
Melihat Tasya menatapnya seolah meminta penjelasan akhirnya Dion menceritakan sedikit kenapa dia meninggalkannya.
" Aku dua bulan di Bali, Sya. Meninjau proyek yang ada di sana. Dan maaf karena mengabaikanmu tapi saat itu aku hanya sedang menghadapi sedikit masalah. " ucapnya dengan lembut seraya mengelus pipi Tasya dengan punggung tangannya.
Tasya tersentak mendapat perlakuan seperti itu, terlebih saat tiba-tiba Dion menarik tengkuknya dan mencium bibir nya perlahan dengan lembut, tiga bulan Dion merindukan bibir itu, kini ia bisa merasakan kembali manisnya bibir Tasya, membuat ciuman yang tadinya lembut kini perlahan menggebu dan menuntut.
Entah Dion yang pintar memancing hasratnya, atau Tasya yang mudah terhanyut oleh sentuhan Dion sehingga ia refleks mengalungkan tangannya ke leher Dion dan membalas ciuman itu, cukup bisa mengimbangi Dion saat ini.
Tapi keduanya tersentak saat tiba-tiba pintu ruangan Dion di ketuk oleh seseorang, terpaksa mereka berdua melepaskan tautan bibirnya.
" Kita lanjut di apartemen nanti malam. " ucap Dion sambil mengelap bibir Tasya yang basah akibat ulahnya.
Tasya hanya menganggukan kepalanya, ia malu luar biasa tadi dia menolak tapi saat Dion menciumnya dengan mudah dia membalas tanpa penolakan sama sekali seolah ia menyerahkan dirinya pada Dion dengan pasrah.
Dion dan Tasya bangkit dari duduknya, tapi saat Tasya akan membuka pintu tiba-tiba Dion berkata. " Kita pulang bareng nanti sore! " itu perintah dan sudah pasti Dion tak ingin di bantah. " masukkan nomer ponsel kamu yang baru. " titah Dion seraya menyerahkan ponselnya pada Tasya.
" Udah, saya keluar dulu. " Tasya meraih gagang pintu dan segera keluar dari ruangan Dion. Alangkah terkejut Tasya saat tatapannya beradu dengan seseorang yang sudah menunggu di depan ruangan Dion sejak tadi.
" Kak Alex? "
Alex terkejut melihat seseorang yang berada di dalam ruangan Dion ternyata Tasya, cukup lama dengan pintu ruangan yang di kunci, entah apa yang Alex pikirkan saat ini.
" Hem.. " Alex hanya menjawab dengan deheman kemudian masuk melewati Tasya begitu saja.
" Kak. " panggilan Tasya membuat langkah Alex tiba-tiba terhenti dan menoleh pada gadis itu. " Maaf nanti sore gak bisa pulang bareng, aku ada urusan dulu. " ucap Tasya hati-hati.
" Oke, baiklah. " Alex berlalu begitu saja tanpa banyak tanya, entah kenapa hatinya merasa kecewa, ia merasa Tasya menyembunyikkan sesuatu darinya.
__ADS_1
...----------------...
Satu bulan sudah Tasya menjadi partner ranjang Dion, bohong rasanya kalau Tasya tak memiliki perasaan pada pria itu, terlebih mereka selalu melakukannya setiap hari dan Dion selalu memperlakukannya dengan lembut. Semua ini memang salah, tapi untuk Tasya semua menjadi menyenangkan jika menyangkut Dion dan sebaliknya, untuk Dion semua selalu menggairahkan bila menyangkut Tasya. Mereka berdua sama-sama menikmati hubungan tanpa status ini, entah sampai kapan akan seperti ini tapi yang jelas mereka berdua semakin hari semakin sulit melepaskan satu sama lain.
Tanpa mereka sadari ini adalah awal yang sesungguhnya, meski berawal karena sebuah hutang tanpa keduanya sadari perjanjian itu sudah membuat mereka saling terikat, baik secara tertulis maupun emosional.
Tasya menggeliat pelan, lalu mengerjap kecil, ia berusaha mengumpulkan kesadarannya. Gadis itu mulai mengingat semalam dia dan Dion kembali melakukan se*ks setelah satu minggu tak melakukannya karena Tasya datang bulan. Se*ks yang cukup panjang dan melelahkan, hingga rasanya Tasya baru saja tertidur sebentar.
