Semalam Dengan Mantan Ku

Semalam Dengan Mantan Ku
Mencoba Ikhlas


__ADS_3

" Bonus lah kalau sampai saran gue berhasil. " celetuk Dion yang sudah membayangkan uang di ATM nya bertambah banyak sebentar lagi. Karena kalau sampai berhasil, dia akan menjadi orang yang paling berperan penting dalam bersatunya Dean dan Alenka, sehingga Dean tak mungkin main-main dalam memberikan bonus untuknya.


" Boleh, kalau saran loe berhasil langsung gue transfer kaya biasa. " sudah biasa untuk Dean memberi bonus kalau Dion berhasil melakukan sesuatu sesuai kemauannya.


" Tambahin dong, masa segitu aja. " timpal Dion seenaknya.


" Itu banyak gila! Kalau loe mau nikah baru gue tambahin lagi 5 kali lipat. " sahut Dean dengan serius, karena dia tau Dion tak akan mau menikah makanya dengan enteng dia menjawab seperti itu.


" Gak usah kalau gitu, De. Gue gak peduli mau loe kasih 1M juga, gue sama sekali gak berniat untuk nikah. " jawab Dion tegas. Sejauh ini memang tak ada niat untuknya menikah sekalipun hadiah yang Dean tawarkan amat menggoda imannya.


...----------------...


Saat ini Dean sedang menghadiri ulang tahun putri dari sahabatnya yaitu Anzel.


" Uncle, De. " teriak seorang gadis cantik yang baru saja menginjak usia 5 tahun yaitu Aletta. Melihat Dean yang baru saja tiba membuat gadis kecil itu langsung berlari menghampiri uncle favoritenya, Aletta terlihat bahagia karena sudah lama tak berjumpa dengan Dean.


Dean merentangkan tangannya dan langsung memeluk Aletta dengan erat. " Lepas uncle, Tata gak bisa napas. " Aletta berontak karena Dean terlalu erat memeluknya.


Dean terkekeh melihat Aletta mengerucutkan bibirnya sungguh sangat gemas persis seperti Alenka saat sedang merajuk. " Sorry sayang, uncle terlalu rindu sama kamu. "


" Uncle Di gak di peluk juga? " timpal Dion yang baru saja datang dan kini berdiri tepat di samping Dean.


" Gendong. " Aletta mengangkat tangannya meminta Dion menggendongnya. Kalau Dean adalah uncle favoritenya karena sering mengajaknya jalan-jalan dan membelikannya banyak mainan, berbeda dengan Dion yang selalu menjadi tempatnya bermanja-manja.

__ADS_1


" Duh, Ta. Coba aja udah gede, uncle mau deh jadi jodoh kamu. " kekeh Dion yang langsung mendapat pukulan di kepalanya. Siapa lagi kalau bukan Anzel yang datang dari arah belakang.


" Jangan sinting ya Di, mau jadi pedofil loe. " ucap Anzel yang jengkel luar biasa, bisa-bisanya sahabatnya itu punya pikiran di luar nalar begitu.


" Sadar umur Dion, loe kelamaan jomblo kenapa jadi gila begini. Kasian Tata masa dapet aki-aki tua kaya loe. " timpal Dean. Benar-benar gila, Dion selalu di kelilingi wanita cantik tapi dia malah berharap dengan gadis kecil, pikir Dean.


" Gak apa, Zel. Kalau udah tua suruh Tata racunin aja tuh si tua bangka, nanti kan hartanya jadi milik Tata semua. Tabungannya melimpah tuh Zel. " sahut Kalan yang tiba-tiba sudah berada di hadapan mereka semua.


Kalau saja tak ada Aletta dalam gendongan nya mungkin Dion sudah mengumpat mulut-mulut laknat sahabatnya itu, tapi ia memilih diam dan tak menimpalinya agar Aletta tak terkontaminasi oleh omongan-omongan tak jelas para uncle sintingnya itu.


Dean menatap tajam sang kakak saat ini, tak ada tatapan bersahabat dari Dean setelah kakaknya benar-benar mendekati Alenka dan menjadi saingannya sekarang, terlebih kalan datang bersama Alenka disaat menghadiri pesta ulang tahun Aletta tanpa memikirkan perasaannya sama sekali, bahkan Dean tak menyangka Alenka bersedia menemani Kalan untuk datang ke sini. Di lihat sekilas seolah mereka seperti sepasang kekasih, belum lagi omongan para sahabatnya yang mengatakan kalo mereka sangat serasi, panas luar biasa Dean mendengarnya.


Demi mencari aman dari emosi yang sebentar lagi meluap, Dean memutuskan meninggalkan sahabatnya yang masih berbincang begitu saja.


