
Sedari tadi ia menahan tawanya melihat Doni menjadi pelampiasan Alenka, meskipun ikut panik tapi ia masih bisa senyum melihat penderitaan temannya, tapi sayang kesenangan Dion tak bertahan lama karena tiba-tiba Alenka memegang tangan Dion dan mencengkramnya dengan sangat kuat seperti tengah memakai tenaga dalamnya, mungkin kalau hanya mencengkram Dion masih bisa menahan sakitnya tapi masalahnya Alenka secara refleks mengambil tangan Dion dan menggigitnya dengan giginya yang tajam.
" Aaakkkhhhh, sakit! Lenka gila! itu tangan gue. Aakkh. "
" Sabar kak sabar, itu kak Dean lagi jalan ke sini. "
Dion tak sanggup lagi menimpali ucapan Tasya, sama seperti Doni, ia hanya bisa pasrah sambil berurai air mata karena sakitnya gigitan Alenka.
Puas menggigit tangan Dion, Alenka melepaskannya, sedikit bernapas lega karena penderitaan yang berakhir tidak seperti Doni yang terus saja menahan perih di kulit kepalanya.
" Tenang Len, tenang itu Dean lagi jalan kesini. " bukannya semakin tenang Alenka justru semakin brutal, ternyata kelegaan Dion hanya bertahan sebentar karena kini Alenka menarik-narik kerah kemeja Dion dan mengguncangnya. " Akkhh sayang, leher aku. " teriak Dion yang meminta pertolongan pada Alenka.
" Sayang kamu gak pa-pa? " tanya Dean saat menghampiri sang istri.
" Sakit kak !" sentak Alenka, entah rabun atau bagaimana kenapa suaminya masih saja bertanya jelas sejak tadi ia sedang kesakitan. " kenapa pake di tanya udah tau sakit! " gerutu Alenka yang tak terima dengan pertanyaan sang suami.
"Yaudah ayo kita kerumah sakit! " Dean membopong Alenka tanpa berpikir lagi, bahkan seolah penderitaan dua sahabatnya sama sekali tak terlihat olehnya.
" Sinting! lepasin dulu ini tangan istri loe dari rambut gue. " teriak Doni karena saat Dean mengangkat tubuh Alenka, otomatis kepalanya juga ikut tertarik sampai posisinya berubah berdiri dengan kepala yang miring karena masih di tarik oleh Alenka.
" Lepasin dulu tangan kamu dari rambut doni sayang. " ucap Dean lembut.
" Gak bisa aku butuh pegangan. " sahut Alenka.
" Ini leher gue juga ke tarik, bangkke! " teriak Dion yang juga ikut berdiri dibelakang Dean karena kerah bajunya masih di tarik Alenka.
__ADS_1
" Udah kalian jalan aja, Alenka butuh pegangan ini." ujar Dean pada dua sahabatnya yang sedang mengalami penganiayaan oleh sang istri.
" Loe jalan di depan gue, Don dan loe ikutin di belakang gue, Di. "Ucap Dean lagi dengan santai tanpa dosa, jadi lah tangan kanan Alenka menjambak rambut Doni sambil di gendong Dean ala bride style dan Dion di tangan kiri Alenka.
"Buruan aku gak kuat! " kesal Alenka.
" Iya - iya Dean langsung membopong Alenka dengan tangan yang masih menarik rambut doni juga Dion, bahkan mereka ampai terseret karena langkah Dean yang sangat cepat.
Dion, Doni dan Alenka masuk di kursi tengah dan Tasya di kursi belakang sementara Angel di kursi depan bersama Dean yang mengemudikan mobilnya sendiri karena sejak tadi Alenka tak mau melepaskan kedua tangannya dari Dion dan Doni. Bahkan kuku panjang yang baru saja di hias demi menghadiri pesta pun turut melukai leher Dion, sungguh perih bahkan ia sampai berurai air mata begitupun dengan Doni. Mereka ingin pasrah saja rasanya apabila Tuhan mengambil nyawanya saat ini juga.
