
Dokter yang seumuran dengan Kalan itu pun menghela napas pelas melihat adik dari sahabatnya itu babak belur. " Gak malu apa De sama umur, masa iya berantem kalah begini sampai babak belur gak kebentuk muka loe. " celetuk sang dokter yang bernama Ferry tersebut yang juga adalah sahabat Kalan semasa sekolah dulu.
" Tau nih, gue juga bingung . Bisa-bisanya sih De loe diam aja di hajar gitu sama si tomcat, buat apa ilmu bela diri loe selama ini? cuma buat bunuh nyamuk doang? " ucap Dion asal. Sekalipun Dean salah tetap saja Tommy tak bisa memperlakukan Dean seenaknya begitu, pikir Dion. Terlebih Dean seolah pasrah dan merasa bersalah makanya menerima semua pukulan itu tanpa perlawanan.
" Gue lakuin itu karena gue gak mau Alenka semakin membenci gue kalau seandainya gue balas pukulan Tommy tadi, seenggaknya kalau gue yang babak belur begini, Alenka akan prihatin sama keadaan gue. Apalagi gue udah kasih tau Tommy tentang apa yang terjadi tanpa seijin Alenka. "
" Jadi gara-gara seorang wanita loe jadi gini? Lihat muka loe sampai begini, kalau nanti gak bisa balik kaya semula gimana, mana ada cewek yang mau sama loe. " celetuk Ferry bercanda tapi dianggap serius oleh orang bodoh didepannya saat ini. Bahkan sampai Ferry berpikir apa Dean gegar otak sampai jadi bodoh seperti saat ini.
" Fer, serius. ini muka gue bisa balik semula gak? wajah ganteng aja Alenka tolak apalagi muka gue kalau jadi ancur gini, bisa- bisa di hempas gue. " Dean ketar ketir mendengar perkataan Ferry, sebagai dokter menurutnya Ferry pasti lebih tau dan paham dampak buruk pada wajahnya, oleh sebab itu Dean tak berpikir sama sekali bahwa Ferry hanya bercanda.
" Emang bisa begitu ya? tapi emang wajar sih kalau gak bisa balik semula muka loe , coba loe lihat aja parah gitu, De. Gue sih gak yakin bisa kembali normal wajah tampan loe itu. Ini sih kalau Dean wajahnya gak setampan dulu, mending Alenka buat gue aja deh kalau gitu, wajah gue juga gak kalah tampan kok sama jungkook BTS. " sahut Dion dengan bangga.
" Jangan sembarangan kalau ngomong ya, mau gue jadiin mummy loe?" sentak Dean. Untung saja dia terluka kalau tidak mungkin sudah dia pukul kepala Dion saat ini supaya otaknya bergeser sedikit agar pemikiran Dion itu bisa sedikit waras.
" Udah berdebat nya, lagian gue cuma bercanda. Kenapa loe jadi serius amat. " kata Ferry tanpa rasa bersalah sama sekali sudah membuat Dean panik tentang wajah tampannya.
" Gue pikir loe serius sinting! Bikin orang panik aja." ketus Dean yang merasa sangat malu karena sudah terlihat seperti orang tak beriman yang lebih percaya dengan omongan Ferry.
__ADS_1
Terlebih lagi Dion yang kini seakan puas menertawakannya dengan kencang melihat Dean yang seperti orang bodoh. Musyrik sekali memang percaya dengan omongan sahabat laknatnya itu sama saja dengan Ferry, kenapa juga di sekitarnya tak ada orang waras satu saja, pintanya dalam hati.
Bisa-bisanya mereka bercanda hingga membuat ia panik di saat sedang merasakan sakit begini, pikir Dean. Memang benar dua orang itu tak punya adab.
Setelah selesai Ferry pamit pulang karena memang tugasnya sudah selesai.
" Di, jangan bilang Kalan ya. Gue gak mau dia tau gue lagi punya masalah apa lagi alasan di balik pemukulan ini. " takut sekali seperti nya Dean dengan sang kakak yang cukup menakutkan saat sedang marah.
" Oke siap pak Boss. " sahut Dion dengan lantang.
" Yaudah cepat hubungi Ferry! " titah Dean. Selain Dion, orang-orang terdekatnya memang mempunyai mulut yang sangat bocor, apapun yang terjadi pada nya pasti akan sampai ke telinga Kalan sang kakak.
" Halo, Fer. gue cuma menyampaikan pesan dari Dean. Untuk masalah ini tolong jangan bilang sama Kalan dulu. " ucap Dion. Celakalah kalau sampai Kalan tau dia menutupi semuanya, padahal Kalan sudah berpesan agar Dion selalu mengawasi Dean.
" Yah, kalian telat. Gue baru aja selesai nelpon Kalan, mungkin dia udah di jalan menuju ke apartemen. " sahut Ferry dengan santai. Dia memang langsung menghubungi Kalan setelah keluar dari apartemen Dean, dan menceritakan kondisi Dean saat ini, juga semua yang ia dengar di kamar Dean tadi.
Dion menutup sambungan teleponnya begitu saja, benar-benar sangat sopan, menurut Ferry.
__ADS_1
" Gimana? " melihat wajah Dion yang pucat sudah bisa dipastikan apa yang terjadi.
" Kalan udah menuju kesini. " ucap Dion lemah. Mau bagaimana lagi, dia harus menghadapi kemarahan Kalan kali ini, pikirnya.
" Gue pura-pura tidur aja ya, kalau Kalan datang. Loe aja yang hadapi dulu. Bilang gue harus banyak istirahat gak bisa di ganggu. " Dean terpaksa mengeluarkan jurus menghindar nya saat ini sambil dia mencari kata-kata yang tepat untuk menceritakan apa yang terjadi pada Kalan.
Bagaimana mungkin dengan teganya Dean mengorbankan sahabatnya sendiri. Sementara Dion tak punya alasan untuk menghindar. Apa gue keluar aja ya, mending gue pulang dulu. gue balik lagi nanti kalau Kalan udah pulang. batin Dion.
" Yaudah loe istirahat, gue keluar dulu. " Dion berpura- pura keluar dari kamar Dean, padahal sebenarnya ia ingin pulang kerumah nya tanpa sepengetahuan Dean.
" Kal-kalan....... "
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1