
Tommy akhirnya menerima semua keputusan Alenka, meski sulit tapi ia harus terima bahwa hubungannya selama dua tahun ini harus kandas begitu saja karena sebuah pengkhianatan. Meskipun Alenka melakukannya secara tidak sadar tapi untuk Tommy hal itu tetap saja terjadi tak peduli asal mulanya bagaimana.
Sementara di kantor Alenka merasa cemas, karena hari sudah siang tapi ia tak kunjung melihat kehadiran Dean di sana. Mau bertanya pada Dion pun ia belum sempat karena pria itu sangat sibuk jadi sulit sekali Alenka menemui Dion, bahkan saat ini saja Dion sedang meeting di luar kantor.
Alenka berusaha sabar menunggu Dion, tapi hatinya semakin gelisah, dia coba menghubungi Dean sepertinya Dean sengaja mengabaikan panggilannya.
Setelah dua jam menunggu sampai ia melewatkan makan siang, akhirnya Alenka menghampiri Dion yang baru saja kembali ke kantor .
" Pak Dion. " sapa Alenka saat Dion baru saja ingin masuk ke ruangannnya.
" Ada apa, Al? "
" Pak Dean kenapa gak datang ke kantor ya, pak? " tanya Alenka tanpa basa-basi. Bagaimana mungkin bisa basa-basi, pikirnya. Toh sejak tadi dia sudah gelisah menunggu akan lebih baik kalau dia to the point saja bukan.
" Dean sakit, Len. Selain sakit hati karena ditolak, tubuhnya juga sakit. " sindir Dion teramat menohok hati Alenka.
Apa iya hanya karena ia tolak Dean langsung sakit begitu saja, pikir Alenka yang mulai merasa bersalah dengan kejadian kemarin. Dia sebenarnya kecewa dan marah pada Dean karena memberitahu Tommy tentang apa yang terjadi di antara mereka tanpa ijin darinya, tapi mendengar Dean sakit seketika kemarahannya menguap begitu saja.
Saat terakhir kali Tommy datang kerumah nya dia hanya mengatakan bahwa dirinya sudah mengetahui apa yang terjadi dengan kekasihnya itu bersama Dean, tapi Tommy tak mengatakan bahwa dia telah membuat Dean babak belur bahkan sampai sakit seperti ini, jadi wajar saja Alenka tak mengetahui secara pasti penyebab Dean sakit, dia hanya menebak dari perkataan Dion bahwa Dean sakit akibat penolakan yang dia berikan.
Melihat Alenka sedih dengan raut wajah menyesal membuat Dion mempunyai ide untuk membuat hati Alenka luluh. Dengan sengaja Dion menyuruh Alenka mendatangi apartemen Dean dan melihat keadaannya, karena Dean tinggal sendirian dan Dion khawatir terjadi apa-apa pada sahabatnya itu.
__ADS_1
Awalnya Alenka menolak tapi akhirnya dengan sengaja Dion menceritakan pula bagaimana Tommy menghajar Dean dengan sangat kejam, bahkan Dean sampai tak bisa melawan dan hampir mati tak berdaya.
Berlebihan sekali memang, tapi Dion berniat membantu Dean untuk mendapatkan Alenka kembali tentu bukan karena persahabatan dia membantu Dean tapi karena imbalan yang Dean janjikan tidak sedikit, bagaimana mungkin dia tidak tergoda bukan, oleh sebab itu Dion semangat sekali membuat Dean terlihat menderita di depan Alenka.
" Jadi itu penyebab pak Dean gak masuk? " Alenka sungguh terkejut mendengar cerita Dion, selain sakit hati karena penolakan, dia juga baru tau bahwa tubuh Dean juga sakit akibat pukulan yang bertubi-tubi Tommy berikan, dua kali lipat sudah rasa bersalah Alenka saat ini.
" Makanya mending kamu lihat dia di apartemen karena semalam buat ambil minum aja sulit gak ada yang bantu, dia lemah Len. " ucap Dion yang semakin membuat Alenka khawatir luar biasa, separah itu kah. pikir Alenka
" Kenapa gak menghubungi Kalan atau keluarganya, pak atau menyewa suster gitu. " tanya Alenka penasaran karena yang ia tau Kalan sangat peduli dengan adiknya itu, tak mungkin rasanya keluarga Dean mengabaikannya begitu saja di saat seperti ini, sekali pun Dean bersalah.
