
Empat hari lagi adalah pernikahan Doni dan kekasihnya Angel yang akan di adakan di Bali, tapi karena Dean dan juga Dion ada pekerjaan di Bali jadi mereka memutuskan berangkat lebih awal.
" Sayang, kamu lusa berangkat sama Tasya gak pa-pa ya? Nanti aku suruh Tasya ke sini. " ucap Dean sambil memeluk sang istri dari belakang, padahal istrinya sedang di sibukkan memasukkan pakaian Dean ke dalam koper.
" Iya, tapi lepas donk kak. Berat tau kamu udah kaya cicak nempel di dinding aja, gak liat apa ini di perut udah berat di tambah lagi kamu. Makin berat ih! " keluh Alenka.
" Hehehe.. iya maaf sayang, aku lupa. " Dean terkekeh seraya melepaskan pelukannya dari sang istri.
" Kenapa aku gak berangkat bareng kamu aja sih, kenapa mesti nyusul. " Alenka mengerucutkan bibirnya, ini adalah kali pertama selama hamil Dean akan pergi meninggalkannya keluar kota karena pekerjaan, biasanya dia akan menugaskan orang lain karena tak ingin meninggalkan Alenka yang sedang hamil sendirian di rumah, tapi kali ini ia harus turun tangan langsung karena ada beberapa klien yang ingin ia temui untuk membahas kontrak kerja sama mereka.
" Nanti kamu bosen kalau aku tinggal-tinggal kerja terus, di sana kan gak ada yang nemenin. Kalau di sini nanti kan ada Tasya yang nemenin kamu. Kamu juga bisa berangkat sama Tasya ke Balinya."
Tasya memang di mintai tolong oleh Dean untuk menginap di rumah mereka saat Dean berangkat nanti, kebetulan Tasya pun tak bisa berangkat bersama Dion di karenakan ia masih ada jadwal kuliah dan tak mungkin ia tinggalkan.
" Tapi janji jangan macem-macem ya! " ancam Alenka. " Awas aja kalau lihatin cewek-cewek pakai bikini! "
" Aku kesana kerja sama Dion bukan untuk macem-macem sayang, buat aku tanpa pakai bikini pun kamu itu jauh lebih seksi. " ucap Dean sambil mencubit gemas pipi sang istri yang kini lebih berisi.
Alenka melepaskan tangan Dean yang sedang mencubit pelan pipinya " Alah, di sini bisa ngomong begitu , coba kalau udah di hadapkan beneran sama yang pakai bikini, paling juga langsung melotot matanya, jelas lah lebih seksian mereka. " Entah kenapa Alenka mendadak kesal membayangkan sang suami mungkin bertemu dengan gadis-gadis seksi di Bali, Alenka merasa tak percaya diri dengan tubuhnya yang kelihatan lebih berisi dari sebelumnya, mungkin efek kehamilan yang tidak membuat nya mengalami mual muntah tapi justru semakin doyan makan jadi lah tubuh Alenka sedikit lebih besar sekarang.
" Ya ampun, aku itu serius. Kamu semenjak hamil terlihat lebih seksi, lebih montok sayang. Di mata aku mau bagaimana pun kamu, kamu tetap yang paling cantik dan seksi." Ujar Dean. Itulah yang memang Dean rasakan, untuknya Alenka akan selalu cantik dan seksi, bahkan sampai membuatnya candu dengan semua yang ada di diri sang istri.
...----------------...
Setelah berhasil mendarat di pulau Bali Alenka dan Tasya di jemput oleh supir atas perintah Dean. Sementara Dean dan Dion masih sibuk mengurus pekerjaan mereka di sana.
__ADS_1
Supir yang menjemputnya mengatakan kalau Dean dan Dion sekarang sedang meeting dengan seorang klien untuk proyek mereka yang baru di Bali, jadi Dean dan juga Dion tak bisa menjemput mereka ke bandara.
Pesan Dean adalah langsung membawa Alenka dan Tasya menuju kamar mereka masing-masing yang selama dua hari ini di tempati oleh Dean dan Dion.
