima Dean begitu saja terlebih Kalan juga dengan gencar mendekatinya, seperti saat ini.


Kalan yang biasanya mengunjungi kantor 2-3 kali setiap bulan kini hampir setiap hari datang ke kantor dengan alasan mengawasi Dean dan perusahaan. Alasan yg sangat mudah di tebak, pikir Dean. Karena alasan Kalan sebenarnya adalah Alenka.


Seperti sebelum-sebelumnya Kalan akan mengajak Alenka makan siang bersama bahkan terkadang mengantar jemput Alenka. Ingin sekali Dean marah tapi dia tak bisa karena memang hubungannya dengan Alenka tidak sesepesial itu, Alenka bukanlah kekasihnya yang bisa ia larang sesuka hatinya, sementara itu Dean semakin khawatir kalau Alenka akan luluh dengan Kalan kalau terus seperti ini.


" Ngapain sih Kal, kesini lagi. Loe tuh bukan mau kerja di sini, tapi cuma gangguin Alenka doang ! ganggu konsentrasinya tau gak. " hanya itu yang bisa Dean katakan , mau bilang cemburu tapi ia tak punya hak sama sekali.


" Gue juga Boss di sini Dean, loe gak lupa ingatan kan? " pintar sekali jawaban Kalan. Dia yang selama ini bekerja di balik layar tiba-tiba datang hampir setiap hari ke kantor dengan alasan dia Boss di sini, tapi apa? setiap datang bukannya bekerja malah sibuk menggoda Alenka, mengajaknya berbincang bahkan malah memperlambat pekerjaan wanita itu.


" Otak loe masih ada kan, Kal? Gak dimakan Zombie?" celetuk Dean asal, sungguh tak punya otak sekali kakaknya, pikir Dean. Bisa- bisanya benar-benar mengajaknya bersaing mendapatkan Alenka, padahal jelas dia ingin bertanggung jawab, bukan di bantu tapi malah di persulit. Pikir Dean.


" Ya ada lah, kalau gak ada otak gue juga jadi zombie dong, hahahaha. " sahut Kalan asal. Dia tau apa yang Dean maksud, tapi Kalan seakan pura-pura bodoh dan tak mengerti maksud Dean.


Disaat mereka tengah berdebat di ruangan Dean, Tiba-tiba Alenka datang menghampiri, karena memang ini sudah jam makan siang dan dia berjanji akan makan bersama Kalan di restoran dekat kantor.


" Akhirnya yang di tunggu datang juga, yuk Al kita pergi sekarang. " ajak Kalan sambil beranjak dari duduknya.


" Pak Dean gak mau ikut makan siang bareng sama kita? "tanya Alenka tak enak hati karena sering pergi makan berdua saja bersama Kalan. Sementara Dean makan seorang diri karena Dion sedang ia tugaskan keluar kota untuk urusan pekerjaan.


" Kalian aja, aku gak mau ganggu orang yang lagi pendekatan. " sindir Dean yang sudah kesal luar biasa, karena lagi-lagi harus melihat mereka bersama.


" Kita gak lagi.... " belum juga Alenka meneruskan ucapannya, tiba-tiba Kalan memotong perkataannya.


" Gak usah ajak Dean kalau dia gak mau. Kita aja yuuk aku udah lapar. " Kalan menarik tangan Alenka pelan keluar dari ruangan Dean.


...----------------...


" Mas, kayanya Dean salah paham sama hubungan kita. " kata Alenka saat mereka sudah duduk di dalam restoran.


" Biarkan aja, Al. Terserah dia mau berpikir gimana." ucap Kalan seraya tersenyum tipis mengingat bagaimana cemburunya Dean tadi. Senang rasanya memberi sedikit pelajaran pada adiknya yang nakal itu.

__ADS_1


" Tapi mas... "


" Sudah, makan dulu nanti keburu dingin makanannya. " kata Kalan.


" Oh iya Al, hari minggu kamu bisa temani aku ke pesta ulang tahun keponakan aku gak?"


Alenka yang mendadak mendapat pertanyaan seperti itu bingung harus menjawab apa, karena sudah di pastikan kalau pesta ulang tahun keponakannya pasti ada Dean juga disana, entah kenapa ia merasa tak enak hati kalau sampai Dean melihat dirinya datang bersama Kalan.


" Ayolah, Al. Please! temani aku ya? " Kalan tau ada yang Alenka pikirkan, oleh sebab itu Kalan langsung memasang wajah sedihnya dengan tatapan memohon.


Mau menolak, tapi dulu Kalan terlalu baik padanya. Sejenak Alenka berpikir anggap saja ini balas budi.


" Oke mas nanti aku temani. "


Disisi lain Dean sedang berpikir keras untuk membuat Kalan mundur dengan sendirinya.


