Semalam Dengan Mantan Ku

Semalam Dengan Mantan Ku
Saingan baru


__ADS_3

Tapi baru juga dion membuka pintu tiba-tiba Kalan sudah berdiri di depannya dengan tatapan membunuh seakan ingin menguliti Dion hidup-hidup.


" Kal... Kalan"


Kalan berjalan masuk ke dalam apartemen Dean bahkan melewati Dion yang masih mematung di depan pintu. " Mana Dean? "


" Di kamar, Kal lagi istirahat. " jawab Dion singkat padat dan jelas, hanya itu yang bisa dia katakan kalau tau Dion berbohong padanya seperti yang Dean perintah kan tadi, bisa habis dia dengan Kalan, Auto di pecat, pikirnya.


Kalan berjalan perlahan membuka pintu kamar Dean dengan kasar sampai Dean terperanjat dari tidurnya.


"Gila! bisa pelan gak sih, gak tau gue lagi tidur apa. Ganggu banget orang sakit." sentak Dean.


" Sakit apanya, gak seberapa itu sih. " enteng sekali bukan jawaban Kalan, sang adik sudah babak belur begitu masih di bilang tak seberapa, lalu yang parah harus bagaimana, pikir Dean.


"Gue nih gak boleh diganggu, Kal. Harus banyak istirahat, mending besok loe kesini lagi. " kesal sekali Dean baru juga memejamkan mata dan hampir menuju alam mimpi tiba-tiba harus di kagetkan dengan suara pintu yang di buka cukup keras bahkan di bilang lukanya tak seberapa.


" Paling cuma akal-akalan loe mau menghindari gue kan?" jurus menghindar yang sangat mudah tertebak, pikir Kalan. " Ceritain sama gue apa yang terjadi, jangan sampai gue pecat jadi gembel loe. " ancam Kalan sangat serius.

__ADS_1


Sebelum bercerita Dean menarik napas panjang, Dia mulai menceritakan penyebab dia dan Alenka putus dulu, lalu kejadian di Bali hingga saat tadi dia memberitahu tomcat apa yang terjadi dengannya dan Alenka.


Setelah mendengar cerita sekilas dari Ferry saja amarahnya sudah meluap- luap apalagi sekarang mendengar langsung cerita dari Dean, membuat Kalan ingin sekali menambah lagi memar di wajah Dean. " Loe gila yak, sejak kapan loe memanfaatkan orang mabuk kaya gitu? Alenka itu gadis baik-baik, gue bahkan udah anggap dia kaya adik gue sendiri Dean, Bisa-bisanya loe membuat hidup dia jadi kacau begini. "


" Gue ngelakuin itu semua karena memang masih ada rasa, Kal. Bukan sekedar nafsu aja. " ucap Dean membela diri.


" Loe juga Di, gue suruh awasin Dean kenapa malah membiarkan dia berduaan sama Alenka di Bali. Loe tau Dean kan gak boleh lihat wanita cantik dikit juga dia tergoda. Loe aja gue dandanin kaya cewek juga dia tergoda. " kesal Kalan pada Dion yang juga malah mendukung Dean menutupi semua nya.


kalau gue ikut juga ke Bali yang handle kerjaan di sini siapa? Kalan pikir gue gak ada kerjaan apa di sini. batin Dion.


" Sembarangan aja! gak segitunya juga kali Kal. Sejak kapan Dion bisa jadi cantik, mata gue masih normal buat lihat mana cewek mana genderuwo. " sebal sekali rasanya seolah-olah ia adalah penjahat kelamin yang meniduri siapa saja.


Ingin protes tapi mana mungkin disaat seperti ini lebih baik dia mengalah saja, meskipun setiap kali mereka berbincang selalu membawa-bawa namanya.


" Gue gak mau tau, pokoknya loe harus tanggung jawab sama Alenka kalau masih mau senjata loe aman, kalau masih suka celup sana sini sembarangan gue kebiri sekalian. " ancaman Kalan membuat Dean menelan salivanya susah payah, membayangkannya saja membuat Dean bergidik ngeri.


Mungkin kalau wanita yang dengan suka rela menyerahkan tubuhnya pada Dean, Kalan tak terlalu peduli karena mereka melakukannya karena sama-sama mau, tapi tidak dengan Alenka yang saat itu mabuk berat, seharusnya Dean bisa menahan hasratnya, pikir Kalan.

__ADS_1


" Kal, tega banget sih kalau ngomong jangan ngaco deh, ini tuh masa depan gue. Kalau rusak gimana? " bisa-bisanya kakaknya berkata demikian, pikir Dean. Sungguh kejam tak punya hati nurani.


" Loe juga udah merusak masa depan anak gadis orang, pacar teman loe sendiri lagi. " Kalan tak habis pikir Dean masih saja egois memikirkan dirinya sendiri padahal tanpa Kalan tau, Dean sudah menawarkan pertanggung jawaban pada Alenka.


" Gue udah mau tanggung jawab tapi Alenka menolak, gue harus gimana Kal. gue juga mau nikah sama dia. " lirih Dean. Dia benar-benar ingin menikahi Alenka tapi sulit sekali meluluhkan keras kepalanya wanita itu.


Kalan tersenyum menyeringai " kalau loe gak bisa tanggung jawab, biar gue aja yang bertanggung jawab atas kesalahan loe. Gue akan nikahi Alenka."


" Eh apaan maksud loe, enak aja main tanggung jawab, itu milik gue. Cuma gue yang boleh nikahin dia. " Dean panik mendengar keinginan Kalan untuk bertanggung jawab, mana mungkin dia rela wanita yang dicintainya di nikahi kakaknya sendiri.


" Kita bersaing sehat aja De, siapa yang Alenka pilih nanti. Lagi juga sejak dulu gue terbiasa bertanggung jawab atas semua kesalahan loe. Biasanya juga loe gak masalah gue bantu, malah seneng kan. " santai sekali Kalan berkata begitu, dia senang sekali melihat wajah adiknya mendadak pucat, tak peduli adiknya sedang sakit saat ini, Dean memang harus diberi pelajaran, pikir Kalan.


" Ini bukan kesalahan ya Kalan, lagi juga gue udah dewasa bukan anak kecil lagi, gue bisa kok bertanggung jawab atas apa yang gue lakuin. Jadi loe batalkan niat loe untuk bersaing sama gue. " kakaknya benar-benar mengibarkan bendera perang kalau sampai benar ingin bersaing dengan nya, dulu mungkin dia rela melepas Kyara tapi tidak kali ini, dia akan bertahan hingga titik darah penghabisan, meskipun dia pesimis kalau Alenka akan memilihnya, terlebih saingannya saat ini bukan hanya Tommy tapi juga Kalan yang jauh lebih baik dari dirinya ibarat surga vs neraka.


.


.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2