" Tolong langsung bawain barang-barang saya ke kamar aja ya, pak. " pinta Alenka pada supir Dean.
" Kak, aku mau ke kamar duluan ya. " ucap Tasya karena ia merasa sedikit pusing dan ingin cepat- cepat istirahat di kamar.
" Oh yaudah, kamu istirahat aja sya. Aku mau temuin suami aku dulu, katanya dia lagi meeting di restoran deket sini. "
" Kakak yakin gak pa-pa sendirian kesana nya? " tanya Tasya tak enak hati.
" Iya gak pa-pa sya, deket situ ko. Lagian kasihan kalau kamu harus nemenin aku di saat kepala kamu pusing gitu, mending istirahat dulu aja jadi pas nanti bangun kamu udah seger lagi. " ujar Alenka.
Alenka menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kemudian ia berjalan ke arah restoran yang tak jauh dari hotel tempatnya menginap.
Saat hampir sampai di restoran dari kejauhan Alenka melihat sosok pria yang sangat ia kenal, refleks saja kakinya yang hendak bergerak tiba-tiba berhenti dengan kaku. Ia masih bisa mengenali siapa pria yang sedang berdiri sambil memeluk seseorang wanita dengan pakaian seksi itu.
Pelukan yang tadi Alenka lihat langsung terlepas dengan cepat dan tergantikan dengan raut terkejut dari sang suami. Alenka terpaku dengan dada yang terasa sesak, ia terdiam di tempat nya dengan air mata yang sudah menggenang.
" Liz, gue duluan ya. " ucap Dean pada wanita yang tadi ia peluk. Tanpa menunggu jawaban dari wanita itu Dean bergegas menghampiri sang istri.
Kesadaran Alenka pulih saat sang suami bergerak menghampirinya, namun secepat kilat Alenka beranjak dari sana, ia buru-buru berbalik dan berjalan cepat meninggalkan Dean yang sedikit berlari untuk mengejarnya.
" Sayang.... " panggil Dean.
__ADS_1
Alenka sama sekali tidak menghentikan langkahnya, ia masih terus berjalan dengan cepat berusaha meninggalkan Dean di belakangnya.
Sementara Dion yang baru keluar dari toilet di buat bingung karena Dean dan Eliza tak ada di mejanya . Saat akan menghubungi Dean tiba-tiba pria itu lebih dulu mengirim pesan padanya kalau ia sudah selesai membahas proyek baru mereka dengan Eliza dan saat ini Dean sudah kembali ke kamarnya karena Alenka dan Tasya sudah sampai di hotel dan sang istri sudah menunggunya.
Langkah Alenka terhenti saat seseorang menarik tangannya. " Aku bisa jelasin, Al. ini semua gak seperti yang kamu lihat. "
"Aku gak mau berdebat di sini, malu banyak orang!"
pinta Alenka sambil menghapus air matanya dan masuk ke dalam lift dengan cepat. Ada emosi di setiap gerakannya bahkan ia menekan tombol lift dengan kasar.
Wanita berpakaian seksi itu bernama Eliza dan sudah Dean kenal sejak lama karena ia mantan kekasih Doni dulu. Oleh sebab itu Dean juga mengenal Eliza dengan baik.
Saat hendak beranjak dari kursi restoran high heels Eliza tersangkut dan membuat wanita itu hampir jatuh, mau tidak mau Dean yang menyadari hal itu segera menangkap tubuh Eliza.
Jika di lihat dari sisi yang berbeda mereka berdua memang tampak seperti berpelukan, tapi sebenarnya Dean hanya memegangi lengan Eliza.
Semua menjadi kacau sepanjang mereka berada di dalam lift, untuk naik ke kamar saja Alenka hanya terdiam dengan air mata yang terus mengalir.
Dean cukup tau diri untuk tidak bersuara atau menyentuh istrinya saat ini, karena ia tau jika itu semua hanya akan menimbulkan emosi dari Alenka.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
__ADS_1