" Gimana caranya ya? " gumam Dean sambil mengetukan jari telunjuknya di atas meja kerjanya.


" Telepon Dion aja kali ya. " dengan segera Dean langsung meraih ponselnya dan menghubungi Dion yang sedang berseteru dengan seorang gadis 18 tahun.


" Sinting! bisa biasa aja gak ngomongnya, kuping gue belum tuli gila. " kesal sekali Dean baru juga menghubunginya sudah kena semprot seperti itu.


Apa gue ganggu kali ya, pikir Dean. Entah kenapa nada bicara Dion tak seperti biasa, seperti sedang luar biasa kesal sampai nada bicaranya seperti itu.


" So-sorry De gue ke bawa emosi. " sahut Dion tak enak hati, dia kesal dengan bocah ingusan tapi bossnya yang malah dia semprot.


" Ada kejadian apa? " tanya Dean penasaran.


" Itu, ada bocah ingusan gak bisa naik motor. Masa gue udah kasih lampu sein kiri dia tabrak, tapi malah gue yang di salahin, masih bocah udah bawa motor, paling juga sambil melamun bawanya. " curhat Dion yang masih kesal karena mobilnya lecet tapi malah gadis itu yang minta ganti rugi dan tak merasa bersalah sama sekali.


" Cewek apa cowok ? umur berapa? " Dean penasaran akan cerita Dion, seakan lupa dengan tujuannya menelpon Dion, padahal dia ingin meminta saran pada temannya itu.

__ADS_1


" Cewek paling sekitar 18 tahun, tapi sumpah ngeyel banget, De. Bikin gue darah tinggi. "


" Calon jodoh loe kali, Di. " ucap Dean seenak jidat. Bahkan Dean tak tau bagaimana reaksi Dion saat ini, sungguh sampai mengucapkan kalimat amit-amit berkali-kali di dalam hatinya.


" Ogah, mending jomblo abadi. Nikah sama bocah begitu sama kaya memperpendek umur gue Dean. Belum apa-apa gue udah dibikin darah tinggi, kalau punya pasangan kaya dia bisa kena stroke, serangan jantung dan penyakit lainnya, De. " gerutu Dion yang masih kesal dengan omongan Dean, Omongan seperti doa, bagaimana kalau nanti menjadi kenyataan dia mendapat jodoh seperti itu, sungguh lebih baik dia meminta menjadi single seumur hidupnya, pikir Dion.


Tanpa Dion sadari, omongan yang keluar dari mulutnya pun sering asal dan itu yang terkadang membuat Dean kesal sekali tiap kali Dion asal ceplos dan itu menjadi nyata. Karena omongan adalah doa. Tapi saat Dean berkata gadis tadi adalah jodoh nya dia menjadi kesal sendiri, terlalu takut kalau perkataan Dean menjadi nyata nantinya.


" Gak boleh gitu, nanti kalau gue nikah loe kesepian gimana?" timpal Dean.


" Berhenti bahas gue, loe ada apa nelpon gue. Pasti ada yang penting kan? " lebih baik Dion mengalihkan pembicaraan dari pada Dean terus saja mengoceh hal yang tidak penting menurutnya.


" Ah iya, sampe lupa kan sama masalah gue sendiri. Kalan rese dia makin gencar dekati Alenka, gimana caranya ya biar Alenka langsung terima gue?"


" Loe bikin mabuk lagi aja, terus loe lakuin berkali-kali biar dia hamil." saran Dion enteng sekali tanpa dosa.


Dean terkejut mendengar saran Dion yang sangat menyesatkan sekali, menurutnya. Kalau Dion ada di depannya saat ini, mungkin Dean sudah memukul kepala temannya yang sedang eror itu.


" Loe mau gue di kebiri apa ya sama Kalan, bikin anak gadis orang hamil, gue gak mau pake cara licik. Dasar sinting! " umpat Dean.


" Atau loe langsung ketemu bokap nya Alenka aja, loe lamar langsung, kalo Alenka nolak loe ancam aja bakal bilang ke bokapnya kalau loe udah mengambil kesucian Alenka. Bokap nya kan punya penyakit jantung, Alenka pasti gak mau penyakit bokapnya kambuh jadi dia pasti mau loe nikahin."


Sepertinya saran Dion kali ini benar-benar cemerlang dan lebih baik dari pada sarannya yang gila tadi. " Benar juga loe, Di. Kenapa gue gak kepikiran aja ya dari kemarin."


.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa Di like dan komen, kalo boleh minta Hadiah dan votenya juga ya terimakasih, mohon dukungannya biar author semangat buat Up 🙏

__ADS_1


Jangan lupa di subscribe ya biar ga ketinggalan notif dari aq kalo ada eps baru



__ADS_2