" Yaelah Dean buruan kek bawa mobilnya! " sentak Doni sambil menahan pedih di bagian kepalanya, ia sudah tak tahan dengan penderitaan ini tapi Dean seakan tak menghiraukannya, sungguh ia sangat kesal, begitupun Dion. Ia yang merasa tak memiliki andil dalam pembuatan bayi mereka kenapa juga harus ia yang di siksa begini, pikirnya. Kenapa tidak si Dean saja yang membuat Alenka hamil begini.
" Loe pengen banget ya kita menderita dibelakang sini. " kesal Dion.
" Beb aku gak ganteng lagi nanti. Huuuaaaaa. " keluh Doni pada sang istri yang duduk di depan tapi tengah berbalik menghadap belakang menatapnya dengan tatapan sendu, ia tak tega melihat keadaan Doni, tapi ia sebagai wanita juga mengerti dengan keadaan Alenka, mungkin nanti ia akan seperti itu saat melahirkan, pikir Angel.
" Udah jangan pada ribut, nanti gak sampe-sampe ini. "
" Gimana mau cepet sampai kalo loe bawa mobil kaya siput, leher gue keburu pendarahan ini. " gerutu Dion yang lehernya terasa sangat perih akibat kuku panjang Alenka yang mengenai lehernya bahkan terasa sudah berdarah.
" Sabar Alenka lagi hamil gak boleh bawa mobil ngebut-ngebut. " jelas Dean.
" Turun ! biar aja Angel yang bawa mobilnya. " ucap Doni yang sudah tak sabar ingin lepas dari penderitaannya. Menyesal sekali ia datang ke pesta kalau tau mereka berakhir seperti ini. Bukan ia tak setia kawan tapi sungguh kalau keadaan seperti ini dirinya pun tak sanggup ingin menyerah saja rasanya persetan dengan persahabatan ia ingin menyelamatkan nyawanya lebih dulu. Kepala nya pegal seperti ingin lepas, kulit kepalanya perih bahkan mungkin rambutnya sudah banyak yang rontok. Matanya pun tak henti-henti mengeluarkan air mata.
" Aku gak berani beb, aku gugup kalo keadaan kaya gini. " tutur Angel yang memang sejak tadi ikut panik hingga tangan nya gemetar, mana mungkin ia bisa bawa mobil, yang ada bukan ke rumah sakit tapi kerumah duka, pikirnya.
__ADS_1
" Gue aja yang nyetir, di depan minggir bentar, De." titah Dion, ia bukan hanya ingin menyetir tapi juga ingin menyelamatkan nyawanya sendiri, biar saja Dean yang duduk di samping Alenka agar ia merasakan apa yang ia rasakan juga, pikirnya terlebih ia belum menikah, tidak lucu sekali kalau mati konyol hanya karena dianiaya oleh ibu hamil yang akan melahirkan.
Setelah Dean menepi mereka bertukar posisi kini Dean di belakang disisi sang istri. beruntung Alenka mau melepaskan Dion.
" Sabar ya sayang. Kamu pasti ku....... Akkhhh Sayang, tangan aku. " Dean mengigit bibir bawahnya agar tak berteriak karena Alenka tiba- tiba mencakar tangannya dengan kukunya yang panjang dan tajam itu, bahkan sekarang mengigitnya seperti yang ia lakukan pada Dion tadi.
astaga istriku ini kenapa seperti hulk begini, kenapa ia kuat sekali ya Tuhan. batin Dean.
jadi ini derita yang Dion rasakan tadi, sial pantas saja ia minta tukar posisi, pikirnya.
Dion menyetir seperti orang kesetanan hingga Dean harus berteriak padanya." Bisa pelan gak! Sinting ! loe bawa ibu hamil ini, ada anak gue di dalamnya. "
" Biar cepet sampai De. "
" Jangan kaya orang kesurupan reog gitu bisa gak sih! " protes Dean yang mengkhawatirkan keselamatan mereka semua.
" Loe mau istri loe lahiran di mobil? enggak kan?
Udah diem kalo mau sampai dengan selamat jangan malah mengganggu konsentrasi gue. " setelah berkata begitu Dean hanya mampu menahan sakit akibat penganiayaan dari sang istri seraya terus memanjatkan doa dalam hati untuk keselamatan merek semua.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
__ADS_1