Semalam Dengan Mantan Ku

Semalam Dengan Mantan Ku
Es krim


__ADS_3

Tiga bulan sudah Dean dan Alenka menikah, mereka semakin harmonis setiap harinya walaupun kadang ada saja hal yang di perdebatkan tapi itu tak mengurangi kemesraan mereka berdua, terlebih sekarang Alenka tengah mengandung dua bulan buah cintanya dengan Dean, bayangkan bagaimana nasib Dean yang setiap hari semakin tertindas oleh sang istri, contohnya hari ini.


" Sayang bangun. " rengek Alenka sambil menggoyangkan lengan kokoh sang suami yang baru saja memejamkan matanya.


" Mau apa lagi sayang? " tanya Dean, memang setiap hari semenjak istrinya hamil, Alenka akan membangunkan dirinya tiba-tiba saat tengah malam, sudah dipastikan istrinya itu menginginkan sesuatu. Semenjak hamil Alenka memang tak merasakan mual dan muntah, justru nafsu makannya menjadi berkali lipat dari biasanya, hanya moodnya saja menjadi lebih sensitif dari sebelumnya dan juga lebih galak dari singa betina.


" Es krim. " jawabnya tanpa beban sama sekali.


" Besok aja ya, aku ngantuk banget sayang. Lagi juga gak baik malam-malam makan es krim nanti kamu sakit perut. " ujar Dean dengan mata yang sudah tinggal segaris, sejujurnya matanya sudah sangat berat, apa lagi seharian ini pekerjaannya amat banyak, bahkan Dean sampai harus berangkat ke kantor lebih pagi dari sebelumnya dan ia baru saja sampai di rumah sekitar jam 9 malam.


" Tapi aku maunya sekarang, kak . Kalau besok mah udah gak pengen lagi. " ia tau sang suami lelah dan juga mengantuk tapi Alenka sendiri tak bisa menahan keinginannya yang ingin sekali menikmati es krim malam ini.


" Kamu lihat jam deh yank, ini udah jam 12 malam. Minimarket juga udah tutup jam segini. " Dean mencoba mencari alasan, agar sang istri bisa menahan ngidamnya setidaknya sampai besok pagi.


" Kamu tuh cuma alasan aja, minimarket seberang buka kok 24 jam, emang kamu aja yang gak mau nemenin aku beli es krim, gak bertanggung jawab banget sih mau enaknya doang, giliran nemenin ngidamnya aja ngeluh. " oceh Alenka yang membuat kepala Dean rasanya mau pecah.


Terlebih saat tiba-tiba Alenka beranjak dari ranjang sambil berkata " yaudah aku beli aja sendiri, kasian anak aku nanti ngiler kalau gak diturutin. "


Lagi-lagi jurus nanti anaknya ngiler adalah yang paling ampuh dan membuat Dean tak bisa berkutik, Pria tampan itu sampai langsung bangun dari tidurnya dan kini ikut beranjak bersama sang istri. " Tunggu, aku beliin. Aku cuci muka dulu sebentar. " Dean terpaksa mengalah kalau sudah membawa-bawa sang anak.


Mata Alenka seketika berbinar melihat Dean yang melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


" Nah gitu dong, kan aku jadi makin cinta kalau kamu gini. Jadi aku merasa beruntung nikahnya sama kamu bukan sama Tommy. " ucap Alenka setelah Dean sudah keluar dari kamar mandi.


" Jadi kalau aku gak turutin, kamu gak merasa beruntung? terus kamu lebih baik nikah sama Tommy begitu? " Dean kesal luar biasa mendengar nama Tommy di sebut.


" Gak gitu, kak. Gitu aja marah baper banget sih! Udah ah ayo, nanti kemaleman kalau berdebat terus. " keluh Alenka yang sama sekali tak merasa bersalah, padahal selama ini yang lebih sering baper adalah dirinya.


Dean Memilih tak memperpanjang masalah, ia juga tak ingin membahas masa lalu yang membuat dirinya terbakar api cemburu. Masih kesal rasanya dulu Tommy merebut Alenka dengan cara licik dan itu tak akan pernah Dean lupakan seumur hidup. "Kamu tunggu aja ya. "

__ADS_1


" Gak, aku mau ikut nanti ke buru meleleh es krim nya sampai di sini. "


" Udara malam gak bagus untuk ibu hamil, dingin yank. "


Alenka tetap menggelengkan kepalanya.


