Semalam Dengan Mantan Ku

Semalam Dengan Mantan Ku
Pulangnya Tommy


__ADS_3

" Alenka? " panggilan itu sontak membuat Alenka menoleh ke arah orang yang memanggilnya.


" Mas Kalan? "


Dean dan Dion lebih terkejut lagi melihat mereka saling mengenal.


" Apa Mas? Mas? " Kesal sekali Dean mendengar Alenka memanggil Kalan dengan sebutan mas, heran juga dia bagaimana mungkin kakaknya bisa kenal dengan Alenka.


" Kalian saling kenal? " tanya Dion yang tingkat penasaran nya luar biasa tinggi. Apakah ini akan menjadi cinta segitiga seperti dulu? pikir Dion.


" Hem, Alenka ini dulu kerja di resto saat baru lulus SMA. " jelas Kalan yang tau dari raut wajah terkejut Dean dan Dion bahwa mereka butuh penjelasan.


Alenka merasa bingung dengan ketiga pria di depannya, ada hubungan apa antara mereka bertiga? pasalnya mereka terlihat sangat dekat, bukan seperti partner kerja.


" Ini Dean, adikku dan Dion sahabat aku juga, Al. " Kalan memberi penjelasan juga untuk Alenka yang pasti bertanya-tanya tentang hubungan mereka bertiga.


" Jadi kalian berdua kakak beradik? " tanya Alenka penasaran, kalau di lihat dari wajah mungkin agak sedikit mirip tapi ia masih tak percaya karena Dean dan Kalan sangat bertolak belakang. Sedari dulu memang Alenka tak pernah tau perihal keluarga Dean, karena pria itu tak pernah menceritakan tentang keluarganya.


" Kenapa? gak mirip ya. gantengan aku kan?" pertanyaan Kalan yang penuh percaya diri, mendapat tatapan tajam dari sang adik.


Dean dan Dion menatap Alenka dengan serius menanti jawaban apa yang akan diberikan gadis itu.


" Gak kok mas, kalian sama- sama ganteng." ucap Alenka yang memang begitu adanya, karena menurutnya sebagai wanita normal Dean dan Kalan mempunyai ketampanan yang luar biasa.


" Denger tuh, gak usah kepedean kita sama gantengnya, maklumlah dari bibit premium. " sahut Dean bangga.


" Cuma beda kelakuan aja, yang satu kaya penghuni surga yang satu kaya penghuni neraka." timpal Alenka.


Dean yang mendengar pun langsung tersedak ludahnya sendiri. " siapa yang penghuni neraka? "

__ADS_1


" Sadar diri aja lah, De. Loe gak lihat pas ngomong neraka Alenka melihat ke arah loe. " celetuk Dion tanpa rasa bersalah. Membuat Dean malu setengah mati sementara tawa Kalan dan Alenka pecah melihat raut wajah Dean saat ini. antara kesal dan malu sehingga wajahnya terlihat memerah.


" Berani ya menertawakan bossnya, mau aku pecat, hah? " sentak Dean untuk menutupi rasa malunya ia berlagak sedang marah saat ini.


" Jangan takut, Al. kamu gak akan dipecat. perusahaan ini masih di bawah pengawasan aku dan papa, kita kerja dibalik layar. Kalau Dean gak bisa bersikap profesional bilang aja biar aku pecat dia. " sahut Kalan seenak jidatnya.


Bagaimana mungkin hanya demi Alenka, dia mengancam memecat adiknya sendiri, pikir Dean.


" Hahahaha, pecat aja Kal, kerjanya gak bener. " ucap Dion memanasi keadaan.


" Diem loe, setan. " sentak Dean yang semakin kesal luar biasa. Beginilah Dion kalau ada Kalan bersamanya, pria itu akan merasa menang karena Kalan sudah pasti lebih percaya pada ucapannya.


Pemandangan yang sangat menghibur untuk Alenka melihat pertikaian Dean dan Dion. Dia sampai tak bisa menahan senyumnya saat melihat kejadian itu.


" Sakit. sakit. lepas gak gila, Kal. tolongin gue, ade loe udah gak waras ini, bisa patah leher gue. " Dion berteriak-teriak karena Dean memiting lehernya.


Mau tak mau Kalan memisahkan mereka. " Udah, lepas Dean jangan kaya anak kecil, gak malu apa kalian di depan Alenka."


" Gue balik mau ke resto, kalian kalo mau lanjutin berantem nya nanti aja sepulang kantor, sekarang kalian kerja dulu yang benar. Dan satu lagi jangan lupa selalu awasi Dean, gue percayakan dia sama loe, Di. " setelah berkata begitu Kalan keluar dari ruangan Dean diikuti Alenka yang juga pamit keluar karena sudah tak ada urusan diruangan Dean.


" Kalan aneh, kenapa dia repot-repot nyuruh gue ngawasin loe, padahal kan bisa aja dia kerja bantuin loe di perusahaan jadi sekalian bisa mengawasi loe juga. " ucap Dion yang heran kenapa Kalan lebih memilih membantu di balik layar dari pada terjun langsung di perusahaan, bahkan ia lebih memilih mengelola resto dan cafe.


" Kalan itu malas ngurus perusahaan katanya pusing dan menyita banyak waktu, sementara gue kan dari dulu udah hidup bebas terlalu banyak bermain makanya gue yang disuruh mengelola perusahaan biar gue sibuk terus jadi gak main-main lagi katanya." kurang ajar sekali memang kakaknya, Dia menumbalkan adiknya sendiri, pikir Dean.


" Kalan gak takut apa perusahaan yang dibangun saat orang tua loe baru menikah ini bangkrut? dan berakhir sia-sia?" benar-benar ucapan Dion dari hati.


Membuat Dean mendengus kesal mendengarnya.


" Biarpun begini, gue cukup cerdas Dion. Gak usah meragukan kemampuan gue. Loe lihat sendiri gimana 4 tahun ini gue kerja. Serius tanpa main-main. Perusahaan juga makin maju kan gak pernah ada masalah. "

__ADS_1


" Iya juga sih, semoga loe gak kumat aja kaya dulu." kekeh Dion. mencari masalah memang lah keahlian Dion, Lagi-lagi ia bisa membuat Dean kesal luar biasa.


.


...----------------...


.


" Mas kapan sampai?" tanya Alenka yang terkejut melihat Tommy tiba-tiba berada di rumahnya. " kenapa gak ngabarin kalo udah pulang, kirain di undur lagi."


" Tadinya mau jmpt kamu di kantor, tapi aku pikir lebih baik aku langsung kerumah kasih kamu kejutan, abis aku udah kangen banget sama kamu,Len." ucap Tommy.


" Bagus lah Mas pulang,karena aku mau bicara. Aku kerja jadi asisten pribadi. " Alenka harus bicara jujur pada Tommy, dia pikir ini adalah waktu yang tepat, kemarin ia masih merahasiakannya karena Alenka ingin berbicara langsung pada Tommy saat kekasihnya itu sudah pulang dari luar kota ia tak ingin menyembunyikkan hal ini lebih lama lagi dari sang kekasih.


" Iya aku tau kok, Len. "


" Dengar dulu mas jangan dipotong omongan aku. " kesal Alenka saat ia belum selesai bicara tiba-tiba Tommy memotong kata-katanya.


" Iya cantik. " sahut Tommy sambil terkekeh, dia gemas sendiri melihat wajah kesal Alenka yang selama ini ia rindukan.


" Aku jadi asisten pribadi Dean, ternyata perusahaan itu milik keluarga Dean, mas. "


.


.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2