Ia terduduk di atas kasur, menggulung asal rambutnya ke atas, kemudian mengedarkan pandangannya mencari sosok pria yang semalaman tak henti menggempurnya hingga hampir pagi, padahal sebelumnya Dion berkata hanya akan melakukannya sekali sehari, tapi ternyata semalam pria itu seakan lupa diri. Mungkin efek seminggu Dion harus menahan hasratnya dan kini Tasya seolah harus menebusnya dengan berkali-kali lipat.
Tasya menyibak selimutnya dan menjulurkan kaki ke permukaan lantai. Ia mulai memunguti pakaiannya yang semalam berceceran di lantai, kemudian ia mengurai langkah pelan, mengabaikan rasa sakit di inti tubuhnya karena Dion menghajarnya dengan bar-bar semalam.
Setelah mengenakan pakaiannya Tasya langsung keluar dari kamar dan mencari Dion. Langkah kakinya terhenti begitu saja saat matanya menangkap punggung telanjang Dion yang sedang berdiri di atas balkon dengan sebatang rokok yang terselip di jari tangannya. Pria itu hanya mengenakan boxer, Dion sama sekali tak menyadari kehadiran Tasya di belakangnya karena ia sedang menatap lurus ke depan.
" Kak. "
" Ngerokok sambil melamun. " aneh sekali pikir Dion, sudah tau dia sedang merokok. Kenapa masih bertanya, pikirnya. Matanya buram atau bagaimana?
Gadis itu melangkahkan kakinya menghampiri Dion, ia mendekat dan mensejajarkan tubuhnya di samping Dion. " Kakak udah sarapan? "
" Belum. " jawab Dion sambil menghisap kembali batang rokoknya yang tinggal sedikit itu dan membuang asapnya menjauhi Tasya.
" Kamu lapar? mau makan apa biar aku pesenin. "
" Gak usah kak, kayanya aku lihat masih ada roti di dapur tadi. Kakak mau? "
" Boleh. " Dion melempar batang rokoknya ke bawah, Tangannya terjulur menarik pinggang Tasya hingga gadis itu berdiri di depannya kemudian Dion memeluk Tasya dari belakang.
__ADS_1
Dion mengecup leher Tasya, mengendus wangi tubuh gadis itu sambil berbisik. " Kenapa udah pakai baju. "
" Ya masa aku harus telanjang terus, nanti aku masuk angin gimana? "
" Ya percuma aja nanti juga aku buka lagi, lagian kenapa buru-buru pake baju? kamu udah mau pulang? " tanya Dion dengan tangan yang kini tidak tinggal diam.
" Kamu pengen aku cepat pulang? " tanya Tasya balik, gadis itu berusaha menahan dessahannya karena saat ini tangan Dion sedang mengusik dua bukit kenyal miliknya, sembari sesekali mengecup lehernya, Pria itu memang paling bisa memancing gairahnya.
" Gak, aku pengen kamu di sini terus seharian, makanya kamu gak usah pakai baju lengkap begini. " ucapnya sambil menggigit telinga gadis itu.
" Kak. " Tasya menahan tangan Dion yang kini mengelus pahanya. " kata kamu sekali sehari cukup. "
Dion membalikkan tubuh Tasya, memegang pundak gadis itu hingga membuat tatapan mereka beradu. " Aku gak akan pernah puas kalau sama kamu, kamu terlalu candu buat aku sampai rasanya aku gak pernah mau berhenti ngelakuin ini sama kamu. "
" Maksudnya? "
" Aku mau kita buat perjanjian baru. " Dion menarik pelan tangan Tasya menuju sofa ruang tengah untuk membicarakan perjanjian mereka lebih lanjut. "
" Kenapa? apa karena tubuh aku? " ada nada tidak suka dari pertanyaan Tasya barusan.
" Iya lah emang karena apa lagi. " sebenarnya ada alasan lain kenapa Dion tak ingin berhenti melakukannya dengan Tasya. Entah kenapa Dion merasa berbeda ketika melakukannya dengan orang lain, seolah dia sudah ketergantungan dengan diri Tasya.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1