" Bukan gitu, Len. Dean gak mau keluarganya tau masalah ini, terutama Kalan dia takut Kalan membuat orang tua mereka jadi khawatir nantinya. Untuk masalah suster, Dean gak suka ada orang asing di rumahnya, Len. Paling ada dokter pribadi yang sesekali memeriksa keadaannya aja. " jelas Dion panjang lebar yang memang begitu adanya.
Akhirnya Alenka menuruti permintaan Dion, dari pada dia khawatir lebih baik ia melihat langsung bagaimana kondisi Dean saat ini, pikirnya. Bukan hanya karena kasihan tapi juga dia merasa bertanggung jawab atas perbuatan Tommy pada Dean, Biar bagaimana pun Tommy memukul Dean karena dirinya yang sudah berkhianat dan membuat Tommy sakit hati, pikir Alenka.
Dengan perasaan berdebar Alenka berdiri didepan pintu apartemen Dean untung dia masih ingat password apartemen bossnya itu, ia berharap kali ini tak menemukan wanita di dalam sana seperti sebelumnya.
ceklek
" Kak.. kak..." Alenka berteriak memanggil Dean berharap Dean merespon panggilannya, karena Alenka takut menghampiri kamar Dean dan mendengar suara laknat lagi seperti waktu itu.
Tapi setelah beberapa kali dia memanggil dan tak mendapat jawaban, akhirnya Alenka bergegas ke kamar Dean karena dia semakin khawatir kalau di kamar terjadi sesuatu pada pria itu.
__ADS_1
tok. tok. tok
Lagi-lagi tak ada jawaban Alenka masuk begitu saja, beruntung pikirannya salah tak ada siapapun di dalam sana, tadinya dia berpikir mungkin saja kan ada Rachel yang sedang merawat Dean, tapi sepertinya benar kata Dion, Dean hanya seorang diri.
Alenka berjalan mendekat, betapa terkejutnya melihat wajah Dean yang penuh dengan memar dan luka-luka. Betapa sadisnya Tommy memukul Dean, pikir Alenka. Dia duduk di tepi ranjang membelai pelan wajah Dean yang penuh luka itu.
" Astaga, dia tidur atau pingsan. Orang masuk saja dia gak tau untung aku bukan maling. Bagaimana kalau orang jahat yang masuk coba. "
Belaian tangan Alenka mengganggu tidur Dean, sehingga pria itu mulai mengerjap perlahan, sungguh terkejut melihat Alenka duduk di sisi nya saat ini.
" Kamu kok ada di sini, Al. " tanya Dean yang kini mengubah posisi nya menjadi duduk. Mimpi atau bukan entahlah yang pasti Dean senang melihat Alenka apalagi tadi dia membelai wajahnya, sungguh sakit nya langsung hilang saat ini juga.
" Maaf, kak. karena aku Tommy jadi mukulin kamu sampai kaya gini. " bukannya menyalahkan Dean karena memberitahu Tommy kejadian itu, tapi justru Alenka yang merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa Dean. Dia sampai menundukkan wajahnya karena tak tega melihat wajah tampan Dean jadi seperti itu.
Dean menarik tangan Alenka dan menggenggamnya. " Gak kamu gak salah sayang, aku yang salah karena sudah merebut kamu dari dia makanya aku pantas mendapatkan ini." lembut sekali bukan bicaranya pada Alenka, padahal kemarin seperti anak perawan yang sedang patah hati, wajahnya masam bahkan sampai ada adegan membanting pintu kamar. Kalau Dion mendengarnya mungkin dia akan mual mendadak.
Dean mengusap pelan punggung tangan Alenka, membuat wajah Alenka memerah apalagi mendengar perkataan Dean yang memanggilnya sayang, sungguh Alenka dibuat salah tingkah oleh Dean, dia semakin tak berani menatap Dean karena pasti sekarang wajahnya sudah merona.
Ingin sekali Dean menerkamnya saat ini apalagi melihat wajah Alenka yang menunduk malu, sungguh menggemaskan untuknya, tapi itu tak mungkin ia lakukan di saat wajahnya babak belur seperti ini, bukannya membuat Alenka menikmati nya sambil memandangi wajah tampannya yang ada Alenka akan ketakutan dengan wajahnya yang seperti ini dan mungkin Alenka akan membayangkan dirinya sedang ditindih genderuwo, pikir Dean.
.
__ADS_1
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...