" Hai kak. " sapa Alenka basa basi. Ia mengambil posisi duduk di hadapan Dean yang saat ini sedang memainkan ponselnya, dia hanya mengalihkan pandangannya dari Alenka oleh sebab itu ia berpura-pura sibuk, padahal ada yang menghubunginya juga tidak.


" Hm.. Ada apa? " tanya Dean dingin dan datar. Nada bicaranya tak seperti biasa, seakan tak suka dengan kehadiran Alenka yang seolah tengah mengganggunya saat ini.


" Eemm itu.. Eemm aku sebenarnya menerima ajakan mas Kalan karena gak enak kalau aku menolak ajakannya karena dulu dia udah baik banget sama aku, cuma ini yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikannya dulu, jadi aku pun harus bersikap baik sama mas Kalan, kak. " jelas Alenka panjang lebar, entah kenapa ia tak ingin Dean salah paham dengan kedekatannya bersama Kalan, jadi tanpa di minta pun dia memilih menjelaskannya lebih dulu .


" Itu bukan urusan aku Al, itu urusan pribadi kamu. Mau kamu berkencan dengannya itu tak ada hubungannya denganku, hubungan kita bahkan tak seistimewa itu, jadi kamu tak perlu menjelaskannya padaku. " kata Dean dengan wajah datar. Seakan-akan dia benar-benar tak peduli dengan hubungan kakaknya dan Alenka, padahal Dean saat ini tengah berusaha menutupi rasa cemburu dan kecewanya di hadapan Alenka.


Ucapan Dean sangat menohok hati Alenka, dia tak menyangka Dean bisa berubah secepat itu, apa dia sudah tak peduli? bukan kah kemarin dia ingin bertanggung jawab, kenapa sekarang berubah pikiran secepat itu, pikir Alenka.

__ADS_1


" Aku cuma berpikir, kamu harus tau yang sebenarnya terjadi supaya gak salah paham sama aku dan Kalan. Aku gak mau kalian bertengkar nantinya, kak. " sahut Alenka.


" Bertengkar karena apa? karena kamu?" Dean terkekeh mendengarnya untuk menutupi perasaannya, padahal perkataan Alenka benar adanya bahkan hampir setiap bertemu mereka sering bertengkar karena mempermasalahkan seorang Alenka Atmaja.


Sungguh malu rasanya Alenka saat ini, kepercayaan dirinya seakan merosot tajam karena dengan percaya diri berkata seperti itu di hadapan Dean. Kini Alenka hanya bisa menundukkan wajahnya sambil meremat jari jemarinya.


" Kalau kamu ingin bersama Kalan silahkan Al, aku tak akan menghalangi sekali pun dia kakak ku, dia memang lebih pantas denganmu daripada aku yang penuh dosa ini. " ucap Dean memelas. setelah berkata begitu Dean bangkit dari duduknya dan menghampiri Tata yang sedang menunggu kue nya di potong oleh sang Mama.


Alenka mengangkat wajahnya mendengar perkataan Dean, sungguh sakit hatinya mendengar Dean seolah mengikhlaskannya bersama Kalan. terlebih dengan sikap nya yang sangat dingin membuat Alenka semakin gelisah dibuatnya.


Sekarang Alenka hanya bisa memandang Dean dari kejauhan tanpa berani menghampirinya lagi, Entah kenapa hatinya bergetar melihat pemandangan indah didepannya saat ini, Sejak dulu Dean memang menyukai anak-anak maka dari itu ia sangat menyayangi Aletta bahkan Dean menyuapi Aletta dengan begitu sabar sambil mengejar gadis kecil itu yang tak bisa diam berlari larian saat Dean ingin menyuapi kuenya, Pria itu memang sudah sangat pantas menjadi seorang Daddy, pikir Alenka. Salahkah dia menolak niat baik Dean beberapa waktu lalu, pikir Alenka.


" Gimana jadi lanjutin rencananya? " tanya Dion menghampiri Dean yang sedang terengah karena mengejar Aletta yang terus berlari.


" Gak usah biarkan aja, gue gak mau maksa dia. Kalau memang dia mau sama Kalan dan juga Kalan bisa nerima dia apa adanya, gue akan ikhlas kalau itu buat mereka bahagia. " sungguh hati dan mulutnya mengatakan hal yang berbeda, dusta sekali memang perkataan Dean. Mulutnya berkata ikhlas tapi hatinya menjerit keras.


" Payah loe, kalah sebelum berjuang. Mana semangat Dean yang bisa menaklukan semua wanita . " sindir Dion. Memang seperti itulah Dean tingkat kepercayaan dirinya sangat tinggi dalam menaklukan wanita dan entah kenapa dengan Alenka seolah -olah kepercayaan dirinya terjun bebas apalagi harus bersaing dengan sang kakak.


.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2