" Pokoknya aku mau ikut, lagi juga kita kan naik mobil kak bukan jalan kaki, jadi gak dingin lah! lagi juga aku udah pake celana panjang nih, tinggal pake jaket aman deh gak akan kedinginan. " Ada saja jawaban Alenka yang membuat Dean menghela napas nya, entah kenapa semenjak menikah ia tak pernah bisa menang berdebat dengan sang istri terlebih saat ia hamil semakin tak bisa di lawan saja perkataan istrinya.


Sabar Dean, sabar!


Mengalah sama istri lebih aman dari pada nanti jadi panjang urusannya dan akan melebar kemana-mana nantinya, pikir Dean.


" Oke kamu ikut, aku ambil jaket dulu. " Dean bergegas mengambil jaket sang istri kemudian memakaikannya pada Alenka dan menarik resleting jaket itu sampai ke atas.


" Mau rasa apa? " tanya Dean sesampainya mereka di minimarket.


" Rasa coklat aja, tapi aku mau yang cup dua ya sayang. " pinta Alenka dengan tak tau diri, makan es krim di tengah malam saja sudah salah menurut Dean apalagi ini sang istri meminta dua cup, bisa bayangkan bagaimana sebalnya Dean dengan kemauan istrinya yang tak tau waktu.


Alenka mengerucutkan bibirnya dengan mata yang sudah menggenang.


" Lebih baik kamu merengek nangis sekalian dari pada nanti jadi sakit perut. " Dean tak lagi ingin di bantah bahkan kini wajahnya benar-benar serius, Kalau sudah melihat Dean yang seperti ini membuat Alenka memilih menuruti suaminya dari pada ia tak bisa makan es krim sama sekali, karena sekali Dean berucap dengan wajah seperti itu sudah dipastikan ucapannya tak main-main.


Setelah selesai membayar satu buah es krim, Alenka dan Dean duduk di sebuah bangku yang tersedia di depan minimarket, Dean sebenarnya meminta Alenka memakan es krim itu di dalam mobil sambil jalan pulang ke apartemen , tapi bukan Alenka namanya kalau tak keras kepala dan memilih menikmati es krim sambil duduk di bangku depan minimarket.


" Pelan- pelan, aku gak akan minta kok yank. " Dean mengelap ujung bibir Alenka yang belepotan es krim dengan tisue. Sudah mau menjadi ibu tapi makan es krim saja bisa belepotan seperti ini, pikir Dean.


" Kalau gak di tempat umum, udah aku jilat itu mulut kamu yang belepotan es krim. " kekeh Dean.


" Dasar messum! "

__ADS_1


" Dean. "


Saat keduanya masih asik bercanda dan tertawa tiba-tiba suara seseorang mengejutkan Dean hingga membuat pria itu langsung menolah ke arah sumber suara.


Seketika wajah Dean menegang melihat wanita tinggi, cantik dan seksi berdiri di sebelah bangkunya.


Sementara Alenka? Wajah wanita itu sudah merengut kesal, Ia memang tidak mengenali wanita di depannya ini, tapi kalau di lihat dari penampilannya Alenka bisa menebak kalau wanita tersebut salah satu mantan teman kencan Dean dulu.


Wajah Dean memucat saat melihat tatapan istrinya seolah-olah ingin menguliti nya hidup-hidup, walaupun mungkin Dean tak pernah cerita siapa saja mantannya, ia yakin insting seorang istri pasti lebih tajam tanpa ia mengatakannya, bisa di bilang istrinya sudah seperti cenayang.


" Hai, Van. " sapa Dean tak lebih hanya untuk bersikap ramah pada orang yang ia kenal, bukan ada maksud apapun itu.


" Kamu apa kabar udah lama gak hubungi aku, aku pikir kamu masih sama Rachel. " sindir Vania sambil melirik ke arah Alenka dengan ekor matanya, Vania adalah mantan teman kencan Dean sebelum dia bertemu dengan Rachel.


" Siapa? " Akhirnya Alenka membuka suaranya, sebelum sang suami menjawab pertanyaan sang mantan.


" Ini teman aku dulu sayang dan ini istri gue, Van. "


sahut Dean dengan jantung yang mendadak menjadi tak aman.


Vania mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alenka. " Vania, mantan Dean. " ucapnya dengan bangga.


" Alenka, istri sahnya Dean. " balasnya penuh penekanan.


Yang menjadi biang masalah hanya bisa diam dan memperhatikan interaksi sang istri dan sang mantan dengan gelisah sambil menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


.


__ADS_2